Disclaimer : Masashi Kishimoto-sama

Author : San Yumaru

Main Cast : Sasuke.U

.

.

.

::::::DONT LIKE DONT READ::::::

.

.

Chapter 4#

Seorang pria terngah termenung di dalam mobil mewahnya, bisa dilihat dari wajah suntuk yang ia lemparkan kearah jendela mobil, dia pasti sangat kesal. Pria berkacamata hitam itu terus menatap keluar jendela sejak berangkat dari Kyusu tadi siang, menatap jalanan yang memang tidak begitu ramai.

"Ingin wine Sasuke?" Tawar Karin sambil menyodorkan segelas wine ke arah boss besarnya. Sebenarnya ia ragu menawarkan wine ini karena sejak keberangkatan ke Kyusu bossnya selalu bad mood, tapi apa salahnya mencoba mencairkan suasana.

Pria yang di panggil Sasuke itupun hanya diam, dia sama sekali tidak menanggapi ucapan Karin yang menawarkannya wine tadi. Dia terlalu sibuk berkutat dengan pikirannya yang tidak karuan.

Dengan sebal Karin menghela nafasnya kasar. "Aku tau ini melebihi jadwal, tapi bukannya kau dapat jackpot? Biasanya berapa lamapun kau pergi bertugas kau tidak pernah seperti ini?" Rutuknya lalu meminum wine yang tadi disodorkan untuk Sasuke.

"Dua bulan bertugas diluar kota? Terpaksa home schooling untuk memenuhi pendidikanku. Memang waktu yang tidak terlalu lama mengingat aku pernah izin selama delapan bulan. Tapi, aku tidak mau baka aniki itu terus bersama bayiku. Bisa-bisa Sasura menganggap Itachi baka sebagai ayahnya" Sahut Sasuke datar, berkomentar panjang lebar melebihi batas kewajarannya. Biasanya Sasuke menjawab pertanyaan dengan sangat singkat.

"Hmmm... Umur Sasura baru tiga bulan Sasuke, dia pasti tidak akan menganggap Itachi-nii sebagai ayahnya. Ayolah, jangan cemburu seperti itu" Ujar Karin mencoba mencairkan suasana yang dingin ini.

Drrrrttt...Drrrttt...

Suara ponsel Sasuke bergetar di saku jasnya. Segera saja ia raih ponsel berwarna dark blue itu dan melihat siapa yang menelfonnya.

Darui calling...

"Hn?" Sasuke mendahulukan menyapa. Errrr.. mungkin lebih tepat disebut sahutan tak jelas.

Terdengar suara kekehan kecil dari orang di sebrang sana, munggkin geli mendengar sahutan Sasuke. "Sepertinya moodmu buruk Sasuke, padahal aku punya berita bagus" Kata Darui yang kembali terkekeh kecil.

"Apa kau sudah menemukannya?" Tanya Sasuke cepat, ia tidak mau membuang waktu lagi.

"Sebenarnya belum menemukan.. Tapi aku melihat wanita di foto itu-"

"Dimana?!" Potong Sasuke cepat.

Darui kembali terkekeh kecil, "Sabar, sabar tuan Uchiha, kau ini memang tidak sabaran. Tadi anak buahku melihatnya, di kota Oslo, Norwegia. Tapi entahlah, apa dia masih di sana. Menurut anak buahku, dia mengunjungi Radium Oslo Hospital bersama seorang pria asing. Anak buahku juga tidak dapat mengindetivikasi siapa pria yang bersama wanita itu, tapi katanya wanita itu sangat cantik namun kelihatannya sedang dalam kondisi sakit. Dan setelah diselidiki, kabarnya, none, alias tidak ada." Jelas Darui dengan nada serius.

Terlihat raut kesal sudah menghiasi wajah stoic Sasuke. Apa pria yang bersamanya itu kekasih- mantan kekasih tepatnya, yang menyebabkan Sakura meninggalkan Sasuke. Lalu apa maksudnya Sakura tidak bisa menjaga Sasura, padahal dia sedang bersenang-senang dengan pria lain di luar sana. Apa Sakura sengaja mengirim Sasura untuk melepas tanggung jawabnya. Kalau benar, entah apa yang akan Sasuke lakukan jika bertemu dengan wanita itu.

"Hallo? Kau masih disana Uchiha? Hallo?"

"Aku transfer uangnya ketika sampai Tokyo!"

Flip!

"Ada apa Sasuke?" Tanya Karin ketika melihat wajah Sasuke begitu frustasi.

