Bagi Sehun Luhan adalah gadis manja dan kekanakan. Namun kenyataannya Luhan lebih kuat dan mandiri dibandingkan apa yang Sehun bayangkan. Dan pada akhirnya, sesuatu menimpa dan penyesalan tidak dapat terelakkan.
~A Chance~
Chapter 4
Previous…
"Dan jika aku bunuh diri, aku tidak akan membiarkan mayatku merepotkanmu. Aku akan meminta kepada siapapun sebelum aku mati, kalau aku tidak mengizinkanmu melihat mayatku barang sedetikpun!"
Selanjutnya Luhan pergi. Melangkahkan kaki berat menuju lift yang akan membawanya menjauh dari Sehun. Tapi gerakannya terhenti, ia perlu menenangkan diri sebelum turun dan bertemu dengan bawahan Sehun yang pasti menanyakan kondisinya. Kondisinya yang berantakan dan bukan tidak mungkin Luhan tidak sanggup menahan laju cairan bening di mata rusanya.
Maka dari itu Luhan berbelok, membuka sebuah pintu dengan simbol tangga. Ya, di tangga darurat. Satu-satunya tempat sepi untuk Luhan menumpahkan tangisnya. Ia duduk di salah satu anak tangga, menutup wajah dengan telapak tangan,dan menangis dalam diam. Entah sampai kapan ia akan berada disana.
…
Warning! Typo(s) detected!
…
Setelah di kantor Sehun, menangis di tangga darurat, dan menghabiskan beberapa menit di toilet untuk membenahi penampilannya, Luhan memutuskan untuk keluar dari kantor perusahaan keluarga Sehun. Tak ia perdulikan siapapun yang menyapanya, termasuk wanita di meja resepsionis yang sempat ia tanyai tadi. Luhan sudah terlalu lelah, hingga rasanya membalas sapaan-pun adalah hal yang berat untuknya.
Dengan langkah kaki mungilnya, Luhan berjalan menyusuri taman kota yang letaknya cukup dekat dari kantor Sehun. Ia sengaja tidak menghubungi sopir pribadinya untuk menjemput, sebab Luhan masih ingin sendiri dan tidak di ganggu. Luhan memang lelah, namun ia membutuhkan suatu hiburan untuk mengusir kemarahannya pasca ia mendengar perkataan Sehun yang -sungguh- menyakiti hatinya. Bolehkah Luhan bertanya, dimana hati seorang Oh Sehun hingga ia setega itu?
Luhan menemukan satu bangku panjang yang kosong, disekitarnya-pun cukup sepi. Maklum saja, sekarang di musim semi dan akan memasuki musim panas, pasti orang-orang tidak ingin membakar kulit mereka dengan menghabiskan waktu di salah satu sudut taman kota yang tidak ada pohon peneduh ketika matahari tepat diatas kepala. Terkecuali Luhan. Gadis itu menduduki bangku tersebut tanpa perduli tubuhnya yang hanya menggunakan blus lengan pendek selutut yang nanti bisa membakar kulit putihnya. Luhan mati rasa, hatinya jauh lebih menyakitkan dibandingkan tubuhnya.
Memang tidak ada yang menarik kecuali rerumputan hijau dan kupu-kupu yang menghinggapi bunga warna-warni disekitarnya, namun Luhan juga tidak merasa tertarik. Pikirannya melayang tak tentu arah dan pandangannya kosong.
Tentang Oh Sehun, pria yang berhasil mengusik hidup Luhan sejak dua bulan belakangan. Memang, sejak awal, sejak Baba dan Mama memperkenalkan Sehun dihadapan Luhan, Luhan tahu ada yang berubah dari tubuhnya. Ada desiran aneh, ada perasaan hangat, dan ketertarikan untuk selalu memandang paras rupawan pria itu. Bukan hanya karena Sehun tampan, bukan itu. Luhan tidak jarang bertemu dengan pria berwajah tampan dari berbagai Negara, dan tidak ada yang sama seperti Oh Sehun.
