Chapter 4: Scar on My Face
.
.
.
~Our Footsteps~
by: Mirai Mirage/Kuroi River
Disclaimer: Naruto belong to Masashi Kishimoto
Warning: AU, OOC, rate M here, lack description, Typos everywhere and many more mistake..
[this chapter contains explicit content for mature adult only]
.
.
.
.
.
"Sasuke, aku ingin kau pergi ke desa Yayoi, dan bereskan sengketa yang ada di sana secepatnya." Tanpa melihat yang bersangkutan Naruto memerintahkan Sasuke untuk pergi. Matanya justru terfokus pada gulungan-gulungan kertas didepannya. Sepertinya keadaan di sana sudah cukup gawat. Aku yang sedari tadi berada di balai pertemuan bersama Naruto dan mendengarkan laporan-laporan yang diberikan untuk Naruto sudah sedikit mengerti apa yang sebenarnya terjadi di sana. Walaupun seperti biasa tak ada interaksi sama sekali antara aku dan Naruto.
Pertemuan ini hanyalah pertemuan rutin yang biasa dilakukan untuk saling bertukar inforamsi mengenai keberlangsungan Konohagakure. Dan biasanya aku pun berusaha sebisa mungkin untuk turut hadir dalam pertemuan ini, meskipun aku sendiri terkadang tidak begitu paham dengan urusan seperti ini. Setidaknya aku bisa sedikit membantu meringankan beban Naruto jika dia membutuhkan bantuan.
Tidak semua hadir untuk melaporkan situasi di desa-desa yang ada di konohagakure, hanya para petinggi saja yang berkewajiban untuk melaporkannya langsung pada Naruto. Seperti saat ini yang sudah berada di balai pertemuan ini adalah orang-orang pilihan, bahkan semasa Minato-dono masih memimpin.
Hatake Kakashi atau yang biasa aku panggil dengan paman kakashi, adalah salah satu panglima perang dan berkewajiban menjaga kastil ini. Dengan tubuh yang tinggi dan wajah yang selalu ditutupi masker, paman kakashi selalu berada di garis depan di setiap pertempuran. Meskipun begitu sebenarnya beliau adalah orang yang cukup santai jika melihat kesehariannya. Membaca buku di bawah pohon adalah kebiasannya. Aku pernah mendegar dari orang-orang di kastil bahwa buku yang dibacanya adalah buku tidak senonoh yang aku sendiri sulit mempercayainya. Tapi jika melihatnya yang terkadang terkekeh sendiri meskipun aku tak bisa melihatnya karena wajahnya yang tertutup masker aku rasa itu cukup masuk akal.
Teknik bertempurnya tidak bisa dianggap remeh. Dan beliau adalah guru yang mengajarkan teknik-teknik bertempur bagi Naruto. Dulu aku pun terkadang ikut berlatih bersama-sama dengan Sasuke. Sepertinya sekarang dirinya sudah jarang ikut dalam pertempuran. Lebih sering mendapatkan misi di luar Konohagakure. Dia sudah mempercayakan semuanya pada Sasuke. Baginya dengan hanya adanya Sasuke sudah cukup untuk mendampingi Naruto.
Dan juga ada Nara Shikamaru. Seorang pembuat taktik yang jenius. Turun temurun dari ayahnya yang juga merupakan pembuat taktik yang tak kalah jeniusnya semasa Minato-dono memimpin. Namun sekarang ayahnya memilih pensiun dan menyerahkan semuanya pada Shikamaru. Tak ada yang bisa meragukan kejeniusan taktik yang dibuat olehnya. Oleh karena itu dalam setiap perang yang mengikutsertakanya bisa dipastikan akan berjalan dengan sukses. Meski begitu Shikamaru adalah orang yang cukup pemalas dan biasanya dia akan menggerutu setiap kali ada yang menggaggu saat bersantainya. Tapi aku tahu dengan pasti, meskipun tingkah laku Shikamaru seperti itu, dia adalah orang yang setia. Dan sama serperti paman kakashi dan Sasuke, Shikamaru adalah orang kepercayaan bagi Naruto.
