Notes: Akhirnya ini di-update jugaaaa! Buat kalian yang lama menanti, ini akhirnya kami meng-update cerita pembunuhannya~ :D Selamat membaca buat kalian semuaa~

Disclaimer: Karakter adalah kepunyaan Hidekazu Himaruya. Pengarang tidak punya hak milik atau mengambil untung—di luar keperluan fangirling dari—dari cerita ini.

Warning: AU. Pemakaian nama manusia. Pembunuhan dengan deskripsi yang sangat amat jelas. Sho-ai dan straight bertebaran. Pairing bermacam-macam bertebaran. Berdasarkan pada pembunuhan kisah nyata yang belum terpecahkan sampai sekarang.


Antonio menyenderkan diri ke punggung kursi, tangannya naik dan perlahan memijat sisi kepalanya yang terasa nyeri. Sudah tiga hari ini dia lembur dengan dibahan bakari bercangkir-cangkir kopi, semua demi membaca tumpukan berkas berisi detail interogasi para tersangka. Yang sepertinya tidak habis-habisnya.

Detektif berdarah Spanyol itu meraih cup kertas berisi kopinya, mengerang saat mengetahui isinya hanya tinggal sekali teguk saja. Dengan ogah-ogahan dia berdiri, mengutuk Francis dan Gilbert yang malah keluyuran entah ke mana di saat seperti ini, lalu berjalan keluar menuju ke vending machine khusus kopi yang terletak di ujung gang tak jauh dari ruangannya. Ditekannya tombol expresso. Dia masih butuh dosis ekstra kafein untuk menyelesaikan sisa berkas yang belum selesai dibacanya.

Sembari menunggu mesin itu memproses pesanannya, Antonio membiarkan benaknya berkelana. Dia harus bersyukur bahwa jumlah tersangka yang harus dianalisanya sedikit menurun dengan adanya kasus kedua—yang menyempitkan daftar tersangka ke mereka yang mempunyai hubungan dengan Elizabeth Herdevary dan Mona 'Elizabeth' Bouquier saja. Yang notabene masih cukup banyak berhubung keduanya bergelut di profesi yang sama; dunia keaktrisan.

Fakta yang entah memberikan titik terang atau justru mengaburkan penyelidikan.

Apakah pelaku hanya mengincar orang bernama 'Elizabeth' saja? Ataukah target pelaku adalah aktris secara umum dan hanya kebetulan kedua orang korban mempunyai nama berunsur 'Elizabeth'? Masih ada juga misteri darah yang tertinggal di lokasi pembunuhan kedua, yang sayang sekali masih belum bisa digunakan untuk melacak identitas pelaku dengan teknologi sekarang. Dan juga misteri parfum yang dipakai oleh baik Francis maupun sang korban kedua; sesuatu yang insting detektifnya merasakan mempunyai peranan cukup besar…

Lalu tentu saja; masih ada Willem yang kalau testimoninya benar, berarti sedang berada di tempat kejadian pada saat yang memungkinkan untuk membunuh korban. Hanya saja, dia tidak melihat apa hubungannya pengusaha tekstil dengan dunia keaktrisan…

"...tonio. Kau masih belum memutuskan juga? Cepatlah, aku juga mau minum kopi, tahu."

Sang detektif mengerjap, sadar dari lamunan siangnya. Dia menoleh dengan segera, mata hijau bertemu mata rubi sang kolega. Yang entah sejak kapan sudah berdiri di sampingnya, berkacak pinggang tanda habis sabar.

"Kamu sudah berdiri di situ menatap kosong si mesin kopi sejak aku kembali. Dipanggil-panggil tidak menyahut. Sudah memutuskan pilihan belum? Kalau belum, aku duluan deh. Lagi butuh expresso nih."

Antonio melongo beberapa detik sebelum memakukan pandangan ke mesin kopi. Yang ternyata belum dimasuki koin. Tergopoh-gopoh ia merogoh saku, mengambil koin dan memasukkannya ke slot mesin. Menekan ulang tombol expresso, sang Hispanik menghela napas lega begitu suara berisik tanda mesin yang tengah bekerja menyapanya.

"Maaf, maaf. Aku... agak tenggelam dalam pemikiran tadi." Dia menggaruk kepalanya yang tiga hari ini belum dikeramas, nyengir minta maaf. "Ngomong-ngomong, dari mana saja kau, Gil? Ke toilet kok lama sekali..."

