NARUTO © Masashi Kashimoto

"The Revenge of Hinata Hyuuga in Akatsuki"

By Setshuko Mizuka

Rate : T

Genre : Friendship, Fantasy, Family, Romance-nya nyempil dikit ^_^a

Pairing : NaruHina *harus!* slight NaruSaku and SasuHina… SasuSaku juga!

Inspirated by : NARUTO, KEKKASHI, BLEACH, and Fairy Tail.

Warning : GaJe, AU, typo(s), OOC, and the other. If you don't like this fanfic, you can back from here. ^^

***TRoHHiA***

By : Mizuka

#Chap 4: Uncle's Naruto Comes Back#

Chapter Sebelumnya:

^^ TRoHHia ^^

Hari sudah mencapai siang, matahari kini tepat berada di atas kepala. Musim dingin pun sudah tergantikan oleh musim semi yang mulai menghangatkan seisi Konoha City. Bunga-bunga yang dulunya kuncup kini mulai menampakan warnanya. Hinata, gadis sulung dari anak Hiashi Hyuuga tengah mengganti sepatu sekolahnya dengan sepatu yang ia pakai saat berangkat menuju KHS tadi.

"Hime-sama, kau janji akan membelikanku ramen sore ini. Ingat 'kan?" tagih Chiu, spirit Hinata yang hanya bisa didengar suaranya oleh Hinata.

'Kau ini. Aku heran padamu, kau ini 'kan makhluk transparan tapi bisa makanan senyata itu,' ujar Hinata, tentunya dalam hati karena ia tak mau dianggap gila berbicara sendiri.

"Tetap saja aku ini sebuah jiwa. Aku juga punya perasaan dan bisa membedakan mana yang benar atau salah. Tapi itulah spesialnya, aku tak terlihat oleh semuanya kecuali manusia yang memiliki mata spesial seperti Hime-sama," terang Chiu. Ia mengelilingi sekitar tubuh Hinata yang mulai bergerak keluar gedung KHS untuk pulang ke apartemennya yang jaraknya hanya melewati satu stasiun. "Mau 'kan, Hime-sama?" tagihnya lagi.

Melihat Chiu yang terus saja membujuknya itu, Hinata hanya mengangguk pasrah. "Habis sudah uang sakuku hari ini," ujarnya pelan. Hinata sudah memastikan hal itu karena tiap Chiu makan ramen, pasti tak cukup dua mangkok ukuran sedang. Minimal Chiu bisa menghabiskan tiga mangkok ramen ukuran jumbo.

"Hime-sama 'kan bisa minta lagi uangnya pada Hiashi-sama."

"Berbicara sih, mudah. Melakukannya yang susah, lagipula aku malas minta lagi. Nanti Tou-san mengira aku ini orang yang boros uang," sahut Hinata.

"Drrrttt! Drrrttt!"

Hinata membaca pesan e-mail yang baru saja sampai di handphone flip-nya. Mata amethyst-nya menyipit begitu membaca e-mail tersebut. Chiu hanya diam karena bisa membacanya lewat pikiran Hinata.

"Ha~h… Padahal aku ingin pulang dulu, tapi sudah disuruh ke kedai sama Deidara-senpai," keluhnya sambil memasukan handphone-nya ke saku rok.

"Sabar, sabar," ujar Chiu.

"Hinata-san!"

Hinata menengok ke belakang dan terlihat Sakura bersama spiritnya yang berbentuk kucing dengan bulu berwarna merah muda seperti rambut Sakura bernama tengah mengejarnya. "Ada apa?" tanyanya begitu Sakura sudah berada di hadapannya. Dilihatnya Sakura tersenyum lalu berkata, "bareng ya ke kedainya?" Tanpa pikir panjang, Hinata mengangguk. Mereka pun berjalan beriringan.

"Kudengar…" Sakura memulai pembicaraan lagi ketika hening sempat melanda perjalanan mereka menuju stasiun.

"Apa?"

"Kudengar dari Sasori-nii… Naruto-san masuk timmu. Benarkah itu?"

