4
Reset
Winkdeep
Jihoon mengulum senyumnya selama perjalanan menuju ke kamar apartementnya.
5 menit yang lalu, Jinyoung menciumnya.
Iya, dia si Bae Jinyoung menciumnya.
Ia tak ingat betul apa saja yang telah terjadi, namun hanya satu yang ia tau, Bae Jinyoung menciumnya.
Ia sekarang sangat bahagia. Semua hal terasa sangat indah. Ia merasa terbang jauh ke udara, seperti balon yang melayang-layang, seperti hatinya yang kini tengah melayang juga.
Ia segera masuk ke apartementnya dan berlari kecil menuju kamarnya. Ia menghempaskan badannya ke tempat tidur dan kemudian merogoh tas tangannya. Ia mencari ponselnya.
Ia mengetik nama 'Seonho' di daftar kontaknya dan kemudian menelponnya.
"Seonho-ya, terimakasih. Sekarang dia telah menepati janjinya kupikir begitu sih.," kata Jihoon sambil tersenyum cerah, senyuman yang tak terbendung dan juga harapan yang tak terbendung.
Jam makan siang. Kini Jinyoung dan Donghyun sedang duduk berdua di sebuah kedai ramen di daerah Hongdae. Keduanya sedang memakan ramen dengan khidmat sambil sesekali bercengkrama berbicara tentang pekerjaan dan juga tentang masalah pribadi.
"Jinyoung," panggil Donghyun.
"Iya, hyung," sahut Jinyoung sambil meneguk minumannya.
"Ku dengar dari Samuel kau bertemu Jihoon di resepsi pernikahnnya Minhyun noona," kata Donghyun.
Jinyoung tersenyum 'oh cerita itu sudah jadi viral ya sekarang, dasar Samuel!" katanya dalam hati.
Kemudian ia menjawab, "Iya, secara tak sengaja," jawab Jinyoung.
"Pasti canggung sekali," kekeh Donghyun. "Apakah dia semakin cantik?" tanya Donghyun sambil tersenyum menggoda.
Jinyoung tertawa tanpa suara, "Dia masih seperti biasanya, tetap cantik," jawab Jinyoung sambil tersenyum.
"Wah, kalau begitu apakah dia sudah punya pacar?" tanya Donghyun lagi.
Jinyoung tersenyum pahit dan menjawab, "Sepertinya belum,"
Donghyun pun terkekeh sambil meneguk minumannya, "Sepertinya aku punya kesempatan," tawa Donghyun. Jinyoung menyerengit tak mengerti, maksud Donghyun apa?
"Maksudnya hyung?" tanya Jinyoung tak mengerti.
Donghyun pun membuang nafasnya kasar sambil tersenyum kearah Jinyoung. "Kejar lah dia sekali lagi, tak apa walaupun kalian memulai semuanya dari awal lagi, setidaknya 6 tahun itu tak terbuang begitu saja. Hey! Walaupun kau tetap berhubungan dengan Jihoon tanpa mengindahkan perintah ayahmu, setidaknya kau masih mendapat jabatan kepala devisi, itu pun mungkin adalah jabatan paling rendah yang diberikan ayahmu untukmu dan aku tau ayahmu masih mempunyai hati nurani yah.. jadi pasti dia bakal berikan jabatan yang lebih tinggi lagi untukmu walaupun kau ingkar akan perintahnya," ujar Donghyun panjang lebar.
Jinyoung menyerengit tak mengerti, "Apa maksud hyung? Aku pikir jika aku tak mengindahkan perkataannya aku akan dibuang dari keluarga dan tak dianggap anak, ayah mengancamku seperti itu," ujar Jinyoung.
Donghyun pun tersenyum simpul, "Setidaknya ancaman ayahmu akan tetap kalah akan kegigihan dan cinta kalian," ucap Donghyun, kemudian ia menghembuskan nafasnya.
"Karena pada akhirnya tetap cintalah yang akan menang,"
Jinyoung keluar dari ruang kerjanya, ia menuju ke lift untuk turun ke bawah. Sekarang sudah jam 5. Saatnya untuk pulang. Kini ia tampak kelelahan. Rambut yang acak-acakan, jasnya yang kini telah tertenteng sempurna di lengannya dan juga mukanya yang kini tampak berantakan. Bayangkan Jinyoung hari ini sudah menghadiri 5 rapat, 2 rapat sebelum makan siang dan 3 rapat setelah makan siang, jadi pantas saja sekarang ia sangat kelelahan sekali. Pikirannya sekarang hanya ada satu, kasur empuknya. Yep! Dia akan langsung tidur ketika ia sudah sampai di rumah nanti, ia sudah tak tahan lagi.