Sang albino merespon dengan mengangkat alis pucatnya. Ekspresinya jelas-jelas menyiratkan keheranan. "Siapa yang bilang aku ke toilet? Aku baru saja kembali dari kantor New York Times. Aku kan, pamit padamu dan Francis. Masa' kamu nggak ingat, sih?"

Giliran alis cokelat itu yang naik dalam kebingungan. "Ke kantor New York Times? Buat apa?"

"Untuk mencari informasi. Di kasus Black Dahlia lima belas tahun yang lalu, pelakunya mengirim surat dari potongan koran berikut barang-barang pribadi korban ke agensi koran terbesar di LA. Jadi kupikir, mungkin kita bisa mendapatkan clue yang awesome kalau pergi ke agensi koran terbesar di tempat kita..."

Gilbert dengan penuh kesadaran menghentikan sendiri penjelasannya melihat wajah Antonio yang kosong bak anak TK dijejali pelajaran sejarah tingkat SMA.

"Ini serius Antonio. Kamu perlu tidur. Mukamu terlihat sangat tidak awesome dengan kantung mata menggantung seperti itu. Dan otakmu juga agaknya mulai kacau..."

Antonio menggeleng dan mengangkat tangannya, menepis komentar dari sang albino. Menepuk-nepuk pipinya untuk memusatkan konsentrasi, mata hijau sang detektif menatap langsung mata rubi rekannya, menyiratkan hawa keseriusan baru.

"Lalu? Hasilnya bagaimana, Gil? Ada barang korban yang dikirim?"

Kalau ada barang yang dikirim, berarti itu memperkuat hubungan kedua kasus ini dengan kasus Black Dahlia lima belas tahun yang lalu. Tapi kalau tidak…

"Tidak ada! Baik korban pertama maupun kedua, tidak ada barang yang dikirim atas nama mereka!"

Itu bukan suara seorang Gilbert Beilschmidt. Nada yang penuh percaya diri, volume suara yang agak terlalu tinggi, serta raut wajah Gilbert yang dalam sepersekian detik sudah berganti ekspresi…

"… Alfred F. Jones?"

Pemuda pirang berkacamata itu melambaikan tangannya, entah sejak kapan sudah ada di belakang Gilbert, menatap lurus ke arah sang detektif berambut ikal. Cengiran agak kelewat girang menghiasi wajahnya yang tampan namun kekanak-kanakan.

"Yo. Lama juga tak bersua, Antonio!" Sapaan itu diikuti sebuah tawa renyah dan tepukan di bahu Gilbert, yang kebetulan berdiri paling dekat dengannya.

"Iya, lama tak bersua. Bagaimana kabarmu?" Detektif berdarah Spanyol itu menyapa ramah. Walaupun seorang Alfred F. Jones adalah seorang detektif free-lance yang bisa dibilang adalah 'saingan' mereka, dia tidak melihat alasan untuk tidak bersikap ramah kepadanya.

"Baik, baik! Tadi aku bertemu Gilbert di New York Times, ternyata kalian sedang menginvestigasi kasus yang sama denganku, ya? Kebetulan sekali! Hahahaha!"

Detektif pirang itu tergelak, menepuk bahu Gilbert keras-keras tanpa alasan jelas. Antonio mengurungkan niatnya untuk ikut tertawa begitu melihat melihat ekspresi Gilbert . Alis pucat itu bertemu di tengah dahi, ketara sekali dia sebal setengah mati.

"Jangan bercanda! Kau pikir gara-gara siapa kita diusir dari kantor New York Times, hah? Itu semua gara-gara kau dengan cueknya makan hamburger di depan petinggi yang tengah kita wawancarai! Mana dia Zwingli, si pemredaksi super galak itu, lagi!"

Ohh. Itu menjelaskan raut Gilbert yang kusut. Alfred, di sisi lain, hanya melambaikan tangannya dengan santai.

"Take it easy, eh, Gilbert? Kita 'kan, sudah mendapatkan data yang dibutuhkan. Mereka bertestimoni tidak mendapat barang kiriman. Diusir pun bukan masalah~"

"Apanya—!"

Antonio hanya bisa menghela napas sementara Gilbert mulai meneriaki Alfred yang hanya tertawa-tawa. Jemari itu naik mengelus dagunya, tenggelam dalam pemikiran.

