"Menikahlah denganku, ikutlah denganku ke Seoul. Aku akan menjadi Ayah dari Jeno." Ucap Jaehyun mantap. Doyoung terkejut ia mendongakkan kepalanya saat mendengar kata-kata dari Jaehyun.

.

.

I'm With You

NCT Fanfiction

Jung Jaehyun x Kim Doyoung

Warning: GS, OOC, Typo(s), gaje, pasaran, alur kecepetan, diksi kurang dan sebagainya.

By El Lavender

.

.

Jaehyun masih menunggu jawaban yang keluar dari mulut Doyoung.

"Maaf Jaehyun-ssi, aku tidak bisa-" Doyoung kembali menunduk, ia tidak sanggup menatap Jaehyun. Sangat mengejutkan baginya mendengar pernyataan dari pria di sampingnya Itu.

Menikah? Doyoung sama sekali tidak mengira jika pria itu dengan mudah mengajaknya untuk menikah begitu saja.

"Kita hanyalah orang asing, Jaehyun-ssi. Aku tidak tahu apa alasanmu mengatakan hal itu begitu saja, aku minta maaf karena diriku kau mendapatkan rumor itu," Jaehyun memperhatikan semua perkataan yang diucapkan Doyoung dengan serius, terdapat kekecewaan di raut wajahnya. Jaehyun sangat berharap Doyoung menerima 'lamaran'nya.

"Dan tidak mudah melupakan semua kenangan Moonbin yang tertinggal di sini begitu saja. Tentang semua biaya rumah sakit itu, aku benar-benar akan menggantinya. Aku masih bisa bekerja dan menghidupi anakku seorang diri Jaehyun-ssi." Lanjut Doyoung yang sudah berani menatap Jaehyun.

Jaehyun tidak mengira jika wanita itu sangat tangguh, bahkan dengan kata-kata tajamnya beberapa saat yang lalu tidak membuat wanita itu takut sedikitpun.

"Lalu, bagaimana dengan rumor itu?" Jaehyun tetap mencoba membujuk wanita itu untuk mau menikah dengannya.

Entah setan apa yang telah merasuki Jaehyun sehingga dirinya sangat menginginkan Doyoung menjadi istrinya. Mungkin inikah yang dinamakan cinta pada pandangan pertama? Entahlah, Jaehyun juga tidak mengerti dengan dirinya sendiri.

"Cukup katakan yang sejujurnya kepada mereka Jaehyun-ssi dan semuanya akan kembali seperti semula. Aku hanyalah seorang janda yang memiliki seorang anak, masih banyak wanita cantik di luar sana yang pantas untukmu Jaehyun-ssi." Doyoung tersenyum lembut kepada Jaehyun.

'Tapi aku menginginkanmu.' Jaehyun menyerah, wanita ini tidak mudah untuk dibujuk begitu saja seperti perkiraannya.

"Sepertinya badai semakin besar, menginaplah di sini Jaehyun-ssi. Aku tidak setega itu untuk menyuruhmu pulang dengan keadaan badai yang sangat berbahaya."

Jaehyun menatap jendela, Doyoung benar badai semakin ganas dan juga tanpa disadari langit sudah menjadi gelap. Jaehyun berterimakasih karena Tuhan masih mengijinkannya untuk menikmati waktu bersama wanita ini.

Entah mengapa Jaehyun merasa jika Doyoung adalah jodohnya, selama ini ia selalu dikelilingi oleh banyak wanita cantik tetapi tidak ada satupun dari mereka yang membuat Jaehyun tertarik.

Ayah dan Ibunya selalu menanyakan kapan Jaehyun menikah, mengingat usianya memang sudah pantas untuk menikah. Jaehyun memang berniat untuk menikah setelah ia menemukan wanita yang cocok untuknya, dan itu ada pada diri Doyoung. Jaehyun sendiri tidak tahu apakah ia benar-benar tertarik kepada wanita itu ataukah hanya sebatas rasa iba saja, yang pasti ada sesuatu di dalam dirinya yang menginginkan Doyoung untuk menjadi istrinya.

"Jaehyun-ssi, bisa kau jaga Jeno sebentar? Aku akan menyiapkan kamar tamu untukmu." Jaehyun mengangguk, Doyoung menyerahkan Jeno kepada Jaehyun dengan hati-hati.

