.
Peringatan: Bagi mereka yang merasa kurang nyaman membaca cerita yang mengandung
ungkapan atau kata-kata kasar dan perilaku tidak terpuji lainnya
kalian bisa memencet tombol kembali sekarang juga.
.
.
.
GETTING BY
"Because you are my people."
.
.
Aku sedang menaiki anak tangga ketika Sasori turun terburu-buru hingga menyenggol bahuku. Rasanya sakit karena bahunya terasa sangat keras. Ia hanya menggumam 'maaf' dan berlalu turun ke bawah. Tentu saja masih dengan ponsel di tangan kirinya. Sudah beberapa hari ini ia sibuk dengan ponselnya dan tak menggangguku. Ia tampak seperti sedang dikejar-kejar oleh sesuatu. Aku memutuskan untuk mengacuhkannya dan kembali berjalan ke atas.
Aku melihat pintu biru yang selalu menyambutku itu. Kali ini ada yang berbeda. Pintu biru yang selalu menyambutku ketika tiba di lantai dua itu nampak sedikit terbuka. Sepertinya pemiliknya terlalu terburu-buru sehingga lupa untuk menutup pintunya dengan benar. Aku berusaha mengacuhkannya tapi rasa penasaranku lebih besar. Aku berjalan ke arah pintu tersebut lalu membukanya lebar. Perlahan aku memasuki kamar miliknya.
Aku tak pernah kemari lagi semenjak Sasori mulai masuk SMP karena ia selalu menutup pintu kamarnya rapat-rapat. Bahkan tak jarang, ia mengunci kamarnya seolah-olah di dalamnya terdapat harta yang paling berharga untuknya. Tapi sekarang, pemandangan yang ku tangkap hanyalah ruangan penuh dengan nuansa monokrom yang didominasi oleh warna putih. Bahkan aku tak menemukan banyak barang pribadi, terkecuali beberapa tumpukan map dan sebuah frame yang diletakan terbalik. Ruangan ini terasa asing dan bukan seperti kamar pribadi.
Aku berjalan semakin masuk ke dalam kamarnya. Berjalan ke arah meja dimana tumpukan map dan frame itu berada. Aku meraih salah satu mapnya dan membacanya. Tak banyak yang aku mengerti karena bentuknya lebih seperti jadwal estimasi waktu dan beberapa list barang-barang asing yang tak pernah aku tahu sebelumnya itu apa dan untuk apa. Aku meletakan kembali map tersebut dan beralih pada sebuah frame yang letaknya terbalik itu.
Itu foto keluarga kami. Foto itu diambil ketika Sasori masih berada di bangku sekolah dasar dan aku baru masuk taman kanak-kanak. Ibu masih terlihat sangat muda di dalam foto tersebut. Tapi, tunggu dulu... ada yang aneh dari foto ini. Fotonya terlihat tidak utuh. AKu bisa melihat bekas robekan di sebelah kiri tepat dimana ayahku harusnya berada di situ. 'Apa ini? Bukannya dia hanya diam saja ketika tahu kebusukan ayahku? Tapi, kenapa dia merobek foto ayah,' pikirku.
Aku meletakan kembali frame tersebut dengan posisi yang sama tak ingin tertangkap kalau aku masuk ke dalam kamarnya. Aku berjalan ke luar kamar sebelum dibuat terkejut dengan pemandangan tak biasa lainnya. AKu berjalan ke ruangan kecil yang digunakan sebagai ruang penyimpanan pakaian dan barang-barang lainnya tersebut. Aku meraih saklar lampu lainnya untuk menyalakan seluruh lampu yang ada di dalam lemari tersebut.
Cahaya lampu membuat ruangan tersebut terlihat jelas. Sebuah selimut dan beberapa bantal diletakan di tengah-tengah ruangan tersebut. Aku melihat kertas-kertas berserakan di dekatnya lengkap dengan perlengkapan menggambar. Beberapa dari mereka terlihat seperti cetak biru. Ruangan penyimpanan yang hanya berukuran kecil ini lebih terlihat seperti kamar pribadi dan juga merangkap sebagai ruang kerja daripada ruangan utama dimana kasur tadi berada.
