"Kau percaya bukan kepadaku?" lanjut Sehun sambil mendekatkan wajahnya ke wajah Jongin melihat tatapan mata pasrah Jongin.

Merasakan bibir tipis Sehun menempel dibibirnya Jongin menyerah. Dia memejamkan matanya dengan air mata yang menetes.

Malam ini Jongin kalah.

Dia mungkin akan menyesal nantinya. Tapi ayahnya yang terpenting sekarang.

Seiring dengan ciuman Sehun yang semakin dalam dan pelukan hangat Sehun membuat Jongin sadar. Tidak ada janji yang diingkari.

Dia menjaga ayahnya.

Dia juga menyerahkan miliknya pada orang yang dicintai.

Karena sekeras apapun Jongin menolak tapi jauh didalam lubuk hatinya dia mencintai Sehun.

Sangat.

"Replace"

Warn: Gs!Kai, Gs!Baekhyun, Typo(s)

Pair : Hunkai

Disclaimer : Cast(s) milik diri mereka sendiri

.

.

.

.

.

Baju mereka sudah berhambur di lantai. Sehun mengecup setiap inchi tubuh Jongin dengan lembut. Tapi ada yang salah. Kenapa air mata Jongin tidak berhenti menetes? Bukan kah ini memang keputusannya? Dirinya sudah siap…. kan?

Iya kan?

Tidak! dia belum siap!

Perasaan takut semakin menjalar disetiap sel ditubuhnya saat Sehun sudah hampir menyatukan tubuh mereka. Jongin menutup erat matanya tapi air mata tetap menerobos keluar. Jongin menggigit bibirnya keras mencoba meredam isakannya. Tangannya meremas sprei dibawahnya erat. Dia belum siap! Dia takut!

Jongin menunggu rasa sakit yang akan menghampirinya saat 'itu' terjadi. Tapi tidak ada. Tidak ada apa-apa. Tidak merasakan apa-apa. Sehun hanya terdiam diatas tubuhnya.

Sehun hanya diam memperhatikan Jongin dibawahnya. Memperhatikan bagaimana tubuh telanjang dibawahnya itu bergetar ketakutan meskipun sudah mati-matian ditahan. Bagaimana tangan Jongin meremas sprei sampai buku-buku jarinya memutih. Bagaimana Jongin menggigit bibirnya kuat sampai berdarah. Bagaimana kedua mata indah Jongin terpejam sambil terus mengalirkan air mata.

Seketika rasa bersalah dan marah memenuhi dirinya.

Kau brengsek Oh Sehun. Bagaimana bisa kau melakukan itu. Kau bilang kau mencintai Jongin? Bukankah kau berjanji pada dirimu sendiri untuk melindungi Jongin. Lalu apa yang kau lakukan sekarang? Membuatnya menangis ketakutan. Hah. Kau pikir kau lebih baik dari para bajingan penagih hutang itu.

'keparat! dimana otakmu Oh Sehun' umpatnya pada dirinya sendiri. Jika memang berniat untuk menolong Jongin kenapa tidak langsung tolong saja. Membayar hutang-hutang Jongin tidak akan membuatmu jatuh miskin seketika kan? Jumlah segitu bukanlah masalah untuk seorang Oh Sehun. Lalu kenapa kau meminta sesuatu yang sangat berharga dari Jongin hanya untuk mengganti beberapa peser uangmu. Membuat Jongin terlihat seperti wanita murahan hanya karena ketidak berdayaannya menghadapi hutang-hutang ayahnya.

'brengsek! brengsek! brengsek!' Sehun beranjak dari atas tubuh Jongin. Dia marah. Marah pada dirinya sendiri. Marah pada kebodohanya. Marah pada hawa nafsunya. Matanya terpejam erat dan giginya mengatup rapat menahan amarahnya. Tangan-tangannya meremas rambutnya erat.

Jongin yang melihat tingkah Sehun jadi bingung sendiri. Tapi ada perasaan senang yang menyelip kedalam hatinya. Apakah Sehun tidak jadi melakukan 'itu'? Tapi kenap—

Deg.

Apakah Sehun jijik dengannya?

Pemikiran itu membuat hatinya terluka. Apakah dia semenjijikkan itu? well, tentu saja. Apa bedanya dia dengan pelacur-pelacur di jalanan. Dengan senyum getir dia menarik selimut disampingnya untuk menutupi tubuhnya.

