Disclaimer : bleach tetap punya Kubo Tite–sensei ya….. ^^

Pairing : HitsuHina, sedikit IchiRuki

Author : Momo Saitou

The Lost Memory

CHAPTER 4

Malam Tahun Baru sebentar lagi. Siswa-siswi sudah mulai disibukkan dengan rencana mereka di malam itu. Mereka sibuk mencari pasangan yang bisa diajak untuk pergi bersama. Bagi siswa-siswi SMA pada umumnya, menghabiskan malam Tahun Baru bersama pasangan adalah hal penting. Namun ada juga siswa-siswi yang lebih memilih menghabiskan malam Tahun Baru bersama keluarga atau dengan sahabat mereka.

"Hei, Toushiro kau akan pergi dengan siapa malam Tahun Baru nanti?" tanya seorang siswa berambut merah yang diketahui bernama Abarai Renji. Saat ini Hitsugaya, Renji, Ichigo, dan Ishida sedang membicarakan mengenai acara malam Tahun Baru mereka.

"Entahlah," kata Hitsugaya sambil melirik ke arah Hinamori.

"Kenapa kau tidak mengajak Hinamori saja?" tanya Ichigo.

"Sebenarnya sudah. Hanya saja aku tidak mengajaknya secara langsung. Dia juga tidak menanggapi dengan serius," jawab Hitsugaya malas.

"Seharusnya kau bertanya langsung," kata Ishida memberi saran. "Zaman sekarang ini semuanya harus serba langsung, 'to the point'. Kau harus bergerak cepat sebelum direbut orang lain. Lagipula cewek juga tidak pernah berbasa-basi kalau mau menolak kita."

"Jadi kau pernah ditolak mentah-mentah Ishida?" celetuk Renji disusul dengan gelak tawa dari teman-temannya.

Sementara mereka tertawa meledek Ishida, Hitsugaya berpaling ke arah tempat duduk Hinamori. Ia melihat Hinamori sedang mengobrol dengan Rukia. 'Bertanya langsung, ya? Bergerak cepat sebelum direbut orang lain, hmm…' batin Hitsugaya sambil berpikir.

Hitsugaya masih mengamati Hinamori ketika gadis itu membuka ponselnya lalu gadis itu sedikit terkesiap dan tersenyum, ia buru-buru berlari keluar kelas.

"Hei Rukia, Momo mau kemana?" tanya Hitsugaya menghampiri tempat duduk Rukia.

"Oh, dia ingin menemui cinta pertamanya," kata Rukia tersenyum lebar.

"Bertemu siapa?" Hitsugaya bahkan tak menyadari ia mengucapkan kata-kata itu dengan lantang dan jelas membuat Rukia sedikit terkejut.

"Kira-senpai," Rukia mengulangi. "Cinta pertamanya, sepertinya Kira-senpai berencana mengajaknya kencan di malam Tahun Baru nanti sebelum Hanabi.

Hitsugaya menoleh kembali ke arah teman-temannya. Ia teringat kata-kata Ishida tadi, 'kau harus begerak cepat sebelum direbut orang lain'.

xxx

Rukia baru saja keluar dari ruang OSIS. Ia ingin mengambil tasnya yang masih berada di kelas. Hari ini ia harus menghadiri rapat OSIS sehingga ia baru pulang saat suasana sekolah sudah sepi. Bel pulang sekolah sudah berbunyi dari beberapa menit yang lalu. Namun ketika ia ingin masuk ke dalam kelas ia seperti mendengar seseorang yang sedang berbicara, ia sedikit mengintip ke dalam kelas. Betapa terkejutnya Rukia saat mendapati Ichigo sedang berbicara berdua dengan seorang gadis berambut orange. 'Sedang apa mereka?' batin Rukia.

"Kurosaki-kun, bagaimana? Kau mau kan pergi bersamaku di malam Tahun Baru nanti?" tanya gadis berambut orange itu yang ternyata bernama Orihime Inoue.

"Maaf Inoue, aku tidak bisa pergi denganmu," jawab Ichigo.

