Disclaimers: Naruto © Kishimoto Masashi

Orenji no Taiyou © Hyde & Gackt

Genre: Romance/Drama

Rating: T

Pairing: Naruto x Sasuke (later), Naruto x Gaara,

Warning: Alternate Reality, Shonen-Ai, Yaoi, OOC, OOC, OOC, typo(s), pengulangan kata, mute alert, penggunaan majas yang berlebihan. Don't like don't read! Feel free to leave this page if you don't feel easy to read it. I've warned you already.

A/N: U-update! Maap lama!

Summary from before: Sasuke, yang melarikan diri dari rumahnya dan di'pungut' oleh seorang pemuda bisu yang ia ketahui adalah seorang fotografer yang dapat memainkan alat musik dengan indah, memulai langkah pertama demi mencapai impiannya. Hanya saja, ia tak tahu apa yang sebenarnya direncanakan sang pemuda terhadap dirinya.

-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-

Untuk maju selangkah ke masa depan memang membutuhkan keberanian. Namun, keberanian tanpa tindakan sama artinya dengan sia-sia.

Aku takkan melakukan hal sia-sia. Meskipun di depanku terbentang lautan tanpa dasar, aku akan menyeberanginya tanpa rasa takut.

Akan kubangkitkan matahari di dalam diriku. Pasti.

-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-

Song for Mute Musician

© Kionkitchee

Track 4: Orange Glow

© Hyde & Gackt

-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-

Seorang gadis—tidak, wanita muda sepertinya—berambut merah yang senada dengan pakaian ketat yang dikenakannya, dan bermata yang sama yang dilingkari kacamata bingkai kotak tebal datang seperti badai memasuki studio pemotretan yang dipersilakan untuk sang fotografer.

"Kenapa aku nggak dikasih tau kalau Naru-chan datang hari ini? Aku 'kan ingin dipotret olehnya!" seru wanita itu sembari berjalan mendekati Naruto yang—kelihatan seperti sedang asyik—dengan kameranya. "Naru-chaaaaan!" Dan ketika wanita itu bermaksud memeluk sang Uzumaki, pemuda berambut pirang itu menghindar sehingga mengakibatkannya jatuh ke lantai—tepat di samping sang Hino.

"Karin, bukankah hari ini pemotretanmu dibatalkan?" Nagato berkata seraya menghampiri wanita tersebut.

Wanita yang dipanggil Karin itu memasang wajah—sok—polosnya lalu berkata, "Di mana ada Naru-chan, pasti ada Karin~ Singkatnya, yang boleh dipotret Naru-chan hanya Karin!" serunya dengan nada manja—membuat Nagato menaikkan sebelah alisnya.

"Karin, kau tidak boleh seenaknya sendiri. Naruto bisa susah nanti," kali ini suara lain terdengar dari arah pintu di mana seorang pemuda berambut putih berdiri. Pemuda itu pun berjalan mendekati sang fotografer—yang masih asyik dengan dunianya sendiri—lalu merangkulnya. "Apa kabar, Naruto?" sapanya akrab.

Serta merta Karin bangkit dan langsung memisahkan pemuda itu dari sang Uzumaki. "Jangan sembarangan menyentuh Naru-chan, Suigetsu!" bentaknya tepat di telinga pemuda berambut putih itu.

"Berisik banget sih, cewek jejadian!" gusar Suigetsu sambil menutup telinganya yang sepertinya bisa pecah kapan saja.

Cring~

Karin dan Suigetsu menghentikan argumen mereka ketika mendengar suara kerincing yang familiar. Begitu melihat ke arah suara tersebut, mereka mendapati sosok Naruto yang tengah memotret dengan begitu seriusnya. Mereka terkejut. Jarang sekali Naruto memotret seperti itu—terakhir mereka lihat lima bulan yang lalu saat pemuda itu membawa Sabaku Gaara—sang model—ke studio untuk dipotret. Dan kini…

"Sudah kuduga, 'Anak itu memliki bakat untuk menjadi bintang'… kira-kira seperti itulah yang dipikirkan Naruto sekarang," ucap Nagato sambil tersenyum, membuat Karin dan Suigetsu melihat model yang menjadi objek Naruto.

Naruto terus dan terus menekan tombol shutter-nya seperti menggila. Kelihatan sekali bahwa apa yang sedang dilihatnya adalah sesuatu—seseorang yang menarik, dan ia akan mempertaruhkan segalanya untuk dapat mengabadikan sosok menarik itu dalam film kameranya… dalam ingatannya. Sosok pemuda yang masih murni dan butuh asahan hingga kilau yang dimilikinya mampu menyelimuti dunia. Demi keindahan yang kelak akan didapatkannya.

Sementara itu, Sasuke sama sekali tidak menunjukkan gaya yang berlebihan, hanya berdiri dengan kedua tangan dalam saku celana dengan tubuh yang membentuk sudut kemiringan 35 derajat—pas seperti model berpose. Namun, terkadang ia menatap lurus ke kamera, terkadang memejamkan mata, dan terkadang membuang pandangan ke arah lain. Mungkin itulah yang ia maksud dengan gaya orisinilnya.

Cring~ cring~ cring~

Gelang Naruto terus berbunyi ketika pemuda itu pindah posisi mendekati Sasuke. Terus dan terus mendekat hingga akhirnya lensa kameranya beradu dengan wajah sang Hino—yang sama sekali tidak terlihat terganggu dan malah semakin tenggelam dalam gayanya sendiri.