Shikamaru seumaran denganku, Naruto dan Sasuke. Sudah memiliki keluarga yang istrinya tidak lain adalah teman baikku sejak kecil, Yamanaka Ino. Aku sendiri hingga sekarang masih heran mengapa mereka bisa menikah mengingat mereka berdua tak pernah akur dan selalu bertengkar belum lagi dengan sifat malas Shikamaru yang aku yakin membuat Ino selalu naik darah. Mengingat itu aku tertawa dalam hati. Rasanya sudah lama aku tidak bertemu dengan temanku yang satu itu, terakhir kali adalah saat Ino melahirkan anak pertamanya dibulan lalu. Mungkin setelah ini aku dan Naruto bisa merencanakan untuk mengunjunginya.
"Baik." jawab Sasuke yang kini tengah duduk bersila di hadapan Naruto.
"Kali ini pastikan mereka semua mengerti. Jika tetap ada yang protes dan tidak menerimanya, tangkap dan jebloskan saja mereka ke penjara." tambah Naruto. Titah Naruto tersebut sontak membuat beberapa orang yang ada di sana terkejut. Tidak biasanya Naruto mengambil keputusan keras seperti itu. Naruto yang ku tahu akan selalu berusaha mengambil jalan diskusi dan sebisa mungkin menghindari konflik. Sama seperti yang selalu dilakukan oleh mendiang Minato-dono.
"Tapi Naruto-dono, jika seperti itu mereka akan semakin memberontak." sahut paman Kakashi yang juga ikut dalam pertemuan ini.
Naruto memandang Kakashi tajam membuatku sedikit takut. Aku merasa Naruto saat ini seperti orang lain. "Aku sudah lelah dengan keluhan-keluahan mereka. DesaYayoi hanyalah desa miskin dengan penghasilan tak seberapa. Kita sudah sangat berbaik hati dengan meringankan pajak dan juga sebisa mungkin mencukupi kebutuhan mereka. Tapi sepertinya warga desa itu benar-benar tak bisa berterima kasih. Tetap mempertanyakan pajak dan menuntut hak atas tanah. Jadi aku rasa perlu tindakan seperti ini agar mereka mengerti dan tidak menganggap remeh. Dan daripada membuang waktu dan biaya untuk mereka lebih baik jebloskan saja orang-orang yang tidak tahu berterima kasih itu. Lagipula masih ada yang lebih penting untuk diurusi. Apa kau paham, Kakashi-dono?"
"Jika kau sudah mempertimbangakan hingga seperti itu, aku tidak bisa membantah lagi." Tak ada bantahan lagi dari paman Kakashi. Namun aku yakin sebenarnya Kakashi-sensei tak menyetujui keputusan Naruto itu. Aku sendiri pun menyadari bahwa untuk mengambil hati rakyat tidak seharusnya menggunakan cara kekerasan seperti ini. Jika tetap melakukannya bisa saja warga desa akan memberontak dan bisa menjadi kekacauan besar. Hal inilah yang dikhawatirkan oleh paman Kakashi.
"Dan pastikan kau jangan kembali sebelum masalah di desa itu selesai, Kau mengerti Sasuke?"
Sekilas aku dapat merasakan perasaan benci dari Naruto saat mengatakannya. Aku tidak tahu mengapa seperti itu. Apakah mereka sedang bertengkar? Seingatku jika mereka bertengkar Naruto tak pernah sekalipun membenci Sasuke. Satu hari mereka akan bertengkar lalu hari berikutnya mereka akan baik-baik saja.
"Saya mengerti." Tanpa ada pertanyaan lebih lanjut Sasuke membungkuk memberi hormat tanda menerima perintah tersebut. "Kalau begitu, saya permisi."
"Maaf, Naruto-dono. Ada kiriman untuk anda." Tiba-tiba seorang ajudan masuk begitu saja sembari membawa bungkusan berukuran lumayan besar. Dia meletakkan itu di samping Sasuke yang belum beranjak dari tempatnya.
"Siapa yang mengirim?" tanya Naruto.
"Saya tidak tahu. Saya hanya diberitahu untuk memberikannya langsung pada anda."
"Begitu.." Naruto beranjak dan mendekati bungkusan itu dan membuka kain pembungkusnya. Sebuah kotak kayu yang sepertinya dapat dibuka dengan menggeser salah satu sisi dari kotak itu. Aku dapat melihat ada noda menghitam pada dasar kotak itu dan samar tercium bau amis.