Akhirnya Jinyoung sudah sampai di lantai basement tempat parkiran mobil. Ia menuju kearah mobilnya, ia pun mengunlock mobilnya dan kemudian pergi meluncur bersama mobilnya.
Kini Jinyoung sedang mendengar satu-persatu pesan suara yang dikirim untuknya, pesan suara itu kebanyakan berasal dari klien-kliennya atau rekan-rekan bisnisnya. Kebanyakan pesan suara itu berbunyi seperti ini,
"Halo Jinyoung-ssi jam berapa kita akan mengadakan rapat?"
"Tuan Bae, aku telah selesai memperbaiki proposalnya. Aku ingin menyerahkannya kepadamu namun tadi kau tidak ada di ruangan jadi aku serahkan saja proposal itu kepada Tuan Kim,"
"Tuan Bae…"
"Jinyoung-ssi…."
"Bae Jinyoung-ssi…"
"Jinyoung…."
"Bae Jinyoung….."
"Baejin ini aku…"
Tunggu! Ada satu pesan suara yang janggal. 'ini aku,' aku siapa?
"Baejin ini aku, aku Jihoon. Apakah kau punya waktu luang? Aku sekarang sedang ada di pinggir Sungai Han, aku sendirian disini, maukah kau menemaniku? Aku akan menunggumu sampai jam 5.30. aku akan senang sekali jika kau mau menemaniku,"
Jinyoung tertegun. Barusan itu apa? Jihoon menghubunginya? benar-benar menghubunginya? Dan Jihoon kemudian minta ditemani? Bukan, Jihoon mengajaknya kencan? Jihoon benar-benar mengajaknya kencan! Jihoon benar-benar sudah berani maju duluan sekarang.
Kini Jinyoung kembali segar kembali, ia tertawa bahagia. Ia tak tau apakah ini prank atau asli, namun ia langsung membanting stirnya berbelok menuju Sungai Han. Ia mengendarai mobilnya dengan kecepatan penuh, karena ia sadar kalau sekarang sudah pukul 5.15 yang artinya tinggal 15 menit lagi sebelum batas waktu tunggu Jihoon. Ia harus cepat bertarung melawan waktu.
Melawan sang waktu yang bagaikan ingin mengambil separuh jiwanya pergi menjauh darinya.
Jinyoung kini tengah berlari-lari di taman Sungai Han mencari keberadaan Jihoon. Ia tak bisa menghubungi Jihoon menanyai dimana Jihoon sekarang karena sejak 3 bulan yang lalu ia dan Jihoon benar-benar lost contact., Jihoon merubah nomor ponselnya. Dan bodohnya lagi, setelah rentetan kejadian pertemuannya dengan Jihoon yang dramatis, ia sampai sekarang belum juga menanyai atau meminta nomor ponsel barunya Jihoon, dan ia benar-benar tak tau dari mana Jihoon mendapati nomor ponselnya sehingga ia bisa mengirim pesan suara kepada Jinyoung, huh benar-benar menyebalkan!
Ia berkeliling menyusuri taman Sungai Han sambil meneliti satu persatu orang yang ada disekelilingnya. Ini benar-benar melelahkan, taman di Sungai Han itu tidak kecil makanya Jinyoung merasa sangat lelah dan kesusahan. Hei, ingatkan dia kalau ia sudah capek duluan bahkan sebelum ia berlari-lari mengitari Sungai Han.
Jinyoung berhenti sejenak. Ia mengatur nafasnya yang tak teratur. Ia serasa ingin pingsan. Namun kemudian ia tegak kembali. Nafasnya yang tadi belum teratur mulai teratur lagi. Ia tersenyum dan kemudian berjalan maju.
"Park Jihoon," panggil Jinyoung terhadap seorang gadis yang duduk di kursi taman sambil menatap ke bawah dan menggembungkan pipinya lucu.
Gadis itu tak sadar kalau ia telah dipanggil.
Jinyoung terkekeh pelan lalu memanggil Jihoon lagi, "Park Jihoon," panggilnya lagi.
Kini sang gadis merespon, ia mendongakkan kepalanya dan sepersekian detik kemudian ia tersenyum.
"Baejin," sahutnya.