Aku berjalan mundur ke belakang keluar dari ruangan tersebut. Mematikan kembali lampu lemarinya. Berjalan cepat keluar kamarnya. Menutup pintunya dengan terburu-buru. Tak peduli oleh suara bantingan pintu yang cukup keras di belakangku. Aku mempercepat langkahku ke dalam kamarku dan menutup pintunya rapat-rapat. Jantungku berdebar keras. Kakiku terasa lemas rasanya sulit sekali untuk tetap berdiri. Detik itu juga aku menyadari sesuatu. Ada banyak hal yang tidak aku ketahui tentang Sasori. Aku merasa seperti orang asing yang sedang tersesat.
.
.
.
.
Saat-saat yang paling tidak aku suka adalah weekend. Tentu saja karena saat itu aku harus berkumpul dan menyantap makan siangku dengan canggung dengan keluargaku. Aura ketegangan dan canggung tentu saja langsung terasa karena ayah dan ibuku seringkali terlihat seolah-olah sedang sibuk melakukan sesuatu sambil menyantap makan siangnya. Entah sambil membaca koran atau majalah, bahkan mengecek ponsel mereka, dan lebih parahnya bahkan berpura-pura menerima telepon. Mereka berdua selalu terlihat seperti sedang berusaha menghindar untuk saling berbicara satu sama lain.
Aku menyantap makan siangku. Indra perasaku tidak bisa fokus seluruhnya karena otakku fokus pada hal lainnya. Sekali-kali aku mencuri pandang ke arah Sasori, penasaran dengan apa yang ia lakukan dengan ponselnya itu. Aku benci mengakuinya, tapi akhir-akhir ini aku mulai memperhatikannya. Pikiranku sibuk memutar memori masa lalu tentang kapan aku bisa menjadi sangat jauh dengannya. Dan kenapa aku tidak sadar kalau dia seolah-olah mengasingkan dirinya itu. Dan juga dengan ucapannya beberapa minggu lalu kalau ia bisa saja bunuh diri jika terus berada di sini.
Aku sedang berusaha menelan makananku ketika pandangan kami bertemu. Aku benar-benar kaget dan tak bisa menelan makananku dengan benar. Refleks, langsung saja aku terbatuk-batuk ketika menyadari kalau aku tersedak. Sebelah tanganku menepuk-nepuk dadaku. Sementara sebelah tanganku yang lainnya sibuk menggapai gelas air minumku. Aku menarik nafasku dalam-dalam ketika aku sudah tidak tersedak lagi.
"Kunyah makananmu dengan benar! Kau bukan anak kecil lagi, Sakura!" Ujar ayahku cukup keras. Ia kembali menatap korannya. Sementara ibuku hanya diam dan menuangkan air minum ke dalam gelasku.
Aku kini melirik ke arah Sasori yang sudah duduk kembali di sebrang meja sana. Aku bisa melihat dengan jelas ketika aku tersedak tadi ia membantuku menggapai gelas minumanku. Ia kini duduk diam. Menatapku dengan pandangan heran. Tidak lama, hanya beberapa detik sebelum ia kembali menyantap makan siangnya. Ini benar-benar memalukan karena aku tertangkap basah sedang memperhatikannya.
Tak ingin berlama-lama di sana, aku menyudahi makan siangku dan pamit kembali ke kamarku. Aku mengunci diriku di dalam kamarku. Insiden di meja makan tadi benar-benar seperti menjatuhkan harga diriku. Aku membanting tubuhku ke atas kasur meraih bantal dan menutup kepalaku. Aku harap Sasori tidak akan mengajukan pertanyaan canggung seperti kenapa aku memperhatikan dirinya saat makan siang tadi.
.
.
GETTING BY
.
