Chapter 4:

Hatake Kakashi, senang bertemu dengan anda.

Itu kan…

Sabaku!Sabaku!Sabaku!

Bahasa Inggrinya, I got nothing. Dia pandai berakting!

Kulihat juga begitu

Apa ada tato Ai didahinya?

Akhirnya aku bertemu dengamu

Aku ingin kau membantu kami menanamkan ide pada seseorang, aku ingin kau membantu kami

Maaf. Aku tidak berminat

Siapa dia Sakura?

Aku mohon jangan benci aku Sasuke!

Aku tak bisa

Pokoknya, kita bergerak mala mini!

Owl is taking off

Sparrow is taking off

Cran is taking off

Finch is taking off

Created by : Black winged reaper.

FBI kepunyaan U.S.A

Disclaimer : Masashi Kihimoto

Tidak menerima FLAME, SINDIRAN dan KATA-KATA BERSAYAP lainya (?)

Tampar Saya! Hahaha, saya konten ini cukup dewasa. Aku memang tak pernah memperhatikan rating film yang aku tonton karena aku mendownloadnya dari internet, tapi beberapa hari yang lalu saat aku mampir ke toko VCD/DVD film. Aku heran, masak 'Twilight' yang cuma kayak gitu dibilang dewasa? Itu berarti semua yang aku tonton itu dewasa semua dong? Jadi kalau Twilight yang kayak gitu aja dewasa untuk standard Indonesia, itu berarti fic-ku ini juga dewasa dong…Dan juga, aku bikin ini ketika aku lagi nggak puasa, jadi nggak dosa dong. Hahahaha

Saat ini Sakura dan Sasuke sedang duduk di sebuah kursi dengan meja bundar disebuah gazebo dipinggir lapangan golf dengan pohon rindang disamping mereka. Mereka sedang menunggu seseorang yang tak lain adalah Hatake Kakashi.

"Ini sudah lewat waktu kalian janjian Sasuke" kata Sakura sebal dengan tingkah laku targetnya yang satu ini.

"Dia memang sering lupa waktu dan telat" kata Sasuke mendekatan kursinya dengan kursi Sakura.

"Kau juga sering lupa waktu…" goda Sakura. Sasuke hanya tersenyum, detik berikutnya ciuman panas dari Sasuke mendarat di bibir mungil Sakura. Lidah Sasuke mnerobos masuk dan mengeksploitasi mulut Sakura. Setelah beberapa menit, mereka melepaskan ciuman mereka, tampak Sakura menyeka saliva yang hampir menetes dari mulutnya akibat ulah Sasuke.

"Kukira morning kiss itu hanya saat setelah bangun tidur saja" kata Sakura

"Ya, kau benar tapi dalam konteks lain, itu dapat menjadi hal yang berbeda" kata Sasuke.

"Wah maaf ya lama menunggu!" terdengar sebuah suara dari mobil van (aku nggak tahu namanya, itu lho yang biasanya orang main golf pake –aku lihat di 'Just go with it'-). Sasuke dan Sakura menengok kea rah sumber suara. Tampak seorang pria yang kelihatnya ramah ditemani dengan seorang wanita berkacamata, datang menghampiri mereka. Lalu dua orang pria lain datang menghampiri mereka –tanpa ditemani wanita- .

"Hai Sasuke, apa kabar?" sapa Kakashi.

"Halo Sasuke" sapa wanita yang menemani Kakashi.

"Hai Shion, lama tak jumpa" kata Sasuke menyalami wanita tadi.

"Hai Sasuke"

"Hai!". Wanita tadi lalu menyalami Sakura

"Hai, namaku Shion. Senang bertemu denganmu" katanya dengan senyum cemerlang

"Aku Sakura, senang bertemu denganmu. Kalau boleh tahu, kau ini siapa ya?" Tanya Sakura dengan senyum cemerlang –yang dipaksakan-

"Aku asisten Tuan Kakashi. Kau tahu, mengatur jadwal, mempersiapkan ini dan itu. Kau sendiri? Kau juga asisten Sasuke?" 'Satu orang lain yang dicurigai' kata Sakura dalam hati.

"Oh bukan, aku ini…"

"Dia calon istriku" sergah Sasuke memotong kalimat Sakura. Semua yang ada di tempat itu kemudian mereka tersenyum.

"Kau bilang belahan jiwamu di Amerika dan tak akan kembali…" kata seorang pria dengan rambut coklat dengan tato diwajahnya

"Ya, kau bilang begitu, aku masih ingat" kata pria dengan rambut coklat juga.

"Ya, aku pikir juga begitu" kata Sasuke malu-malu. Dia mendekati Sakura dan melingkarkan tanganya ke pinggang Sakura.

"Perkenalkan, Haruno Sakura" kata Sasuke

"Hatake Kakashi, senang bertemu dengan anda" kata Kakashi memperkenalkan dirinya pada Sakura.

"Sakura" kata Sakura tersenyum/ atau menyeringai. 'Ini dia targetku' katanya dalam hati.

"Inuzuka Kiba" pria ini menyalami Sakura

"Sakura"

"Sabaku No Kankuro" pria yang lain memperkenalkan diri

"Sakura". Akhirnya mereka masuk ke dalam perbincangan. Sakura menangkap sesuatu, ketiga pria ini ingin Sasuke berpartisipasi dalam suatu bisnis mereka. Dan Sakura yakin 100% bahwa hal ini berkaitan dengan kasus yang dia selidiki.

