KHR © Amano Akira
—
Our True Fate
—The Truth is...—
G27, A18, U80, 0259, 7933, Dae69 ( Family ) Family / Adventure
Warning: OOC, semi-AU, Maybe Shonen Ai
—
About Hibari Kyouya | 4
—
Hibari Kyouya adalah orang yang serba misterius. Bahkan Tsuna dan juga yang lainnya, yang bersama dengan Hibari selama lebih kurang 10 tahun tidak tahu banyak tentang masa lalunya. Ia adalah orang yang tertutup dan tidak mau mengatakan masalahnya pada siapapun.
"Kubilang bertarunglah denganku," Hibari Kyouya selalu meminta hal itu pada ayah angkatnya—Alaude semenjak Alaude mengatakan padanya jika mulai sekarang Alaude yang akan menjadi ayahnya. Dan mengejutkan ketika mengetahui kalau Hibari tidak menolak dan juga menuruti apa yang dikatakan oleh Alaude.
Semenjak hari itu, Hibari selalu mengikuti Alaude yang notabe juga membenci keramaian. Membuatnya selalu berada didalam ketenangan dan juga situasi dimana ia bisa menggigit orang hingga mati. Tidak ada protes yang keluar dari mulut Alaude saat Hibari ikut dengannya. Karena bagaimanapun ia tidak pernah merepotkannya selama menjalankan misi.
"Sudah kukatakan Kyouya—aku tidak akan bertarung dengan anak kecil," Alaude hanya meliriknya dan menghela nafas pendek sambil berbalik dan berjalan menelusuri ruangan disana hingga berhenti didepan kamar Hibari, "masuklah..."
...
Hibari hanya bisa terdiam dan pada akhirnya menghela nafas panjang dan masuk kedalam kamar. Biasanya ayahnya tidak akan masuk dan pada akhirnya hanya mengantarkannya saja diluar. Tetapi—yang tidak ia duga adalah Alaude berjalan dan masuk kedalam kamarnya, walaupun hanya menatapnya saat berganti baju, itu sudah cukup aneh mengingat Alaude tidak pernah mau untuk menunggu seperti ini.
Mengganti baju miliknya—dan menguap sebelum akhirnya berjalan menuju ketepi tempat tidurnya. Alaude masih menatapnya sambil berjalan dan duduk dipinggir tempat tidur Hibari.
"Ada apa—"
"Natal—apa yang kau inginkan," Alaude menatap kearah Hibari yang sudah berbaring dan siap untuk tidur tetapi tampak terkejut dan menatap Alaude. Ia lupa—hari ini tanggal menunjukkan 22 Desember, dan sebentar lagi natal akan tiba.
...
Tidak ada jawaban dari Hibari—Alaude menutup mulutnya sendiri. Menyadari, apa yang sebenarnya ia katakan—benar-benar tidak mencerminkan dirinya selama ini. Berdiri dan menatap kearah Hibari, pada akhirnya ia berjalan menuju pintu keluar dan menatap Hibari yang masih menatapnya shock.
"Tidurlah—" Hibari tahu satu kata itu menunjukkan arti kata 'selamat tidur' untuknya. Dan itu adalah kata terakhir malam itu yang keluar dari mulut Alaude sebelum ia menutup pintu kamar Hibari dan pergi dari sana. Hibari terdiam melihat pintu yang tertutup itu, bangkit dan mengambil sesuatu dilaci kamar itu, sebuah liontin dengan foto tiga orang disana, dan salah satunya adalah dia saat berusia 2 tahun.
"Tidak pernah menyangka akan bertemu denganmu lagi—itu sudah cukup untukku," untuk pertama kalinya, senyuman itu tampak tulus terlihat di wajah Hibari sebelum menutup kembali liontin itu dan menatap kearah luar, "ayah..."
Sementara Alaude yang tampak berjalan menjauhi kamar Hibari, menatap kearah jendela luar dan hanya menghela nafas panjang. Mengeluarkan selembar foto yang sama dengan milik Hibari saat itu.
'Kyouya—bahkan namanyapun sama dengan anak itu' menutup matanya sebelum menaruh kembali foto itu didalam jubahnya dan hanya menghela nafas kembali, untuk pertama kalinya—Alaude merasakan bingung, "bahkan wajahnyapun mirip dengan anak itu. Apa yang sebenarnya terjadi—siapa Hibari Kyouya sebenarnya..."
—
"Mama—apa itu natal?" Sosok anak kecil berusia 2 tahun tampak menghampiri sosok perempuan berambut hitam panjang yang langsung tersenyum dan menggendong anak itu untuk memangkunya diatas pangkuannya.
"Natal adalah saat dimana kau akan melihat seluruh keluargamu berkumpul, dan akan banyak hiasan yang indah serta kau bisa meminta hadiah pada kakek bernama Santa Claus," memiringkan kepala kecilnya, menatap ibunya dengan tatapan bingung.
"Semua permintaan?"
"Semuanya..."
"Telmasuk kedatangan ayah?" Perempuan itu menatap kearah anak laki-laki itu dan menghela nafas, mengusap kepala anak itu.
"Apakah kau merindukan ayahmu?"
"Ya—tetapi aku tahu kalau ayah sedang sibuk," tersenyum dan menyenderkan kepala di badan ibunya itu, "dan ayah selalu menemui Kyouya kalau kembali kemali..."
"Santa pasti akan mengabulkan permintaanmu—karena kau sudah menjadi anak yang baik dan pintar," menepuk kepala anak itu, ia hanya tertawa dan menatap kearah ibunya yang tersenyum lembut kearahnya, "jadi—tunggu saja ayahmu tahun ini pasti datang..."
—
Pagi hari menjelang—tampak beberapa pelayan yang berjalan dilorong Vongola dan segera menunduk ketika melihat Alaude yang berjalan disekitar lorong. Alaude hanya diam dan kembali berjalan hingga berhenti disebuah ruangan. Membuka perlahan—menemukan Giotto yang sedang bersama dengan Tsuna.
