Rock and Classic
.
.
.
"Hooshh… Hosshh…!"
Berlari dengan cukup kencang, Naruto menapakkan kakinya menyusuri jalan kecil menuju sekolah. Ya, sudah bisa ditebak. Bus yang biasanya ia tumpangi berangkat lebih cepat dari biasanya.
Atau mungkin saja memang dia yang terlambat.
Ah, apapun itu, intinya ia harus sampai di sekolah tepat sebelum Orochimaru sensei sampai di kelas. Atau ia harus dihukum untuk membereskan laboratorium kimia lagi selama seminggu.
Berbelok sedikit ke arah kiri dan Konohagakuen sudah tampak di depan mata.
Naruto menengok ke arah arloji di lengan kirinya. "Yosh! Tinggal dua menit lagi! Aku pasti bisa sampai ke kelas!" Naruto bersorak di dalam hati.
Jauh di depan sana, Ebisu sensei sudah bersiap-siap untuk menutup pagar. Tidak ingin telat walaupun badannya lelah berlari sambil menenteng hard case gitar, ia memacu kecepatannya, menyelip masuk melewati pagar yang hampir ditutup sedikit lagi, dan melesat ke tangga utama untuk sampai di kelas.
Tap! Sreg!
Dan itulah langkah terakhir perjuangan Naruto yang langsung saja membuka pintu kelas dengan kasar dan terburu-buru.
"Orochimaru sensei harus menghadiri sebuah kegiatan pameran kimia pagi ini. Sekarang, kita diminta untuk mengerjakan tugas di halaman 167," Lee berkata sambil menuliskan tugas di papan tulis.
Di saat itulah, Naruto yang baru saja datang hanya bisa terduduk kelelahan di lantai. Antara senang atau sedih meratapi nasib sialnya pagi ini.
.
.
.
Disclaimer : Naruto milik Masashi Kishimoto
Warning : AU (kisah yang terjadi seputar sekolah), BL (Jadi jangan terkejut ya) Typo (yang terlewatkan olehku), OOC (sepertinya), dan mungkin saja bingung karena banyak istilah musiknya. Tapi, aku berharap kalau readers akan mengerti, karena ada kalimat penjelasnya kok. Happy Reading, minna ^_^
Ini adalah kisah cinta antar sesama pria. Jadi, jangan terjebak ya
.
.
.
-Part 4-
Berjalan tertatih-tatih menuju mejanya sendiri, Naruto sudah agak kehabisan napas karena telah berolahraga secara terpaksa sepagian ini. Matanya masih setengah mengantuk, betisnya sedikit pegal karena berlari terlalu jauh, dan seragamnya sudah dibanjiri keringat.
Naruto duduk dengan lesu di kursinya, melipat tangan di atas meja dan meletakkan kepalanya untuk tidur. Hah… tau begini ia akan santai-santai saja untuk berangkat. Dirinya tinggal menyelinap masuk dari pagar belakang sekolah yang agak rendah, mengendap-endap lewat gudang belakang dan masuk ke kelas dengan muka se-innocent mungkin.
Tapi ya sudahlah. Lebih baik ia tiduran selagi dua jam ke depan tidak akan ada guru di kelas.
.
.
.
"Oy, bangun!"
Shikamaru kembali mencolek-colek lengan si rambut pirang. Tapi yang sedang tertidur itu hanya bergumam tidak jelas dan tidak bergeming sama sekali.
"Hah… Bangun, pemalas!" Shikamaru berkata malas sambil menjewer telinganya.
Naruto meringis, "Duhh! Jangan mengangguku! Aku sedang kelelahan." Shikamaru pun hanya mengangkat bahu cuek. Biar saja. Toh, yang penting orang ini sudah bangun.
"Dan berhenti mengataiku pemalas, dasar pemalas!" lanjut si pirang dan kembali tidur.
Shikamaru mulai mendesah, "Hah… Aku ke sini bukan semata-mata hanya ingin mengganggu tidurmu, bodoh. Kita semua dipanggil oleh Sakura ke ruang band sekarang. Katanya ada sesuatu yang penting."
"Heh…?" Naruto mendelik penasaran. Well, tidak biasanya Sakura mengajak untuk berkumpul di jam pelajaran.