"Sudah menunggu lama?" tanya Jinyoung kini bergabung duduk di samping Jihoon.
Jihoon tertawa pelan sebentar lalu menjawab pertanyaan Jinyoung, "Saaaaaaaangat lama," jawab Jihoon dengan ekspresi lucu.
Jinyoung menyentil pelan hidung Jihoon, "Maafkan aku, salah kau juga sih tak memberi tau dengan detail tempatnya," ujar Jinyoung.
"Kenapa kau tak menelpon ku saja?" tanya Jihoon.
"Aku tak punya nomor mu," jawab Jinyoung enteng padahal dihatinya ia hanya bisa tersenyum miris.
Jihoon pun tersenyum pahit. Kenangan masa lalu lewat begitu saja, dari mulai ia mengganti nomor ponselnya dan tak memberi tau kepada Jinyoung nomor barunya, lalu kemudian ia menjaga jarak dan komunikasi dari segala hal berbau Jinyoung dan tentu saja dari Jinyoung itu sendiri, ia pikir 'hal-hal' semacam itu akan membuat sakit hati dan kekecewaannya berkurang walaupun ia tau suatu hari Jinyoung akan kembali, namun tetap saja batinnya sangat tersiksa. Namun lihat sekarang, ini bahkan belum genap setengah tahun dan ia dengan santainya duduk disamping Jinyoung, bercengkrama dengannya bahkan semalam, semalam Jinyoung menciumnya. Ia benar-benar tak yakin ini mimpi atau bukan, tapi di dalam pikirannya hanya satu 'sepertinya ia benar-benar kembali'.
"Jihoon," panggil Jinyoung yang cemas melihat Jihoon tak merespon.
Jihoon pun tersadar, tersadar dari lamunannya.
"Baejin," panggilnya.
"Iya?" respon Jinyoung.
"Kau ingin berjalan? Bagaimana dengan makan es krim? Aku ingin makan es krim sekarang," ajak Jihoon.
"Oke, ayo!" sahut Jinyoung kemudian berdiri dari kursi taman.
Namun Jihoon tak kunjung berdiri dari kursi taman, Jinyoung menyeringit tak mengerti.
"Ada apa?" tanya Jinyoung refleks.
Jihoon mempoutkan bibirnya, "Kau tak ingin menggandeng tanganku?" tawar Jihoon sambil mengulurkan tangannya.
Jinyoung terkekeh geli, "Tentu saja aku mau," senyum Jinyoung cerah sambil menyambut tangan Jihoon kemudian menggenggamnya.
Muka Jihoon tiba-tiba memerah. Tangan Jinyoung yang hangat kini telah menyapa tangan halusnya. Kehangatan itu menjalar hingga ke wajahnya, itulah mengapa mukanya tiba-tiba memerah menghangat seperti kepiting rebus.
Dan Jinyoung tertawa pelan melihat muka Jihoon memerah hebat. Ia senang, senang sekali. Ia senang karena masih bisa melihat muka Jihoon, tawa Jihoon, suara Jihoon, muka Jihoon yang memerah, pout-an bibirnya Jihoon dan segala macam tentang Jihoon. Dan ia harap ia masih bisa menyaksikan hal-hal tersebut tanpa ada hambatan.
Harapan yang mudah dilafalkan namun susah diwujudkan.
Kini Jihoon dan Jinyoung tengah duduk berdua di kursi taman sambil memakan es krim mereka masing-masing. Sesekali mereka bercengkrama berdua.
"Baejin," panggil Jihoon.
"Eung~" sahut Jinyoung.
"Lelah ya kerja terus? Jabatanmu makin tinggi ya kan?" tanya Jihoon perhatian.
Jinyoung hanya bisa terkekeh pelan lalu menjawab, "Yah gimana ya, ayahku ingin melatih ku pertahap sebelum aku benar-benar siap memimpin jadi yah gimana lagi aku harus menerima dan jalani dengan sepenuh hati," jawab Jinyoung.
"Kau belum menjadi CEO?" tanya Jihoon.
"Belum," jawab Jinyoung.
"Oooh," kata Jihoon ber-O ria.
"Emangnya kenapa?" tanya Jinyoung sambil menggigit cone es krimnya.
Jihoon mendesahka nafasnya kasar, dan hal itu benar-benar membuat atmosfer menjadi berubah 360˚.
"Kau ingat 'janji' itu?" tanya Jihoon.
"Janji apa?" tanya Jinyoung balik.