"Bagaimana keadaannya?"
"Demamnya sudah turun semalam—" menghela nafas panjang dan tersenyum sambil mengelus kepala Tsuna. Semalaman bahkan Giotto membawa pekerjaannya ke kamar Tsuna untuk mengerjakannya, "—kau sendiri bagaimana Alaude?"
"Apa maksudmu?"
"Anak itu—bukan hanya wajahnya yang mirip, tetapi namanyapun sama," Giotto menatap Alaude dengan senyuman tipis, mencoba untuk tidak menyinggung perasaannya, "kau tidak apa bukan?"
...
"Kyouya—tidak mungkin anak itu ada disini. Kau tahu ia menghilang saat berusia 2 tahun," Alaude tidak menatap kearah Giotto dan berjalan menghampiri Tsuna yang tampak tertidur disana, "kau sendiri—bukankah anak ini mirip dengannya?"
"Tetapi bagaimanapun Tsunayoshi adalah Tsunayoshi—aku tidak melihatnya sebagai anak itu," Giotto tersenyum sedih dan mengusap kepala Tsuna, "dan seperti yang kau katakan, anak itu menghilang saat usianya jauh dibawah Tsunayoshi..."
—
"Bagaimana penyelidikanmu tentang Alaude, Lal—" sudah 2 minggu lamanya semenjak Reborn mengetahui beberapa hal yang tersembunyi dari Tsuna dan juga Gokudera, saat ini ia mengunjungi CEDEF lagi dan menemui Lal serta Basil disana.
"Aku sudah mendapatkan beberapa data mengenai masa lalu Alaude, tetapi Basil belum menemukan apapun tentang kelompok yang memakai alat untuk pergi ke waktu yang berbeda," menaruh sebuah laporan map berwarna ungu didepan Reborn, Lal hanya menghela nafas dan duduk didepan Reborn.
"Kyouya—" Reborn yang menyerup kopi didepannya lagi-lagi menghentikan kegiatannya ketika mendengar Lal yang menyebutkan nama kecil Cloud Guardian itu.
"Alaude memiliki seorang anak yang bernama Kyouya—" tidak jadi meminum kopi yang cangkirnya sudah diangkatnya, Reborn memutuskan mendengar perkataan Lal lebih jelas lagi, "—ia menghilang saat berusia 2 tahun lebih, hampir bersamaan dengan penyerangan yang mungkin menyebabkan Sawada dan juga Gokudera Hayato menghilang..."
"Dan pertanyaannya adalah—apakah Kyouya yang dimaksud adalah Hibari Kyouya," Reborn memangku kakinya dan melepaskan topi fedoranya. Berfikir tentang satu hal gila yang menjadi kemungkinan paling memungkinkan untuk semua ini, "Hibari—"
"Hm?"
"Hibari adalah nama Jepang dari Skylark," Lal menatap Reborn yang mengacak rambut hitamnya itu—semua yang terjadi terlalu tidak masuk akal untuknya, "Hibari Kyouya—Alaude Kyouya... Alaude adalah bahasa perancis yang memiliki arti yang sama dengan Hibari..."
"Jangan bilang kau berfikir—"
"Hanya itu kemungkinannya—bahwa Hibari mengetahui semuanya. Ia tahu, jika Alaude adalah ayah kandungnya..."
—
'Lihat—ia memiliki wajah yang mirip denganmu...'
'Tetapi mata dan juga rambutnya memiliki warna yang indah sepertimu, Celesta—'
Bayangan dua orang yang tampak menggendong Tsuna itu ia lihat—tidak tampak, hanya siluet mereka yang bisa dilihat oleh Tsuna. Tetapi kehangatan itu tidak pernah ia lupakan sebelumnya—bahkan tidak pernah ia dapatkan meskipun bersama dengan ibunya.
"...na...Tsuna..." Matanya yang berat tampak perlahan terbuka—melihat kearah sosok Giotto yang cemas dan menatapnya yang baru saja sadar dari tidurnya.
"Giotto-san..."
"Syukurlah kau sudah sadar—bagaimana perasaanmu?" Giotto mencoba mengukur suhu Tsuna yang sudah normal dan mengusap kepala Tsuna. Tsuna hanya diam dan mencoba bangkit dari tempatnya sebelum dihentikan oleh Giotto yang langsung menyelimutinya, "hari ini tidak boleh bergerak dulu—demammu kemarin tinggi, jadi istirahatlah dulu..."
"Demam?" Tsuna tampak mencoba mengingat apa yang terjadi—dan yang saat itu ia rasakan sebelum pingsan adalah hyper intuitionnya yang langsung seakan menendang kepalanya—membuak kepalanya berdengung hebat seakan sesuatu sedang terjadi.
"Buka mulutmu Tsuna," Tsuna yang sadar dari lamunannya menatap kearah Giotto yang tiba-tiba sudah membawa sepiring bubur dan sesendok bubur yang diberikan pada Tsuna.
"E—Eh, ada apa Giotto-san?"
"Tentu saja menyuapimu, kau masih sakit—" Giotto masih menyodori sendok kedepan Tsuna dan terdiam sejenak sebelum akhirnya membuka mulutnya dan memakan bubur itu, "—bagaimana? Aku membuatkannya sendiri..."
"I—ini enak," Tsuna tampak semakin gugup ketika mengetahui kalau Giotto yang membuatkan sendiri bubur itu untuknya. Giotto hanya tersenyum dan mengusap kepala Tsuna dengan lembut, "etto—boleh aku bertanya Giotto-san?"
"Ya?"
"Apakah—Giotto-san baik padaku karena," Tsuna menelan ludah sendiri, sebenarnya ragu apakah ia harus mengatakan—menanyakan hal ini atau tidak, "karena—aku mirip dengan anak...Giotto-san?"