Jaehyun menatap kepergian Doyoung, ia menghela nafas pasrah. Gagal sudah kesempatan yang ia miliki untuk mengajak Doyoung ikut bersamanya dan menjadikannya sebagai istrinya. Siapapun yang menyebarkan foto itu Jaehyun sangat berterimakasih tetapi ia telah gagal memanfaatkan rumor itu dan harus mengklarifikasinya seorang diri.

"Huh~ kenapa susah sekali mengajak dan membujuk Eommamu itu?" Jaehyun berbicara kepada bayi Jeno yang tengah menatapnya.

"Jeno-ya, jika kau mau kau boleh memanggil paman dengan sebutan Appa." Jaehyun tersenyum tulus kepada bayi yang sedang tertawa setelah mendengar ucapannya itu. Tanpa Jaehyun sadari seseorang yang baru saja kembali dari kamar tamu mendengar ucapan terakhirnya.

"Sudah selesai, terima kasih karena kau sudah menjaga Jeno Jaehyun-ssi. Tidurlah, kau membutuhkan tenaga untuk semua kegiatanmu besok. Kamar tamu ada di sebelah sana, selamat malam Jaehyun-ssi." Doyoung berlalu menuju kamar utama bersama dengan Jeno di gendongannya.

.

.

.

Jaehyun bangun dari tidurnya, ia melihat keadaan sekitar dan memastikan bahwa ia masih berada di rumah Doyoung. Jaehyun merasa dirinya menjadi lebih segar pagi ini, ternyata tidur lebih awal sangat bermanfaat untuk Jaehyun, biasanya ia selalu tidur disaat larut malam bahkan mendekati pagi karena kegiatan syuting yang selalu menyita waktunya. Begitulah nasib menjadi seorang aktor.

Jaehyun memutuskan untuk membersihkan dirinya terlebih dahulu sebelum keluar menemui Doyoung. Setelah selesai mandi Jaehyun langsung menuju ke dapur karena ia mencium aroma masakan dan siapa lagi yang sedang memasak kalau bukan Doyoung.

"Kau sudah bangun Jaehyun-ssi? Apa tidurmu nyenyak? Duduklah, sebentar lagi aku selesai." Jaehyun terkejut dengan perkataan Doyoung, bahkan ia berada beberapa meter di belakang Doyoung tetapi wanita itu tahu keberadaan dirinya tanpa menoleh sedikitpun.

Jaehyun memutuskan menuruti perkataan Doyoung, ia duduk dan memandang punggung Doyoung yang sedang sibuk dengan masakannya seperti yang ia lakukan kemarin.

Kicauan burung dan tetesan air hujan mengalihkan pandangan Jaehyun dari Doyoung. Sangat jarang ia jumpai suasanya nyaman tempat ini di Seoul yang penuh dengan suara kendaraan.

Tanpa disadari Jaehyun melamun dan tidak menyadari kehadiran Doyoung di hadapannya.

"-Jaehyun-ssi?" Jaehyun tersadar akibat lambaian tangan Doyoung di depan wajahnya.

"A-ah, maaf aku melamun. Apa kau berkata sesuatu Doyoung-ssi?" Ucapnya tersenyum canggung.

"Tidak, aku hanya berkata maaf membuatmu menunggu dan mari kita sarapan, bukankah kau akan kembali ke Seoul hari ini? Bukan maksudku untuk mengusirmu Jaehyun-ssi, aku hanya tidak ingin kau ketinggalan kereta dan terjebak badai kembali."

Jaehyun mengerti maksud baik dari Doyoung, bahkan entah apa yang akan tetangga Doyoung katakan jika ada seorang lelaki menginap di rumah seorang janda lebih baik ia segera pergi agar wanita ini tidak semakin tertimpa masalah dan menjaga nama baik Doyoung. Walaupun ia masih tidak rela jika akan segera berpisah dari wanita ini dan juga bayinya.

"Iya, aku mengerti. Terima kasih untuk semuanya Doyoung-ssi." Jaehyun tersenyum tulus kepada Doyoung.

"Ah, seharusnya aku yang sangat berterimakasih kepadamu Jaehyun-ssi. Jika tidak ada kau, aku tidak tahu bagaimana nasib kami." Doyoung hanya memandang masakannya.

"Jangan dipikirkan lagi, mari kita sarapan." Jaehyun memulai memakan sarapannya, diikuti dengan Doyoung.

Doyoung memandang Jaehyun sekilas, baru kali ini ia kembali sarapan ditemani oleh seseorang. Semenjak kematian Moonbin, ia selalu melakukan semua hal seorang diri. Ia kembali harus melakukan semuanya seorang diri setelah ini.