"Tapi kenapa? Kau selalu bilang tidak bisa, tapi kau tak pernah memberikan alasan yang jelas," kata Inoue kesal.

"Aku…" belum sempat Ichigo menyelesaikan kata-katanya, tiba-tiba Rukia masuk ke dalam kelas. Jujur, sebenarnya ada sedikit rasa kesal dihati Rukia saat Ichigo berbicara berdua dengan Inoue.

"Maaf aku mengganggu. Aku hanya ingin mengambil tasku yang tertinggal," Rukia segera mengambil tasnya di meja. "Sekali lagi maaf sudah mengganggu," kata Rukia sambil berlari keluar kelas.

"Rukia tunggu," kata Ichigo sambil berusaha mengejar Rukia, namun tangan Inoue menarik tangan Ichigo.

"Kurosaki-kun?" kata Inoue sambil menatap Ichigo.

"Maaf," hanya kata itu yang sanggup Ichigo ucapkan. Kemudian ia melepaskan tangannya dan segera berlari menyusul Rukia.

Rukia masih terus berlari. Entah kenapa pikirannya menjadi kacau setelah kejadian tadi. Namun tiba-tiba ia merasa ada yang menarik tangannya, ia segera berbalik. Seketika matanya membulat saat mengetahui siapa yang menarik tangannya.

"Ichigo?"

"Hei, tadi kenapa kau lari begitu saja?" tanya Ichigo masih tetap memegang tangan Rukia. "Dasar tidak sopan!"

"Aku kan sudah meminta maaf," jawab Rukia. "Lagipula aku tak ingin mengganggu pembicaraan kalian."

"Menguping disaat orang lain sedang berbicara juga termasuk mengganggu lho!" kata Ichigo.

"Aku tidak menguping kok," kata Rukia membela diri.

Ichigo menghela napas pelan. "Lalu apa namanya?"

"I..itu.." kata Rukia terbata-bata sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

"Ah..sudahlah! tak usah dibahas," kata Ichigo sambil melepaskan tangan Rukia.

Rukia masih menatap Ichigo dengan perasaan sangat malu. Ia tak menyangka bahwa Ichigo akan mengetahui apa yang ia lakukan.

"Rukia, kau pulang sore sekali?" tanya Ichigo membuyarkan lamunan Rukia.

"Eh? Iya, tadi ada rapat OSIS. Jadi aku baru pulang jam segini," jawab Rukia sambil melihat jam arlojinya. "Kau sendiri? Jam segini masih berada di sekolah."

"Aku ada pelajaran tambahan dari Yoruichi-sensei. Kau tahu sendiri kan nilai biologiku paling jelek."

"Ya, kau memang sangat lemah dipelajaran biologi," kata Rukia menyetujui perkataan Ichigo.

"Rukia?"

"Ada apa?" tanya Rukia sambil menoleh ke arah Ichigo.

"Malam Tahun Baru nanti kau akan pergi dengan siapa?"

Rukia mengangkat kedua alisnya. "Aku belum tahu."

"Hmm..mau pergi bersamaku?" tanya Ichigo sambil memasukkan tangannya ke dalam saku celananya.

"Bagaimana dengan Inoue?" Ichigo menatap Rukia heran. "Maksudku, bukankah tadi Inoue mengajakmu?"

"Tuh kan kau menguping?" ledek Ichigo.

"Iya, aku memang menguping. Tapi cuma sedikit kok," bantah Rukia. "Lalu bagaimana dengan Inoue?"

"Aku kan maunya pergi denganmu!" kata Ichigo mantap.

Tiba-tiba Rukia merasa pipinya terasa panas. Mungkin kalau saat ini ia berdiri di sebuah cermin akan terlihat semburat merah dipipinya.

"Bagaimana? Jangan membuatku menunggu!"

"Baikalah!" kata Rukia akhirnya. "Jika kau memaksa,hehehe.

"Dasar kau ini!"

xxx

Hitsugaya menutup ponselnya. Sudah tiga kali ia mencoba menghubungi Hinamori tetapi ponsel gadis itu tidak aktif. Sepulang sekolah tadi, Hinamori buru-buru keluar dari kelas sehingga ia tidak sempat berbicara dengan Hinamori.