...
"Tidak—walaupun kau mirip dengan anak itu, kau tetaplah kau—" Giotto tersenyum dan mengusap kepala Tsuna dengan lembut. Tsuna hanya diam dan pada akhirnya tersenyum kearah Giotto.
"Oh iya Tsuna, apakah ada yang kau inginkan untuk natal?"
"Ah, memang kenapa Giotto-san?"
"Sebentar lagi natal bukan—jadi, bagaimana kalau kita berjalan-jalan mencari apa yang menarik untuk natal?" Giotto tersenyum dan menatap Tsuna yang tampak memiringkan kepala tidak mengerti.
—
Hibari menatap kearah depannya—halaman belakang yang ada didekat kamarnya. Menutup matanya sejenak dan berjalan kearah kursi tua yang ada ditempat itu. Melihat kearah langit yang kala itu tampak putih oleh awan, dan perlahan salju mulai turun ditempat itu. Salju pertama tahun ini—memang, sedikit terlambat karena ini sudah hampir mencapai pertengahan Desember.
Ia menutup matanya—mencoba untuk mengingat sesuatu yang sudah ia lupakan sejak 25 tahun yang lalu. Saat ia melihat kejadian yang tidak pernah ia lupakan saat ibunya tewas didepan matanya. Ditempat ini—
Ya—ditempat ini...
Hibari Kyouya sejak dulu mengetahuinya—bahwa ia seharusnya berada di zaman yang berbeda. Bagaimana mungkin ia bisa melupakannya—ia adalah anak tertua di markas Vongola saat itu, dan tentu ia juga tahu tentang Tsuna, Gokudera, dan juga yang lainnya. Satu hal yang membuatnya tidak mengatakan hal itu adalah—
—karena ia tidak menyangka akan kembali lagi ketempat ini...
Merebahkan dirinya disalah satu sisi taman itu—diatas tanah, Hibari menutup matanya membiarkan salju turun dan mengenai tubuhnya.
'Ya...Kyouya...'
—
"Kyouya, Alaude, apa yang kalian lakukan disini!" Sosok perempuan berambut hitam itu tampak berlari dan menatap kearah dua orang pria—satu pria dan juga 1 balita, yang tampak sedang berbaring ditengah tumpukan salju itu.
"Kyouya ingin bermain—jadi aku membawanya keluar," Alaude berbicara dengan nada monotonnya dan menatap kearah perempuan itu. Tertawa—pada akhirnya perempuan itu duduk dan anak berusia 8 bulan itu tampak tertawa sambil merangkak dan menggapai-gapai kearah ibunya.
"Kau lelah?"
"Tidak juga—" Alaude menutup matanya dan Kyouya tampak menaiki tubuh ayahnya yang sedang tertidur itu, "—tetapi aku hanya ingin bertemu dengan Kyouya saja..."
"Jangan memaksakan dirimu—" perempuan itu tertawa melihat bagaimana sikap Alaude yang langsung berubah setiap kali Kyouya bersama dengannya, "—Kyouya mengerti kalau kau tidak bisa menemaninya setiap saat. Ia tidak pernah rewel meminta untuk bertemu denganmu. Tetapi, ia tidak akan pernah dipisahkan ketika kau datang..."
"Hm? Begitukah—" Alaude menatap kearah Kyouya yang tampak memainkan sebuah borgol yang tergantung disakunya. Tertarik dengan 'mainan' itu, menggoyangkannya sambil menunjuk kearah Alaude. Entah bagaimana, borgol itu bisa dibuka dan Kyouya bisa mengunci borgol itu ditangannya—yang tentu saja terlalu besar dan bisa dilepas begitu saja—dan juga ditangan Alaude, seakan tidak ingin lepas dari ayahnya itu.
...
Suara tawa itu tampak terdengar—tentu saja bukan dari Alaude, tetapi pemuda itu tampak tertawa kecil melihat kelakuan balita didepannya itu.
"Ia benar-benar mirip denganmu—"
"Tentu saja, ia akan menjadi anak yang kuat—" menepuk kepala Kyouya sambil bangkit, mengambil borgol lainnya dan memutuskan rantai borgol itu.
"A—aaa!" Kyouya yang melihat itu, seolah tidak ingin borgol itu dipatahkan ia tampak tidak suka. Alaude memakai kunci untuk melepaskan borgol yang ada ditangannya. Ia menggendong dan menaruh Kyouya dipangkuannya.
"Kalau ingin menangkap seseorang, kau harus melawan mereka Kyouya—kalau kau sudah besar, dan kau bisa menang melawanku. Saat itu, baru sambungkan rantai ini," Alaude menepuk kepala Kyouya, "untuk sekarang—bawa saja pecahan borgol itu, sampai waktunya tiba..."
—
'Bagaimana aku bisa menyambungkan rantai itu lagi—' menyipitkan matanya, menutup dengan lengannya dan hanya bisa menghela nafas ketika semua memori itu masuk kembali didalam dirinya, melihat serpihan borgol yang tampak tua dan berkarat, tetapi tetap ia simpan sejak dulu, '—itulah sebabnya aku ingin mengalahkanmu, ayah—hanya untuk membuat sosokmu lebih dekat...'
Alaude sendiri tampak berada diruangannya yang berada dilantai 2, melihat kearah jendela untuk menemukan salju yang turun dan juga Hibari yang ada dibawah berbaring disana. Dan apa yang difikirkan sama dengan apa yang difikirkan oleh Hibari.
Mengambil sesuatu di laci—pecahan borgol yang sama dengan yang dimiliki Hibari. Ia hanya menutup mata, dan pada akhirnya berjalan menuju keluar setelah menaruh kembali pecahan borgol itu di lacinya.