"Kau tahu Sasuke, jika kau setuju bergabung, maka kuota akan semakin besar, perusahaanmu juga akan untung besar" kata Kankuro

"Aku tak tahu, sudah banyak sekali perjanjian yang kulakukan, aku akan sibuk sekali dan tak ada waktu untuk mengurusi hal lain. Lagi pula kalian belum mengatakan hal ini tentang apa" kata Sasuke menolak secara halus. 'Itu baru Sasuke' kata Sakura bangga dalam hati

"Kita akan membicarakanya begitu kau setuju" kata Kiba

"Mungkin kita akan membicarakan ini lain kali saja. Sepertinya Sasuke stress. Ayo main!" ajak Kakashi.

"Aku setuju" sahut Sasuke yang setelah itu meneguk teh-nya.

"Ya, aku juga setuju". Lalu keempat pria itu turun kelapangan. Dalam hati Sakura bangga pada Sasuke yang sangat perhitungan dalam mengambil keputusan. Kini ia hanya tinggal dengan Shion, asisten Kakashi yang sudah ia tetapkan menjadi 'suspected' olehnya dan mungkin teman-temanya menambahkan dua pria lainya dalam daftar. Setelah itu, Shion mengajaknya ngobrol tentang macam-macam hal yang membuat Sakura cukup bosan karena dia tahu dia tak mendapatkan apa-apa. Setiap Sakura mengarahkan pembicaraan pada perusahaan Kakashi, dia pasti mengubah topik, seakan menyembunyikan sesuatu.

'Jika ada dia, kami tak akan kewalahan, tinggal cuci otaknya, mereka ngaku! Selesai!' pikir Sakura dalam hati.

"Sparow is taking on" bisiknya pelan.

Akhirnya pertemuan ini berakhir dengan akhir, Sakura tak mendapatkan apa-apa. Di mobil Sakura membuka pembicaraan.

"Kau tahu Sasuke, aku menangkap kesan kalau mereka memaksamu masuk dalam forum mereka" kata Sakura saat mereka menanti lampu merah menjadi hijau

"Ya, setiap orang akan melakukan apa saja untuk mendapatkan yang mereka inginkan bukan…" kata Sasuke dengan senyum diwajahnya. Hati Sakura sedikit mencelos mendengar perkataan Sasuke.

"Ya, tapi aku bangga padamu yang perhitungan" kata Sakura. Sasuke menunjukkan senyuum terbaiknya pada Sakura dan mengecup bibir Sakura sekilas.

"Aku juga bangga padamu. Kupikir kau akan bosan" kata Sasuke menyandarkan kepala Sakura ke dadanya.

"Sebetulnya kalau boleh jujur. Ya, aku bosan, aku tak nyambung bicara dengan asisten Kakashi itu" kata Sakura

"Apa yang kalian bicarakan?" Tanya Sasuke

"Bukan itu, saat aku bertanya sesuatu padanya, dia malah balik bertanya dan akhirnya aku yang menjawab pertanyaaku sendiri" kata Sakura kesal sambil bangkit dari pelukan Sasuke. Lampu merah telah berganti. Saat mereka melintasi pusat pertokoan Tokyo, dengan kecepatan Sasuke yang sedang sekarang ini, Sakura dapat melihat dengan jelas bahwa dia melihat sesuatu atau lebih tepatnya seseorang yang tak pernah difikirkan Sakura.

"Itu kan…"

"Ada apa Sakura? Kau melihat apa?" Tanya Sasuke

"Tidak, bukan apa-apa" kata Sakura

"Ayolah, kau membuatku cemas" kata Sasuke.

"Tidak, bukan apa-apa sungguh!, Hanya melihat sebuah benda" Kata Sakura terpaksa berbohong

"Oya, benda apa itu?" Tanya Sasuke. Skak Matt Sakura! 'Kami-sama, maafkan hambamu ini' kata Sakura dalam hati.

"Sebuah sepatu! Ya sepatu! Sepertinya aku pernah melihatnya waktu berkunjung ke New York" dusta Sakura lancar.

"Mau berbalik dan melihat?" tawar Sasuke "Aku tak mau kau tidak mendapatkan sesuatu yang kau inginkan" kata Sasuke yang tanpa persetujuan Sakura mengambil jalan lain untuk berputar ke area pertokoan yang telah mereka lewati tadi. 'Shit!' umpat Sakura dalam hati. Akhirnya, hari itu mereka lewati dengan berbelanja baju-baju dan aksesoris untuk Sakura.

04.00 p.m

Sesampainya rumah, Sasuke langsung merebahkan dirinya di sofa ruang keluarga. Sakura menyuruh beberapa pelayan membawakan belanjaanya ke kamarnya, lalu menghampiri Sasuke. Degan inisiatif, Sakura melepaskan sepatu Sasuke dan diam-diam, Sasuke tersenyum lalu bangkit dan duduk menghadap Sakura.

"Kau pasti lapar, mau kumasakkan sesuatu?" Tanya Sakura

"Tentu saja. Sudah lama aku tak merasakan masakanmu" kata Sasuke.

"Baiklah, aku ke dapur dulu" kata Sakura sambil bangkit. Tapi tangan Sasuke menghalanginya.

"Aku ikut" pinta Sasuke. Sakura tersenyum dan mangangguk. Mereka bergandengan tangan sepanjang jalan menuju dapur. Kalau boleh jujur, Sasuke tak ingin terlepas dari tangan hangat ini. Dia terlalu bergantung pada Sakura. Lihat perbedaan saat ia ditinggal Sakura dan sekarang. Jauh berbeda.

Setelah makanan jadi, Sakura menaruhnya disebuah piring dan ia letakkan diatas meja, dimana Sasuke telah menunggu dikursi selama kurang lebih 20 menit.

"Selesai!" ucap Sakura seraya menaruh piring itu dimeja.

"Kelihatanya enak!" kata Sasuke semangat.

"Iya lah. Sekarang makanlah, setelah itu kau mandi dan tidur. Kau perlu istirahat" kata Sakura menasehati.

