"Lebih. Tolong. Lebih. Hancurkan aku... buat aku meledak."
Blaise Kai Zabini menangkap bisikan remuk gadis yang sedang diciumnya. Menjamahnya tercela dengan mengotori kanvas putih diceruk leher , mengecup tulang selangkanya dan berhenti pada dadanya. Tangannya yang panas memilin puting susu diarea interkostal menyebabkan gadis dalam kungkungannya merintih, nyaris hancur dan Kai kelewat brengsek menghentikan geraknya.
"Fuck."
Blaise menatap tubuh telanjang yang menggeliat akibat friksi nikmat yang diputus oleh nya.
"Make me, daddy- please."
Akan tetapi desahan lirih itu tidak menghasilkan apapun selain Kai yang tengah menguliti tubuh telanjang nya dengan mata serta ucapan kotor merendahkan. "Pelacur." Bisiknya, merendahkan tubuhnya menikmati kenyal payudara yang memeluk dada bidangnya.
"Pelacur murahan." Lantas, semua kalimat brengseknya diangguki masa bodoh, gadis itu mencengkram kemeja miliknya, membuka kancing kemejanya berantakan terlalu frustasi saat jemarinya menemukan otot abs sempurna teraba kencang. Kai hanya diam, tidak melakukan apapun. Lengan beruratnya nampak akibat ia yang menahan bobot tubuh membiarkan model Victoria Secret ini menjamahnya.
Bunyi belt yang dibuka serta deru napas tertahan gadis ini meresonansi sudut hotel yang disewa. Daphne, nama gadis yang dilecehkan Kai hanya akan berteriak nikmat saat Kai menyentuh payudara, mempermainkan area sensitifnya kelewat kasar. Bangsatnya cara Kai mempermainkan ritme seks menjadikan gadis itu menangis kelewat nikmat.
Dan kemudian berhenti.
Saat dering ponsel milik Kai berbunyi.
Blaise Kai Zabini menjauhkan tubuhnya, refleksnya luar biasa ketika matanya memroyeksi nama Scorpius dipanggilan masuk. Tangannya ditahan oleh Daphne yang terlihat berantakan dengan rambut panjang dan peluh mengotori wajah, lipstik merahnya belepotan serta tubuh telanjang dipenuhi cumbuan sadis Kai.
"Kau tidak lebih dari budak seks ku." Kai menghentak lengannya kasar. "Lepas." Kalimat itulah yang akhirnya membungkam Daphne, mata itulah yang menjadikan Daphne lumpuh karena ia tahu bagaimana Kim Kai jika tersulut amarah.
Blaise Kai Zabini tidak segan memukul siapapun, sudah lebih puluhan kali Kai melampiaskan amarahnya dengan seks kasar lalu tiba-tiba berubah manis saat kemudian cerkas disepasang bola mata Kai berubah, terlihat lebih cerah, pekat yang selalu dilihat Daphne hilang, lenyap digantikan dengan obsidian hangat kini menatapnya dengan senyum ringkas yang menyenangkan. "Aku akan kembali." mengancingkan kembali kemeja yang terkancing setengah akibat ulahnya, lelaki itu pergi dengan senyum cerah menyapa manis orang yang menelponnya.
Meninggalkan Daphne dan semua tanda tanya.
.
.
.
"Hai Sehun baby, ada urusan apa kau menelponku?" Kai menjatuhkan diri duduk di mercedes hitamnya.
"Kau dimana?"
"Hotel." Blaise menghubungkan portable komunikasi dimobilnya dengan ponselnya, suara Sehun terdengar diantara deru halus mesin mobil yang sedang dipanaskan.
"Kyungsoo sedang bersamamu?" Blaise memutar kendali stir, melihat spion sebelum melepas rem.
"Tidak." Jawabnya ringkas.
"Ah-oh kau dan Kyungie ada apalagi?" lanjutnya, setelah melewati security sebelum meluncur menembus jalanan. Fokusnya kini terpecah karena Sehun.
"Bertengkar." Kedua alis Kai tertaut.
"Jika bertengkar yang kau maksud adalah beradu argumen menggemaskan yang membuat orang lain iri, ak-"
"Kali ini serius..." Kai mempertajam pendengarannya. "aku sepertinya membuat kesalahan."
"Woah-dude."
"Jika kau putus, peluangku merebut Kyungie besar." Candanya. Tidak menemukan tanggapan balik dari Sehun, Kai tahu pemuda itu sedang serius.