Akhirnya ia memutuskan untuk ke rumah Hinamori. Namun ketika ia membuka pintu rumahnya, ia melihat seorang laki-laki sedang berbicara dengan Hinamori. Hitsugaya tak melihat begitu jelas wajah laki-laki itu, karena laki-laki itu menggunakan helm.

"Terimakasih untuk hari ini," kata Hinamori sambil membungkukkan badan. Setelah itu laki-laki yang mengantarkan Hinamori pergi meninggalkan Hinamori yang masih berdiri di depan rumahnya. Ia masih menunggu laki-laki yang mengantarnya menghilang dari pandangan matanya.

"Momo?" panggil Hitsugaya saat Hinamori akan masuk ke rumahnya.

Hinamori segera berbalik dan melihat siapa yang memanggilnya. "Hitsugaya-kun? Ada apa?"

Hitsugaya berjalan mendekati Hinamori yang masih menatapnya. "Kita mengobrol di dalam rumahmu saja. Tak enak kalau di jalan seperti ini."

Hinamori hanya mengangguk saja dan mempersilahkan Hitsugaya masuk ke rumahnya.

"Dari tadi aku telepon kok ponselmu tidak aktif?" tanya Hitsugaya sambil duduk di sofa.

"Gomen ne, bateraiku lemah. Jadi sekalian saja aku matikan," jawab Hinamori.

"Daijyoubo," kata Hitsugaya singkat. "Memangnya kau habis darimana saja? Sore begini baru pulang?"

"Tadi, senpai mengajakku makan siang bersama," jawab Hinamori dengan senyum mengembang.

"Senpai?"

Hinamori menegakkan punggung dan menatap Hitsugaya dengan mata berbinar-binar. "Aku sudah pernah bercerita padamu tentang dia, bukan? Cinta pertamaku? Izuru Kira-senpai?"

Mendengar nama itu Hitsugaya mendesah pelan, ia mengangguk pelan dengan pandangan kosong dan bergumam tidak jelas.

"Dulu sewaktu SMP, aku sama sekali tidak tahu dia orang yang seperti apa," Hinamori melanjutkan ceritanya sambil melamun.

"Hm," Hanya kata itu yang mampu Hitsugaya ucapkan.

"Tapi aku tahu dia orang yang menyenangkan."

"Hm."

"Juga pintar."

"Aku haus," sela Hitsugaya tiba-tiba.

Sebelum gadis itu sempat bangkit dari sofa, Hitsugaya sudah mendahuluinya. "Biar aku ambil sendiri saja." Ia berjalan ke dapur. Ia kesal bagaimana gadis itu bisa membicarakan Izuru Kira didepannya seperti itu? tapi, tentu saja Hinamori sama sekali tidak tahu bagaimana perasaan Hitsugaya.

Merasa agak bersalah telah memotong cerita Hinamori, Hitsugaya menoleh ke arah Hinamori setelah kembali duduk di sebelah Hinamori dan bergumam, "bisa kulihat kau sangat gembira. Aku juga ikut senang."

Hinamori tersenyum. "Ya memang."

Hitsugaya langsung mengisi gelasnya dengan air dan langsung meneguknya sampai habis.

"Sebentar lagi malam Tahun Baru," kata Hinamori tiba-tiba.

Hitsugaya menoleh ke arah Hinamori. Karena tidak tahu harus berkata apa, ia hanya menunggu gadis itu melanjutkan.

"Senpai mengajakku melihat Hanabi bersama di malam Tahun Baru nanti," kata Hinamori menatap Hitsugaya. "Juga pertunjukkan Musik Klasik."

Hitsugaya mengerang dalam hati, 'tidak jangan lagi'. Hitsugaya mengerutkan kening, "pertunjukkan Musik Klasik?" ulangnya sambil meletakkan gelas di meja.

Hinamori mengangguk dan Hitsugaya menyumpah dalam hati.

"Kau ada rencana apa untuk malam Tahun Baru nanti, Hitsugaya-kun?" tanya Hinamori.