"Janji yang seharusnya kau tepati tanpa tenggat waktu," jawab Jihoon.
Jinyoung tersenyum miring. Ia sudah menebaknya, 'janji' itu benar-benar ada. Janji yang seharusnya ia tepati. Padahal semalam Jihoon bilang tak ada janji yang harus ia tepati. Namun kini ia tau benar cara pikir Jihoon, she's playing hard to get.
"Janji apa?" tanya Jinyoung pura-pura tak tau atau ia benar-benar tak tau.
"Aku ingin bertanya,"Jihoon mengalihkan topik pembicaraan dan kemudian ia mendongak menatap langit. "Apakah kau benar-benar kembali?" tanya Jihoon.
"Kembali?" tanya Jinyoung sambil menyerengit tak mengerti.
Jihoon hanya bisa terkekeh pelan. "Kau bahkan tak ingat," katanya putus asa.
Dan tiba-tiba saja serasa ada penerangan yang memberi jawaban tehadap Jinyoung. Ia menatap miris. 3 bulan yang lalu, ia memberi harapan terhadap gadis tersebut dan kini lihatlah, gadis tersebut berpikir bahwa kini harapannya telah menjadi nyata, harapan itu bagaikan telah kembali lagi, namun jujur saja, harapan itu sama sekali belum bisa terwujud bahkan mendekati pun belum.
Jinyoung mendesah pelan. "Jihoon-ah," ia menggenggam tangan Jihoon tiba-tiba, "Aku pikir aku belum bisa kembali," ucap Jinyoung sambil mengusap-usap tangan Jihoon penuh arti.
Jihoon merasa sangat terpukul. "Aku pikir kau sudah kembali," ucap Jihoon pelan.
Jinyoung tersenyum miris. "Maaf," ucapnya. "Maafkan aku. Aku akan kembali tapi tidak sekarang," ucapnya cepat penuh sesal.
Kemudian Jihoon mendongakkan kepalanya menatap langit, "Jinyoung-sshi, kenapa kau bersikap sangat manis kepadaku walaupun kau dan aku seharusnya tidak bisa melakukan hubungan seperti ini?" tanya Jihoon, "Kau telah memberikanku seribu harapan dan kemudian aku merasa dicampakkan," ujar Jihoon. Matanya mulai memanas. Ia tak berani menatap Jinyoung sekarang.
"Jihoon maafkan aku, aku benar-benar tak bermaksud seperti itu," ucap Jinyoung. "Aku bersikap manis bukan karena terpaksa atau aku ingin kau mencintaiku lagi, bukan! Itu naluriah, aku spontan bersikap seperti itu karena yang kuhadapi di depanku adalah dirimu," ujar Jinyoung.
"Aku sudah terlalu lama menunggu," ujar Jihoon putus asa.
Jinyoung memejamkan matanya. Setaunya Jihoon adalah sosok yang penyabar tapi kenapa kini Jihoon tampak sangat egois dimata Jinyoung. Jihoon-nya telah berubah atau cara pandangnya saja yang kini telah berubah?
"Aku mohon bersabarlah," ucap Jinyoung. "Ini takkan lama, lagian 3 bulan adalah waktu yang cukup sebentar. Aku mohon bersabarlah,"
"Jadi apa? Aku harus menunggu lagi karena menurutmu 3 bulan itu masih sebentar? Apa aku harus menunggu 3 tahun lagi?" tanya Jihoon yang kini akhirnya berani menatap lurus mata Jinyoung. Air matanya kini tumpah, entah siapa yang telah menggoyahkan pertahanannya.
Jinyoung terdiam. Ia takkan pernah tau kalau Jihoon sesensitif ini. Ia takkan pernah tau kalau sore ini akan menjadi kelabu. Dan ia takkan pernah tau cara pikir Jihoon terhadap hubungan mereka.
Ia masih saja terdiam. Keduanya terdiam. Jinyoung berusaha untuk tak tersulut emosi, ia menarik nafas untuk menjawab. Namun sebelum ia membuka mulutnya untuk menjawab, Jihoon mengeluarkan suaranya duluan.
"Cepat jawab aku! Kau ingin kita menjadi seperti apa sekarang?" tanya Jihoon memaksa.
Jinyoung masih saja terdiam.
"Jinyoung, aku serius! Aku sudah muak dengan segala drama ini, aku ingin kita seperti dulu, kita yang asli," ujar Jihoon.