"…"

"Kau bisa bangun untuk bekerja di pagi-pagi buta. Aku akan membangunkanmu" lanjut Sakura. Sasuke tersenyum. Dia senang ternyata Sakura sangat -masih- mengerti sifatnya.

"Iya. Tapi sama kau ya. Semuanya!" kata Sasuke tegas. Sakura memijit pelipisnya.

"Baiklah"

"Sekarang, aku mau kamu suapin aku" kata Sasuke. Sakura tersenyum geli. Dia mengangguk dan mengambilkan makanan untuk Sasuke dari piring-piring besar yang telah tersedia, dan acara makan siang Sasuke-pun berjalan lancar.

Dimalam hari, Sakura tidur dengan posisi kepalanya didada Sasuke, sedangkan tangan Sasuke berada di , pukul 4 dini hari Sakura terbangun. Dia mencoba mengingat kembali orang yang dia lihat diarea pertokoan tadi. Dia mengenalnya orang itu. Orang itu adalah pelatih regunya dalam hal 'defense' beberapa bulan yang lalu saat mereka menjalani pelatihan lanjutan. Orang itu adalah orang yang mengajari mereka untuk mengatur emosi saat berhadapan dengan musuh. Orang itu adalah salah satu agen elit termuda yang ada di FBI. Orang itu adalah orang yang mempunyai hak istimewa lebih dari pada yang lain. Orang itu, komandan pasukan Alfa. Orang itu, komandan strategi penyerangan. Orang itu, Sabaku No Gaara.

'Sabaku!Sabaku!Sabaku! Kenapa dia ada disini?' pikir Sakura

'Sepertinya, besok aku harus bicara pada teman-teman' lanjut kata melirik kearah Sasuke yang masih tertidur pulas, tapi karena dia berjanji akan membangunkanya untuk bekerja dan harus menemaninya. Sakura menghela nafas. Perlahan, tanganya menyentuh pipi Sasuke dan mengusapnya pelan,dan raut tidur pulas Sasuke berubah menjadi raut tidur tertanggu, beberapa detik kemudian, mata Sasuke membuka sempurna. Tangan kanannya mengucek mata yang dirasanya masih berat itu, tapi sebuah kalimat dari sang gadis dapat membangunkanya secara sempurna.

"Mau bekerja tidak? Aku temani. Nanti aku bikin kopi biar kamu nggak ngantuk.". Sasuke tersenyum mendengar kalimat Sakura, dia mangangguk. Dan pagi itu mereka lewati dalam diam diruang kerja Sasuke.

09.00 a.m

Setelah Sasuke pergi bekerja, Sakura memutuskan untuk pergi menemui teman-temanya.

"Aku datang…" kata Sakura setelah masuk ke apartemen. Terdengar derap langkah menuju kearahnya.

"Sakura! Lama tak jumpa." Sapa Ino.

"Hai Ino! Mana yang lain?" Tanya Sakura

"Hinata kerja. Tenten didalam, ayo! Aku punya info menarik. Hinata dan Tenten juga punya" kata Ino. Sakura mengangguk. Dia mengikuti Ino dan mereka sampai diruang terlihat Tenten sedang mengamati beberapa lembar kertas berisikan tulisan-tulisan. Mereka duduk dihadapan Sang Alfa. Lalu Ino membuka pembicaraan.

"Aku tak tahu ini penting atau tidak, kau tahu Sakura, ternyata Darui itu Gay." Kata Ino

"Apa?" Tanya Sakura tak percaya.

"Aku tahu ini sulit dipercaya. Dan kau tahu, ternyata pacarnya dalah orang yang Hinata curigai"

"Benarkah? Wow! Aku ketinggalan banyak berita" kata Sakura. Tenten terkikik pelan dan menghentikan aktivitas masuk ke dalam obrolan

"Lalu, kau dapat apa?" Tanya Tenten pada Sakura. Ino ikut menoleh kearahnya.

"Aku dapat tiga orang lagi yang perlu dicurigai" kata Sakura

"Dan Kakashi sendiri?" Tanya Ino

"Hehe. Bahasa Inggrinya, I got nothing. Dia pandai berakting! Dia membiarkan dua orang yang lain bicara sedangkan dia sendiri hanya diam." Kata Sakura

"Kulihat juga begitu" kata Tenten.

"Siapa saja mereka Sakura?" Tanya Ino.

"Asisten Kakashi sendiri, Shion. Seseorang dari Inuzuka Co. dan Sabaku Co namanya Kiba dan Kankuro" jelas Sakura. Ino kemudian mencatatnya dalam buku pegangan itu mereka diam sejenak..,sampai Sakura memecahnya.

"Aku tak yakin, tapi aku kira aku melihat Gaara" kata Sakura. Kedua temanya langsung shock.

"Kau yakin? Gaara? Sabaku No Gaara?" Tanya Ino. Sakura mengangguk.

"Gaara? Komandanku?" Tanya Tenten. "Ya" jawab Sakura

"Gaara dari Forum F? Yang mempunyai hak istimewa segudang itu?" Tanya Ino lagi.

"F for Front, F for Fight" ucap Sakura dan Tenten.

"Ya, Gaara yang itu. Yang pernah menjadi pelatih kita" kata Sakura

"Kau yakin? Apa ada tato Ai didahinya?" Tanya Tenten. Sakura sedikit berfikir

"Sejauh yang kulihat. Tidak. Tidak ada tato Ai didahinya" kata Sakura

"Itu berarti dia sedang tidak bertugas" kata Tenten.

"Ngapain dia kesini?" Tanya Ino

"Mungkin menggunakan salah satu Hak istimewanya yang segudang itu" jawab Sakura.

"Ya, mungkin dia berlibur" sambung Ino

"Atau bisa jadi dia terlibat dalam hal ini. Katamu seseorang dai Sabaku CO. Namanya Kankuro, mungkin dia saktu keluarga dengan Gaara" kata Sakura.