"Naruto-dono tunggu dulu! Jangan dibuka!" paman Kakashi berteriak memperingatkan, namun terlambat sudah.
Aku berteriak dan nyaris pingsan saat melihat apa yang ada di dalamnya. Sebuah kepala. Yang tentu saja sudah terlepas dari raganya. Darah mengalir begitu saja dari bagian leher yang terpotong itu. Untuk melihat lebih jauh aku sudah tak sanggup. Rasanya aku ingin mutah pada saat itu juga.
"Apa-apaan ini!? Bukankah itu kepala Yamato-dono?" seru Shikamaru. Dari suaranya aku tahu bahwa dirinya juga tak kalah terkejutnya.
"Cepat bawa ini keluar! Segera kuburkan! Dan temukan bagian tubuhnya yang lain secepatnya!" seru paman Kakashi memerintah.
"Sakura-sama anda tidak apa-apa?" salah satu pelayanku menghampiriku. Aku hanya melihatnya tanpa menjawab pertanyaannya. Dapat kulihat pelayanku itu pun tak kalah pucatnya dengan diriku tapi dia tetap memberanikan diri untuk menghampiriku. "Tolong antarkan Sakura-sama kembali ke karnarnya. Dan beri apapun untuk menenangknnya." kali ini suara Shikamaru meminta pelayanku itu untuk mengantarku ke kamar. Diangkatnya tubuhku yang mendadak tak bisa kugerakkan. Lututku seakan tak bertulang untuk berjalan saja pelayanku itu harus bersusah payah memapahku.
Sebelum beranjak dapat kulihat sekilas Naruto yang juga tak kalah terkejutnya denganku. Disampingnya Sasuke berusaha berbicara dengannya, menyadarkannya yang sedari tadi hanya terdiam.
"Siapapun.. siapun yang melakukannya.. harus segera di tangkap." Naruto berbicara seperti bergumam. Napasnya sedikit naik turun.
"Temukan orang yang melakukan hal keji pada Yamato-dono dan bawa langsung ke hadapanku!" tambahnya, kali ini dengan ekspresi murka. Suaranya begitu lantang terdengar, membuat yang ada di sana tertegun mendengarnya.
"Ryokai!"
Ingin sekali aku mendekat padanya dan menanyakan apakah dia baik-baik saja, namun apa daya, aku pun sudah tak sanggup lagi jika harus berjalan sendiri. Aku tahu ini pukulan berat bagi Naruto. Paman Yamato, begitu caraku memanggilnya, sama seperti paman Kakashi adalah orang yang sangat berarti bagi klan ini. Selain paman Kakashi, paman Yamato adalah guru bagi Naruto yang mengajarkan ilmu berpedang dan berkuda. Dirinya sudah mengabdi sejak dulu dan selalu ditugaskan di luar klan Uzumaki. Sehingga jarang sekali kami bisa bertemu dengannya. Kehilangannya seperti ini adalah pukulan telak bagi klan Uzumaki.
"Naruto-dono, saya akan membantu anda kembali ke kamar anda." Terlihat Sasuke yang mencoba menyangga lengan Naruo untuk membantunya berdiri.
"Lepas. Jangan sentuh aku."
"Maafkan saya. Saya hanya ingin membantu."
Naruto menatap tajam pada Sasuke, mukanya begitu pucat namun dari nada bicaranya sepertinya Naruto sedang menahan amarah.
"Kau pergilah. Tinggalkan aku sendiri. Pergi..!"
Sasuke terdiam sejenak sebelum menjawab, "Baik. Saya permisi."
Sepeninggal Sasuke, aku yang sudah berada ditengah-tengah perjalananku menuju kamar samar-samar mendengar Naruto yang terisak. Mengingatkanku pada saat itu, saat Naruto harus kehilangan kedua orang tuanya. Tangisannya membuat hatiku nyeri. Aku ingin sekali mengapus air matanya itu. Namun lagi-lagi aku tak berdaya. Sama seperti saat itu. Yang bisa kulakukan hanyalah memandangnya dari kejauhan tanpa bisa berbuat apapun untuk meringankan kesedihannya.