"Kau dimana?"
"Driving, mencarinya."
"Aku bantu." Blaise menginjak pedal gasnya dalam.
"Jika Kyungsoo menelpon, atau kutemukan aku akan menelponmu, mate."
.
.
Defying Gravity
©Lovelrin
03 : Falling
"Because i used to Defy gravity,
but goodbye keep draging me down. And i'am fighting gravity
just want to say
I love you, will and beyond poetry"
.
.
"Angkat telponnya!" Sehun bergumam hampir setiap lima detik sekali, fokusnya terpecah pada ponselnya juga mustang yang dikendarai serampangan.
Panggilannya tidak juga diangkat, menjadikannya frustasi lantas mengumpat saat panggilannya ditolak oleh Kyungsoo. Harapannya tertelan pahit sepahit kloramfenikel ketika ia mengecek pesannya, tak satupun pesan yang ia kirim dibaca oleh gadis itu.
Maka, ia melempar ponselnya ke bangku sebelah yang kosong, menginjak gas mustangnya setelah lampu lalu lintas berganti warna.
Do Kyungsoo bagi Sehun sama seperti detak jam, dimana setiap detik bersamanya adalah dunia dan ia tak menginginkan detiknya berhenti. Karena jikapun detiknya terhenti, Sehunlah yang akan menjadikannya kembali.
Nonsens ini harus diakhirinya, maka ketika nanti ia menemukan Kyungsoo ia akan mengenggam pergelangan tangan gadis itu, tak kan mengizinkannya pergi kemanapun sebelum ia menjelaskan segala hal yang dituduhkan oleh Kyungsoo, menanyakan semuanya ; tentang hubungan abstrak ini, tentang hati nya, perasaan ini, tentang cinta- apapun. Sehun akan memperjelasnya saat detik dimana mata nya memproyeksi gadis cerdas tersebut. Dia tak memperdulikan apapun lagi, termasuk jika nanti Kyungsoo menolaknya, menjauhinya, memakinya atau apapun hal menyeramkan yang akan diterima, ia sudah bertekad.
Sebelum ia semakin gila dengan pikiran liar yang terbentang penuh option mengenai hubungan abstraknya, handphone nya bergetar. Sehun melirik ponselnya dari sudut mata dinginnya.
Kyungsoo is calling
Refleksnya begitu cepat, Sepersekian detik berikutnya setelah mengangkat panggilan telponnya, Sehun memanggil nama gadis itu dengan letupan perasaan yang menggelegak.
"Kyungsoo~ya."
"..." namun tak ada satupun suara yang mengisi telinganya.
Sehun menarik napasnya.
"Kau dimana? Aku mencarimu... Jangan begini okay? Aku bisa menjelaskannya dan ak-"
"Berhenti bajingan!"
"Aku tidak melakukan apapun! Jangan menyudutkanku dengan semua tuduhan brengsek ini!"
"Keparat! Siapa yang menyudutkan mu!? Semua sudah jelas- Kau hanya playboy yang mencari kepuasan dengan memasuki celana dalam wanita dan aku hampir menjadi mainanmu selanjutnya! What a joke Hunaa!"
Ucapan gadis itu seperti jarum yang memecahkan balon perasaan yang memenuhi lambungnya hingga Sehun dapat mengecap rasa pahit dari liurnya.
"Berhenti, ini semua salah paham dan beritahu aku, dimana dirimu ?!"
"Lebih baik kau yang berhenti, Aku. Muak. Denganmu!" Sehun menarik napasnya dalam-dalam.
"Kau muak denganku?!"
"Kita tidak punya hubungan apapun, jadi-"
"Aku lebih muak saat kau berbicara seperti itu! Tidak ada hubungan apapun katamu!? Kau kekasihku."
"Aku. Bukan. Kekasihmu."
"DO KYUNGSOO!"
"JANGAN BERTERIAK!"
.
.
.
BRAK! CKITTTTTTTT
Sehun membanting stir dan berhenti cepat di bahu jalan.
Ia benar-benar tidak bisa berpikir lagi untuk saat ini.
"Jelaskan padaku, sebenarnya apa yang kau mau dariku hm?"
Bahkan suaranya mulai melemah.
"Jauhi aku."
"Never."
"Hunaa!"
"Teruslah memakiku ataupun membenciku karena aku tidak akan pernah mau menjauhimu. Jadi permohonan mu sia-sia."