—
"Juudaime—syukurlah kau sudah sadar," Gokudera yang saat itu bersama dengan G dan baru saja keluar dari ruangan piano tampak mencoba untuk bersikap biasa meskipun fikirannya tampak kacau dengan beberapa kenyataan yang terlintas didalam kepalanya—tentang ibunya dan juga tentang ayahnya.
"Kau tidak apa-apa Hayato?"
"Ti—tidak apa Juudaime," Gokudera tampak mencoba bersikap sangat biasa dan hanya tertawa datar.
"Tetapi kau pucat Gokudera-kun..."
"Tidak apa-apa, mungkin hanya kedinginan saja Juudaime—"
"Ohaiyou Hayato, Tsuna!" Suara itu membuat keduanya menatap kearah sumber suara, menemukan Yamamoto yang datang bersama dengan Ugetsu, "untung saja kau baik-baik saja Hayato!"
"Tch, tentu saja—aku tidak akan mati semudah itu," Gokudera memalingkan wajahnya dari Yamamamoto yang hanya tertawa, Ugetsu dan juga G tampak menghampiri Giotto.
"Syukurlah Hayato selamat—lukanya juga tidak mempengaruhi tubuhnya," Ugetsu melihat perban yang ada dibeberapa bagian tubuh Gokudera. Sementara G hanya menghela nafas dan menatap Giotto dan juga Ugetsu.
"Apakah Tsuna sudah baikan?"
"Ya—dan kami akan berpergian keluar untuk menyiapkan pesta natal di manshion," Giotto tersenyum dan menatap Tsuna yang sudah memakai pakaian—jaket bulu berwarna merah dengan bulu putih, di tudung kepala yang dipakainya ada hiasan seperti tanduk rusa kecil.
"Giotto-san, apakah Hayato dan juga Takeshi boleh ikut?"
"Tentu saja Tsuna, lagipula Lampo, Knuckle, dan juga Ryohei sudah bersiap diluar bukan?" Giotto menepuk kepala Tsuna dan menggendong Tsuna, begitu juga dengan Ugetsu dan juga G yang menggendong anak angkat mereka masing-masing.
—
Hibari masih saja berbaring dan tampak semakin mengantuk. Akan tertidur ketika melihat bayangan dari payung yang dibawa seseorang menutupi pandangan dan juga salju yang turun.
"Kau bisa sakit jika seperti ini terus Kyouya—" suara itu, Hibari menyipitkan matanya sebelum menemukan sosok Alaude yang menatapnya dengan tatapan dingin. Hibari menghela nafas—bangkit dari tempatnya duduk, "—aku akan mengambil misi untuk besok hingga natal selesai..."
...
"Ingin pergi bersama hari ini—?"
'Padahal, kukira akan merayakan natal bersamanya—' Hibari menghela nafas dan hanya diam tidak menjawab pertanyaan Alaude, "aku tidak boleh ikut untuk misi ini?"
"Untuk kali ini—apapun alasannya, kau tidak boleh ikut," Alaude menjawabnya dengan nada monoton. Berbalik, akan meninggalkan Hibari yang masih berdiri dibelakangnya, "manshion sepi karena Giotto dan yang lainnya pergi, kau bisa tinggal disini atau ikut denganku..."
...
'Ia hanya bisa semakin menjauh dariku...' Hibari terdiam menatap punggung Alaude, hingga akhirnya ia mendekat dan berjalan dibelakang Alaude tanpa bertatapan ataupun tanpa memegang tangannya. Tetapi—Alaude dengan segera berhenti, menggendongnya.
"Kau bisa tertinggal jika berjalan lambat seperti itu," Alaude menatap Hibari sebelum akhirnya menggendongnya menuju keluar ruangan itu, dan Hibari hanya bisa membelakangi Alaude, menatap kearah belakang—tatapannya tampak pahit dan tidak mengatakan apapun lagi hanya diam.
—
"Kyaa—Tuan Giotto, Tuan G, Tuan Ugetsu, Lampo, dan Tuan Knuckle!" Baru saja keluar dari kompleks manshion Vongola ( yang termasuk beberapa hektar hutan kecil ), Giotto keluar dari mobil dan muncul ketengah perkotaan bersama dengan Tsuna digendongannya begitu juga dengan G, Ugetsu, dan Ryouhei yang menggendong Gokudera, Yamamoto, dan Ryouhei. Mereka sudah dikerumuni oleh beberapa orang perempuan yang langsung menghampiri mereka.
"Jangan mendekat perempuan bodoh!" G mencoba menghindar dari kerumunan itu, mendekap Gokudera yang ada digendongannya. Ugetsu mencoba untuk tetap tertawa dan tersenyum, sementara Giotto mencoba melindungi Tsuna, begitu juga Knuckle sementara Lampo masih meladeni saat mereka memberi permen atau kue. Sementara Tsuna, Gokudera, dan juga Yamamoto serta Ryouhei hanya bisa diam dan menatap kerumunan itu.
'Ternyata sama saja dengan masa kita...' Hanya itu yang difikirkan mereka semua sambil menatap semua guardian Vongola Primo yang kesusahan untuk menjauhi kerumunan itu.
"G, Knuckle, Ugetsu, Ryouhei—sebisa mungkin sembunyikan anak-anak," Giotto mencoba menutupi Tsuna dengan jubahnya, sementara G dan yang lainnya juga menutupi masing-masing anak. Tetapi merasa sesak didalam jubah Tsuna mencoba mengintip.
"G—Giotto-san, sesak..." Tanduk rusa kecil yang dipakai di tudung Tsuna tampak muncul dan mata cokelatnya mencoba melihat sekitarnya.
"Kyaa! Giotto-san membawa anak kecil yang mirip dengannya!" Salah satu—sebut saja fangirl yang berada disana mencoba untuk mencubit pipi Tsuna, dan langsung membuat Giotto menghalanginya.