"Maafkan aku" kata Sehun lirih.

"Huh?" Jongin kaget tentu saja.

"Aku seharusnya tidak melakukan ini. Tidak seharusnya aku mengambil keuntungan saat kondisimu sedang kacau. Aku benar-benar minta maaf" permintaan maaf Sehun terdengar begitu tulus. Membuat hati Jongin menghangat.

Sekarang masih salahkah Jongin jika dia mencintai Sehun? Bagaimana bisa Jongin menolak pesona Oh Sehun sekarang?

"Apa aku terlihat seperti pria bajingan sekarang?" tanya Sehun dengan senyum kecutnya.

"Harusnya aku yang berkata begitu. Apa aku terlihat seperti wanita murahan sekarang?" Jongin membalas dengan senyum tak kalah kecut sambil menundukkan kepalanya. Lalu dia merasakan tangan Sehun mendarat di pipinya menarik wajahnya untuk mendongak menatap wajah Sehun yang kini terlihat serius.

"Tidak pernah sekali pun aku berpikiran seperti itu Jongin. Ini semua salahku. Kau sedang berantakan dan aku malah memanfaatkannya" mata mereka tetap terkunci satu sama lain dengan wajah yang hanya berjarak beberapa inchi.

"Begitu pun aku sajangnim. Tidak pernah sekali pun aku berpikiran seperti itu. Anda hanya ingin menolong dan saya mengerti" kata Jongin lembut mencoba menenangkan Sehun yang sekarang terlihat kalut.

"Aku memang ingin menolong tapi tetap saja bukan alasan untuk perbu-" ucapan Sehun terputus saat dia merasakan sepasang bibit yang manis menempel pada bibirnya. Bibir siapa? Bibir Jongin tentu saja.

Apakah sekarang Jongin benar-benar telihat seperti wanita murahan karena mencium bosnya secara tiba-tiba?

Well, who cares?!

Yang dia tau ciuman Sehun benar-benar mampu menenangkannya tadi. Dan dia berharap bisa melakukan hal yang sama dengan mencium Sehun. Dan sepertinya ciumannya berhasil terlihat dari tubuh Sehun yang merileks, lengan-lengan sehun memeluk pinggang ramping Jongin begitu juga lengan Jongin yang melingkar di leher Sehun.

Ciuman kali ini benar-benar berbeda dari yang sebelumnya. Ciuman kali ini benar-benar lembut. Bukan hanya semata-mata saling menempel dan melumat bibir masing-masing. Melainkan lebih. Seperti saling berkomunikasi mencoba menyalurkan perasaan. Rasa bersalah, sesal, sedih, cinta. Semuanya. Terlalu banyak untuk dideskripsikan. Begitu ciuman itu terlepas mereka saling memandang. Tidak ada kata yang terucap tapi mereka sudah mengerti perasaan satu sama lain.

Jongin sempat kaget saat tubuhnya didorong pelan oleh Sehun sampai terbaring di tempat tidur. Sempat terlintas di benaknya apakah Sehun akan melanjutkan 'kegiatan' mereka yang tadi. Tapi ternyata dia salah Sehun malah ikut membaringkan tubuhnya, menarik Jongin ke pelukannya dan menyelimuti tubuh polos mereka berdua.

"Tidurlah Jongin. Selamat malam" kata Sehun mengeratkan pelukannya di pinggang Jongin lalu mengecup puncak kepala Jongin pelan.

"Selamat malam sajangnim" balas Jongin membiarkan kehangatan tubuh Sehun menyelimutinya. Begitu menenangkan. Sampai-sampai dia melupakan nyawa ayahnya yang sedang terancam untuk sesaat.


Pagi menjelang cahaya matahari menerobos gorden putih yang menutupi jendela besar di kamar itu membangunkan Sehun dari tidurnya. Mata Sehun terbuka membuatnya melihat wajah Jongin yang masih tertidur dipelukannya. Sudah lama Sehun tidak pernah bangun dikondisi seperti ini-dengan memeluk sesorang maksudnya. Kecuali ketika Haowen manja nya sedang kumat dan minta ditemani tidur. Efek terlalu lama menduda mungkin.