"Jadi, tidak ada barang yang dikirim ke agensi surat kabar…" Antonio bergumam sendiri; kebiasaan yang terkadang dia adopsi karena terbukti memudahkan dirinya menyadari detail-detail kecil. "Berarti kalau direcap, sekarang kita punya dua pertimbangan. Satu, pelakunya sama dengan pelaku Black Dahlia di LA lima belas tahun yang lalu. Dan dua, pelakunya bukan orang yang sama dengan kasus asli Black Dahlia; mungkin hanya copycat yang meniru cara membunuhnya saja…"

"Dan yang ketiga," Alfred menambahkan tiba-tiba, nada suaranya masih ceria sementara sebelah tangannya menahan Gilbert yang tampak tinggal segini lagi akan menonjoknya. "Terpikirkah oleh kalian kemungkinan kalau pelakunya tidak cuma satu orang?"

Antonio dan Gilbert terdiam. Hipotesa itu tak pernah terpikir sebelumnya oleh mereka. Mata zamrud dan rubi itu menatap sang American, penasaran.

"Atas dasar?"

"Korbannya sejauh ini dua orang. Bukan tidak mungkin 'kan, kalau pelakunya lebih dari satu orang?"

Antonio dan Gilbert bertukar pandang. Landasan teori yang jujur agak tidak berdasar. Tapi untuk sebuah kasus yang nyaris tidak ada titik terang, bahkan teori seabsurd ini pun tetap harus dipertimbangkan.

Gilbert sudah membuka mulut untuk berkomentar ketika Alfred mengeluarkan teriakan mendadak sehabis melihat jam sakunya, yang membuat kedua detektif polisi di depannya melonjak.

"AAAAHHH AKU LUPAAAAA! Maaf kalian berdua, aku sudah harus pergi ke Park Avenue South sekarang juga! Ada seseorang yang harus kejemput segera, dan dia bisa mendiamkanku seminggu penuh kalau aku telat barang semenit saja. Bye!"

Tanpa menunggu reaksi keduanya, sang detektif swasta sudah melesat keluar meninggalkan mereka. Sepeninggal sang American, Gilbert tanpa menutup-nutupi langsung menghela napas lega.

"Syukurlah, orang nggak awesome satu itu sudah pergi. Aku jadi bisa bebas ngomong denganmu sekarang. Sedapat mungkin aku nggak ingin membocorkan informasi nggak perlu ke dia."

Si albino menoleh ke kanan dan ke kiri untuk memastikan mereka berdiri sendirian di koridor hanya ditemani mesin pembuat kopi, sebelum menatap Antonio intens dengan sepasang matanya yang berwarna rubi.

"Aku sempat bersembunyi di ruang kerja Francis tadi waktu menghindari si burger nggak awesome itu, dan dia memberitahuku informasi tentang kondisi mayat. Cukup krusial," dia memulai dengan bisikan rendah, yang agak tidak cocok dengan suaranya yang serak-serak basah, "Ini terkait perkiraan waktu pembunuhan. Waktu kematian korban yang pertama—Elizabeth Herdevary, kalau tidak salah—memang sukar diprediksi karena kita tidak tahu sudah sejak kapan dia ditinggalkan di luar ruangan, tapi setelah tim forensik meneliti lagi interval rigor mortis kedua korban, mereka menganalisa, walaupun masih samar..."

Gilbert memandangnya penuh arti. Antonio tertegun sejenak, sebelum mengangguk mengerti.

"...bahwa ada kemungkinan kalau kedua korban dibunuh pada saat yang bersamaan?"

Anggukan dari sang albino semakin mengonfirmasi deduksinya.

Bersamaan. Berarti, bisa di pagi buta di hari ditemukannya mayat Herdevary, atau bisa juga di malam sebelumnya. Semua belum bisa dipastikan sampai mereka selesai mengautopsi mayat korban kedua…

"Astaga!" jerit Gilbert keras, cukup membuat telinga Antonio yang berdiri di sampingnya berdenging. Sang detektif Hispanik melemparkan pandangan mencela ke arah sahabatnya itu yang mulai berjalan mondar-mandir seperti setrika. "Ergh. Kenapa di saat nggak awesome begini…" Sang albino mengacak rambutnya, gerakan yang umum dilakukan mereka yang tengah dilema,

Antonio menaikkan sebelah alisnya, bingung melihat sikap sahabatnya itu. "Kau ini kenapa, Gilbert? Ada janji?" tanya sang detektif berambut cokelat.

