Memories.

.

.

.

Typo it's my style

.

.

.

"Haahhh." Helaan nafas lelah terdengar dari sosok pria yang kini tengah duduk di meja kerjanya.

Seseorang yang baru saja datang dengan sekotak susu ditangannya dan meletakkannya di atas meja si pria itu.

"Minumlah paman." Ucap pemuda itu dengan senyumannya.

Pria paruh baya itu mendongak melihat pemuda yang kini berdiri di depannya.

"Apa kau masih memikirkan gadis bernama Soo Kyung itu?" Tanya si pemuda itu.

"Hm." Gumam pria paruh baya itu menjawab pertanyaan dari si pemuda itu.

"Lupakanlah paman. Dia mungkin baik-baik saja sekarang. Lagipula dia itu melarikan diri bukan diculik." Kata pemuda itu yang mencoba mengingatkan.

"Entahlah. Aku tidak tahu kenapa aku sangat mengkhawatirkan gadis itu. Sepertinya dia gadis yang malang." Ucap pria itu dengan pandangan mata kosong yang tetap menatap lurus ke depan.

"Lebih baik kau pulang dan istirahat. Lihatlah rambutmu sudah mulai memutih." Saran pemuda itu.

"Rambutku sudah memutih sejak Kyungsoo SMP!" Balasnya yang mulai kesal.

Junmyeon, nama pemuda itu. Ia hanya terkikik geli melihat pamannya yang kesal.

"Ah, ngomong-ngomong soal Kyungsoo aku jadi merindukannya. Sudah beberapa hari ini aku tak mengunjunginya." Ucap tuan Do, pria paruh baya itu.

"Kalau bisa mengunjunginya besok paman." Kata Junmyeon mengingatkan.

"Aku akan menjenguknya sekarang dan sepertinya aku harus tidur bersama putriku malam ini." Ucap tuan Do dengan senyumannya.

"Sekarang sudah malam paman. Jika kau tidur di sana lagi maka, kau akan dikira mayat dan mereka akan menguburmu." Peringat Junmyeon.

"Itu ide yang bagus! Jadi aku bisa bertemu Kyungsoo dan ibunya!" Jawab tuan Do.

"Paman!" Kesal Junmyeon.

"Aku tahu, jangan berteriak kau membuatku semakin tuli." Gurau tuan Do.

Junmyeon merasa gila jika harus menghadapi kelakuan pamannya yang sangat merindukan putrinya itu. Ia merasa kasihan dengan pamannya itu, ia sangat tahu perasaan pamannya yang terasa hampa tanpa belahan jiwa ataupun malaikat kecilnya.

Bahkan tidak hanya pria paruh baya itu. Ada satu orang lagi yang begitu kesepian saat kepergian Kyungsoo. Bahkan pemuda yang dulunya hangat itu kini menjadi dingin dan acuh. Ia tak perduli apa yang terjadi pada sekitarnya.

Tapi entah kenapa akhir-akhir ini pemuda itu sudah jarang menjenguk ayah Kyungsoo. Apa pemuda itu sedang sibuk? Atau...

"Paman, apa Jongin tahu jika kau mengoperasi wajah seseorang menjadi mirip Kyungsoo?" Tanya Junmyeon.

Tuan Do yang sudah melepas jas putihnya dan akan bersiap pergi itu pun menatap Junmyeon dengan tatapan bingungnya.

"Aku tidak memberitahunya. Mungkin dia juga tak mengetahuinya." Jawab tuan Do.

"Kenapa?" Tanyanya.

"Tidak hanya bertanya saja." Jawab Junmyeon.

.

.

.

Mobil sedan berwarna hitam kini terparkir di depan sebuah mansion yang sangat mewah. Sosok dari dalam mobil itu keluar dengan santainya menuju ke dalam mansion tersebut.

Ia melangkahkan kakinya menyusuri mansionnya. Ia memberikan tasnya pada maid yang berada di sana. Dengan langkah lebarnya, ia menaiki tangga yang terdapat di dalam mansion itu.

Suara pintu berdenyit saat dibuka oleh seseorang yang disertai ketukan sepatu fantofel pada lantai yang terlihat mengkilap.

Saat pintu itu terbuka, ia melihat sosok gadis yang tengah menjelajahi mimpinya. Gadis itu terlihat begitu damai dengan tidurnya.

Pintu itu kembali berdenyit saat ditutup. Dan suara ketukan sepatu itu semakin terdengar, mendekat ke arah sosok gadis itu.

Ia mulai berjongkok guna dapat melihat wajah manis gadis itu yang sedang terlelap. Perlahan-lahan tangannya mulai terulur menyentuh surai kelam gadis itu, mengusapnya dengan lembut tanpa berniat membangunkan pemiliknya.

Tak berhenti disitu, ia juga mengusap pipi tembam nan halus milik gadis itu.