Cring~ cring~ cring~

Shutter terus ditekan bersamaan dengan wajah yang berubah baik angle maupun ekspresi… hingga kerincingan berhenti berbunyi dan Naruto memindahkan kameranya untuk melihat Sasuke secara langsung. Sapphire bertemu onyx dalam suasana hening tanpa suara. Bertemu lekat seolah tak ada celah untuk yang lain mencampurinya.

Bertemu… dalam dunia mereka sendiri.

"Ehem~ Naruto," Nagato memecah keheningan di antara Naruto dan Sasuke, "aku tidak bermaksud mengganggu tapi jangan keterusan," ujarnya halus. "Ingat, bisa gawat kalau Gaara-kun tahu."

Naruto sama sekali tidak mengalihkan pandangannya dari remaja Hino itu. Mata birunya masih menatap lekat wajah putih sang pemuda, yang kali ini dibarengi dengan gerakan tangan yang perlahan mendekati pipinya. Namun, belum sampai orang lain tahu bahwa Naruto bermaksud menyentuh pipi Sasuke, ia sudah keburu menaikkan tangannya untuk mengacak rambut raven di hadapannya dengan gemas.

'Bagus! Akan kuberikan hasilnya nanti padamu!' itulah yang disampaikan Naruto sembari mengacak rambut Sasuke—entah apa remaja itu mengerti atau tidak. Setelahnya, pemuda Uzumaki itu meninggalkan sang Hino lalu menghampiri Nagato dan memberikannya kode dalam bahasa isyarat. Tak lama—setelah yakin Nagato mengerti—ia pun pergi meninggalkan ruangan tanpa menyapa dua model yang juga ditangani olehnya.

"Seperti biasa, Naruto cuek sekali~" Suigetsu bersiul mendapati perlakuan yang 'biasa' dari fotografer serabutan SD itu.

"Kau mau protes, hah, Kakek tua? Yang penting Naru-chan keren! Kau tidak tahu pesonanya yang seperti orang Barat itu, Jelek? Dasar bodoh!" Karin 'membela' Naruto dengan memberikan beberapa 'julukan' pada pemuda berambut putih itu.

Suigetsu menghela napas, "Kau ini… apapun yang menyangkut Naruto pasti selalu bagus…" gerutunya dengan seringai tak senang, "sekali-kali memujiku dong!"

"Apa yang harus ku puji dari dirimu? Tukang main cewek, begitu? Huh!" Karin membuang muka dengan ekspresi jijik.

"Hmm~ Kau bisa menggantinya dengan 'Sang Penggoda~'" balas Suigetsu yang mulai berjalan mendekati remaja berambut raven itu. Setelah dekat dengan sang remaja, pemuda berambut putih itu pun menyapa,

"Hai~ Kau model baru di sini?"

'Bagus! Setelah mencoba merayuku, sekarang malah mengincar anak baru! Dasar playboy!' Batin Karin sambil menyilangkan kedua tangannya di depan dada. Namun, ia sama sekali tidak mempunyai niat untuk menghentikan pemuda itu. Jadi, wanita itu hanya melihat dengan tenang di tempatnya berdiri.

Sementara itu, Sasuke tidak menunjukkan gelagat apa-apa, hanya diam—duduk di sofa yang tersedia di samping tempat pemotretan. Ia seperti tidak melihat pemuda yang menghampirinya—tidak peduli, mungkin.

Suigetsu bersiul, "Dingin sekali, padahal di sini bukan Hokkaido~" sindirnya menanggapi perlakuan remaja di depannya. Pemuda itu pun duduk di sebelahnya lalu menyandarkan punggungnya ke bahu sofa. Tangan kanannya terangkat seperti mengajak berjabat, "Hozuki Suigetsu, yoroshiku na~" kenalnya dengan seringai menggoda. Sayangnya, pemuda itu benar-benar tidak mendapat reaksi apa-apa karena sang remaja langsung bangkit dari sofa untuk menghampiri direktur SD yang memang memanggil.

"Kalau kalian memerlukan sesuatu, silakan hubungi Konan," ucap Nagato setelah Sasuke berada di sebelahnya, "dan kalau masalahnya adalah kalian ingin bergabung dalam jadwal pemotretan Naruto…" ia berhenti sejenak untuk menampilkan seulas senyum tak bermata, "lebih baik menyerah saja." Nagato pun pergi bersama Sasuke, meninggalkan dua model yang balik menatapnya tajam.

-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-

Di suatu tempat dekat sungai Iwa, terlihat kerumunan orang yang sedang menyaksikan pemotretan seorang model berambut merah. Suasana di sana sangat meriah karena kebanyakan gadis yang datang merupakan penggemar sang model sehingga mereka menghabiskan pita suara mereka untuk berteriak layaknya fangirls setia.

"Gaara, perhatikan sekelilingmu! Kita tidak bisa menghasilkan gambar bagus kalau kau bergaya seperti model pasaran! Coba gunakan emosimu sedikit!" seorang fotografer yang menangani model dari kota Suna menegur Gaara yang terlihat kurang konsentrasi dalam pengambilan gambar kali ini.