Setelah sarapan Doyoung mengantarkan Jaehyun ke depan rumahnya dengan Jeno di gendongannya. Jaehyun berpamitan kepada Doyoung walaupun sangat berat melalukan hal itu.

"Jeno, paman pergi dulu. Jagalah Ibumu yang sangat keras kepala ini." Jaehyun berbicara kepada bayi yang sedang menguap itu. Doyoung yang mendengarnya hanya bersemu merah.

"Ah, Jaehyun-ssi. Berapa nomer rekeningmu?" Doyoung menghentikan langkah Jaehyun sebelum pria itu masuk ke mobilnya.

Jaehyun berbalik, "Tidak usah, aku akan kembali ke sini untuk mengambilnya." Doyoung dapat melihat seringaian di wajah pria itu dan artinya Doyoung masih akan tetap bisa bertemu dengan Jaehyun. Entah kenapa ada perasaan senang di dalam hati Doyoung setelah mendengar itu.

Jaehyun benar-benar pergi setelah itu.

.

.

.

Jaehyun sudah sampai di apartemennya, ia langsung menuju kamar dan merebahkan dirinya. Sangat melelahkan menempuh perjalanan dari Guri ke Seoul menggunakan kereta.

Jaehyun tidak pulang ke rumahnya dan memilih untuk ke apartemannya karena ia tahu jika orangtuanya akan mengintrogasinya tentang kabar yang menimpanya, terlebih lagi ibunya. Ia memilih untuk pulang ke rumahnya esok saja.

Jaehyun bahkan belum mengkonfirmasi tentang semua berita yang beredar. Ia dan menajernya sudah berdiskusi tentang apa yang akan mereka katakan mengenai berita tersebut, tetapi ia lebih memilih mengkonfirmasinya besok saja.

Jaehyun termenung mengingat Doyoung dan juga Jeno, 'Apa mereka sudah makan? Apakah mereka baik-baik saja? Apa badai kembali terjadi di Guri?' Begitulah kira-kira isi pikiran Jaehyun saat ini.

Entah mengapa Jaehyun sangat berharap Tuhan akan kembali mempertemukan mereka dan juga berharap Doyoung adalah jodohnya.

Keesokan paginya Jaehyun pulang ke rumah orangtuanya. Jaehyun sangat berharap Ayah dan Ibunya tidak berada di rumah saat ini, ia menyelinap masuk melalui pintu belakang untuk menghindari orangtuanya.

"Kau kira kau bisa melarikan diri Jung Jaehyun?" Jaehyun menghentikan langkahnya yang ingin menaiki tangga menuju kamarnya.

"E-eomma, kau sudah bangun rupanya." Jaehyun menelan ludahnya melihat wajah galak nan cantik sang Ibu di pagi hari ini.

Sang ibu berjalan menghampiri Jaehyun, ia hanya bisa berdoa dalam hati semoga Ibunya tidak berbuat sesuatu kepadanya.

"Dasar anak bodoh, berani-beraninya kau menikah tanpa sepengetahuan orangtuamu bahkan kau sudah memiliki seorang anak. Kau pikir kami ini apa hah?" Sang Ibu menjewer telinga Jaehyun.

"Aww eomma sakit, tolong lepaskan. Aku akan menjelaskannya." Jaehyun meringis dengan jeweran sang Ibu di telinganya.

"Hei hei, ada apa ini? Kenapa kau berteriak pagi-pagi sekali Boo?" Sang tuan rumah datang menghampiri mereka.

"Lihatlah, anakmu yang nakal ini sudah pulang, Yun. Apa kau tidak berniat memarahinya juga?" Tanya Ibu Jaehyun kepada Ayahnya.

"Sudahlah, lebih baik kita sarapan terlebih dahulu. Jaehyun bisa menjelaskan kepada kita usai sarapan." Jawab sang Ayah. Jaehyun bersyukur di dalam hati karena Ayahnya sedang berada di pihaknya. Ayah dan anak ini sedang berbicara melalui bahasa isyarat yang hanya mereka berdua yang mengetahui artinya.

.

.

.

"Nah sekarang bisa kau jelaskan semuanya kepada kami anak nakal?" Nyonya Jung Jaejoong memberikan tatapan tajam kepada anaknya.

Saat ini mereka sedang berada di ruang keluarga, Jaehyun bisa terselamatkan karena selama sarapan Ibunya tidak bisa untuk menanyai dan mengomelinya karena memang sudah peraturan dalam keluarga ini tidak boleh ada yang berbicara saat makan.

