"Nee, Jou… apa saja yang sudah kau lakukan dengan kakakku?" tanya Mokuba jahil sambil menggosok punggung calon kakak iparnya. Itu menurutnya.
"Eh, belum apa-apa kok." astaga anak jaman sekarang. Jounouchi masih terkesima mendapati sifat Mokuba yang super ceria, sangat bertolak belakang dengan Kaiba yang pendiam dan terlihat kaku.
"Pembohong, hehehehe… rasakan iniii!" sepuluh jari nakal mulai menyerang pinggang yang lebih tua.
"Ahahahaha! Mokuba, jangan! Hahahaha… geliii!"
"Makanya jawab… apa yang—" gerakan Mokuba berhenti mendadak.
"Jou… kupikir tadi mataku yang salah. Tapi... kenapa di punggungmu ada bekas-bekas luka ini?"
"Oh, ya?" Jounouchi balik bertanya. Tentu saja selama ini yang bersangkutan tidak pernah memerhatikan bagian belakang tubuhnya. Sampai saat ini, tidak ada yang memberi jawaban memuaskan tentang dirinya dan keadaan keluarganya. Apalagi mengingat tabiat ayahnya, kecil harapannya untuk bertanya langsung, "Mungkin luka dari kecelakaan waktu itu masih ada yang belum sembuh. Mungkin..."
"Jangan bohong! Luka ini masih baru. Ceritakan semuanya!" desak Mokuba setengah berteriak.
Jounouchi memaksakan seringai, mengelus puncak kepala Mokuba yang basah. Ternyata respon Kaiba bersaudara pada saat panik membuat mereka menjadi mirip sekali.
"Apa sih kok malah senyum-senyum sendiri?" Mokuba mulai melupakan pertanyaannya dan malah menjadi kesal, "Niiiiiih Rasakaaaaaan!"
Kaiba adik kembali menyerang bagian tubuh Jounouchi yang sensitif dengan jeriji kecilnya. Kali ini mereka berdua jatuh di lantai yang licin diiringi gelak tawa lepas.
"BERISIIIIK! Coba mandi lebih tenang!" Kaiba kakak membuka pintu kamar mandi tanpa permisi. Melihat dua makhluk tengah tumpang tindih dengan pose agak ambigu.
"Hai, Kak! Akhirnya mau ikut mandi bareng juga?" goda adiknya tanpa melepaskan Jounouchi yang terkunci di permukaan lantai dingin.
"Mokuba, apa-apaan kau! Minggir dari atas Jou! Kalian mandinya yang benar!" menyadari mukanya memanas, Kaiba memalingkan pandangan—terutama dari tubuh kurus Jounouchi. Secepatnya dia menutup pintu kamar mandi, "Baju kalian kutaruh di atas tempat tidur. Kalau dalam lima menit belum selesai, tidak ada jatah makan malam!" teriaknya lagi.
"Kami sudah beres, kok!" Mokuba berupaya membantu teman mandinya berdiri.
Terdengar bunyi debam pintu kamar yang ditutup lumayan keras sebagai jawaban.
"Seto tadi pasti cemburu." bisik anak itu jahil.
"Asal jangan sering-sering." Jounouchi berkedip sebelah mata sebelum ikut hanyut dalam tawa.
FAKE REALITY
(Side A; Kaiba)
YGO (c) Takahashi Kazuki
Warning: Boy x boy. Keju. Headcanon. 'Animal' abuse.
.
by Ratu Obeng (id: 1658345)
.
.
.
Chapter 04
"Kakak! Haloooo! Kenapa ini? Kakak tampak tidak sehat!?" kibasan tangan Mokuba di depan mukaku menyadarkanku dari lamunan panjang. Kutatap spontan matanya yang sekarang menyiratkan rasa cemas.
"Tidak apa-apa Mokuba, hanya… berpikir…"
Saat ini aku sedang bersama adikku di ruang kerja. Setelah meyakini pikiranku sudah kembali ke alam nyata, sosok kecil itu kembali duduk di sofa depan meja kerjaku, menyeruput nikmat coklat hangatnya.
