Danger Innocent Kid

.

.

.

.

.

.

Cast : Oh Sehun

Xi Luhan

And other cast

Disclaimer : Sehun milik Luhan. Luhan milik Sehun. Mereka ber dua saling memiliki :D

Semua tokoh milik keluarga masing-masing.

Ide cerita dan cerita tentu milik saya.

Don't Like, please, Don't read it, 'kay ? ;)

Happy readings!

.

.

.

.

.

.

Cklek~

"Aku berangkat dulu, Mama, Baba."

Blaam

Tap tap tap

Luhan berjalan keluar dari arah pintu rumahnya. Tubuhnya terbalut oleh celana panjang merah maroon ujungnya ia lipat sebatas atas mata kaki, kemeja putih yang ia biarkan keluar tanpa dimasukkan ke dalam celananya, dasi merah sewarna dengan celananya dengan aksen garis-garis miring putih yang diikat longgar melingkar indah di balik kerahnya, serta jas hitam keabu-abuan dengan garis kotak-kotak putih yang tak terlalu kentara, dengan logo lambang sekolah di bagian dada sebelah kiri jas tersebut. Dipunngungnya, tergantung apik tas coklat muda dengan gambar-gambar rusa menghiasi permukaan tas punggung Luhan.

Ya, sudah seminggu lebih Luhan bersekolah di ShinHa Senior High School, tempat ia menuntut ilmu. Juga, sudah satu minggu pula sejak kejadian 'itu' berlangsung. Tidak mudah bagi Luhan jika tinggal berdua dengan bocah itu, karena selama mereka tinggal bersama, bocah itu selalu melakukan hal-hal yang tidak terduga. Tapi beruntungnya hal itu tidak sampai pada 'tahap' yang lebih mengerikan. Dan syukurlah orang tua mereka segera pulang dua hari setelahnya, sesuai perjanjian. Sungguh, Luhan berjuang keras untuk melupakannya hal nista itu. Dan sudah seminggu pula bocah itu melakukan kebiasaan barunya.

"Selamat pagi, Luhan hyung~"

Luhan hanya menatap malas bocah dihadapannya, yang tengah berdiri dibalik pagar kayu depan dengan cengiran polos ala anak seumurannya. Cukup ampuh untuk membuat Luhan mendengus kesal melihatnya. Tanpa menyapa balik, Luhan berjalan melewati pagar kayu yang tingginya hanya sebatas pahanya. Berbelok kiri, dimana arah sekolahnya berada.

Sehun yang melihat hyung kesukaanya berjalan mendahuluinya, segera menyusulnya. Sambil tersenyum, ia berjalan beriringan disamping Luhan. Seperti biasanya, Sehun berjalan sambil memandangi paras cantik hyungnya ini. Menikmati betapa indahnya dan segarnya udara pagi hari sambil memandang objek terindah di sampingnya.

Luhan yang memang sadar sedari dulu hanya diam, tak berniat untuk mengajaknya berbicara. Toh, memang ini kebiasaan baru bocah ini. Pagi hari, ia akan menemukan Sehun berdiri didepannya, menunggunya berjalan duluan lalu menyusulnya. Berjalan disampingnya sembari menatapnya dengan senyuman yang membuat Luhan risih. Memang inilah kebiasaan seorang bocah, Oh Sehun, dalam seminggu ini.

Mereka berjalan di arah yang tujuan yang sama, karena letak sekolah mereka yang hanya berbeda beberapa blok saja. Dan itu membuat Sehun senang karena dapat menikmati waktu berdua dengan Luhan hyungnya. Luhan hyung-NYA ? Tentu saja, Luhan adalah milik Sehun. Itu yang ada dipikiran Sehun sejak kejadian itu.

Kesan Luhan tentang Sehun juga berubah, awalnya ia kira Sehun itu anak pendiam yang cuek dan dingin. Tapi sejak hari itu, anak itu berubah menjadi bocah yang full of smile all day, tampangnya yang dulu datar, berubah menjadi ceria saat anak itu bersamanya dan akan selalu menatapnya dengan mata penuh kerlap-kerlip binar cahaya kesenangan layaknya anak yang diberi permen oleh orang tuanya.

Tapi tetap saja, cap menyebalkan dan mesum akan selalu ada untuk anak itu. Mengingat bagaimana lihainya anak yang 6 tahun lebih muda darinya begitu pintar memanjakannya. Eh, apa yang baru saja ku pikirkan ? Andwaee!

"Hyung, gwenchanayo ?" Tanya Sehun, ketika melihat Luhan menggelengkan kepalanya tiba-tiba.