Hinata yang sedari tadi menatap jalanan langsung menengok ke Sakura. "Ya, baru semalam dia masuk timku dengan Sasuke." Sebelum Sakura mengatakan sesuatu lagi, Hinata menyelanya, "semalam dia sudah menguasai jurus kekkai."

Sakura tekejut. "Benarkah secepat itu?"

"Hm. Dia juga aneh," ujar Hinata setelah mengangguk.

"Aneh bagaimana, Hinata-san?"

"Naruto-san memakai tangan kiri untuk mengeluarkan cakranya," jawab Hinata. "Mmm, Sakura. Boleh aku memanggilmu seperti itu? Kalau dihitung-hitung, kita sudah kenal selama lima bulan yang lalu, tapi kita tetap memakai suffix-'san' saat memanggil satu sama lain."

"Tentu saja! Kau panggil aku 'Sakura-chan' dan aku akan memanggilmu 'Hinata-chan'. Aku juga ingin memanggilmu seperti itu, tapi aku tak enak padamu. Nanti kau mengira aku ini sok kenal," setuju Sakura.

Hinata mengangguk lalu tersenyum. Mata amethyst-nya menatap langit yang terlihat sangat cerah kala itu. Seperti teringat sesuatu, Hinata langsung menatap Sakura yang sepertinya sedang berargumen dengan spirit kucingnya yang ia namai Marun. Tentu saja Hinata hanya mengira-ngira karena tak bisa mendengar suara mereka. "Apa kalian bertengkar, Sakura-c-chan?" tanyanya dengan memanggil nama Sakura dengan tambahan suffix-'chan' untuk pertama kalinya.

"Spiritku yang bawel ini minta susu putih terus. Padahal aku tak membawanya," jawab Sakura sambil nunjuk ke arah Marun.

"Aku haus sekali, Saku-cha~n. Belikan aku susu putih, atau apa saja deh. Yang penting aku bisa minum sekarang," bujuk Marun dengan muka melas.

"Memang terakhir kau minum kapan?" tanya Chiu sambil nemplok ke kepala Hinata.

"Dua hari yang lalu." Jawaban dari Marun membuat Hinata dan Chiu cengo. "S-serius?" Hinata maupun Chiu bertanya dengan tatapan tak percaya. Pasalnya, seekor kucing walaupun hanya spirit bisa menahan haus sampai dua hari. Chiu saja setidaknya tiga jam sekali harus minum.

"Habis~, aku sibuk mengerjakan tugas-tugas yang menumpuk tiap harinya. Jadi lupa untuk memberikannya minum. Lagipula salah dia sendiri yang tak memintanya," ujar Sakura.

Hinata ber-oh-ria. "Lebih baik beli minum di penjual minuman otomatis di sana," ujar Hinata seraya menunjuk penjual minuman otomatis yang berada di ujung jalan, tepat di samping pintu masuk stasiun Konoha City pusat. Penjual minuman otomatis itu samar-samar terlihat dari mata Hinata karena banyak orang-orang yang berlalu lalang di sekitarnya.

Mereka pun menghampiri benda berbentuk balok berisikan aneka kaleng dari kaleng jus hingga kaleng soda yang isinya alkohol itu. Kemudian Sakura memasukan koin 100 Yen *Author: maaf, Author cuma ngarang aja harganya* di tempat pemasukan koin lalu menekan tombol untuk memilih minuman yang ingin dibelinya. Tak lama kemudian, sebuah kaleng jus rasa stroberi keluar.

"Ini, tak apakan jus stroberi?" tanyanya pada sambil melemparkan kaleng jus tersebut ke Marun. Dengan sigap, Marun menangkapnya memakai mulut. "Ayo masuk, Hinata-chan. Sebelum keretanya meninggalkan kita," seru Sakura seraya menarik Hinata.

"S-Sakura-chan! Semua orang takut melihat kaleng melayang seperti itu," ujar Hinata mengingatkan sebelum pergi jauh dari Marun yang masih berdiam diri di tempat sambil melayang.

"A-ah! Aku lupa!"

^^ TRoHHiA ^^

"Konnichiwa!" seru Sakura dan Hinata bersamaan.