Xi Luhan adalah gadis yang buta urusan percintaan di awal-awal usia remaja. Disaat teman sebayanya sudah memiliki kekasih yang tidak terhitung, Luhan belum sekalipun merasakan indahnya memiliki seorang kekasih. Dunia remajanya sibuk dengan buku-buku business management setebal balok kayu dan perpustakaan berpelitur cokelat di sudut sekolahnya. Luhan tidak menyukai keramaian, itulah yang menyebabkannya berteman dekat dengan sarang laba-laba perpustakaan, aroma khas buku pelajaran, dan mungkin lebih parah memiliki hubungan khusus dengan penjaga perpustakaan dimana mereka lebih mengenal Luhan dibanding teman Luhan sendiri. Sifatnya pendiam, hanya bicara seperlunya, mandiri, dan ia sangat tidak suka merepotkan orang lain. Terkadang karena sifatnya itu, Luhan tidak memiliki banyak teman kecuali beberapa siswi yang menginginkan bantuan Luhan dalam hal pelajaran.
Bukan karena terlalu manja, seperti kata Oh Sehun.
Mengenai Oh Sehun, Luhan rasa tamparan telak di pipi Sehun dari telapak tangannya adalah hal yang pantas. Pria itu tidak tahu apapun mengenai Xi Luhan serta dua orang yang menghidupi Luhan -Baba dan Mama- yang sebenarnya. Luhan bukanlah seperti yang berada di otak pria itu, sama sekali jauh berbeda!
Pria itu terlanjur melihat Luhan dari segi sifat, dan sangat tidak beruntungnya sifat Luhan itulah yang membuat Sehun muak dan membencinya. Tapi tidak ada suatu tindakan yang tidak disebabkan oleh suatu alasan. Tentu Luhan memiliki alasan mengapa dirinya menyembunyikan sifat aslinya di hadapan Sehun.
Karena Luhan tahu sejak awal Sehun tidak menginginkannya. Pria itu hanya menerima perjodohan karena sebuah paksaan dari orangtuanya. Berbeda dengan Luhan, Sehun berhasil memenangkan hatinya di pandangan pertama. Jika Sehun tidak menginginkan, lalu bagaimana lagi? Luhan tidak mungkin memaksa Sehun dengan memberikan pilihan antara meminum racun tikus atau menerima perjodohan itu.
Yang bisa Luhan lakukan hanyalah menutupi kesedihannya dibalik topeng kegembiraan.
Sudah beberapa menit Luhan melamun di bangku taman hingga menyadari sesuatu di atas kepalanya yang mampu meneduhkannya dari terpaan sinar matahari.
"Apa yang dilakukan seorang gadis di tengah hari seperti ini?" Sebuah suara dari belakang. Luhan tersentak dan otomatis memutar kepalanya. Dibelakangnya berdiri seseorang dengan membawa sebuah map yang Luhan yakini sempat melindungi kepalanya barusan.
"Jin?"
"Syukurlah aku tidak salah orang." Jin mengambil duduk di samping Luhan dan mengamati raut wajah Luhan disampingnya seraya mengibaskan map ke arah wajahnya sendiri. Oh, Jin sungguh tidak kuat terkena matahari.
"Bagaimana kau ada disini?" Luhan tidak tahan untuk bertanya. Setau Luhan, cafe Jin cukup jauh dari tempatnya sekarang. Dan Luhan juga tidak menemukan jawaban kenapa Jin bisa ke taman kota sesiang ini.
"Aku ada urusan dengan kakakku di dekat sini. Lalu aku melihat seseorang yang mirip denganmu, dan ternyata memang kau." Lelaki itu menunjukkan map di tangannya dan Luhan tidak perlu tahu hubungan urusan kakak-adik dengan map. Mungkin bisnis keluarga? Siapa tahu.
"Dan kau? Membolos kuliah?"
Luhan berdiam sebentar untuk mencari alasan yang tepat. Toh Luhan juga tidak tahu kenapa dia bisa berada di taman kota dan tidak pulang saja.
"Mencari udara segar.", jawab Luhan singkat. "Dan aku sedang tidak ada jadwal kuliah."
"Bohong. Anak kecil juga tahu udara tengah hari tidaklah segar." Jin mendapat satu pukulan kecil di lengan akibat perkataannya yang sangat benar.
