Seminggu menjelang hari H diisi dengan cek packing. Tiap ekskul dicek kelengkapan barangnya agar tak lupa.
"Selesai semua?"tanya Neji.
"Selesai!"sahut Naruto.
"Bukan kau yang ditanya, Dobe."
"Jangan ikut campur, Teme!"
"Ada beberapa barang yang kurang,"ujar Gaara."Sudah dibuat list."
"Email padaku atau Tenten,"kata Neji membuat Gaara mengangguk.
"Kami pergi dulu, sumimasen,"pamit Neji bersama Sakura berlalu dari ruang Kendo itu.
Gadis itu menatap punggung Neji yang semakin lama semakin memudar dalam penglihatannya.
"Utakata-senpai!"ia berbalik memanggil seniornya yang sedang berlatih bersama Itachi. "Aku ikut latihan, ya?"lanjutnya bergabung dengan dua lelaki itu. Disusul Kiba, Naruto, dan Chojuro. Meninggalkan Gaara dan Sasuke.
"Kau melihatnya?"tanya Gaara pelan, membuat Sasuke menoleh.
"Dia, sangat unik,"lanjut lelaki beriris jade itu. "Sudah lama aku ingin katakan ini padamu, Sasuke. Ia sangat membutuhkanmu."
Sasuke yang tak menjawab hanya menaikkan sebelah alisnya tak mengerti.
"Apakah kau sadar? Ia melihat Neji dengan cara yang berbeda. Ia juga memendam banyak luka jika melihat Neji dan Sakura."
"Aku tak peduli,"sahut Sasuke singkat.
"Bohong jika kau tak peduli padanya, Sasuke. Kau sudah menyukainya tepat pertama kali kalian bertemu,"Gaara tertawa hambar. "Ia juga
sama."
"Tidak,"elak Sasuke datar.
"Aku juga sempat mengelak sepertimu, teman. Ia langsung menceritakan kegelisahannya padamu waktu itu, dan kau menerima tangisnya dengan sukarela. Ia merasa senang dengan adanya dirimu."
Sasuke ingat, Tenten memang tanpa beban menangis di sampingnya waktu itu.
"Kau ingat? Dia bilang bahwa aku menganggap apapun yang ia katakan, lakukan, dan pikirkan adalah salah. Aku sudah jadi terlalu buruk di matanya, kau tidak tahu seberapa busuknya suffix 'kun' yang ia gunakan itu. Karena kami tak akrab sama sekali. Aku ingin melindunginya, aku ingin membuatnya tak lagi menyukai Neji. Tapi, siapa aku di mata Tenten?"lelaki itu tersenyum pahit.
Seperti sebuah pukulan kencang menimpa dadanya sesaat. Ia tak tahu kenapa, tapi seperti ada rasa kecewa mengetahui teman perempuannya itu menyukai Neji.
"Bisakah kau menjaga Tenten untukku? Lepaskan ia dari bayang - bayang Neji, Sasuke,"ucapnya menepuk pundak Sasuke.
"Masa bodoh,"ucap Sasuke malas seraya meninggalkan ruangan itu tanpa pamit.
"Tenten tak lebih dari seorang gadis bodoh yang tak bisa melupakan Neji."
"Tenten tak lebih dati seorang gadis lemah yang selalu bergantung pada Neji,"maki Sasuke seraya berjalan kemana pun kakinya mau melangkah.
Ia sangat terpukul.
Rasanya amat berat di tenggorokannya.
Tenten keluar dari ruang Kendo, di hadapan, matanya menangkap Neji duduk sendiri. Banyak kertas berserakan di sekelilingnya. Ia tertawa lumayan lepas, wajah lelaki itu seperti kebingungan.
Kakinya menuruni koridor hendak menghampiri lelaki itu, namun sebuah tangan menahannya.
Tenten menoleh, ia mendapati Sasuke di belakangnya.
"Kau membuatku kaget,"ucap gadis itu.
Sasuke tak menjawabnya, menatapnya pun tidak. Matanya fokus menatap tajam Neji di seberang, gadis itu ikut memandang apa yang Sasuke pandang.