Pemuda bermarga Sabaku itu mendecak kesal lalu berjalan menghampiri sang fotografer, "Berikan aku waktu lima menit. Setelah itu, aku akan kembali seperti biasanya," pintanya, dan langsung duduk ke bangku istirahat yang ditempati manajernya.

Sang fotografer, Genma, menghela napas mendengar permintaan Gaara. Ia sudah sering mengalami hal itu jika ada yang mengganggu pikiran modelnya, misalnya seperti jatuh cinta pada seorang musisi bisu, tak bisa tidur karena terus mengingat musisi tersebut, bertengkar dengan musisi tersebut karena salah paham mengenai penetapan fotografer, dan lain-lain.

Kenapa ia yang hanya fotografer dan tidak ada hubungan apa-apa dengan Gaara maupun Uzumaki Naruto bisa tahu akan hal itu? Mudah saja, karena Gaara sering mengeluh padanya tanpa sadar. Maksudnya tanpa sadar itu seperti berbicara sendiri di ruang tunggu setelah pemotretan di mana dirinya sedang mengemasi barang untuk pulang. Mau tidak mau ia akan mendengar gumaman itu dengan jelas—mengingat bahwa pendengarannya sangat tajam seperti Naruto.

Genma kembali menghela napas. Ia memang fotografer tetap Sunny Days—berbeda dari Naruto yang bebas dan tak terikat dengan kontrak, dan ia tidak boleh mengeluh akan siapa yang menjadi modelnya. Hanya saja, kalau setiap ada masalah ia selalu mendapati pekerjaannya terhambat karena masalah sang model, bisa-bisa direktur pemasaran nanti memarahinya lagi. Dan mau ditanya berapa kali juga, ia akan dengan tegas menjawab bahwa lebih baik menghadapi seribu singa yang kelaparan daripada bertemu muka dengan pria yang tingkat kengeriannya melebihi iblis jika sudah menyangkut pekerjaan.

Sementara itu, Yashamaru menghampiri tuan muda-nya untuk menyerahkan sebotol air dan handuk kecil. Ia paham keadaan pemuda itu yang merasa kesal setelah kembali dari kediaman sang kekasih. Memang belum tahu alasannya secara pasti tapi ia mengetahui bagaimana membangkitkan semangat Gaara kembali.

"Gaara-sama, saya yakin Anda akan segera berbaikan dengan Uzumaki-san. Tenang saja, lebih baik Anda konsentrasi dengan pemotretan ini dulu," ucapnya.

Sang Sabaku menatap manajernya dengan ekspresi bingung, "Memangnya kau tahu apa masalahnya kali ini?" Ia tak habis pikir, bagaimana bisa ia tahan dengan manajer yang cara menghibur pun sama sekali tidak bisa dibilang menghibur—bahkan terkesan 'memaksa'nya untuk fokus pada pekerjaan. Well, it's true but still…

Yashamaru memberinya seulas senyum, "Saya memang tidak tahu apa yang terjadi dan saya pun tidak ingin tahu, tapi pekerjaan kali ini penting karena foto Anda akan dijadikan sebagai cover majalah Sunny Days bulan depan untuk pertama kalinya setelah lama berkutat dengan majalah Rainy Weeks. Saya harap Anda mengerti, Gaara-sama," ujarnya. Tak lama, ia merasakan kedua pipinya dicubit dan ditarik melar oleh Gaara.

"Yashamaru! Kau ini menghibur atau apa sih?" ambek Gaara yang malah membuat sang manajer nyengir senang meski pipinya ditarik-tarik. "Jangan menertawakanku!" sebalnya.

"Gaawa-sawa hemang fahing ucchu kalaw shedang hambek~" goda Yashamaru yang bisa diartikan sebagai 'Gaara-sama memang paling lucu kalau sedang ngambek'. Pria muda itu memang paling suka menggoda tuan muda-nya karena menarik dan tidak membosankan melihat reaksi yang akan didapatkannya.

Gaara menggembungkan sebelah pipinya, membuat fangirls yang melihatnya dari jauh—menggunakan teropong mungkin?—semakin menggila karena mereka melihat pemandangan langka. Terkadang, model berusia 18 tahun itu memang bertingkah kekanakan—tergantung siapa yang dihadapinya sih—apalagi kalau bersama dengan lelaki yang paling dekat dengannya semenjak kecil itu, tak usah dibilang lagi.

"Aku mau jadwal malam ini di—"

"Tidak bisa," pria berambut pirang padam itu memotong kalimat Gaara dengan tenang. Ia pun menyentuh jemari tuan muda-nya yang masih berada di kedua sisi pipinya lalu menahan jemarinya sendiri di atasnya. "Jadwal Anda akan tetap seperti yang saya jelaskan pagi tadi. Sebagai gantinya, malam ini Anda bisa puas menikmati makanan kesukaan Anda, Gaara-sama," jelasnya kemudian.

Dan Gaara tahu ia tak bisa membantah lagi. Memang hanya pria itu yang mampu meredam pemberontakannya—dari masih di lingkungan keluarga hingga keluar dari sana.

"Curang…" gerutunya pelan sambil menatap sebal manajernya, "itu 'kan memang sudah disiapkan untukku dari awal…"

"Ya ya…" timpal Yashamaru yang memang tak melepaskan pandangannya dari sang Sabaku, "terima saja apa adanya ya~"

BLITZ!