.
.
.
Normal's POV
"Bagaimana ini bisa terjadi?" Shikamaru bertanya pada Kakashi tentang apa yang baru saja terjadi. Sambil memperhatikan sekeliling kalau-kalau ada yang mendengar pembicaraan mereka. Lorong sempit yang teletak di belakang bangunan pendukung menjadi latar mereka berbicara.
Kakashi yang hanya diam tak menjawab pertanyaan dari Shikamaru. Wajahnya tak menunjukan ekpresi yang berarti namun sekilas dapat terlihat dari matanya bahwa dirinya sedikit terguncang dengan peritiwa yang baru saja terjadi.
"Dono!"
"Ini kesalahanku." Kakashi menatap tajam pada Shikamaru. "Aku tak memperhitungkan semua ini."
"Apa maksud anda?"
"Aku yang mengirimnya pergi ke Kumogakure untuk sebuah misi. Dan tak kusangka mereka mengetahuinya."
Shikamaru terdiam mendengar penjelasan dari Kakashi berusaha mencerna apa yang baru saja didengarnya. "Anda mengirim anbu untuk misi tanpa sepegetahuan Naruto-dono?"
Anbu adalah para samurai rahasia yang dilatih khusus untuk menjalankan misi-misi tertentu yang bertujuan menjaga rahasia klan. Terkadang mereka menjalankan misi penyusupan ke dalam suatu klan. Yang tentu saja semua misi-misi itu sangat berbahaya. Dan Yamato adalah salah satu angggota anbu.
"Tidak. Aku hanya mengirim Yamato, bukan sebagai anbu. Anbu terlalu mencolok untuk misi ini. Dan ya, Naruto-dono tidak mengetahuinya."
"Untuk apa?"
Kakashi tidak segera menjawab pertanyaan Shikamaru. Mempertimbangkan apakah Shikamaru layak untuk diberitahu tentang misi ini.
"Shikamaru aku tahu kau juga sudah mengetahuinya. Ada seseorang yang mengincar klan ini dan mereka berasal dari luar dengan bantuan orang dalam."
Dan benar saja Shikamaru tak terkejut sedikitpun. Kakashi sudah memprediksinya bahwa dengan kecerdasan Shikamaru, tidak mungkin Shikamaru tidak mengetahui sesuatu yang aneh di tubuh klan.
"Ya, aku juga mencurigainya. Jadi itu sebabnya anda mengirim Yamato-dono pergi ke Kumogakure?"
"Ya dan tidak. Aku mengirimnya untuk mencari tahu hubungan antara Amegakure dan Kumogakure. Masih belum diketahui apakah mereka yang mengincar klan ini atau tidak." Kakashi memijit pangkal hidungnya lelah dengan semua intrik ini. "Seandainya saja Yamato bisa kembali dengan sebuah informasi. Kita bisa merencanakan langkah selanjutnya."
Shikamaru melipat tangannya di depan dada memikirkan situasi yang sedang terjadi saat ini. Memang sangat tidak menguntugkan jika mereka salah mengambil langkah bisa jadi perang besar akan berkobar.
"Untuk saat ini lebih baik kita selidiki dulu siapa yang membunuh Yamato. Dengan mengirim kepala Yamato seperti itu, ini seperti mereka member peringatan kepada kita."
"Tidakah anda berpikir bahwa orang-orang Kumo yang melakukannya?"
"Kau berpikir seperti itu?"
"Terlalu mudah jika kita memikirkannya seperti itu. Mengingat klan Uzumaki tak pernah berhubungan dengan Kumogakure. Jika mereka tahu kita mengirim mata-mata ke wilayah mereka bukankah hal pertama yang mereka lakukan adalah mengecam tindakan kita? Mereka kan mempertanyakan maksud kita dan mempersiapkan genjatan senjata dengan kita."
Kakashi mengangguk paham dengan penjelasan Shikamaru.
"Bukankah akan lebih mudah jika ada pihak lain yang melakukannya. Dan membuat kita menduga bahwa Kumo lah yang melakukannya. Dengan begitu kita akan teradu domba."