"G-san, Ugetsu-san, dan juga Knuckle juga membawa anak kecil—lucunya!" Ugetsu langsung membawa Yamamoto begitu juga dengan Knuckle yang membawa Ryouhei, dan menarik Lampo. G mencoba untuk kabur dan menarik Giotto keluar dari kerumunan itu.
"Hari-hari yang sama saja seperti biasa," Giotto menghela nafas berat, G tampak lelah dan Knuckle serta Ugetsu tertawa mendengarnya.
"Tunggu—dimana Hayato?" G melihat kearah gendongannya, menyadari kalau Gokudera terlepas dari gendongannya. Semuanya menoleh kekiri dan kekanan mencari Gokudera yang menghilang, ketika mata Tsuna menangkap seseorang yang berjalan disekitar sana.
"Giotto-san, bukankah itu Alaude-san?"
"Eh?" Giotto melihat arah yang ditunjuk Tsuna, menemukan sosok Alaude yang berada disana sendirian, "Alaude, apa yang kau lakukan disini?"
...
"Kyouya menghilang—"
—
"Yang paling menyebalkan jika diluar memang kerumunan perempuan itu," Gokudera yang sebenarnya memang sengaja untuk melepaskan diri dari G tampak berjalan sendirian dikeramaian itu. Ia sudah cukup pusing dengan semua yang ada difikirannya, ia ingin sendiri—bahkan menjauh dari Tsuna.
'Seandainya aku tahu dimana orang itu—' Gokudera memikirkan orang yang menculiknya itu, '—ia pasti tahu apa yang sebenarnya terjadi...'
BUGH!
"Hei, hati-hati kalau berja—" Gokudera melihat kearah orang yang menabraknya itu, terkejut ketika menemukan kalau yang menabraknya adalah Hibari, "—Kyouya? Kenapa kau disini?"
"Bukan urusanmu Herbivore—"
"Oi-oi—" Gokudera tampak bangkit dan akan menyusul kearah Hibari yang sudah membelakanginya sebelum menyadari sesuatu jatuh didepannya—sebuah liontin yang terbuka dan memperlihatkan sebuah foto, "—hei, benda milikmu terja—" Gokudera menatap foto disana, cukup terkejut untuk melihat Alaude yang bersama dengan Alaude dan seorang perempuan.
"Kembalikan Herbivore—" Hibari merebutnya dengan segera, tetapi Gokudera sudah cukup shock untuk melihat apa yang ia lihat didalam foto itu. Dengan segera ia bergerak dan menahan Hibari dibahunya.
"Kau tahu sesuatukan? Kenapa kau bersama dengan Alaude!"
...
"Apakah kau tahu—kenapa ibuku mengenal G?" Gokudera tampak bingung dan putus asa. Melihat foto itu, ia tahu Hibari mungkin bisa menjawab pertanyaan yang berkecamuk didalam dirinya. Tetapi Hibari hanya diam—bukan tidak tahu, ia mengetahui Lavina saat kecil. Walaupun samar, ia tahu ibu Gokudera, dan tentu saja Gokudera saat kecil.
"Lalu—kenapa kalau aku mengetahuinya... Aku tidak memiliki alasan untuk memberitahukannya padamu herbivore—" Hibari menepis tangan Gokudera dan meninggalkan Gokudera, "—semuanya tidak semudah yang kau fikirkan..."
"Apa maksud—"
"Hayato, Kyouya!" Suara G membuat Gokudera berbalik dan menemukan ayahnya itu berlari kearahnya dengan wajah panik. Sementara Alaude berjalan dibelakangnya, "Kemana saja kau!"
"Karena kau tidak melihat aku hampir saja mati sesak, lebih baik aku kabur!" Gokudera menyilangkan kedua tangannya didepan dada, menatap kearah lain dan menemukan Hibari yang tetap berjalan meskipun ayahnya berada di belakangnya, "—oi Kyouya! Aku masih belum selesai!"
"Kyouya..." Alaude berjalan dan memegang tangan Hibari, menghentikan langkahnya. Membuat pemuda berambut hitam itu menoleh dan menatap mata biru pucat ayahnya, "—ayo..."
—"Sebenarnya—apa yang sedang kita lakukan Giotto?" G menatap kearah sahabatnya itu, yang memakai kacamata hitam dan juga bersembunyi diantara semak-semak sambil melihat Alaude dan Hibari yang sedang berjalan berdua.
"Tentu saja memata-matai..."
"Ahahaha, ini menyenangkan—" Ugetsu dan Yamamoto tertawa dan Tsuna serta lainnya hanya bisa bersweatdrop ria mendengarnya, memutuskan untuk melihat kedua skylark itu—terutama Gokudera yang masih memiliki pertanyaan dengan Hibari.
Sementara Hibari dan Alaude tampak berjalan bersama—beberapa fangirl tampak menatap mereka dan ingin saja mengerumuni pasangan ayah-anak itu kalau saja deathglare tidak terpancar diwajah mereka.
"Kau ingin makan dulu Kyouya?"
"Terserah—"
...
Giotto dan yang lainnya melihat kearah Hibari yang ternyata bahkan lebih pendiam daripada Alaude.
"Apakah sifat Kyouya memang seperti itu Tsuna?"
"E—ehm, begitulah Giotto-san," Tsuna tampak tertawa gugup dan menatap kearah Hibari yang tampak sedikit aneh. Tampak menundukkan kepalanya, lebih pendiam daripada biasanya, 'entah kenapa ada yang aneh dengan Kyouya...'
Ketika berjalan dan melewati sebuah toko kue, ia menatap kearah etalase toko yang menampakkan kue natal saat itu. Terdiam—hanya menatapnya dan langkahnya terhenti saat itu. Alaude berbalik untuk melihat Kyouya yang tampak tidak melepaskan pandangannya dari kue itu.
"Kau menginginkannya?"
...