Tiba-tiba cahaya kamera mengarah pada kedua lelaki yang masih dalam posisi sangat dekat itu. Ketika menoleh ke arah cahaya tersebut, mereka mendapati Genma dengan kameranya. Rupanya pria itu yang memotret mereka.

"Apa aku berhalusinasi bahwa kalian sedang melakukan kontak yang berbahaya atau memang kalian melakukannya tepat di depan mataku?" tanya Genma, kali ini sambil menggigit sehelai rumput kering yang menjadi favoritnya.

"Matamu masih bagus kok, Genma-kun," Yashamaru menyahuti dengan senyum. Ia pun melingkarkan satu lengannya di pinggang Gaara seraya menariknya mendekat, "Dan kau tidak sedang berhalusinasi," tambahnya.

Kali ini ganti Gaara yang menghela napas, "Yashamaru, nanti gosip tempo hari menyebar lagi loh," ingatnya akan rumor yang mengatakan bahwa ia dan sang manajer adalah sepasang kekasih, "aku juga tak mau Genma-san terus menatapku seakan aku merebut kekasihnya," tambahnya.

Genma memerah sedikit, "Ah… bukan begitu juga sih…" ucapnya salah tingkah, "hanya ingin memberitahu kalau lima menitnya sudah selesai dan kita harus segera kembali bekerja… itu saja…" jelasnya sambil menggaruk pelipisnya yang sebenarnya tidak gatal.

Pemuda berambut merah melepas lengan sang manajer lalu meneguk minumnya, "Baiklah…" balasnya. Ia menyerahkan botol yang sudah separuh kosong itu ke tangan Yashamaru kemudian kembali ke lokasi pemotretan—membuat para gadis kembali merusak telinga dengan nada-nada tinggi yang memekakkan. Gaara mengetahui dengan jelas apa yang membuat para gadis berteriak seperti kerasukan itu—selain berpikir betapa tampan wajahnya. Cukup memutar kepala 120 derajat, maka ia akan mendapati fotografer dan manajernya sedang beradu lidah.

Siapa yang akan menyangka bahwa sang 'paman' akan direbut oleh 'paman' asing yang baru dikenalnya beberapa bulan tersebut? Tentunya bukan ia.

"Hoi, cepat selesaikan sesi ini!" seru Gaara menghentikan 'kegiatan' kedua orang itu. Ia segera mengambil posisi di tempat semula, di jembatan yang berada tepat di atas sungai Iwa, lalu menenangkan diri dari suara-suara yang ada di sekitar yang merasuki pendengarannya. Yang tersisa dalam ruang telinganya hanyalah bunyi kamera yang dipersiapkan untuk mengambil gambarnya… setelahnya hening. Ia pun memejamkan mata.

"Kita mulai," Genma memberi aba-aba seraya mengatur posisinya. Dan ketika Gaara membuka matanya, ia—dan Yashamaru—tahu bahwa sesi ini akan segera berakhir. Gaara tak lagi memikirkan permasalahan yang semenjak tadi mengganggunya.

Tak jauh dari tempat itu, seseorang berambut coklat tua panjang dengan ikat rambut warna hitam di bagian ujungnya melihat gerak-gerik sang model dengan seksama. Ia kenakan kembali kacamata hitam yang tadi dilepasnya lalu masuk ke dalam Sport Car biru miliknya. Dari kaca spion di pinggir, ia melihat sejenak pemuda yang menarik minatnya itu.

"Sabaku Gaara~ hmm~"

Dan sosok itu pun melaju ke arah tujuannya semula.

-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-

Ruang bersinar merah mengeluarkan seseorang dari dalam perutnya. Orang tersebut membawa sebuah amplop besar menggembung yang berisi hasil dari kameranya. Dan dari hasilnya, beberapa lembar foto disisihkan untuk diserahkan kepada pemimpin. Orang itu yakin kalau foto yang sudah dipilihnya akan dipakai menjadi salah satu bagian dari majalah yang dinaunginya.

"Naruto-san,"

Sang Uzumaki yang baru keluar dari ruang gelap tersebut menoleh dan mendapati seorang remaja seumuran Gaara tengah tersenyum padanya. Naruto mengangguk sebelum menghampiri remaja itu.

"Sudah lama tak bertemu. Apa kabar?" tanya remaja bernama Haku; seorang jurnalis profesional yang identitasnya menjadi sebuah rahasia. Sayangnya, kerahasiaannya tidak mempan pada Naruto. Terbukti dari sang fotografer yang melihat sekeliling seolah mencari seseorang. Haku menyadari hal itu.

"Zabuza-san sedang di kantor bos. Beliau bermaksud membicarakan tema yang harus dicapai tiga bulan ke depan," jelas Haku.

Naruto mengangguk sembari berpikir. Tak lama, ia mendapatkan sebuah ide berkaitan dengan apa yang baru saja dilakukannya. Pemuda itu memberikan Haku sebuah cengiran sebelum meraih tangan remaja tersebut lalu menariknya ke arah kantor. Haku yang sedikit terkejut hanya bisa bertanya-tanya akan apa yang dipikirkan sang pemuda.

Sesampainya di depan pintu bertuliskan Head Director Yahiko, Naruto mengetuk pintu lalu membukanya. Ia hanya mengangguk pelan ketika dua pasang mata menatapnya spontan.

"Naruto, kupikir Kau libur!" sang direktur langsung bangkit dari kursinya dengan antusias. Di depannya, seorang pria berbadan besar kembali fokus pada berkas di tangannya.

