A/N: Sudah diedit dan silahkan membaca :)
Edited: 15/6/2013
Bab 3
.
.
.
Hari Ke 16...
1 of 10
Jalanan licin mempersulit langkahnya. Ia tahu, ia lebih suka musim semi atau musim panas untuk berjemur di pantai desa tetangga dan menatap beberapa wanita berbikini. Dan ini seperti sangat berlawanan, lihat, semua berbaju tebal! Kenapa juga di sini dingin sekali? Bukankah ini Negara Api? Mana panas apinya?
Konohamaru berjalan-jalan di distrik Menengah dengan perasaan kesal. Perasaannya sungguh terganggu dengan rapat semalam. Ia yang mendapatkan petunjuk, kenapa juga yang harus menyelesaikannya? Aish, Taichou-nya itu dendam ya dengannya?
Ia berjalan lamat-lamat saat melewati bar yang tadi malam ia singgahi. Beda dengan semalam, kalau sudah datang pagi keramaian bar itu menghilang, mungkin juga karena peraturan pemerintah yang memberi batasan waktu buka dan tutup untuk bar-bar.
Konohamaru sekarang masuk ke sebuah kedai dango yang tepat di depan bar semalam dan duduk di meja dekat jendela dengan tirai bambu. Ia memesan beberapa tusuk dango dan secangkir ocha, sedikit bersyukur pemanas dikedai itu berfungsi baik.
Dari sela tirai bambu, ia dapat melihat keadaan bar itu, masih sepi. Ini akan menjadi misi pengintaian yang membosankan. Ia menyesap ochanya dan menggigit dua tusuk dango hingga dua orang keluar dari bar itu; seorang wanita muda, mungkin seusia dengannya, dengan pria yang bermantel yang kerahnya hampir menutupi setengah wajahnya, yang terlihat hanya dari hidung ke atas. Ia melihat wanita itu membungkuk dan menunggu pria itu benar-benar pergi baru ia juga melangkah pergi dengan arah yang berlawanan dengan pria tadi.
Konohamaru segera bangkit dan meletakan beberapa lembar uang di atas meja lalu keluar dari kedai. Ia melangkah santai ke sebuah gang yang memiliki banyak tikungan dan pertigaan. Wanita itu masih dalam jarak pandangnya hingga di tikungan selanjutnya, ia benar-benar kehilangan. Ia berlari mengejar dan melompat ke atas atap, tapi ia tetap kehilangannya.
Damn! Kenapa menyusahkan sekali sih? Hanya seorang gadis 'kan?
Ia menyambungkan jaringan radionya, "Aku kehilangan."
2 of 10
Sasuke duduk di ranjangnya ketika pagi menjelang. Ia merenggangkan otot lehernya dan bangkit perlahan hingga sadar ruangan itu masih hangat, tidak seperti pagi kemarin, perapian terlihat masih penuh dengan kayu bakar. Ia menatap perapian dengan aneh, rasanya sangat mengganjal.
Sasuke tidak terkejut kala pintu terbuka diiringi kehadiran Hinata dengan hal-hal yang memenuhi kebutuhannya di bungkusan coklat yang dipeluk itu. Dia hanya bingung udara di sekitarnya jadi lebih luas, ia menggeleng diam-diam dan berjalan melewati Hinata tanpa menyapa. Toh, mereka tidak kenal.
3 of 10
Hinata harus besar hati dengan sikap Sasuke. Diacuhkan seperti itu dengan orang yang kau tolong itu tidak enak, terlebih orang yang ditolong seperti tidak menganggapnya. Ia hanya dilirik sekilas dan dilewati begitu saja. Hinata tidak sedih, hanya merasa tidak nyaman dengan keadaan ini.
Bungkusan coklat yang ia bawa, ia letakan di atas meja. Pandangannya menyapu ruangan dan harus menghela napas lelah menemukan obat semalam yang ia letakan di atas nakas belum diminum. Sasuke benar-benar mempersulit dirinya sendiri, bukan kah Sasuke menginginkan kebebasan?
Hinata menata buah-buahan yang ia beli di distrik Menengah di keranjang di atas meja. Bagaimana pun sikap Sasuke, Hinata masih berpikir kalau Sasuke manusia dan memerlukan makanan yang sehat, apalagi dikondisi seperti ini. Lagi pula, buah sangat jarang di Negara Api dan dihutan ini hanya ada pohon-pohon pinus serta bijinya yang berjatuhan. Ketika itu ia menemukan dua gelas air di atas meja makan, ia tidak pernah ingat meletakannya di sana. Apa Sasuke haus?