Untuk apa mengatakan pada Hinamori bahwa ia juga punya tiket pertunjukkan Musik Klasik yang sangat ingin ditonton gadis itu. Akhirnya Hitsugaya hanya berkata singkat, "pergi jalan-jalan."

Alis Hinamori terangkat heran. "Kemana?"

Hitsugaya memaksakan senyum. "Aku belum tahu," katanya sambil mengangkat bahu. "Kuharap kau bersenang-senang nanti."

Hinamori hanya menatapnya sejenak, lalu mengangguk pelan.

Hitsugaya menghela napas dalam-dalam dan menunduk. "Aku capek," katanya. "Sepertinya aku mau tidur sekarang," sambungnya lagi sambil berdiri dari sofa.

Hinamori juga ikut berdiri dari sofa. "Kalau begitu, beristirahatlah," kata Hinamori sambil mengantarkan Hitsugaya ke depan pintu. Ia tersenyum lebar dan mengangkat sebelah tangannya. "Sampai jumpa besok."

Hitsugaya melihat gadis itu menutup pintu rumahnya. Sekali lagi ia menarik napas panjang dan menghembuskannya perlahan. Ia sudah terlambat, seharusnya ia tidak menunggu selama ini untuk mengajak gadis itu keluar, tetapi waktu itu ia berpikir untuk mendapatkan tiket pertunjukkan terlebih dahulu sebelum mengatakan pada Hinamori. Sekarang ia harus menerima, gadis itu akan pergi dengan Izuru Kira.

xxx

Hinamori melirik kalender di kamarnya, tanggal 29 Desember. Ia mendesah pelan, lalu mengalihkan perhatian ke buku yang ia baca. Ia harus segera menyelesaikan buku yang ia pinjam hari ini. Ia tak ingin mengganggu liburan Tahun Barunya dengan membaca buku setebal ini. Tetapi entah kenapa ia merasa tak bertenaga. Padahal seharusnya hari ini ia lebih bersemangat. Nanti malam ia akan pergi melihat pertunjukkan Musik Klasik yang sangat ingin ditontonnya, lalu ia akan melihat hanabi bersama Izuru Kira. Ya, seharusnya hari ini ia merasa senang.

Semua ini gara-gara Hitsugaya Toushiro, pikir Hinamori geram. Ada dimana Hitsugaya sekarang? Dari tadi pagi sampai sekarang Hinamori tidak bertemu dengannya. Bahkan tadi saat di sekolahpun ia tidak masuk tanpa alasan yang jelas. Ia juga sudah ke rumah Hitsugaya, tetapi rumahnya sepi tidak ada yang menyahut panggilannya. Terakhir kali mereka bertemu adalah malam itu di rumah Hinamori, ketika Hinamori bercerita Izuru Kira mengajaknya menonton pertunjukkan musik klasik. Tentu saja Hinamori sudah berusaha menghubungi ponsel Hitsugaya, tetapi ternyata benda itu tidak diaktifkan.

Dengan tekad yang baru ia kembali membaca buku yang ia pinjam. Ia tidak ingin pikirannya tentang Hitsugaya merusak acaranya malam ini.

xxx

Hitsugaya memperbaikki posisi duduknya. Saat ini ia berada di sebuah café. Ia memang sengaja tidak memberitahu Hinamori alasan ia tidak masuk sekolah. Waktu itu ia sedang kesal. Ketika ia ingin menelepon Hinamori, ponselnya tidak sengaja terjatuh, sehingga kini ponselnya harus diperbaikki.

Sesekali ia menghembuskan napasnya perlahan. Sebenarnya ia berencana melewatkan malam Tahun Baru bersama kakeknya di Seireitei, tetapi ternyata kakeknya akan terbang ke New York malam ini. Lalu apa yang harus dilakukannya sekarang? Kelihatannya ia memang harus melewatkan malam Tahun Baru sendirian. Menyedihkan sekali.

"Paman Ichimaru? Sudah lama menunggu?"

Tiba-tiba Hitsugaya mendengar suara yang tak asing ditelinganya. Ia segera menengok dan melihat orang yang sepertinya ia kenal. Alisnya terangkat begitu tahu siapa orangnya. 'Izuru Kira? Sedang apa dia disini?' batin Hitsugaya.