"Jangan bekerja terlalu keras, Kak... nanti gampang encok." lagi-lagi Mokuba menggodaku.
"Aku baik-baik saja Mokie, ini tentang Jounouchi..."
"Kenapa? Bukannya dia sudah bisa pulang ke rumahnya hari ini?" kulihat sorot mata Mokuba menyala-nyala. Aku tahu Jounouchi sangat dekat dengan Mokuba, bahkan tidak jarang aku sempat cemburu pada adik kecilku ini.
"Kalau tidak ada masalah, dia akan datang malam ini."
"Apa bakal ada masalah apa? Sini biar kubantu."
Adikku memang cerdas. Aku yakin dia sudah tahu ada yang tidak beres, tinggal bagaimana caranya aku bercerita saja. Kumatikan laptop lalu kubersihkan meja dari semua tumpukan pekerjaan. Aku pindah untuk duduk di sofa, Mokuba mengikutiku.
"Benar-benar mau membantuku?" kutenggelamkan jariku pada rambut hitamnya yang lebat. Melakukan hal ini membuatku merindukan anijng emasku. Rasanya seperti sudah lama sekali tidak menepuk kepala Jounouchi seperti yang kulakukan pada Mokuba saat ini. Aku benar-benar khawatir sekali padanya.
"Apa saja untuk kakak tercintaaaa!" ditambah acungan jempol, seringai lebar sekarang menghiasi wajahnya nakalnya.
"Jangan protes sebelum aku selesai bercerita, oke!?"
Dan ternyata bukan keputusan bijak memang bercerita tentang masalah romansa sesama jenis kepada anak dibawah umur, apalagi Mokuba baru menginjak usia dua belas tahun. Masalahnya, hanya adikku satu-satunya harapanku saat ini.
Kulihat mulutnya menganga selama aku bercerita, bola matanya tidak berhenti memancarkan percik cahaya yang menurutku malah terasa aneh. Kurasa ceritaku harus berhenti karena kini dia meloncat heboh ke hadapanku.
"SERIUUUUUUUUUUUS?"
"Mokuba, jangan berteriak di telingaku!"
"Jadi sekarang Kakak dan Jou, JA-DI-AN? Tunggu sampai pers dengar ini!" Mokuba berlari-lari mengelilingi kamarku sambil berteriak-teriak. Tertawa dengan bahagia.
Aku tidak mengerti reaksi ini, apa artinya dia senang kakaknya menjadi gay? Kupijat keningku sambil tetap berpikir agar dapat melontarkan kalimat penjelasan selanjutnya secara bijak.
"Pers tidak boleh tahu. Mokie, tolong diam! Tenang sedikit dan duduk!" pada akhirnya aku juga jadi ikut berteriak. Namun dalam hati aku sedikit lega, ternyata adikku sama sekali tidak mempermasalahkan perbuatan konyolku.
"Terus? Terus? Apa Kalian berciuman?"
"Mokie..."
"Atau sudah lebih… jauuuh?" Mokuba melompat ke sampingku sambil mengerucutkan bibirnya untuk menggodaku. Matanya berkedip, berharap menanti jawaban yang dia harapkan. Aku tidak bisa menahan geraman juga permukaan wajahku yang sekarang terbakar.
"Mokieeeee!" geramku.
"Iya, Iya... maaf. OK. Aku dengar dengan tenang sekarang."
"Bagus." tentu saja aku tidak yakin, buktinya dia belum melepaskan jurus puppy eyes-nya dariku. Hufff. Setelah menghela nafas panjang, kuambil coklat hangat milik Mokuba dan meneguknya.
"Pantas saja setiap malam kakak tidak pernah ada di rumah. Ternyata ada udang di balik bakwan, ehehehe..."
Aku mengangkat alis mendengar perumpamaan adikku yang mulai ngaco.
"Lebih baik daripada harus menjenguknya di depan banyak orang." kataku dingin.
"Padahal, Kak. Kalau kakak kerjasama dengan Yugi dan yang lain, pasti mereka mau membantu."
"Itu jadi pilihan terakhirku."