"Memangnya kau sedang tidak ada pelajaran? Kenapa kau bisa seenaknya ada di kelasku?"
"Aku kan pintar," jawab Shikamaru pendek, yang tentu saja memunculkan kedutan tak menyenangkan di dahi Naruto. "Dan kau lupa ya? Ekskul kita kan cukup diberi kebebasan di sekolah," sambungnya.
Naruto berdiri dan merenggangkan tangannya ke atas, "Iya, iya deh… Kau kan memang jenius. Ayo lekas ke ruang band."
Shikamaru memandang heran. "Bukannya kau duduk dengan Gaara ya? Kenapa aku tidak melihat dia di kelas?"
Naruto langsung menoleh ke bangku sebelahnya. Iya ya, Gaara tidak kelihatan. Dirinya terlalu sibuk untuk cepat tidur dan tak sadar bahwa tidak ada tas lain terletak di sebelah mejanya. Kemana si rambut merah? Sakit?
"Haishh… Sudahlah. Kau datang ke sini bukan untuk mengurusi dia kan? Ayo lekas, ke ruang band. Daritadi kau lama sekali. Awas saja kalau kita diomeli Sakura!" Naruto mengomel dan berjalan mendahului si rambut nanas.
Shikamaru hanya bisa mendesah. Hah, padahal gara-gara dia mereka jadi terlambat. Mendokusai.
.
.
.
"Kau terlambat lagi, Naruto!"
Oke, kali ini Sakura benar-benar murka. Naruto baru saja menampakkan rambut kuningnya dan kepala tersebut langsung dihantam dengan pentungan dari tumpukan kertas. Sedikit mengaduh, Naruto merasa tidak terima. Ya iyalah, kok cuma dia yang dipukul? Kan juga ada Shikamaru.
"Sakura, kau membuang-buang waktu. Kita harus secepatnya kembali ke kelas."
Sasuke memandang tanpa ekspresi dari belakang kamus Bahasa Inggris Oxford yang dipegangnya. Mendengar itu, Sakura langsung meluruskan kembali lembaran kertas yang dia gulung. Naruto dan Shikamaru bahkan langsung duduk di lantai karpet, mengikuti yang lainnya.
Tampak sekali bagaimana seorang Uchiha bisa begitu disegani dan didengarkan.
Sakura memandang mereka semua satu per satu; Naruto yang urak-urakan, Shikamaru yang sedang menguap malas, Sasuke yang sedang belajar, Kiba yang masih menyeka banyak keringat di lehernya, dan Neji yang diam tanpa bergerak. Hah, berat rasanya mengurus 5 pria dengan kepribadian berbeda-beda seperti ini.
Tapi mau bagaimana lagi. Dirinya kan manager untuk band ini.
Sakura memulai pembicaraan, "Aku mengumpulkan kalian di sini saat jam pelajaran bukan tanpa alasan. Tapi, ada sesuatu yang ingin aku diskusikan dengan kalian."
Semuanya memandang heran sambil membaca formulir yang dibagikan Sakura.
"Dua bulan lagi, akan ada festival budaya di alun-alun kota. Lomba yang diselenggarakan salah satunya adalah lomba band tingkat sekolah menegah atas."
Naruto tersenyum cerah. Yak! Ini lah satu hal yang aku tunggu!
"Pihak sekolah secara khusus meminta kita untuk bersiap-siap dan turun mewakili sekolah," Sakura melanjutkan. Lima orang di depannya saling berpandangan dengan bersemangat.
"Maka dari itu kalian aku kumpulkan di sini untuk membahas…,-"
"Apa kita akan mengambil kesempatan ini dan kapan kita akan berlatih," Naruto memotong dengan berseri-seri. Senyumnya merekah. Sudah lama mereka tidak tampil di panggung lagi lantaran tidak ada kegiatan atau acara apapun.
Naruto memegang dua bahu Sakura dan mengguncang-guncangkannya, "Ayo! Cepat segera daftarkan kami semua!"
Sakura mencoba melepaskan pegangan Naruto dari bahunya dengan cara mendorong-dorong pipi si rambut kuning, "Tapi Naruto, dua bulan lagi kan…,-"
"Ujian tengah semester," sambung Sasuke dingin. Naruto memandang dengan kesal, "Ayolah, itu cuma ulangan bodoh. Perlombaan ini lebih penting, teme!"