Terbekatilah kau, Kim Seok Jin! Si gadis yang tadi menangis satu jam berhasil mengembangkan senyumannya.
"Kau habis menangis?"
Luhan mengalihkan pandangannya. Berusaha mengulur waktu agar tidak menjawab pertanyaan yang sudah pasti jawabannya. Ya, Luhan memang menangis. Menghabiskan satu jamnya yang berharga untuk menangisi pria tak berperasaan bernama Oh Sehun.
"Tidak. Aku hanya... kepanasan."
"Ck! Itu karena kau bodoh!"
"Apa?"
Jin meraih tangan Luhan dengan tangannya yang bebas. Menarik tangan gadis yang mulai memerah dan untunglah pemilik tangan itu tidak protes saat Jin menariknya menuju mobil.
...
Jin berhenti dari acara tarik-menarik tangan Luhan setelah mencapai sebuah restoran yang tidak jauh dari taman kota. Pria tinggi itu mendesah lega saat tubuhnya diguyur udara dingin AC begitu masuk ke dalam restoran.
Jin sempat mendapati tangan Luhan meremas tangannya, dan ia cukup peka untuk tahu bahwa Luhan tidak ingin masuk kesana, entah karena apa. Jadilah mereka berdua berhenti di depan pintu kaca restoran dan terlalu banyak orang berseliweran disana.
"Kenapa?"
"A-aku mau pulang."
"Tapi kita baru sampai, dan bahkan belum mencari meja. Temani aku makan siang."
"Aku sudah kenyang. Kau bisa makan sendiri, kan?"
"Jangan bohong. Tenang saja, aku yang traktir."
"Aku juga bisa mentraktirmu, tapi aku tidak mau makan disini!"
Jin mendecak kesal. Seharusnya ia sadar gadis ini adalah si keras kepala. "Bagaimana kalau aku memaksa?"
"Aku juga akan memaksa untuk pulang! Ayolah, Jin. Aku tidak akan memintamu mengantarku, aku bisa menelpon sopirku."
"Ti-dak!" Jangan salahkan Jin jika pria itu juga tidak suka mengalah. Matanya melihat ke wajah Luhan yang memerah. "Kau bisa dehidrasi."
Jadilah Luhan terpaksa menyetujui keinginan Jin, toh dirinya memang butuh sesuatu yang menyegarkan tenggorokannya kendati tidak nafsu makan.
"Lho, Nona Luhan?"
Luhan menghentikan langkahnya, diikuti Jin yang berada dua langkah di depan Luhan.
Luhan bertanya melalui kernyitan dahinya, merasa pernah mengenal pria maskulin berkacamata yang barusan menyapanya.
"Aku Sekretaris Lee, jika Anda lupa."
"O-oh!" Luhan ingat! Dirinya memang sempat berkenalan dengan pria itu, kalau tidak salah saat Luhan ikut Baba untuk bertemu Sehun dan pria itu juga. Tapi sayangnya Luhan tidak melihat pria itu di meja kerjanya tadi.
"Nona bisa bergabung dengan kami, kebetulan Direktur Oh juga sedang makan siang."
Ya. Luhan tahu itu. Itulah alasan mengapa Luhan bersikeras untuk pulang pada Jin. Agar tidak bertemu dengan pria yang beberapa jam belakangan meletakkan Luhan dalam mood paling buruk.
Melihat Sehun apalagi makan siang satu meja dengannya bukanlah ide yang bagus, Luhan memilih pergi sekalian daripada moodnya kembali hancur.
"Maaf. Tapi gadis ini sudah saya booking. Permisi!"
Untuk kali ini Luhan berterimakasih pada Jin karena telah membawanya pergi. Kali ini Luhan tidak akan memarahi Jin karena membawanya sesuka hati. Syukurlah, dengan demikian Luhan hanya perlu mengucapkan maaf dan membungkuk pada Sekretaris Lee untuk menolak. Luhan tidak perduli bagaimana tanggapan Sekretaris Lee mengetahui Luhan menolak makan siang dengan tunangannya sendiri yang notabene Tuan Besar Sekretaris Lee.