"Tidak, dia bukan orang yang seperti itu. Dia bukan orang yang hanya mengincar uang. Lihat saja, uangnya sudah banyak sekali. Bahkan mungkin untuk membiayai hidupnya sampai dia punya anak saja tak akan habis. Dia mungkin malah sedang menyelidiki sesuatu tanpa komando dari pusat" kata Tenten. Sakura dan Ino mengangguk. Itu mungkin saja. Dari yang mereka amati saat bertemu dengan Gaara, dia adalah pria yang dikatakan Tenten barusan. Dia sangat menjunjung tinggi kesetiaan pada yang terpenting,dia tak mungkin terlibat dalam kasus ini jadi semakin membingungkan saja…

"Oya ngomong-ngomong, boleh aku menemui Hinata?" Tanya Sakura

"Dia sedang bekerja Sakura" kata Ino

"Dia sedang menyamar, lagi pula aku ingin melihat rupa pria itu secara langsung. Siapa tahu aku pernah melihatnya" kata Sakura

"Baiklah, kau boleh pergi" kata Tenten mengizinkan

"Terimakasih" kata Sakura lalu beranjak dari tempatnya.

Sakura memilih berjalan kaki karena dia ingin berjalan-jalan ke taman kota terlebih dahulu, dan juga, dia ingin ke pusat pertokoan Karen adia ingin tahu, apakah Gaara melewati tempat itu lagi. Ternyata ya, dia melihat pria itu masuk ke sebuah toko busana. Dengan segera, Sakura mengikutinya dan masuk ke toko busana itu.

Disana Gaara sedang memilah-milah kemeja untuknya sendiri dideretan kemeja pria, karena takut ketahuan mengikuti, Sakura juga ikut memilah-milah pakaian secara asal dideretan pakaian wanita. Tapi setelah beberapa saat, dia kehilangan sosok pria itu, toko itu sedang ramai, jadi cukup sulit untuk dia akan beranjak, tangan seseorang menahanya.

"Hei, jangan buang uangmu hanya karena kau mengikutiku. Bagaimana kalau aku mampir ke toko mobil, kau juga akan memilih mobil juga?" Tanya pria itu setengah bercanda. Mereka berdua terkikik geli.

"Damn" runtuk Sakura yang masih terkikik bersama Gaara.

"Kurasa kau belum bisa mengikutiku dengan sempurna tanpa terlihat. Kau tahu, kau malah menarik perhatianku, dengan rambut ini…" kata Gaara geli

"Ya, aku buruk dalam mengikutimu. Aku akui! Silahkan tertawa." Kata Sakura geli juga. Betapa bodohnya dia, mengikuti agen elit dengan cara tradisional dan terlebih, rambutnya yang sekarang tidak mendukung.

"Ayo kita keluar. Hahaha" ajak Gaara yang masih memegang tangan Sakura.

"Oke. Lagipula ada sesuatu yang ingin kubicarakan" kata Sakura yang masih merutuki dirinya.

Mereka duduk disebuah bangku taman ditaman kota sambil memegangi ice cream cone yang menera beli disana. Gaara memulai pembicaraan

"Akhirnya aku bertemu dengamu" kata Gaara sambil menjilat ice cream-nya. "It's been a year" lanjutnya.

"Yeah. It's been a year" kata Sakura sambil mengangguk mulai memakan ice creamnya. "Since that day…" lanjutnya. Gaara tersenyum

"That day…full of memories. Beutiful" katanya setuju sambil menerawang. Sakura beralih ke wajah Gaara

"Pervert!" katanya sambil meninju muka Gaara dengan ice creamnya.

"Hei, apa yang kau lakukan!"

"Hei, apa yang kau lakukan?. Kita sepakat, kita tak akan mengingat hari itu lagi. Kau ingat kan?" Tanya Sakura

"Hai, jangan salahkan aku, nona manis" kata Gaara membalas Sakura dengan meninjukan ice creamnya ke muka Sakura.

"Kenapa kau ini?" Tanya Sakura membalas Gaara lagi. Gaara kembali membalasnya, lalu Sakura membalasnya lagi, sampai kedua ice cream mereka jatuh ke tanah dan muka mereka cemong penuh dengan noda ice cream.

"Hahahahaha" tawa mereka meledak diantara keramaian pengunjung taman yang ramai.

"Lihat, ice creamnya mencair!" kata Sakura

"Itu ulahmu" timpal Gaara. "Lagipula, kita masih bisa memakan conenya" kata Gaara yang setelah itu menggigit bagian bawah cone ice creamnya "Hei, masih ada sisa ice creamnya" lanjutnya menggigit conenya lagi. Sakura hanya geli sendiri melihat kelakukan temanya itu. Teman?

"Kurasa sebaiknya kita cuci muka" kata Sakura

"Ya, aku setuju". Setelah cuci muka, barulah pembicaraan sesungguhnya dimulai.