"Sialnya, ya." Sang polisi bermata rubi itu mendongak dan melanjutkan, "Antonio, kamu tahu tidak alamatnya IMG Models? Lovino ada pemotretan hari ini, dan dia memintaku menjemputnya karena adiknya yang biasanya menjemput trauma keluar rumah setelah menemukan mayat tiga hari yang lalu…"

"Tentu. Mau kuantar? Kamu baru kali ini ke sana, kan? Aku sudah beberapa kali mengantar-jemput Rangga ke sana. Tempatnya di Park Avenue South, cukup jauh tapi kalau pakai mobil…"

"…Park Avenue South?"

Awalnya Antonio tidak mengerti mengapa alis Gilbert bertautan. Atau mengapa si albino mendadak facepalm, menggerutu soal betapa sempitnya sebuah negara bagian. Sampai ia menyadari bahwa itu adalah alamat yang sama dengan yang beberapa menit lalu diucapkan cepat-cepat oleh seorang detektif pirang. Alamat tempat para kekasih mereka akan melakukan pemotretan.

Kebetulan?

Yang jelas, kedua detektif itu segera melesat keluar menuju parkiran, cangkir expresso mengepul tergeletak terlupakan.


Hetalia Axis Powers © Hidekazu Himaruya

Black Dahlia © out. of. the. b0x


Kalian semua sampah.

Tikus tak bernyali. Kucing tak bergigi.

Kalian pantas mati.

Mati. Dan jangan berharap ada yang menangisi.


"Hmm. Feisty. Kau mulai mengambil kursus bela diri?"

Raut wajah terutama mata abu-abu itu menyiratkan jelas kejijikan. Rangga menggosok-gosok bibirnya dengan punggung tangan, berusaha mati-matian melenyapkan aroma tajam teh yang tadi selama sepersekian detik memenuhi mulutnya. Hasil dipepet ke dinding dan dikulum paksa bibirnya oleh orang yang menyergapnya tiba-tiba. Yang kini berdiri beberapa langkah di depannya, wajah menyiratkan seringai bercampur ringisan—bohong kalau bilang serangan lutut di abdomen itu tidak menimbulkan sakit atau minimal nyeri beberapa hari.

"Ya. Untuk melawan laki-laki brengsek pencuri kesempatan sepertimu!" desis Rangga tak senang. Akhirnya model ini menyerah dan menurunkan tangannya. Dalam hati, ia membatin untuk meminta permen mint dari Lovino dan mengulumnya sebelum pemotretan. Rasa teh menjijikan serta liur fotografer berdarah Inggris ini terasa mengerikan di mulutnya.

Rangga yang terlalu sibuk dengan pikirannya sendiri tak sadar kalau Arthur mulai mendekat dan menyentuh sikunya, hendak menarik sang model kembali dalam pelukan. Beruntung Rangga cepat tanggap dan menepis tangan Arthur.

"Mendekat selangkah saja, selangkanganmu bakal jadi korban berikutnya." Model berdarah Melayu itu memperingatkan, mulai memasang kuda-kuda. Sang penyergap hanya menyeringai makin lebar, menaikkan salah satu alisnya yang tebalnya di luar kewajaran.

Mata abu-abu itu merespon dengan menyipit berbahaya. Tangannya mengepal semakin erat dan terangkat tinggi, siap untuk menyerang. "Kuperingatkan kau, Kirkland…"

"Yeah, yeah. Aku mundur. Puas?" Arthur Kirkland mengangkat tangannya tanda menyerah, perlahan mundur ke belakang. Namun mata hijau itu masih belum kehilangan sorot lapar. Sorot obsesif seolah dia hanya menginginkan sang model berkulit sawo matang.

Menjijikkan.

"Bagus. Bisakah kau menyingkir sekarang? Aku sudah terlambat. Kasihan Lisette kalau harus buru-buru meriasku nanti." Dia sudah bukan Rangga yang dulu. Rangga yang bisa begitu saja diintimidasi. Dia sudah bisa melindungi dirinya sendiri kini. Terimakasih pada latihan bela diri yang kini ditekuninya setiap Minggu pagi.

Seringai itu tidak memudar, tapi Arthur menyingkir juga, membuka jalan keluar dari kamar mandi pria tempat dia tadi menyeret paksa Rangga dan curi-curi mengecupnya. Mata abu-abu Rangga meliriknya dalam pandangan mencela sebelum sang model melangkah cepat menuju ruang ganti.

Kejadian ini bukan yang pertama kali.