Sasuke kembali dan menatapnya intens. Ia ingin bertanya kenapa, tapi ia ingat kalau luka di punggung Sasuke perlu diobati rutin. Ia tidak ingin bertanya yang lain dan merusak mood orang itu.
"Aku ... perlu mengobati punggungmu," ini setengah tidak enak hati. Hari-hari yang lalu ia bisa dengan tenang mengobati tubuhnya, tapi kalau orangnya sudah membaik seperti ini jadi agak risih.
Sasuke tidak bergeming dengan ucapannya. Ia berpikir kalau Sasuke akan marah dengannya atau apapun, tapi setelah beberapa menit, Sasuke memunggunginya. Gerakan yang tidak ia sangka adalah saat Sasuke membuka baju hangat dan memperlihatkan punggung yang hanya berbalut perban berbecak darah. Ini sudah dua hari tidak diganti dan sudah sekotor ini. Ini ... sedikit agak memalukan.
Ia mengambil ramuan turun-temurun Klan Hyūga yang diletakan dalam wadah kecil. Sebelum mengolesinya pada punggung Sasuke, ia harus menghapus perban itu dulu dan membersihkan luka dengan alkohol.
Masih dengan berdiri di tengah ruangan. Saat membersihkan luka dengan kapas yang dibasahi alkohol, Sasuke meringis pelan, Hinata tahu itu perih. Bagaimana pun, luka itu masih menganga, sampai-sampai ramuan klannya tidak ampuh dengan sekali pakai.
4 of 10
Sasuke bersyukur karena Hinata tidak menyadarinya, malah Hinata sendiri yang mengalihkan pembicaraan.
"Aku ... perlu mengobati punggungmu," dan Sasuke sempat menerka-nerka kalau Kunoichi seperti Hinata akan mengganggu layaknya Kunoichi lain di masa lalunya saat masih dengan Konoha. Tapi, Hinata tidak pernah terlibat apapun dengannya, mereka hanya kenalan, teman pun meragukan.
Sasuke berpikir untuk cepat menyelesaikan ini. Ia berbalik memunggungi Hinata dan melepas perlahan pakaian hangat yang Hinata berikan padanya beberapa hari yang lalu. Perban masih membebat tubuhnya, rasanya tidak enak sekali; lengket.
"Berapa lama aku harus seperti ini?" itu suara ketidak sabarannya. Ia mencoba menunjukan keengganannya untuk terus dalam gubuk jelek itu.
"Itu tergantung kau, Sasuke-san," jawaban Hinata membuatnya kesal, apalagi saat jemari kecil itu menyentuh pundaknya agar perban terbuka dengan mudah.
Ketika Hinata melepaskan perbannya, ia menatap salju di luar dari jendela. Membayangkan rasanya, ia jadi merasa menggigil. Walau di dalam sudah ada perapian sebagai penghangat, tapi bertelanjang dada seperti ini sangat dingin.
Sasuke diam-diam tersentak dengan sentuhan di punggungnya, dimana rasa aneh bermunculan lagi ketika Hinata menyentuhnya. Ia merasakan setiap sentuhan kulit yang tercipta tanpa sengaja itu menyebabkan efek tidak terduga. Sempat juga ia mendesis (yang sebenarnya mendesah) tertahan hingga Hinata menghentikan sentuhan padanya dan meminta maaf. Kalau ia tidak waras saat itu mungkin ia akan menjawab tidak apa-apa, tapi ia hanya diam.
Ini rasanya lebih menyiksa dibanding tertusuk shuriken dan ia sempat lupa dengan sakitnya. Karena ia memejamkan mata, ia tidak sadar Hinata telah selesai dengan lukanya, tinggal diperban dengan yang baru.
"Emm ... bisa rentangkan tanganmu, Sasuke-san? Aku ingin mengganti perbannya dengan yang baru."
Sekarang Sasuke tidak mengeluh atau memperlambat. Ia sadar, kalau lebih lama ia seperti ini, itu tidak sehat baginya. Ia melakukan apa yang Hinata mau.