"Ah, gwenchana, Hun." Jawab Luhan. Bisa-bisanya ia teringat kejadian yang ingin ia lupakan, tapi gagal. Cih, ini pasti karena tiap hari ia selalu berdekatan dengan Sehun.

Ingin sekali Luhan menghindari Sehun, guna melupakan kejadian yang telah menginjak-injak harga diri kelelakian sejatinya. Hei, digagahi oleh anak kecil itu termasuk sebuah pelecehan untuk jiwa manly nya. Tentu saja Luhan ingin melupakannya, ia straight dan bukan pedophilia yang menyukai anak kecil. Ingat, Luhan itu tidak menyukai anak kecil, pengecualian untuk bayi.

Setelah beberapa belokan telah Sehun Luhan lewati, akhirnya mereka sampai pada sebuah pertigaan jalan yang akan memisahkan mereka. Sekolah Sehun ada di jalan sebelah kanan, sedangkan Luhan sebelah kiri.

"Baiklah, sampai nanti, Hun-ah." Luhan pun bergegas berjalan menuju sekolahnya, tetapi langkahnya terhenti oleh gerakan Sehun yang menariknya lengannya. "Mwo ?"

"Hyung, apa sore ini kau akan ada latihan ?" Tanya Sehun. Luhan mengangguk.

"Ya, ada." Luhan memiringkan kepala menghadap Sehun. "Kenapa ?"

"Ani. Baiklah kalau begitu." Sehun lalu menarik lengan Luhan lagi sampai tubuh Luhan condong ke arah Sehun.

GREP..

CHUU~

"Sampai jumpa sore nanti, hyung."

Sehun lalu beranjak melangkah pergi menuju sekolahnya yang tinggal beberapa blok lagi. Meninggalkan Luhan yang masih mematung akibat ulahnya. Perlahan Luhan menegapkan tubuhnya kaku seperti robot. Luhan mengerjap-erjapkan mata. Tangannya menyentuh permukaan bibirnya yang baru saja di kecup oleh Sehun. Otak Luhan sepertinya sedang dalam masa Lola, Loading lama.

Luhan membelalakan mata. Ia baru sadar. Sehun baru saja menciumnya. Lagi. Ia kecolongan lagi.

"BOOOCAAAAAHHHHHHH!"

Sehun dengan tawa evilnya segera mengambil langkah seribu mendengar teriakan Luhan. Haha, pagi yang menyenangkan.

.

.

.

.

.

.

"Haa~h"

Seorang namja berpipi chubby menatap Luhan dengan sebelah alisnya terangkat. Heran. Entah sudah keberapa kali Luhan menghela nafas hari ini.

"Hei, gwenchana ?" Tanya namja chubby yang duduk di sebelah Luhan. Luhan balas menatapnya lesu, lalu menggeleng.

"Ani, gwenchana, Min-ah"

Lelaki chubby yang dipanggil Min-ah a.k.a Kim Minseok hanya menganggukkan kepala. Dia adalah teman pertama Luhan di sekolah. Luhan selalu memanggilnya Xiumin, karena pipinya yang chubby itu.

"Baiklah. Kalau begitu, ayo ke kantin. Aku sudah lapar nih." Ajak Xiumin.

Ini sudah waktunya istirahat kedua, jadi hanya ada mereka berdua di kelas kosong tersebut. Karena melihat Luhan yang seharian lesu sampai sekarang membuatnya khawatir dan menolak ajakan Jongdae, teman sekelas mereka, untuk pergi ke kantin bersama. Luhan menatap teman bakpaonya.

"Ayolah, Lu ge~. Bbuing Bbuing~" kali ini Xiumin menggunakan jurus andalannya, yang mampu membuat Luhan luluh entah untuk kesekian kalinya.

Luhan yang melihat jurus aegyo ala Xiumin hanya terkekeh. Oke, Luhan kalah dengan jurus itu. Akhirnya ia mengangguk sambil tersenyum.

"Baiklah. Jaa.."

"Yeey..."

Dan mereka berjalan keluar kelas menuju kantin dengan cepat. Jangan sampai bel masuk berbunyi. Luhan merutuki dirinya sendiri. Geez, hanya karena tingkah bocah mesum itu ia sampai membuang waktu istirahatnya, apalagi merepotkan temannya. Ayolah Luhan, dia itu cuma anak-anak. Jangan dipikirkan.