"Biar ku perjelas, kita tidak ada ikatan apapun... kau-"
"Kau kekasihku."
"Keputusan sepihak, aku tidak mengakuimu sebagai kekasih. Aku membencimu."
"Teruslah membenciku dan aku jamin kau akan jatuh padaku. Aku bisa merubah kata benci menjadi cinta."
" Sudah berapa kali wanita diluar sana termakan rayuan dari tuan Scorpius Hyperion Sehun Malfoy yang terhormat ini?"
"Demi Tuhan, jika kau ku temukan maka dirimu akan menjadi tawanan seumur hidupku."
"Ambigu. Terlalu naif Sehun. Sekarang lebih baik berhenti. Playboy sepertimu-"
"Kau sedang mempermainkanku kan?" Sehun memotong ucapan Kyungsoo dengan cepat.
"Huh?"
"Benar, sudah puas bermain seperti ini? apalagi yang akan kau lakukan? Kau tahu aku sudah pada limitnya, aku menyerah-"
"Aku tidak mengerti."
"Aku lebih tidak mengerti!"
"..."
Ia menarik napas. "Katakan kepadaku, dimana dirimu?"
"..."
"KLIK"
Ini irasional!
Mengalihkan amarah yang menyulutnya Sehun mengenggam ponselnya keras. Sehun tidak pernah menyangka bahwa mereka akan bertengkar sehebat ini hanya karena masalah yang bahkan tidak jelas.
Ia menarik napas, memilih diam dan mulai menata hati dan pikiran. Mencoba mencari celah oksigen untuk menyegarkan nalarnya sehingga dapat berpikir layaknya ilmuwan dalam menelaah semua masalah.
Kyungsoo sedang mempermainkannya. Dia yakin seratus persen pada intuisi nya sendiri, namun tetap ada satu rasa yang sulit didefinisikan, perasaan ini menggerogotinya seakan hatinya sedang terhimpit oleh batu besar jika memikirkan hubungan nya dengan Kyungsoo yang baik-baik harus menjadi seperti ini.
Sehun mengacak rambutnya, membuat rambut pirang brengsek itu semakin berantakkan, terlihat sangat kusut namun menambah ketampanannya.
Tiba-tiba saja pikiran mengenai kejadian di Dynamite kemarin malam memenuhi otaknya, Mereka datang berdua untuk mengucapkan selamat karena sahabatnya, Blaise telah meresmikan club kalangan jetset sebagai tamu undangan.
Fragmen demi fragmen seolah terkumpul sempurna, meleburkannya pada malam itu sebelum akhirnya Sehun mendengus kacau, mengingat sesuatu.
Sialan! Dia ingat jika kemarin ia diserbu gadis-gadis yang menjadi tamu Kai, yang sibuk melontarkan kata-kata erotis dan menggoda, mempertontonkan paha mulus serta payudara yang menyembul dari pakaian ketat menjadikan Kyungsoo tersingkir akibat kacaunya kerumunan.
Sehun mengumpat. "Shit! Sehun!kau baru menyadarinya sekarang?"
Irene.
Demi Tuhan, pantas saja Kyungsoo membawa nama Irene karena di club itu Irene model Victoria Secret yang paling brutal dan ekstrem mendekatinya. Kesalah pahaman ini benar-benar menyudutkannya, menjadikan Sehun hampir kehilangan akal. Dampak gadis itu benar-benar besar diseluruh sel tubuhnya.
Drrrt Drrtt
Ponselnya bergetar, satu pesan dari Kyungsoo.
"Aku salah menilaimu selama ini, kau mempermainkanku."
Verbalnya mati. Suara Sehun seolah hilang, jantungnya berdentum lebih keras dari biasanya. Liurnya terasa pahit. Pesan dari Kyungsoo layaknya ledakan bom molotov yang menggempur segenap dirinya.
Sehun lantas mengemudikan mustangnya secepat aliran darah yang berdesir kacau, otaknya kalut, Ia bahkan sampai harus melanggar lalu lintas, mendapat puluhan umpatan serta kutukkan dari pengemudi mobil yang disalip serampangan.
.
.
Kris tidak mengerti bagaimana cara wanita berpikir.
Dia menatap Kyungsoo yang tengah memainkan ponselnya, Gadis cantik itu tiba-tiba datang lima menit setelah Sehun keluar. Kyungsoo yang merupakan sumber kemarahan Sehun di sambungan telpon dengan begitu manis seolah tidak ada yang terjadi masuk ke dalam set film menyapanya dengan senyum memikat.