5 of 10
Sasuke duduk sendirian di meja makan dengan semangkuk bubur. Hinata menyiapkannya untuk sarapan. Kalau boleh jujur, ia tidak suka makanan lembek seperti ini dan pasti rasanya hambar, jadi ia hanya mengaduknya bosan. Ia juga bingung, dari sekian banyak buah yang Hinata beli, kenapa harus apel?
"Hei!" Ini terhitung yang pertama bagi Sasuke untuk berinteraksi dengan Hinata. Entah kenapa ia tidak suka melihat Hinata sibuk sendiri di dapur, itu membuatnya harus menatap punggung Hinata yang tidak bisa diam dan tidak berpaling untuk menatap yang lain.
Hinata hanya menoleh padanya tanpa melepas pekerjaannya; mencuci piring, "Ya?"
Sasuke menggeser mangkuk buburnya lalu berkata, "Apa hanya ini yang bisa kau lakukan?" ia tidak peduli kalau ini akan menyinggung Hinata. Di tempat dan keadaan seperti ini membuatnya jenuh, diam akan membuatnya gila.
"Aa...-
"Aku perlu nasi," Sasuke menunggu respon Hinata, tapi sepertinya mereka saling menanti, jadi Sasuke bersuara lagi, "Tidak bubur. Jangan bubur lagi!"
Sasuke tidak tahu apa yang Hinata pikirkan. Hinata mengerti atau tidak, ia tidak tahu.
Hinata meninggalkannya sendiri lagi dan ia tidak mengerti harus apa.
Ternyata makan siang dan makan malamnya tetap sama. Ini memang Hinatanya yang tidak mengerti atau sengaja ingin membuatnya kesal atau apa, tetap saja bubur, tapi dengan sup ayam.
Sasuke menampilkan raut kesal dengan menatap Hinata, tapi Hinata sibuk dengan ini dan itu. Sesekali ia ingin melihat orang itu diam sebentar dan memperhatikannya serta tidak mengabaikan kehadirannya.
"Sasuke-
"Punggungku perih," ia mengeluh, ia tidak tahu mengapa, itu seperti mengalir saja dari mulutnya seperti air. Ia melihat Hinata menghampirinya lalu memposisikan di belakang tubuhnya. Ia sempat merasakan kulit tangan Hinata menyentuh permukaan kulitnya dan selalu membuatnya menghela napas.
Hinata menggantikan perbannya dengan yang baru. Kini Hinata tidak membebatnya dari belakang tubuhnya lagi, tapi di depannya. Ia baru tahu dagunya hanya mencapai telinga Hinata dan luas pundak Hinata itu mungkin setengah dari pundaknya. Dari sini pun ia tahu, Hinata selalu memerah kulitnya serta terlihat halus. Dan, ia tidak mengerti kenapa kepalanya merendah seperti ini hingga wajahnya dekat sekali dengan telinga Hinata. Sekarang Sasuke tahu harum apa yang ia cium tempo hari,
itu vanilla.
"S-Sasuke ... -san?" Sasuke mendengar suara lirih Hinata yang entah mengapa terasa berbeda, ini meningkatkan sesuatu di dirinya.
Saat tahu Hinata tidak bernapas, Sasuke itu kebalikannya. Ia merasa napasnya panas seperti api yang mungkin menyapu kulit dari pipi ke leher Hinata. Telinganya tiba-tiba juga menulik, sehingga yang ia dengar hanya suara napasnya sendiri.
"Katakan ... sesuatu," ia merasakan jemarinya sendiri menggenggam ujung jaket bagian belakang Hinata, meremasnya dengan kekhawatiran yang tiba-tiba muncul. Ia mencari cahaya saat pandangannya kabur, tapi ia tenggelam dalam kegelapan dengan kealpaan suara Hinata.
Libidonya naik ketika Hinata kelepasan dengan suara desahan tak lama berselang setelah ia bernapas di belakang telinganya, membuatnya hilang kendali dan menyentuh punggung Hinata di balik jaket. Mengelusnya tergesa-gesa seolah ia terganggu dengan pakaian tebal itu lalu mengangkatnya perlahan diantara kegiatannya.
Yang ia tahu, kulit itu hangat ditangannya yang kedinginan. Hangat wanita itu menyebar keseluruh tubuhya; seolah mereka mengemis untuk yang lebih.