Semua orang yang ada di dalam kedai ramen dengan nama 'Ramen no Akatsuki' kaget dibuatnya. "Kau ini! Jangan mengagetkan seperti itu!" bentak Konan, salah satu pimpinan tim di Akatsuki yang kini tengah berkacak pinggang di hadapan kedua gadis tersebut.

"M-maaf…"

Konan menghela napas lalu berbalik menghadap para pengunjung yang masih menatap mereka dengan tatapan jengkel. "Maaf, maaf. Saya minta maaf atas kekacauan yang anak buah saya lakukan tadi. Silahkan melanjutkan acara makannya." Pengunjung pun kembali melanjutkan aktivitasnya setelah mendengar permintaan maaf dari Konan. "Kalian berdua, ikut aku," perintahnya pada Hinata dan Sakura.

"Yo, Hinata-chan! Sakura-chan!" sapa Deidara sambil tersenyum melihat bawahannya datang. Hinata mengangguk dan Sakura tersenyum.

"Ah! Hinata-chan, cepat kau ganti baju! Aku butuh bantuan di dapur," suruh Deidara pada Hinata seraya melemparkan sebuah pakaian putih ala koki seperti yang saat ini Deidara pakai. Deidara merupakan koki paling handal di kedai ini. Tak jarang jika banyak para pengunjung meminta Deidara untuk membuatkan pesanan mereka, walaupun masih ada Hinata yang masakannya juga tak kalah enak dari Deidara.

Dengan sigap Hinata menagkap baju itu dan langsung pergi ke kamar mandi untuk mengganti baju. "Memang pada kemana sih? Kok cuma Deidara-senpai yang memasak?" tanya Hinata sebelum masuk ke kamar mandi yang letaknya hanya bersebelahan dengan dapur.

"Sepupuku yang centil itu pergi belanja dengan temannya, kalau si Temari sedang les privat di rumahnya. Jadi hanya aku, Konan, dan Tenten yang bekerja," jawabnya.

"Si Ino itu belanja mulu kerjaannya," ujar Sakura yang sudah lengkap memakai baju ala pelayan. Baju seragam sailornya hanya ditambahkan celemek saja sih sebenarnya.

"Kayak kau tidak saja, Sakura," ujar Sai yang tiba-tiba muncul di belakangnya sambil tersenyum seperti biasanya.

"Heh! Tapi 'kan aku hanya belanja sebulan sekali," geram Sakura.

Sai hanya tersenyum.

"Baiklah, aku ke depan. Membantu Konan-senpai dan Tenten-san."

Sakura pun pergi sambil menghentak-hentakkan kakinya. Marah dan jengkel pada pemuda yang jadi teman setimnya itu. "Lebih baik kau bantu aku juga, Sai. Kau 'kan sudah lama tak jadi koki di kedai ini gara-gara acara pameran seni kakekmu itu," ujar Deidara memperingati.

Sai Matshumoto, pemuda yang suka sekali tersenyum itu juga salah satu koki di sini. Namun karena acara yang dibuat kakeknya, ia jadi jarang ke kedai selama dua minggu ini.

"Oh ya, kemana semua anak buahmu, Deidara-san?" tanyanya.

"Mereka semua sibuk dengan dunianya masing-masing, sama sekali tak pernah membantu atasannya sendiri," jawab Deidara dengan muka pasrah sambil menuangkan kuah ramen ke dalam mangkok ukuran sedang. Melihat itu pun, Chiu yang sedari tadi diam di samping Marun menatapnya dengan berkaca-kaca.

"Kau mau, Chiu?" tanya Sai yang menyadari tingkah Chiu.

"Tidak."

"Dasar, bilang saja mau. Kalau kau mau makan ramen, nanti malam saja ya. Setelah kedai tutup," ujar Deidara dengan santainya. Chiu hanya memutar matanya.

"Kudengar, Naruto Namikaze masuk timmu. Benarkah itu?" tanya Sai tanpa menoleh ke arah Hinata yang baru saja keluar dari kamar mandi. "Kalau iya, kenapa? Takut tersaingi 'kah?" tanya balik Hinata sinis seraya menghampiri tas selempang yang tergeletak di kursi tepat di samping tas milik Sakura. Ia pun memasukkan baju sailornya ke dalam tas, sementara roknya masih ia pakai.

