.

.

###

NEKOYA!

Chapter 3 – It's On

Park Chanyeol (21 th.) & Byun Baekhyun (28 th.)

###

.

.

"Chanyeol-ah~" Jongdae masuk ke dalam kamar flat Chanyeol dengan senyum terlampau lebar, langkahnya ringan menghampiri sang sahabat yang duduk di sofa. "Maaf ya, aku baru kembali. Tapi dengar, tadi aku bertemu Kim Taeri di minimarket! Kau percaya itu? Sebagai penggemar sejati, tentu saja aku—" Namun ucapannya segera terhenti ketika menyadari ekspresi keruh Chanyeol. Melihat sekilas saja Jongdae bisa tahu bahwa Chanyeol sedang jengkel pada seseorang. Dan seseorang itu mungkin saja dirinya. "Y–yak, aku tidak pergi terlalu lama, kan?"

"AKU TIDAK PEDULI SEBERAPA LAMA KAU PERGI, UNTA KOREA!"

Jongdae refleks memegang dadanya karena suara Chanyeol yang stereo itu. Hell, jika saja pria jangkung itu tidak sedang bad mood, sudah Jongdae pukul keras kepalanya.

"L–lalu, kenapa wajahmu ditekuk begitu?" tanya Jongdae, antara berusaha sabar menghadapi tingkah aneh Chanyeol dan menenangkan jantungnya yang hampir copot.

"Aku sudah sedikit ini untuk mengakrabkan diri dengan Baekhyun-ku," Chanyeol membuat ukuran kecil dengan jari telunjuk dan ibu jarinya. Ekspresinya yang sudah kusut itu semakin kusut karena teringat kejadian menyebalkan setengah jam yang lalu. "Tapi si Yoonbin sialan itu malah mengganggu momen kami!"

Alis Jongdae terangkat sebelah. "Yoonbin? Maksudmu Ha Yoonbin?"

"Ya mana kutahu! Pokoknya dia muncul begitu saja dan tahu-tahu mengajak Baekhyun-ku pergi! Benar-benar membuatku kesal!" Chanyeol mencak-mencak lagi. Sementara Jongdae hanya bisa menghela napas.

"Oke, oke, tenanglah. Aku yakin kau hanya salah paham saja. Yoonbin itu bukan siapa-siapanya Baekhyun Hyung kok."

"Kenapa kau bisa yakin? Memang kau mengenal pria itu?"

"Tentu saja kenal, dia juga tinggal di sini—"

"APA?!"

"Ya, tapi mereka sungguh tidak memiliki hubungan apa pun. Mereka dekat karena Yoonbin bekerja di bengkelnya Baekhyun Hyung. Itu saja."

Chanyeol memicingkan matanya. Ia baru tahu Jongdae punya banyak informasi penting. "Apa yang kau tahu tentang mereka, hah?"

Seketika bulu kuduk Jongdae merinding. Kenapa tiba-tiba firasatnya jadi tidak enak begini?

"Um..hanya sedikit. Kenapa?"

Seringaian Chanyeol terbentang lebar saat sebuah ide brilian terlintas di benaknya. "Hey, kau mau pesan pizza? Ini akan menjadi pembicaraan yang panjang~"

"Hyung?" Yoonbin memanggil Baekhyun sesaat setelah kopi pesanan mereka diantarkan.

"Hm?"

"Siapa pria tadi?"

"Maksudmu Park Chanyeol-ssi? Dia penyewa baru. Kenapa?"

"Tidak ada, hanya saja.." Yoonbin menjeda sejenak. Baekhyun masih nenanti sambil mengaduk-aduk strawberry smoothie-nya. "Kupikir kau harus berhati-hati padanya."

Dahi Baekhyun refleks mengerut. "Memang kenapa?"

Yoonbin mengedikkan bahu. "Entahlah, aku merasa ada yang aneh dari caranya menatapmu."

"Maksudmu?"

"Seperti..dia sedang mengincarmu."

Baekhyun mencibir. "Kau itu selalu saja begitu setiap kali aku berkenalan dengan seorang pria."

"Tapi aku punya firasat kuat untuk yang satu ini, Hyung! Apa kau tidak sadar dia mendelikku saat aku menjemputmu?"

"Itu hanya perasaanmu saja, Yoonbin-ah. Jangan berlebihan, oke?"

"Aku bukan berlebihan, Hyung. Aku melihatnya sendiri."

"Orang-orang yang melihatmu untuk pertama kali juga berpikir kau bukan orang yang ramah, tapi sebenarnya itu tidak benar, kan?"

Yoonbin mencebik. Ia benci saat kalah berdebat dengan pria mungil itu. "Terserah. Tapi aku akan tetap mengawasi si Park Chanyeol itu."

"Yak, daripada mengawasinya, kau awasi saja Yeongue-mu. Salah-salah, nanti malah ada pria yang mendekatinya karena kau terlalu fokus pada Chanyeol-ssi. Yeongue kan banyak yang suka." goda Baekhyun. Dan itu berhasil menghasilkan rona samar di pipi Yoonbin.

"Berhenti mengatakan hal yang tidak-tidak, Hyung."

Baekhyun terbahak dibuatnya. "Aigoo~ kau manis sekali saat mengkhawatirkan kekasihmu, Yoonbinnie~"

Detik berikutnya Yoonbin mendengus keras.

Baekhyun baru saja hendak menghempaskan tubuhnya di kasur untuk melepas lelah, tapi ketukan di pintu kamar membuatnya kembali berdiri. Sosok Chanyeol berdiri di sana saat Baekhyun membuka pintu itu.

"Chanyeol-ssi? Ada perlu apa?" tanya Baekhyun.

"Tidak ada, aku hanya ingin bertemu denganmu dan.." Chanyeol memamerkan senyum tampannya di antara jeda kalimatnya. "Mungkin aku bisa menawarkan sesuatu?"

"Sesuatu? Apa itu?"

"Seperti.." Chanyeol tiba-tiba menggenggam tangan Baekhyun, lalu mendaratkan kecupan di punggung tangannya. "Mengajakmu berkencan?"

Dalam satu nanodetik, Baekhyun membeku di tempat.

TBC