Ia tidak sadar sejak kapan ia menjadi the aggressive one dan merapatkan tubuh pada wanita itu, menciptakan gesekan-gesekan antara pinggangnya dan Hinata, membuat gerakan merangsang intinya.
Tanpa sadar Ia menginvasi leher Hinata yang bersih; beraroma sabun serta vanilla. Ketika tangan sebelahnya mencapai bokong Hinata dan lainnya menyentuh perbatasan dada wanita itu, ia terdorong dan mundur dua langkah.
Satu hal, Sasuke juga shock dan ia membiarkan Hinata pergi terburu-buru.
6 of 10
Hari Ke 17...
Terburu-buru Konohamaru menghampiri antrian orang yang ingin membeli kue manju. Ketika hampir memasuki barisan, ternyata ada seorang gadis yang ingin berbaris juga. Pundak mereka sempat bersinggungan, namun Konohamaru tersenyum dan menyerahkan tempatnya sehingga ia berada di belakang gadis itu. Sekali lagi Konohamaru tersenyum kala gadis itu menoleh kearahnya; mereka sama-sama tersenyum.
Setelah mendapatkan kue manju, Konohamaru bertemu gadis itu lagi, yang mempunyai nama Manami, gadis manis bermata hitam dengan rambut panjang berwarna biru. Mereka berkenalan dan berjalan berdampingan karena arah pulang mereka sama.
"Kue manju di sana sangat enak, maka jangan heran kalau sekalinya buka itu sangat panjang antriannya. Terus, apa kau juga suka manju?" Ternyata Manami sangat suka manju dan sering ke toko itu.
"Aa, tentu. Tapi, ini khusus kubelikan untuk seseorang yang sakit," entah kenapa ia kepikiran Hanabi dan ngeri bila orang itu tahu ia berbuat seperti ini.
"Pacarmu?"
"Bukan," ia tidak berbohong 'kan?
Mereka diam sejenak, lalu Konohamaru angkat bicara, "Aku sih lebih suka dango."
"Di depan tempat kerjaku ada kedai dango," bingo!
"Benarkah? Aku ingin ke sana lain kali," Konohamaru tersenyum, ia tahu ini akan lebih mudah.
"Ya, kau harus ke sana," pasti!
"Ngomong-ngomong, kau kerja di mana? Aku pernah melihat satu-satunya toko dango di distrik Menengah dan di depannya hanya ada bar."
"Emm ... itu-
"Oke, aku tidak memaksa. Aku menghargai privasi orang, kok," ia terdengar seperti pria yang gombal, apalagi setelahnya ia nyengir lebar pada Manami.
"I-iya, aku bekerja di sana," Manami menunduk.
"Minuman di sana enak. Kau seorang pelayan?" baik, ia memulai agresinya.
"Aku ... bukan," Konohamaru menunggu, "Aku ... Tuna Susila."
Konohamaru tidak terkejut dengan kenyataan yang sudah ia ketahui, "Aku tidak memaksamu, Manami-san," lalu seolah-olah ia peduli, "Setiap orang mempunyai pilihan dan kau masih manusia, bagaimanapun."
Walau ia sadar akan tatapan kagum Manami, ia berusaha senatural mungkin atau semua akan sia-sia. Lalu mereka berhenti disebuah bangunan tua di perbatasan antara distrik Menengah dan Mazushi yang disebut Manami sebagai rumahnya. Aduh, entah mengapa ia jadi tidak enak membohongi gadis itu.
"Terima kasih, Kono-san," Manami membungkuk padanya sehingga ia pun ikut membungkuk juga.
"Hm. Jaa ne," ketika ia melambaikan tangan sekenanya dan pergi, ia tidak tahu kalau Manami masih menatapnya.
9 of 10
Hari Ke 20...
20 hari itu berjalan sangat lambat.
Hinata menutup buku jurnalnya kala Shikamaru menepuk pundaknya dan duduk di sampingnya. Ia menatap Shikamaru yang masih diam dengan tatapan lurus.
"Ne, ada apa?"
Shikamaru menoleh padanya, "Bukannya aku yang harus berkata begitu?" ia jadi berpikiran tentang Sasuke dan perlakuan yang ia terima, "Kau menghadapi kesulitan?"
Ia mengalihkan pandangannya dan menghela napas, "Bisa kita ... menyelesaikan misi ini dengan cepat?" seolah ini menjadi sulit baginya.