"Timku takkan semudah itu tersaingi oleh timmu," sahut Sai sinis.

"Sudahlah, kalian ini. Cepat bantu aku! Banyak pesanan menunggu kita," lerai Deidara.

^^ TRoHHiA ^^

"Silahkan memilih menunya," ujar Sakura ramah pada pengunjung yang baru saja datang dan duduk tepat di pojokkan kedai.

"Hei, Sakura!" Sakura terperanjat kaget melihat Naruto yang menjadi pengunjungnya itu. Ia tambah kaget lagi begitu melihat Sasuke juga duduk berhadapan dengan Naruto. "Kalian?"

Naruto nyengir sementara Sasuke tetap diam membisu.

"Haduuuhhh!" Sakura mengaduh sambil menepuk keningnya.

"Ada apa, Sakura?" tanya Naruto polos.

"Sepertinya ada banteng ngamuk sebentar lagi," ujar rubah kecil berwarna merah dengan ekor sembilan yang baru tadi pagi Naruto namai Kyuubi itu sambil mendarat ke meja. Baron, spirit gagak milik Sasuke mengangguk setuju di atas bahu kiri Sasuke.

"Siapa yang kau maksud banteng, rubah?" tanya Sakura geram.

"Ah, bukan apa-apa," ujar Kyuubi.

Sakura mendelik lalu menatap horror ke Sasuke. Namun Sasuke hanya diam dengan muka datarnya tanpa menyadari tatapan Sakura. "Sasuke! Kau tau 'kan kami butuh bantuan, kenapa kau santai-santai di sini?"

"Aku lapar, sebelum bantu-bantu aku ingin makan dulu," ujar Sasuke tanpa intonasi apapun sehingga terdengar datar.

"Eh, kita bantu-bantu nih, Teme?" tanya Naruto.

"Hn."

"Baiklah kalau begitu. Cepat mau pesan apa?" tanya Sakura.

"Ramen jumbo rasa pedas," jawab keduanya kompak. Sakura sweatdrop dengarnya karena tak biasanya si Uchiha memesan ramen, apalagi dengan ukuran jumbo. Kalau si Naruto, Sakura sudah maklumi karena saat di sekolah Naruto juga memesan ramen. 'Segitulaparnya,' ujar Sakura dalam hati masih dengan sweatdrop-nya.

"Oke deh."

Sakura pun pergi ke dapur untuk menempelkan pesanan di mading yang tertempel tepat di pintu dapur. Sengaja ditempelkan di sana untuk mempermudah para koki membuat pesanan dari pengunjungnya.

"Teme, tadi aku melihat Hinata di sini. kemana dia?" tanya Naruto tiba-tiba.

Sasuke tak menjawab, melainkan menatap lurus Naruto sambil menyipitkan mata. Sasuke bermaksud meminta penjelasan atas apa yang Naruto tanyakan karena setahunya diantara Naruto dan Hinata tak ada urusan apa-apa. Naruto yang menyadari hal itu langsung menjelaskan.

"Aku 'kan hanya bertanya, Sasuke. Lagipula dia juga teman setimku."

"Hn, dia di dapur."

"Oh."

Tak lama kemudian, bukan Sakura yang datang melainkan Konan yang mengantarkan pesanan si duo sahabat itu. "Ini pesanannya, Uchiha," ujarnya dengan penekanan pada setiap kata 'Uchiha'. "Dan ini untukmu, bocah bungsu Namikaze," ujarnya dengan penuh penekanan pada Naruto sambil menyerahkan pesanan Naruto.

"T-terima kasih," ujar Naruto dengan nada takut. Ketika mata sapphire-nya menatap Konan, ia baru mengingat sesuatu. "Kau… pacarnya Pein ya?"

