Kibum menelan air ludahnya sendiri dengan susah payah. Ia melihat dengan mata telanjang tubuh polos Kyuhyun yang begitu putih dan mulus bahkan ia menggendongnya di dalam genggamannya. Rasanya ia ingin melarikan tangan-tangannya menyentuh dan menjelajahi kulit menggoda itu di setiap jengkalnya. Merasakan kelembutannya dan menikmati sensasi kupu-kupu terbang di dalam perutnya yang menyenangkan.
"Senang dengan apa yang kau lihat sekarang, tuan rumah Kim?"
Deg.
.
.
.
.
.
.
.
.
Rasa panas perlahan menjalar ke seluruh tubuhnya, memusatkan pada wajahnya sehingga menjadi gurat kemerahan. Ia seperti terjebak di dalam hujan yang tiba-tiba turun di tengah terik matahari. Hujan mendung yang menyejukkan. Duduk menunggu hujan reda di sebuah tempat yang hangat dan nyaman bersama segelas kopi panas yang memantulkan wajah rileksnya di atas permukaan.
Perasaan yang menyenangkan. Namun, dalam kondisi yang memalukan.
Kyuhyun tak melarikan tatapannya dari Kibum. Menikmati ekspresi yang berusaha Kibum sembunyikan di wajah kerennya. Meskipun demikian, Kyuhyun juga mengalami rasa malu luar biasa yang tak terperikan. Dirinya dalam keadaan polos tanpa sehelai benangpun, tertidur dalam rendaman air hangat yang membuai tubuhnya, dan tiba-tiba terbangun dalam gendongan seorang lelaki yang membuatnya frustrasi sepanjang hari ini.
Kyuhyun melarikan jemari panjangnya menyentuh dada bidang Kibum hingga merayap ke atas. Menggapai wajahnya dan menangkupkan telapak tangannya yang begitu halus pada rahang kokoh Kibum. Hingga Kibum terbuai dan memejamkan matanya. Mencari kehangatan dari tangan Kyuhyun yang lembut meski di ujung jarinya terasa dingin.
"I Love You." Tiga kata terlontar dari bibir manis Kyuhyun. Seketika Kibum terbangun dari mimpi semunya. Menatap Kyuhyun kian dalam seperti ingin merobek semuanya yang ada pada Kyuhyun.
"A-apa?" Tak percaya, tentu saja. Kibum pikir ia pasti salah dengar. Maka dari itu ia perlu memastikan. Keadaan masih normal, mungkin pendengarannya yang tidak normal. Ia mendengar seseorang di dalam gendongannya berkata bahwa ia mencintai dirinya. Seseorang yang tak dijumpainya selama tujuh tahun. Namun, dalam kurun waktu belum satu hari banyak hal yang terjadi. Banyak cerita yang ia dengar, banyak yang ia ketahui tentangnya. Tetapi, bicara tentang cinta atau mencoba menerima cinta baru adalah sesuatu hal yang cukup sulit di tengah suasana hatinya yang masih tak menentu. Ia baru saja di buang oleh orang yang ia cintai. Ia tak mengharapkan bahwa ia akan di cintai oleh orang yang berbeda secepat ini. Ia masih ingin menata hatinya dan hidupnya. Seperti kata Kyuhyun, ia butuh pengalaman lebih banyak lagi mengenai pasangan.
"Aku sedang merayumu. Tapi ternyata aku tak berhasil. Kau menolakku. Itu sudah tergambar jelas di wajahmu. Sekarang turunkan aku. Aku tak ingin menenangkan milikku yang menegang hanya karena melihat dirimu yang sexy. Tidak lucu sama sekali. Aku akan sangat malu untuk menerima diriku yang selemah itu. Seolah-olah aku tergila-gila padamu. Tidak. Aku tak bisa. Kita butuh memperoleh kesepakatan terlebih dahulu." Kibum perlahan menurunkan tubuh polos Kyuhyun dari gendongannya masih dengan ekspresi tak percaya. Tatapannya mengikuti kemana arah perginya Kyuhyun hingga menghilang di balik pintu kamar mandinya.
Kyuhyun masihlah pria yang menjunjung harga diri lelakinya meski ia hampir terjebak dalam nafsunya sendiri yang begitu menginginkan Kibum di bawah kendalinya atau dia yang terkendali olehnya. Ia bisa saja merayu Kibum dengan menciumnya saat itu juga seperti tak ada hari esok. Namun, mengingat mereka adalah teman, ia tak ingin Kibum tersakiti oleh satu pihak yang menurut Kyuhyun sendiri adalah sebuah ketertarikan sesaat. Karena ia masihlah manusia yang berperasaan.