.
Sekolah terasa seperti neraka kecil ketika sedang mendekati ujian. Terlebih jika ini tahun terakhirmu. Semuanya berlomba-lomba untuk berangkat lebih awal semata-mata demi belajar dengan suasana sekolah yang masih sepi, tapi tidak denganku. Aku kini duduk di atas atap gedung olahraga. Menikmati angin musim semi dan merokok. Sedikit mengakui kalau aku mungkin lebih terlihat seperti gangster daripada anak sekolahan.
"Kau akan mencemari udara pagi," ujar seseorang di belakang sana dengan nada yang mengejek. Suaranya tidak asing. Aku bisa menebak itu si pantat ayam. Walaupun aku tidak terganggu lagi dengan ucapan kasar dan ejekannya itu. Kehadirannya terkadang membuatku merasa tak nyaman.
"Seharusnya kau berlatih soal matematika, bukannya malah bersantai di sini." Ia merebut rokokku dengan paksa dan mematikannya.
"Bisakah kau sekali saja tidak menggangguku saat merokok?" Ujarku sinis. "Ngomong-ngomong, soal buatanmu itu... wah... aku bahkan tak bisa berkata apa-apa lagi. Kenapa setiap hari soalnya semakin sulit? Kepalaku terasa sangat sakit ketika sudah menjawab semuanya. Jangan berikan soal itu lagi padaku!" Keluhku kesal.
"Baiklah," jawabnya enteng.
"Kali ini bukan omong kosong lagi kan?" Tanyaku memastikan ucapannya itu.
"Uchiha tidak pernah berkata omong kosong." Jawabnya seraya pergi meninggalkanku di atap sendirian.
.
Omongannya tadi pagi memang tidak ada yang salah. Terbukti ia tidak memberiku soal matematika. Tapi kali ini, ia datang dengan beberapa soal bahasa Inggris lainnya. Lebih banyak dari pr yang ia berikan beberapa waktu yang lalu. Lembaran soalnya lumayan tebal. Jika ada perkelahian atau kerusuhan saat ini juga, ku rasa lembaran soal ini bisa dijadikan sebagai senjata yang ampuh.
Aku melirik Sasuke dengan wajah sebal dan dongkol. Aku tak bisa protes atau memarahinya karena kami sekarang belajar di perpustakaan umum. Ia tampak tenang duduk di sebelahku. Tidak, ia tidak belajar. Melainkan duduk tenang membaca komiknya itu. Sesekali wajahnya terlihat menahan tawa. Melihatnya membuatku kesal. Ku kira dia akan ikut belajar juga karena kami pergi ke perpustakaan.
"Di sini tempat untuk belajar bukan untuk membaca komik." Bisikku yang hanya dibalas dengan tatapan malasnya. Ia kembali melanjutkan membaca komiknya. Gemas. AKu pun refleks mendekatkan diriku dan kembali membisikan ucapanku pada telinganya, "pulang saja sana kalau kau hanya ingin baca komik!"
"Apa kau selalu cerewet seperti ini ketika dengan Naruto?" Ocehnya. Ia menurunkan komiknya dan menutupnya.
"Naruto lebih sering menceritakan tentang dirinya. Komunikasi kami lebih seperti satu arah dibandingkan dua arah karena ia lebih cerewet dariku. Ah satu lagi! Naruto tak pernah memberikanku pertanyaan yang sangat sulit seperti dirimu. Itu sebabnya aku lebih banyak diam ketika berada di dekatnya." Sindirku.
"Kerjakan saja soalnya dan jangan banyak protes." Sasuke menyenggol lenganku agak keras membuat diriku sedikit terhuyung ke samping. Ia hanya memasang seringai di wajahnya itu. .
.
.
.
