Chapter 3 - Endeavors
-----------------------------
-
-
-
Sinar matahari yang hangat membangunkan Harry melalui jendela yang ada di kamar yang tak seberapa luas itu. Harry mengucek-ucek mata, hanya memastikan apakah apa yang dijalaninya semalam benar ataukah mimpi semata.
"Ah, kau sudah bangun rupanya. Tidurmu nyenyak?" tanya seorang gadis berambut panjang kemerahan yang duduk di samping tempat tidur Harry.
"Yah, begitulah..." jawab Harry sekenanya.
"Baguslah. Seharusnya sebentar lagi Nerine akan membawakan makanan..." jawab sang gadis sambil membantu Harry duduk tegak, "Kau harus beristirahat dan olahraga ringan dulu sekitar 3-4 hari sebelum cukup fit untuk dilatih oleh Ayah. Oh ya, kita belum berkenalan... namaku Ashanael Lishianthia, tapi biasanya orang-orang di sini memanggilku Shia."
"Er... namaku Harry Potter... kalau kau belum kenal," ujar Harry sambil memandang Shia cukup lekat.
"Hahaha, tentu saja aku mengenal nama legendaris itu. Aku hanya belum mengetahui orangnya," balas Shia sambil tertawa kecil, "Aku tidak terlalu mengira orangnya akan..."
Tiba-tiba pintu dibuka, memotong percakapan Shia dan Harry. Dua gadis, satunya berambut biru laut dan satunya putih-perak, masuk ke dalam ruangan itu. Harry mengenali sang gadis berambut putih-perak sebagai orang yang pertama kali ia lihat begitu sadar di tempat ini.
"Makan pagi sudah siap" ujar sang gadis berambut biru laut, membawa senampan penuh makanan, "Ara, saya kira Harry masih belum sadar..."
"Neri Aku sudah lapar menunggumu... Ayah masak apa?" potong Shia sambil menghirup dalam aroma sedap yang menyebar dalam ruangan.
"Um... bubur seledri dan telur, potongan-potongan sosis dan ayam yang digoreng... dan roti resep dari bibi Amarael. Ternyata benar, roti nya enak sekali" jawab sang gadis berambut biru sambil tersenyum, sementara sang gadis berambut perak mengangkat meja pojok yang berukuran sedang untuk menampung peralatan makan dan hidangan.
Sebentar mereka menyiapkan tempat makan, sebelum akhirnya mengajak Harry makan. Harry, dengan perut yang kosong sejak entah kapan, menerima ajakan itu dengan senang hati.
"Ah, aku hampir lupa memperkenalkan diri," ujar gadis berambut biru itu selesai menyiapkan tempat, "namaku Nerine Charea. Aku adalah putri dari raja bangsa Abyssal, Forbesia Nalthantius. Senang bertemu denganmu, Harry Potter."
"Ah, ya... er, kukira senang bertemu denganmu juga... er, Nerine," Jawab harry sambil mengambil makanan. Sementara itu, sang gadis berambut perak diam membisu sambil menikmati hidangan.
"Dan ini, er... Primula N'evalaira. Dia memang pendiam, namun kau baru akan mengetahui kekuatan utuhnya saat ia mengangkat pedang," ujar Shia sambil menyikut-nyikut sang gadis berambut perak.
"Senang bertemu," tambah Primula pendek. Harry hanya bisa tertawa salah tingkah.
Beberapa saat, hanya suara mangkuk dan sendok yang beradu saja yang mengisi kesunyian kamar Harry. Seakan ada sesuatu yang ditahan diantara mereka berempat.
"Er... jadi, sekolah semacam apa Verbena ini?" tanya Harry memecah kesunyian.
"Hm... sebenarnya tidak terlalu jauh dengan sekolah sihir biasa," jawab Nerine sambil mengambilkan tambahan bubur untuk Shia, "walaupun kurikulumnya agak berbeda. Di sini, satu periode ajaran bisa mencapai 4-5 tahun."
"Lama sekali," balas Harry secara refleks, "Dalam jangka waktu itu, rata-rata murid Hogwarts sudah bisa lulus dari sekolah."
"... dengan bayaran kompetensi," potong Primula pendek dan tanpa ekspresi.
"Tapi kami masih meluluskan penyihir-penyihir berkualitas setiap tahun!" sergah Harry.
"Hanya untuk menjadi korban satu-persatu. Kami tahu apa yang diperbuat Grayback dkk. beberapa waktu lalu," balas Primula tajam sambil meletakkan mangkoknya di meja.
"Tapi itu serangan mendadak! Kami tidak siap!" seru Harry sambil berdiri. Nerine dan Shia hanya bisa mendiamkan mereka dengan khawatir.
"Baik... akan kubuktikan padamu seberapa jauh ketidak-kompetenan lulusan sekolah sihir konvensional... bila itu maumu," balas Primula sambil berdiri, "ambil tongkatmu di laci sebelah tempat tidur. Kutunggu kau di bawah."