"Dia-, terlihat di Oslo" Jawab Sasuke singkat sambil mengacak-ngacak rambutnya, Sasuke masih mendengar ucapan Darui tadi.

"Apa kau akan mencarinya kesana Sasuke?"

"Tidak, semua ini sudah cukup. Mungkin dia akan mendatangiku sendiri, untuk menemui Sasura.."

"Ya, mungkin Saku-"

"Jangan sebut namanya!" Bentak Sasuke, membuat ucapan Karin tadi tercekat di tenggorokannya. "Jangan berani kau sebut nama itu!" Tambah Sasuke yang masih berteriak.

Karin hanya bisa diam, ada keringat dingin yang mengucur di dahinya. Baru kali ini Sasuke berteriak seperti itu, terakhir Karin ingat Sasuke berteriak seperti itu saat kehilangan Sakura.

Dengan erat, Sasuke mencengkram dadanya yang terasa sakit. Entah kenapa tiba-tiba memory menyakitkan itu berputar di kepalanya. Tentang kenangannya bersama Sakura, masa bahagia mereka, dimana mereka masih berkelut dengan cinta yang nyata. Jika saja ada cara untuk bisa menghilangkan ingatan itu, pasti Sasuke sudah lakukan sejak awal Sakura meninggalkannya, atau Sasuke akan lebih memilih tidak pernah mengenal Sakura sama sekali, dari pada dia harus menderita dengan rasa sakit yang abadi.

Dddrrrrtttt... Drrrtttt...

Ponsel Sasuke kembali bergetar. Dengan kasar Sasuke membuka ponsel flipnya itu. Sungguh ini waktu yang tidak tepat untuk mengganggunya.

"Apa!" Bentak Sasuke yang langsung mengangkat telfon tanpa melihat siapa yang sedang menelfonnya.

"Dadada...dadadaaaa...bbbrrrrtttt..." Terdengar suara ocehan dari telfon itu, dan ketika Sasuke melihat siapa yang menelfonnya.

Uchiha Itachi..00.15

"Sasura?" Suara Sasuke berubah menjadi normal, entah kenapa emosinya langsung turun ketika tau sapa yang menelponnya.

Detik selanjutnya Sasuke mendengar suara tawa dari pria kecilnya, suara tawa khas bayi yang baru bisa berbicara dengan bahasa anehnya.

Seulas senyum tipis segera menyambangi wajah Sasuke, "Kau terlihat begitu senang ya?" Gumam Sasuke, dengan emosi yang berangsur-angsur menghilang.

"Kau bisa dengar?" Segera saja suara Itachi mengambil alih suara Sasura di telfon. "Dia sudah mengeluarkan ocehannya sekarang. Aku hebatkan? Aku menjadi ayah yang baik disini"

"Ralat," Sasuke langsung mendaratkan protesnya. "Bukan ayah, tapi PAMAN!" Tegasnya dengan menekan suara di akhir kalimat.

