Gintama belongs to Hideaki Sorachi
Warning: Ini hanyalah sebuah fanfiction abal-abal.
A/N: Ingat, ini Gintama. Animenya aja bisa nyeleneh, apalagi fanfictnya!
Nikah_Yuk_Nikah
Resepsi pernikahan pasutri baru, Gintoki dan Hijikata, berlangsung meriah. Kegaduhan yang dilakukan Kagura dan Shinpachi tidak semata merusak suasana pesta. Berhubung hampir semua tamu yang diundang memang biang rusuh, it's okay lah, kalau ada ribut-ribut dikit.
Beruntunglah pesta selesai lebih cepat dari perkiraan, sekitar jam 7 malam. Gintoki dan Hijikata bisa bernafas lega setelah seharian menjadi pusat perhatian para penduduk Kabuki-chou. Ditambah keriweuhan di hari-hari sebelum pernikahan, badan Gintoki berasa ngerentek semua.
Pikirnya, sih, habis beres-beres dia bisa santai sambil merasakan enaknya pijitan sang 'istri'. Tapi, kok, perasaan ga kelar-kelar, ya...
"Ini udah semua, Gin?" tanya Hijikata sambil merapikan tumpukan kado pernikahan di pojok ruang tamu.
"Udah kayaknya. Kalau masih ada yang ketinggalan, besok gue minta Shinpachi anterin lagi ke sini." jawab Gintoki.
"O iya, kemana Si Megane sama Si Cina itu? Mau gue suruh makan dulu di sini,"
"Keburu ngeluyur. Bilangnya, sih, ga mau gangguin kemesraan kita," cengir Gintoki sambil menaikturunkan kedua alisnya.
"Iuh, jijay!" cetus Hijikata, lain di mulut lain di pipi. Gintoki ketawa.
Resmi berstatus sebagai 'istri' sah Gintoki, Hijikata pun pindah ke Yorozuya, sementara Kagura pindah penampungan ke rumah Shinpachi. Meski begitu, setiap hari Shinpachi dan Kagura akan datang ke Yorozuya, menerima pekerjaan apapun seperti biasa. Enaknya sekarang adalah Shinpachi ga perlu repot-repot lagi mengurusi kehidupan amburadul bosnya, sebab Si Bos kini sudah punya 'istri' yang–dengan begonya–rela seumur hidup mengurusnya. Shinpachi bisa sedikit bernafas lega.
Omong-omong soal pekerjaan, Shinpachi pernah ga sengaja nguping obrolan Gintoki dan Hijikata beberapa hari yang lalu. Sekilas yang dia dengar, Gintoki berencana mencari pekerjaan sungguhan.
Kira-kira begini yang didengar Shinpachi:
"Lo serius mau cari kerja yang bener?" tanya Hijikata.
"Iya lah, kan sekarang tanggungan gue nambah. Walaupun lo bisa cari duit sendiri, tetap aja gue harus tanggung jawab nafkahin lo," jawab Gintoki serius.
Jantung Hijikata sedikit berdebar mendengar itu. Dia akui, dia senang.
Eh, tapi...
"Terus Yorozuya gimana?"
"Urusan Yorozuya gue kasih ke Shinpachi dan Kagura sepenuhnya. Gue akan bantu mereka kalau gue ada waktu luang atau pas hari libur."
Hijikata mengangguk. "Hmm.. gitu. Okelah, terserah lo aja. Selama menurut lo itu baik, gue ikut."
Cengiran Gintoki melebar. "Gini, nih, yang bikin gue tambah sayang. Nurut. Hehe.."
"Eh, belum tentu. Kalau menurut gue apa yang lo lakuin itu salah, mana mungkin gue nurut-nurut aja," tukas Hijikata.
"Iya, iya. Hehe.."
Shinpachi sangat mengamini seandainya itu benar. Itu tandanya Gintoki mulai berubah menjadi lebih dewasa dan bertanggung jawab. Semoga ga ada lagi penunggakan gaji tiap bulan. Amin...
Balik lagi ke GinHiji.