Neji masih dengan wajah kebingungan yang sama, lalu keduanya melihat lelaki itu berbalik dan seperti memanggil seseorang.
Tak lama, Sakura datang sambil tertawa. Neji menjitak kepala gadis itu dan menyerahkan banyak kertas padanya. Gadis pink itu tertawa melihat ketua OSIS itu pusing mengerjakan proposal, sementara Neji di sana masih berkutat dengan kertas lainnya.
Sasuke melepas tangan gadis itu seraya tertawa remeh.
"Kau tak perlu repot membantunya, ia punya Sakura. Ia tak butuh kau."
Tenten bungkam, lalu kemudian ia menjawab,"Memang apa salahnya membantu?"
"Kau punya tujuan lain."
"Kau tidak bisa membaca pikiran orang lain, Sasuke-san."
"Kau punya tujuan lain, yaitu merebut kekasih orang lain. Benar?"Sasuke tersenyum remeh menatap dalam gadis itu. "Aku tak tahu ternyata kau semenjijikan itu."
Gadis itu merunduk menyembunyikan kekagetannya.
Lagi - lagi ia dengar Sasuke tertawa remeh,"Berapa lama kau menjadi iblis dibalik topeng sucimu, Tenten?"
Air mata mengalir di pipinya tepat kala ia memejamkan matanya
"Pembohong besar,"pancing Sasuke lagi.
"Kau tidak mengerti,"ucap Tenten parau.
"Omong kosong. Kau sangat menjijikan."
Gadis itu menangguk,"Aku juga tak ingin seperti ini, percayalah. Bukannya mudah melupakan Neji, Sasuke-san. Dia sangat sempurna."
"Neji itu teman baikku Sejak kami masih di panti. Oh bukan, dia anak pemilik panti kami. Kami anak panti sangat menghargainya, tiap kali minum ocha, miliknya selalu lebih banyak dan hangat. Ia sering berkunjung, kami juga menyambutnya hangat."
"Waktu itu aku masih 7 tahun, kelas 2. Kala itu, setiap Neji datang, aku selalu lebih bersemangat. Dia orang yang baik,"gadis itu tersenyum dengan wajah penuh jejak air mata, seraya memerhatikan Neji di seberang sana."Keluarganya membiayai sekolah anak panti termasuk aku, mereka sangat berwibawa. Untuk menunjukkan rasa terimakasihku, aku bersikap baik pada Neji. Neji selalu ada pada saat yang tepat, selalu. Kami jadi teman dekat, sangat dekat,"lanjutnya.
"Aku tak pernah bisa menghitung berapa banyak hal manis yang kami lalui."
"Kami tumbuh sama - sama, aku memanggilnya dengan suffix 'kun' waktu itu. Ibu Neji yang memintaku begitu. Sejak kecil Neji sudah cerdas, maka dari itu aku terinspirasi untuk menjadi lebih cerdas daripadanya. Mulai dari sana, kami belajar bersama. Agar apa yang ia bisa, aku juga bisa melakukannya."
Liquid bening lagi - lagi menggumpal di ekor matanya, meluncur bebas menimbulkan jejak pedih yang baru.
"Sama seperti anak panti pada umumya, aku berharap diadopsi. Namun semenjak ada Neji, aku tahu aku tak butuh orang tua. Ada Ibu Panti yang ramah, guru di sekolah, dan Neji sebagai temanku. Itu cukup, aku tak butuh apapun lagi."
"Keadaan berubah saat aku dan dia sama - sama kelas 6, keluarga Hyuuga-nya pindah ke Tokyo. Ia tak berkata banyak, ia hanya memintaku kuat. Lalu ia benar - benar pergi."
"Padahal dua hari sebelumnya, ia mengatakan ia menyukaiku,"ia tersenyum pahit. "Setahun setelahnya, sepasang suami istri mengadopsiku dan membawaku ke Tokyo. Menyekolahkan aku, dan lagi - lagi aku bertemu Neji. Ternyata waktu setahun, adalah waktu cukup baginya untuk benar - benar menghapusku dari ingatannya."