Rona merah terlihat jelas di wajah Konan begitu ditanya seperti itu oleh Naruto. Memang benar, Konan adalah pacar Pein. Mereka sudah jadian sejak masuk kuliah. Awalnya mereka hanya sahabat seperti pada umumnya, namun dalam hati mereka masing-masing terselip rasa cinta tumbuh. Kalau bukan karena kecelakaan e-mail yang Deidara kirimkan lewat nomor Konan yang isinya sebuah pernyataan cinta, Pein dan Konan takkan mungkin jadian. Bersyukurlah Deidara yang tak dapat bogem mentah dari Pein karena Pein tidak ditolak Konan setelah aksinya yang lumayan *ralat: sangat berbahaya* itu.

"Ah! Benar ternyata." Naruto langsung menyimpulkan begitu melihat rona merah di wajah Konan. Konan tak mempedulikannya, ia hanya pergi dari situ tanpa bisa menghilangkan rona merahnya.

"Tak kusangka, aniki-ku itu pintar mencari pacar," puji Naruto seraya menyuapkan ramennya ke dalam mulut.

Sasuke tak menjawab karena sedang makan.

"Yo, Naruto!"

Baru beberapa menit Naruto asyik memakan ramen jumbonya, panggilan atau bisa dibilang seruan dari laki-laki yang kini sudah duduk di sampingnya menganggu aktivitasnya itu.

"Oh, kau Lee. Sedang apa kau ke sini?" tanya Naruto.

"Ingin mengambil pesanan makanan. Tapi aku ingin istirahat dulu setelah naik motor hampir setengah jam tadi," ujarnya seraya menyenderkan bahunya ke kursi.

"Kau jadi pengantar makanan?" tanya Naruto dan dijawab anggukan oleh Lee.

"Lebih baik jadi pengantar makanan karena itu bisa menghabiskan waktu mudaku tanpa sia-sia," ujar Lee dengan mata berapi-api. Naruto, Sasuke, dan Baron sweatdrop, sementara Kyuubi sudah tertidur sejak dari tadi.

"Lee!" panggil Tenten seraya menghampiri ketiga pemuda tersebut sambil membawa dua kotak yang diyakini adalah pesanan yang dipesan para pembeli.

^^ TRoHHiA ^^

"TING TUNG TING TUNG! *Author: Author gak tau bunyi pemberitahuan yang ada di bandara di tulis kaya gimana. Hehe* Kapal boing 737 'Konoha Lines' jurusan Konoha-Suna akan lepas landas lima menit kemudian."

"Ha~h… Sudah sepuluh tahun aku tak kembali ke negara kelahiranku yang indah ini," gumam seorang laki-laki paruh baya yang umurnya kira-kira 50 tahunan setelah mengambil koper besar dari bagasi. Pria tersebut tampak seperti bukan orang asli Konoha pada umumnya karena warna rambutnya yang berwarna perak panjang.

"Permisi, Jiraiya-sama. Saya pelayan yang diperintahkan untuk menjemput anda ke sini," ujar pelayan yang menghampiri laki-laki paruh baya tersebut yang dipanggil Jiraiya tadi sambil membungkukkan badannya.

"Ya, ya, ya. tapi Sebelum itu, kau antarkan aku ke kedai 'Ramen no Akatsuki'. Aku ingin bertemu seseorang di sana,"perintahnya.

"Hai! Wakarimashita!" #Baik! Saya mengerti#

^^ TRoHHiA ^^

"Ah! Kenyang!" seru Naruto setelah menghabiskan semangkok ramen jumbo yang ia pesan tadi. Sasuke yang sedari tadi sudah selesai makan sedang sibuk mengutak-atik handphonenya.

"Ayo Teme! Kita bantu-bantu, kulihat pengunjungnya makin ramai," ajak Naruto.

"Hn."

Mereka pun pergi ke dapur untuk meminta celemek seperti yang dipakai Sakura tadi, namun sebelum itu mereka harus bayar dulu pesanan mereka ke kasir yang dijaga Tenten. Begitu selesai memakai celemek, tanpa disangka Naruto disuruh mencuci piring sementara Sasuke membantu Konan dan Sakura melayani pengunjung.

"Tak adil, Deidara-senpai! Masa aku nyuci piring, sementara Teme jadi pelayan!"