"Ada apa paman mengajakku bertemu?" kata Kira.

"Hari ini ada acara makan malam bersama seluruh keluarga besar. Kakekmu ingin agar malam ini seluruh anggota keluarga berkumpul. Kuharap kau bisa datang," kata Ichimaru.

"Tapi paman, malam ini aku ada acara bersama temanku," jawab Kira.

"Bisakah kau batalkan acaramu itu? kakekmu sangat mengharapkan kehadiranmu!"

"Baik! Akan kuusahakan!"

Hitsugaya tidak mempercayai apa yang baru saja didengarnya. Izuru Kira membatalkan acaranya dengan Hinamori. Ia yakin mungkin Hinamori akan sangat kecewa. Karena Hinamori sudah sangat menanti-nantikan datangnya malam ini. Ia segera beranjak dari tempatnya sekarang. Ia memutuskan untuk mengajak Hinamori ke pertunjukkan Musik Klasik bersamanya.

xxx

Hinamori menutup ponselnya dan berkacak pinggang sambil memandangi pakaian yang berserakan di tempat tidurnya. Sepanjang sore ia sudah berusaha memilih pakaian yang akan dikenakkannya malam ini, ia berencana memakai pakaian yang dipilihnya sebelum ia menggantinya dengan yukata, dan tepat ketika ia sudah memilih pakaian yang cocok, Izuru Kira meneleponnya untuk membatalkan janji.

Ia kecewa? Tentu saja. Tapi ia juga tidak bisa menyalahkan laki-laki itu. Izuru Kira harus menghadiri acara keluarganya. Hinamori tak mungkin menunjukkan kekecewaannya pada Izuru Kira jika semua itu menyangkut masalah keluarga.

Sambil mendesah pelan, Hinamori membereskan pakaian-pakaiannya. Apakah ini artinya ia akan melewati malam Tahun Baru sendirian? Aduh menyedihkan sekali. Rukia akan merayakannya dengan Ichigo. Ibunya sedang di rumah sepupunya. Sedangkan Hitsugaya, ia sama sekali tidak tahu dimana Hitsugaya saat ini.

Tiba-tiba Hinamori mendengar suara pagar dari rumah Hitsugaya. Ia segera keluar rumah. Begitu pintu rumahnya dibuka, matanya membelalak melihat sosok laki-laki yang tak asing baginya sedang membuka pintu pagar. Ia segera berlari menghampiri sosok laki-laki itu.

"Hitsugaya-kun?"

Sambil memasang wajah polos tak berdosa, Hitsugaya menoleh dan melihat Hinamori Momo berdiri di ambang pintu rumahnya. "Oh, Momo-chan. Hai."

Awalnya Hinamori diam saja, hanya menatap Hitsugaya dengan mata yang membulat. Hitsugaya menggerakkan tangannya di depan wajah Hinamori ketika Hinamori tidak menjawab. "Oi, Momo-chan, ada apa denganmu?"

Kali ini Hinamori mendengus. "Ada apa denganku?" ia balas dengan nada yang rendah. "Ada apa denganku?!"

Hitsugaya mengangkat kedua alisnya.

"Kau masih bertanya ada apa denganku?" suara Hinamori mulai meninggi. "Kemana saja kau? Menghilang begitu saja. Tidak masuk sekolah tanpa memberitahuku, bahkan ponselmu pun tidak aktif?"

Hitsugaya masih memandangi Hinamori yang masih marah-marah. "Bisa kita mengobrol di dalam saja?" Hitsugaya menggerakkan kepalanya ke arah rumahnya. "Lalu kau bisa melanjutkan omelanmu lagi, bagaimana?"

Sambil menggerutu tidak jelas, Hinamori mengikuti Hitsugaya masuk ke rumahnya dan mengenakkan sandal doraemon-nya seperti biasa. " Kemana saja kau hari ini? Sampai tidak masuk sekolah?" tanya Hinamori lagi sementara Hitsugaya melemparkan ranselnya ke sofa.