Gadis itu menggeleng dengan matanya yang basah akan air mata lagi,"Aku tak menyukai Neji lagi, sungguh. Aku tahu ia menyukai Sakura sekarang.
Aku hanya ingin ia mengingatku sebagai gadis yang pernah ia cintai. Aku juga tak rela jika ia mencintai orang lain..."
"Kau bisa menceritakan semuanya padaku, kenapa kau tak menceritakannya juga pada Neji? Ia akan mengingatmu."
"Bagaimana dengan Sakura?"tanya Tenten cepat. "Ia adalah sahabat terbaikku, sahabat terbaik yang pernah kupunya. Saat semua orang menganggapku aneh, ia datang padaku dan menawari sebuah persahabatan. Tapi pada akhirnya ia tahu bahwa kami sama - sama menyukai Neji, dan a lebih memilih menyudahi semuanya."
Ya, semua orang pernah menganggapnya aneh. Ia belum siap memberitahu alasannya.
"Itu dulu. Buka pikiranmu dan lihat sekeliling, akan ada banyak orang yang mau jadi temanmu jika kau meminta. Akan ada orang yang ada selalu ada saat kau sedih dan senang. Akan ada banyak orang yang menjadi pengganti Neji. Kau saja yang berlebihan."
Sebelum Tenten menjawab, tawa pecah Sasuke sudah mendahuluinya. Lelaki itu tertawa puas.
"Lagipula jika kau menceritakan ulang kisah kalian ini pada Neji, Neji akan berubah jadi menyukaimu, begitu? Kenapa kau takut Sakura terluka?
Apapun yang kau lakukan pada Neji, ia akan tetap menyukai Sakura. Yang menyedihkan di sini hanyalah kau. Jangan gunakan nama Sakura agar kau terdengar heroik dengan memendam luka dalam - dalam."
Gadis itu tertusuk oleh kata - kata Sasuke untuk kesekian kalinya pada percakapan ini. Ia hanya menghela nafas.
"Lagipula ini konyol,"ucal Sasuke masih dengan tawa lepasnya. "Seorang anak kelas 6 mengatakan ia menyukaimu, dan kau meyakininya sampai kau sebesar ini? Itu terdengar seperti anak kecil
menjanjikan segelimpah harta dan sampai saat ini kau masih mengharapkannya."
"Harusnya aku tak terpancing dengan kata - katamu. Aku mestinya tahu aku belum siap mengatakannya pada siapa pun, aku memberitahu ini pada
orang yang salah."
"Jauhi aku, Sasuke. Aku masih punya banyak teman yang siap bersamaku tanpa mau ikut campur dengan masa laluku,"ucapnya sebelum meninggalkan lelaki itu dalam kesunyian.
Ia terisak dalam langkahnya.
Sasuke masih berdiri di tempat itu. Tak dapat digambarkan bagaimana perasaan lelaki itu saat ini. Ia tahu kata - katanya memang sangat kasar, namun itu jalan satu - satunya agar Tenten mau bercerita dan mendengarkan nasihat orang lain.
Ia yakin apa yang ia katakan sudah benar, dan ia rasa gadis itu cukup pintar untuk memahaminya. Tenten pasti sadar diri 'kan?
Namun hal yang mengganggu pikirannya saat ini adalah..
Sampai kapan ia bisa menjauhi Tenten?
Dan...
Apa ia sudah benar - benar membuat Tenten terluka?
Sasuke mendecih dongkol,"Buat apa aku peduli. Yang penting perempuan lemah itu berubah,"dumelnya meninggalkan tempat itu.
Tenten membenarkan letak ransel beratnya, lalu dengan semangat naik ke bus yang sudah menjadi tempatnya.
Ia merunduk memerhatikan langkahnya, sampai akhirnya irisnya melihat sepasang kaki di depan kakinya. Ia melihat sosok itu dari bawah ke atas, dan ia mendapatkan wajah Sasuke tengah memandangnya aneh.