"Ya, kau benar. Keuntungan ada pada pihak yang menginginkan kehancuran salah satu dari kedua wilayah ini." Kakashi menambahkan. Dirinya sudah tak setenggang tadi tapi tubuhnya tetap waspada. "Aku tak menyangka akan menjadi sejauh ini. Kematian Yamato dan juga pengkhianat di tubuh klan. Siapa pun yang berada di balik semua ini, yang harus kita lakukan adalah menjaga Naruto-dono. Dengan kondisinya yang sekarang aku tak yakin ini akan berlangsung dengan mudah."
Normal's POV end
.
.
.
"Sakura-sama anda menginginkan sesuatu?" pelanyanku bertanya padaku dan hanya kujawab dengan gelengan. Ini sudah sekian kalinya aku menolak tawaran dari pelayanku itu. Dapat kulihat raut khawatir darinya melihat kondisiku yang hanya terdiam tak melakukan atau berkata apapun.
Iya benar aku tak melakukan kegiatan berarti sejak tadi. Tepatnya semenjak kejadian siang tadi. Saat aku harus menyaksikan kepala dari Yamato-dono begitu saja. Mengingat itu membuat wajahku menjadi pucat. Alhasil yang kulakukan sejak saat itu hanyalah berbaring. Bahkan makanan yang mereka antar pun tak kusentuh sama sekali yang membuat pelayanku merasa khawatir dengan kondisiku.
"Sakura-sama, saya mohon setidaknya makanlah sedikit saja. Jika tidak, anda bisa jatuh sakit."
"Bagaimana kondisi Naruto? Apakah dia sudah baik-baik saja?" satu lagi yang menjadi pikiranku sejak tadi. Aku begitu mengkhawatirkan kondisinya dan belum mendapat kabar apapun tentangnya.
"Soal itu saya akan melihatnya dan segera memberitahukannya pada anda."
"Aku akan menemuinya sendiri. Kalian tidak perlu mengantarku." Aku berusaha baniikt dari tempatku merapihkan kimono yang kukenakan. Sebelum keluar dari ruanganku dapat kulihat pelayanku itu berusaha mencegahku mengigat kondisiku yang belum sepenuhnya membaik. "Aku sudah tidak apa-apa. Aku hanya ingin memastikan sendiri kondisi Naruto. Kalian lebih baik beristirahat. Ini hari yang melelahkan."
Dengan setengah hati pelayanku itu undur diri meninggalkan ruanganku. Dan aku sendiri berjalan pelan menuju kamar Naruto. Hanya terdengar bunyi jangkrik yang mengiringiku. Meskipun di luar sana langit malam begitu bersih dihiasi bintang-bintang namun itu semua tak membuat suasana hatiku membaik. Terlebih dengan kondisi Naruto yang belum aku ketahui.
"Naruto-sama, apakah anda sudah tidur?" seruku perlahan berusaha untuk tidak membuat kegaduhan.
Selang beberapa saat tak ada jawaban. Kuberanikan untuk menggeser sedikit pintu kamar miliknya. Dari celah kecil dapat kulihat futon tidur yang berserakkan namun tak ada orang yang berbaring di atasnya. Sedikit terkejut akhirnya aku masuk ke dalam kamarnya mencari keberadaan Naruto. Tak ada di mana pun. Ke mana gerangan perginya Naruto?
"Apa yang kau lakukan di sini?"
Aku menoleh terkejut melihat sosok Naruto yang berada di ambang pintu. Aku tak dapat melihat raut wajahnya dengan jelas namun suara Naruto begitu dingin terdengar di telingaku.
"Na-Naruto.. Kau membuatku kaget. Kau dari mana saja?"
Naruto tak menghiraukan pertanyaanku. Dia berjalan mendekat ke arahku. Entah mengapa melihat tingkah Naruto yang seperti ini membuat napasku tercekat. Dan dalam sekejap Naruto sudah berada di hadapanku. Jarak kami begitu dekat. Hingga dapat kurasakan hembusan napasnya menerpa wajahku. Biru matanya menatapku tanpa bisa aku mengerti artinya. Tiba-tiba saja pikiranku menjadi kosong.
Naruto memejamkan matanya sebelum berkata, "Kembalilah ke kamarmu."
Naruto sudah tak ada di hadapanku. Dirinya berjalan menuju jendela kamarnya menatap langit yang ada di luar sana.