Seharusnya begitu, tapi beda lagi jika Luhan justru mencuri pandang pada Oh Sehun yang berjarak dua meja dari tempatnya duduk. Seperti biasa, pria itu terlihat tampan luar biasa menggunakan kemeja hitam minus jas kantornya. Dan seperti biasa pula, berhasil mengoptimalkan kerja jantung Luhan berkali-kali lipat tidak perduli seberapa besarnya amarah Luhan terhadap pria itu.
"Luhan!"
Luhan tersentak saat tiba-tiba Jin menginterupsinya. "A-apa?"
"Kau mau pesan apa, Sayangku?", tanya Jin gemas setelah tak kunjung mendapat jawaban dari Luhan.
"Yak!", protes Luhan mendengar panggilan menggelikan dari Jin barusan. Sungguh! Apa lelaki itu habis terbentur sesuatu?
"Makanya kau mau pesan apa? Aku memanggilmu seribu kali, tahu!"
"Ck, berlebihan! Aku pesan jus tomat saja.", ucap Luhan dan segera di catat oleh waitress.
"Makanannya?"
"Tidak usah. Aku tidak lapar."
"Oke. Aku juga tidak makan kalau begitu."
"Apa-apaan? Kau bilang kau lapar jadi menculikku disini."
Jin mengendikkan bahu dan Luhan melengos. Tanpa sengaja Luhan melempar pandangan ke Oh Sehun,dan sengaja atau tidak, pria itu juga memandang ke arahnya. Luhan berpura-pura tidak memandangnya juga, meski ia setengah mati menahan debaran gila jantungnya.
Lalu Luhan tidak tahu harus bagaimana, saat pria yang sempat dibencinya itu berjalan ke arahnya lengkap dengan mata elang nan tajam ala Oh Sehun.
"Kalau kau tidak lupa, kita belum mengakhiri semuanya. Akhiri dulu, dan kau bisa berkencan sepuasmu."
Dan Luhan merasakan harga dirinya runtuh dan mood-nya kembali turun di level terendah. Lihatlah, bagaimana pria itu dengan mudah memberi isyarat untuk mengakhiri hubungannya dengan Luhan, seolah hubungan mereka sebatas dua orang yang berkenalan di dalam bus lalu berpisah karena turun di halte berbeda. Ia juga -tetap- tidak merasa bersalah sedikitpun pada Luhan dan berusaha mempertanggungjawabkan ucapannya tadi.
Oh Sehun memang ahli dalam menyakiti perasaan Xi Luhan.
...
"Luhan!"
Luhan tersentak dan mencoba fokus pada Jin yang berada disampingnya, ikut Luhan menunggu sopir pribadinya untuk menjemput. Lelaki itu menunjukkan telapak tangannya dengan ekspresi kesal.
"Lima kali. Kau sudah lima kali mengacuhkan panggilanku. Sebenarnya apa yang kau pikirkan?",tanyanya lalu menyilangkan tangannya di depan dada.
Luhan yang merasa bersalah hanya menunjukkan senyum paksanya. "Mian, Jin. Mood-ku sangat buruk, tidak seharusnya kau terkena imbasnya."
Jin menghembuskan nafas dan mengibaskan tangannya sekali. "It's okay. Aku juga salah telah membuat kekasihmu cemburu."
Mendengar itu Luhan sontak menoleh, seolah ucapan lelaki itu menggunakan bahasa planet yang tidak ia mengerti. Cemburu? Yang benar saja! Kalau saja Jin tahu kalau Luhan dan Sehun terlibat perjodohan dan mungkin sebentar lagi akan kandas, maka tidak mungkin ia berfikiran Sehun akan mengalami hal seperti itu –cemburu-. Well, Jin tidak perlu tahu karena Luhan merasa belum cukup dekat dengan Jin. Mereka hanya sebatas teman sekolah, yang kebetulan bertemu secara tidak sengaja, ditambah dengan sifat ramah Jin yang membuatnya dan Luhan terlihat akrab.
"Dia tidak akan cemburu. Tenang saja.", ucap Luhan.