Lalu terdengar suara lenguhan malas disana, "Baiklah kau baka otouto, terserah apa maumu. Tapi cepatlah pulang, atau Sasura akan menganggapku sebagai ayahnya" Seru Itachi yang langsung memutuskan sambungan telfon mereka. Sedangkan Sasuke hanya bisa mendecih, anikinya memang terkadang menyebalkan.

~~~~SKIP TIME~~~~

"Dimana Sasura?" Tanya Sasuke setelah membuka pintu kamarnya dengan kasar.

"Ssstttttt! Dia sedang tidur!" Bisik Itachi dengan wajah tenangnya, mengusap rambut raven Sasura yang sedang tertidur sekarang.

Sasuke menarik nafas panjang, menghirup aroma bayi yang ada dikamar pribadinya. Biasanya aroma kamar Sasuke selalu didominasi dengan roko dan Beer.

Langkah Sasuke mendekat kearah ranjang, sedangkan jari telunjuknya mengisyaratkan Itachi untuk segera meninggalkannya berdua bersama Sasura. Dan sepertinya Itachipun mengerti, tanpa membantah. Mungkin dia juga punya urusan lain.

Sepasang onyx itupun segera menerawang kearah ranjang, melihat pertumbuhan Sasura yang begitu cepat. Padahal hanya dua bulan Sasuke tidak melihat bayinya, tapi Sasura sudah lebih besar, tidak sekecil saat pertama Sasuke menerimanya.

"Apa kabarmu?" Gumam Sasuke sambil menyentuh tangan mungil Sasura. Namun sepertinya Sasura sadar akan kehadiran ayahnya, sehingga ia membuka matannya dan menggenggam tangan kekar Sasuke dengan tangan mungilnya.

"Haaahhhhh~~"

Betapa lucunya ketika bayi itu menguap, memperlihatkan deretan giginya yang belum tumbuh. Sasukepun tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk menggendong Sasura, sebelum Sasuke kembali pergi untuk mengerjakan tugas padatnya.

Chu~

Satu kecupan lembut Sasuke daratkan pada pipi ranum Sasura, sehingga membuat bayi itu tertawa girang.

"Kau senang dengan kecupanku kawan? Baiklah,"

Chu~

Sasurapun makin tertawa girang, sambil memberi respon dengan cara menarik rambut Sasuke. Sedangkan Sasuke hanya tersenyum simpul melihat senyum Sasura yang begitu damai..Sungguh senyum yang mirip dengan sang ibu.

Tuk!

Sasuke segera menoleh, begitu mendengar ada sesuatu yang membentur pintu kacanya. Langkah kakinya perlahan mendekati kaca yang menghubungkan kamarnya dan balkon. Segera saja Sasuke membuka pintu kacanya, melihat siapa yang berani-beraninya melemparkan batu kekamar seorang big boss Yakuza.

Surat?

Sasuke segera mengerutkan keningnya, ketika melihat sepucuk surat yang tergeletak di atas ubin. Lalu ia berjalan dan melongok ke bawah. Tidak ada siapapun disana, lalu apa maksudnya ini?

'Aku akan menjelaskan pada surat selanjutnya'

Entah kenapa kata-kata itu yang terbayang di kepala Sasuke. Apa mungkin Sakura yang mengirimkan surat ini? Untuk menjelaskan semuanya yang telah ia lakukan pada Sasuke? Tapi, ini sungguh tidak elit sekali.

Dengan meneguk ludah berat Sasuke akhirnya meraih surat itu, dan membukanya dengan perlahan. Sesekali ia memalingkan pandangannya kearah Sasura yang sedang mengoceh ria, sebelum ia membaca apa isi surat itu.

Kening Sasuke kembali mengerut, ketika melihat pengirim surat itu adalah Darui. Tapi setidaknya ada rasa senang ketika membaca isi surat selanjutnya. Yang memberitahu tentang informasi orang yang dia cari.

Surat itu mengatakan Sakura terus berpindah tempat, antar kota, maupun antar negara yang tidak terjangkau pantauan anggota Yakuza yang Sasuke sebar. Dengan identitas, passpor yang berbeda saat dia berpindah. Dan selalu ada seorang pria misterius yang selalu ada bersamanya. Terakhir keberadaan Sakura teridentifikasi berada di kota Oslo, Norwegia. Dengan nama passpor, Imele Darguda, dan sang pria, Fortado Perde.

Kemudian Sasuke membalik surat itu, dan menemukan beberapa lembar foto. Foto tentang wanita berambut merah muda yang sangat manis. Dia tetap manis walaupun dilihat dari kejauhan, senyumnya tetap damai walaupun tidak terlihat jelas. Lalu Sasuke mengganti satu demi satu foto yang Darui berikan. Mengamati setiap foto yang menyejukan matanya.

"Dimana dirimu sekarang?"

~( 'o')~~('o ')~

"Ada apa?" Tanya seorang wanita berambut merah muda, sambil mengerutkan keninggnya, ia terus memandang seorang pria yang tengah membongkar lemari pakaiannya.

Pria itu melirik sebentar kearah si wanita. "Kita harus pergi, Sasuke sudah menemukan lokasi kita Sakura" Lalu si pria terus memasukan semua pakaian wanita bernama Sakura itu kedalam koper dengan tergesa.

"Menemukan kita? Sejak kapan?" Sakura kembali melontarkan pertanyaannya dengan lembut.