Sekejap saja Tenten hanya memandangnya tajam dan langsung mencari tempat duduknya. Ia juga mendengar derap langkah Sasuke yang semakin samar. Itu artinya ia meninggalkan bus, sejenak.
"Yo, Tenten!"
"Yo Naruto!"sapanya balik. "Ada yang masih duduk sendiri?"tanyanya, membuat Naruto mengedikkan bahu tak tahu.
"Tenten-chan!"panggil Utakata, yang dipanggil menoleh. "Sakura masih sendiri, Sasuke langsung duduk dengan Neji saat baru datang."
"Doumo arigatou Senpai!"seru gadis itu, ia berlalu dan segera mencari Sakura. Ia tersenyum pada gadis itu kala menemukannya.
"Aku di sini boleh?"
"Ah ya, tentu!"
"Arigatou..."gadis itu tersenyum seraya duduk di samping Sakura.
Awkwardnya, tak ada obrolan lain setelah itu.
Setelah semua anggota datang, baik di bus mereka maupun bus yang lain, segeralah semua memulai doa bersama. Lalu bus itu berangkat.
Satu jam pertama di perjalanan, bus masih sangat ramai. Tak perlu ditanya lagi siapa yang suka membuat suara berisik 'kan? Namun setelahnya, keadaan normal. Dan sekarang, justru Tenten merasa hanya ia menusia yang masih membuka matanya.
"Saku-"ia melirik pada Sakura yang tengah tertidur juga, kini ia berharap kantuk juga merasuki dirinya.
Ia sepenuhnya menyandarkan tubuhnya pada sandaran bangku. Ia menghela nafas, lalu hendak merogoh tas guna mencari komik. Sebelum...
Sebelum ia merasakan sesuatu berat pada bagian kiri tubuhnya, ia menoleh dan mendapatkan tubuh Sakura agak miring dan bersandar padanya. Ia tak tega membangunkannya, senyum samar sekilas terpatri pada belah bibir gadis itu. Jujur saja ia merasa berat mengingat tingginya dan Sakura sama saja, namun ia menahannya. Tak lama, ia menguap merasakan matanya agak berat. Ia mengerjap beberapa kali sebelum ia merasakan dirinya sudah benar - benar jatuh tertidur.
.
Normal POV
Tenten celigukan ke sana ke mari sembari memegangi ranselnya. Lalu irisnya mendapati Lee bersama seorang perempuan, seingatnya bernama Hinata.
"Lee!"teriaknya memanggil, ia berlari menuju lelaki berambut bob itu. Lalu tanpa ragu ia memeluknya erat.
"Aku rindu sekali padamu!"katanya seraya melepas pelukan eratnya. "Ternyata kau ikut? Kok tidak pernah ikut rapat panitia?"
"Aku diwakili Hinata-chan,"serunya menunjukkan deretan gigi bersinarnya.
"Hai, Hinata. Watashi Tenten desu,"gadis itu menjulurkan tangan yang langsung dijabat Hinata.
"Hinata. Hajimemashite, Tenten,"katanya pelan.
"Lee!"teriak Naruto berlari ke arah Lee. "Ternyata ikut ya? Setenda denganku yuk!"katanya membuat Lee mengangguk semangat.
Sapphire Naruto menoleh pada gadis yang tengah sedikit berbincang dengan Tenten. "Hinata ya? Hai."
"I-iya,"jawab Hinata gagap - gagap. "Hai."
"Kok gugup?"goda Tenten.
"Tidak kok,"elak Hinata.
Mereka semua telah menuruni bus. Para junior di sana bergidik ngeri melihat mereka sampai di tepi hutan, dan langit hampir gelap.
"Lebih lama dari ekspektasi,"gumam Neji. "Ikuti aku, semua!"lelaki itu tanpa takut menyisir hutan.
.
"Di sini,"ucap Neji, lelaki itu berbalik badan melihat seluruh peserta. "Jangan takut! Semua sudah direncanakan baik - baik! Sekarang kalian-"
WUUSSHH...