"Oke… sepertinya aku paham." kata Mokuba lagi. Wajahnya yang sebelumnya ceria kini dipenuhi aura kesal, "Tapi kalau terjadi sesuatu, mudah-mudahan bukan kakak yang menyesal terakhir."
"Apa maksudmu?"
"Apa ada hal lain yang masih disembunyikan?"
"Aku rasa cukup sekian untuk hari ini." sekuat apapun hasrat untuk bercerita, aku tidak mungkin membuat Mokuba berbalik cemas. Biarlah sisanya menjadi urusanku saja, "Cepat bikin PR sana! Kalau tidak kau tidak boleh ikut main saat Jounouchi datang!"
"Siap! Aku akan menyelesaikan semua PR dalam waktu sepuluh menit!" Mokuba berdiri tegak seraya memberi sikap hormat seperti prajurit lalu berlari keluar ruangan, membuatku tersenyum geli diam-diam.
Tidak terlalu lama terbuai suasana, kuarahkan kaki menuju meja kerja untuk kembali berpikir. Mencoba mengulang kembali semua kejadian hari ini—terutama setelah tadi siang aku berusaha memasuki rumah Jounouchi dan akhirnya pulang tanpa hasil.
Kaget bercampur bingung masih berkecamuk dalam benakku. Tapi aku mulai mendapat jawaban dari semua ketakutan Jounouchi selama ini, serta bayangan mengenai keadaan keluarganya.
Kalau dirunut kembali, sudah sekitar dua bulan Jounouchi berada di rumah sakit namun tidak pernah ada kabar dari keluarganya. Bahkan pihak rumah sakit berkata bahwa telepon rumahnya tidak bisa dihubungi. Bohong sekali kalau ayahnya sempat bilang dia khawatir dan mencari Jounouchi. Pihak sekolah sudah dihubungi oleh rumah sakit, akan sangat mudah kalau ayahnya berniat mencari kabar. Tapi kenyataannya tidak, aku yakin!
Sikap ayah Jounouchi mengingatkanku kembali pada kenangan buruk bersama ayah tiriku yang sudah meninggal. Ironisnya selama ini ternyata anjing malang itu mengalami nasib yang sama. Yang paling kusesali dari kejadian hari ini adalah karena aku tidak segera menolongnya. Padahal bisa saja aku memanggil helikopter atau pengawal-pengawal pribadi untuk menghancurkan pintu rumahnya, tetapi kenapa tidak kulakukan?
Aku mengutuk diri sendiri. Baru kali ini aku sangat menyesal dalam hidupku.
Penyesalah lain, saat ini aku tidak bisa berkomunikasi dengan Jounouchi karena dia tidak memiliki alat penghubung. Bodoh sekali! Tahu begitu kubelikan saja sewaktu dia masih di rumah sakit. Aku heran bisa-bisanya melupakan satu hal yang penting. Dengan sigap kuambil handphoneku dan menelepon rumah Jounouchi.
KRIIIING. KRIIING. KRIIIING.
Tidak ada jawaban. Aku kembali memencet tombol redial.
KRIIIING. KRIIING. KRIIING.
Masih tidak ada jawaban, membuatku lebih cemas.
"Ha-halo… kediaman Jounouchi..." ada sensasi lega mengalir saat suara yang sangat kukenal berbicara. Bisa kudengar getar suaranya yang parau karena lelah menangis.
"Jou? Apa yang terjadi?!"
"Seto? Seto? Akhirnya kau menelpon! Aku takut sekali, dia memukul dan menendangku, kupikir aku bakal mati! Aku takut! Dia… dia…" lalu suara tangis.
"Sshhh... puppy, tenang! Maafkan aku karena tadi gagal melindungimu. Di mana ayahmu sekarang? Kau tidak apa-apa? Ada yang terluka?"
"Kurasa sekarang dia tertidur karena terlalu banyak minum. Karena terlalu mabuk, dia kurang berhasil melukaiku, tapi aku tetap takut."
"Ok, aku jemput sekarang. Kita sudah janji mau merayakan ulang tahunmu, kan? Tenang dan tunggu aku di luar, ya..." aku berbicara selembut mungkin, mencoba menenangkan Jounouchi di seberang.