Tadinya Rangga—dan Lovino, tempat dia mencurahkan isi hatinya—sudah sangat lega saat mendengar kabar bahwa Arthur Kirkland dipindahtugaskan ke Los Angeles, namun sayangnya kelegaan itu terbukti tidak bertahan lama. Kini fotografer itu sudah kembali, dan dia selaku model terpaksa bekerja sama dengannya lagi. Dengan orang yang membuatnya tidak nyaman baik dalam sesi pemotretan maupun kehidupan di luar pekerjaan. Untungnya, kali ini dia sudah mengantisipasi. Dia tidak akan bisa dengan begitu mudahnya lagi didominasi oleh orang yang tidak ia ingini.

"Lama sekali!" Nada judes agak tidak sabaran seorang Lovino Vargas menyambutnya begitu ia memasuki ruang ganti. Sang model berdarah Italia sudah mengenakan jaket kulit hitam kelam dengan hoodie dihiasi bulu-bulu cokelat. Tiga kancing teratas sengaja dibiarkan terbuka, mengekspos turtleneck hitam yang melekat erat memperlihatkan kontur dada. Dia sedang duduk menghadap salah satu cermin, menanti rambutnya selesai ditata oleh seorang gadis berambut pirang sebahu berikat bando biru. "Kau keluyuran ke mana saja? Pemotretan akan dimulai kurang dari setengah jam lagi, kau tahu?"

"Lovino, sudah kubilang jangan bergerak! Jangan salahkan aku kalau keriwilmu ini nanti terkena spray, ya." Sang penata rias, Bella van der Plast, menegur sang model Italia, sesaat sebelum menolehkan kepala ke arah Rangga dan menyunggingkan senyum manisnya.

"Rangga, kau tidak keberatan kan, kalau menunggu sebentar? Aku akan segera mengurus baju dan rambutmu begitu aku selesai di sini."

Alih-alih mengangguk dan duduk dengan patuh, model berdarah Melayu itu mengangkat alisnya. Ada yang tidak seperti biasanya…

"Mana Lisette?" Dia menanyakan gadis mungil pirang pemalu keturunan Jerman yang adalah penata riasnya. Tidak biasanya gadis yang biasanya sangat tepat waktu itu datang terlambat, apalagi lebih terlambat daripada dirinya.

"Dia agak tidak enak badan," jawab Bella singkat, memberi sentuhan terakhir pada poni Lovino dan mendecak puas, mengagumi sendiri hasil kerjanya. "Yep, di sini beres sudah. Lovino, kau boleh pergi. Rangga, ayo kemari."

Masih memandangi bayangannya di cermin mengamati setiap detail, Lovino beranjak dari kursinya, memberi tempat bagi Rangga. Bella sendiri tengah memilah-milah peralatan meriasnya; karena rambut auburn lurus Lovino dengan rambut cokelat gelap dan ikal Rangga jelas membutuhkan penanganan berbeda.

"Karena nyaris tidak ada waktu, kita mulai dari rambut dulu. Bajunya bisa dipakaikan nan—"

"Alis bangsat. Kau mau apa ke sini, hah?"

Baik Bella maupun Rangga menoleh seketika. Kedua sudah terbiasa dengan Lovino yang memang doyan memuntahkan sumpah serapah, namun nada berbisa dan penuh rasa tidak suka barusan sangat jarang terdengar dari mulut sang model Italia…

"Mengantar anak domba tersesat ini. Dia penata riasnya Rangga, kan?" Bersender di pintu ruangan, Arthur Kirkland menjawab santai, tampak tidak goyah dengan pandangan intimidatif ala mafia yang tengah dipakukan Lovino kepadanya. Lisette Zwingli berdiri kikuk di sebelah sang fotografer, kepala tertunduk dengan poni menutupi ekspresinya. "Aku menemukan dia meringkuk sendirian di salah satu storage room. Tahu pemotretan kalian sebentar lagi, langsung saja kubawa saja dia ke sini."

Bella langsung bangkit dan berjalan menuju pintu, menggamit rekannya sesama penata rias. Raut khawatir tersemat di wajahnya, terutama saat ia merasakan tubuh rekannya itu gemetar. Kedua mata sang gadis muda berambut pirang itu juga bengkak, tanda telah menangis semalaman.