"Seireitei," sahut Hitsugaya sambil berjalan ke kamar tidurnya. Suaranya terdengar samar ketika ia berbicara dari kamar. "Mengunjungi kakekku."

"Seireitei?" tanya Hinamori ragu. Lalu ia bertanya lagi, "kenapa ponselmu dimatikan?"

Hitsugaya keluar dari kamar. Jaket tebalnya sudah dilepas. "Ponselku rusak. Dan sekarang sedang diperbaikki," jawab Hitsugaya singkat. Ia merebahkan diri ke sofa, kemudian ia menoleh ke arah Hinamori yang masih berdiri di samping sofa. "Kenapa meneleponku?"

"Tidak apa-apa," sahut Hinamori cepat. "Hanya ingin memastikan kau baik-baik saja." Ia diam sesaat kemudian menambahkan, "karena kau pergi tanpa bilang-bilang padaku."

Hitsugaya menatap gadis itu dengan alis terangkat. "Aku tidak tahu bahwa aku harus memberitahumu kemana aku pergi. Sejak kapan kita pacaran?"

"Itu…" Hinamori membuka mulut, tetapi cepat-cepat menutupnya kembali. Ia tidak bisa menemukan balasan yang tepat. Ia hanya bisa menatap Hitsugaya yang tersenyum lebar dan mendecakkan lidah. "Lalu…" ia berdehem, "kenapa kau pulang secepat ini? Kenapa tidak merayakan Tahun Baru bersama kakekmu?"

Hitsugaya menghembuskan napas panjang dan memasang tampang sedih. "Aku juga ingin menghabiskan malam Tahun Baru bersama kakekku disana. Disini sepi sekali, tidak ada yang menemaniku. Kau juga akan pergi kencan sebelum Hanabi bersama seniormu itu. Tapi ternyata kakekku akan pergi ke New York malam ini." Ia melirik Hinamori sekilas. "Ngomong-ngomong kenapa kau belum bersiap-siap?" tanyanya, pura-pura tidak tahu soal kencan Hinamori yang dibatalkan.

"Kencannya batal," gumam Hinamori sambil menjatuhkan diri di sofa samping Hitsugaya. "Ada acara keluarga dan kakeknya memintanya untuk hadir, jadi ia harus tetap datang ke acara itu."

Hitsugaya hanya bisa bergumam, "oh…" dan mengangguk-ngangguk.

Hinamori menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya dengan keras. "Ini akan menjadi Tahun Baru yang menyedihkan dalam hidupku," keluhnya lesu. "Semua orang akan pergi dengan pacar atau sahabat mereka, bersenang-senang menyambut Tahun Baru. Lalu aku?" ia mengerang kesal.

"Kau mau pergi kencan sebelum Hanabi bersamaku malam ini?" tanya Hitsugaya tiba-tiba.

Kepala Hinamori berputar secara cepat ke arah Hitsugaya. "Apa?"

"Kau mau pergi kencan malam ini bersamaku? Sebelum Hanabi?" ulang Hitsugaya. "Bukankah kita sama-sama tidak punya acara?"

"Kencan?"

Hitsugaya mengangkat bahu. "Ya, kau tahu pergi makan malam dan semacamnya, itu dinamakan kencan, bukan?"

Hinamori tersenyum lebar. Setidaknya ia tidak perlu melewatkan malam Tahun Baru sendirian. "Oke! Oke! Kita akan kemana?" serunya penuh semangat.

"Ah, itu akan menjadi kejutan," kata Hitsugaya sambil menyunggingkan senyum. "Sekarang kau hanya perlu bersiap-siap. Aku akan menjemputmu satu jam lagi."

Hinamori tertawa. "menjemput," katanya. "Kau membuat semuanya begitu romantis, padahal aku hanya tinggal di seberang rumahmu." Ia berdiri dari sofa. "Tapi aku suka dengan lelaki yang sopan dan perhatian seperti itu."

"Momo-chan." Hinamori mendengar Hitsugaya memanggilnya ketika ia mencapai pintu depan laki-laki itu.

Hinamori berputar. "Hm?"