Bibir Sehun tertarik melihat Jongin tidur. Gadis ini lucu sekali membuat Sehun terkekeh pelan. Lihatlah bagaimana dia menggumam sesuatu yang tidak jelas. Bagaimana mulutnya agak terbuka dengan lucu saat tidur. Bagaimana dia selalu mengerutkan alisnya dan makin mendekatkan diri ke Sehun sambil mengeratkan pelukannya diperut Sehun saat Sehun memundurkan tubuhnya. Mungkin Jongin kedinginan secara mereka kan mas—

Deg.

Sehun membeku.

Mereka telanjang.

Memori kejadian semalam seketika memenuhi pikiran Sehun. Rasa bersalah kembali menghampiri apalagi ketika melihat kissmark yang berhamburan dibahu dan leher Jongin-karyanya semalam. Membuat alisnya mengerut dan matanya memancarkan sosok kesedihan.

Masih larut dalam pikirannya tanpa sadar Jongin sudah membuka matanya setelah mengerjap-ngerjapkannya beberapa kali.

"Sajangnim?" seketika lamunan Sehun buyar mendengar suara Jongin.

"Selamat pagi Jongin" sapa Sehun sambil tersenyum.

"Pa-pagi sajangnim" Jongin benar-benar gugup sekarang. Maksudku dia benar-benar merasa awkward berada di kondisi seperti ini. Saking gugupnya Jongin sampai memalingkan wajahnya dari wajah Sehun. Membuat lehernya yang penuh kissmark terlihat jelas membuat senyuman Sehun luntur dan tatapan matanya meredup.

Merasa Sehun diam saja Jongin kembali menatap Sehun yang sedang melihat sesuatu ditubuhnya dalam diam. Jongin mengikuti arah pandangan Sehun dan matanya sampai pada pundaknya yang yang penuh kissmark. Sehun merasa bersalah dan Jongin tau itu. Dengan segera dia mengangkat selimut yang menutupi tubuhnya untuk menutupi pundaknya. Dia tidak mau Sehun merasa makin bersalah.

Dan Sehun mencium Jongin. Lagi. Entah sejak kapan atau sejak kemarin mungkin mereka jadi mencium satu sama lain untuk berkomunikasi. Mereka berdua yang memang pada dasarnya bukan orang yang banyak bicara dan kata orang sedikit kaku jadi mereka susah mengatakan sesuatu yang berhubungan dengan hal seperti ini-love and affection. Mungkin itulah yang mendasari cara komunikasi dengan ciuman yang mereka pilih.

Padahal mereka bukan siapa-siapa.

Hanya sekedar bos dan sekretaris.

Tidak kurang.

Namun mungkin bisa lebih di masa depan.

Tapi yang jelas tidak sekarang. Sekarang mereka hanyalah sebatas bos dan sekretaris.

Meskipun kalau dilihat dari pola interaksi mereka sekarang yang jelas-jelas lebih dari sekedar bos dan sekretaris. Tapi tetap saja tidak ada pernyataan pasti yang mengikat hubungan mereka secara jelas. Kecuali kontrak kerja Jongin dengan Oh Corp, tentu saja. Yang secara otomatis membuat Jongin hanya sekretaris Sehun.

Mereka berciuman dengan lembut dibawah terpaan hangatnya sinar matahari pagi tanpa memperdulikan apa-apa lagi. Serasa dunia milik berdua. Terbuai manisnya bibir satu sama lain hingga tanpa sadar pintu kamar yang mereka tempati telah terbuka dan menampakkan carbon copy dari seorang Oh Sehun. Siapa lagi kalau bukan Oh Haowen.

"Daddy?" panggilan dari bocah berusia 6 tahun itu membuat Sehun dan Jongin menghentikan aktivitas mereka dan memandang horror ke arah Haowen yang memicingkan mata dan mengerutkan alisnya tidak suka.

"Ha-haowen" Mati kau Oh Sehun. Bagaimana mungkin kau melupakan fakta bahwa kalian sedang berada di rumah dengan kedua anakmu.

"Siapa dia?"

"Apa yang sedang kalian berdua lakukan?"