"Tidak—" Hibari berjalan dan kembali menatap kearah Alaude sejenak sebelum menundukkan kepala kembali, "—aku lapar..."
"Baiklah—kita makan..."
—
"Kyouya—!" Untuk sekali itu—untuk pertama dan semoga untuk yang terakhir kalinya ia tidak bisa menyembunyikan emosinya. Yang ia ingat saat itu adalah semua yang runtuh dan tiba-tiba api sudah menjalar dihampir seluruh tempat yang ada disana. Untuk sekali itu tatapannya menyiratkan ketakutan yang tidak pernah ia rasakan selama ini.
"Papa!" Ia masih bisa menangkap bayangan anak berusia 2 tahun itu sedang berlari kearahnya.
"Kyo—"
BANG!
Tidak ada yang ia rasakan saat itu—ketika peluru itu langsung menembus kepala kecil anak itu, dan hanya ada rasa marah, kesal, dan—entahlah perasaan yang membuatnya sakit.
"Kyouya!"
—
"...i...hei—"
"—oi!" Alaude yang tampak melamun sesaat tampak tersadar ketika melihat Hibari yang ada didepannya sedang duduk dan menatap kearahnya dengan wajah cemberut. Tanpa sadar, ia malah membayangkan saat terakhir kali ia bertemu dengan anaknya, "apa yang kau fikirkan—"
"Lupakan—" Alaude kembali pada kopi dan juga sepiring croissant yang ia pesan untuknya makan. Menyerup cairan kental itu sambil melihat Hibari yang tampak menikmati hamburgernya ( dan tentu kali ini bukan hamburger steak tapi yang berbentuk seperti sandwich ). Mulut kecilnya tampak sedikit kesusahan untuk memasukkan tumpukan daging, sayuran, dan keju yang ada diantara roti itu, membuatnya makan dengan berceceran dimana-mana.
:(
Tampak kesal karena tidak bisa makan dengan benar, membuat Hibari terdiam melihat serpihan roti, daging, dan juga sayuran yang ada diatas meja. Alaude yang melihat itu hanya diam sebelum mengambil lap didepannya dan membersihkan wajah Hibari yang penuh dengan serpihan itu.
"Hentikan—aku bukan anak kecil..."
"Sadarkah kalau kau adalah anak berusia 6 tahun? Jangan bersikap dewasa sebelum waktunya—" Alaude menaruh hamburger Hibari dan memotongnya menjadi beberapa bagian kecil yang bisa dimakan oleh Hibari.
'Aku berusia 26 tahun—' Alaude mengunyah croissant miliknya dan masih memperhatikan Hibari yang pada akhirnya memakan hamburger yang dipotong oleh Alaude. Tanpa disadari Hibari, tatapan Alaude yang semula dingin sedikit melembut. Dan itu disadari oleh Giotto dan juga Tsuna.
"Tidak kusangka Alaude akan bersikap seperti itu—"
"Tunggu disini—aku akan segera kembali," Alaude tampak berjalan menjauhi Hibari dan meninggalkannya sendirian di cafe itu.
"Apakah sebaiknya kita—tinggalkan mereka Giotto-san?" Tsuna menatap Giotto, tidak ingin mengganggu Alaude dan Hibari yang tampak saling menikmati kebersamaan itu. Giotto juga menyadarinya—dan pada akhirnya menghela nafas dan mengangguk.
"Ayo, kita masih harus mencari beberapa barang untuk persiapan natal—"
—
Hibari tampak melihat sekitarnya—tampak tidak berubah dan ia masih ingat dengan jelas tempat itu walaupun sudah 24 tahun ia tidak bersama dengan ayahnya ditempat ini.
Saat usianya 2 tahunpun, jika Alaude memang tidak memiliki misi ia akan mengajaknya kemari, karena tempat ini sepi dan tidak banyak orang berlalu lalang walaupun diluar jalan.
Suara derap kereta kuda juga terdengar dan Hibari hanya menatapnya. Mengaduk cokelat hangat yang ada didepannya sambil menatap kearah jalan raya sebelum melihat sosok yang ada disebrang jalan saat kereta kuda itu melintas. Ia tahu—dia adalah orang yang menembak ibunya, dan—
BANG!
—menembaknya saat itu...
Giotto dan juga yang lainnya, serta Alaude yang saat itu kembali tampak terdiam dan menatap kearah suara tembakan dimana Hibari tampak langsung terjatuh dari kursinya.
"Kyouya—!" Nadanya tampak monoton tetapi tampak tersirat kalau ia tampak panik dan juga takut—satu hal yang tidak pernah dilihat oleh Giotto dari seorang Alaude. Melihat kearah Hibari, peluru itu tampak menyerempet kepalanya dan hanya menimbulkan lecet. Sepertinya Hibari sempat mengetahui jalur peluru itu dan segera menghindarinya.
"Kau tidak apa?"
"Aku—tidak apa-apa, jangan memikirkanku..." Hibari mengejapkan mata beberapa kali dan memegangi luka dikepalanya. Menatap kearah sebrang jalan dan tidak menemukan seseorangpun disana. Knuckle segera memeriksa keadaan Hibari dan menyembuhkan lukanya.
"Tenang saja, ia tidak terluka parah—" Knuckle menepuk bahu Alaude dan tersenyum sambil menghela nafas. Alaude sendiri hanya melihat Tsuna yang langsung menutupi luka Hibari dengan plester.
"Lalu—kenapa kalian bisa disini..." Memberikan deathglare kearah semuanya, membuat mereka langsung memalingkan wajahnya dari Alaude.
—
"Aku tidak perlu istirahat—" Giotto dan juga yang lainnya serta Tsuna langsung pergi kembali ke manshion setelah kejadian penembakan itu. Knuckle langsung membawa Hibari dan tidak memperbolehkannya untuk bergerak sembarangan dulu.
"Ayolah Kyouya, ini tidak burukkan? Hanya sampai hari ini saja—" Yamamoto menatap sang Cloud Guardian Vongola Decimo itu yang membalas tatapannya dengan tatapan tajam, "—lagipula biasanya kau juga senang tempat yang sepi bukan?"
"Tetapi aku tidak suka dianggap lemah..."
"Maa, maa—tetapi kau terluka," Yamamoto mencoba untuk tetap tenang.
"Ayolah Kyouya, hanya untuk hari ini saja—" Tsuna menatap kearah Hibari dan menghela nafas panjang, "—lagipula Alaude-san juga khawatir padamu..."
"Tidak mungkin—" Hibari tampak tidak menatap Tsuna, sementara Tsuna yang semula menoleh kearah Alaude langsung menatapnya dengan tatapan bingung, "—lupakan..." Hibari berbaring dan membelakangi mereka.
"Tapi Kyouya—"
"Kalau kalian berisik sedikit saja—kamikorosu..."
—
"Malam ini malam natal bukan—" Tsuna ( yang kali ini tampak memakai pakaian seperti santa claus dengan baju merah dan juga bulu-bulu putih serta topi merah dengan ujung bulu putih disana ) tampak melihat kesekitarnya dan manshion sudah ditata rapi dengan beberapa ornamen natal yang tidak terlalu berlebihan. Diluar, sebuah pohon cemara asli yang paling besar ditata oleh beberapa anak buah dengan ornamen natal dan hiasan pohon natal itu, "—kalau Reborn pasti sudah memaksaku untuk segera menyelesaikan misi dan membuat rencana untuk natal..."
"Tetapi bukankah semua acara Reborn menarik?" Yamamoto yang juga menjadi korban dari para maid yang mendandaninya seperti Jack Frost dengan pakaian hitam polos dengan sedikit warna biru dan juga topi biru bercabang dua tampak menemaninya.
"Memang sih—tetapi dana yang dikeluarkan itu juga sangat besar..."
"Maa, maa—sabar saja Tsuna..."
"Masih terbangun Tsunayoshi?" menoleh, menemukan Giotto yang bersama dengan semua guardiannya selain Alaude, "kalau kau tidak tidur, santa tidak akan datang..."
'Mana mungkin pemuda berusia 24 tahun masih percaya tentang Santa bukan?'
"Kalau begitu aku akan segera tidur, tidak sabar untuk menunggu santa!" Yamamoto tertawa riang, dan Ryouhei juga tampak bersemangat dengan hal itu. Membuat, tentu saja Tsuna bersweatdrop ria dan menghela nafas panjang.
"Kau juga Tsunayoshi—bagaimana kalau kau tidur saja?"
...
"Aku ingin menunggu Santa Claus datang—" dengan senyuman innosen dan juga tanpa dosa, polos—yang sebenarnya dibuat-buat olehnya, sukses untuk membuat Giotto menyerah tanpa perlawanan, "—aku ingin tahu bagaimana Santa bisa masuk ke manshion padahal tidak ada cerobong dikamar..."
"Tetapi bukankah kalau kau tidak tidur santa tidak akan datang?" Giotto masih mencoba untuk menyerang pendapat Tsuna.
"Tetapi—Tsuna benar-benar ingin bertemu santa," Tsuna melancarkan sekali lagi puppy eyesnya kearah Giotto—dan kali ini benar-benar sukses membuat Giotto mengibarkan bendera putih.
"Ah—dimana Hayato?" Tsuna melihat G yang datang sendiri padahal ia mengira Gokudera bersama dengan G karena ia tidak menemuinya.
"Entahlah, ia tiba-tiba menghilang. Tetapi, para pelayan masih melihatnya—jadi ia tidak akan diculik untuk kedua kalinya," menghela nafas, G tampak menatap kearah Tsuna. Ia benar-benar tidak mengerti kenapa Gokudera menghindarinya.
"Bagaimana dengan Alaude-san, dan Kyouya?"
"Alaude memaksa mengambil misi sampai besok, padahal aku sudah melarangnya—kalau Kyouya ia juga menghilang," Ugetsu menepuk kepala Yamamoto dan tersenyum, "tetapi tenang saja, penjagaan tempat ini semakin diperketat..."
"Aku akan mencari Kyouya, lagipula kamarku dekat dengannya—aku duluan Tsuna!" Yamamoto melambaikan tangannya dan berlari menuju kearah kamarnya.
"Daemon, dimana Mukuro?"
"Entahlah, ia memang tidak pernah suka denganku sejak awal bukan—" menghela nafas dan menggelengkan kepalanya, Tsuna bisa melihat raut kecewa dari Daemon. Tetapi, ia juga tidak bisa menyalahkan Mukuro karena bagaimanapun Daemon pernah akan menguasai tubuhnya, "—aku akan kembali ke kamar saja..."
"Baiklah, aku juga akan kembali kekamar! Ayo, Ryouhei!" Knuckle mengajak Ryouhei yang langsung mengikutinya sambil berteriak 'EXTREME' seperti biasanya. Lampo hanya menguap dan berjalan sambil melambaikan tangannya kearah Giotto, Tsuna, dan juga Ugetsu.
"Baiklah, aku akan pergi kekamar Giotto-dono, Tsunayoshi-kun—" Ugetsu menepuk kepala Tsuna dan Tsuna hanya tersenyum dan melambaikan tangannya. Dan ditempat itu hanya ada Giotto dan juga Tsuna.
"Ayo, Tsuna—kita tidur saja..."
"Ya!"
—
Suara nafas dan juga ledakan kecil terdengar dikamar yang berada cukup jauh dari kamar lainnya. Tampak Gokudera yang mengeluarkan dinamit dan juga Hibari yang masih menggenggam tonfa dikedua tangannya. Luka tampak berada disekitar tubuh Gokudera, sementara Hibari tampak tidak terluka sama sekali.
"Kenapa kau tidak memberitahuku!"
"Sudah kukatakan bukan—kalau kau bisa melukaiku sedikit saja, akan kuberitahu yang sebenarnya—" Hibari mengangkat tonfanya lagi dan bersiap untuk menyerang Gokudera lagi. Mereka sudah bertarung sejak matahari tenggelam dan hingga jam menunjukkan pukul 9 malam, mereka belum selesai bertarung, "—menyerah saja Herbivore..."
"Tidak akan—aku harus tahu apa yang terjadi sebenarnya," Gokudera mencoba melempar beberapa dinamit kecil kearah Hibari, sementara Hibari langsung memutuskan sumbu sebelum meledak dan segera menerjang kearah Gokudera, tetapi tiba-tiba sesuatu tampak melukai pipinya hingga berdarah. Ketika Hibari melihatnya, Gokudera sudah mengeluarkan G's Archery miliknya dan menembakkannya dengan cepat, "kau—tidak pernah mengatakan tidak boleh memakai flame bukan? Sekarang—hh...katakan padaku..."
...
"Baiklah—aku akan mengatakannya padamu," Hibari menghela nafas dan menatap kearah Gokudera yang ada didepannya. Suasana hening sejenak, dan Yamamoto tampak baru saja akan berbelok ketika melihat mereka berdua sedang mengobrol.
'Ada apa dengan Kyouya dan Hayato?'
"Kau benar—aku tahu tentang dirimu dan juga herbivore itu, dan aku memang anak kandung dari Alaude. Dan yang berarti aku memang seharusnya berada dimasa ini," Gokudera tampak mengangkat sebelah alisnya, tidak terlalu mengerti apa yang dikatakan oleh Hibari, "bukan hanya aku—kau, Sawada Tsunayoshi, Yamamoto Takeshi, Sasagawa Ryouhei, Mukuro Rokudo, dan Lambo. Kalian berada di masa yang salah, dan kau adalah anak dari seseorang yang selama ini kau sebut sebagai pendahulumu..."
...
"Apa katamu?"
—
Malam hari—ketika semua sudah tertidur, dan malam sudah semakin larut, Hibari tampak berbaring di kamarnya dan memejamkan matanya. Salju tampak turun diluar jendela, dan cuaca tampak dingin bahkan didalam kamarnya.
Bayangan seseorang yang berada diberanda kamar itu terlihat, berpakaian santa dan membawa sesuatu ditangannya. Berjalan perlahan, ia menaruh kotak itu disamping tempat tidur Hibari dan akan meninggalkannya begitu saja.
"Sejak dulu aku tidak pernah percaya pada Santa—" suara Hibari tampak mengejutkan sosok itu, membuatnya menatap Hibari dari sudut bahunya. Hibari sendiri hanya membelakanginya dan masih menutup matanya, "—bagaimana seseorang bisa masuk dan keluar begitu saja di rumah orang lain? Itu hanya dilakukan oleh pencuri..."
...
'Sama seperti tahun lalu...' Hibari membuka matanya sedikit tetapi tidak menoleh kearah sosok itu yang hanya menatapnya dengan tatapan dingin.
"Tetapi, sepertinya untuk kali ini aku akan percaya bila santa itu ada—karena permintaanku sudah dipenuhi," Hibari tetap tidak menatapnya, hanya menutup matanya kembali dan menghela nafas berat. Sosok itu—tampak menunggu perkataan lain Hibari tetapi tidak pernah ada kata lainnya lagi, membuatnya berbalik dan akan meninggalkannya.
"Tunggu—" Hibari menghentikan langkah sosok itu, membuat jeda diantara kalimatnya sebelum ia melanjutkannya kembali, "selamat natal—ayah..." Memelankan suaranya saat memanggil sosok itu dengan sebutan ayah, Alaude sendiri hanya bisa diam mendengarnya. Selama beberapa bulan bersama dengan Hibari, hanya sekali itu ia mendengarnya memanggil dengan sebutan ayah. Dan ia tidak pernah berharap kalau Hibari akan seperti anak kandungnya dulu, karena ia melihat sifat Hibari yang dingin padanya.
"Ya—Buone Natale, Kyouya..."
'Permintaanku hanya ingin kau datang saat natal...'
—To Be Continue—
Cio : sumfeh ini OOC bgt xD
Kou : udah tau gitu malah dipublish (¯―¯٥)
Cio : tapi me kan cuma mau bikin fluff family yang bagus aja Dx
Kou : ya udah, habis ini Yamamoto kan?
Cio : begitulah :D dan dia tahu tentang Ugetsu dari pembicaraan Hibari sama Goku xD Kyouya sendiri tahu karena usia dia pas hilang itu 2 tahun ' ' nah, masalah Mukuro yang juga umurnya 2 tahun tapi ga inget, nanti dibicarain pas bagian dia xD
Kou : oh iya, karena kebodohan Cio, timeline akan dimajukan mereka hilang pas umurnya 1 tahunan bukan kurang dari 1 tahun, makanya Kyouya jadi umur 2 tahun...
Cio : :'( iya-iya, salah perhitungan... Oh iya reviewer makasih ya semua reviewnya xD
Hana 'natsu' Mitsuzaka : makasih ya xD dan—me itu emang ga bisa bedain antara dipisah sama disambung :(
alwayztora : makasih ya xD
Assassin Cross : ahahaha :D maaf ya, me lebih suka family Primo sama Decimo ^^;
lirinaXeddreine : makasih ya :) me juga ikutin kok ffic anda :D « dia itu males review cuma baca doang.
aliagepyon : eh, makasih ya :'D jadi terharu...
Mamitsu27 : silahkan, maaf kalau mengecewakan :'3
Yukira Mirabelle : sudah update :'3
Fakkufakku : didramatisir gimana o.o;;