"Aku ingin menemanimu di sini kali ini."
"Kembalilah. Aku tak butuh kau temani." Tolak Naruto tanpa menoleh ke arahku.
Meski begitu aku tak beranjak ke manapun. Kutatap punggung lebarnya yang biasanya terlihat kokoh dan hangat kini begitu rapuh dan dingin. Aku tak mengerti. Ada banyak pikiran berkecamuk di otakku saat ini. sedih, marah, rindu, bingung, dan juga putus asa. Ingin rasanya menggapai punggung itu namun aku tahu apa yang akan terjadi sedetik kemudian. Penolakan darinya.
"Tak bisakah kau kembali, Naruto?"
Tak ada tanggapan darinya. Tentu saja. Aku tahu dia menghindari hal-hal seperti ini. Namun aku sudah bertekad kali ini. Aku ingin tahu jawabannya.
"Aku.. merindukanmu.."
"Merindukanku?" Terdengar dengusan geli darinya. Dirinya kini berbalik dan kami berhadapan, ekspresinya menunjukkan seolah bahwa dia baru saja mendengar lelucon paling tidak lucu yang pernah dia dengar. "Kau bilang kau merindukanku? Kau bercanda kan, Sakura?"
Aku hanya bisa mengerjapkan mata. Terkejut melihat Naruto seperti seseorang yang tak ku kenal. Aku merasa seperti berada di tempat paling berbahaya saat ini sehingga tanpa sadar kakiku melangkah mundur.
"Kau tak pernah merindukanku. Atau pun melihatku. Sejauh yang kuingat. Tak pernah."
"Aku benar-benar merindukanmu, Naruto." Aku berusaha sekuat tenaga agar suaraku bisa terdengar karena sekarang tenggorokanku terasa kering.
"Bohong!" Naruto meninggikan suaranya saat berkata itu. Aku nyaris kehilangan napasku karena terkejut.
"Aku tahu kau tersiksa dengan pernikahan ini. Kau tidak menginginkannya sejak awal. Bahkan diriku. Karena ini hanyalah pernikahan politik."
Seperti itukah Naruto mengira bahwa aku tak menginginkan pernikahan ini sehingga dia bersikap dingin selama ini? Aku mencoba mendekat padanya berusaha menjelaskan.
"Tidak, Naruto. Kau salah. Aku tak pernah berpikiran seperti itu. Aku tidak-"
"Aku sudah bilang padamu berhentilah berbohong!" tangannya mencengkram lengan atasku erat. Aku meringis merasakan jari-jarinya menekan lenganku. "Kau tak pernah menyukaiku!"
Pandangan mata kami bersirobok. Dari matanya ada perasaan luka dan sakit. Terasa jelas, seolah-olah perasaan itu tersalur padaku. Tanpa terasa air mataku mengalir begitu saja ikut merasakannya.
"Kau menyukai Sasuke. Selalu seperti itu." lanjutnya. Kini matanya tajam dan menusuk. Nada kebencian terdengar saat dia berbicara. "Kau menikahiku karena tidak punya pilihan. Karena ini permintaan ayahmu."
"Aku sudah tidak menyukainya. Itu sudah lama sekali, Naruto. Dan mengapa sekarang kau membawa-bawa masa lalu itu lagi?"
"Benarkah? Karena yang kulihat tidak seperti itu."
Aku mengerjapkan mataku bingung.
"Seharusnya kau tahu bagaimana semestinya seorang istri bersikap. Apalagi jika itu istri seorang Daimyo. Setiap sudut kastil ini memilik mata, nona Haruno."
"Aku tidak mengerti maksudmu Naruto." Ujar suaraku lirih mengkeret di bawah nada intimidasinya.
"Berduaan saja dengan seorang laki-laki yang bukan suamimu. Lebih memilih seorang jendral-bawahan dari pada Daimyo yang hebat. Dan melakukan hubungan cinta terlarang. Heh, klasik!" Naruto menyunggingkan senyum meremehkan. "Lalu setelah itu apa? Mungkin mereka berdua akan bercumbu, saling merasakan lidah masing-masing kemudian menertawakan kebodohan suaminya karena masih saja berharap istrinya akan membalas perasaanya. Bisa mendapatkan kekuasaan sekaligus tubuh pria yang kau sukai, bukankah itu cocok denganmu, Sakura?"
