Thousand Shades of Lie

Disclaimer: I own nothing but plot.


Draco berjalan menuju tempat pertemuan yang hanya berjarak 2 blok saja dari kawasan rumahnya. Suara gonggongan anjing sayup-sayup terdengar. Entah mengapa ia merasa sedang diawasi, dihantui. Ah sudah lah masa bodoh, jelas Draco merasa dihantui. Dihantui rasa bersalah karena sudah berbohong lebih tepatnya. Langkahnya cepat menyusuri trotoar, melewati segerombolan orang yang menghabiskan waktu malam mereka di luar rumah.

Setelah berjalan selama kurang lebih 10 menit. Akhirnya ia sampai di tempat tujuan. Ia menghela nafas, CAFÈ DU MONDE COFFE AND PATTISERRIE. Terpampang jelas di kaca depan kafe tersebut.

Here we go, Draco Malfoy. Ia membuka pintu cafe bergaya vintage tersebut dan langsung disambut dengan wangi espresso yang mencolok. Melihat sekeliling ia memutuskan untuk duduk di bar saja, lagipula ini bukan pertemuan untuk bebicara santai-santai, tak perlu mencari spot yang nyaman. Yang terpenting adalah bertemu dengan orang yang meneleponnya siang tadi.

"Mau pesan apa?" tanya waitress.

"Black Coffe"

"Anyhing else?"

Draco menggeleng. Waitress tersebut berbalik dan bergegas meracik kopi hitam pesanan Draco.


5 minutes later.

Waitress tadi kembali datang membawa pesanan Draco, aroma kopi yang kuat tercium dari cangkir tersebut. Hal yang paling disukainya adalah asap yang mengepul di atas kopi tersebut, menandakan kopi tersebut fresh, baru diracik. Draco tidak mengerti mengapa orang-orang menyukai iced coffe. Justru menurutnya, Kopi yang lezat adalah kopi yang original, yang diseduh dengan air panas.

Draco menyesap kopi hitam tadi tanpa menambahkan gula dan creamer yang disediakan oleh waitress dan menaruh cangkir kopi tersebut kembali ke tempatnya semula. Dalam waktu yang sama, Draco melihat tangan terjulur tepat dihadapannya menaruh folder yang kini sudah mendarat disamping cangkir kopinya.. Ia mendongak ke atas dan mendapati lelaki berbadan tegap itu telah berada menatap balik ke arah Draco lalu mengangguk dan memanggil waitress.

"Whiskey, dan segelas es batu" suara beratnya memerintah si pelayan.

Pelayan tersebut bertanya "Yang lainnya, sir?"

"Oh ya, aku minta gelas kecil yang kosong"

Pelayan tersebut hanya mengangguk.

Tanpa menghiraukan percakapan si waitress dan si lelaki. Draco meraih folder coklat tersebut dan membukanya perlahan, terdapat kertas-kertas, foto, dan kartu-kartu. Ia memperhatikan semuanya dengan seksama. Namun, Draco tertarik pada satu foto. Tunggu. Draco memastikan kembali dan melihat kartu-kartu identitas yang ia lihat sebelumnya, hmmm. Seorang wanita.

Seakan bisa membaca pikirannya. Orang dihadapannya berkata

"Ia memang seorang wanita tapi kau harus berhati-hati Draco. Jangan remehkan dia."

Draco tak menjawab, terus membaca kertas dihadapannya dan menatap beberapa foto wanita tersebut yang diambil dari jauh. Tidak terlalu jelas tapi ia berambut blonde, sama seperti dirinya. Ia membaca data yang lain. Tingginya 168. Sniper. Pernah terlibat beberapa kasus di Israel, Amerika, Jerman. Lahir di Russia. Ha! Benar-benar tipikal wanita agen rupanya. 9 bulan lalu terlihat di Italia.

"Kita masih terus melacak lokasi pastinya, berhati-hati Draco, kita tidak tahu. Bisa saja malam ini mereka mengetahui dan mengirim mata-mata kerumahmu"

"Ini fotonya 9 bulan yang lalu. Bisa saja dia sudah berubah menjadi wanita dengan wajah lain. Berambut coklat misalnya? Bertubuh gendut? Aku butuh data yang lebih akurat" ujar Draco.

Waitress tadi datang kembali dan menaruh 1 botol dan 2 gelas dihadapan lelaki tadi. 1 gelas berisi es batu satu gelas kosong.

"Untuk itu besok kita harus bertemu kembali" laki-laki tadi merendahkan suaranya sambil menuang whiskey dan memasukan es batu.

"Sebenarnya, apa yang mereka lakukan kali ini?" tanya Draco "Ya, kau tahu maksudku, apa yang membuat mereka lari ke London?"