"Jongin?" Panggil gadis itu yang kini justru membuka matanya.

"Apa aku membangunkanmu?" Tanya Jongin.

Gadis itu menggeleng menjawab pertanyaan Jongin.

"Lalu?" Tanya Jongin lagi.

"Eum...aku sedikit kedinginan, bisakah kau mengatur suhu ACnya?" Tanya gadis itu dengan menatap Jongin ragu.

Bukannya menuruti permintaan gadis itu, Jongin justru membaringkan dirinya di samping gadis itu dan memeluknya dengan posesif.

"Apa yang kau lakukan?" Tanya gadis itu yang terlihat bingung.

"Menghangatkanmu." Kata Jongin yang memeluk erat gadis itu dengan mata yang terpejam.

Entah kenapa, jawaban Jongin membuat gadis itu merasa tersipu. Bahkan kini wajahnya sudah memerah.

Jongin yang tak mendapat jawaban apapun dari gadis itu, kini membuka matanya. Melihat wajah gadis itu yang memerah membuatnya merasa gemas sendiri.

"Aku hanya ingin memelukmu." Katanya lagi.

"Aku merindukanmu Kyungsoo." Lanjutnya.

Gadis yang dipanggil Kyungsoo itupun semakin memerah karena ungkapan Jongin.

"Kenapa?" Tanya Jongin yang melihat Kyungsoo terus terdiam.

Kyungsoo menggeleng menjawab pertanyaan Jongin. Ia kemudian menatap pemuda itu.

"Apa kau baru pulang?" Tanya Kyungsoo.

"Hm." Jawab Jongin yang juga menatap Kyungsoo.

"Apa kau sudah makan malam?" Tanya Kyungsoo lagi.

"Hm." Dan lagi-lagi Jongin hanya berdehem menjawab pertanyaan Kyungsoo.

"Mandilah." Pinta Kyungsoo.

"Tidak perlu." Jawab Jongin yang kini semakin mengeratkan pelukannya dan membenamkan kepalanya pada ceruk leher Kyungsoo.

"Mandilah Jongin, kau bau." Kata Kyungsoo.

"Aku ingin tidur dan memelukmu." Ucap Jongin.

"Aku tidak mau. Kau bau kertas dan bulpen!" Kata Kyungsoo yang berusaha melepaskan pelukan Jongin.

Jongin yang mendengar itu, menautkan kedua alisnya seolah bertanya pada Kyungsoo apa maksud gadis itu.

"Apa aku salah? Kau CEO jadi tugasmu membaca, mengecek dan menandatangani dokumen kan?" Tanya Kyungsoo yang tampak ragu karena ditatap Jongin seperti itu.

Jongin yang mendengar itu hanya tersenyum tipis dan mengecup bibir Kyungsoo yang berbentuk hati itu.

"Aku akan mandi." Kata Jongin yang masih memeluk Kyungsoo.

"Tapi besok pagi." Lanjut Jongin.

Kyungsoo hanya mematung karena masih syok dengan ciuman yang diberikan oleh Jongin. Ia memegangi bibir dan dadanya yang berdetak tak normal. Entah kenapa Kyungsoo tak mengerti, ia tak mengingat semuanya, ia merasa baru pertama kali melihat Jongin bahkan ia merasa canggung dengan pemuda itu tapi entah kenapa jantungnya bisa berdetak tak karuan.

Jongin yang sedari tadi memeluk Kyungsoo kini menundukkan wajahnya untuk melihat wajah Kyungsoo yang berada di dadanya.

"Kenapa? Apa ada yang sakit?" Tanya Jongin khawatir.

Kyungsoo yang mendengar pertanyaan Jongin segera tersadar pada dada bidang Jongin dan menggelengkan kepalanya dengan senyum manisnya.

Jongin kembali memeluk erat gadis itu dan membelai lembut surai gadis itu. Tak hanya itu, ia bahkan sesekali mengecup pucuk kepala gadis itu hingga akhirnya keduanya terlelap tidur.

.

Kicauan burung dipagi hari adalah nyanyian yang paling indah. Cahaya matahari pagi tampak menerobos celah-celah jendela yang bahkan masih tertutup dengan sebuah gorden.

Sosok gadis mungil masih terlelap damai di dalam tidurnya. Ia bahkan tak menghiraukan sinar hangat sang mentari yang menerobos jendelanya itu.

Namun saat gorden itu dibuka dan sang mentari semakin menerobos masuk, saat itu pula sosok gadis mungil itu mengerjapkan matanya karena merasa terganggu dengan sang mentari.

"Kau sudah bangun?" Tanya seorang pemuda yang kini berdiri di samping gadis itu.

Gadis itu masih mengerjapkan matanya bahkan sesekali mengucek matanya agar dapat membuka sempurna.