"Kamu yakin tidak apa-apa? Kan tadi sudah kubilang kau tidak usah memaksa datang..." Bisikan lembut dan usapan menenangkan di punggung itu hanya mendapat respon anggukan pelan dari Lisette. Melempar pandangan curiga pada Arthur, Bella menggiring Lisette memasuki ruang ganti dan mendudukkannya di salah satu kursi.

"Hei, hei. Tidak ada kata terima kasih atau apa, nih, untukku?" Alis lapis delapan itu terangkat tinggi sampai nyaris menghilang ditimpa poni, tanda jengkel jasanya tidak diakui.

"Ya, ya. Grazie." Lovino melambaikan tangannya seolah mengusir lalat, dengan cepat sudah mengalihkan atensinya ke gadis Jerman yang tampak menciut dan agak gemetar. "Kamu silakan cabut dengan tenang. Sudah nggak ada urusan sama kami lagi 'kan sekarang?"

Arthur Kirkland menatap sang model Italia dengan pandangan tak terbaca, sebelum raut wajahnya dihiasi seringai yang sukar ditebak artinya. "Begitu. Baiklah. Sampai ketemu kalau begitu di pemotretan nanti, Vargas. Rangga juga." Sepasang zamrud itu menatap intens si pemuda Melayu yang sengaja mengalihkan pandangan, sebelum fotografer itu meninggalkan ruangan, menutup pintu di belakangnya.

Momen ketika Arthur berbalik dan sibuk dengan perlatan fotografinya adalah momen yang dipilih Lisette Zwingli untuk meneteskan air matanya. Yang tentu saja membuat ketiga penghuni ruangan lainnya kaget seketika.

"Lisette? Kamu tidak apa-apa?" Rangga bertanya, khawatir. Penata riasnya memang biasanya tampak pemalu, tapi tidak terbayang dia mendadak menangis begini layaknya gadis patah hati. Alih-alih menjawab, Lisette membenamkan dirinya ke pelukan Bella, menangis sejadi-jadinya.

"Dia lagi patah hati." Bella berbisik, nyaris tidak mengeluarkan suara sehingga Lovino dan Rangga harus membaca gerak bibirnya. Kedua model pria itu bertukar pandang, rahang terbuka dalam ekspresi cengok yang serupa.

Ahh, intuisi pria.

"Ssshh. Sudahlah, Lisette. Tidak ada yang bisa kaulakukan. Dia sudah berbahagia di sana." Bella mengusap lembut punggung rekannya, menggumamkan kata-kata penghiburan. Lovino dan Rangga saling melirik, bingung harus bereaksi apa. Akhirnya keduanya ikut membungkuk, menepuk bahu Lisette dengan kikuk.

"Masalahnya apa sebenarnya? Orang yang kausukai itu sudah ada yang punya?" Rangga bertanya hati-hati. Kepala pirang yang bergerak sedikit ke bawah itu mengafirmasi jawabannya.

"Sudahlah, Lisette. Siapa tahu, orang yang kausukai itu lebih berbahagia berada bersama siapapun yang dia cintai sekarang…" Lovino menambahkan, dengan nada yang membuat Rangga mau tidak mau menoleh dan mengerenyit ke arahnya. Dia punya perasaan Lovino tengah curhat colongan…

"T-Tapi…" Lisette bersuara untuk pertama kalinya; suaranya bahkan lebih kecil dari biasanya. Dia mengangkat wajahnya yang agak memerah, hijau bertemu hazel dan abu-abu milik Lovino dan Rangga. "Yang paling sakit adalah… sampai saat terakhir aku tidak bisa juga mengungkapkan perasaan ini kepadanya…"

Kalimat itu, ditambah tatapan penuh arti dari Bella, membuat Lovino dan Rangga disergap pemahaman tiba-tiba.

"…Apakah dia sudah meninggal? Orang yang kau suka?"

Sebuah lagi anggukan afirmatif dan ditambah sebuah bisikan cepat nyaris tak terdengar dari seorang Bella. "Tepatnya, dibunuh. Tiga hari yang lalu. Lisette sudah begini sejak menerima kabar itu."

Apapun yang diantisipasi kedua model-mendadak-tempat-curhat ini, yang jelas bukan sesuatu seserius ini. Tapi dipikir-pikir lagi, masuk akal bahwa hanya sesuatu seberat ini yang bisa membuat Lisette Zwingli yang mungil dan pemalu tapi tangguh ini jadi hancur dan galau berhari-hari.

"Siapa namanya?"