Selang beberapa menit, akhirnya tumpukan kado-kado itu tersusun rapi. Tinggal beresin barang-barang Hijikata yang ga seberapa banyak. Niatnya mau sekalian, tapi perut udah ga bisa lagi diajak kompromi.
"Beb, gue laper. Masak gih," pinta Gintoki.
"Sama. Mending lo mandi dulu deh, sembari nunggu makanannya mateng. Masak yang gampang aja, ya?
"Hn. Masak tai goreng juga boleh, asal elo yang bikin," canda Gintoki.
"Oke, gue kasih tai beneran nih!" sahut Hijikata, bercanda balik.
Gintoki ketawa, lalu melesat ke kamar mandi. Hijikata memakai apron, lalu berkutat dengan bahan-bahan dan alat-alat masak. Sebenarnya Hijikata masih payah dalam memasak, makanya dia memilih bikin menu yang gampang. Contohnya malam ini, telur dadar dan tumis sawi.
Biarpun simple, yang penting bergizi. Daripada mie?
Gintoki yang baru menaruh handuk menghentikan pergerakannya ketika mendengar suara "osreng-osreng" dari dapur. Penasaran, Gintoki mengintip Hijikata yang sibuk dengan spatula dan penggorengan. Gintoki memperhatikan 'istri'-nya itu dari atas sampai bawah...
Oh, betapa seksinya seorang Hijikata Toushirou kini...
Aura feminin yang belum pernah Gintoki lihat selama ini memancar dengan lembutnya. Ditambah apron yang melilit di sekitar pinggang, membuat Gintoki sadar akan kelangsingan sang 'istri'. Mungkin suatu hari dia akan menyuruh Hijikata diet agar postur punggungnya sedikit menyempit dan selaras dengan lebar pinggangnya. Muehehe...
Duh, kalau ngintipin bini mulu, kapan mandinya? Bisa-bisa kena amuk, nih.
Gintoki pun mandi secara autopilot. Cepat tapi bersih. Selesai menggantung handuk dan berpiyama, Gintoki langsung masuk ke dapur.
"Lo ga mau mandi dulu?" tanya Gintoki.
"Tanggung, abis makan aja. Keburu laper."
"Oh, oke."
Mereka pun makan dengan lahap tanpa ada yang membuka pembicaraan. Tampaknya acara resepsi seharian itu lumayan menguras tenaga mereka, padahal cuma duduk-berdiri, terus ngobrol ngalor-ngidul dengan para tamu. Selesai makan, Hijikata pun mandi, sedangkan Gintoki mencuci piring.
Air kucuran shower membasahi tubuh atletis dan mulus Hijikata. Ketika mengusapnya dengan sabun cair, dia teringat kembali pada malam dimana Gintoki hendak menyentuhnya. Perasaan nikmat dari sentuhan itu masih melekat hingga kini. Jemari lembut Gintoki menelusuri hampir setiap inci kulitnya...
Bluuuuussshhh!
"Duh, gimana nih, kalau malam ini Gintoki minta jatahnya yang ketunda? Gue harus apa? Anjir! Gugup mampus gue!"
Dinginnya air belum mampu menandingi panas di sekitar wajah Hijikata. Terlebih debaran jantungnya mulai menggila. Hijikata butuh beberapa saat untuk menenangkan dirinya. Padahal ketika malam pertama Gintoki menyentuhnya, dia langsung menurut. Lalu kenapa sekarang malah grogi? Aneh.
Tok. Tok.
"Hiji? Kok lama banget mandinya?"
Deg!
"Be-Bentar lagi, Gin!"
"Oh, ya udah, gue ke kamar duluan, ya!"
"I-Iya!"
Gintoki mengernyit mendengar suara gemetar Hijikata. "Beb?"
"Apa lagi?!"
"Suara lo bergetar gitu. Jangan mandi kelamaan, kedinginan lho,"
"Iya, Gin, iya..!"
Tak ada sahutan. Gintoki tampaknya sudah pergi ke kamar. Secepat kilat Hijikata mengenakan baju handuknya dan masuk ke kamar.