Habis sudah. Mau menjawab apa Sehun kalau putranya ini sudah bertanya. Jongin sendiri hanya bisa diam di tempatnya. Dia bingung harus melakukan apa. Haowen melepaskan pegangannya dari pintu membuat pintu itu tertutup menyembunyikan apa yang sedang terjadi di dalam kamar dari mata-mata penasaran para maid yang suka bergosip.

"Sedang apa kalian?"

"Kenapa hanya berdua di dalam kamar?"

"Kenapa kalian telanjang?"

"Dan berpelukan"

"Dan mencium bibir"

Haowen terus menyerang Sehun dengan pertanyaan-pertanyaannya sambil terus melangak mendekati tempat tidur putih itu. Membuat daddy-nya memutar otaknya susah payah unyuk menemukan jawaban yang sekiranya 'pantas' untuk diberikan pada putranya.

"Haowen... itu... err..."

Alis Haowen makin berkerut mendengar jawaban tidak jelas dari Sehun. Dengan sigap Haowen menaiki kasur itu dan berjongkok dihadapan kedua orang dewasa di depannya. Lelah memandangi Sehun yang tak kunjung memberikan jawaban, Haowen beralih memandangi Jongin. Jongin jadi gugup dipandangi oleh Oh Sehun kecil.

Dia memang pernah mendengar dari rekan kerjanya kalau Oh Haowen katanya seperti kloningan dari seorang Oh Sehun. Secara fisik memang, Jongin akui itu benar. Lihatlah mata itu, hidungnya, bibirnya. Demi Tuhan apakah Sehun membuat Haowen seorang diri? Karena Jongin bersumpah dia tidak menemukan orang lain dalam wajah Haowen. Sehun. Hanya Sehun.

Apalagi mata itu. God, tatapan yang dilemparkan Haowen pada Jongin. Tatapan tajam, dingin dan mengintimidasi yang hanya bisa dibuat oleh mata tajam Sehun kini sedang terpasang sempurna di mata Haowen. Tanpa sadar Jongin meremas lengan Sehun pelan karena terus-terusan dihujam oleh tatapan Haowen.

'Siapa sih sebenarnya wanita ini?' batin Haowen kesal. Kenapa dia tidur dengan Daddy? Kenapa dia dipeluk Daddy? Kenapa dia dicium Daddy? Bukankah kata soensaengnim itu hanya hal-hal yang boleh dilakukan pada... Tunggu. Jangan-jangan...

"Mommy?" tanya Haowen dengan suara pelan pada Sehun.

"Huh?"

"Mommy" kali ini Haowen merengek dengan keras melihat wajah cengo Sehun.

"Dia mommy Haowen kan?" tanya Haowen menuntut dengan muka cemberut.

"Haowen sebenenarnya buk-" ucapan Sehun terputus melihat putra semata wayangnya tiba -tiba memeluk Jongin erat. Erat sekali. Haowen mengalungkan tangannya di leher Jongin dan menyembunyikan kepalanya di dada Jongin. Lalu bagaimana dengan Jongin? Kaget tentu saja. Sebenarnya ini bukan pertama kalinya dia dipeluk anak-anak. Jongin sering dipeluk dan memeluk anak kecil. Karena memang pada dasarnya Jongin suka anak kecil. Bahkan tetangganya sering menitipkan anak mereka pada Jongin ketika akhir pekan.

Tapi, come on. Tidak dalam kondisi seperti ini juga. Telanjang di dalam kamar dengan bosmu dan putra bosnya sedang memeluk tubuhnya erat sambil menggumamkan kata mommy dan.. Hei? Apakah Haowen menangis? Karena Jongin merasakan sesuatu yang basah di dadanya.

"Haowen sayang.." Sehun mencoba melepaskan tangan Haowen dari leher Jongin tapi langsung ditepis oleh anak itu. Haowen mengintip dari dada Jongin dengan mata basahnya.

"Haowen ingin Mommy" kata Haowen lirih dengan air mata mulai mengumpul di matanya. Sehun mati kutu melihat putranya seperti itu. Sehun akui Sehun bukanlah ayah yang terbaik. Sudah banyak moment-moment penting yang terjadi pada Baekhyun dan Haowen yang Sehun lewatkan. Dan dia tau anak-anaknya kesepian. Sehun tidak bisa menemani mereka setiap saat karena pekerjaannya yang menumpuk. Baekhyun dan Haowen mungkin bermandikan uang tapi mereka tetaplah kekurangan sesuatu yang tidak bisa dibeli dengan uang. Kasih sayang. Hal sederhana memang. Tapi itulah kenyataannya. Maka jangan salahkan Baekhyun dan Haowen yang dianggap orang-orang memiliki pribadi yang dingin, keras dan kaku-seperti Sehun-karena tidak adanya sosok yang menghangatkan dan melunakkan hati mereka yang perlahan membatu karena kesepian. Ini salah sehun, Sehun tau itu. Dia sangat menyayangi anak-anaknya hanya saja kadang dia bingung bagaimana menunjukkannya.