Angin berhembus sangat kencang membuat pepohonan tinggi di sana sedikit miring. Dedaunannya terdorong kuat seolah akan terlepas dari dahannya. Rambut panjang para gadis di sana berkibar. Mereka masing - masing menyilangkan tangannya sembari menunduk melindungi diri.
Tenten mengangkat sedikit wajahnya yang tertunduk.
Mereka bergumam panik, menatap takut pada sekitar. Mereka terisak dengan badan bergetar. Sangat panik, mereka terlalu panik.
"TENAAAANG! ANGINNYA TIDAK AKAN LAMA! BAGI REGU JADI DUA MASING -MASING TIGA ORANG! TIGA ORANG BANGUN TENDA YANG SUDAH DIBAGIKAN, DANYANG LAINNYA CARI PERSIAPAN KAYU BAKAR!"
"MASUK KE AREA MASING - MASING, BANGUN TENDANYA SEKARANG!"Itachi menambahkan.
Hiruk - pikuk melanda secuil wilayah dari hutan lindung yang teramat luas itu.
"Ayo Tenten,"Neji menepuk bahu gadis itu seraya melangkah cepat ke area senior, gadis itu juga mengikutinya bersama yang lain.
"Kalau hujan, kayu bakar akan basah. Kita tidak bisa membuat api unggun,"ucap Temari.
"Berdoa saja agar tidak hujan, nee-san."
"Senior putri cepat buat tenda,"perintah Utakata cepat setelah sanpai di area senior, membuat mereka mangangguk siap. "Putra sudah dibagi?"senior putra juga mengangguk.
"Kalau begitu bangun tenda lebih cepat dari junior. Neji dan Tenten punya tugas sebagai ketua putra - putri. Lalu dari maklumat Tenten, Chojuro, Gaara, Naruto, Kiba dan Sasuke punya tugas menjaga tiap area. Siap?"
"Siap!"
Angin mereda, membuat mereka sedikit lebih merasa aman. Kelima penjaga itu sudah berangkat ke areanya masing - masing sejak tadi. Termasuk dua ketua yang sejak tadi sudah membagi tugas untuk berkeliling ke tiap tenda untuk mengecek keadaan. Mereka membantu para junior itu untuk membuat api unggun kecil, atau mungkin membagikan obat - obat bagi yang sedikit terkecoh kesehatannya. Awal yang rumit. Rencana mereka adalah, Utakata dan Itachi tak perlu begitu mengambil peran. Dua senior itu kini berada di luar tenda, dekat api unggun. Membaca
buku sembari membahas soal bersama - sama.
Sisanya ada Lee, Shikamaru, Sakura, Hinata dan Temari yang tengah menjaga tendanya masing - masing.
"Oy!"Tenten berjalan bersama Neji tadi berlari menuju tendanya dan duduk di depan api unggun bersama yang lainnya. Gadis itu meletakkan telapak tangannya di atas api unggun guna menghangatkan.
"Kalian pasti lelah,"tebak Tenten pelan. "Maaf tidak membantu membangun tenda sampai selesai."
"Hanya maaf?"Temari menaikkan satu alisnya. "Tidak semudah itu, teman."
"Aku ketua, Temari. Aku punya tugas,"ucapnya.
"Apa yang kau lakukan memangnya?"
"Banyak!"ucap Tenten cepat. "Membantu membangun api unggun, membantu membangun tenda, membagikan obat, mengobati yang cedera, dan banyak lagi yang lainnya."
"Kau yakin? Kau bukannya menggoda junior putra di sana?"Temari tertawa meledek.
"Aku hanya ke tenda yang isinya putri, teman. Yang putra urusan Neji."
"Atau mungkin kau menggoda Neji?"
"Hey!"gertak Tenten. "Aku tidak seperti itu!"Tenten melipat tangannya di dada. "Aku tidak serendah seleramu."
"Seleraku?"Temari menatapnya. "Tahu apa kau tentang seleraku?"
"Seleramu itu,"Tenten memandang tenda sebelah. Dan mendapatkan lelaki yang tengah duduk di depan api unggun. "Shikamaru."
"Dia bukan seleraku tapi catat, Shikamaru itu cerdas, dia tidak rendah!"bantah Temari.