Sampailah mereka di kantin. Luhan dan Xiumin segera mengantri untuk membeli makanan. Setelah mendapatkan pesanan mereka, mereka mulai mengedarkan pandangan ke segala penjuru kantin. Mencari apakah masih ada tempat kosong untuk mereka di antara kerumunan para siswa yang berlalu lalang. Semoga saja masih ada

Sepertinya Tuhan mengabulkan permintaan mereka. Mata bulat Xiumin melihat Jongdae yang mengayunkan tangannya kekanan dan kekiri. Memanggil mereka untuk duduk ke tempat mereka. Dan benar saja ternyata disana masih ada masih ada yang kosong.

"Ayo, Lu. Kita kesana." Lalu Xiumin berjalan menuju tempat dimana Jongdae berada, diikuti Luhan dari belakang.

Disana ternyata sudah ada teman-teman mereka selain Jongdae, antara lain Kim Joomyeon, Byun Baekhyun, Park Chanyeol, Do Kyungsoo, Zhang Yixing dan Wu Yifan. Mereka sudah duduk disana sambil memakan makanan pesanan mereka. Luhan dan Xiumin pun duduk disana bersama teman-teman mereka.

"Lama sekali kalian," ujar Jongdae. Mulai membuka sesi percakapan diantara lainnya. "Darimana saja kalian ?"

"Hehe, mian. Itu karena rusa jelek ini terus memasang muka lesu." Ujar Xiumin, sedikit menyindir Luhan. Luhan yang disindir hanya diam, tetap memakan pesanannya.

"Oh, benarkah ?" Xiumin mengangguk." Kau sedang ada masalah ya, Lu ?"

Luhan hanya memggelengkan kepala menjawab pertanyaan Yifan. "Ani, Kris"

"Aigoo, my baby Lulu Luhannie sayang, jangan nangis ne. Uljima~ mukamu jadi jelek lho~"

"mphh-uhuuk... Mwoo ? Siapa yang kau kira menangis, Bacon ?"

"Hem, tentu itu kau, Lulu."

"Aku tidak menangis."

"Tapi raut wajahmu jelek begitu. Seperti yeoja yang baru digoda kekasihnya"

"Yaak ! Kau bilang apa ? Yeoja ? Haissh,, Namja, Baek... aku Namja."

"Oh, kau namja ? "

"Haissh, tentu saja."

"Oh, kapan ?"

"Apa nya ?

"Kapan kau jadi namja ?"

"YAAKK ! BYUN BAEKHYUUUUUNNN !"

"HAHAHAHAHAHA~"

Dan suara tawa dari lainnya sukses meledak dari ketujuh temannya yang duduk bersama. Tertawa karena melihat bagaimana terjadinya debat antara Luhan dengan Baekhyun. Baekhyun orang kedua yang dekat dengan Luhan, karena letak bangku mereka yang berdampingan. Baekhyun juga yang paling pintar dalam hal berbicara, apalagi mengoda rusa didepannya itu dengan kata-katanya.

"Sudahlah kalian berdua," ujar Chanyeol, berusaha menenangkan rusa itu agar tidak menyeruduk (?) kekasihnya, Baekhyun. "Jangan ribut disini. Banyak orang."

Luhan dan Baekhyun hanya diam mendengar kata-kata Chaenyeol yang dibuat sok bijak.

"Lagipula, Luhan. Benar kata Baekkie. Kau seperti yeoja yang sedang pms." Timpal Chanyeol polos. Dan berhasil membuat rusa yang sudah mulai tenang kini berangsur-angsur mulai meledak.

"YAAAKKK ! PAARKKK CHANNYEOOLLL !"

"CHAANNNNBBBAEEEEKKKK ! KEMARIII KALIAANNNN !"

Dan suara tawa kedua mulai menggelegar ketika melihat rusa mereka mengejar duo pasangan Happy Virus yang super jahil itu. Mereka hanya tertawa dan berdoa agar duo Happy virus itu tidak benar-benar 'diseruduk' oleh sang rusa betina, eh, jantan.

.

.

.

.

.

"Sehun, kita mau kemana ?"

"Ikuti saja."

Kai hanya memutar bola matanya sebal pada sahabat albinonya itu. Dengan seenak jidatnya, Sehun menariknya keluar kelas setelah bel pulang sekolah berbunyi. Pasti ke lapangan itu lagi, batin Kai.

Bukan hanya kali ini Kai ditarik paksa seperti ini oleh Sehun. Hampir seminggu yang lalu Sehun mulai memaksanya pergi menemaninya menuju lapangan rumput di belakang gedung sekolah ShinHa SHS. Lapangan hijau itu selalu menjadi tempat dimana club sepak bola ShinHa SHS berlatih sepak bola. Awalnya Kai bingung kenapa Sehun tiba-tiba menariknya kesana. Dan akhirnya Kai tahu apa alasan Sehun menyuruhnya untuk mengantarnya kesana. Yaitu, untuk membantu Sehun untuk menyebrang jalan.