"Daddy?" tanya Haowen. Air matanya sudah tumpah dan membuat hati Sehun mencelos. Sehun memejamkan matanya berpikir. Haruskah dia melakukannya? Haruskah? Dengan perlahan Sehun membuka matanya dan melemparkan tatapan 'Bisakah kau membantuku?' pada Jongin.

Jongin bingung sekarang. Maksudku sangat bingung. Mana mungkin dia melakukan itu. Merasa dipandangi Jongin mengalihkan pandangannya pada Haowen yang sedang menatapnya dengan penuh harap. Jongin tau perasaan Haowen. Dia tau betul. Karena dia juga tidak memiliki ibu seperti Haowen. Tapi Jongin masih sedikit lebih beruntung. Dia pernah merasakan yang namanya kasih sayang seorang ibu walaupun hanya sebentar. Sementara Haowen? Yang Jongin dengar ibu Haowen meninggal saat melahirkan Haowen. Itu artinya tidak sama sekali. Tidak pernah Haowen merasakan yang namanya memiliki Mommy sejak dirinya baru lahir.

Jongin menghembuskan nafasnya. Lalu mengangkat satu tangannya untuk memeluk Haowen

dan satu tangannya lagi mengelus kepala Haowen. Tidak ada jawaban secara verbal tapi Haowen sudah tau jawabannya dengan pelukan hangat Jongin, elusan lembut di rambutnya, dan senyuman manis yang dia terima haowen tau. Dia punya Mommy! Haowen punya Mommy!

Dengan senyum yang paling lebar yang pernah tercetak di wajahnya. Haowen kembali menerjang Jongin dan memeluknya. Kali ini terlalu keras sampai tubuh Jongin terbanting ke kasur belakangnya. Haowen tidak perduli. Dia akan minta maaf nanti. Tapi sekarang Haowen hanya ingin memeluk Mommy erat. Erat sekali. Supaya Mommy nya ini tidak pergi seperti Mommy yang satu lagi. Yang kata Tao gege sedang tidur di dalam tanah.

Sehun tersenyum melihat Jongin dan putranya saling berpelukan. Tidak pernah dia melihat Haowen sebahagia ini. Tapi di satu sisi perasaan bersalah mengisi hatinya. Bagaimana jika Haowen nanti tau kalau Jongin bukanlah Mommy nya. Akankah Haowen marah? Membencinya? Atau membenci Jongin? Ah Sehun akan memikirkan itu nanti sekarang biarkanlah Haowen bahagia dengan Mommynya.

"Ah Haowen tau!" pekik Haowen sambil bangkit dari pelukan Jongin.

"Ada apa, son?" tanya Sehun pada putranya.

"Haowen akan membawa Mommy keluar. Dan menunjukkan pada semua orang kalau sekarang Haowen punya Mommy" dengan semandgat Haowen berdiri dan menarik tangan Jongin untuk turun dari tempat tidur. Tapi Jongin hanya terdiam di ujung tempat tidur. Kenapa? Karena Jongin malu. Dia masih telanjang. Mana mungkin dia berdiri sambil telanjang dan memungut bajunya yang berceceran. Nanti kelihatan oleh Sehun-padahal Sehun sudah melihat semua kemarin.

"Mommy kenapa diam saja? Ayo buruan" rengek Haowen tidak sabaran.

"Ba-baju..." kata Jongin pelan.

"Ah! Daddy tutup matamu. Mommy malu" perintah Haowen pada Sehun. Sehun hanya menurut saja karena dipelototi oleh Haowen. Haowen lalu berlari kesana kemari mengambilkan pakaian yang berserakan di lantai untuk Jongin.