"Terima saja nasibmu, Dobe," ujar Sasuke sambil keluar dapur.

"Sudahlah, cepat sana bantu Sai mencuci piring," perintah Deidara. Naruto cemberut langsung membantu Sai yang tengah sibuk mencuci piring. Dilihatnya sosok pria berkulit pucat seperti mayat itu dengan kedua mata sapphire-nya. Sai yang menyadari tingkah Naruto hanya tersenyum palsu kepada Naruto. Naruto bergidik ngeri dibuatnya. "Jangan tersenyum seperti itu, orang aneh," gerutu Naruto.

Sai tersenyum lagi, "baiklah. Jadi kau Naruto Namikaze itu ya?"

Naruto mengangguk lalu mengelap piring serta mangkok yang tadi dicuci Sai.

"Sepertinya aku salah menilaimu," ujarnya dengan senyuman.

"Memang kau menilai apa?" tanya Hinata tiba-tiba tanpa menoleh ke arah Sai karena sibuk dengan masakannya.

"Dia lebih lemah dari yang kuduga," ujar Sai tak berdosa. Terlihat empat sudut siku-siku berkedut di dahi Naruto. Hinata melirik Naruto, begitu juga Deidara serta Chiu, Marun, dan Kyuubi. Mereka sama-sama merasakan hawa pembunuh di sekitar Naruto.

"Kau bilang aku lemah! Kurang ajar!" geram Naruto. Ia hendak memukul Sai namun dihalangi seseorang. Orang itu menahan tangan Naruto yang hampir sedikit lagi mengenai wajah Sai. Semua yang ada di sana kaget melihat sosok itu. "Jiraiya-sama!" gumam Deidara dan Hinata. Sementara Sai tetap tersenyum di tempatnya.

Jiraiya merupakan salah satu anggota pimpinan Akatsuki. Level serta jabatannya sama dengan Tsunade Senju. Entah kenapa dia ada di sini karena setahu Hinata dan Deidara, ia sudah menetap di Chicago, Amerika Serikat sejak 10 tahun yang lalu.

Naruto menatap Jiraiya dengan tatapan tajam namun setelah ia tahu kalau sosok itu adalah Jiraiya, ia langsung menarik kembali tangannya. "Sejak kapan Paman ada di sini?"

"APA! PAMAN!" kaget Hinata, Deidara, Chiu, dan Marun.

"Eh, ada apa?" tanya Tenten sambil masuk ke dapur dan menatap semuanya satu persatu.

"Jadi, Jiraiya-sama adalah Pamannya Naruto?" tanya Deidara menyimpulkan. Awalnya ia sangat kaget, Deidara sendiri yang jadi pimpinan tim Ino, Kiba, dan Shinosaja tak tahu. Apalagi yang lain. Dalam hatinya, ia menyumpah pada Pein.

"Ya, aku ini Pamannya Naruto dan kakak dari Minato, ayah Naruto," jawab Jiraiya lalu tersenyum.

"Jiraiya Pamannya Naruto? Baru tahu aku," gumam Tenten yang sudah ada di samping Hinata. Matanya langsung melirik pada Hinata yang tadi sempat kaget sekarang wajahnya terlihat datar lagi seperti biasa. "Kau juga baru tahu?"

Hinata mengangguk lalu memasak kembali masakan yang ia tunda sejenak tadi.

"Kenapa 'Paman Genit' ada di sini?" tanya Naruto yang sedari tadi diam saja.

"Apa maksudmu memanggilku 'Paman Genit', Naruto?" geram Jiraiya.

"Itu 'kan sebutan Paman dariku karena selalu mengintip perempuan-perempuan yang sedang mandi," ujar Naruto dengan santainya. "Bletak!" "Ittai #Sakit#!" gerutu Naruto sambil berjongkok dan memegangi kepalanya yang sudah benjol satu.

"Kalau bicara yang sopan pada orang yang lebih tua, Naruto." Naruto mencibir. "Aku ingin bertemu Pein, tapi kurasa kalian saja yang kuberitahu. Soal Pein nanti kau yang bicarakan padanya, Deidara," ujar Jiraiya lalu melihat Deidara mengangguk.