Kiba menimpali, "Sembarangan saja kau, Naruto. Nilai ujian nanti akan masuk di dalam buku rapor. Ujian ini bukan main-main. Aku tidak mau harus bermasalah hanya gara-gara nilai."
"Astaga, kau masih bisa menutupinya dengan tugas tambahan, Kiba. Hey, bagaimana menurut kalian?" Naruto bertanya ke yang lainnya.
Shikamaru menguap, "Entahlah. Aku baru ingat kalau setelah ujian ada ada musim olimpiade dan pertandingan antar sekolah. Kau kan pasti tahu kalau kami semua pasti berpartisipasi, Naruto."
Naruto mengerutkan dahi. Yang dikatakan Shikamaru memang benar. Selain dirinya, anggota band lainnya mengikuti ekstrakulikuler lainnya. Sebagai murid andalan sekolah, Shikamaru selalu ditunjuk untuk olimpiade cerdas-cermat matematika. Sasuke juga pasti dipilih untuk masuk ke dalam tim debat Bahasa Inggris mengingat kemampuan bahasanya yang baik.
Dan walaupun Kiba serta Neji bukan orang yang sejenius itu, mereka punya andil yang baik dalam meraih medali cabang olahraga. Kiba adalah striker handal di klub sepak bola dan Neji merupakan atlet sabuk hitam shorinji kempo. Bahkan Sakura adalah perenang yang pasti akan diturunkan untuk kejuaraan nanti.
Sedangkan dirinya?
"Kau kan hanya ikut kegiatan band, Naruto. Tidak seperti kamu yang sudah menyiapkan diri untuk kejuaraan ini dari jauh-jauh hari. Kami punya beban moral," tukas Sasuke.
Naruto semakin tidak berkata-kata. Sasuke berdiri. Ia mengambil kamus yang dia bawa tadi kemudian berjalan dan menepuk pundak sahabat karibnya itu.
"Lebih baik kau belajar untuk ujian kali ini. Jujur saja, nilai akademismu tidak terlalu baik. Sangat buruk malah. Giat-giatlah belajar. Hidup bukan cuma untuk musik, Naruto," kata si Uchiha sambil berjalan dan membuka pintu.
Sebelum pintu itu tertutup, ia kembali memandang Naruto yang sedang menatap lurus kepadanya, "Dan masa depan kami ada di perlombaan itu."
Pintu ruang band pun berdebam pelan. Seolah, mengiyakan perkataan Sasuke, yang lainnya segera membereskan diri dan pamit pada Naruto yang kelihatanya masih ingin berada di ruangan band.
Hah….
Rasanya berat sekali bagi si rambut pirang. Saat akhirnya ia bisa menunjukkan eksistensi dan kualitas dirinya, ternyata teman-temannya mempunya jalan pikiran yang berlainan. Ia mencoba meringankan sakit di kepalanya dengan berbaring di karpet yang ia duduki.
Mereka salah. Itu yang terngiang di kepalanya.
Karena bagi Naruto, musik adalah hidup dan masa depannya.
.
.
.
Namikaze Minato bersandar ke kursi dan merenggangkan bahu setelah menutup laptopnya. Menjadi salah satu HRD divisi Human Resources of Development Manager di sebuah hotel bintang empat memang cukup menyibukkan. Tiap harinya ia harus berkutat dengan puluhan CV yang dikirim oleh pelamar kerja, melakakukan wawancara terhadap calon pegawai, melakukan pengawasan dan evaluasi standar kerja… Aaah, rumitlah pokoknya.
Jam meja digital menunjukkan pukul tepat sembilan malam. Ia lembur 2 jam lebih lama dari jam kerjanya. Saat kepala keluarga lainnya ingin segera pulang dan beristirahat dengan keluarga, ia lebih nyaman berada di ruangan kantor 4x6 miliknya dan berkutat dengan dokumen-dokumen dari bagian divisi lain.
Sadar telah mengabaikan handphonenya seharian ini, ia mencoba mengecek inbox. Siapa tahu ada email dari anaknya. Tapi nihil.
Ia meringis.