"Ck, apa yang harus aku jelaskan Eomma?" Jaehyun mendengus kesal, saat ini moodnya sedang tidak baik.

"Berani sekali kau bersikap seperti itu kepada Ibumu, dasar anak nakal." Jaejoong melempar bantal kepada Jaehyun yang sedang duduk di karpet bawah.

"Sudah-sudah, sebaiknya kau jelaskan semuanya kepada kami nak." Yunho menengahi pertengkaran istrinya dengan putra sulungnya itu.

"Huh, jadi ceritanya begini-" Jaehyun menghentikan ceritanya, "Eomma, kenapa tvnya dihidupkan? Katanya ingin aku menceritakan yang sebenarnya." Jaehyun kesal karena sang Ibu menghidupkan tv yang sedang memuat berita tentangnya.

"Sudahlah, kau bercerita saja Jaehyunie, Eomma hanya ingin melihat berita tentangmu." Jaehyun hanya mendengus kesal, Yunho hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah istrinya yang kekanakan tidak jauh beda dengan anaknya.

'Selamat pagi pemirsa, beberapa saat yang lalu terjadi gempa berkekuatan 6,3 skala richter yang berpusat di daerah Guri,'

Acara gosip yang beberapa saat lalu di tonton oleh Ibu Jaehyun berubah menjadi Breaking News yang memberitakan bencana alam yang sedang terjadi. Keluarga Jung fokus terhadap Breaking News tersebut.

'Di informasikan bahwa banyak bangunan yang hancur karena gempa tersebut, beberapa hari yang lalu wilayah ini juga sering sekali terserang badai. Menurut informasi yang saya dapatkan, ada beberapa korban jiwa karena mereka tidak sempat menyelamatkan diri keluar rumah. Jalur trasnportasi kereta api jiga dihentikan sementara karena sangat berbahaya. Pemerintah mencoba mengevakuasi warga dan mengirimkan bantuan-'

"Sial!" Jaehyun mengumpat, ia teringat akan Doyoung dan juga Jeno, ia sangat khawatir dengan kondisi mereka.

"Appa, aku pinjam Jet pribadimu aku harus memastikan mereka baik-baik saja dan membawa 'anak' dan 'istri'ku ke sini."

"Jaehyun-" Jaehyun menghentikan langkahnya karena panggilan sang Ayah.

"Jangan membawa tangan kosong nak, berikan bantuan kepada warga di sana." Yunho menepuk pundak Jaehyun.

"Jangan sampai cucu dan menantuku terluka, pergilah Eomma mendoakan keselamatanmu." Jaejoong tersenyum lembut kepada anaknya.

"Baiklah. Eomma, Appa aku berangkat." Jaehyun bergegas menuju mobilnya diikuti oleh beberapa pengawal pribadi Ayahnya, mereka menuju tempat di mana Jet pribadi sang Ayah berada.

.

.

.

Doyoung berusaha menenangkan Jeno yang sejak tadi tidak berhenti menangis, ia bersyukur saat gempa terjadi dia dan juga Jeno sedang berada di teras rumah sehingga mereka bisa menyelamatkan diri.

Doyoung saat ini berada di tempat pengungsian, rumahnya dan juga rumah tetangganya yang lain telah rata dengan tanah yang di sebabkan oleh gempa. Doyoung tidak tahu ke mana ia harus pergi setelah ini, satu-satunya keluarga yang dimilikinya hanyalah Jeno, rumah peninggalan Moonbin juga telah hancur bahkan uang yang tersisa saat ini tidak cukup untuk menghidupi mereka berdua.

"Cup... Cup... Cup... Jangan menangis sayang, Eomma tidak tahu harus berbuat apa agar Jeno berhenti menangis,"

Doyoung mencoba membujuk Jeno agar mau menyusu kepadanya dan menghentikan tangisannya tetapi semua itu tidak berhasil, ia tidak tahu mengapa Jeno tidak mengentikan tangisannya hingga sekarang. Air mata telah tergenang di pelupuk mata Doyoung.

"Doyoung, Jeno kalian di mana?"

'Suara ini... Tidak, tidak mungkin. Jaehyun-ssi sudah kembali ke Seoul kemarin lusa, jangan berhalusinasi Kim Doyoung.' Doyoung mencoba menepis pikirannya.

Grep

"Syukurlah kalian selamat,"

"J-jaehyun-ssi?" Tanpa Doyoung sadari air mata yang sejak tadi menggenang akhirnya jatuh juga, Jeno sudah menghentikan tangisannya.