"Kurasa 'dia' sudah berbalik arah ke Jepang. Di Chicago sebulan terakhir ini, tak ada tanda-tanda ia akan menyerang Chicago. Lalu, pintu menuju dunia roh juga sudah tak terdeteksi lagi oleh timku. Dan aku memutuskan untuk ke sini karena info yang kudapat menunjukkan kalau pintu dunia roh terkadang aktif di sini," jelas Jiraiya.

"Memang benar pintu itu sering aktif. Tapi tidak seaktif saat…," ujar Sai seraya melirik Hinata yang masih sibuk memasak.

"Ya, aku tahu itu. Makanya itu, supaya kejadian yang tak diinginkan benar-benar terjadi, aku datang ke sini dan melihat situasinya," ujar Jiraiya menimpali ucapan Sai.

Naruto yang sedari tadi bengong sambil berjongkok itu langsung menyimpulkan kalau pamannya, Jiraiya sudah menjadi anggota Akatsuki sejak ia tinggal di Chicago, Amerika Serikat. Yang paling mengherankan Naruto, Naruto juga tinggal dengan Jiraiya bahkan satu rumah dengannya tapi tak tahu tentang keikutsertaan Jiraiya.

"Pesanan meja nomor 13 sudah belum?" tanya Sakura pada Hinata sambil memasuki dapur.

"Ah iya, ini."

Hinata menaruh dua porsi ramen rasa asin, seporsi takoyaki, dan tiga gelas teh hijau yang masih menguap pada nampan kayu yang dibawa Sakura tadi. Sakura menunggu Hinata selesai menyusunnya sambil menatap Jiraiya dan Sai yang terdiam. "Hinata-chan, ada apa ini?"

Hinata menengok lalu memberikan nampan yang sudah terisi penuh. "Diskusi mungkin? Entahlah."

"TIDIT! TIDIT! TIDIT!"

"TIDIT! TIDIT! TIDIT!"

Semuanya tersentak karena alarm handphone yang nyaring terdengar dari handphone Hinata, Tenten, Sakura, Sai, dan Deidara. Dari luar dapur juga terdengar alarm. "Pintu dunia roh… terbuka kembali," gumam Hinata.

To Be Continued

Akhirnya bisa di updated juga fanfic ini setelah 2 minggu nggak update. Maaaaaafff banget karena ada kesalahan penge-post-an di chapter yang lalu-lalu. Maaf juga karena telat, habis PR Mizuka numpukterus tiap harinya, belumkerja kelompok mesti ngerundingin sana-sini #curcol mode on#.

Hinata : Mizu-chan, kok aku masih OOC sih? A-aku kan nggak secuek itu o-orangnya.

Mizuka : Ehehe, belum sa-

Naruto : #nyela pembicaraan# Tau nih, Author. Kasian Hinata-hime, kasian juga aku yang dicuekin sih.

Mizuka : Kalau itu mah, DL.

Hinata : DL?

Naruto : Kalau ngomong nggak usah disingkat-singkat deh.

Reader : DL itu Derita Loe!

NaruHina : O-o…

Mizuka : Di sini Mizuka mau kasih tau tim mana saja yang ada di Akatsuki. Yang pertama tim Itachi: Sasuke, Hinata, dan Naruto. Sasori: Sai, Sakura, dan Gaara. Hidan: Shikamaru, Temari, dan Chouji. Deidara: Kiba, Ino, dan Shino. Konan: Neji, Tenten, dan Lee. Ehehe… Setelah dipikir-pikir, lebih baik Mizuka kasih tau saja anggota-anggotanya. Ini juga bonus sebagai permintaan maaf Mizuka karena salah nge-post chapternya. Arigatou gozaimasu untuk yang sudah me-review dan memberitahu kesalahan yang ada dan memberikan saran. Semuanya sangat bermanfaat untuk Mizuka. Baiklah, terima kasih sudah mampir ke sini, kapan-kapan main lagi ya (?). Tinggalkan Review bagi yang ingin memberikan komen serta saran untuk Mizuka. ^^ Kita ketemu lagi di chapter selanjutnya… Jaa ne…