Letak gedung ShinHa SHS dan lapangannya berada di seberang jalan. Sehun akan meminta -lebih tepatnya,memaksanya- untuk membantunya menyebrang jalan ke sana. Kekanakkan memang, tapi Sehun memang tidak bisa menyebrang jalan raya. Padahal jalan beraspal yang membatasi ShinHa SHS tidak begitu ramai, tapi tetap saja anak itu tidak bisa.

Dan bagaimana Sehun bisa sampai ke Sekolahnya ? Oh,itu karena jalan menuju sekolahnya tidak melewati jalan raya, jadi Sehun tidak perlu untuk menyebrang jalan.

Dan sampailah mereka di lapangan tersebut. Dengan tidak tahu diri, Sehun pun mencampakkan Kai begitu saja dengan melepas pergelangan tangan yang tadi ia cengkeram kuat karena ia tarik sedari tadi. Tentu saja Kai cengo.

"Yaak ! Albino, seharusnya kau berterima kasih padaku." Ujar Kai, berhasil menghentikan langkah Sehun yang baru ingin meninggalkannya.

Sehun berbalik menghadap Kai tiba-tiba, membuat Kai berjengit kaget. Apalagi ditambah wajah datarnya itu.

"Terima kasih." Ucapnya singkat nan datar. Lalu bergegas melanjutkan langkahnya. Namun berhenti lagi karna perkataan Kai berikutnya.

"Hei, aku juga ikut." Kai berjalan menghampiri Sehun yang selangkah didepannya. Namun langkahnya terhenti karena ucapan Sehun.

"Tidak boleh."

"Apa ?"

"Kau. Pulang." Ujar Sehun, penuh penekanan.

"Yaak! Mana bisa begitu." Protes Kai, tidak terima. "Aku juga ingin tahu, apa yang ingin kau lihat disana."

"Tidak boleh ya tidak boleh."

"Tapi, Seh-"

"Atau aku bongkar rahasiamu pada Taemin hyung."

'Gleek~'

"Kau curang, Hun."

Sehun hanya mengendikkan bahu, "Terserah."

"Berani ikut, rahasiamu terbongkar" ancam Sehun lagi.

Kai hanya menghela nafas.

"Baiklah." Sehun tersenyum tipis, "tapi besok kau harus traktir aku, Hun."

Memutar matanya malas, Sehun hanya mengangguk mengiyakan. Toh, mentraktir Kai sesekali tidak masalah. Anggap saja imbalan yamg pantas karena mau membantunya menyebrang jalan. Ya, itu lebih baik daripada Kai ikut pergi melihat rusa-nya.

Sambil bersiul riang, Sehun melanjutkan perjalanannya setelah memastikan Kai benar-benar pergi pulang. Aah, tak sabar untuk segera melihat aksi rusa kesayangannya beraksi di hamparan lapangan hijau itu.

.

.

.

.

.

"Hah... Haah... Good job, guys.."

"Hah,,, Hah. aigoo,,,, lelahnyaa.."

"Haha, aku juga, bro.."

Kini para anggota club sepak bola ShinHa SHS sedang beristirahat. Terlihat raut wajah mereka yang kelelahan. Tentu saja, hampir lebih dari 2 jam mereka berlatih tanpa henti. Dari menggiring bola, mengoperkannya pada kawan, melatih tendangan jarak jauh maupun dekat sampai mencetak gol ke gawang lawan.

Latihan kali ini memang lebih lama, karena sebentar lagi club sepak bola mereka akan mengikuti pertandingan sepak bola antar sekolah. Sebagai salah satu siswa sekolah yang terkenal akan berbagai penghargaan itu, tentu mau tak mau mereka harus berusaha untuk membanggakan sekolah mereka.

Walau lelah dan letih, tapi mereka senang. Mereka bangga tentunya, menjadi salah satu siswa yang dapat membanggakan sekolah yang terkenal akan prestasi muridnya. Siapa sih yang tak bangga ? Luhan saja bangga. Ya, Luhan bangga tentunya. Ia begitu menyukai sepak bola. Impiannya adalah menjadi salah satu pemain sepak bola, apalagi jika ia bisa bergabung dengan Manchester United, clun sepak bola dari Inggris favoritnya. Selain hello kitty, Luhan juga mengkoleksi segala pernak-pernik dan hal-hal berbau Red Devil sepak bola itu.