'Sreet.'
Pelaaan sekali Hijikata menggeser pintu kamar Gintoki–yang kini resmi menjadi kamarnya juga. Selama dia mandi, rupanya Gintoki sudah menyiapkan dua futon yang digelar merapat untuk mereka tidur. Hijikata mendekati suaminya itu perlahan...
Ah.. sudah tidur ternyata.
Hijikata lega sekaligus kecewa. Lega karena kegugupannya hilang, kecewa karena lagi-lagi kesempatan terlewatkan. Senyum miris terkembang di bibirnya. Dia mengerti, suaminya itu pasti kelelahan setelah berhari-hari non-stop mengurusi semua acara sakral mereka. Belum lagi diselingi pekerjaan-pekerjaan yang diminta kepada Yorozuya, Gintoki jadi mengeluarkan tenaga ekstra. Hijikata sampai capek menyuruhnya beristirahat.
Malam ini dia biarkan suami keritingnya itu tidur. Lagi pula masih banyak kesempatan di malam-malam berikutnya, kan?
Hijikata mengenakan kimono tidurnya, mematikan lampu, dan bergabung bersama sang suami.
"Hmm... Hiji..."
Deg!
"A-Apa, Gin..?"
"Nyem.. nyem.. nyem..."
Oalah, ngigau ternyata!
Hijikata terkekeh pelan menatap wajah polos suaminya itu. Matanya mulai terasa berat. Dia pun menyibak selimut dan menempelkan kepalanya ke dada Gintoki. Perlahan matanya terpejam karena mendengar detak jantung Gintoki yang dia anggap sebagai lullaby di telinganya.
Nikah_Yuk_Nikah
Suara cicitan burung-burung di balkon rumah membangunkan Gintoki. Tidurnya semalam begitu nyenyak, efek dari kelelahan yang menumpuk. Gintoki berbalik badan dan mendapati futon di sebelahnya tidak ada.
"Paling lagi di dapur."
Setelah membereskan futon miliknya, Gintoki menuju ke dapur. Namun bukan sang 'istri' yang ditemukan, melainkan cowok berkacamata yang tengah duduk santai menonton televisi.
"Selamat pagi, Gin-san!" sapa Shinpachi riang.
Gintoki mengerutkan alisnya. "Shinpachi? Mana Hiji?"
"Lho, bukannya Hijikata-san udah pergi kerja dari tadi pagi? Memangnya dia pergi nggak pamit?" tanya Shinpachi heran.
"Nggak sama sekali!" Gintoki melirik ke jam dinding. "What? Jam 10?!"
Shinpachi menatap sebal ke bosnya. "Kata Hijikata-san, Gin-san kecapekan, jadi dia nggak tega bangunin. Pas gue ke sini, semuanya udah rapi, sarapan buat Gin-san juga udah disiapin tuh di meja. Karena Gin-san tidurnya lama banget, Hijikata-san jadi bosen, terus dia milih pergi kerja." terangnya.
"Tapi seharusnya dia pergi pamit dulu ke gue!" kesal Gintoki. "Lagian ngapain sih kerja? Dikasih jatah cuti tiga hari bukannya digunain baik-baik malah disia-siain. Dasar maniak kerja!"
Helaan nafas keluar dari mulut Shinpachi. "Daripada ngomel-ngomel, mendingan Gin-san langsung telepon ke Hijikata-san. Bila perlu ke markas Shinsengumi langsung," sarannya. "Dan sebaiknya Gin-san jangan sambil marah-marah gitu. Nggak enak tau, nanti orang lain mikir yang aneh-aneh."
"Iya, iya, Megane. Lo ga perlu ngasih tau gue," cetus Gintoki yang dicemberuti Shinpachi.
Sementara di markas Shinsengumi...
"Fukuchou, saran saya sebaiknya Anda pulang. Kasihan Danna ditinggal sendirian di rumah," kata Yamazaki. Dia sedang berada di ruang kerja Hijikata, mengerjakan beberapa dokumen kasus tempo hari.