Plak!
Aku menampar dengan sekuat tenaga pipi naruto. Amarah menyelimutiku. Aku tak menyangka Naruto akan menghinaku seperti itu. Wajahku terasa panas bercampur dengan air mata yang kini sudah membasahi pipiku. Dadaku sesak, merasakan marah dan juga sakit hati. Ingin rasanya mengingkarinya, bahwa Naruto menghinaku karena melihatku dengan Sasuke, bahwa dia dengan mulutmya sendiri berkata seolah aku adalah wanita murahan. Naruto yang aku kenal tak akan pernah berbicara seperti itu.
"Aku tak tahu apa yang terjadi padamu sampai kau berbicara seperti itu tentangku. Apapun itu, kau tak berhak berkata seperti itu, tidak jika kau tak tahu kenyataannya. Yang adalah tak ada apapun antara aku dan Sasuke." Aku memandang tajam padanya bertekad tak akan membiarkan diriku untuk mendapatkan penghinaan lagi darinya.
"Benarkah? Kau ingin membodohiku lagi?" Naruto bertanya sembari mengusap pipinya yanga memerah berkat tamparanku. Terlihat sekilas sudut bibirnya yang berdarah, robek. "Jika memang tidak seperti itu, buktikan."
Begitu cepat hingga aku tak melihat Naruto sudah mengunci bibirku dengan bibirnya. Berusaha sekuat tenaga untuk menolak ciuman paksaan darinya, mencoba mendorong dada bidangnya namun tak ada perubahan yang berarti. Hanya dengan satu tangan Naruto dengan mudah mencengkram tubuhku untuk lebih mendekat dengannya. Sedangkan tangannya yang satunya menekan tengkukku untuk memperdalam ciuman kami, melumatnya.
Kini Naruto mulai memaksakan lidahnya untuk melesak masuk ke dalam mulutku. Mengigit bibir bawahku dan saat kesempatan itu datang, lidahnya sudah beradu di dalamku. Aku tak kuasa melawan tenaganya. Bahkan perlawananku yang sejak tadi aku lancarkan seperti tidak berarti terhadapnya.
"He.. hh.. hentikan, Naruto" ucapku tak berdaya saat mau tidak mau Naruto harus menghentikan aktifitasnya untuk mencukupi pasokan udara di rongga dadanya.
"Ada apa? Bukankah ini yang kau inginkan sejak berhari-hari lalu." Kini Naruto sudah beralih menyerang leherku. Menciuminya, sesekali menggigitnya. Tangannya tak tinggal diam meremas dadaku yang masih berbalut kimono.
"Tapi.. ti.. tidak seperti ini. ahh.." desahku kacau. Berusaha meredamnya. Aku tidak ingin tunduk pada Naruto yang seperti ini, Naruto yang tak aku kenal walaupun ini adalah hal yang selama ini aku inginkan. "Hh..tidak saat kau bukan.. hah.. Naruto yang sesungguhnya."
"Ini aku. Tak bisakah kau merasakannya?"
"Ahh..!" pekikku saat Naruto mendudukan kami tiba-tiba di atas futon miliknya. Kakiku sudah mengangkang dan merasakan miliknya yang tegak berdiri di natara pahaku mengesek milikku.
Kini aku sedang berada di pangkuannya, tanganku merangkul bahu lebar miliknya yang membuat wajah Naruto terbenam sepenuhnya di dadaku. Naruto dengan sigap mempereteli atasan kimono milikku hingga sebatas pinggang dengan sesekali menggerak-gerakan pinggulnya sehingga membuatku mau tak mau mendesah tertahan. Aku tak ingin terbuai, karena aku tahu Naruto saat ini hanya memandangku sebagai objek. Bukan Istrinya atau Sakura. Namun susah untuk menolak dengan semua sentuhan dan kecupan yang Naruto berikan.
Dan kini dadaku terpampang jelas, dengan naruto yang melumatnya rakus, tangan kirinya tak henti-hentinya meremas dan memilin sedangkan tangan kanannya sudah berada di selangkanganku.