"Aish ngapain juga kalian berdua tidur tidak pakai baju. Apakah AC nya rusak? Kalian kepanasan?" Haowen menyerahkan baju-baju itu pada Jongin membuat Sehun dan Jongin meringis mendengar omelan polos Haowen.

"Oh. Lihatlah ini. Mommy sampai digigit nyamuk" kata Haowen menunjuk kissmark di badan Sehun. Oh Haowen sayang itu bukan digigit nyamuk melainkan digigit Daddymu.

Jongin segera memakai bajunya yang kemarin-atasan piyama Sehun sebelum Haowen kembali menanyainya dengan pertanyaan yang macam-macam karena kondisi tubuhnya.

"Tidak pakai celana?" tanya Haowen.

"Celananya terlalu besar" kata Jongin sambil menarik turun piyama itu untuk menutupi pahanya.

"Akan aku suruhkan Nenek Lee mencari celana untuk Mommy. Daddy buka matamu Mommy sudah selesai" Sehun membuka matanya dan melihat Haowen yang sudah menarik Jongin ke arah pintu.

"Haowen mau menunjukkan Mommy ke semua orang" kata Haowen semangat.

"Haowen mandi dulu" perintah Sehun.

"Nanti" jawab Haowen singkat. Lalu meninggalkan kamar dengan Jongin yang masih diseret-seret. Menghembuskan nafasnya kasar Sehun kembali merebahkan badannya ke tempat tidur, benar-benar Haowen akan jadi keras kepala kalau sedang ingin. Tapi tetap saja Sehun tidak bisa menahan senyumnya melihat Haowen yang seperti itu.

Sehun melirik kesamping dan meraih pinselnya di meja nakas untuk menghubungi seseorang.

"Kau sudah cari infonya?" tanya Sehun.

"Ne sajangnim. Kim Jonghyun. 52 tahun. Dia memiliki hutang pada seorang pemilik klub tempatnya biasa berjudi. Sekaramg dia disekap oleh orang itu" kata seseorang di sebrang sana.

"Hmm. Siapkan uangnya. Aku akan menemuinya hari ini"

"Ne sajangnim" dan sambungan terputus. Sehun kembali merebahkan kepalanya di bantal empuk di belakangnya.

"Haowen tunggu dulu"


"Neneeeeek Leeeeee~~" protes Jongin tidak dihiraukan oleh Haowen. Dia malah memanggil seseorang dengan suara lantang. Hingga muncul lah wanita tua menghampiri mereka.

"Ya tuan muda?" wanita yang dipanggil nenek Lee itu mendekati mereka dan Jongin lihat dia terkejut melihat kondisi Jongin yang berantakan. Menggunakan baju Sehun, beberapa kissmark terlihat di lehernya, dan rambut nya acak-acakan. Tentu saja siapapun yang melihat akan berpikiran bahwa semalam mereka telah melakukan 'itu' kan.

"Nenek Lee apa yang kau lihat. Kau membuatnya takut" Haowen memarahi nenek Lee saat merasakan Mommynya meremas tangannya sambil menundukkan kepalanya. Dan lagi-lagi membuat nenek Lee kaget dan terheran-heran. Sejak kapan Haowen sepeduli ini pada orang asing.

"Maafkan saya nona. Jadi ada yang bisa saya bantu tuan muda?"

"Carikan baju untuk Mommyku" kata Haowen dengan penekanan di bagian -ku.

"Mommy?" mungkin Tuhan sedang ingin menguji kekuatan jantung nenek Lee. Karena kata-kata Haowen sukses membuatnya kaget. Lagi.

"Iya Mommyku. Mommy punya Haowen" Kata Haowen lumayan lantang membuat beberapa maid memandang kearah mereka tidak percaya.

"Ha! Kalian tidak percaya ya sama Haowen. Well, sayang sekali karena Haowen tidak bohong sekarang. Jadi kalian semua jangan genit-genit sama Daddy nanti Mommy akan memarahi kalian. Wleeeeek" Haowen menjulurkan lidahnya kearah para maid. Secara reflek Jongin melupakan rasa takutnya ketika dipandangi tadi. Dengan lembut dia menutup mulut Haowen dengan tangannya.

"Haowen tidak boleh seperti itu" kata Jongin lalu menarik tangannya membiarkan Haowen berbicara.