"Baik!" Ujar Harry sambil mengambil tongkatnya. Nerine hanya bisa memandang Shia dengan khawatir, sementara Shia hanya tersenyum simpul.
-
-
---
-
-
Sejenak kemudian, mereka berdua sudah berdiri berhadapan di lapangan yang ada di sekitar bangunan kastil kecil Verbena. Harry menggenggam tongkatnya dengan marah, sedangkan Primula dengan tenang memegang sebuah bola metal mengkilap di tangan kanannya.
"Titanium aluminat, sebelas inci, jantung golem... aku mempunyai senjata yang lebih kuat, namun untukmu... aku kira senjata latihan ini cukup," kata Primula tanpa ekspresi. Bola metal di tangan Primula kemudian menggeliat dan memanjang seolah mendengar perintah dari tuannya, membentuk tongkat mengkilat yang kemudian tergenggam erat memeluk tangannya.
"Jangan meremehkanku! Incendio!" teriak Harry sambil mengacungkan tongkatnya ke arah Primula, larik sinar merah membara keluar dari ujungnya.
"Kembang api..." desis Primula datar, "Biar kutunjukkan api yang sebenarnya. Hell Crush."
Serentak, dari depan tubuh Primula timbul bintang heksagram api yang menahan mantera Incendio milik Harry. Sedetik setelah itu, dari tengah bintang itu meluncur selarik api seukuran mobil sedan ke arah Harry.
"Protego!" teriak Harry untuk mengimbangi mantera menyerang milik Primula. Alih-alih melindunginya, perisai putih milik Harry langsung pecah diterjang ledakan larik sinar api di depannya. Harry terdesak lima langkah ke belakang.
"Sudah mengerti seberapa jauh beda kekuatan antara kau dan kami?" tanya Primula sambil mengibaskan tongkatnya ke samping, "kau harus bersyukur, kekuatan mantra tadi bahkan belum sepadan dengan sepuluh persen kekuatan aslinya. Bila aku menggunakan senjataku yang asli, kau sudah jadi abu oleh serangan tadi."
"Tidak! Aku tidak terima! SECTUMSEMPRAAAAAA!" teriak Harry, marah karena harga dirinya terluka. Tongkatnya mengibas liar, bak pedang yang disabetkan ke lawan.
"Hmh. Mantra Pisau-Angin tingkat rendah..." geram Primula datar.
Primula bahkan tidak tergores sedikitpun saat ia terhantam oleh salah satu mantra ciptaan Snape itu. Dengan tenang ia 'menggambar' bentuk bintang segilima di udara depannya dengan tongkat.
"Dengan ini kuselesaikan... CANNON BUSTER!"
Harry bahkan tak sempat mengelak. Tubuhnya tertekan keras oleh sinar putih yang menyerbu dari bintang segilima itu, bak dilabrak kereta api yang melaju kencang. Segera kesadaran Harry hilang, diikuti terpentalnya tubuhnya ke arah belakang.
-
-
---
-
-
"Ehrrrrhhh..." geram Harry pelan sambil berusaha bangkit dari berbaringnya.
"Sabar, Harry. Tubuhmu masih terluka cukup parah karena serangan mantra Cannon Buster milik Primula," ujar Forbesia sambil menenangkan Harry, "Kau baru saja kami keluarkan dari tangki bacta."
"Berapa... lama aku pingsan...?" tanya Harry lemah. Tubuhnya serasa dipotong-potong.
"Beberapa menit lewat lima belas jam... nampaknya tubuhmu tidak kuat menerima kekuatan mantera itu," jawab Forbesia sambil menyelimuti Harry. Harry hanya diam membisu dalam kekesalan.
"Aku mengerti perasaanmu," ujar Forbesia sambil menepuk lembut bahu Harry.
"Aku... belum pernah merasa selemah ini," desah Harry pelan, "membuatku merasa apa yang selama ini kulakukan sia-sia..."
"Bagus, kalau kau sudah menyadari perbedaan kekuatan diantara kalian. Sekarang kau punya gambaran seberapa kuatnya Voldemort, kan?" tambah Forbesia sambil tersenyum, "Primula mungkin bisa menahan imbang Voldemort yang sekarang seorang diri, namun ia tak akan dapat mengalahkannya, sementara Voldemort akan bertambah kuat."
"Apa aku bisa... mengejar kekuatan Voldemort tepat waktu?" tanya Harry dengan raut bingung.
"Dengan cara kami, tentu bisa," jawab Forbesia lembut sambil tetap tersenyum.
-
-
---
-
-
"Selamat siang, tuanku," ujar seorang wanita muda yang tampaknya adalah seorang sekretaris, menyambut seorang yang dibalut jubah hitam yang baru saja memasuki ruangan yang mirip kantor itu.