"Lo liat kan, baru gue tinggal sebentar itu dokumen udah segunung? Daripada gue bengong nungguin Gintoki yang masih molor, mendingan gue kerja." sahut Hijikata sambil mematikan puntung rokoknya di asbak.
"Bukan begitu, Fukuchou. Biar gimanapun, kalian kan baru nikah. Untung Kyokuchou lagi patroli. Kalau beliau tau bisa marah, lho. Seenggaknya nikmati dulu masa-masa manis kalian sebelum balik kerja lagi, hehe..."
Hijikata mendengus. "Bawel lo. Nanti pas jam makan siang juga gue bakal balik dulu. Masak."
Mata Yamazaki berbinar-binar. Seorang Wakil Komandan Iblis macam Hijikata ternyata bisa berubah manis begitu...
"Wah, kalau saya dapetin istri kayak Fukuchou, beruntung banget saya! Hehe... Ampun, Fukuchou! Saya muji, bukan ngejek!" ngeri Yamazaki ketika Hijikata mengacungkan pedang ke hidungnya.
Hijikata menurunkan pedangnya. "Muji apanya! Kedengeran di kuping tuh lo ngejek gue!"
Drrt.. drrt...
Ponsel milik Hijikata bergetar. Mata biru bajanya membulat mendapati nama sang suami terpampang di layar ponsel.
"Halo?"
"Halo, Hiji, lo dimana?"
"Di markas Shinsengumi. Kenapa?"
"Ck! Kenapa lo malah kerja, sih? Jelas-jelas lo dikasih cuti!"
"Gue bosen, Gin, di rumah. Lagian sebelum berangkat kan semua udah gue beresin, sarapan lo juga udah gue siapin. Terus ada Shinpachi yang nungguin lo. Kerjaan gue di sini banyak banget tau!"
"Gue nggak mau denger alasan. Lo harus pulang sekarang."
"Hah? Maksud lo apa?!"
Yamazaki terlonjak mendengar suara Hijikata yang meninggi. Firasatnya benar, akan ada perang dari pasutri baru itu. Dia pun hanya diam sambil membatin, "Waduh, bakal ribet, nih.."
"Maksud gue, libur ya libur. Kerja ya kerja. Sekarang ini bukan waktunya kerja. Sekarang ini waktunya lo ngehabisin sisa libur lo sama gue!"
"Jangan seenaknya ngatur gue, Gin. Gue pusing, kerjaan gue banyak."
"Gue suami lo. Gue berhak ngatur lo."
"Hei–"
"Kita lanjutin di rumah. Pulang sekarang atau gue jemput?"
"Ck! Iya, gue pulang!"
Tut. Tut. Tut.
Hijikata melemparkan dokumen di tangannya ke meja dengan kasar. Dia pun mengambil pedangnya lalu menatap nanar Yamazaki. "Jaga markas selama gue dan Kondou-san nggak ada."
"Si-Siap, Fukuchou!" sigap Yamazaki.
Dengan langkah menghentak, Hijikata keluar dari ruangan. Meninggalkan Yamazaki yang masih terpaku menatap kepergiannya.
Susah juga ya, punya istri maniak kerja. Dalam hati Yamazaki berharap semua akan baik-baik saja.
Nikah_Yuk_Nikah
"Tadaima!"
Seruan dari Hijikata membuat Gintoki beranjak dari sofa. Baru saja hendak menghampiri Hijikata di koridor, pria itu keburu muncul dan langsung masuk ke ruang tamu tanpa menghiraukan suaminya yang berdiri tepat di depannya.
Hijikata segera melepas jas dan rompi seragamnya lalu berjalan ke dapur. Gintoki dapat merasakan aura kekesalan yang menguar dari punggung sang 'istri'.
"Hiji, kita bicara dulu," Gintoki menahan tangan Hijikata, namun si empunya menepis.
"Berisik. Gue buru-buru mau masak, terus balik. Tinggalin gue sendiri." desis Hijikata yang menimbulkan urat-urat emosi di sekitar leher Gintoki.