Hitsugaya berdiri dengan kedua tangan dimasukkan ke saku celana jinsnya. "Berhati-hatilah," katanya dengan nada serius namun matanya tersenyum.

"Hati-hati? Terhadap apa?" tanya Hinamori was-was.

Senyum lebar tersungging di bibir Hitsugaya. "Setelah kencan ini, mungkin kau akan jatuh cinta padaku."

Hinamori mengangkat alis. Ia mengira Hitsugaya bercanda, akhirnya ia mendengus pelan dan berkata, "tenang saja. Tidak akan terjadi."

xxx

TSUZUKU...

Chapter 4 UPDATE… akhirnya saia berhasil menyelesaikannya juga! Fufufufu, setelah kemaren sempat ada kesalahan teknik pada komputerku hahaha *malah curhat*.

Gimana nie dengan chapter ini?? Aneh ya? Atau malah bikin penasaran? Hmm.. saia sih merasa chapter ini agak aneh!!! *lho?*. Di chapter berikutnya saia akan menampilkan romance IchiRuki! semoga aja tak ada halangan seperti kemaren, hehehe.

yosh saia akan lebih berjuang!!!!

Saatnya bales review^^

Rhistichimaru : hohoho arigatou^^. Hahaha iya betul!!! Makanya saia suka!!!! Makasih lho atas reviewnya.

Nana : Kau nana ya?? Maaf lho sebelumnya, habis kamu gag pake nama di reviewnya, hehehe. heh? Tahu darimana saia suka buat cerpen? O.o. Tapi makasih lho udah review.

Sachie Shiki Fujiwara : Yang bener sachie?? Jadi malu *blushing*. Yee.. itu bukan idenya Hitsugaya aja, saia juga berperan dalam ide cermelang itu *gag mau kalah*. Makasih ya udah review.

Artha chan : hahaha iya dong tha, kan terinspirasi dari kisah kamu sama si pete!! *ditendang artha*. Saia pasti akan membuat cerita yang lebih menarik, tunggu aja ya!!!

Rukii Nightray : Oh gitu ya??? Mungkin karena saia kurang teliti, tapi saia akan berusaha memperbaikkinya. Hahaha.. rukii itu emang sengaja! Habis saia kehabisan ide *PLAAAAKKK!!!!! Author geblek*. Makasih ya atas reviewnya^^.

-KilluMika 623- : Hai juga Mika..^^ iya nggak apa-apa. Yang penting kamu kan udah review, hehehe. Arigatou gozaimasu ne^^.

Des-3 chan : Iya des, makasih atas motivasinya.. tunggu chapter berikutnya ya.. *ngarep*

Anko kakashi : huuuuwwwwwwwwwaaaaaaaaa.. anko-san makasih udah nyempetin buat review fict saia hehehe. Saia jadi terharu T.T *alah lebay*. Iya saia pasti akan mengikuti saran anko. Saia juga kadang-kadang masih bingung untuk penggunaan huruf kapital pada kalimat percakapan. Habis ada yang bilang nggak usah pake. Sekali lagi makasih ya anko atas reviewnya.

Vatarani : Baru tahu ya ran??? Hehehe. Ya ampun ran tega banget, masa Ichimaru suruh jadi tukang gorengan? O.o. Udah kamu aja yang jadi tukang gorengan, hahaha *digampar rani*. Tuh udah saia masukin Ichimaru, kurang baik apa coba saia? Hahaha *memuji diri sendiri*. makasih ya atas reviewnya^^

Dewi chan : hahaha nanti deh saia buat kaya kereta api. Biar panjang sekalian *stres mode on* hahaha. Dew, menulis mah gampang! Tinggal nulis aja anak SD juga bisa hahaha *dilempar sepatu sama dewi~KABUUURRR!!!!!*. arigatou ya buat reviewnya^^

Buat semua teman-teman yang udah review, saia ucapakan makasih banyak ya udah RnR fict saia, Hontou ni arigatou gozaimasu /\.

Saia juga nggak pernah bosan buat bilang 'kutunggu review dari kalian semua ya supaya saia dapat memperbaikki fict ini menjadi lebih baik.'

Jaa mata ne^^