"Oh, kau membelanya."
"Hey. Jangan bawa - bawa aku,"ucap Shikamaru terdengar.
"Seleramu yang rendah. Kau menyukai Chojuro, 'kan?"tuduh Temari.
"Aku sudah menyukai pria lain tapi dengar, kau belum pernah melihat Chojuro mengayun shinai. Jadi, jangan katakan dia rendah,"gadis itu memperingatkan.
"Suka sama...siapa?"Hinata cepat bertanya.
"Niall Horan,"Tenten menggigit bibirnya tak tahan mengingat manisnya wajah Niall.
"Bertepuk sebelah tangan,"ucap Temari santai.
"Dia menyukaiku juga, kok! Iri sekali, dasar wanita berotot!"
"Manusia pedang!"
"Kuncir empat!"
"Telinga empat!"
Kedua gadis itu bertatapan tajam satu sama lain sebelum melipat tangan di dada sembari membuang muka ke arah berlawanan.
"Huh!"
Beruntung tenda mereka lumayan jauh dari tenda dua senior kelas tiga yang berada di ujung.
Sakura yang sedari tadi hanya memakan cemilannya membatin.
'Jujur saja, terkadang aku rindu bertengkar dengannya.'
.
Pukul sebelas, satu jam setelah lima penjaga itu kembali ke tenda masing - masing. Sudah sejam pula mereka tertidur, kecuali sang gadis bercepol. Gadis itu keluar dari tendanya, duduk di depan api unggun. Ia menoleh ke tenda sebelah, hazelnya menangkap Sasuke tengah melakukan hal serupa.
Ia kembali menatap api itu. Beberapa detik dalam kesunyian, dan suara gerakan dari sebelah membuatnya menoleh. Ia menangkap lelaki Uchiha itu berdiri dari duduknya, hendak masuk ke dalam tenda.
"Lucu sekali,"Tenten tertawa remeh. "Aku datang dan kau pergi."
"Kau bilang aku harus menjauhimu, ingat?"
"Arigato. Aku tak perlu mengingatkanmu-"
"Lagipula,"Sasuke menyela cepat. "Kau harus sendirian untuk merenungi kesalahanmu sendiri."
"Kesalahan ap-"
"Bersyukurlah. Rahasiamu masih aman padaku."
"Sebar saja, Sasuke. Kau pikir aku takut? Toh aku juga sudah sangat menjijikan di mata orang banyak,"Tenten menatap onyx itu. "Kau yang selalu diidolakan banyak orang, tidak akan tahu rasanya di asingkan."
"Sebelum kau ingin dimengerti perasaannya, cobalah mengerti dulu perasaan Sakura jika kau masih mencoba merebut Neji,"lelaki itu benar - benar memasuki tendanya dan meninggalkan gadis itu, sendiri.
.
"Aku rasa, ia benar."