Aku sedang duduk di meja makan menikmati kudapan tengah malamku dan juga sebuah novel ketika Sasori tiba di rumah. Penampilannya terlihat kacau. Aku mencium bau rokok dan bau-bau lainnya. Aku rasa itu alkohol. Sepertinya ia habis pergi ke club malam. Ia berjalan ke arah dapur mengambil segelas air dan duduk di depanku. Wajahnya terlihat lesu tidak seperti biasanya.
"Kau... kenapa?" Aku mengangkat novelku lebih tinggi hingga menutupi mataku. Aku tak ingin dia melihat ekspresi wajahku.
"Complicated (rumit)," jawabnya.
Jawabannya tak banyak menjawab pertanyaanku. Rasa penasaran ini membunuhku. Sementara di sisi lain, harga diriku menolak untuk membuka suara menanyakan apa yang sedang terjadi padanya.
"Aku bertemu teman SMA dan juga teman kuliahku dahulu," ujarnya pelan. "My ex girlfriend was also there (Mantan pacarku juga ada di sana)." Aku bisa mendengar nafasnya keras. "Mereka mempermalukanku lagi di depan banyak orang setelah sekian lama."
Rasa penasaranku semakin diujung batas, aku ingin membanjirinya dengan banyak pertanyaan.
"Jangan turunkan novelmu. Aku tahu kau tak membacanya sedari tadi, tapi tolong jangan turunkan novelmu itu." Aku hanya diam tetap dengan posisi itu seperti apa yang disuruhnya dan mendengarkan ucapannya.
"Salah satu alasan kenapa aku ingin pindah keluar negeri sebenarnya bukan karena aku ingin berkuliah di kampus terbaik atau mendapatkan pengalaman belajar di luar negeri, tapi itu karena aku selama ini aku selalu di-bully."
'Dia? Di-bully? Yang benar saja?' Batinku.
"Aku pernah berpacaran dengan gadis itu sejak SMP akhir hingga kelulusan SMA. Selama berpacaran kami tak pernah melakukan apapun yang berlebihan. Berciuman pun masih bisa dihitung," ujarnya pelan.
"Kau mau sedang curhat atau pamer sih?" Celetukku begitu saja.
"Dengarkan saja ceritaku, aku tidak memintamu mengomentarinya." Jawabnya ketus. Ia kembali bercerita. "Justru itulah pokok masalahnya. Tiap kali aku berciuman dengannya aku selalu merasa jijik dengan diriku setelahnya. Aku sangat menyayanginya, jadi selama itu aku selalu menutup-nutupinya sampai saat malam kelulusan... dia... meminta lebih. Kami pergi ke hotel untuk merayakan kelulusan kami."
Sasori menarik nafas lagi kencang. "Kami berencana atau lebih tepatnya dia yang merencanakan semuanya. Dia bilang dia ingin menyerahkan keperawanannya itu padaku. Aku hampir menangis karena terharu tapi di sisi lain aku tidak bisa melakukannya. Berciuman saja sudah membuatku jijik dengan diriku sendiri apalagi kalau berhubungan seks. Sampai akhirnya aku memaksakannya karena aku tidak ingin membuatnya kecewa. Tapi yang terjadi... aku tidak bisa ereksi sama sekali. Itu pertama kalinya aku membuat dia kecewa. Kami mencoba melakukannya lagi dan lagi, tapi tetap saja aku tidak bisa ereksi."
Mukaku sekarang memerah karena percakapan super canggung ini. Aku terlalu malu mendengarkan atau sekedar memotong ceritanya itu.
"Kami sering bertengkar karena tidak pernah berhasil melakukan hubungan seks. Ia mulai menyalahkan dirinya dan juga membandingkan dirinya dengan perempuan lain. Padahal kesalahannya bukan ada pada dirinya, tapi itu karena aku selalu merasa jijik setelah menyentuh tubuh wanita. Aku menyadarinya setelah mendapatkan mimpi basahku untuk pertama kalinya ketika aku masuk SMP. Saat itu aku terbangun dengan pereasaan jijik. Aku langsung lari ke kamar mandi dan menyiram diriku dengan air bahkan sabun sebanyak-banyaknya karena merasa diriku kotor."