Ya, dan sebaiknya jangan berharap Sehun akan cemburu, Luhan. Hatinya memberontak memperingati.
"O-oh! Apa kalian…"
"Aku tidak ada hubungan dengannya lagi." Luhan mengalihkan fokus matanya ke arah lain selama tidak melihat Jin. Luhan tahu jawabannya tidak memuaskan rasa penasaran Jin. Akan tetapi Jin, yang memang tidak berniat mencampuri urusan Luhan dan kekasihnya, hanya mengendikkan bahu. Mau Luhan berhubungan atau tidak dengan pria tadi, Jin merasa itu bukan haknya untuk mencari tahu.
"Ah, jatuh cinta memang merepotkan. Itulah mengapa aku tidak ingin punya kekasih."
Luhan tersenyum tipis menanggapi ucapan Jin. Luhan baru sadar bahwa lelaki itu sangat pintar menghibur Luhan dengan ucapannya yang asal-asalan. Mungkin Jin benar, jatuh cinta memang merepotkan. Apalagi mencintai seseorang yang tidak pernah mengharapkanmu untuk hadir di hidupnya.
Namun entah kenapa hati Luhan tidak menyesali perasaannya terhadap Sehun, meskipun yang Luhan dapatkan bukanlah kebahagiaan yang Luhan impikan.
…
Luhan memasuki rumah bak istana milik keluarganya yang tampak sepi. Orangtuanya masih belum pulang dari perjalanan bisnis di luar kota dan Yixing sepertinya asyik di kamarnya. Luhan tidak berniat melihat adiknya seperti yang selalu ia lakukan setiap malam. Entah mengganggu Yixing bermain game atau malah membantunya mengerjakan tugas sekolah, terlebih dengan penampilan dan raut wajahnya yang jauh dari kata baik-baik saja. Luhan merasakan kelelahan disekujur tubuhnya. Ia segera menghempaskan tubuhnya di ranjang kesayangannya dan mencoba memejamkan mata. Mencoba mengusir rasa sesak yang masih bersarang diparu-parunya.
Tapi tidak berhasil, selanjutnya Luhan justru mengubah posisi tubuhnya menjadi meringkuk. Tangannya memeluk tubuhnya sendiri dan tangisan mulai memenuhi ruangan kamar luas itu.
"Mama… aku harus bagaimana? Hiks…", gumamnya lirih. Isakan mulai terdengar dan bahunya bergetar. Luhan tidak menyukai dirinya yang lemah, tapi mau bagaimana lagi? Hal yang membuatnya lemah hanyalah keluarganya dan Sehun. Oh Sehun, Luhan tidak habis fikir bagaimana bisa dirinya terjatuh begitu dalam pada lelaki tak berperasaan itu? Harusnya Luhan tidak selemah ini untuk menghabiskan air matanya demi lelaki yang tidak sedikitpun menaruh perhatian kepadanya.
Dan tiba-tiba Luhan menyesal kenapa perjodohan itu harus terjadi kepadanya. Seandainya dua bulan yang lalu tidak ada perjodohan, atau seandainya pria yang dijodohkan dengannya bukanlah Oh Sehun, Luhan yakin dirinya tidak akan sesakit ini. Oh Sehun terlalu sulit untuk Luhan gapai meskipun dengan jalan perjodohan sekalipun.
"Mama…"
Drrt… Drrt…
Seperti sebuah keajaiban, ponsel Luhan bergetar dan menampilkan nama sang Mama sebagai penelponnya. Luhan bergegas menghapus aliran air matanya dan mengatur suaranya sebaik mungkin agar sang Mama tidak mengetahui dirinya sedang menangis. Menangis karena pria yang diinginkan orangtuanya untuk mendampingi Luhan.
"Mama!", sapa Luhan dengan nada ceria dipaksakan.
"Luhan-ah! Kau tidak apa-apa?"
Jika seseorang pernah mengatakan bahwa ibu dan anak memiliki ikatan batin yang kuat, maka Luhan sangat menyetujuinya. Terbukti dari sang Mama yang tiba-tiba menelepon dan tanpa membalas sapaan Luhan langsung menanyakan kondisi Luhan. Membuat Luhan ingin menangis kembali, karena merasa bersyukur memiliki Mama, orang yang sebisa mungkin Luhan jaga perasaannya.