Sang Uzumaki tersenyum lalu masuk ke dalam kantor setelah mempersilakan Haku masuk terlebih dahulu. Ia mengambil tempat di samping Zabuza sementara Haku duduk di sofa. Kemudian, Naruto meletakkan amplop yang dibawanya ke atas meja sambil mengeluarkan beberapa lembar foto dari dalamnya.

"Baiklah, apa idemu kali ini?" tanya Yahiko, mengetahui bahwa fotografer kesayangannya itu selalu ada ide baru setiap berkunjung ke kantornya.

Jemari kecoklatan Naruto bergerak-gerak di udara membentuk bahasa isyarat yang dimengerti sang direktur. Ia menyampaikan apa yang ada dalam otaknya dengan jelas sampai seulas senyum menantang bermain di wajah Yahiko. Setelah yakin semua tersampaikan, Naruto menggidikkan dagu seakan bertanya, 'bagaimana?' padanya.

Yahiko menaikkan sebelah alis tanpa menghilangkan seringainya. Lalu ia menatap Zabuza dan Haku secara bergantian sebelum menuliskan sesuatu di Buku Kegiatan Perusahaan.

"Apa yang kau rencanakan?" tanya Zabuza tanpa mengalihkan perhatiannya dari berkas.

"Sebelumnya, aku ingin Haku melakukan sesuatu," Yahiko menunda penjelasannya pada sang pria.

Remaja cantik berambut panjang itu memiringkan kepalanya sedikit ke kanan, "Iya?"

Direktur berambut oranye itu menunjukkan selembar foto yang tadi diserahkan Naruto, "Aku ingin Kau mendeskripsikan orang ini lewat tulisan lalu tempatkan hasilnya di rubrik pendatang baru," pintanya.

Haku mengambil foto tersebut lalu memperhatikannya untuk beberapa menit—membuat Naruto dan Yahiko menunggu jawabannya dan Zabuza mengalihkan perhatiannya dari berkas. Setelah puas merencanakan kata yang akan digunakannya, Haku tersenyum kembali.

"Kuterima," setujunya. Naruto dan Yahiko pun tersenyum sementara Zabuza mengerutkan dahi. Bagi pria itu, senyum Haku mengundang sejuta makna, dan ia bisa dengan pasti berkata bahwa remaja yang selama ini bersamanya sedang dalam masa 'tantangan'. Zabuza menghela napas panjang.

"Jadi, bagaimana dengan tema tiga bulan ke depan? Apa tetap memakai tema yang sudah disepakati sebelumnya atau mempertimbangkan tema yang ditulis di kertas ini?" tanya Zabuza sambil mengangkat selembar kertas berisi tiga frasa yang merupakan tema.

Sang direktur menunjuk satu frasa tepat di tengah. "Ini… bisa kita pakai," lugasnya.

-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-

"Bagaimana menurutmu?" Nagato bertanya pada Sasuke yang tengah memperhatikan figura-figura di dinding ruang Gallery.

Sasuke tak langsung menjawab melainkan terus melihat sebuah figura berisi foto yang menarik perhatiannya. "Ini… yang mengambil…" gumamnya pelan.

Nagato tersenyum. Rupanya memang gambar itu yang menarik perhatian setiap orang yang melihat. "Kau merasakannya? Aura yang tertangkap di balik foto itu?"

Lagi, Sasuke tidak menjawab. Ia terlalu terpaku dengan permainan garis dan warna yang dilihatnya. Rasanya nyaris mustahil mengetahui ada yang bisa mengambil gambar dari angle yang dilihatnya itu. Foto itu…

Fajar menyingsing dari ufuk timur, memperlihatkan langit gelap yang pecah berwarna bagai gelas kaca berserakan setelah membentur lantai. Sinar horizontal yang bersilangan dengan vertikal, membentuk garis-garis pagi yang menyegarkan. Awan berarak dari pusat hingga sisi yang lebih lebar, merefleksikan partikel yang dimilikinya dalam kesenduan. Sementara langit bermain dengan warna dan garis yang mengundang embun berbicara, sekumpulan air memercik dari telaga dengan megahnya.

Pagi… terlihat begitu indahnya.

Kemiripan warna dengan senja di sore hari, membuat tangkapan gambar tersebut terasa lebih hidup karena tak melulu warna kejinggaan adalah milik sang matahari tenggelam, tapi juga milik raja siang yang baru terbangun dari tidurnya. Memikat, meracuni waktu juga perasaan. Seperti terjadi dalam diri seorang remaja yang perlahan menggerakkan jemarinya untuk meraba permukaan tanpa suara yang dirasa malah mengalunkan nada tertentu.

.

.

Yugure ni kimi to mita

Orenji no taiyou

.

.

Rasa-rasanya Sasuke mendengar ada yang melantunkan frasa lagu yang ia kenal. Lagu pendek bagai intro yang dulu pernah didengarnya dari seseorang.

.

.

Nakisou na kao o shite

Eien no sayounara

.

.

Lagu perpisahan…

"Apa dia… menangis?" Tiba-tiba saja pertanyaan itu terlontar dari mulut Sasuke. Entah apa yang membuatnya bertanya seperti itu, ia sendiri tak tahu. Hanya saja, rasa pilu yang tersirat di dalam rekaman gambar yang ada membuatnya penasaran… ingin tahu apa yang sesungguhnya dipikirkan sang pemuda ketika mengabadikannya.