"Hmm. Bagaimana laporan persiapan dari Mos Eisley dan Eshtar?" tanya sang tuan sambil menggantung jubahnya lalu duduk di kursi yang tampak diperuntukkan untuknya.
"Ah... laporan dari Mos Eisley baru saja masuk pagi ini... mereka telah memproduksi sekitar 200 mobile suit baru dalam bulan ini, menambah kekuatan pasukan kita menjadi 2500 unit mobile suit. Kebanyakan tipe Lion, tapi mereka juga memproduksi tipe Grandgust dan Hyukevain. Tentang Eshtar... well, mereka baru selesai membangun kubah luar, dan sekarang sedang mengetes kekuatannya... selain itu juga mereka sedang menyelesaikan pembangunan dok, catapult peluncur mobile suit, dan fasilitas tempur lainnya," lapor sang sekretaris panjang-lebar sambil sesekali memeriksa selintas setumpuk kertas di tangannya.
"Hmm... cukup baik... bagaimana dengan fasilitas kloning yang ada di Eshtar? Ada laporan?" balas sang tuan sambil menyandarkan tangan ke dudukan kursi.
"Izinkan saya yang melaporkannya," ujar sebuah suara tanpa ekspresi dari udara kosong. Sang tuan hanya tersenyum penuh arti sebelum mempersilahkan sang ajudan keluar.
"Rei Ayanami, datang melapor," kata seorang gadis berkulit pucat yang muncul segera setelah pintu ruangan ditutup.
"Sudah saatnya..." balas sang tuan, sebelum ia jatuh dan seolah tenggelam ke dalam kursinya, tampak sangat letih.
"Tuanku... sebelum itu..." ujar Rei, keraguan sedikit tercermin dalam nada datar suaranya.
"Aku... tak apa-apa, Rei. Hanya sedikit kelelahan," ujar sang tuan, berusaha memperbaiki posturnya.
"Tapi... anda telah bekerja selama 72 jam nonstop bersama kami di Eshtar, dan saya asumsikan anda belum beristirahat sejak anda pergi meninjau Gyr Dolour, tepat 28 jam yang lalu. Tubuh anda berada dalam kondisi yang amat buruk, dan saya... sebagai seorang praktisi medis... tidak boleh membiarkan hal itu terjadi," balas Rei, sambil menunjuk sebuah sofa yang ada dalam ruangan itu, "Paling tidak anda bisa menerima laporan saya sambil berbaring."
"Hmh... sekuat apapun aku sebagai penyihir, alam tetap tak kehabisan cara memaksaku tunduk," geram sang tuan, tersenyum masam pada Rei sembari berbaring di sofa tersebut.
"Lebih baik. Karena kerja keras anda, produksi Hor-clone kami maju pesat melewati jadwal. Sebanyak 24 sekarang sedang diprogram dengan MAGUS, dan sebanyak 75 blastula sedang menunggu pengembangan lebih lanjut. Selagi kita berbicara, seharusnya sekitar separuh sudah mencapai umur pemrograman," lapor Rei.
"Hmm. Sudah menemukan yang kuat diantara mereka?" tanya sang tuan sambil menyihir segelas air dan meminumnya.
"Sudah. Klon dengan kode W-00, W-13, W-15, W-16, W-17, W-20, dan W-23 sekarang sedang dilatih secara khusus oleh MAGUS. Kami menamakan mereka masing-masing 'Gabriel', 'Sephiroth', 'Odin', 'Echidna', 'Lamia', 'Ravan', dan 'Tabriz'," lanjut Rei, tetap berdiri dengan sikap sempurna.
"Bagus, semua sesuai ramalanku... 7 klon, 7 elemen... cahaya, kegelapan, api, air, angin, bumi, dan kekosongan... lanjutkan," ujar sang tuan sambil menyelesaikan gelas keduanya.
"Selain itu, pembangunan unit-unit Evangelion di Eshtar sedang terus berlangsung. Perisai metal yang dimanufaktur Mos Eisley juga sudah sampai. Kami sedang menyusun 7 unit pertama yang akan kami berikan pada ketujuh 'Angels', dan produksi unit sisanya sedang berlangsung pula. pembuatan battleship kelas-Merlin yang anda perintahkan pun sedang berlangsung, dengan prototipe pertama, Shirogane, diharapkan selesai dalam seminggu ini," balas Rei, tetap pada nada tanpa-emosinya.
"Bagus. Cukup untuk hari ini, Rei. Kau boleh langsung kembali ke instalasi atau..." ujar sang tuan menutup laporan Rei.
"Saya akan tinggal sementara di sini. Pekerjaan di sana sudah ditangani oleh Dr. Ikari dan nona Langley. Saya mempercayai mereka," potong Rei sambil membuka pintu, namun tidak keluar hingga ia mengatakan, "Selain itu... saya juga harus memastikan anda beristirahat cukup kali ini... tuanku Lord Voldemort."