"Ya, ini aku," Jaehyun mengelus punggung Doyoung yang bergetar.

"Ja-jaehyun-ssi, rumahku sudah- hiks." Pertahanan yang dibangun Doyoung sejak tadi akhirnya runtuh juga.

"Sstt... Sstt... Tenanglah aku di sini bersamamu, kalian berdua akan baik-baik saja. Kali ini menurutlah, ikutlah denganku ke Seoul Doyoung-ssi," Jaehyun mengelus rambut Doyoung, jika boleh jujur saat ini Doyoung merasa aman, nyaman dan terlindungi akan hadirnya Jaehyun.

"Jeno-ya, apa kau baik-baik saja? Kau tidak menangis? Jagoan paman memang hebat." Jaehyun mengambil alih Jeno dari gendongan Doyoung.

"Sebenarnya ia sejak tadi tidak berhenti menangis hingga akhirnya kau datang Jaehyun-ssi." Jelas Doyoung kepada Jaehyun. Doyoung sudah kembali tenang, ia menghapus air matanya.

"Wah, apa itu artinya kau merindukan paman?" Jaehyun tersenyum bahagia karena bayi itu membalas perkataannya dengan sebuah senyuman, Jaehyun juga bisa melihat jejak air mata di pipi bayi itu.

"Jadi, bagaimana Doyoung-ssi? Ikutlah denganku, kau tidak memiliki apa-apa lagi di sini." Jaehyun kembali memberikan tawarannya kepada Doyoung, kali ini ia sangat yakin bahwa Doyoung akan ikut dengannya.

"A-apa kami tidak merepotkanmu nanti, Jaehyun-ssi?" Doyoung menundukkan kepalanya, ia tidak berani menatap Jaehyun. Jika boleh jujur, orang pertama di pikiran Doyoung setelah terjadinya gempa adalah Jaehyun, entah mengapa ia berharap Jaehyun berada di sisinya saat itu juga dan tuhan mendengarkan isi hatinya.

"Tentu saja tidak, Ayah dan Ibuku juga akan senang melihat kalian," Tanpa sadar Jaehyun menyeringai.

"Apa?"

"Ah, tidak. Bukan apa-apa." Jaehyun menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.

"Jaehyun-ssi, bagaimana kau bisa ke sini? Bukankah jalur transportasi sudah di tutup sementara?"

"Aku memakai Jet pribadi milik Ayahku. Saat aku melihat berita tanpa berpikir panjang aku langsung meminjamnya dan Ayah juga menyuruhku untuk membantu korban-korban gempa, kami telah membawa beberapa makanan dan pakaian untuk mereka semua." Jelas Jaehyun yang diikuti oleh anggukan dari Doyoung. Doyoung tersenyum akhirnya Jeno bisa tertidur di dalam gendongan Jaehyun.

"Bagaimana jika aku mengantarkan kalian ke Jet terlebih dahulu, lalu aku akan membantu para relawan sebentar, setelah itu kita kembali ke Seoul." Jaehyun melangkah terlebih dahulu dengan Jeno di dalam gendongannya, diikuti oleh Doyoung yang berusaha menyamai langkah Jaehyun.

"Jaehyun-ssi, terima kasih untuk semuanya."

Tanpa mereka sadari, sejak tadi banyak pasang mata yang melihat interaksi mereka yang seperti sebuah keluarga. Bahkan sepertinya mereka juga melupakan awak media yang juga sejak tadi membidik mereka.

.

.

TBC

.

.

Pertama-tama, maaf karena lamaaa banget updatenya T.T *bow* soalnya kemaren-kemaren fokus skripsi dan sekarang aku bebas(?) xD

Thanks to: Chanyeolove, dyeongdi, takareresato26, tenbreeze, Min Milly, Yuyu arxlnn, Rimm, f lluvia, chuchuwinggum, Michelle lee, sblackpearlnim.

Maaf gak bisa bales review kalian satu-satu x'D Sesuai janji setelah sidang bakalan dilanjutin semua ff yg TBC dan yg pertama adalah ini hahaha. Maaf kalau gak sesuai harapan *bow* btw terimakasih banyak atas support dan semangat kalian semua, sidang skripsi berjalan lancar :D *curcol* *digampar berjamaah*

Sejujurnya sebagian cerita udah diketik sejak desember, kalau agak2 gak nyambung feelnya biarin aja ya xD *di hajar*

Siders? Review please~~~