Pria berambut merah yang berada di samping sang Hino tertegun; tak menyangka akan mendengar pertanyaan sama yang pernah dilontarkan sahabat sekaligus pemimpinnya. Yahiko. Pertanyaan simpel namun tepat pada sasaran yang tempo itu terjawab oleh satu senyum indah penuh luka dari Konan yang menyaksikan pengambilan gambar dengan mata kepalanya sendiri. Pertanyaan dengan jawaban yang sudah pasti adanya.

.

.

Aku ingin bertemu denganmu

Di bawah bayang-bayang jingga sang matahari

Dan wajah yang terlihat menahan tangis

Demi sebuah perpisahan abadi

.

.

Pintu ruang Gallery terbuka, memperlihatkan sosok seorang pemuda berambut pirang yang sepertinya tengah mencari sesuatu—atau seseorang. Ketika mata birunya bertumpu pada sosok yang dicari, pemuda itu tersenyum seraya menghampirinya.

Sasuke! Aku mencarimu dari tadi!—kira-kira itulah yang diucapkan Naruto dengan ekspresinya. Dan saat ia berada dekat dengan sang remaja, ia terdiam; mematung melihat apa yang sedang diperhatikan sang Hino.

'Fo-foto itu?' batin Naruto sambil mundur selangkah. Ia menoleh dengan kasar ke arah Nagato yang tertawa kecil. 'Kau bilang foto itu tidak akan dipajang, Nagato-san!' isyaratnya pada sang pria dengan wajah sedikit memerah—malu karena foto pertamanya diperlihatkan ke publik.

"Tidak apa 'kan, Naruto! Toh hasilnya sangat memuaskan sampai-sampai Hino-kun tidak bisa berhenti melihatnya," ujarnya ringan—yang malah membuat Sasuke tersadar dan langsung memalingkan mukanya yang merona.

Sang Uzumaki menggaruk pelipisnya yang tidak gatal sambil nyengir setengah. Gerakan itu bisa diartikan sebagai 'terima kasih' untuk apresiasi yang ditujukan sang remaja… meskipun pada akhirnya ia pun membuang muka karena malu.

"Baiklah! Sepertinya ada sesuatu yang ingin kau bicarakan dengan Hino-kun, Naruto! Aku akan ke kantor ditektur ya," pamit Nagato yang tanpa buang waktu langsung bergegas keluar ruangan, meninggalkan mereka berdua.

Hening lagi-lagi menguasai ruang itu. Belum ada dari mereka yang mengucapkan sepatah kata karena masih berkutat dengan pikiran masing-masing. Naruto yang sebenarnya tidak ingin foto pertamanya dilihat, dan Sasuke yang tertangkap basah mengagumi foto tersebut. Banyak yang ingin ditanyakan namun banyak juga yang ingin disembunyikan. Mereka hanya tak tahu harus berkata apa sebagai permulaan.

"Jadi…" Sasuke memecah keheningan setelah berdeham, "bagaimana hasil foto tadi?" tanyanya.

Naruto nyengir sambil melangkah mendekati sang remaja. Ia menyerahkan amplop besar yang dibawanya kepada Sasuke lalu menulis di catatannya.

Sudah kubicarakan dengan bos kalau fotomu akan dimasukkan ke dalam majalah Sunny Days edisi bulan depan!

Sasuke menaikkan sebelah alis, "Majalah? Mempromosikan apa? Aku 'kan belum menunjukkan kemampuanku menyanyi," bingungnya. Naruto pun menulis lagi.

Membuat publik penasaran sebelum memberi tahu bakatmu bukannya lebih menarik?

"Benar sih…" tapi dalam rubrik apa fotoku akan dimunculkan? Masa' iya model? Batin Sasuke tidak menyukai ide dirinya debut sebagai model. Dan seperti membaca pikiran remaja itu, Naruto memperlihatkan catatannya lagi.

Lihat saja nanti! Kau tidak akan menyesal kok!

Meskipun masih sangsi, Sasuke akhirnya mengangguk pelan. Ia lalu diminta sang Uzumaki untuk menunggunya sebentar sebelum pulang. Sembari menunggu, sang Hino samaran membuka amplop coklat yang berada di tangannya.

Sepuluh detik setelah melihat isinya, kekuatan jemari Sasuke melemas dan membuat foto-foto tersebut jatuh ke lantai.

-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-

Bulan baru datang dengan cepat. Perusahaan Sunny Days akhirnya meluncurkan majalah baru yang dinanti-nantikan oleh publik penggemar artis-artis terkenal. Sebanyak 2000 eksemplar terjual per minggunya, dan dapat dipastikan stok akan habis sebelum bulan baru berakhir. Kenapa bisa begitu laris? Hal itu dikarenakan Sunny Days adalah sumber informasi dan hiburan unik yang diciptakan oleh tiga pendiri dan terbukti telah menelurkan banyak talenta muda baik di bidang musik, model, teater, perfilman, maupun bidang lainnya. Dan yang paling pasti adalah bahwa sumber mereka terpercaya.