"Kau sedang menjalankan misi ya?" Tanya Gaara

"Ee…, Ya." Jawab Sakura

"Pidana?Perdata?" Tanya Gaara lagi

"Pidana. Korupsi, tapi sayangnya, jumlahnya terlalu berlebihan" kata Sakura

"…". Sakura melirik Gaara

"Aku tahu kau tidak bodoh. Kau tahu sesuatu, terlebih keluargamu terlibat dalam hal ini" kata Sakura

"Kankuro? Ya, dia mungkin terlibat. Aku tak tahu juga. Lagi pula keluargaku tidak tahu kalau aku pulang ke Jepang" kata Gaara

"Jadi, kau ini sedang misi atau tidak?" Tanya Sakura sebal

"Tentu tidak. Aku hanya ingin bersenang-senang disini" kata Gaara

"Bersenang-senang? Lalu, bisakah kau membantu kami?" Tanya Sakura penuh harap

"…"

"Aku ingin kau membantu kami menanamkan ide pada seseorang, aku ingin kau membantu kami!" kata Sakura tegas

"Maaf. Aku tidak berminat. Lagipula, aku yakin masalah sepele seperti ini tak membutuhkan cara yang banyak. Aku tak ingin mengorbankan energiku hanya untuk masuk ke pikiran orang, kau juga begitu bukan?" Tanya Gaara. Sakura menghela nafas

"Ya, kau benar. Tapi tetap saja, aku ingin segera kembali ke US" jelas Sakura

"Kenapa? Bukankah asik pergi ke belahan dunia lain? Apalagi ini Jepang. Kau tidak suka? Atau kau ingin segera ke LA melihat konser selebriti?" Tanya Gaara. Sakura meninju lengan Gaara pelan.

"Bukan itu. Masalahnya, peranku sedang tidak bagus" kata Sakura. Gaara melihat perbedaan raut wajah Sakura, dia tersenyum.

"Kau itu professional kan?" Tanya Gaara sambil mengacak-acak rambut Sakura

"Iya. Aku tahu. Aku sangat tahu…." Kata Sakura pelan. Gaara sangat tahu Sakura, dia sangat tahu bahwa sekarang Sakura sedang berada dalam dilema yang Sakura sendiri tak bisa menyandarkan kepala Sakura dlaam dekapanya. Kini sang adik kecil? telah berada dalam pelukan hangatnya. Dia akan menjaganya, dia selalu menjaganya. Dari mara bahaya yang besar, sampai kecil sekalipun. Dia selalu berada disana, melindungi sang gadis. Sayang, Sakura tak tahu akan hal itu.

"Kau tahu Gaara, hal ini sangat menyakitkan, menyakitkan" gumam Sakura, perlahan air mata mulai meluncur dari mata Sakura.

"Sepertinya peranmu memang tidak enak" kata Gaara membenarkan

"Tidak. Aku bodoh, karena aku sendiri…, aku jadi mendapat peran ini. Ini semua salahku sendiri" kata Sakura.

"Semua akan baik-baik saja. Tunggulah…" kata Gaara menenangkan

"Aku menunggu. Aku selalu menunggu" gumam Sakura dalam dekapan Gaara. Air matanya terus itu, mereka tidak tahu, mereka tidak tahu bahwa sepsang mata onyx sedang hancur diseberang sana.

Sasuke's POV

Sial! Kenapa sih si tua bangka itu ingin rapat ditempat yang tidak seharusnya? Apalagi diluar kantor? Yang benar saja! Kalau bukan karena dia adalah orang penting dalam pemerintahan, aku tak akan mau datang, dan yang lebih menjengkelkan lagi, asistenku yang satu ini sangat merepotkan. Dia belum sarapan, karena itu dia sedang membeli secangkir kopi sekarang. Aku iba padanya, badanya lemas seperti tanpa nyawa. Dan aku ditinggal begitu saja di mobil bersama sopir yang cerewetnya minta ampun. Eh tunggu, aku harus sabar….Sekarang, aku berada dikawasan taman kota dan aku sangat terkejut karena aku melihat Sakura disana, terlihat dia sedang bercakap dengan seorang pria yang sepertinya dia kenal.

Aku melihatnya bicara pada pria itu dengan raut tegas. Temanya tidak menanggapi, lalu dia terlihat bicara serius lagi, sepertinya ada sesuatu yang sangat serius yang mereka lama kemudian, Sakura meninju pelan temanya. Aku terkikik geli, jelas dia memasang tampang sebal disana. Setelah itu, pemuda itu bicara sambil mengacak-acak rambut Sakura.

Aku tidak suka hal ini.

Setelah itu, Sakura menundukkan kepalanya, dia terlihat sedih. Ada apa sebenarnya? . Tiba-tiba aku melihat tangan pria itu mendekatkan kepala Sakura kedadanya, dia mendekap Sakura. Api dalam tubuhku sudah meletup-letup. Ada apa sebenarnya? Siapa pria itu? Apa yang mereka lakukan? Apa yang mereka bicarakan? Lagipula, kenapa bila ada masalah, Sakura tak bercerita kepadaku saja? Kenapa malah dengan orang lain?

Kulihat Sakura menangis dalam diam. Dia menangis, tapi tak terisak. Hatiku hancur mengetahui bahwa Sakura tidak menceritakan masalahnya kepadaku, dia malah menceritakanya pada orang aku ini apa?Aku ini siapa? Aku tak tahu lagi, aku ini sedang cemburu atau kerasukan. Ingin rasanya aku keluar mobil ini, menyeberang dan memergoki mereka. Tapi tidak! Aku bukan orang yang gegabah. Aku bukan orang yang gegabah…

Tapi hal ini menyangkut Sakura, apa yang harus kulakukan?

"Saya sudah selesai, tuan bisa kita jalan lagi?" Tanya asistenku yang baru saja masuk mobil.

"Ya. Jalankan mobilnya" kataku. Perlahan mobil meninggalkan area taman kota. Dan meninggalkan gadisku didekap oleh pria lain. Satu yang kuketahui, dia sedang dalam masalah. Satu yang kuinginkan. Cepat pulang dan bertanya pada Sakura.

End of Sasuke's POV

04.00 p.m

Sakura sedang berada di taman Uchiha CO. Setelah berpamitan dengan Gaara, Sakura menjalankan tujuan awalnya, bertemu dengan Hinata. Sakura sedang mencari-cari, dan BINGO! Akhirnya dia melihat Hinata. Dia sedang berada disebuah bangku taman didekat pohon rindang didepan gedung Uchiha CO, sepertinya dia bersiap untuk pulang. Sakura langsung menghampirinya.