Kyungsoo melirik Kris yang sedari tadi hanya memperhatikannya, gadis itu menepuk tempat disampingnya. Menyuruh Kris ikut duduk bersamanya disofa berwarna hijau lumut.
"Kau tahu, apa yang kau lakukan tadi membuat Sehun hampir gila."
Kyungsoo mengangguk ringkas. "Aku hanya ingin mengerjainya saja."
Kris tersedak cola yang diminumnya. Kelewat kaget mendengar ucapan dan intonasi Kyungsoo. Sepertinya gadis yang menyukai buku dan makanan manis ini tidak memikirkan dampak yang akan diterima jika bermain-main dengan litle bratty Scorpius.
"Rencana April Mop mu ini letal." Sahutnya.
"Aku hanya ingin memberi kejutan sebelum ulang tahunnya. Jugaingin memberinya sedikit pelajaran dalam menghargai wanita."
"Dia menghargaimu lebih dari apapun."
"Tidak, bukan itu maksudku." Kris menoleh kearahnya.
"Aku hanya tidak ingin Sehun bermain-main dengan wanita jika hanya ingin menjadikannya menangis. Playboy sepertinya kemarin membuat banyak perawan menangis, Dynamite seolah menjadi tempat pertemuan antara ia dan kumpulan fansnya, aku bahkan harus tersingkir akibatnya."
Kris mengernyitkan dahinya setelah mendengar ucapan Kyungsoo. Ia tahu banyak mengenai hubungan Sehun dan Kyungsoo, hubungan abstrak yang manis.
Sehun mencari banyak celah untuk mendekat dan gadis itu selalu menghindar sampai akhirnya mereka bisa begitu dekat layaknya ada perekat permanen ditubuh keduanya.
Sehun dan Kyungsoo memiliki kesamaan, mereka berdua begitu jenius, kadang Kris mengibarkan bendera putih jika keduanya sudah mulai mengangkat topik yang terlalu tinggi juga serius sehingga tidak ada celah bagi Kris untuk ikut masuk, dari pada sok tahu dan pura-pura mengerti ia lebih memilih melangkah pergi.
Sama seperti Blaise, Kris paham jika Sehun sudah mendaratkan segenap dirinya pada gadis cantik dengan pola pikir istimewa ini. Siapa yang tidak tergoda dengan lekuk tubuh mungilnya yang berhasil tumbuh pada tempat yang benar.
Wajah cantik dan IQ tinggi serta memiliki daya pikat yang luar biasa. Kyungsoo mampu mengimbangi sikap arogan Sehun, Karena sikap dan paras jugalah yang menjadikan Kris sebelumnya pernah jatuh hati. Tapi mundur terlebih dahulu setelah bertemu dengan Zitao. Gadis asal China yang merupakan teman satu kampus Kyungsoo.
Lewat Kyungsoo, akhirnya mereka berdua bisa menjalin hubungan roman picisan yang menggelapkan dunia.
Kembali pada Kyungsoo yang kini memainkan ponselnya, Kris kemudian menatapnya. "Wait."
"Sepertinya aku mengerti apa yang kau maksud."
"Kau cemburu." Lantas ucapannya menjadikan atensi gadis itu beralih.
"Pardon?"
Kris menyeringai.
"Oh, jadi kau cemburu? Makanya sekarang ingin membalas perbuatan normal dari manifestasi hormon buas lelaki begitu?"
Kyungsoo mengernyit mendengar kalimat Kris, dirinya cemburu? Tidak- tidak. Mana mungkin ia cemburu dengan gadis kekurangan bahan.
Ia hanya ingin mengerjai Sehun saja. Okay, ini April Mop dan sebentar lagi Sehun ulang tahun. Jadi, sekalian saja dia mengerjai dan memberi pelajaran Sehun habis-habisan sampai lelaki itu tahu jika bersikap seperti lelaki brengsek dengan mendekati wanita sana-sini layaknya mengganti baju bukanlah hal yang patut dilakukan.
"Kau cemburu Kyungsoo~ya, Sehun berhasil menggapai-"
"Aku. Tidak. cemburu."
Kyungsoo membatu, meneguk air liurnya sendiri dan Kris tersenyum lebih dulu melihat perubahan wajah Kyungsoo. Ia menahan tawa.