"T-tidak. Aku tidak apa-apa, Ma. Memangnya ada apa denganku?"
"Syukurlah. Firasat Mama tidak enak, Mama kira terjadi sesuatu padamu."
Luhan menggeleng pelan, dan ia sadar bawa Mama-nya tidak akan bisa melihat. Jika saja Mama tahu bahwa Luhan juga merasakan firasat buruk yang menghinggapi sejak kemarin. Tapi Luhan tidak ingin membuat Mama-nya memikirkan hal buruk yang belum tentu terjadi. "Mungkin hanya perasaan Mama saja."
"Mungkin saja. Mama juga menelepon Yixing, dan adikmu bilang juga tidak apa-apa. Syukurlah!"
"Hmm."
"Yasudah. Mama jadi lebih tenang sekarang."
Luhan terdiam cukup lama sebelum memutuskan untuk mengatakan sesuatu yang mengganjal dihatinya. Mulutnya gatal untuk bicara tetapi ia harus mencari kata-kata yang tepat untuk menyampaikannya kepada sang Mama. "Ma…"
"Hm? Ada apa sayang?"
"Aku ingin mengatakan sesuatu." Luhan menghela nafas. "Mengenai Sehun."
"Oh ya!" Luhan mendengar Mama-nya memekik. "Bagaimana keadaan Sehun? Dia baik juga, kan? Apa hubungan kalian semakin dekat?"
Luhan meringis membayangkan ekspresi yang tercetak di wajah Mama, mendengar suara antusiasnya saja membuat Luhan yakin Mama-nya tidak menginginkan perjodohan yang telah disepakati menjadi berakhir. Luhan tidak ingin Mama kecewa tapi Luhan juga sudah tidak bisa membiarkan perasaannya tersakiti oleh orang yang sama berulang kali. Karena itulah, keinginan untuk mengakhiri hubungannya dengan Sehun terus menyeruak di akal sehatnya walaupun dengan konsekuensi yang Luhan tahu pasti apa itu.
"Luhan?"
Luhan terkesiap. Sang Mama terdiam di ujung telepon, menandakan bahwa dirinya menunggu ucapan Luhan selanjutnya. "Bolehkah aku… mengakhirinya saja?"
Mama terdiam cukup lama dan Luhan menunggu reaksi sang Mama dengan dada berdebar hebat. Apakah Mama akan menyetujui keputusannya, atau sebaliknya?
"Kenapa, Lu?",tanya Mama dengan nada lirih.
"A-aku… aku tidak mencintainya lagi, Ma." Luhan mencoba berbohong meski tidak yakin Mama akan mempercayai ucapannya.
"Jangan membohongi Mama, Luhan! Kau sangat mencintai Sehun. Katakan sejujurnya, hm?"
"Mama… hiks!" Luhan tahu dirinya tidak akan mampu membohongi Mama. Mama lebih mengerti Luhan daripada
Luhan memahami dirinya sendiri. Luhan tidak sanggup menahan air matanya hingga ia kembali menangis. Tangisan Luhan seolah menjadi jawaban bagi Mama, bahwa putrinya mengalami kesedihan yang tidak bisa ia ungkapkan melalui telepon. Putrinya membutuhkan pelukan sayang sebagai kekuatan, dan hal itu tidak bisa Luhan dapatkan hanya melalui telepon.
"Sudah, jangan menangis, hm? Besok Mama dan Baba akan pulang, dan Mama janji akan mendengar cerita Luhannie sampai selesai, oke?"
"Hmm…", gumam Luhan dan ia sontak teringat orangtuanya akan pulang besok. Luhan terlalu larut dengan kesedihannya hingga lupa sumber kebahagiaannya yang sangat ia rindukan selama berminggu-minggu akan kembali ke rumah.
"Jangan terus memikirkannya, hm? Simpan kerisauanmu hingga besok. Tidurlah dengan nyenyak, jangan makan dan masuk kuliah. Jangan lupa tanggung jawabmu sebagai mahasiswi, hm?"