Gintoki segera menarik kembali dua tangan Hijikata, membuat Hijikata berontak. Namun kekuatan Gintoki saat ini jauh lebih besar. Mata ikan matinya tampak berkilat-kilat karena amarah.
Dengan sekuat tenaga Gintoki menarik Hijikata agar duduk di sofa. Hijikata mendesis pelan ketika punggungnya membentur sandaran sofa yang keras itu. Gintoki pun langsung mengurung Hijikata menggunakan kedua tangannya selagi pria itu lengah.
"Diam di situ. Kita bicarakan ini baik-baik." titah Gintoki. Meskipun dalam hati Hijikata tidak terima, tetapi rasa takutnya terhadap Gintoki yang tengah marah lebih besar. Akhirnya dia memilih diam dan menyulutkan api ke rokoknya.
Gintoki mendudukkan dirinya di sofa seberang Hijikata. Dia tahu, meskipun Hijikata tidak pernah mengatakannya, Hijikata lemah terhadap tatapan mata ikan matinya ketika marah. Itulah mengapa dalam hubungan mereka, Gintoki memiliki kuasa lebih dalam hal menaklukkan pasangan.
Setelah saling diam beberapa saat, Gintoki membuka suara. "Gue sama sekali nggak melarang lo kerja, Hiji. Tapi, please, lo hargai waktu untuk kita berdua. Gue sekarang suami lo, dan berhak mendapatkan perhatian penuh dari lo. Nanti ketika lo udah masuk kerja lagi, gue janji nggak akan mengganggu kesibukan lo." tuturnya tegas.
Hijikata mengembuskan asap rokoknya lalu berkata, "Itu kerjaan kalau nggak gue tangani secepatnya bakal semakin numpuk, Gin. Sebelum lo nyuruh gue pulang, gue udah berencana pulang duluan buat nyiapin makan siang lo. Meskipun gue nggak di rumah, seenggaknya gue masih inget tanggung jawab mengurus suami..!"
"Haaah.. ribet banget dah lo." dengus Gintoki. "Lo kan pejabat pemerintah, seharusnya lo ngerti dong, soal profesionalisme. Sehari sebelum pernikahan kita, lo masih sibuk ngurusin kasus. Sekarang sehari setelah resepsi, lo udah balik kerja lagi. Sisa libur lo masih ada dua hari, Hiji. Orang lain kalau dikasih cuti panjang itu senang, nggak kayak lo. Pas waktunya masuk kerja, baru deh, terserah lo mau ngurusin kerjaan sampe berapa lama. Asalkan kerjaan lo benar-benar genting, lo nggak pulang pun gue ga akan protes..!"
Hijikata terdiam mendengar penuturan Gintoki. Sedikit banyak dia membenarkan perkataan sang suami, meski tidak semuanya diterima.
Gintoki melembutkan ekspresinya. Ditatapnya dalam-dalam mata biru baja Hijikata yang tampak melunak. "Atau jangan-jangan.. lo ga bahagia dengan pernikahan ini?"
Mata biru Hijikata terbelalak. "Maksud lo apa..?"
"Jujur aja, gue ga akan marah."
"Jelas gue bahagia! Apaan sih lo nanya sesuatu yang ga penting gitu?!"
"Wajar lah gue nanya. Ini baru hari pertama kita benar-benar istirahat dan bebas bercengkrama, tapi lo seolah ga mementingkan itu. Sejujurnya, gue kecewa. Hari yang gue nantikan selama ini ternyata ga dinantikan sama lo..."
Seketika lidah Hijikata kelu. Perasaan bersalah mulai merayap di dadanya. Tatapan datar nan kecewa Gintoki seakan mampu meruntuhkan egonya untuk membela diri. Gintoki sampai bertanya seperti itu, segitu dalamnya kah perasaan Gintoki mendambakan hari ini akan tiba? Dan lihatlah apa yang dia perbuat. Dia bahkan luput dari kenyataan bahwa suaminya kini sangat membutuhkan dirinya.