Pun, ini memang menjadi sulit setelah kejadian kemarin dan bohong bila ia mengatakan semua baik-baik saja. Ia kepikiran, apalagi ia tidak menghindar sebelum hal itu terjadi. Ia kehilangan kendalinya tanpa tahu apa alasannya.
"Kau terganggu oleh sesuatu?"
Hinata tidak tahu kenapa ia meremas ujung jaket di pangkuannya lalu menunduk. Sampai saat ini, ia hanya tidak pernah lupa dia dan penyebab ia harus kehilangan orang itu. Ia ingat dia lagi setiap kali bertemu orang itu. Semua tahu bagaimana ini menjadi sebuah tragedi.
Tragedi yang berawal dari kasih sayang seorang gadis kecil untuk bocah laki-laki yang terasingkan. Cinta polosnya yang apa adanya tanpa pengharapan kembali untuk dibalas, sebuah kekaguman yang tulus. Semua ini tentang pengorbanan untuk persahabatan manis orang itu dengan sahabatnya. Lalu, kenapa bayangan orang itu menuntunnya pada sahabatnya? Orang itu tidak tahu 'kan bila ia tersiksa untuk waktu yang lama? Ia bahkan harus kehilangan-nya karena orang itu, tapi kenapa ini membuatnya resah sendiri?
Apa sedari awal ia meninggalkan rapat tim itu salah? Lalu menemui orang itu dan merawatnya? Apa sedari awal kembali ke sini adalah salah? Apa sedari awal ... ia sudah salah?
"Cinta membuat kita bertahan melewati waktu. Waktu membantu kita melewati cinta," hanya suara Shikamaru yang ia dengar, ia membutuhkan seseorang dan Shikamaru memberinya rangkulan hingga ia bisa menangis dipelukan Taichou-nya.
"Ini membuatku sulit...," suaranya pelan dalam isakan; ia perlu mengeluh.
"Naruto akan selalu memaafkanmu."
Hinata menatap Shikamaru sejenak lalu bangkit perlahan. Ia berkata akan pergi sebentar, ke suatu tempat. Shikamaru mengingatkannya untuk hati-hati karena ini sudah malam. Setelah ia mengangguk dan turun dari balkon, ia tidak sadar ada yang menatapnya— menatap mereka.
7 of 10
Hari Ke 20...
Menatapnya tanpa sengaja membuat matanya sakit. Sasuke bangun dengan matahari menyinari wajahnya. Seperti biasa ia akan terdiam sejenak di atas ranjang dan menoleh pada meja makan di tengah ruangan yang masih diisi sekeranjang buah dan kantung coklat kemarin. Dia masih belum kembali, pikirnya tanpa sadar.
Sampai siang, Sasuke masih berkutat di pondok reyot itu hingga kayu bakar habis dan ia sadar ia harus menyelamatkan dirinya sendiri pada musim dingin ini. Ia kesal, ia berada di hutan yang ada di luar distrik manapun.
Setelah bersusah payah mendapatkan kayu dan membelahnya ia kembali. Ia mendengar gerutuan perutnya lalu menuju dapur. Di hadapkan pada wajan, kompor dan bahan lainnya yang ada di kantung coklat membuatnya mengangkat alis. Ia tahu masak air, maka ia merebus air saja. Lalu, pada akhirnya ia hanya makan buah apel di keranjang.
Setelah tiga hari kemudian ia mulai merasa frustrasi dalam pondok reyot itu. Kakinya sudah bisa berdiri lebih dari 15 menit, tapi tubunya terasa lelah setiap saat yang membuatnya ingin terus berbaring atau duduk di ranjang lagi.
Yang bisa ia tatap kini hanya sarang laba-laba di langit-langit ruangan itu. Ia bisa melihat ada dua ekor laba-laba sedang memintal tiga ekor lalat yang terperngkap dalam jaringnya itu, tentu untuk makanan mereka. Menjelang sore membuatnya kadang lapar dan cukup membuatnya gila dengan kesunyian ini.
"Kapan pagi tiba?" Tiba-tiba ia berharap yang tidak-tidak. Ia hanya ingin perbedaan di pagi nanti.
Semoga.