Sebetulnya, tidak ada gunanya mereka menanyakan hal seperti ini. Karena mendengarpun, belum tentu mereka mengenal nama orang yang disukai Lisette Zwingli, yang katanya sudah mati. Negara bagian ini 'kan, luas sekali…

"E…Elizabeth… Herdevary."

Suara panggilan seorang crew pemotretan terdengar dari arah lokasi pemotretan. Namun bagi Lovino dan Rangga, suara panggilan untuk segera ke set dan melakukan pemotretan itu seolah hanya masuk telinga kiri keluar telinga kanan. Keduanya masih berusaha memproses berita yang baru saja mereka dengar. Bukan hal yang mengejutkan, mengingat mereka sendiri yang punya hubungan intim diam-diam dengan sesama jenis—dua-duanya polisi, lagi—tapi tetap saja...

Dan lagi nama itu, 'Elizabeth Herdevary'… entah kenapa terdengar familiar…

"Vargas! Wicaksono! Kalian lama sekali, aru! Sudah lewat lima menit dari jadwal pemotretan, aru! Dan DEMI APA, WICAKSONO, KAU BELUM GANTI BAJU? !"


Flash!

Kalau boleh jujur, Antonio tidak begitu menyukai berada di studio foto seperti ini. Salah satu alasan adalah dirinya yang secara esensi memang ekstrovert dan memilih bekerja outdoor daripada di ruangan sempit, penuh orang, dan penuh cahaya buatan seperti ini. Atas dasar itulah dia memilih pekerjaan sebagai detektif, yang ia nilai sebagai salah satu pekerjaan paling outdoor—perihal dia berakhir terperangkap tiga hari di kantornya hanya ditemani arsip interogasi itu jelas salah satu kesalahan job description yang tidak akan sering-sering terjadi… mungkin. Semoga. Anyway.

Flash!

Lovino baru saja menyelesaikan gilirannya—dan melempar pandangan jutek ke arahnya dan Gilbert; anak itu memang belum berubah—dan kalau informasi yang didapatnya benar, berarti sekarang giliran dia…

Flash!

Dia memang tidak begitu mengerti kriteria estetika yag dijunjung dunia permodelan ini, tapi satu saja yang dia sadari… Rangga yang tengah beraksi di dunianya ini…

"Menawan sekali, model yang satu ini."

Antonio tidak perlu menoleh untuk mengetahui bahwa Alfred F. Jones tengah berdiri di sebelah kanannya, entah sejak kapan. Tadi dia dan Gilbert langsung menuju studio pemotretan tanpa menoleh kiri-kanan.

"Dan lagi, ini pertama kalinya aku melihat Artie sesemangat ini. Biasanya dia memang serius soal pekerjaan, tapi rasanya tidak pernah sampai seintens ini." Si pirang berkacamata itu mengelus dagunya, sementara mata safir terpaku pada sosok fotografer yang tengah mengerutkan alisnya dalam konsentrasi tinggi, sibuk mengambil gambar dalam berbagai sudut. "Atau mungkin karena dia tahu aku mau berkunjung dan menunjukkan sisi kerennya kepada aku?"

Antonio memilih untuk tidak berkomentar soal itu. Dia masih belum sepenuhnya memaafkan Arthur Kirkland, yang dulu di masa sekolah pernah menenggelamkan kapal-kapalan yang dibelinya dengan seluruh tabungannya ke empang…

Gilbert, untungnya, memilih momen itu untuk memanggil Lovino, menyelamatkan Antonio dari kewajiban merespon.

"Kerja bagus, mein liebe." Dalam sepersekian detik, dia menarik Lovino dan memberinya kecupan singkat di dahi. Sang model Italia langsung memerah seketika, mendorong mundur si albino dengan sikutnya dan mendesis.

"Bodoh! Ini tempat umum, patate stupido!"

Gilbert hanya menyeringai jahil. "Biarlah. Toh, mereka tidak mengerti kode panggilan sayang kita ini…" Dia pasti sudah meraih untuk memberi kecupan ronde kedua kalau saja Lovino tidak menginjak kakinya dengan winter boots yang memang satu set dengan kostumnya hari ini.

"Kau. Apa yang kau lakukan di sini?" Si pemuda Italia mengalihkan perhatiannya ke sang Hispanik yang dari tadi hanya menonton interaksi mereka dengan cengiran lebar di pipinya.