Berbagai pertanyaan bergumul dalam kepala Hijikata, hingga akhirnya dia menyerah.
"Maaf.."
Gintoki hanya diam.
"Gue belum terbiasa dengan situasi seperti ini. Maaf karena gue udah egois dan membangkang..."
Melihat penyesalan dalam mata Hijikata, hati Gintoki luruh. Dia bersyukur begitu mencintai pria itu, sehingga tidak butuh waktu lama untuk memaafkannya. Senyum simpul nan tulus mengembang di bibirnya.
"Kalau lo berpikir gue gampang banget terbiasa dengan pernikahan ini, lo salah. Siapa bilang gue ga gugup ketika mengingat sekarang tinggal seatap dengan orang yang gue cintai..."
Pipi mulus Hijikata seketika merona mendengar pernyataan itu. Oh, benar juga. Gintoki adalah suaminya kini...
Dan entah disadari atau tidak oleh sang suami, dia perlahan menjelma menjadi sosok pria yang bijaksana. Yang secara perlahan juga telah mampu menumbuhkan rasa segan dalam dada sang 'istri'.
Gintoki yang gemas dengan tingkah malu-malu Hijikata pun mendekat. Dia berjongkok di depan 'istri'-nya yang masih duduk di sofa. Digenggamnya erat kedua telapak tangan Hijikata dan menatap kedua bola matanya dalam-dalam. Tatapan lembut Gintoki seakan menenggelamkan dirinya ke sebuah padang bunga yang indah dan menyejukkan.
"Hiji, gue ga meminta banyak dari lo. Bersedia jadi partner hidup gue selamanya, itu udah cukup buat gue. Jika di awal-awal pernikahan kita udah punya jarak, gimana kita mau selalu bersama sampai maut memisahkan?" tutur Gintoki yang langsung menancap di dada Hijikata.
Hijikata sedikit menunduk, malu menatap wajah tampan suaminya. "Lo bener, Gin.. Ma-Makasih karena lo udah nyadarin gue..."
Gintoki nyengir lebar. "Kita suami-'istri', inget?"
"Hehehe... Iya."
Cup~
"Lo memang yang terbaik, Hiji.." puji Gintoki setelah sukses mendaratkan kecupan manis di bibir sang 'istri'. Rona merah di pipinya semakin tercetak jelas, namun kali ini dia tersenyum. Gintoki pun turut tersenyum.
Selama beberapa saat mereka hanya tersenyum dan beradu pandang. Tampaknya tidak satupun dari mereka yang ingin mengakhiri moment kemesraan ini. Tangan Gintoki kini bertengger di paha Hijikata lalu mengusak-usak rambut keritingnya di sana. Tawa geli Hijikata begitu merdu di telinganya. Hijikata pun ikut-ikutan mengusak rambut keriting itu karena gemas.
Setelah penantian sekian lama, kini Gintoki telah menemukan belahan jiwanya. Tempatnya bersandar dan bermanja-manja.
Juga, tempatnya untuk kembali.
"Hiji..."
"Apa?"
"Kapan nih, kita program bikin dedek bayinya?"
TBC
Cuap-cuap author:
Halo, reader tercinta. Adakah yang menantikan fanfict usang ini? #nggak
Oya, sebelum itu, aku mau ucapin sesuatu dulu nih.
HAPPY BIRTHDAY, OUR LOVELY MAYORA!
Doaku semoga ke depannya keluarga GinHiji semakin harmonis. Hijikata tambah cantik dan seksi, terus Gintoki tambah sayang deh! XD
Fanfict ini kubuat khusus (sambil ngantuk-ngantuk) demi meramaikan ultah Hijikata. Habisnya aku ga ada ide mau bikin ff kayak gimana. Yodahlah, lanjutin ff ini aja. Hehe...
Btw, mulai ada konflik-konflik kecil di kehidupan GinHiji, nih. Namanya juga pasutri, ga seru dong, isinya mesra-mesraan terus. Muehehe...
Yosh, terima kasih karena udah sabar menunggu ff ini! o
Regards,
Yuri