Naruto pasti sibuk sekali dengan sekolah. Semenjak masuk sekolah menengah pertama, ia menjadi sangat jarang di rumah dan bermain dengan temannya. Dan sekarang, setelah masuk SMA, ia menjadi lebih sering di sekolah.
Tak apalah. Yang penting ia baik-baik saja.
Well, Minato tidak mengharapkan hubungan manis ayah dan anak seperti kebanyakan orang. Misalnya berlibur bersama, atau berpetualan ke gunung dan uji nyali ke tempat-tempat para lelaki lainnya. Tidak, ia tidak mengharapkan seperti itu.
Selama ia masih bisa menyekolahkan anaknya, memberi ia makan, dan tempat tinggal. Baginya itu sudah lebih dari cukup.
Ia menekan tombol back berkali-kali sampai layar handphonenya menampilkan seorang wanita cantik yang tengah duduk sebuah kursi taman.
Wajahnya berubah sendu, sambil memperhatikan wallpaper tersebut.
Wanita dengan rambut merah, senyum bersemangat yang penuh dengan optimisme namun tetap terlihat manis dan feminim. Rambut tergerai panjang dan lurus ke bawah, beberapa rambut kecilnya terbang tertiup angin. Tampak sebuah jepitan rambut kecil terpasang untuk menyampirkan poninya.
Tujuh tahun sudah ia berpisah dengan wanita tersebut. Sekarang, ia hanya berdua bersama anaknya.
Cinta pertama dan kekasih hidupnya, Kushina Uzumaki.
.
.
.
"Aku sudah lama menunggumu, Minato-kun…" kata si wanita berkamata itu.
Minato merengutkan dahinya,"Aku baru saja ingin menjemputmu, Karin. Soalnya kau tidak menghubungiku." Minato mengeluarkan kunci mobil dan membuka pintunya.
Karin mengikuti Minato untuk masuk mobil dan duduk disebelahnya. "Yah… karena hari ini adalah akhir bulan, jadi aku harus membuat pembukuan akhir. Aku langsung saja pergi ke hotel ini dan menunggu di mobil, karena aku tau kamu sedang sibuk."
Minato mendengar tanpa menoleh dan menggumam sebagai respon. Ia mengendarai mobilnya keluar dari basement, membuka kaca untuk memberi salam kepada petugas keamanan hotel, dan melaju menuju apartemennya.
"Kau tau, Minato?" tanya Karin, membuka pembicaraan.
Minato hanya melirik dengan ujung matanya, "Apa? Aku sedang focus menyetir di sini." Karin hanya bergumam tanda mengerti dan duduk diam mengamati jalan raya.
Tidak sampai setengah jam, mobilnya telah memasuki basement apartemen. Minato menurunkan gigi, mematikan mesin mobil dan menoleh penuh kepada Karin yang sedang menatapnya.
"Apa?" tanya Minato heran. Karin cuma terkikih sambil meletakkan kedua telapak tangannya ke pipi Minato.
"Kau terlihat lelah dan berantakan," Karin berkata lembut. Ibu jarinya membelai pipi lelaki itu lembut, mencoba melembutkan syaraf tegang di wajahnya dan merasakan lekuk keras dari rahang pria di depannya.
Minato mencondongkan tubuhnya dan membuat wajah mereka begitu dekat.
"Kau memang pandai memanggil hasratku, Karin…" Minato mencium singkat bibir Karin.
Setelah itu, ia menyeringai, "Akan aku lampiaskan hasrat ini sampai kau juga berantakan di atas kasur nanti."
Kemudian, Karin kembali merasakan bibirnya tengah dilumat dengan membara oleh Minato. Tangannya mulai berpindah dari pipi ke sekeliling pundak sang lelaki agar dapat menciumnya lebih dalam.
Begitulah dirinya bagi seorang Namikaze Minato.
Seorang wanita pelampiasan.
.
.
.
~ Catatan Hati Seorang Author ~
Terima kasih kepada para reader yang masih menyempatkan diri untuk membaca cerita ini.
Ada beberapa masalah di duta dan dumay yang membuat cerita ini agak terbengkalai. Tapi di waktu senggang ini, aku coba selesaiin di warung kopi (?) dan post sesegera mungkin. Chapter selanjutnya akan menyusul ya..
Kritik dan saran yang membangun sangat diharapkan :D
Arigatou Gozaimasu ^_^