"Aku? Tadi sebetulnya cuma mau mengantarkan Gil yang buta lokasi, tapi setelah sampai ke sini, kupikir aku mungkin akan menemui Rangga sebentar. Aku belum melihatnya tiga hari terakhir ini…"

Alis auburn Lovino bertemu. "Kalau itu tujuanmu, lupakan saja. Rangga sibuk. Dia harus melembur pekerjaannya yang terlantar selama dia masuk rumah sakit. Belum lagi masalah dengan penata riasnya yang galau, patah hati gara-gara seseorang bernama Elizabeth-something…"

Alfred menyemburkan jus yang dia bawa dan sedang minum sembunyi-sembunyi. Gilbert terbatuk-batuk tersedak ludahnya sendiri. Cengiran Antonio lenyap dan dia mencengkeram bahu Lovino, yang membelalak kaget akan reaksi yang tidak disangka-sangka ini.

"Bisakah kau ceritakan dengan lebih rinci lagi, Lovi?"


Tidak bisa lari. Tidak mungkin bersembunyi.

Takdir itu kejam sekali.

Kalau dia memerintahkanmu untuk mati…

Sudahlah, terima saja dengan senang hati.


"Nih, korban ketiga. Seorang lesbi kayaknya."

Gilbert memandang foto yang diserahkan Magnus kepadanya. Sama seperti kedua korban sebelumnya, tubuhnya terbelah dua. Lengkap dengan guratan dan sayatan, bekas ikatan, dan tentu saja, 'senyuman' ekstra lebar. Ditemukan di halaman belakang sebuah toko roti, di antara kardus-kardus tempat menyimpan loyang. Ditemukan bersama sebuah album, yang kini tengah bertengger di atas mejanya. Album yang setelah diperiksa, ternyata berisi kumpulan foto Elizabeth Herdevary dalam berbagai pose dan posisi; dari yang normal seperti saat berjalan-jalan pagi, sampai yang membuat Francis bersiul—dan berakhir digetok Inspektur Sadiq—seperti saat sedang berendam di bak mandi.

Wajar sekali Magnus mengambil kesimpulan seperti tadi.

Gilbert menarik napas dan menghembuskannya keras-keras. Korban kali ini bernama Lisette Zwingli, seorang penata rias. Sama sekali tidak ada unsur 'Elizabeth' sedikit pun di dalam namanya. Satu-satunya yang mengaitkan dia dengan nama 'Elizabeth' hanyalah bukti dokumentasi bahwa dia ada hubungan—kemungkinan besar one-sided—dengan Elizabeth Herdevary yang adalah korban pertama pembunuhan berantai ini. Alih-alih membuat jelas, pembunuhan ketiga ini justru membuat segalanya makin samar. Motif nama 'Elizabeth' dan profesi 'aktris' sudah tidak relevan lagi. Kalau sudah begini, polisi tidak punya cara lain selain melakukan integorasi.

Lagi.

Dimulai dari saksi; orang yang pertama kali menemukan mayat Lisette Zwingli.

"Halo lagi."

Sebuah anggukan membalas sapaannya. Mata violet yang menatap tajam dari balik lindungan kacamata. Bibir yang mengatup erat, membuat tahi lalat di sudut kanan bawahnya tampak lebih jelas dari biasa. Jemari yang ia tahu tengah mengepal di balik lindungan sarung tangannya.

"Kita bertemu lagi, tuan saksi."

Bibir itu tertarik dalam senyuman intimidasi. Sungguh tepat inspektur Sadiq memilihnya untuk menangani sesi interogasi ini sementara Francis menginspeksi mayat dan Antonio menyusur TKP untuk mencari tambahan barang bukti.

"Ah. Biar aku koreksi—"

Kalau metodenya tepat, mungkin kasus ini bisa selesai lebih cepat dari yang dia kira…

"—tuan tersangka."

To Be Continued


Notes: Jadi, itulah dia chapter 4 dari Black Dahlia~ Gimana? Ada yang udah bisa nebak kira-kira pelakunya siapa? 8D Oiya, sebelumnya kami mau balas review anon yang masuk untuk chapter 3 kemarin, ya.

UNKNOWN NAME: Oya? Apakah chapter ini masih bikin penasaran? Hohoho~ Masalah siapa yang bekep si Rangga super madesu itu udah ketauan di chapter ini, ya~ :D Makasih reviewnya.

Sip! Semua review sudah dibalas! Selamat membaca chapter 4 dan kalo bersedia, silakan tinggalkan jejak di kotak review lagi, yaaa~ :D