TBC
Bales review ah~
Aosora Ryuu : Maaf baru bales review kamu sekarang, yaaa ^^ Baru muncul setelah Nuar up, hehe :v Padahal udah masuk ke email, saya pikun memang :v Iya makasih ya sudah baca dan review ^^ Amin deh ceritanya bagus, padahal labil banget ini fic :v Ini nih udah up lagi, semoga kamu suka ^^ Maaf selalu lama up, Nuar tidak dilengkapi fasilitas seperti author lain soalnyaa :'v
Furasawa99 : Iyak congrats banget loh Fur kamu kuat melawan WB. Cie cie The Chaser udah fin, mau ada season duanya huyeeey ^^ Ditunggu loh! Eh iyak makasi! Kamu teliti banget, makasih aduh senpaaai. Iya gatau itu kalimat - kalimat pada terlintas gitu aja :v Amin deh kalo lucu :v Makasih Furaa sarannyaaa. Makasih juga sudah baca dan review ^^ Ini sudah up, semoga suka yak ^^
Leny-chan : Belom :v Belom move on dia, terlalu setia yak sepertinya :v Iya yak manis, jadi kayak OOC si Tenten :v Tenten pan aslinye tomboy, apa terlalu feminim Tentennya di sini? Huhuuuu semoga tidaaak Nuar mau meluk kamu rasanya. Tiap chap pasti review, tiap fic Nuar kamu ada! Bahkan di Found my destiny yang super gaje itu kamu adaa XD Kamu baik banget! ^^- Ya orang kalo udah mikir seseorang itu ga penting, pastinya dilupain. Apalagi udah ada penggantinya. Aduh perih banget kayak nasib Nuar :'v Suatu saat akan kuungkap :v Sakura cantik tau :v Eye smile biar akrab kali :v Gatau tuh authornya gila :v Iya Leny-chan makasih udah baca dan review. Ini sudah up ^^ Maaf terlalu lamaaa up nya. Pasti aku bikin kamu kecewa Semoga chap ini bisa mengobati ^^
yamanaka tenten : Oy oy Yamaten-shine :v Wkwkwkwk :v Dan akhirnya kamu menyesal baca ini :v Fict ini sungguh gaje membuatku ingin mengissu Sasuke :v *ganyambung Ketauan banget demen yaoi yak di awalnya :v Mana Tentennya nosebleeds apaan sih lu Nuar -" Syukurlah kalau lucu ^^- Di sini Tenten yang jahat :v Labil banget 'kan? Awalnya Nuar mau bikin dia jadi sangat mulia, eh malah Nuar jatohin dia -" Iyak. Jangan berantem mulu sama Tenten, Nuar ga tega ngetiknya huhuuu :"" Makasih buat kamu mah bes fren Yamaten-chan! Sama seperti Leny-chan, kamu juga selalu hadir di fict Nuar ^^ Kamu baik banget. Makasih ya udah baca dan review. Sukses juga buat kamu! ^^ Ini sudah
up, semoga suka ^^
Name Nights : Iya. Aslinya Tenten juga pinter sih kalo kata aku. Kunoichi tercepat di angkatannya, keakuratan 10/10 :v Gimana ga keren itu idola Nuar :v Makasih yaa udah baca dan review, ini sudah up. Semoga suka ^^
Pandaman23 : Iya! Makasih sudah berusaha review ^^ Berarti browser kamu baik, dia ga mau kamu review di fic labil kayak gini :v Waah sampe melting? Amin deh ^^- Iya, Nuar cuma mencoba nambahin otp Tenten. Kita lepas Neji sejenak untuk gadis lain :v Sejenak aja! Neji cuma buat Tenten :v Iya makasih, walau up lama, kamu masih mau baca, makasih yaa ^^ Aku nggak WB, hanya saja, aku ga punya media. Aku cuma sekadar ngetik di hp, kalo udah kirim via email, terus ke warnet buat revisi semuanya di warnet. Baru up. Itulah kenapa Nuar jarang up, Nuar ga bisa terus - terusan ke warnet. Hp juga jadul kaga bisa pub di hp :" Sedih emang, tapi ini mengejar impian :v Iya memang! Review kamu dan semuanya selalu bikin Nuar ga mau ngecewain kalian. Jadi makasih yaa udah baca dan review ^^ Semoga kamu suka chap ini ^^
Ran Megumi : Ah iyak Senpai slow :v Kamu mampir chap ini aja Nuar jingkrak - jingkrak uyey :v Semoga ga OOC yaa Sasukenya Ngerinya ini terlalu fluff. Tapi Nuar sudah hancurkan kemanisan SasuTen huahahahaa *ketawa jahat Iyak jahat emang. Sudah ketauan yaa di chap ini perasaan Gaara gimanaa :v Orang ketiganya Nuar :v Iya sama - sama. Senpai juga makasih udah baca dan review jugaaa :" Ini sudah up. Semoga ini panjang dan semoga Senpai sukaa~ ^^-
Fiuh~ Sudah dibalas semuaaa ^^ Sudah dulu. Terimakasih sudah baca dan jangan lupa review yak :v Review 'next' aja juga boleh :v *ngemis* See you, minna! ^^-
MAMPIR DONG KE FAKE OMIAI :v