"Benarkah? Okay, kita lihat saja akhir permainan ini dear."
"I'am warning you, Jika Sehun disulut amarah, Ia akan meminta pertanggung jawaban kepada sumber amarahnya." Kris memajukan wajahnya dan berbisik dramatis.
"Kau- berhati-hatilah." Bisiknya mengedipkan sebelah mata.
.
.
"Aku tidak cemburu, Ya Tuhan harus berapa kali aku mengatakannya pada kalian!" Chanyeol mengamati ekspresi Kyungsoo, menyatukan kedua alisnya dengan pandangan menilai. Dari segi apapun Chanyeol melihat, gadis ini sedang cemburu setengah mati. Pria dengan rambut ash itu yakin seratus persen.
"Okay, kau tidak cemburu." Chanyeol tersenyum melihat wajah Kyungsoo berubah dengan begitu cepat. Wajah menggemaskannya terlihat begitu memikat sekarang.
"Okay, Kyungsoo baby. Jadi Sehun ingin kau apakan hmm?" Baekhyun si penulis muda terkenal yang sering bergonta-ganti pasangan dengan rambut almond duduk disamping Kyungsoo.
"Aku hanya ingin mengerjainya saja. Dan jangan panggil aku dengan baby. Itu menggelikan." Chanyeol dan Baekhyun bertatapan sebelum mengangguk mengerti.
"Iya, kami tidak akan memanggilmu dengan panggilan sayang dari Sehun untukmu. Promise." Baekhyun mengacak rambut gadis itu, Kyungsoo mendesis menghindari tangan Baekhyun.
"Byun Baekhyun! Jauhkan tanganmu dari rambutku." Seru Kyungsoo, Baekhyun hanya tertawa menampakkan eye smile dari mata sipitnya.
"Jadi, apa yang harus kami lakukan?" Chanyeol menyedekapkan kedua tangannya, melirik Kyungsoo yang masih kesal karena Baekhyun.
"Berkencan denganku." Baekhyun yang baru meminum Americano nya tersedak dramatis. "Uhuk uhuk, what the... berkencan? aku denganmu?"
"Chanyeol, jika dirimu aku yakin Sehun tidak akan percaya." Baekhyun berdersis, "Aku juga tidak ingin mempertaruhkan hidupku kena tonjok cowokmu jika aku mengencanimu, Kyungsoo~ya." Ucapnya, tetapi kemudian tersenyum. "Well, satu tonjokkan sebenarnya tidak apa-apa jika bisa mengencani-"
"Diamlah Byun." Chanyeol menyela. Baekhyun terkikik geli, "Yuhuuu, aku menyerah." Exactly, mana mau aku jadi tumbal Chanyeol dan Sehun nantinya.
"Kau serius?" tanya Chanyeol, ia menatap gadis yang sudah dianggapnya sebagai adik. Sikap protektif Chanyeol benar-benar kentara jika sudah menyangkut dengan Kyungsoo. Baekhyun tahu, jika pria yang menyukai music itu begitu hati-hati dengan segala hal apapun mengenai Kyungsoo.
"He-eh." Angguk Kyungsoo. Chanyeol menaikan alisnya, "Dan alasan kau melakukan ini karena cembu-"
"PARK CHANYEOL! aku tidak cemburu!" Baekhyun tergelak sementara Kyungsoo menatap sinis keduanya. Chanyeol berdecak, "Kyungsoo~ya kau tidak pandai membohongiku. Kau menghabisi seumur hidupmu denganku, aku hapal semua gerak gerik dan ekspresi mu litle girl."
Satu tarikan napas dari Kyungsoo, "Mana mungkin aku cemburu." Suaranya pelan, Baekhyun menyangga satu tangannya mengamati Kyungsoo. "Kau mencintainya, makanya cemburu." Ucap Baekhyun telak.
Kyungsoo memilih diam, lengkung lidahnya seolah terkunci akibat ucapan Baekhyun. Semua frasanya mati, telinganya menggemakan suara Baekhyun yang menguraikan kata-kata itu. Kau mencintainya, makanya cemburu.
Jika memang ucapan Baekhyun benar, ia cemburu berarti segenap perasaannya dimalam Sehun di kelilingi gadis berpakaian seksi adalah satu manifestase dari perasaan cinta? Kyungsoo mendengus, tidak. Ia tidak cemburu, mana bisa dia mencemburui Sehun dengan gadis-gadis seperti itu, tapi setiap detik serabut otaknya mengingat hal itu, selalu ada satu denyut yang menyakiti hatinya.