"Kau basah. Kau menikmatinya kan?" ujar Naruto sambil menatapku, dapat kulihat matanya yang berkabut oleh nafsu. Nafasnya yang menerpa wajahku menandakan dirinya juga terangsang.
Dilumatnya lagi bibirku, kali ini aku mencoba untuk tak melawan karena aku tahu itu sia-sia dan aku pun sepertinya sudah terbawa oleh permainan Naruto. Aku sudah tidak peduli apakah Naruto benar-benar menginginkanku atau hanya tubuhku.
Pikiranku mendadak kosong saat tiba-tiba Naruto memasukkan 2 jarinya sekaligus ke dalam milikku. Dan tanpa memberi aba-aba Naruto menggerakkan jarinya dengan cepat.
"Na..hh.. too.. pelan-pelan.. akhh…"
Dirinya hanya mendengus mendengar keluhannku. Tangannya menuntun tangannku untuk menyentuh milikknya di tengah desahanku yang semakin menggila. Milikknya yang besar dan aku tak pernah membayangkannya berdenyut-denyut.
Naruto mendesah tertahan saat aku mencengkram milikknya. Hal itu malah membuat Naruto manambahkan satu jari lagi kedalam dan menambahkan kecepatan, benar saja dalam beberapa saat aku mencapi klimaks, milikku berdenyut denyut dapat kurasakan Narutao mengeluarkan jarinya.
Lagi-lagi tanpa aba-aba, Naruto merebahkanku dan memasukkan miliknya ke dalam diriku. Aku tercekat, karena merasakan miliknya yang besar menembus milikku. Dan mendesakknya paksa.
"Akkkhhhh….."
Aku klimaks untuk yang ke dua kalinya, napasku naik turun terkejut. Mataku mengerjap-ngerjap. Milikku berdenyut campuran antara sakit dan nikmat.
"Hghhhmmmm… kaam-sama, kau sangat sempit sakura. " geram Naruto saat merasakan milikku mencengkram milikknya. Belum lagi denyutan sisa-sisa klimaksku.
Naruto mendorong pinggulnya maju mundur dengan irama konstan dan dalam, sembari mengangkat kakikku untuk melingkarkan pada pinggulnya. Suara desahanku bersahutan dengan geraman millik Naruto yang entah mengapa membuatku terangsang dan sehingga tanpa sadar aku pun ikut menggoyangkan panggulku untuk mendengarnya lebih jelas.
Naruto berinisiatif untuk merubah posisi, membaringkanku pada futon yang sudah tak berbentuk. Mencengkram pinggangku sehingga terangkat. Dengan keras dan nyris kasar, dihentak-hentakkan pinggulnya, melesak masuk dan keluar diiringi geraman yang keluar dari mulutnya.. Hanya desahan yang keluar dari mulutku bersahut-sahutan dengan Naruto.
Aku yakin mukaku kini sudah amat sangat terangsang dan bersemu merah. Entah sudah berapa kali aku klimaks, namun Naruto belum memperlihatkan tanda-tanda akan menyudahi permainan.
Naruto membungkukkan badannya, menciumku sembari mempermainkan payudaraku. Dalam kungkungannya aku tak berdaya, pikiranku kosong, berusaha mengimbangi cumbuan Naruto yang semakin liar. Hingga pada saat di mana aku yakin Naruto akan klimaks, ia mempercepat hentakkannya padaku. Semakin dalam dan cepat. Mau tak mau aku pun ikut mendesah sama gilanya.
"SsaaaahkuraaaHghhhhhhhhaaaaa….hhh" Naruto menyemburkan miliknya di dalamku.
Naruto meletakkan kepalanya pada perpotongan leherku masih menggoyangkan pinggulnya untuk merasakan kenikmatan yang tertinggal. Aku hanya bisa melihat langit-langit kamar Naruto memandang hampa, senangkah? Puaskah? Bukankah ini yang aku inginkan?
Belum sempat aku untuk mengistirahatkan badan dan pikiranku, Naruto sudah mengubah posisiku untuk betelungkup. Kulihat miliknya yang masih tenggang dan aku yakin malam ini akan menjadi malam yang panjang untukku.
to be continued
.
.
.
Author's note:
you've been warned... XD ,
Thx for reading.. Hope you like it!