Kibum memandang kosong pintu yang tertutup. Kini ia bertarung dengan batinnya sendiri. Perasaan bersalah, tertarik dan tak ingin Kyuhyun pergi begitu saja menjadi isi dilemanya kali ini. Satu pertanyaan berputar-putar di dalam benaknya. "Apa di mata Kyuhyun, aku terlihat sedang menolaknya?"
.
.
.
.
.
.
.
.
Malam cepat sekali ingin menjemput pagi. Si kecil Yesung sudah di jemput pulang oleh ayahnya. Di dalam kamar Kibum, di atas ranjang besar dan empuk seharusnya terasa nyaman digunakan oleh pemakainya. Namun, punggung bertemu punggung yang menjauh di masing-masing sisi terasa dingin dan hening. Mereka mencoba memejamkan mata satu sama lain berusaha tak memedulikan masalah yang telah terjadi di antara mereka. Kenyataannya, mereka sangat ingin mengembalikan keadaan kembali ke semula secepatnya.
Kyuhyun membalikkan tubuhnya sehingga menghadap Kibum. Ia hanya ingin memandang punggung Kibum meski ia belum memikirkan apa yang akan ia katakan padanya nanti. Namun, Kibum rupanya melakukan hal yang sama dengan apa yang Kyuhyun lakukan. Alhasil keduanya sama-sama terkejut dan bingung akan mengatakan apa.
Di antara kebingungan dan kecanggungan yang terjadi, akhirnya Kyuhyun menarik sedikit sudut bibirnya membentuk senyum kecil. Melihat respon Kyuhyun yang baik, membuka jalan Kibum untuk memberanikan dirinya.
"Kau belum tidur?"
"Ya." Jawab singkat Kyuhyun.
"Apa kau masih takut gelap?" Kibum tiba-tiba teringat oleh temannya yang tak bisa tidur jika dalam keadaan gelap. Kyuhyun tak menyukai kegelapan. Ia bilang pada Kibum bahwa ia seperti di awasi oleh sesuatu sehingga ia tak bisa tidur dengan baik jika dalam keadaan gelap.
"Ya." Lagi-lagi Kyuhyun menjawabnya dengan singkat. Namun, Kibum tetap tersenyum.
"Ternyata ada bagian yang tak berubah pada dirimu." Kibum memberanikan diri untuk menaikkan selimut Kyuhyun hingga sebatas pundaknya.
"Kau juga masih sama. Kau begitu perhatian. Tapi kau begitu tak peduli pada sesuatu yang tak kau sukai." Kyuhyun berhasil menemukan Kibum yang sama setelah menghabiskan waktu bersamanya lagi.
"Benarkah? Kurasa aku telah mengubah sudut pandangku." Kibum sedang membela dirinya bahwa ia yang sekarang telah melalui banyak pengalaman. Ia tak lagi persisten seperti dirinya ditujuh tahun ke belakang.
Kyuhyun mengeleng. Ia menatap Kibum dengan sorot jenaka.
"Kau sedang melupakan tetanggamu, Jessica. Aku sedang berbicara tentangnya dan pengaruhnya padamu. Kau masihlah Kibum yang sama." Kibum yang sedang membelai rambut halus Kyuhyun seketika menghentikan gerakannya.
"Berhentilah membicarakan yang bukan menjadi urusanmu. Setidaknya aku masih bersikap ramah padanya." Kibum menarik tangannya, tetapi Kyuhyun cepat menahannya dan membawanya kembali untuk membelai kepalanya.
"Jangan berhenti. Lama-lama aku menyukainya." Kibum lagi-lagi tersenyum. Ia menuruti apa yang Kyuhyun inginkan.
"Baiklah. Sekarang ayo tidur. Besok pagi giliranmu memasak." Mendengar perkataan Kibum barusan, Kyuhyun yang sudah memejamkan mata akibat belaian Kibum di kepalanya, seketika membuka matanya kembali. Ia menatap Kibum dengan pouting di bibirnya dan muka memelas yang sangat imut melebihi apapun.
Kibum yang tak tahan melihat pemandangan live yang membangkitkan birahinya, seketika langsung melumat bibir Kyuhyun saat itu juga.
Tanpa sepatah kata.
Penyatuan kedua bibir yang berkali-kali di gagalkan oleh banyak hal, kini telah menyatu dalam sebuah ciuman yang manis.
Lantas apa yang akan terjadi nanti?
Kesepakatan belum di buat. Kibum belum menginginkan sebuah hubungan yang serius walaupun ia mengatakan pada Yesung bahwa Kyuhyun akan segera menjadi kekasihnya. Apakah Kibum sedang bermain-main saat mengatakannya? Toh ia berjanji pada anak kecil. Apa yang akan terjadi pada Kyuhyun?
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
End. Ups... TBC ya...