"Hubungan kalian abstrak. Tetapi semua tingkah laku kalian berdua sudah seperti pasangan kekasih yang saling terikat kuat." Jelas Baekhyun, Chanyeol mengamati lekat-lekat wajah Kyungsoo, membaca kedua obsidiannya yang menampakan kecamuk perasaannya.
Chanyeol mengerti jika Kyungsoo tengah bingung, gadis itu memikirkan setiap ucapan Baekhyun dan tengah berkontemplase pada perasaannya sendiri. Kyungsoo adalah gadis yang begitu berhati-hati, ia tidak pernah dekat dengan lelaki manapun, selain dirinya. Setiap lelaki yang mendekati Kyungsoo terdahulu tidak pernah ada yang bisa mencengkram hatinya sebegini kuat jika bukan oleh Sehun.
Kyungsoo begitu polos mengenai perasaan cinta.
Chanyeol memahaminya, Kyungsoo terlalu takut. Gadis itu takut jika dia mengakui perasaan jujurnya maka ia takut akan disakiti, karena Sehun adalah oposit dirinya. Karena dimata gadis itu Sehun adalah fatamorgana yang masih tidak dapat direngkuh erat dengan segenap perasaannya.
"Aku tidak tahu." Chanyeol mendengar ucapan lirih Kyungsoo, lalu dia tersenyum mengelus lembut tangannya. "Akan ku bantu." janji lima tahun silamnya tak kan pernah hilang dimakan waktu.
Chanyeol akan membantu gadis kecilnya dalam menemukan jawaban perasaannya. Karena Chanyeol akan membuka setiap jalan bagi hubungan keduanya yang begitu menggemaskan. Karena lelaki yang sedang menatap lembut gadis itu akan mempertaruhkan apapun dan tak pernah melupakan sumpah yang terucap saat gadis itu bangun dari coma nya. Ia akan melakukan apapun demi kebahagian gadis mungil kesayangannya.
.
.
.
From: PCY.
Kyungsoo sedang mengerjaimu, April mop. Sepertinya dia cemburu karena kejadian di Dynamite kemarin malam.
PS : Jadikan kesempatan ini sebagai pernyataan cintamu.
Seperti disiram dengan air dingin, otak Sehun yang sebelumnya panas seolah menyimpan larva gunung merapi yang siap meletus tiba-tiba menjadi dingin.
Pria itu tidak bisa berhenti tersenyum, kelegaan luar biasa melanda membaca baris demi baris pesan yang dikirim oleh Chanyeol, Sahabat Kyungsoo.
Sehun mengotak atik ponselnya. Menyambungkan panggilannya pada Blaise dalam manuver cepat.
"Blaise, Kirim nomor model Victoria Secret bernama Irene. Temanmu itu membuat gadisku cemburu setengah mati." Dengan penekanan dan intonasi gadisku serta Victoria secret keluar Kai menjawab panggilan Sehun setengah hilang.
"Siapa?"
"Irene, dia sumber masalahnya."
.
.
Semua berjalan dengan apa yang diharapkan nya.
Sebelum Irene, gadis yang ada disampingnya, menariknya dan menciumnya dalam satu tarikan napas. Bara kemarahannya setara dengan ledakan nuklir chernobyl. Sehun bisa merasakan letupan emosi naik dari sudut paling dalam hatinya karena Irene mencium bibirnya begitu brutal tanpa bisa diantisipasi.
Sehun melepas ciuman itu dengan sentakkan kuat, menarik dirinya dan menatap sengit Irene yang kaget atas perlakuan Sehun padanya. Sehun berusaha menenangkan pacu adrenalin yang membuat jantungnya terpompa cepat.
"Sehun, apa yang-" Suara Irene jatuh pada pangkal tenggorokan, Ia tidak bisa menyelesaikan ucapannya ketika melihat sepasang mata Sehun nyaris membakarnya, memperlihatkan emosi yang begitu mengintimidasi menyebabkan ia menelan semua pertanyaannya, raut mukanya berubah pucat.
Sehun mengerang, ia mengunci mati-matian sumpah serapah dan tangannya untuk tidak melakukan konfrontasi apapun pada wanita.
"Aku- membayarmu. Bukan. Untuk. Melakukan. Ini." setiap untaian katanya berdesis dari sela gigi dan napas tertahan.