"Kenapa? Mereka memang suka genit pada Daddy" Haowen protes sambil memanyunkan bibirnya. Jongin menurunkan tubuhnya dan berlutut untuk mensejajarkan tubuhnya dengan tinggi Haowen.

"Tapi tetap saja itu tidak sopan Haowen" kata Jongin lembut.

"Apakah Mommy akan menyuruh Haowen minta maaf?"

"Tentu saja" mendengar jawaban Jongin Haowen makin merengut kesal. Dia cemburu. Cemburu pada maid-maid itu. Kenapa jadi mereka yang dibela Mommy.

"Kalau Haowen tidak mau?" tanya Haowen lagi. Jongin hanya diam tapi pandangan matanya meredup.

"Apa Mommy akan sedih?" Haowen memegang kedua pipi Jongin dan Jongin hanya mengangguk. Haowen menghela nafasnya kasar. Ish kalau bukan Mommy yang meminta.

"Hey kalian" panggil Haowen memutar kepalanya kearah para maid tubuhnya masih menghadap Jongin dengan tangan yang masih bertengger di pipi Jongin.

"Aku hanya melakukan ini karena Mommy yang meminta.." Haowen memutus kalimatnya untuk menarik nafas lalu melanjutkannya "..Haowenmintamaaf" dengan ceoat Haowen mengatakannya lalu memeluk Jingin dan menyembunyikan wajahnya dileher Jongin. Sungguh Haowen malu sekali sekarang.

Sementara Jongin hanya terkekeh pelan melihat Haowen. Haowen yang katanya tidak kalah dingin dari Sehun ternyata tsundere. Menggemaskan sekali.

"Mommy jangan tertawaa~" rengek Haowen.

"Maaf maaf"

"Udah ah ayo kita kekamar Haowen" Haowen melepas pelukannya membiarkan Jongin berdiri tapi langsung memeluk pinggang Jongin dan menyembunyikan wajahnya lagi. Masih malu ternyata. Dan mereka beranjak meninggalkan para maid dan nenek Lee yang sedang bengong.

Kenapa mereka bengong? tentu saja karena tingkah Oh Haowen, tuan muda mereka. Baru kali ini mereka melihat Haowen semanja itu pada seseorang. Dan sepatuh itu. Siapa sebenarnya wanita itu? kenapa dia bisa sehebat itu. Yang berhasil membuat Oh Haowen bertekuk lutut. Perasaan iri menyelimuti mereka. Pakai pelet apa wanita ini sampai-sampai bisa menarik seorang Oh Sehun ke ranjang batin mereka iri-Cih berbicara ngawur padahal Sehun dan Jongin tidak melakukan itu. Tunggu lah sampai dia bertemu nona Baekhyun batin mereka sebal.


Baekhyun memandang penampilannya di cermin sebelum mengambil tas dan ponselnya lalu keluar dari kamarnya. Dia sempat mendengar beberapa keributan tadi, tapi siapa peduli paling para maid-maid alay itu. Dia berjalan menuju tangga sambil memainkan ponselnya saat matanya menangkap Haowen yang sedang memeluk seorang wanita.

Dan apa-apaan penampilan wanita itu. Menjijikkan. Seperti wanita murahan saja.

"Haowen" panggil Baekhyun.

Senyuman Jongin langsung luntur saat mendengar suara seseorang memanggil Haowen. Siapa dia? atau mungkin Oh Baekhyun?

"Oh Baek noona" Haowen melepaskan pelukannya dari pinggang Jongin dan menarik tangan Jongin menuju Baekhyun.

"Siapa dia?" Baekhyun bertanya singkat saat Haowen dan wanita asing itu sudah berada di depannya. Ketidak sukaan terdengar jelas dari suaranya. Apalagi mata sipitnya yang memandang Jongin dari atas kebawah. Pandangan menilai.

"Mommy" balas Haowen singkat. Membuat alis Baekhyun mengernyit.

"Apa?! Jangan bercanda Haowen" Baekhyun menatap Jongin lagi. Kali ini dengan penuh kebencian.

"Sungguh noona dia Mommy"

"Bukan Haowen dia hanya pelacur!"

Deg.

Mendengar kata pelacur membuat hati Jongin serasa tertohok. Dan matanya memamanas menampung air mata yang mulai berkumpul.