"Thank's Seto, I love you."
"I love you too." rasanya tidak percaya akan menggunakan kata-kata demikian selain pada Mokuba. Tapi sekarang bukan saatnya untuk memikirkan itu, kini saatnya aku menghapus penyesalan yang kubuat tadi. Aku harus menyelamatkan apa yang menjadi milikku dari bahaya.
.
.
.
Setelah memarkir mobil di tempat yang sama ketika menurunkan Jounouchi, aku bergegas keluar dari mobil dan melihat kekasihku berlari dari depan lalu memelukku.
"Seto!" dia berteriak bahagia. Kalau aku tidak membuatnya dia melepas pelukannya, mungkin bajuku bisa sobek tercabik-cabik. Baiklah itu berlebihan, hanya sebuah kiasan saja mengingat Jounouchi bukan benar-benar anjing.
"Ayo kita pergi dari sini" perintahku cepat sambil membukakan pintu mobil untuknya. Kukencangkan sabuk pengaman dan mulai menderu mesin menjauhi perumahan kumuh Domino.
Selama perjalanan, tidak ada dari kami yang berbicara. Kulihat beberapa lebam yang jelas pada kulitnya yang halus. Aku menjadi kesal. Saat ini yang ingin kulakukan adalah membunuh ayahnya. Beraninya dia menyakiti mainanku!
"Seto, kau tidak apa-apa? Wajahmu menakutkan..." tanya Jou akhirnya dengan nada ketakutan.
"Harusnya aku yang berkata demikian. Apa yang terjadi setelah itu?" aku mati-matian mengontrol emosi.
"Dia hanya memukulku."
"Hanya itu?"
"…"
"Jou?" desakku sengit.
"Su-sungguh!"
"Jangan bohong. Ceritakan semuanya!" nadaku tinggi. Kalau sampai aku mendengar pemabuk brengsek itu melakukan hal yang tidak pantas pada mainanku, aku bersumpah akan memutar balik mobilku untuk benar-benar membunuhnya.
"Benar, Seto! Dia hanya bilang… a-aku tidak berguna… tidak ada yang mengharapkanku." Suara Jounouchi terdengar lirih. Dia memaksakan untuk menyebut kalimat terakhir. Air mata mulai menetes lagi di pipinya. "Mungkin lebih baik waktu kecelakaan itu aku…"
"Aku mengharapkanmu.." kusela sambil menghapus air matanya. Aku tahu apa yang akan dia katakan dan aku tidak ingin lagi mendengarnya. Hal itu membuatku semakin sedih karena rasa yang tumbuh di hatiku untuknya kurasakan semakin besar.
Aku hanya belum mau mengakuinya.
.
"Mau masuk, atau mau di situ sepanjang malam dengan mulut terbuka?"
"Whoaaa… Seto… rumahmu… keren banget!"
Aku menahan tawa melihat ekspresi bodohnya. Hatiku cukup lega karena bisa membuatnya melupakan banyak hal yang sudah dia lalui.
"Thank's." kataku meniru ucapannya.
Aku membimbingnya memasuki rumahku, dan kulihat dia kembali terkejut dengan interiornya. Kurasa akan banyak memakan waktu lama sampai kami sampai ke ruang utama.
"Setooo!" ada monster kecil menerjang. Merengkuh pinggangku sembari menghentak-hentakkan kaki bersemangat, "PR-ku sudah beres! Mana Jou!? Ayo kita main!"
"Mokie, coba liat sekitarmu dulu baru bertanya. Oh, nanti kemarikan PR-mu... akan kuperiksa."
"Jou?" mata Mokuba bersinar saat melihat teman terbaiknya berdiri kaku tidak jauh di belakang. Kali ini dia berlari ke arah Jou dan menerjangnya, persis seperti apa yang baru saja dilakukan padaku, "Jou! Jou! JOU! Aku kangen! Maaf selama di rumah sakit aku tidak sempat menjengukmuuuu!"