"Arasseo."
"Mama tutup, ya? Bye!"
"Oke. Titip salam untuk Baba, Ma!"
KLIK!
Luhan meletakkan kembali teleponnya dan merubah posisinya menjadi telentang. Berbicara dengan Mama nyatanya mampu meringankan beban Luhan, dan itu sangat disyukuri oleh Luhan. Seperti biasa Mama selalu mengingatkan Luhan dengan tanggungjawabnya. Mama adalah seorang ibu yang lembut namun tegas, jika Luhan melepaskan tanggungjawabnya maka Luhan harus menyiapkan diri dari ketegasan sang Mama yang tidak main-main.
Apa yang kau maksud dengan tidak mendidikku dengan benar, Oh Sehun?
…
"Dan jika aku bunuh diri, aku tidak akan membiarkan mayatku merepotkanmu. Aku akan meminta kepada siapapun sebelum aku mati, kalau aku tidak mengizinkanmu melihat mayatku barang sedetikpun!"
Sehun membalikkan tubuhnya berulang kali, mencari posisi yang paling pas untuk menyambut mimpi, dan lampu disisinya juga sudah dimatikan. Seharusnya ia bisa lebih cepat terlelap akibat rasa lelahnya bekerja, tapi entah kenapa otaknya yang bekerja seharian tetap bekerja hingga sekarang. Bagaimana caranya terlelap jika otaknya tanpa perintah masih memproses kejadian yang ia alami hari ini, termasuk kedatangan Luhan yang tiba-tiba dan menumpahkan amarah.
"Atas nama orangtuaku, aku minta maaf. Mungkin mereka memaksamu untuk menikahiku, tapi bukankah mereka memberimu kesempatan memilih? Kau bisa menolakku, dan semuanya berakhir. Kau bisa mencari seseorang yang sesuai dengan 'keinginan'-mu."
"Aku mendengar hinaanmu pada Baba dan Mama-ku! Berengsek kau, Oh!"
"ARGGHH! SIALAN!"
Sehun melemparkan selimutnya dengan keras. Badannya terduduk dan ia tidak memiliki nafsu untuk tidur sedikitpun. Bayangan Luhan dengan ekspresi kecewa itu tergambar jelas di kepala Sehun, dan Sehun tidak tahu harus bagaimana lagi untuk mengenyahkan gadis itu dari pikirannya. Bahkan suara bergetar Luhan masih bisa Sehun dengar dengan jelas. Apa gadis itu tidak lelah terus berputar di pikiran Sehun sejak tadi siang?
Sehun menggeram kesal, bangkit dari ranjang dan beranjak menuju dapur. Ia memerlukan setidaknya satu gelas air mineral untuk menghilangkan perasaan aneh yang tiba-tiba merasuki rongga dadanya. Sehun merasakan itu, rasa bersalah yang belum pernah Sehun rasakan selama ia mengenal Luhan. Padahal selama ini Sehun sering melakukan tindakan yang lebih dari ucapan tajam, tapi detik ini Sehun merasakan bersalah setelah melihat genangan air mata Luhan dari ekor matanya.
"Oh, Tuan Muda." Seorang pelayan memergoki Sehun di dapur tengah malam. Pelayan wanita itu lalu menunduk dan berniat meninggalkan Sehun sebelum Sehun menahannya dengan kalimat perintahnya.
"Buatkan aku susu hangat. Dan antarkan ke kamarku."
"Baik, Tuan."
Sehun lantas pergi menuju kamarnya kembali. Dan beberapa menit kemudian, seseorang mengetuk pintu kamarnya untuk memberikan segelas susu hangat sesuai perintahnya. Sehun menghabiskan susu itu dalam waktu singkat, dan berupaya untuk menggapai mimpinya kembali. Berharap agar susu hangat bisa membawanya tertidur tanpa perlu menenggak obat tidur. Sehun tidak memerlukannya.
"Kalau kau tidak lupa, kita belum mengakhiri semuanya. Akhiri dulu, dan kau bisa berkencan sepuasmu."