"Pelacur? Apa itu?" Haowen bertanya dengan bingung.

"Kau ingin tau? Pelacur itu wanita murahan yang dengan tidak tau malunya menjual tubuh mereka untuk mendap-"

"Baekhyun" Suara Sehun menginterupsi kalimat Baekhyun.

"Jadi sekarang Daddy membawa pulang pelacur dan menidurinya dirumah? Tidak bisakah kau melakukannya dihotel? Atau tarif wanita ini terlaku mahal sampai Daddy tidak punya uang lagi untuk ke Hotel"

"Baekhyun jaga ucapanmu" geram Sehun tegas.

"Aku akan menjaga ucapanku kalau kau juga menjaga sikapmu Dad" Baekhyun mulai meninggikan suaranya karena amarah.

"Baek noona kau membuat Mommy menangis!" teriak Haowen pada Baekhyun.

"Berhentilah memanggilnya Mommy Haowen. Dia. Bukan. Mommymu! Dia hanya berpura-pura!" Baekhyun juga ikut berteriak saking kesalnya.

"Baekhyun!"

"Hah! lihatlah ini bahkan sekarang kau lebih membelanya. Apa dia sebegitu hebatnya diranjang sampai kau seperti ini" ucap Baekhyun sarkatis setengah berteriak.

"OH BAEKHYUN" bentak Sehun pada Baekhyun. Membuat Baekhyun tersentak. Daddy membentaknya? Apa kau bercanda? Apa Baekhyun bermimpi sekarang? Seumur-umur tidak pernah sekalipun Daddy membentaknya. Tapi sekarang hanya karena perempuan jalang ini Daddy membentaknya.

Amarah terkumpul di ubun-ubun Baekhyun dan menjelma menjadi air mata yang kini perlahan-lahan menetes dari matanya.

Demi Tuhan Oh Sehun apa yang kau lakukan! Kau membuat Baekhyun menangis.

"Ba-baekhyun.." Lidah Sehun kelu melihat air mata Baekhyun terus menetes.

"It is all my fault?" Tidak Baekhyun ini salah Daddy. Ingin rasanya Sehun menjawab tapi hatinya mencelos melihat Baekhyun terus menangis membuatnya membisu.

"Are you going to blame me?" Tidak baekhyun. Tidak.

"Is she more important than me?" Baekhyun bukan begitu. Daddy Mohon.

Brengsek katakan sesuatu Oh Sehun umpatnya pada dirinya sendiri.

"Are you hate me now?" Sehun tetap diam. Yang dianggap Baekhyun sebagai iya.

"Great. You can always replace me with the newer version. The trashier one.." Baekhyun mengalihkan pandangannya dari Sehun dan menatap Jongin yang juga menangis dengan tajam lalu melanjutkan "..like you did with mom" ucap Baekhyun final. Lalu melangkahkan kakinya untuk meinggalkan rumah. Dia muak. Dan terluka. Air matanya tak hentinya menetes.

"BAEK NOONA" teriak Haowen coba memanggil Baekhyun.

"SHUT THE FUCK UP HAOWEN" teriak Baekhyun balik lalu membanting keras pintu depan.

Haowen bergeming, dia sebenarnya tidak tau betul apa yang mereka ucapkan. Tapi dia tidak sebodoh itu untuk mengetahui bahwa sesuatu yang sangat buruk telah terjadi.

Pada akhirnya pagi yang seharusnya menjadi hari bahagianya sebagai hari pertamanya memiliki Mommy hanya menyisahkan luka pada pada hati mereka.

.

.

.

.

.

TBC


A/N:

Holaaa~ saya apdet karena besok mau uts jadi mungkin agak mogok dulu nulis chap selanjutnya.

anyway di chap ini saya ganti sama Jongin nggak jadi nganu. Karena setelah saya pikir-pikir Jongin's first time terlalu berharga kalau terlalui gitu aja. Ada yang kecewa sama keputusan saya? Maafkan T-T saya sendiri juga nggak nyangka kalau bakalan gini. haruskah saya ganti sumary nya?

Dan yang udah nungguin Haowen sama BBH gimana? saya kok ngerasa si cabe omongannya kurang pedes ya ke si jongin. Tapi ah sudahlah kasian nini kalo saya siksa terus :'3

Sekian curhatan saya. Ciao~