"Hinata" sapa Sakura

"Sakura. Hai! Ayo duduk" kata Hinata bergeser memberikan ruang untuk Sakura duduk. "Apa yang membuatmu kesini" Tanya Hinata.

"Aku ingin melihat orang itu" kata Sakura.

"O, itu orangnya. Namanya Suigetsu" kata Hinata sambil menunjuk seorang pria yang sedang berjaga. Sakura mengamati orang itu dari atas sampai bawah. Setiap ciri fisiknya, mulai dari posisi alis, bentuk wajah dan lain-lain. Hal itu selalu Sakura lakukan, terlebih saat penyamaran, orang itu mudah dikenali.

"Dia adalah seorang security. Dia selalu mengambil sift sore. Itu berarti jam kerjama mulai sore sampai pagi. Tapi anehnya dia selalu datang lebih awal 3 jam. Kalau aku sih, tak mau" kata Hinata. Sakura mengangguk

"Kau sudah tahu kan kalau dia itu pacarnya targetnya Ino" kata Hinata

"Ya, aku sudah dengar tadi. Dan saat kau pulang, kau juga akan mendengar berita baru" kata Sakura

"Berita apa?" Tanya Hinata

"Nanti saja. Mereka akan memberitahu. Pasti"kata Sakura. Tiba-tiba saja ada suara yang mengagetkan mereka.

"Sakura" sapa seorang pria yang kini berdiri tegap dihadapan mereka. Sasuke.

"Sasuke…" kata Sakura tak percaya. Kenapa Sasuke bisa dihalaman depan? Bukankah dia biasanya di ruanganya? "Sedang apa kau disini?" Tanya Sakura.

"Aku juga ingin menanyakan hal yang sama. Sedang apa kau disini? Dan siapa ini?" Tanya Sasuke dengan nada yang menurut Sakura tidak mengenakkan.

"Aku sedang jalan-jalan saja. Lalu aku mampir dan akhirnya aku bercengkrama dengan dia. Namanya HInata. Dia staff cleaning service disini" jelas Sakura sejelas-jelasnya sambil tersenyum menatap Sakura tak percaya 'Bisakah dia memikirkan jawaban yang lebih baik. Seperti tak sengaja melihatku terjatuh dan menolongku atau apa gitu!' runtuk Hinata

"Sekarang bisakah kau ikut denganku?" Tanya Sasuke maupun Sakura merasakan sesuatu tak mengenakkan akan terjadi

"Bisa" jawab Sakura. Dengan segera Sasuke manarik Sakura dari tempat itu menuju kantor tanpa memperdulikan Hinata. Sakura melambai kecil pada Hinata. Hinata membalasnya dengan tampang kasian. Setelah itu, Hinata pergi dari tempat itu.

Sementara itu, Sasuke ternyata membawa Sakura menuju ruangnya. Setelah mereka masuk, Sasuke mengunci pintunya. Sakura merasakan aura yang lagi-lagi tak menyenangkan dari Sasuke cukup luas, cukup sangat luas untuk ukuran ruangan kerja. Disana ada seperangkat sofa, dan ada dua pintu lain di ruangan itu, yang menurut Sakura adlaah kamar mandi dan kamar tidur untuk ada dua almari yang dipenuhi dengan buku dan map berkas-berkas, meja, kursi dan lain-lain.

"Siapa dia Sakura?" Tanya Sasuke tiba-tiba. Sakura berbalik menghadap Sakura. Jujur Sakura tak mengerti pertanyaan Sasuke saat ini.

"Maksudmu Hinata?" Tanya Sakura. Sasuke menyeringai kecil sambil menundukkan wajahnya.

"Siapa dia Sakura?" Tanya Sasuke dengan pertanyaan yang sama. Sakura jadi semakin tak mengerti.

"Siapa yang kau maksud?" Tanya Sakura balik

"Siapa dia Sakura? Laki-laki yang ditaman?" Tanya Sasuke sambil mendekati Sakura dengan wajah terangkat. Terlihat raut kecewa dan ee.., cemburu yang Sakura tangkap. Sakura seketika membelalakkan matanya, jadi Sasuke melihatnya bersama Gaara. Sakura menyeringai kecil tak menyangka Sasuke akan melihatnya.

"Dia Gaara. Dia ko-eh, atasanku di Amerika" kata Sakura yang hampir saja keceplosan. Dia merutuki dirinya sendiri sekarang 'bodoh!bodoh!bodoh!'. Dia jadi tau, ternyata ini yang membuat Sasuke aneh.

"Atasan ya? Lalu kenapa kalian sangat dekat?" Tanya Sasuke didepan Sakura. Tanganya mencengkram bahu Sakura dengan kuat. Sakura hampir saja limbung karena cengkraman Sasuke yang tiba-tiba.

"Disana memang begitu kan? Itu wajar" kata Sakura. Jika Hinata atau Ino mendengar ini, maka mereka akan menyeret Sakura ke kamar mandi dan berteriak padanya 'Bisakah kau mencari jawab yang lebih baik?'. Atau Tenten yang langsung menginjak kakinya tanpa ampun. Apapun itu, Sakura memang tak memiliki jawaban yang bagus untuk situasi ini.

"….". Sasuke tak menjawab. Perdebatan kontrofersi antara hati dan pikiranya terus berlanjut, disisi yang satu, dia tidak ingin memikirkan hal yang aneh-aneh tentang Sakura, tapi disisi lain apa yang dia lihat tadi sudah jelas membuktikan bahwa Sakura menyembunyikan sesuatu darinya.

"Jadi, itu yang ungun kau tanyakan?" Tanya Sakura. Sasuke menggelengkan kepalanya.

"Lalu?" Tanya Sakura lagi.