Dan berikutnya tetaplah sama. Dan kini Sehun semakin menyadari kebodohannya akibat ucapannya tadi di restoran. Bukannya meminta maaf telah menghina orangtua Luhan, Sehun justru menambah kesalahannya dengan bantuan mulut tajamnya. Entah apa yang membuat Sehun memberanikan diri untuk mendatangi Luhan dan menumpahkan kekesalannya yang tak beralasan. Sehun merasakan kakinya bergerak menuju Luhan tanpa sadar kala itu, tepat saat Luhan duduk berdua dengan lelaki yang tidak Sehun kenali.
"Arrghh!" Sehun kembali mengerang, merasakan kepalanya berdenyut seolah melarangnya untuk jatuh tertidur dan berujung menyiksa Sehun tanpa sadar. "Sebenarnya apa yang kau lakukan padaku, Xi Luhan?!"
…
Esoknya Luhan kembali beraktifitas seperti biasa. Ia masih tidak bersemangat dan matanya masih nampak sembab, membuktikan bahwa Luhan tidak menuruti perintah Mama untuk tidur dengan nyenyak.
"Sudah siap Nona?", tanya sang sopir saat melihat Luhan keluar dari rumah lengkap dengan pakaian sopan dan tas kuliahnya.
"Hm." Luhan menjawab seadanya dan bergegas memasuki mobil sebelum seseorang mencegat lengannya. Mata Luhan membulat, lalu kembali memasang ekspresi datar.
"Ada apa, Oh Sehun?"
Tanpa sadar tangan Sehun mengepal di kedua sisi tubuhnya. Telinganya merasa asing saat Luhan mengucap nama lengkap Sehun dalam nada datar. Nada yang persis saat Luhan berada di kantornya kemarin siang.
"Aku ingin minta maaf, atas ucapanku kemarin.", ucap Sehun dengan kesungguhan di kedua matanya. Ia sungguh merasa bersalah, dan keinginan untuk meminta maaf ini murni dari otaknya yang tetap bekerja sepanjang malam dan melarangnya untuk tidur hingga pukul empat pagi. Tanpa paksaan dari orang tua Sehun yang memang tidak mengetahui masalah ini.
Luhan jelas menemukan binar kesungguhan di mata Sehun, tapi saat melihat pria itu Luhan kembali merasakan hatinya berdenyut. Ucapan tajam pria itu masih memenuhi pikiran Luhan.
"Kau tidak perlu meminta maaf padaku, tapi pada orangtua-"
"Bukan hanya soal orangtuamu, tapi juga tentangmu. Aku minta maaf." Sehun menyela.
Luhan tersenyum mengejek. Terus terang hatinya sedikit melambung mendengar permintaan maaf tulus Sehun. Tapi hal itu tidak berlaku lama karena Luhan tidak terlalu berharap Sehun meminta maaf karena memiliki perasaan lain untuknya.
"Ya. Aku memaafkanmu.", ucap Luhan. "Bersabarlah, aku akan membujuk Mama dan Babaku dan setelah itu, aku akan mendatangi orangtuamu."
Ucapan Luhan sontak membuat Sehun terkejut. "Untuk?"
"Sudah jelas, bukan? Menyelesaikanurusan kita, atau lebih jelasnya mengakhiri perjodohan bodoh kita berdua."
.
.
.
TBC!
.
.
I'm sorry for late post! *deep bow*
Fiuhh akhirnya nyampek chapter 4, maaf banget kalo nggak memuaskan karena bikinnya ngebut banget! Padahal kemaren bilangnya tinggal naruh TBC, ternyata ada beberapa scene yang aku ubah dan ujungnya harus merubah tulisannya juga.
Daaann REVIEWERS-nya udah nyampek 120+ huweee aku jadi terharuuu~~ *cry*. Aku gak nyangka yang minat banyak juga, padahal ff ini aku buat iseng dan belum nemu titik terangnya (?) alias endingnya gimana *hikseu*. Sumpah reader-nim sekalian, aku TERIMA KASIH BANGET! Aku thium thatu thatu yaa *kiss*
Keep RCL yaa~ aku seneng bgt kalo karyaku bisa dihargai. Thanks!