Naruto, sebagai salah satu yang berpartisipasi di perusahaan tersebut, mendapatkan majalah itu secara cuma-cuma, tentu karena kebanyakan foto yang dimuat merupakan hasil jepretannya. Pemuda itu cukup puas dengan susunan majalah tersebut yang terbilang beda dengan yang sebelumnya, terutama pada bagian pendatang baru.

Bakat menulis Haku memang tak terbantahkan! Walaupun aku tak menjelaskannya secara gamblang, anak itu menangkapnya dengan sempurna! Batin Naruto.

Seringai puas merekah di wajah sang Uzumaki setelah selesai membaca apa yang ditulis di bagian yang tempo hari disetujui Yahiko dan Haku. Mata birunya pun melihat satu kolom kecil di bawah yang diduga sebagai freetalk dari sang editor: Zabuza.

Mungkin kebanyakan dari kalian akan bertanya-tanya, siapa dia dan apa yang dilakukannya hingga dapat memasuki ruang impian ini. Mungkin juga di antara kalian ada yang tidak peduli siapapun yang masuk dalam rubrik ini asalkan menarik—atau bahkan, kalian sama sekali tidak ingin tahu.

Mudah saja untuk menyebutkan siapa dia—tentu untuk kalian yang menantikannya. Namun, kami baru akan memperlihatkan dirinya setelah kalian 'melihat' aksinya!

Siapa dia? Tunggu kami bulan berikutnya~

Naruto tertawa tanpa suara. Ia merasa geli mengetahui bahwa yang menulis kolom itu adalah seorang pria bertubuh besar dan berwajah seram. Siapa sangka orang itu jugalah yang ternyata mengajari Haku menulis? Ia memang tidak boleh menunjuk langsung seseorang berdasarkan penampilannya.

"Dia ya cover-nya!" Tiba-tiba ada yang mengomentari sampul majalah SD. Naruto mendongak dan mendapati Sasuke tengah menatap cover SD dengan pandangan sebal. Sedikit banyak, ia mengetahui alasannya.

-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-

"Aku tidak menyangka kalau foto ini yang akan dipakai," Gaara meneguk minumannya sambil melihat majalah Sunny Days terbaru yang mencetak potret dirinya basah kuyup di bawah hujan di tengah jalanan ramai—yang tentu merupakan efek buatan. "Kupikir akan memakai yang di atas jembatan itu," tambahnya. Sang manajer tersenyum padanya sembari menuliskan jadwal yang akan dilaluinya.

"Genma-kun bilang aura Gaara-sama akan lebih terlihat kalau bermain di air. Memang kontradiksi dengan negara Suna kita yang lebih sering badai pasir tapi itulah poin pentingnya," kata Yashamaru, "publik akan lebih tertarik," tambahnya.

"Yeah, though I really don't need it…" gumam Gaara. Ucapan itu malah membuat Yashamaru berhenti menulis lalu menatap tuan muda-nya.

"Gaara-sama masih berpegang pada pendapat itu ya?" tanyanya. Gaara menaikkan sebelah alisnya yang sangat tipis pertanda tidak menangkap arah pembicaraan sang paman. Yashamaru pun melanjutkan, "Sebelum menjadi model, Gaara-sama mengagumi Uzumaki-kun, 'kan? Anda mempunyai semua karyanya dari yang instrumental hingga yang dibawakan penyanyi lain. Ingat apa yang Anda katakan sewaktu acara 2-Hours Dream?"

'Dia pasti sangat penyayang ya. Kujamin, orang yang jadi pacarnya pasti orang yang bahagia,'

"Kenapa dengan itu?" Gaara balik bertanya. Yashamaru menggeleng pelan, "Maksud saya kalimat yang Anda utarakan saat acara berlangsung—yang membantu debut Anda,"

'Kalau orang bertalenta sepertinya ada di sisiku, aku tidak butuh ketenaran sama sekali,'

Sang Sabaku muda menatap lekat manajernya—yang langsung mengangguk. "Apa Anda masih berpendapat seperti itu? Atau sebenarnya dari awal tujuan Anda adalah mendopleng nama di dunia hiburan?" Yashamaru bertanya serius.

Remaja berambut merah itu membanting majalah SD di depan sang manajer. "Apa yang sebenarnya ingin kau katakan, Yashamaru?" geramnya. Manajernya hanya menyunggingkan seulas senyum yang tidak bisa dibilang 'baik'.

"Maksudmu setelah aku berpacaran dengannya lalu aku berhenti menjadi model, begitu? Jangan meremehkanku!" Gaara bangkit dari kursinya lalu berjalan keluar ruangan. Sebelum pintu apartemen mereka ditutup, ia mengatakan sesuatu pada Yashamaru.

"Menjadi model adalah impianku, dan meskipun Naru memintaku berhenti, aku takkan menurutinya!" Pintu pun ditutup dengan kasar.

Yashamaru yang ditinggalkan di dalam masih menyunggingkan senyum yang perlahan berkembang menjadi seringai penuh kepuasan. Ia menatap pintu yang dilewati tuan muda-nya seraya berkata, "Bagus, Gaara-sama, karena saya sama sekali tidak mengizinkan Anda berhenti mengepakkan sayap. Saya harus menyaksikan Anda hingga puncak yang saya tahu akan Anda dapatkan."

Pengawas keluarga Sabaku itu lalu mengambil majalah di hadapannya dan membukanya lembar demi lembar hingga sampai pada halaman yang selalu dipantaunya.

PENDATANG BARU KALI INI!