Sehun melirik dari sudut matanya, melihat Kyungsoo yang berdiri menatap nya. Ia mencelos. Makan malam dan segenap kejutan manis yang disiapkan untuk Kyungsoo, sekejap berganti menjadi kejutan yang menyakiti hati gadis itu.
Sepasang hazel gadis itu menampilkan luka dan Sehun remuk melihatnya.
"Kau harus membayarnya." Tukas Sehun dingin, suaranya setajam belati menusuk dan mengisi pendengaran ada sedikitpun kebaikan dalam nada suara Sehun, yang terdengar hanyalah intonasi yang mencekam penuh peringatan.
Dengan pengendalian emosi yang tertatih, Sehun melangkah mendekati Kyungsoo yang berdiri disamping Chanyeol, meninggalkan Irene yang kaku dengan wajah pias memperlihatkan raut takut karena Sehun.
Pemuda dengan rambut platinum itu melangkah begitu kalut, mendekati Kyungsoo dengan segenap kecamuk pikiran luar biasa mengambil alih segenap perasaan dan nalarnya. Ia menyalahkan diri sendiri, tidak bisa memperhitungkan jika jalang itu melanggar apa yang sudah menjadi perjanjiannya. Bukannya menjelaskan pada gadisnya, Irene merusak semuanya.
Sehun menarik napas sesak, restaurant itu sepi karena ia sudah membuat reservasi dan hal ini menjadikan suara jantungnya seakan menggema liar, berdetak kencang dengan segenap harapan bahwa semua akan baik-baik saja.
Dan semua harapannya jatuh pada serpihan mikroskopik yang menghanguskan setiap sel tubuhnya menjadi abu yang tak berbekas ketika memroyeksi Kyungsoo tengah mencium Chanyeol tepat di bibir nya.
Sehun merasa kepalanya berdenyut mengerikan, darahnya seakan mendidih dan tangannya mengepal dalam genggaman erat bersama dengan langkah kaki beratnya menuju tempat kegiatan itu berlangsung. Dengan tarikan kuat Sehun mencengkram lengan Chanyeol, membuat ciuman itu terlepas dan kepalan tangannya terayun sempurna diwajah pria itu.
Sehun refleks menunjukan konfrontasi tajamnya dengan tonjokan dan tatapan sengit nya pada Chanyeol.
"Apa yang kau lakukan!" Kyungsoo mengerang marah, sepasang hazelnya berubah gelap menatap Sehun tidak percaya, pipi gadis itu memerah karena amarah yang kian merambati dada dan kepalanya. Hal ini terpancar kuat dikedua matanya. Melihat sudut bibir Chanyeol berdarah karena tinjuan keparat didepannya.
"Dia berhak mendapatkannya." Karena pada dasarnya ia tak mampu berpikir, terlampau hilang akibat ciuman Kyungsoo pada Chanyeol.
Kemudian tangan yang selalu memberikan kesejukan milik Kyungsoo terayun sempurna menampar pipinya dengan sangat keras.
"Kau yang berhak mendapatkannya!" Kyungsoo merasa peredaran darahnya berdenyut menyakitkan, napas keduanya begitu cepat saling menatap dan melihat mata masing-masing.
"Kau membelanya..."kelewat lirih, pancaran mata Sehun dingin.
"Kau menikmati ini semua'kan?" Kyungsoo bertanya dengan suara gemetar yang terlalu kentara. Akal Sehun kemudian mati."Kau senang mencium gadis seksi yang selalu menjadi mainanmu kan? dan apa yang akan kau lakukan jika aku tidak mendapati mu? Aku yakin kau akan melakukan adegan panas diranjang dengan gadis yang menciummu begitu brutalnya." Kyungsoo menatap Sehun menahan cairan panas dikedua matanya.
"Aku tidak menciumnya! Gadis sialan itu yang menghancurkan semua-"
"Kau senang mempermainkanku?" Kyungsoo menyela Sehun. "Seharusnya aku tidak mengenalmu, seharusnya aku tidak menerima tawaranmu dan membiarkanmu mendekatiku."