"Dia baru mengetahuinya siang ini, namun anak buahnya sudah di kerahkan sejak lama. Bisa saja mereka berada di sini sekara-"

Tok! Tok! Tok!

Seorang baru saja mengetuk pintu apartemen pria itu dengan sangat kasar.

"Haruno-san! Buka pintu! Kami di perintahkan Sasuke-sama untuk membawamu kembali!" Teriak salah seorang anggota Yakuza, sambil terus mengetuk pintu dengan kasar.

'Sial!'

"Oneesan, bagaimana ini..." Ucap Sakura sambil menutupi tubuhnya dengan selimut, merasakan tubuhnya yang bergetar hebat.

"Buka atau kami akan mendobrak pintu ini dengan paksa!" Teriak para anggota Yakuza itu lagi.

Dengan gerakan kilat si pria segera meraih remote di atas meja, menekan tombol open untuk membuka salah satu ruangan rahasia yang ada di belakang tv lcd supernya. Tidak sia-sia ia menghabiskan uang milyaran dolar untuk merancang ruangan rahasia itu.

Suara dobrakan sudah terdengar membentur pintu apartemen. Si pria tak ingin membuang-buang waktu, ia langsung mengangkat tubuh Sakura dari ranjang dan berlari kearah ruangan rahasia yang sudah terbuka. Kemudian segera menutupnya rapat-rapat.

BRAK!

"Semua berpencar!" Intrupsi salah seorang yang memimpin pencarian ini. Pria berambut orange yang di ketahui bernama Jugo, salah seorang panglima anggota Yakuza devisi lima.

"Kosong, mereka melarikan diri!" Seru anggotanya, setelah beberapa menit mengobrak-abrik apartemen yang benar-benar kosong ini.

Lalu Jugo membuka ponselnya, untuk melaporkan pencariannya pada sang boss besar Darui. "Apartemen kosong boss. Sepertinya mereka sudah mengetahui keberadaan kita sejak awal" Lapornya.

"Cari mereka, jangan sampai lepas. Sasuke-sama sudah menjajikan sebuah pulau di Monhaken sebagai bayaran pencarian ini. Kalau bisa kau cari sampai kepelosok! Mengerti!" Ujar Darui yang entah kenapa begitu emosi. Mungkin karena hadiah yang di berikan Sasuke jika dia berhasil. Atau entahlah.

"Baik boss!" Kemudian Jugo kembali mematikan ponselya.

"Semuanya, kita cari ketempat lain!" Perintah Jugo cepat, kemudian diikuti oleh anak buahnya yang mulai meninggalkan apartemen si pria.

"Aku takut nii-san..." Desis Sakura sambill memeluk erat tubuh kekar si pria. Melihat segerombolan orang dari lensa pengintai di ruangan itu, membuatnya sangat takut. Ia tidak akan pernah siap untuk menjelaskan semua ini kepada Sasuke.

Sedangkan si pria terus membelai surai merah muda Sakura dengan lembut, berharap agar wanita itu bisa tenang. Setelah dirasa Sakura cukup tenang, pria itu mulai menyalakan lampu.

"Ini, foto Sasura pada tiga bulan terakhir ini. Dia lucu bukan?" Ujar si pria sambil menyodorkan beberapa foto kearah Sakura.

"Dia, dia sangat lucu.." Gumam Sakura pelan, sambil terus memperhatikan tumbuh kembang Sasura di foto itu. Betapa ia sangat rindu pada bayi kecilnya. "Darimana kau tau mereka akan kesini?" Tanya Sakura tanpa mengalihkan pandangannya dari foto-foto Sasura yang sedang ia pegang.

"Kau tau, setelah mendengar kabar itu aku langsung terbang dari Jepang ke Norwegia. Untunglah jadwal pesawat dadakannya cepat. Karena aku tidak bisa memakai pesawat pribadiku, atau Sasuke akan tau" Jawab si pria santai, sambil membereskan sesuatu yang ada di dalam koper Sakura.

"Lalu sekarang, apa yang akan kau lakukan? Pasti Sasuke-ku-san, sudah menyebar seluruh anak buahnya di Oslo kan?"

"Kita akan pergi ke Stockholm, Swedia. Ada batasan organisasi Yakuza disana. Kita akan aman Sakura, kau tidak perlu khawatir" Jawab si pria dengan senyum lembutnya, lalu memberikan sepasang passpor untuk Sakura. "Namamu, Verneta Kueshi. Jika keadaan memburuk aku sudah membuat passpor ke Dubai."

"Terimakasih nii-san sudah mau membantuku.."

"Jadi kapan kau akan menjelaskan ini pada Sasuke?"

"Entahlah, mungkin aku tidak akan menjelaskannya."

Si pria sedikit mengeryitkan dahinya. "Kenapa?"

"Aku takut dia tidak bisa menerima penyakitku. Biarlah Sasuke menyangka aku seorang wanita jalang" Jawab Sakura, dengan kepalanya yang tertunduk dalam.

"Aku mengerti, mungkin kau butuh lebih banyak waktu untuk menjelaskan semuanya. Tapi yang terpenting, kau tenangkan dirimu sendiri. Mungkin lain waktu, kalau Sasuke pergi, aku akan membawa Sasura menemuimu." Jelas si pria dengan senyum yang begitu menenangkan, kemudian memeluk Sakura dengan lembut. Membelai tiap helaian surai merah muda itu penuh perhatian, hingga Sakura takhirnya terlelap di dekapannya.

TBC