Kalimat itu tidak asing lagi bagi kalian, bukan? Tentu saja karena kalian yang haus akan bakat-bakat baru membutuhkan suplai lebih banyak, dan SD di sini bertugas untuk mengabulkannya.

Lihat potongan foto di samping? Ada yang tahu siapa dia dan apa bakatnya? Hebat kalau kalian tahu karena mungkin saja kalian termasuk kelompok cenayang—maaf, hanya becanda~

Baiklah, kumulai saja ya!

Putih dan halus bagai kain satin suci; merah delima pembisik mantra bagai lullaby menentramkan; langit malam pertanda kegelapan pembungkus matahari; dan dingin es seolah membekukan segalanya. Perca tiga warna bagai Bermuda, menghanyutkan, menghipnotis, menarik kendali diri lalu melepasnya lagi. Seperti legenda Ikaros, namun, akan terus terbang selamanya.

Tiada yang tahu bagaimana bermulanya ia tapi dunia akan menyambutnya dengan senyum bangga. Dan mereka akan dibuatnya terpana.

Bakat terbaru Sunny Days: Hino. Be with you soon!

_HQ_

Yashamaru menatap foto yang tercetak di samping artikel mini itu: potongan banyak potret yang dijadikan satu dan menonjolkan sisi yang membuat subjek tak terdeteksi. Hanya dua belah bibir merah, ujung mata kiri, dan jemari kanan subjeklah yang terlihat. Benar-benar mengundang tanya.

"Hino, ya…" Pria itu memperhatikan kata kunci yang diberikan penulis pada pendatang baru itu: Bermuda dan Ikaros. Sepertinya SD bermaksud menjadikannya artis fenomenal.

"Hmm, dia bisa jadi sasaran ketenaran Gaara-sama~"

-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-

Di studio Rainy Weeks kota Suna, sebuah band bernama Byakugan melakukan rekaman album terbaru mereka. Mereka adalah band yang dinaikkan namanya oleh Sunny Days dan sudah tur ke berbagai tempat. Mereka memilih Rainy Weeks sebagai tempat rekaman merupakan rencana sang direktur pemasaran SD yang kenal baik dengan pihak manajemen RW. Semua demi mempopulerkan nama band mereka.

"Hoi, kau yakin dengan lagu ini?" salah satu personil band Byakugan bertanya pada sang leader. "Ini tidak seperti yang pernah kita bawakan sebelumnya, 'kan?"

"Tenang saja, Lee. Lagu ini ciptaan Tenten, jadi tidak mungkin tidak disukai," sang pemimpin menjawab.

Lelaki bernama Lee beralih ke perempuan di samping pemimpin, "Kenapa membuat lagu seperti ini? Memangnya kau jatuh cinta sama gay?" bingungnya.

Perempuan bernama Tenten mengangguk, "Begitulah, tapi aku membuatnya bukan untuk pribadi kok. Ini untuk Neji," jawabnya sambil menunjuk sang pemimpin, membuat Lee syok.

"Neji?" Lee menatap leader-nya tak percaya, "Siapa cowok yang ketiban sial itu?" lalu mendapatkan jitakan keras di kepala karena menyindir. "Habisnya, aku kasihan sama cowok yang harus berinteraksi denganmu yang tinggi hati, egois, dan seenaknya itu!"

"Lee, demi keselamatanmu, lebih baik berhenti," wanti seorang anggota lainnya, Ranmaru, yang baru masuk ke studio setelah berbincang dengan komposer RW, "lagipula, kita memang membutuhkan impact saat ini, dan lagu itu bisa memenuhinya," jelasnya.

Pemimpin bernama Neji itu tertawa sinis, "Tapi hanya bisa dinyanyikan perempuan. Anggap saja special track yang dibawakan Tenten sendiri," ucapnya, "kalau kurang, kita bisa menambahkan suara Ranmaru yang memang mirip cewek."

"Are you ready there?" suara dari ruang komposer terdengar yang kemudian dijawab dengan anggukan oleh Byakugan.

"OK! One… two… three!"

Special for you, Gaara.

-.-.-TBC-.-.-

*sujud syukur bisa update* m(_'_)m

Minna-san, maapkan Kyou yang jarang update fanfic—terutama yang ini dan No Smoking, Sensei! Kyou bener2 kepentok tugas dan rasanya nggak ada waktu buat ngelanjutin fanfic. My Bodyguards (FNE) aja udah dari kapan tau nggak Kyou lanjutin… T_T

Tapi, Kyou akan terus berusaha buat ng-update fanfics yang belom kelar. Mohon doanya ya… *dirajam*

Okey. Akhirnya Sasuke mulai melangkah di jalan impiannya. Namun, jalan itu pasti tidak semulus yang diduga. Ada Yashamaru yang akan memanfaatkan apa dan siapapun demi tuan muda-nya, dan Neji dari Byakugan yang sepertinya mengincar Gaara dan bisa mengancam hubungannya dengan Naruto. *digetok gara2 ngasih spoiler*

Lagu yang diinget Sasuke itu Kyou minjem dari film Jepang Moon Child yang ada Hyde dan Gackt. Lagu itu judulnya Orenji no Taiyou yang dibawain sama mereka berdua.

Nantikan chapter selanjutnya~

Mind to review? Just don't waste your time for leaving me flames.

_KIONKITCHEE_