Sehun merasa napasnya tercekat, tidak pernah dirinya merasa sebegini karam mendengar untaian kata dari gadis yang dicintainya. Maka, ia mulai menarik napas berniat menjelaskan semua hal ini. "Nonsens ini akan berakhir pada prespektif sepihakmu. Aku bisa menjelaskan semua hal padamu. Aku hanya ingin memberi kejutan padamu karena Chanyeol, memberitahuku bahwa kau tengah mengerjaiku. Aku membawa jalang itu untuk memberi penjelasan bahwa dia dan aku tidak ada apa-apa! Aku bersumpah bahwa malam ini aku ingin menyampaikan ketulusanku padamu. Tapi semuanya hancur karena jalang itu menciumku dan kau datang, melihat semuanya!"
"Dan kau menikmati permainan ini." Kyungsoo menambahkan ketika mendengar kalimat Sehun.
"Kau berbicara omong kosong." Sehun menyelanya, mendekati gadis itu. "Katakan padaku jika ini bagian rencanamu dalam melakukan april Mop sialan ini. Bilang padaku sekarang, jika ciumanmu pada Chanyeol adalah bagian dari semua rencanamu."
"Jangan menyalahkan Chanyeol!" Kyungsoo berseru marah. "Aku yang harus disalahkan karena telah memasukan sahabat terbaikku pada lingkaran permainan menjijikanmu. Aku tidak pernah menyangka bahwa apa yang aku ucapkan terjadi begitu realistis dengan kau sebagai tokoh utamanya!"
Sehun menggertakan rahanganya, saat Chanyeol berdiri disamping gadisnya. "Dan, Kau menciumnya. Didepanku!" Sahut Sehun geram. "Kau juga mencium lelaki lain, Seakan aku adalah bayangan, padahal jelas-jelas dirimu melihatku mendekat. Kau menciumnya Kyungsoo~ya."
"Dan dirimu mencium gadis itu, kemudian meninggalkannya dengan tangisan? Such a bastard you are!"
Sehun menekan rasa frustasinya dengan menyelami hazel gadis itu. Keduanya saling bertatapan dalam diam, situasi ini harus segera diselesaikan maka Sehun maju, mencoba mengenggam tangannya.
"Jangan sentuh aku." Kyungsoo menjauhkan tanganya. "Aku tidak mau lagi jatuh pada lelaki sepertimu. Aku bodoh. Aku bodoh membiarkanmu masuk dikehidupanku, kau mengapa kau begitu- brengsek." Tatapan itu menyiratkan kekecewaan yang membuat Sehun seketika diam. Lelaki itu menelan kata-katanya, tidak bisa mengeluarkan suara apapun karena segenap dirinya terpasung pada kedua hazel Kyungsoo yang berkilat menahan air mata.
Lembut, Sehun menelisik.
"Maafkan aku, Aku memang brengsek." Ia memang brengsek. Suara lirih Sehun menyakiti hati Kyungsoo, gadis itu berdiri dengan tangan gemetar ketika Sehun tersenyum lirih. Menampakan raut sakit dan luka nya ia dengan segenap pengendalian diri menutup ekspresi wajah yang terlampau susah untuk dibaca.
"Maafkan aku memasuki duniamu, aku yang salah."
Mata Kyungsoo memanas, sekelebat memori mendadak menyerangnya begitu intens, dan aroma Musk dari tubuh Sehun membuatnya sesak setengah mati.
"Kalau begitu, pergilah." Kyungsoo tidak mengenali suaranya sendiri ketika mengucakan kata-kata tersebut, hatinya terasa dicengkram kuat ketika Sehun menatapnya lama, dengan dua hazel yang menenggelamkannya dalam lautan karamel, menyesatkan juga menyakitkan.
"Baik. Jika itu maumu. Aku akan pergi."
Maka, ketika kalimat itu keluar.
Kyungsoo tahu, ini adalah kejatuhannya.
Gadis itu merasa air matanya menetes ketika pintu restaurant menutup. Tubuhnya melemas, Seutuh pertahanan terkuatnya hancur menyebabkan kakinya limbung dan berakhir jatuh terduduk dilantai dengan tetes air mata menemani.
Sedari awal, Ia tidak ingin jatuh pada sosok itu. Karena jika ia jatuh, ia tahu tidak akan ada lagi orang seperti Sehun yang mampu membantunya yang ditakutinya terjadi, Sehun benar-benar menjadi fatamorgana yang menghilang ketika ia telah memberanikan diri untuk melangkah mendekat.
Scorpius Hyperion Sehun Malfoy, menjeratnya begitu dalam hingga membuat setiap detik butuh akan presensinya.
.
.
.
.
tbc
You can find another chapter at wattpad
Lovelrin
