"Dimana posisinya?"

"Perkiraannya 15 menit lagi mereka akan sampai, Tuan"

.

.

I'm sorry cause i love you

.

.

Jungkook terbangun di sebuah ruangan kecil─ mungkin berukuran 4x4 meter, dengan keadaan yang cukup mengenaskan.

Tangan dan kaki yang terikat erat pada kursi, dan tubuh yang penuh lebam akibat pemberontakannya kemarin.

Ya, kemarin saat ia hendak menyebrang, sebuah mobil van hitam berhenti tepat di depannya. Tak menunggu lama keluarlah beberapa orang ─Jungkook tak ingat jelas berapa orang, yang menghajarnya membabi buta. Jungkook bisa saja melawan semuanya jika saja sebuah jarum suntik berisikan obat bius tak menusuk tubuhnya. Dan dalam hitungan detik ia pun terkulai lemas.

Dan disinilah ia berakhir. Ia tidak tau berada dimana sekarang ini. Jungkook melepaskan diri dari ikatannya secara perlahan, sekaligus berpikir bagaimana caranya ia keluar dari tempat ini sedangkan hanya ada ventilasi kecil dan itu tak mungkin muat debgan tubuhnya yang err orang-orang bilang semok.

Namun semua pergerakan dan rencana ekstrim Jungkook akhirnya harus kembali ia simpan terlebih dahulu, karena seseorang dengan jas hitam bermerk mahal ─ya begini-begini Jungkook tau cara membedakan barang ber-merk dan murahan, memasuku ruangannya.

Lelaki itu hanua berdiri di dekat sebuah lemari tua, lalu membukanya. "Apa kau tau alasan kau dibawa kemari?"

Jungkook membeku, ia tahu suara ini tapi ia buang jauh-jauh pikirannya. Mungkin hanya mirip.

Bunyi sebuah cambuk yang di pukulkan ke lantai menyadarkan Jungkook dari pemikirannya. "Setelah sekian lama. Aku mencari dan ternyata─"

Jungkook mengeratkan pegangannya pada kedua besi kursi tempatnya diikat, saat lelaki itu menghampirinya. Dan mencengkram rahangnya erat.

Sakit.

Tapi hatinya lebih sakit.

Karena lelaki di depannya, yang kini mencengkram rahangnya erat.

Adalah sosok yang sangat ia cintai.

Tanpa sebab.

Hingga ia merelakan semua miliknya demi lelaki itu.

Ia adalah,

Kim Taehyung.

"─pembunuh ayahku, ada di dekatku. Selalu ada di mana-pun aku ada. Benar?" ucapnya penuh amarah, dan penekanan pada kata 'pembunuh ayahku'.

"Lalu apa maumu?" tanya Jungkook datar meski ia sedikit kesulitan untuk berbicara.

Taehyung melepaskan cengkramannya secara kasar, dapat ia dengar sedikit ringisan dari Jungkook. Tapi toh dia tidak akan peduli. Taehyung tahu, Jungkook menyukainya. Semua terlihat dari tingkah stalker yang anak ini lakukan padanya. Ia tahu tapi dia diam atau lebih tepatnya tidak peduli.

Ia pernah mendengar curhatan Jungkook tentangnya pada Irene, teman sekelasnya yang katanya sangat popular. Tapi ia hanya menghiraukannya bagai angin lalu.

Ia juga pernah mendengar adik kelasnya ini menangis akibat kemesraannya dengan Jimin, tapi sekali lagi ia tidak peduli.

Karena Jungkook hanyalah orang ketiga dalam kisah cintanya. Pemeran yang tidak teranggap. Pemeran yang terbuang.

"Aku?" Taehyung tertawa hambar, "Aku hanya ingin meringankan bebanmu, karenabaku tahu mencintaiku pasti sesakit itu, benar?"

Dan Jungkook hanya tersenyum kecut, "Ya itu benar, lalu katakan apa maumu brengsek!"

PLAKK

Taehyung menampar Jungkook keras, "AKU INGIN KAU MATI SEPERTI AYAHKU! APA KAU PUAS HAH?!"

Jungkook yang sudah kebal akan rasa sakit di pipinya-pun menatap mata Taehyung tajam. "Bunuh aku"

Taehyung terdiam.

"BUNUH AKU JIKA ITU MAUMU KIM TAEHYUNG!"

Air mata Jungkook mulai menetes, tanpa isakan. Hanya air mata itu saja yang jatuh menandakan hatinya sungguh sakit.

"Aku lelah... Aku lelah mencintaimu Kim Taehyung. Aku juga lelah menjadi budak seks hanya karena ingin melindungimu. Aku lelah... Aku kotor... Aku penuh dosa... Kumohon... CEPAT BUNUH AKU KIM TAEHYUNG!"

Taehyung terkejut. Ini pertama kalinya ia mendengar seorang Jeon Jungkook yang manis dan polos di sekolah mengeluarkan semua emosinya. Seakan ia tak dapat menahan semuanya. Entah mengapa ia merasakan sakit di hatinya, tapi ia tutupi semua itu dengan berjalan cepat menuju lemari dan mengambil sebuah pistol dan mengisinya dengan peluru.

"Maafkan aku" ucap Taehyung, tapi Jungkook masih dapat mendengarnya karena hanya ada dia dan Taehyung disini.

Dor

Jungkook tersenyum saat ia merasa sakit di kaki kirinya.

Dor

Kaki kanan.

Dor dor

Kedua lengannya.

Dor

Dada kanannya.

"Argh... Wae?" tanya Jungkook susah payah. Nafasnya mulai tak beraturan. "Kenapa kau tidak langsung menembak hhh Jantungku? Hhh ini sakit Taehyung-ah hhh tembaklah jantung orang ini hhh yang berdetak cepat hanya untukmu─"

Taehyung mematung, ini pertama kalinya ia membunuh seseorang dengan tangannya. Dan orang itu mencintainya dengan tulus. Taehyung tak tahu apa yang harus ia lakukan, setitik rasa penyesalan muncul. Tapi sudah terlambat, ia tidak bisa mengulanginya lagi dari awal.

"─Maaf karena aku hhh men─ hhh ─cin.. Argh! Mencintaimu... Maaf"

So, ini cerita end dengan menggantung. Di wattpad emang sudah end, tapi karena pembaca saya di wattpad jarang aka ngga ada hehe. Jadi bingung mau minta saran, ini ff diteruskan atau menggantung kayak gini aja?

Jujur saya sih pingin ini di terusin, tapi karena yang minat dikit mending di end-in aja gimana?

Butuh pendapat plis, oh ya dan buat ff suspected aku pindah ke wattpad juga biar lebih gampang kalau mau update.