"Eh… halo, Mokuba. Perawakanmu tidak mirip kakakmu." sapaan yang kelewat jujur.
"Kau ingat aku?" Mokuba berujar senang.
"Sebetulnya kakakmu sudah bercerita tentangmu tadi." tangan gemas mengacak-acak rambut adikku, persis seperti kebiasaannya sebelum hilang ingatan. Aku sempat berpikir, bahwa Jounouchi di hadapanku memang Jounouchi yang tidak punya masalah dari segi ingatan atau apapun.
"Yaaah… kukira kau sudah ingat padaku." Mokuba menggembungkan pipi tanda kecewa.
"Akan," potongku, "Sebelum itu lepaskan Jou, Mokie. Dia perlu mandi selama kita menyiapkan makan malam." tentu saja pernyataan tidak benar karena sudah ada pelayan yang menyiapkan semuanya. Tapi itu adalah kalimat sopan bagi seorang tuan rumah saat menjamu tamunya, bukan?
"Oh, iya! Sini Jou! Kita mandi bareng." Mokuba menyeringai sambil melirik nakal ke arahku, "Apa kakak mau ikut sekalian?"
Kulayangkan pandangan tajam pada adikku yang membuat dia langsung lari ketakutan sambil menarik Jounouchi ke lantai dua.
Sementara aku sendiri akan menunggu mereka hingga selesai di ruang makan. Aku jarang mendapatkan kesempatan untuk duduk dan makan bersama dengan Mokuba, dan aku harus berterima kasih pada Jounouchi yang menjadikan semua nyata pada hari ini.
Setelah segala kegiatan yang menyenangkan, kami berdua duduk di karpet sementara Mokuba tertidur di sofa. Setelah menyelimuti adikku, aku memeluk anjing emasku dari belakang sembari menyandarkan daguku pada bahunya.
"Jou, aku punya hadiah untukmu..." kukeluarkan bungkusan kecil berwarna biru dari dalam saku jaket.
"Wooaah... apa ini?" tanyanya, memperhatikan bungkusan tersebut dan mengangkatnya tinggi-tinggi. Aku mengangkat ujung bibir saat melihat matanya bersinar.
"Karena aku ingat tidak bisa selalu menghubungimu, aku membelikanmu ponsel lengkap beserta nomor dan pulsanya. Dengan ini, kapanpun aku bisa mendengar suaramu."
"Asiiik! Maaf merepotkanmu… Thank's sekali lagi!" ujarnya. Dadaku panas saat dia spontan mengecup pipiku.
"Sama-sama, love." aku membalas kecupan.
Terdengar jam di ruangan berdentang keras. Tanpa terasa sekarang kami sudah mengobrol hingga larut malam. kulihat sinar di bola mata Jounouchi perlahan tersirat lelah.
"Aku… harus pulang…"
"Tidak! Hari ini kau akan menginap. Besok aku mau bicara dengan pengacaraku untuk mengurusmu pindah ke rumahku."
"Hah?" Jounouchi melihatku dengan tatapan 'apa-kau-serius?'
"Kita bicarakan ini lagi besok." kalimatku membungkam nada penasaran, "Aku akan membawa Mokuba ke Kamarnya. Kau sendiri, cepat cuci kaki dan naik ke tempat tidur."
"Kita… tidur sama-sama?" tanya Jounouchi ragu.
"Hari ini aku terlalu lelah untuk macam-macam. Jadi cepat tidur, sebelum aku berubah pikiran." aku mengecup ringan bibirnya.
Kulihat mukanya memerah dan secepatnya dia menuju kamar mandi seperti yang baru saja kuperintahkan. Aku tidak menahan tawa. Sementara Jounouchi bersiap-siap, kuangkat adikku dari sofa dan mengembalikannya ke kamarnya. Tapi ketika akan kubaringkan, Mokuba membuka matanya pelan dan meraih lengan bajuku.
Menguap sebentar, dia membisikkan sesuatu, "Aku tahu ada yang tidak beres pada Jou, kita harus menolongnya..."
"Tenang Mokie, aku akan berbuat sesuatu"
To be continued...
R&R maybe? C:
