Hening. Jongin terlihat terhanyut dalam tatapan menerawang pada langit gelap kelabu. Dalam detik yang terus mengalun, hatinya berdesir sejenak ketika sebuah pemikiran logika tiba-tiba melintas tanpa permisi. Jongin tidak tahu mengapa tubuhnya terasa dingin di dalam diiringi jantungnya yang mulai berdetak lebih cepat dari sebelumnya. Bukan karna semilir dingin yang menyapanya, tetapi seperti sebuah firasat tidak enak.
Tiba-tiba terlintas sebuah pikiran menerka masa depan. Katakan saja ini adalah sebuah bayangan buruk. Mengenai ayahnya.
Bagaimana jika ayahnya meninggalkannya suatu hari nanti? Bukan pergi seperti ibunya, tetapi pergi dengan arti lain.
Jongin tahu dan benar-benar sadar kalau hal itu akan terjadi entah kapan. Bukan maksud berprasangka buruk, ini hanya sebuah pemikiran logika realita dalam benak Jongin. Kematian dapat kapanpun menyergap, tidak peduli waktu, tempat, dan umur. Takdir tidak memandang apapun. Bahkan Jongin sadar kalau ia bisa saja mendahului ayahnya kapanpun.
Tapi, Jongin tidak bisa mengira, akan seperti apa ia tanpa ayah. Ia hanya memiliki ayah. Jika suatu hari nanti ia telah ditakdirkan sendiri, akan seperti apa ia?
Memang, Jongin sudah dewasa. Ia sudah menginjak keremajaan. Ia juga mandiri. Tetapi tetap saja, ia butuh orang tua. Yang menjadi pegangan hidupnya selama ini adalah ayah. Yang merawatnya adalah ayah. Yang selalu bersamanya adalah ayah. Terlalu sering ia bersama ayah. Jika suatu hari ayah menghilang, siapa yang akan Jongin jadikan pegangan.
Setiap orang tidak bisa hidup sendirian 'kan? Jongin pun juga. Dan selama ini ia hanya hidup bersama ayah.
Tak ingin terhanyut dalam terkaan, Jongin memilih mengalihkan pandangannya, menunduk bersamaan dengan dering ponsel di atas kasur. Jujur... Jongin sedikit kaget mendengar ponselnya berdering tiba-tiba. Karna dia terlalu hanyut dalam renungan sang cakrawala kelabu.
Ia kemudian mengambil ponselnya. Mendesah lega ketika tahu bahwa Sehun lah yang tertera pada layar ponselnya.
"Yoboseo, Sehun," Sapanya dengan seulas senyum. Melupakan renungan gundahnya tadi.
"Sedang apa?" Tanya Sehun diseberang sana. Terdengar seperti tak bertemu dengan Jongin dalam waktu yang lama.
.
.
.
.
Baby, U are Lonely... [sequel] THE LIGHT BEHIND YOUR EYES
Hurts-Romance-Drama-Slice of Live
YAOI!
Sehun, Jongin, with other support cast.
Typo menyebar, bahasa berantakan, ejaan tidak sesuai EYD, tidak sesuai karakter.
HunKai Present! With UKE!Kai
Awas kesandung typo/?
W
I
N
T
E
R
Jongin berlari seperti orang kesetanan menyusur koridor rumah sakit yang terasa amat panjang sekarang. Ketakutan menyusup dalam dirinya. Ia telah mendapatkan jawaban atas firasat buruk yang ia dapat beberapa saat lalu. Bukan Sehun yang tertimpa musibah, tetapi ayahnya.
Ayahnya mengalami kecelakaan...
Sungguh... Jongin tidak menduga apa-apa sebelumnya. Ia tidak terpikir bahwa ayahnya akan mengalami hal seperti ini. Mengapa? Mengapa Tuhan benar-benar berkuasa mempermainkan perasaannya. Baru saja ia dibuat tenang oleh perkataan manis Sehun. Disaat kegelisahannya mereda, langsung ditampar keras-keras oleh sebuah kabar tidak mengenakkan.
'Apakah ini benar nomor Kim Jongin?'
'Iya, saya sendiri. Ada apa? Mengapa ponsel ayah saya ada pada Anda?'
'Tuan, ayah Anda mengalami kecelakaan'
Hancur hati Jongin mendengar kabar sangat buruk saat itu. Jantungnya berdetak sangat kencang melebihi kecepatan sebelumnya, rasanya menyesakkan dada. Begitu sakti menusuk uluh hatinya. Sangat sakit. Dalam sekejap firasat dan renungan di bingkai jendela ditarik paksa. Menyeruak dalam wujud air mata.
Dan disinilah Jongin, berlari dengan segala kekalutan, menyusur koridor rumah sakit yang terasa sangat panjang. Dalam otaknya hanya ada nama ayahnya. Ia meraung-raung memanggil ayahnya dalam hati. Bahkan dihiraukannya Sehun yang berlari mengikutinya sedari tadi.
Tidak dipedulikannya usaha Sehun untuk menenangkannya. Jongin sudah tidak dapat berpikir apapun, ia sibuk berlari dengan doa beruntun yang ia rapalkan.
Persendian terasa lemah. Sesak menyerang dada. Tubuh Jongin mematung dalam sekejap. Jiwanya terasa menyublim perlahan. Getaran kalut menyergap dalam satu detik. Matanya terasa lebih panas ketika melihat keadaan ayahnya telah berlumuran darah. Dokter dan suster sibuk memberikan pertolongan untuk memacu detak jantung.
Apa yang harus Jongin lakukan sekarang? Ayahnya tengah berada diantara hidup dan mati.
Jongin memejamkan matanya erat. Menahan air mata yang berusaha mendobrak pertahanannya.
Tidak! Bukan saatnya menangis!
Tolong selamatkan ayahku. Jangan ambil dia terlebih dahulu. Tolong selamatkan dia satu-satunya yang kumiliki. Tolong biarkan dia hidup lebih lama. Tolong jangan biarkan dia pergi. Kumohon... Tuhan... Aku sangat-
Tutttt~
Seketika doa Jongin berhenti saat suara lengkingan panjang dari sebuah alat penunjuk detak jantung menggema memekakan telinga. Jantung Jongin berdetak dengan brutal seolah ingin membunuhnya. Aliran darahnya serasa berhenti beredar.
Jangan! Jangan katakan!
"Waktu kematiannya pukul sepuluh lebih sepuluh,"
"Ayah!"
Runtuh sudah pertahanan Jongin. Ia melangkah dengan terseok bersama air mata yang telah mengalir deras, menghampiri ayahnya yang tak terselamatkan.
Ia meremat kain baju yang telah bercampur darah yang dikenakan ayahnya. Ia meraung. Menangis sejadi-jadinya. Memanggil ayahnya yang telah tiada.
"Ayah! Jangan tinggalkan aku! Hiks... hiks... aku belum siap..."
Sehun memandang miris dan sedih pada Jongin. Ia hanya dapat menarik Jongin dalam pelukan eratnya.
.
.
.
.
Sebelum kecelakaan...
Tenang sekali angin bertiup, rintik-rintik hujan gerimis menyerbu tanpa henti, menaungi dua sosok paruh baya yang terlihat berbeda kasta. Si lelaki tak perlu ditebak, sudah jelas ia bukan berasal dari keluarga atas. Bertolak belakang dengan si pria paruh baya, wanita dihadapannya nampak cantik dan elegan. Seolah mengumumkan bahwa ia berasal dari keluarga berada. Tas jinjingnya terlihat mahal, dan pernak-pernik yang ia kenakan pun terlihat sama mahal. Seolah meneriakkan betapa berbedanya kedua orang itu.
"Bisakah kita bicara sebentar?" Wanita berwajah familiar itu angkat bicara. Tersirat keanggunan sebagaimana keluarga kaya pada umumnya.
"Untuk apa? Tidak ada yang perlu kita bicarakan," Lelaki bermarga Kim itu menjawab dengan nada tak berminat, ketus.
"Kita perlu bicara, Jong Woon,"
"Jangan memanggilku seolah kita akrab. Aku tidak ingin berurusan denganmu ataupun keluargamu lagi," Kata Jong Woon dingin.
"Tapi ini tentang Jongin, putra sulung kita,"
"Tidak! Jongin putraku, bukan putramu. Jangan usik kami lagi, kami sudah tenang tanpamu,"
"Ijinkan aku bertemu dengannya, Jong Woon, aku ibunya. Jangan egois!"
"Kau menyebut aku egois? Kau tidak pernah berkaca? Kau yang menyiksa Jongin, meninggalkan Jongin begitu saja. Siapa yang egois disini!" Jong Woon membentak marah. Sorot mata rentanya terlihat kalut.
"Aku tahu aku salah. Selama inipun aku tak dapat hidup dengan tenang. Aku selalu memikirkan Jongin, aku mencari kalian. Sekarang aku menemukannya, aku ingin Jongin ikut denganku, aku jamin hidupnya akan lebih baik, aku akan menebus kesalahanku padanya,"
Sakit. Rasanya sakit sekali hati Jong Woon. Seenaknya saja aktris itu berkata tanpa memikirkan perasaan Jong Woon. "Aku yang membesarkannya seorang diri. Sekarang kau ingin membawanya pergi? Kau bahkan tak pernah tahu seberapa menderita Jongin! Kau masih menyebut dirimu ibu?!" Jong Woon mengepalkan tangannya kuat, berusaha menekan amarahnya, "Kau... segampang itu kau berucap! Persetan kau ibunya atau bukan, aku akan mempertahankan putraku! Kau tidak berhak atas dirinya setelah apa yang kau lakukan padanya,"
"Jong Woon, kumohon!"
"Tolong jangan pernah muncul dihadapanku ataupun Jongin,"
Setelah selesai dengan kata-katanya, Jong Woon lantas berbalik, melangkah pergi meninggalkan Soo Yeon alias Lee Ji Hye. Entah status apa yang seharusnya tersemat, secara hukum Ji Hye masih istri sah Jong Woon. Karna pada kenyataannya mereka belum bercerai. Tetapi, Soo Yeon yang telah berganti nama dan rupa itu pergi sekian lama.
Berganti rupa? Yah tentu saja. Wajahnya telah berubah, bukan Soo Yeon istrinya yang cantik alami, tetapi Lee Soo Yeon yang telah melakukan operasi plastik. Lee Soo Yeon yang telah berganti nama menjadi Lee Ji Hye, sang aktris senior yang populer dan kaya. Entah apa alasan wanita itu berganti nama dan operasi palastik. Mungkin agar tak ada yang mengenalinya atau untuk mendongkrak popularitasnya.
Sangat berbeda dengan Jong Woon yang hanya seorang buruh bangunan dan kuli angkut barang. Jong Woon hidup dengan sederhana bersama putra yang ia sayangi.
Mengapa harus mantan istrinya -status yang Jong Woon anggap- menemuinya dan meminta Jongin seperti ini. Tidakkah ia egois? Ia sudah menjadi aktris terkenal sekarang. Tentu hartanya sudah banyak. Mengapa harta Jong Woon satu-satunya juga ia minta?
Dulu, entah keberanian dari mana yang ia dapat hingga berani berdeklarasi bahwa ia mencintai Soo Yeon. Cintanya tulus hingga ia memiliki keinginan untuk menikahi wanita itu. Tetapi, semua itu terasa sangat menyakitkan ketika ia tahu bahwa Soo Yeon sama sekali tak pernah mencintainya. Soo Yeon menikah dengannya karna paksaan dari orang tua.
Jong Woon sangat terpukul dan sakit hati. Apalagi mengetahui yang dicintai istrinya adalah teman Jong Woon sendiri, Park Jung Soo. Hingga insiden penyiksaan Jongin kecil itu terjadi dan berakhir Soo Yeon pergi membawa sakit hati. Sakit hati karna keegoisan orang tuanya.
Sebenarnya, kedua manusia berbeda jenis ini memiliki rasa sakit sendiri-sendiri. Jong Woon yang telah terluka perasaannya karna wanita yang pernah ia cintai. Sekarang, tidak memungkiri bahwa cinta itu berubah menjadi kebencian.
Sementara Ji Hye, terluka karna keegoisan orang tuanya sendiri. Ditekan dari berbagai sudut. Membuat ia seperti orang kehilangan akal hingga tega menyiksa putra kecil yang sebenarnya sangat ia sayangi. Hal yang paling ia ingat adalah ketika ia menenggelamkan Jongin dalam kolam. Hanya karna sang anak tidak mau ikut pergi dengannya.
Dulu, anak malang itu menjadi korban kefrustasian ibunya sendiri. Tanpa ia tahu, anak itu sekarang memiliki traumanya sendiri.
"Jong Woon, sekali saja... beri aku kesempatan satu kali saja," Ji Hye menarik tangan Jong Woon.
"Tidak!" Lelaki itu menghempasnya, lalu berlari tergopoh menjauh. Tidak ada niat untuk berbalik menolong wanita yang sudah ia anggap sebagai mantan istri yang kini tengah terduduk dengan raut blank. Sebelum cepat-cepat bangkit untuk mengejar Jong Woon dengan mobilnya. Ia harus mendapat ijin untuk bertemu putranya. Bagaimanapun caranya.
Sementara Jong Woon sudah berada dalam bus umum.
.
.
.
.
Seperti tersayat belati, luka dihatinya semakin lebar. Ia hanyalah lelaki biasa yang mendapat kehidupan cinta menyedihkan. Selalu ia simpan rasa sakit akibat penghianatan sang istri sendirian. Semua terasa tak adil. Tidak bisa mengadu pada siapapun.
Tanpa terasa air mata menggenang di pelupuk mata tuanya. Tidak memungkiri rasa sedih yang tiba-tiba menyeruak. Persetan jika ia masih menangis diusianya yang sudah lebih dari setengah abad.
Mengapa wanita itu harus muncul kembali dihadapannya? Membawa ingatan luka untuk kembali berputar dalam benak. Seperti scroll film hasil syuting secara nyata.
Sepasang kaki kurus berbalut celana kain lusuh itu berjalan setapak demi setapak demi menuju rumah dengan hati porak-poranda. Seperti Titanic yang menabrak gunung es, terbelah jadi dua hingga perlahan tenggelam dalam dinginnya lautan. Rasanya hati begitu dingin hingga berulang kali berdesir. Ia sudah terlalu tua untuk bernostalgia dengan pahitnya cinta.
Tidak fokus memperhatikan jalan. Di tengah persimpangan, ia hanya bisa mematung ketika lampu menyorot tajam dengan tiba-tiba. Seperti di-slow motion ketika sebuah city car melaju kencang ke arahnya. Mendadak Jong Woon blank seketika hingga tidak berpikir untuk menghindar. Tepatnya, tidak sempat menghindar karna jarak yang sudah terlalu dekatt.
Hingga... semuanya terasa gelap.
'Jongin, maafkan ayah,'
Hal terakhir yang ia dengar adalah sebuah suara bedebum begitu keras hampir mirip ledakan. City car putih itu oleng hingga menabrak trotoar.
.
.
.
.
Tubuh semampai berbalut stelan jas serba hitam itu sejak 10 menit setelah prosesi pemakaman selesai, hanya diam terpaku menatap loker kaca dimana terdapat sebuah guci keramik warna putih yang berisi abu milik almarhum ayahnya. Di depan guci, bersender sebuah pigura foto dimana ayahnya tengah tersenyum dengan gurat renta. Senyum yang entah mengapa terasa begitu tanpa beban. Seperti pertanda bahwa ia kini telah tenang.
Perlahan, mata yang sebenarnya sudah bengkak itu kembali memanas. Tanpa bisa ditahan, air mata mengalir membentuk sungai. Wajah tan Jongin terlihat berantakan. Rona merah menjalar dimana-mana. Bukan rona merah karna tersipu, tetapi rona merah karna telah berkali-kali menangis dalam sehari.
Memang Jongin adalah pria. Yang katanya, seorang pria tak boleh menangis. Tetapi, disaat seperti ini tidak bolehkah ia menumpahkan air matanya?
Ayah... bagi Jongin, ayahnya adalah segalanya dalam hidupnya. Malaikat dalam perwujudan nyata. Orang yang paling Jongin sayangi. Hanya ayah yang ia miliki selama 17 tahun hidup. Tetapi, kini ia telah tiada. Meninggalkan Jongin untuk selamanya. Dengan cara tragis, tanpa meninggalkan sepatah katapun untuk Jongin.
Mendadak sekelebat kenangan bersama sang ayah mampir dalam benaknya. Berputar layaknya scroll film usang. Dari mulai Jongin kecil dimana sang ayah selalu menjaganya, sampai terakhir kali bertemu. Semua seolah seperti membawa luka tersendi.
Demi apapun, Jongin belum rela.
Ia belum sempat memberikan yang terbaik untuk sang ayah. Belum sempat membuatnya bangga. Belum sempat menggantikan sang ayah sebagai tulang punggung keluarga. Belum sempat sukses dihadapan sang ayah.
Mengapa... mengapa Kau ambil satu-satunya tempatku pulang?
Sepasang tangan menelusup secara perlahan. Memeluk Jongin yang sedang terpuruk dengan erat. Menyalurkan rasa keprihatinan mendalam. Sepasang tangan lain ikut memeluk Jongin. Yang pertama memeluk adalah Minseok, selanjutnya adalah Baekhyun. Mereka tahu apa yang tengah Jongin rasakan. Mereka hanya ingin menyampaikan bahwa Jongin tidaklah sendirian. Sementara Sehun, Luhan, dan Chanyeol nampak berdiri dibelakang mereka.
Jujur, ada rasa kecewa yang sebenarnya mendera Jongin. Disaat seperti ini, seharusnya keluargalah yang nomor satu ada untuknya. Tetapi, adik kandungnya sendiri tak nampak di rumah duka. Hanya kakek dan nenek dari pihak ibu yang datang. Lalu, adik-adik ayahnya memang datang, tetapi sudah pulang. Semua keluarganya terasa amat jauh.
Mengapa malah teman-teman -yang bahkan baru ia kenal- yang ada untuknya? Mengapa yang tidak sedarah dengannya malah terasa seperti keluarga yang sesungguhnya?
Tak ia pungkiri jika hatinya juga senang dan lega. Teman-teman yang Sehun perkenalkan padanya lebih tulus daripada yang dulu. Ia bersyukur, setidaknya ada yang berdiri bersamanya sekarang, meski bukan keluarga sesungguhnya.
"Ayo pulang," Ajak Chanyeol sembari merangkul lembut tiga orang yang masih berpelukan itu. Jongin hanya memberikan anggukan. Minseok menyodorkan sapu tangan agar Jongin menghapus air matanya. Sedangkan Baekhyun merangkul lengan Jongin. Lalu mereka mulai berjalan meninggalkan rumah pemakaman diikuti Sehun dan Luhan.
"Sehun, mungkin sekarang bukan waktu yang tepat, tapi seseorang ingin menemui kita sekarang," Luhan berujar setelah sekian lama terdiam.
"Siapa, Hyung?"
"Pamit dulu pada mereka. Aku akan ceritakan nanti,"
"Apa harus sekarang? Aku tak tega meninggalkan Jongin,"
"Ada Chanyeol, Minseok, dan Baekhyun. Suruh mereka ke apartementmu saja. Lagipula tidak lama. Orang itu bilang sangat penting,"
.
.
.
Setelah kepergian Jongin dan teman-temannya, tak lama kemudian datang seorang wanita paruh baya bersama dengan putrinya. Berdiri tepat di depan loker abu milik Kim Jong Woon. Dandanan yang ia kenakan tidak elegan seperti biasanya. Hanya berbalut dress hitam polos dengan topi bundar demi menyembunyikan perban luka yang melingkar di kepalanya.
Mata hitamnya menyorot sedih. Hingga perlahan ia menangis teriak. Jong Hee hanya dapat memeluk ibunya dengan air mata yang ikut berurai. Ada rasa bersalah yang menggantung dalam hati gadis muda itu. Ia sadar, seharusnya saat ini atau bahkan sejak tadi ia menemani kakaknya meski sebenarnya mereka tak terlalu dekat. Tetapi, ia harus menemani sang ibu di rumah sakit.
"Maafkan aku, Jong Woon, hiks... ini semua salahku,"
Lee Ji Hye tergugu. Meratapi dosa yang bertambah kian parah. Hingga ia tak berani menampakkan diri saat di rumah duka maupun prosesi. Hanya dapat mengamati dari jauh dengan berbagai rasa penyesalan.
.
.
.
Malam telah menjelang. Sehun baru saja kembali dari urusannya. Menemui seseorang yang Luhan bicarakan tadi, bersama Luhan tentunya.
Ketika ia memasuki kamarnya, ia menghela nafas pelan. Jongin nampak terduduk di kursi yang tersedia di balkon. Duduk memeluk lutut, menumpukan dagunya, dan memandang sendu lantai dibawahnya.
Sehun dapat merasakan suatu kesedihan ketika dirinya menatap punggung Jongin yang sepertinya tidak menyadari kedatangannya. Sungguh Sehun tahu pergolakan apa yang tengah pemuda tan itu rasakan. Karna ya... sedari tadi perasaan sedihlah yang mendomisasi hati kekasihnya.
Menghela nafas lagi, Sehun barulah mendekat dan memeluk Jongin dengan hangat. Entahlah, seperti tak ada kata yang bisa ia gunakan untuk menghibur remaja yang tengah dirundung duka ini. Hanya berharap pelukannya mampu menyalurkan kepeduliannya.
.
.
.
Notes:
Haii... ff ini tambah molor chapternya ga sesuai janji. Haaa... maafkan daku~ aaa~ dan aku ga tau ini chapter begimana. Keknya maksa amat deh /gegulingan/ :'v
Itu, yang Jongin duduk di jendela, di chapter ini beda versi, kalok chap kemarin ngebayangin emaknya, sekarang ngebayangin takdir :'v ini klise ;-; jadi sebenarnya pikiran Jongin melanglang buana kemana-mana pas di jendela itu.
Maap ga bisa ngebales review ff 'Flamer' satu-satu ;-; ga papa ya...
Tapi aku bener-bener terima kasih teman-teman udah semangatin aku dan menerima pendapat di ff aku. Makasih sudah sejalan sama aku :D Love you /cium jauh/? XD
Ada yang salah ngira gender aku. Ga papa kok. Udah sering disangka cowok tulen gegara logat/kata yang aku pake. Boleh2 aja kok. Aku mah seloww/? XD
Maap chapter ini ngaret banget updeatnya :'v
With Love, W.A.Y, KJI, OSH, NARUTO X'D