"Kenapa?" Tanya Sasuke. Jujur, setiap Sasuke bertanya, kenapa dia tak pernah menyelesaikan kalimatnya.

"…"

"Aku lihat tadi kau menangis. Kenapa? Kenapa kau tak ceritakan saja padaku?Kenapa orang lain? Kenapa orang lain yang lebih dulu tahu masalahmu? Kenapa bukan aku? Kenapa Sakura? Kenapa?" Tanya Sasuke sedikit berteriak. Sakura terbelalak, dia pikir Sasuke akan marah karena cemburu atau sebangsanya, tapi ternyata? Dia mengkhawatirkan dirinya? Sakura tahu perasaan Sasuke sekarang. Dia merasa seakan Sasuke tak DIANGGAP dalam hidupnya. Sakura menundukkan kepalanya. Dia malu. Dia malu pada pria yang ada dihadapanya.

"Kenapa Sakura? Jawab Aku!" perintah Sasuke yang sekarang benar-benar berteriak.

"Maaf. Tapi kau perlu tahu, ini tak ada sangkut pautnya denganmu. Aku tak ingin kau terbebani dengan masalah yang bukan urusanmu. Aku mohon jangan benci aku Sasuke! Dia adalah atasanku, hanya itu" kata Sakura pelan. Sakura tahu, alasanya sungguh tidak rasional.

"Aku tak peduli!Aku tak peduli itu urusanku atau bukan? Aku tak peduli itu bukan masalahku! Aku hanya ingin kau selalu bersamaku Sakura.. Hanya itu! Mulai sekarang, kau akan menceritakan apapun mengenai kehidupanmu padaku! Apapun! Termasuk masalah! Aku harusnya menjadi orang pertama yang mendengar masalahmu! Bukan orang lain! Sakura!" kata Sasuke dengan nada perintah sambil menggoncangkan bahu Sakura. Sakura semakin menunduk lebih dalam.

"Aku akan menceritakanya. Aku janji Sasuke…aku janji" kata Sakura pelan, hingga menyerupai orang yang menangis. Padahal… bah! Sasuke yang mendengar itupun mau tak mau cukup merasa bersalah. Dia mengangkat wajah Sakura, dan dilihatnya mata emerald yang selalu cemerlang itu kini tercampur juga dengan warna merah dan cairan bening.

"Aku janji…" kata Sakura lagi. Dia tak menyangka Sasuke akan mengatakan hal itu padanya. Bukan karena nada memerintah atau volume suara, tapi lebih kepada kasih sayang yang begitu besar darinya. Apapun itu, Sakura sangat beruntung mempunyai kekasih seperti Sasuke. Dia bahkan tak mempersoalkan siapa Gaara? Tapi kenapa dia memilih Gaara sebagai tempat curhat? Padahal jika Sasuke tahu situasi yang sebenarnya, siapa Sakura? Siapa Gaara? Maka Sasuke akan sangat shock. Sakura tak bisa membayangkan kalau nantinya Sasuke tahu siapa dia sebenarnya dan akan bergumam 'FBI…, kau?' lalu saat Sasuke ingat pertemuanya dengan Gaara, dia akan bilang 'Apakah waktu itu kau sedang membicarakan strategi?' Oh My! Sungguh, penuh dengan compassion.

Sasuke tersenyum kecil. Lalu direngkuhnya Sakura kedalam pelukan hangatnya. Sakura membalasnya, jujur, dia tak ingin kehilangan kehangatan ini, kehangatan yang selalu membuatnya rindu, bahkan saat berada di dia sadar, bahwa kehangatan ini tak akan ia dapatkan selamanya. Suatu hari nanti, dia harus menginggalkan semua ini dan kembali ke dunianya.

"Aku tak bisa, aku tak bisa membendimu Sakura. Percayalah.." kata Sasuke sambil menenggelamkan kepalanya keantara helaian rambut Sakura. Sangat suka saat-saat seperti perkelahianya, tapi saat dimana dia dan Sakura hanya sendiri, tak ada yang mengawasi. Wajahnya turun untuk mengucup bahu Sakura yang kini terekspos karena sekarang Sakura sedang mengenakan baju tak berlengan. Dia suka, tapi dia tak suka. Dia tak suka tentu saja, karena banyak laki-laki yang menurut Sasuke sangat tertarik pada Sakura sejak mereka memandang Sakura untuk pertama kali. Apalagi dengan baju yang mendukung…, Sasuke benar-benar tidak suka. Tapi dia juga suka, karena baju ini praktis. Kenapa? Ya tentu saja, semua laki-laki sama saja.

"Pulang?" Tanya Sakura

"Bagaimana kalau kita menginap saja. Kau belum pernah menginap disini kan?" Tanya Sasuke yang kini menjilat-jilat tengkuk Sakura.

"Tapi kan, aku tak bawa baju ganti?" protes Sakura. Sasuke tersenyum. Dia menjauhkan kepalanya dari tengkuk Sakura dan berkata.

"Baiklah, didekat sini ada toko busana, kita kesana dulu. Lalu kita kembali kesini. Oke?" Tanya Sasuke. Sakura hanya mengungguk.

09.00 p.m

Sasuke dan Sakura sudah siap untuk bermalam dangn baju tidur kembar yang baru saja mereka beli. Seorang penjaga toko mengira mereka adalah sepasang suami istri dan menyarankan mereka untuk membeli baju tidur kembar, tentu saja Sasuke sangat setuju. Sakura hanya geleng-geleng. Warna bajunya merah maroon dengan warna pelengkap putih. Dan jujur, Sasuke sedikit bergairah karena baju Sakura bentuknya piyama dan cukup transparan jika dilihat di ruangan dengan intensitas cahaya yang bisa melihat lekuk tubuh Sakura dengan mudahnya, Sakura mengenakan bra berwarna hitam dan celana dalam dengan warna yang sama. Sakura menekan saklar, dan lampunya pun padam. Dan tiba-tiba sebuah tangan telah bertengger di pinggangnya. Sasuke memeluknya dari belakang, sangat cahaya dari gemerlap dunia malam yang menyinari mereka.