Ia kini tertawa. "Oh ya, setelah pertengkaran tak berguna itu, kami akhirnya putus. Dia yang meminta untuk mengakhirinya. Tak berapa lama, rumor tentang aku gay menyebar begitu cepatnya di kalangan teman SMA ku. Bahkan teman kuliahku pun mulai menggunjingkan diriku terang-terangan. AKu tahu, dialah yang menyebarkannya. Sejujurnya aku sangat murka ketika mendapat cap sebagai pria gay, tapi karena rasa sayangku yang lebih besar padanya, aku membiarkannya. Hari-hariku menjadi semakin buruk setelahnya. Aku benar-benar menyesali keputusanku dahulu. Ada rasa ingin mengakhiri semuanya karena merasa sangat malu dan kotor tapi sebelum itu aku ingin memastikan sesuatu. Aku memutuskan untuk pergi ke club malam khusus gay."
'Oh God, jangan katakan dia jadi gay karena hal itu!' Batinku dalam hati.
"Aku bahkan menjadi ragu dengan diriku sendiri karena rumor itu dan mencoba berhubungan dengan seorang pria. Kami berciuman di club itu dan berakhir dengan aku muntah-muntah hampir satu jam setelahnya." Tawanya kini memudar. "Saat sedang muntah itu, aku sadar. Aku sudah benar-benar kehilangan diriku. Aku bukannya tak bisa melakukan dengan wanita, tapi itu lebih karena aku tidak bisa melakukannya karena aku selalu dihantui oleh masa lalu ketika melihat ayah sedang berselingkuh dengan wanita jalang itu. Aku menyadari kalau aku menjadi trauma menyentuh perempuan karena perbuatannya yang terkutuk itu."
Aku menurunkan novelku dan melihat ke arah Sasori. Matanya memerah entah karena pengaruh alkohol atau karena emosinya saat bercerita. Bahkan matanya terlihat berair, seolah-olah air mata siap keluar kapan saja. Untuk pertama kalinya, aku merasa bukan satu-satunya orang yang paling tersakiti di keluarga ini. Aku beranjak dari kursiku dan memeluknya. Memeluk kakak laki-laki satu-satunya yang ku miliki itu. Air mata langsung mengalir deras dari mataku. Aku mengigit bibirku tak ingin isakanku terdengar olehnya. Sasori juga sepertinya menangis karena aku merasakan bahuku yang basah.
.
.
.
Aku membasahi diriku dengan air dingin. Aku ingin membuat diriku benar-benar sadar. AKu meningat-ingat kejadian semalam. Setelah menangis cukup lama, Sasori tak sadarkan diri. Ia tertidur di pelukanku. Butuh waktu lama untuk menyeretnya sampai ke dalam kamarnya itu. Aku sempat menjambak rambutnya kesal bahkan sempat menamparnya pelan supaya dia bangun tapi hasilnya nihil. Ia tetap memejamkan matanya sampai tiba di 'kamarnya'.
AKu bersiap-siap dan keluar dari kamarku. Aku begitu terkejut ketika pintu kamarnya tiba-tiba terbuka dengan kencang menampilkan sosok pria berambut merah dengan penampilan acak-acakan dan pipi yang sedikit membengkak. Aku mundur beberapa langkah ke belakang karena kaget. Berpura-pura memasang wajah dingin seperti biasanya. Membiarkan harga dirinya untuk terkumpul kembali.
"Kau melihatnya?" Tanyanya panik. Aku hanya mengangguk dengan wajah datarku. Jujur saja aku tidak merasa kaget karena itu kali kedua aku masuk ke kamarnya. Ia mengacak rambutnya putus asa.
"Asal kau tahu, aku tidak akan menanyakannya." Jawabku menenangkannya. "Kalau kau merasa sudah siap, aku akan mendengarkannya." Aku berjalan ke arah tangga dan turun. Kali ini, aku rasa aku melakukan hal yang benar.