"Ya, Draco. Well kau memang cerdas. Sebenarnya mereka mencuri sebuah Lukisan, dan lukisan itu sekarang berada pada wanita tersebut, kaki tangan yang paling dipercaya" lelaki tadi meneguk whiskey nya.

"Lukisan?" Draco bertanya heran.

"Ya, Lukisan dari Kröller-Müller Museum. Lukisan Van Gogh."

"Kau pasti familiar dengan lukisan Caffe Terrace At Night. Jadi seminggu yang lalu petugas museum mengeluarkan lukisan tersebut dari display, kau tahu pembersihan rutin 3 bulan sekali. Ternyata, selama ini lukisan yang mereka pajang itu palsu, ada yang menukarnya, Draco. Kau tahu lukisan itu berharga jutaan bahkan miliaran euro" lelaki tersebut memelankan suaranya agar hanya ia dan Draco yang dapat mendengar pembicaraan ini.

"Lalu mengapa aku yang harus melakukan tugas ini?" ujar Draco tak nyaman.

"Dengarkan dulu penjelasanku. Sesaat setelah mengetahui hal tersebut. Pemerintah Belanda langsung melakukan penyelidikan dan ternyata tersangkanya mengarah kepada orang yang kabarnya kini tengah berada di London. Teman lama kita, si Voldie lah yang melakukannya, dan nampaknya wanita ini yang ditugaskan menyembunyikan lukisan tersebut. Jadi, mereka meminta bantuan dari Intelegen Inggris. Dan sesaat setelah mendapat perintah ini aku yakin kaulah orang yang tepat Draco. Kau pasti ingin balas dendam kan? Dendam mu terbalaskan, kau akan mendapat bintang jasa, dan kau akan lebih cepat menghabiskan waktu dengan istrimu"

Draco mengembuskan nafasnya.

"Rasanya aku tidak terlalu butuh bintang jasa" Draco menjawab malas.

"Okay, pikirkan baik-baik. Dendam mu terbalaskan dan kau akan membantu negara menangkap penjahat kelas kakap. Bisa dibilang kau akan jadi pahlawan untuk kita semua"

"Hmmm.. ..."

"Kau harus hati-hati. Sekarang belum ada yang menyadari kalau kita sedang memburu mereka, kalau sampai mereka menyadari, kejadian tahun lalu bisa terulang" lelaki tadi bicara lagi sambil menuang kembali whiskey ke gelasnya yang kini telah kosong.

Draco tidak suka membahas masa lalunya.

"Baiklah, aku tidak bisa berlama-lama. Aku meninggalkan istriku dirumah." ujar Draco sambil terus membolak-balik folder tadi.

"Kau masih menyimpan Revolver mu, kan?"

"Tentu saja, bodoh. Setiap hari aku memang masih bekerja di intelejen. Hanya saja, aku tidak bertugas lapangan" ujar Draco.

"Oh, rupanya memiliki istri membuatmu betah dirumah ya" ujar pria tadi mencoba mencairkan suasana.

"Yaa, seperti itulah. Kau bisa merasakannya jika sudah menikah"

"Ha ha menikah terdengar tidak menyenangkan kalau itu hanya menghalangimu melakukan tugas. Oh, baiklah, sampaikan salamku pada istrimu" lelaki tadi tertawa kering.

"Pergilah, kalau tidak ada lagi yang perlu disampaikan. Kau begitu membosankan" Draco berkata ketus.

"Everton Avenue 13, terlihat seperti barbershop. Tapi kau masuk saja dan cari Mr Greg, Draco. Pukul 09 pagi" lelaki tadi berbicara tegas. "Bakar Folder ini segera setelah kau selesai membacanya" tambahnya memerintah. Lelaki tadi berdiri, mengeluarkan 2 lembar uang, menaruhnya di atas meja bar dan menghilang dibalik pintu.

Tidak ada alasan berlama-lama ditempat ini, pikir Draco. Ia meneguk kopi nya yang sudah dingin dan membayar kepada si waitress. "Ambil kembaliannya" Ujar Draco sambil berjalan meninggalkan cafe tersebut sambil membawa folder coklat ditangannya.


Selesai! Terimakasih untuk yang sudah baca cerita ini, memasukan ke list follow/fav kalian dan terimakasih u tuk yg mereview!

untuk guest yang bertanya tentang cerita ini aku memang terinspirasi dari film detektif seperti The Tourist, Kingsman, Mission Impossible, Mr&Mrs Smith, Davinci code, James Bond dan lain lain. Tapi untuk akhirnya aku juga belum tahu.. Apakah berakhir manis seperti Mr dan Mrs Smith atau berakhir sadis? Makanyaa baca dan review terus ya! :)