Pemuda itu segera mengambil posisi duduk di tepi ranjang di samping gadis itu. Dengan lembut pemuda itu mengelus surai panjang sang gadis. Dan gadis itu kini menegakkan tubuhnya dengan bersandar pada headboard ranjang.

"Kau akan pergi bekerja?" Tanya gadis itu saat matanya sudah benar-benar terbuka.

"Hm. Apa tidurmu nyenyak?" Tanya pemuda itu.

Gadis itu hanya menganggukkan kepalanya menjawab pertanyaan pemuda itu.

"Kau akan pulang jam berapa?" Tanya Kyungsoo, gadis itu.

"Kenapa?" Tanya Jongin, si pemuda itu.

"Tidak, aku hanya merasa kesepian saat kau pergi." Jawab Kyungsoo dengan menunduk dan terdengar helaan nafas.

"Aku akan pulang sore nanti." Kata Jongin dengan mengusap lembut surai Kyungsoo.

"Benarkah?" Tanya Kyungsoo yang tampak berbinar.

"Hm." Jawab Jongin.

"Kakiku rasanya masih sangat kaku." Adu Kyungsoo dengan memajukan bibirnya beberapa centi yang seolah ingin bersikap manja pada Jongin.

Mendengar itu, Jongin segera mengarahkan tangannya untuk memijat kaki mungil Kyungsoo. Kyungsoo yang melihat itu tentu saja merasa terkejut dengan perlakuan Jongin.

"Aku akan meminta bibi Song memijatmu dan melatihmu berjalan." Kata Jongin yang masih memijat kaki Kyungsoo.

"Terima kasih." Ucap Kyungsoo dengan senyuman manisnya.

"Sudah cukup. Nanti kau akan terlambat." Kata Kyungsoo yang berusaha mengingatkan.

Jongin yang mendengar itu segera menghentikan aktivitasnya memijat kaki Kyungsoo. Kemudian ia melihat gadis itu.

"Lihatlah kemejamu sudah mulai kusut." Kata Kyungsoo lagi.

"Kemari..." Pinta Kyungsoo.

Jongin yang melihat itu hanya menurut dan mendekat ke arah Kyungsoo.

Dengan telaten Kyungsoo membenarkan dasi Jongin, tak hanya itu ia juga mengelus bagian kemeja itu yang tampak kusut. Dan terakhir Kyungsoo juga merapikan tatanan rambut pemuda itu.

Jongin yang diperlakukan seperti itu hanya bisa terus menatap wajah Kyungsoo.

"Apa kau sudah sarapan?" Tanya Kyungsoo yang masih sibuk merapikan tatanan rambut Jongin.

"Aku akan sarapan di kantor." Jawab Jongin yang terus menatap gadis itu.

"Hm." Gumam Kyungsoo setelah selesai merapikan rambut Jongin.

Ia merasa sedikit canggung saat tatapan matanya kini bertemu dengan tatapan mata elang Jongin.

Jongin sendiri yang melihat itu kini segera menangkup pipi gembil gadis itu dan mendekatkan wajahnya pada wajah Kyungsoo, lalu dengan perlahan ia mencium gadis itu dengan lembut.

Kyungsoo hanya bisa memejamkan matanya dan menikmati ciuman Jongin. Tidak ada lumatan, hanya menempel saja, namun bagi Kyungsoo maupun Jongin ciuman itu terasa sangat manis.

"Jangan lupakan sarapanmu." Kata Jongin setelah ia melepaskan ciuman itu.

Kyungsoo hanya menganggukkan kepalanya menurut.

"Aku akan menunggumu." Ucap Kyungsoo dengan senyumannya.

"Aku akan segera pulang." Balas Jongin yang kini sudah berdiri dan mencium pucuk kepala gadis itu.

Saat Jongin sudah berbalik dan hendak melangkah menuju keluar kamar tersebut, Kyungsoo teringat sesuatu yang ingin ia tanyakan pada pemuda itu.

"Jongin?" Panggil Kyungsoo yang otomatis membuat Jongin kembali membalikkan tubuhnya.

"Ada sesuatu yang ingin ku tanyakan." Kata Kyungsoo.

"Tanyakan saja." Ucap Jongin mempersilahkan.

"Apa kita memang tinggal bersama?" Tanya Kyungsoo.

"Ya." Jawab Jongin singkat.

"Kenapa?" Tanya Kyungsoo yang tampak penasaran.

"Karena hanya aku satu-satunya yang kau miliki." Jawab Jongin datar dan kembali melangkah keluar kamar tersebut.

Saat tepat ia sudah keluar kamar tersebut dan baru saja ia menutup pintu itu. Ia kembali membuka mulutnya.

"Dan hanya kau satu-satunya yang ku inginkan dan yang kubutuhkan Do Kyungsoo." Gumam Jongin lirih.

.

.

.

TBC

.

'Dongvil'