.
.
GETTING BY
.
.
"Bisakah kau sedikit bergeser?" Tanyanya padaku dengan nada datar seperti biasanya.
"Eh?" Aku merasa aneh dengan pertanyaannya.
"Naruto sedang mengawasi kita." Aku hendak berbalik ke belakang sebelum ia memegang tanganku mencegah diriku mencari-cari sosok yang sedang mengawasi kami seperti omongannya itu.
"Kenapa dia tidak ikut belajar saja sih daripada membuang-buang waktunya untuk memata-matai temannya sendiri." Keluhku kesal.
"Aku tidak menyalahkannya karena pada kenyataannya kita memang terlihat seperti pasangan."
Hening.
"Yang ku maksud adalah orang-orang bisa mengira kalau kita... tidak... kau dan aku itu pasangan. Jangan salah paham!" Ucapnya cepat.
"Aku memang tidak terlalu pintar berhitung tapi bukan berati aku bodoh. Berhenti bersikap berlebihan dan jelaskan bagaimana caranya aku menjawab soal model seperti ini." Aku menunjuk ke salah satu soal bahasa Inggris buatannya yang menurutku paling sulit. Kami melanjutkan kembali belajar.
Aku berjalan keluar perpustakaan beberapa langkah di depan Sasuke ketika kami sudah menyelesaikan sesi belajar bersama. Ia menarik tasku lagi. "Mau kemana?" Tanyanya.
"Pulang," jawabku. Aku maju selangkah mendekat ke arahnya. "Kau bilang kau tidak ingin kita terlihat seperti pasangan kan? Jadi berhentilah mengantarku pulang. AKu akan pulang dengan kakakku mulai sekarang." Bisikku.
"Apa-apaan itu?!" Ujarnya dengan nada cukup keras. "Bukankah teman juga sering pergi atau pulang bersama-sama? Jangan seperti anak kecil!"
Aku hanya termangu. Kenapa dia harus marah-marah. Padahal dia sendiri yang meminta untuk tidak dekat-dekat karena takut orang salah paham dengan kedekatan kami yang sebenarnya hanya teman belajar. Aku tak percaya kami berdiri di depan perpustakaan berdebat hanya karena masalah pulang. Tak tahan dengan perdebatan kami, dia menarikku dan langsung memakaikan helm ke kepalaku.
"Apa aku perlu menggendongmu untuk naik?" Tanyanya dengan nada serius. Tentu saja aku tidak mau dia menggendongku. Aku langsung naik ke motornya.
"Kekanakkan sekali." Ejekku.
"Kau yang kekanakkan! Kau bilang mengerti tapi kau malah bereaksi berlebihan seolah-olah sedang marah." Ucapnya tak terima dibilang kekanakkan olehku.
"Cepat nyalakan mesinnya dan antarkan aku pulang." Aku sudah merasa cukup dengan perdebatan siapa mengantar pulang siapa ini.
Tak beberapa lama, kami tiba di depan rumahku. Aku tak langsung turun dari motor. Aku melepaskan helmku cepat. Aku mencondongkan diriku ke arahnya supaya dia bisa mendengar ucapanku. "Kakakmu itu... apa kau tahu dia berteman dengan kakakku?"
"Kenapa bertanya seperti itu?" Jawabnya ketus.
"Aku hanya penasaran seperti apa pertemanan mereka. Jawab saja pertanyaanku cepat! Aku ingin segera pulang." Desakku.
"Mereka cukup akrab. Aku cukup sering melihatnya dahulu." Jawabnya. "Bahkan beberapa hari yang lalu, ... tunggu dulu! Kau mengadu kalau aku sering menganggumu ke kakakmu itu?! Wah, kau itu benar-benar. Aku mendapatkan masalah karena itu."
Aku memukul punggung Sasuke keras. "Jangan bicara sembarangan! Aku bukan anak yang seperti itu. Lagipula, bukan salahku kalau waktu itu kakaku melihat kau menarik belakang tasku seperti itu. Lain kali, pakailah cara yang lebih sopan."