"Kau sedang PMS ya?" tanya Jinyoung tiba-tiba. Yep! Jinyoung cukup terkejut melihat perubahan emosi Jihoon dan tentu saja pemikiran pertama yang keluar adalah 'Jihoon sedang PMS'.
Jihoon menatapa Jinyoung serius, "Kau masih saja menganggap ini sebagai candaan, aku serius! Aku benar-benar tak tau cara pikirmu itu seperti apa," ucap Jihoon kasar.
Jinyoung kini menghembuskan nafasnya kasar. Ia sudah tersulut emosi. Ia benci Jihoon yang ini. Jihoon yang terus memaksanya untuk kembali. Kemudian ia mendongak menatap langit dan berujar,
"Kalau begitu jangan tunggu aku lagi," ucapnya pelan.
hai, terimakasih banyak buat yang udah nungguin aku update. jinjja jinjja gomawoㅜㅜ
chapt ini maksa banget ae lah ceritanya, jinyoung ku sakiti, winkdeep ku goyahkan, demi apa aku jahad sekali. tapi yaudahlah yang penting tetap lanjut nih ff.ㅎㅎ
oh ya maaf banget aku slow update, aku skrg uda mulai masuk sekolah juga sekolahku ini make sistem fullday jadi waktu untuk nulis itu terselip diantara jadwal sekolahku yang padat, jadi makanya ceritanya uda jadi kek out of topic ㅎㅎ
dan juga review kalian sangat berguna demi kelangsungan kelanjutan ff ini,,,, makasih banget buat yg uda rela-rela review, pingin ku peluk satu-satu kalian yang udah review-in akuㅠㅠ
dan yah aku bakal jawab satu-satu review kalian disini...
adityaogeb: butuh sequel ini, nexttt
-uda kulanjutin yah hahahaahah... makasi banget uda jadi my first ever review... thalangek3
oliphJelandra: Anyeong~~~syukak sama pair winkdeep emang anak wannaone itu vangsadh2 dan penghancur bias list. Lanjut dung penasaran sama kelanjutannya. Semangat
-makasi uda mencintai kapal ku yang sedang sailing keliling duniaㅜㅜ wanna one makin kesini makin vangsadh ye kan, gakuat astoghfir akunya.ㅋㅋㅋ makasih uda penasaran dan beri semangat terharu aku lahir batinㅠㅠ
Bae815: Ngefeel kok thor hehehe, next chapter ditunggu thor
-makasih uda review... makasi juga uda bilang nih ff ngefeel, terharu egen akuhㅠㅠ
Pjh9929: Ah baejin pikunan kzl! Jihoon lemah bgt udah kalo deket jinyoung jd makin baper, sabar ya jihoonie syg:( mimin ayo semangat please di update lagi yahhh kapan update an barunya mumpung belum sibuk bgt sekolah kan? Hihihi please sampe end ini yaa jgn berenti di tengah jalan cakit rasanya(?)
-baejin emg bikin kesel, untung si doi ganteng kan hahahaahaha. iya jihoon kalau dekatan sama jinyoung emang langsung lemah, samaan kek mimin kalau dekatan sama jinyoung, bakalan lemah lahir batin:V. makasih banget semangatnya. ini uda sibuk sekolah tapi keep updating kok hamdalah wkwkwkwk. iya kan kulanjutin kok, aku tau perasaan readers yang nungguin author update ff tapi kiranya ffnya berhenti dijalan, pedih. bakal survive till the end thought this ff would be a flop hahahahaha
blackredyuri: ini bakalan jadi hurt gak? hehe
-keknya iya:V
Erumin Smith: HUWAAAAAAAAAA ada enak nya juga kan di ajakin guanlin pergi ke pesta wkwkwk
-enak banget malah. kan iri:(
yaudah segitu uda aku jawab reviewannya. makasi banget dan maaf baru sempat jawab skrg. pen jawab tapi selalu kelupaanㅎㅎ
oh ya, rencananya aku bakalan post ff yaoi guanho, kasih ide deh mau genre apa, ini aku pusing milih genre dan ratednya. bantuin juseyo~~~
dan juga jika ada yang mau nagih ff, kenalan atau bahkan fangirlingan over wanna one dan cubies bersamaku bisa add id line: wannablesoleh . maaf banget idnya retjeh sekali tapi waktu buat itu sedang khilaf saja, waktu itu sedang soleh-solehnya:V
dan last but not least, mind to review?