Sasuke menyibakkan rambut Sakura kesamping agar ia lebih leluasa untuk menciumi tengkuk Sakura, menjilat dan menggigit. Sakura tentu saja tak keberatan. Dia bahkan menyeruakan nada desahan yang membuat Sasuke samakin bersemangat dan mencium, menjilat dan menggigit tengkuk Sakura, Sasuke juga meraih tali pengikat piyama Sakura dan melepaskanya. Dan untuk selanjutnya, saya tak bisa melanjutkanya karena saya belum bisa buatnya. Hahaha(ketawa nisata)

02.00 a.m

Keduanya telah terlelap bersama tanpa sehelai benangpun menutupi tubuh mereka. Hanya kenahangatan dari selimut afghan tebal dan pasangan yang menghangatkan mereka. Keringat yang menjadi satu juga mendukung mereka untuk tertidur pulas, tapi Sakura tetap bertangun disaat-saat seperti ini, seolah sesuatu memanggilnya. Karena penasaran insting apa yang memanggilnya dia bangun dari dekapan sang kekasih dengan pelan-pelan supaya Sasuke tak bangun. Dia berhasil. Dia mengambil piyamanya yang tergeletak tak berdaya didekat sakelar.

"Egh…, Sakura. Mau kemana?" panggil Sasuke yang ternyata terbangun karena Sakura pergi. Sakura mendekat kea rah Sasuke dan mendekapnya dari atas beramaksud untuk menenangkanya.

"Ssshhh, aku hanya kekamar mandi. Tidurlah…" bujuk Sakura. Sasuke melingkarkan tanganya dipinggang Sakura.

"Jangan lama-lama" pintanya manja. Sakura mengelus-elus rambut lengket Sasuke

"Iya, aku takkan lama. Aku janji" Sakura mengecup bibir Sasuke sekilas dan bangkit dari pelukan Sasuke. Dia keluar kamar itu, tapi tidak kekamar mandi, melainkan keluar dari ruangan Sasuke. Dia melihat sekeliling, gelap dan tak ada siapa-siapa. Tapi dia yakin pada instingnya, ada sesuatu yang tak beres. Gaara mengajarinya supaya dia percaya pada perasaanya. Dan sekarang, itu yang coba dia kaki telanjang, Sakura menyusuri lantai itu, entah kenapa dia membawa pistol lesernya. Satu kata, menuju lift dan memencet angka 27. Bagian staff keuangan.

Ting.

Lift terbuka, dihadapanya adalah lantai 27, bagian keuangan. Dia mulai menyiapkan pistolnya. Dan itu dia yang ia cari. Dia menagkap suilet biru.

"Gotcha"

Sakura menunduk, mengamati ingkah lakunya. Sakura yakin, dia tak menyadari kehadiranya. Suilet itu menengok, seakan ada orang yang memperhatikanya. Ternyata tidak ada. Dia fokus lagi pada komputer dan Sakura tetap mengamatinya. Dia tak bisa memergokinya sekarang. Dia hanya perlu bukti. Lalu suilet itu tiba-tiba menghilang dari pandangan Sakura, komputernya mati. Sakura kaget setangh mati.

"Sial!" runtuknya. Tiba-tiba, ia ingat sesuatu. Dia langsung berlari kearah jendela.

"Aku menangkapmu. Suigetsu" gumam Sakura. Kemudian dia berbalik menuju tempat dimana seseorang telah menantinya diranjang.

11.00 a.m

"Kerja bagus Sakura" puji Tenten. Sakura hanya tersenyum.

"Ya, berterimakasihlah pada Sasuke yang mengajakku menginap disana" kata Sakura PD. Semua berkumpul. Dewi fortuna berpihak pada mereka. Hinata libur dan itu berarti mereka bisa bergerak bersama.

"Jadi?" Tanya Ino tak jelas

"Pokonya, ita bergerak malam ini" kata Tenten. Mereka semua menangguk.

"Di Uchiha CO. Bagaimana kita masuk? Pengamananya sangat ketat" kata Hinata.

"Sakura yang akan mengurusnya" kata Ino. Sakura melotot kearahnya, kemudian dia menghela nafas dan mengangguk.

"Baiklah teman-teman. Suigetsu, kami datang" kata Tenten sadis sambil merobek foto -temanya bergidik negri mendengar penuturan Sang Alfa.

12.00 a.m

Mereka berempat telah berdiri didepan gedung Uchiha CO. Lengkap dengan baju dan peralatan beralasan pada Sasuke bahwa dia ngin menginap dirumah temanya, Tenten. Tentu Sasuke meluluskanya….

"Owl is taking off"

"Sparrow is taking off"

"Cran is taking off"

"Finch is taking off"

Dan pergerakan kelompok kecil mereka, dimulai malam dibalik sebuah kasus pidana. Rahasia dibalik rahasia.

Asiikk, akhirnya chap ini selesai juga. Jam 11.54 p.m lho selesainya. Wow, kerja keras! Akhir kata mohon krik dan saran yang membangun.

Chapter 5:

Gotcha

Ampun. Jangan bunuh aku

Sudah kuduga

1 minggu lagi, kita harus menunggu

Sakura, maukah kau pergi ke acara sebuah penghargaan?

Sakura sudah tak ada masalah, masalahnya adalah kita. Aku punya rencana. Kita semua bisa masuk kesana.

Ini indah sekali…

Aku? Koki? Yang benar saja?

Hai komandan! aku hanya ingin nasehatmu

Baiklah, aku akan membantu kalian

Hoooreeee!