Ketika pintunya di ketuk, harus kalian tahu bagaimana persaannya. Jangan paksa dia untuk mengungkapkan bahwa itu rasa bahagia. Cuma kebutuhan seorang makhluk sosial dan ia sudah cukup lama terkurung sendiri di gubuk reyot itu, bantahnya sendiri.
"Sasuke?"
Namanya di sebut dan sangat mengejutkan bahwa apa dan siapa yang diharapkan adalah berbeda. Memang apa yang atau siapa yang diharapkannya?
10 of 10
Ketika Hinata mengetuk pintu dan tidak mendapati sahutan, ia yang lelah akibat menerjang angin malam jadi kalap sendiri tanpa ia mengerti.
"Sasuke?" Ia memanggil namanya dan tidak ada sahutan lagi. Walaupun agak lancang, tetap ia buka pintu mahoni itu. Mungkin lagi-lagi ini adalah kesalahan, berulang kali kesalahan yang ia lakukan hanya untuk perbuatan konyol menolong seseorang yang tidak ingin ditolong.
Hanya sebuah gubuk kosong.
Hinata harus sadar. Orang seperti Sasuke tentu akan berlaku seperti ini, terus melarikan diri. Tapi, ia tidak pernah memiliki hubungan apapun dengan Sasuke. Dia The Avenger. Kenapa ia harus berpikir Sasuke melarikan diri darinya?
Apa yang salah dengan dirinya?
8 of 10
"Bukan orang yang kau harapkan, Sa-su-ke?"
Mungkin, menutup mata sambil menghela napas berat adalah pilihan terbaik sekarang. Dadanya begitu berbeda dari waktu-waktu yang lain.
"Mau ikut?"
Dan, pilihan mengangguk adalah pilihan yang masih membuatnya ragu, walau ia tetap melakukannya dengan sebelah hati.
"Ya."
To Be Continued
.
.
.
A/n: Maaf sebesar-besarnya karena keterlambatan ini. Aku banyak tugas setelah Ulangan Semester bulan Februari lalu (buat info aja kalo saya Ujiannya di undur gegara PKL) dan sekarang harus menghadapi Mid Semester Genap. Blah, maraton ya ujiannya? Haha #pusing.
Maaf juga buat kerancuan fic ini. Pada dasarnya, walau ini AU, saya tetap mengambil beberapa dasar cerita dari Manganya. Saya ngga ngikutin banget sih, makanya saya jadiin AU. Btw, ini AU juga karena Konohamaru selisih umurnya cuma 1 tahun dari Hinata dkk. Shikamaru dua lebih tua juga dari Hinata. Dan, Hinata berasal dari Konoha (lihat chap 1) saat mereka di utus Hokage untuk melakukan misi di Negara api. Sasuke juga dari Konoha, tapi dia kan kabur (sama kayak manganya).
Bab ini juga aku buat pembatas 1 of 10 dan seterusnya untuk menunjukan alur yang maju mundur di bab ini. Seperti 6 of 10 langsung melompat ke 9 of 10.
Tempat Hinata merawat Sasuke itu di hutan, di luar distrik Mazushi (saat ia sedang berjalan-jalan untuk memantau lalu keluar dari distrik Mazushi, malah jadi ke hutan). Seperti penjelasan saya di A/n bab 3 tentang Negara Api versi saya, Hutan itu ada di lingkaran paling bawah dari Negara Api yang mengelilingi gunung. Urutannya adalah Distrik Atas, Distrik Menengah, Distrik Mazushi, lalu Hutan.
Dan, soal Naruto, di atas sudah saya ungkit, walau masih samar-samar dia kenapa sih -_-". Dia nanti akan keluar, tapi jangan timpuk saya *siap panci lindungi kepala* bila terjadi sesuatu padanya. :D
Pokoknya makasih banget sama yang udah baca doang, baca plus review, fav dan follow cerita ini. Aku seneng minta ampun deh XD
Maaf juga ngga bisa update minggu-minggu ini, saya harus mempersiapkan Ujian saya biar ngga turun lagi peringkatnya (ceritanya curcol :D).
Ne, bila ada yang tidak jelas, silahkan tanya di review, PM juga boleh. Haha
Maaf lagi ngga bisa bales satu-satu m(_ _)m bukannya sombong atau apa, saya ini juga sembunyi-sembunyi update biar ngga di omelin Ibu. Saya bales chap depan oke? :)
Jaa ne
Mei Anna :*