"Lebih sopan? Haruskah aku menarik lenganmu seperti tadi? Menepuk bahumu? Atau, haruskah aku mengenggam tanganmu supaya lebih sopan?"
Aku refleks memukul kepalanya yang masih tertutup helm dan turun dengan terburu-buru dari motornya. "Dasar sinting!"
"Sama-sama," jawabnya riang. Ia menyalakan mesin motornya lagi dan pergi dari hadapanku tak lama kemudian.
.
.
GETTING BY
.
.
Aku berjalan masuk ke dalam rumahku. Menaiki tangga dengan cepat karena ingin segera berbaring di kasurku. Tapi semuanya tak secepat yang aku inginkan karena sekarang Sasori berada di depan kamarku. Ia menyenderkan punggungnya itu ke pintu kamarku.
"Minggir," kataku. Tapi ia malah semakin menutupi pintu kamarku.
"Ikut aku." Titahnya serius membuatku tak berani melawannya. Aku mengekor di belakangnya mengikutinya masuk ke dalam kamarnya. Sedikit ragu, aku hanya berdiri di depan kamarnya tak ikut masuk.
"Apa yang kau lakukan di sana? Kemari sebentar," ia lalu menghilang dari padanganku masuk ke dalam lemarinya itu.
Aku berjalan mengikuti perintahnya. Ruangan ini sama seperti awal aku dan beberapa hari yang lalu ketika aku melihatnya. Tapi ada yang sedikit berbeda. Aku melihat sebuah koper besar yang dibuka lebar-lebar di sana. Aku berjalan ke arah koper itu dan duduk di sebelahnya melepaskan tasku. Aku hanya duduk di sana seperti anak kecil yang tidak tahu apa-apa.
"Karena kau sudah melihat kondisi 'kamarku', bantu aku mengemas barang-barangku." Ujarnya. Ia terlihat menggulung beberapa kertas dan cetak biru miliknya itu. "Bisakah kau memindahkan seluruh pakaianku ke dalam koper di sana?"
Aku pun beranjak dari posisiku. Mengambil setumpuk pakaian dan menaruhnya di bawah dan duduk di dekatnya. Berusaha memasukannya ke dalam koper seperti yang ia suruh. "Kau mau pergi... lagi?"
"Yeah! Aku harus bekerja. Atasanku membutuhkan aku di sana, jadi aku harus segera pulang ke Australia." Jawabnya. Ia masih mengemasi barang-barangnya itu.
"Kapan?" Tanyaku pelan.
"Aku akan berangkat lusa dengan penerbangan pagi."
Aku menggulung beberapa kaos. Terdiam. Rasanya sedikit aneh tapi sejujurnya aku mulai terbiasa dengan kehadirannya. "Tidak bisakah kau tinggal?" Pertanyaan itu lolos begitu saja. Ku rasa harga diriku sudah tidak ada lagi.
"Aku harus bekerja untuk bertahan hidup dan juga mencari uang untukmu." Balasnya.
Aku membalikan kepalaku. Melihat ke arahnya. Apa yang barusan ia katakan? Uang untukku? Yang benar saja.
"Uang? Untukku?" Tanyaku dengan nada sedikit kesal. "Aku tidak memintanya kan."
Ia mengehentikan aktifitasnya. Berhenti mengemasi barang-barangnya dan menghampiriku. Ia berjongkok di depanku memegang kedua bahuku. Ia menatap mataku dalam-dalam. Wajahnya menunjukan raut wajah serius. Aku bersumpah tak melihatnya mengedip ketika mengatakan kalimat itu.
"Aku yang akan membeli kebebasanmu. Aku akan melepaskanmu dari neraka ini. Karena kau adikku, adik perempuanku satu-satunya. Kau orang yang paling berharga dalam hidupku..."
.
.
.
To be Continued