Dan Luhan akan bertambah senang jika ia bisa bertemu dengan Christiano Ronaldo. Luhan memang fans beratnya. Karena itu Luhan selalu update tentang segala dengan pemain sepak bola itu.

Tapi sayang, impiannya itu harus ia kurung dalam-dalam, pasalnya Mama nya tidak menyetujuinya. Katanya, hal itu bukannya menguntungkan, tetapi malah akan mencelakannya. Haa~h, Luhan pun hanya pasrah. Ia tidak bisa membangkang pada orang tua, apalagi pada ibunya. Tidak, Luhan menyayangi Mama nya lebih dari apapun.

"Haa~h" entah sudah berapa kali Luhan menghela nafas satu hari ini, ia tidak tahu.

Tuk..

Luhan merasakan ada sebuah benda padat tetapi dingin menyentuh dahinya yang berlumuran keringat. Penasaran, Luhan mendongak.

"Hm, minumlah, Lu."

"Oh, thanks," Luhan mengambil sebotol air mineral yang Kyungsoo sodorkan padanya.

Kyungsoo hanya mengangguk, lalu lanjut memberikan minuman dan handuk untuk para anggota club lainnya. Sudah jadi tugasnya bukan sebagai manajer club sepak bola ?

"Fyuuh, tadi benar-benar hebat, bro." Seru Chanyeol, salah satu anggota club, menghampiri Luhan dan menepuk sebelah bahunya. Mengekspresikan rasa kagumnya.

"Itu bukan seberapa, Chanyeol." Kekeh Luhan. Oh ayolah, Luham merasa malu jika dipuji begitu.

"Hei, mana bisa begitu ? Kau baru saja melakukan tendangan salto." Jelas Chanyeol. "Itu keren, man."

"Geurae ? Haha, gomawo." Lalu mereka duduk sambil berbincang seputar latihan tadi. Beberapa member lain, seperti Xiumin, Jongdae dan lainnya, juga ikut menimpali. Sampai terdengar suara melengking tajam, yang dapat membuat gendang telinga siapa saja akan pecah. Beruntunglah bagi mereka, karena sudah terbiasa dengan suara cempreng kekasih Park 'Yoda' itu.

"BAABBYY YOOODAAA"

"BAEEKKHYYUUUNNNIIEEE CHAGGIIEEE."

Semuanya hanya memutar mata bosan melihat adegan duo Happy virus itu yang, err, berlebihan. Sedangkan para hoobae mereka hanya terkekeh melihat acara peluk-memeluk pasangan tersebut, yang lucu dimata mereka.

"Aigoo, sayang. Kau berkeringat." Seru Baekhyun, melepas pelukannya. Memandang dramatis pada Chanyeol.

"Heum, ne chagi. Aku berkeringat." Chanyeol mengangguk-angguk manja pada kekasihnya, tanpa melepas lingkaran tangannya pada pinggang Baekhyun.

"Omoo, baiklah sayang. Sini, biar aku seka keringatmu, sayang." Ujar Baekhyun, mengusapkan handuk pada wajah dan leher Chanyeol yang berkeringat.

"Ya ampun, pasti lengket ya sayang, berkeringat begini."

"Heum, gwenchana. Aku sudah biasa, sayang." Lalu mengeratkan pelukannya. Mendekatkan wajahnya pada wajah Baekhyun yamg masih setia dipelukannya.

"Apalagi lengket dan berkeringat karenamu, baby" Sontak wajah Baekhyun memerah mendengar bisikan husky kekasihnya.

"Aaaa,, Jebbal.."

"Aduh, mataku, mataku..mataku ternoda,,"

" Hoeek,,aigoo, mual aku."

Dan beberapa kata sindiran pun keluar dari para member senior club, mencoba menghentikan -menghancurkan, lebih tepatnya- momen ChanBaek, sebelum adegan 'nista' mereka dimulai.

"Haiish, kalian..." gerutu Chanyeol, merasa momen 'indah'nya telah dirusak.

"Sudahlah sayang." Kata Baekhyun, mencoba menenangkan Chanyeol." Lagipula ada seseorang yang memcarimu, sepertinya."

"Mencariku ?"

Baekhyun mengangguk, "Ne."

"Hun... kemarilah," panggil Baekhyun. Sontak semua member menoleh ke belakang.

Selanjutnya, sesosok albino datang keluar dari persembunyiannya di pintu masuk menuju lapangan. Sosok itu bertampang datar. Tak terlalu tinggi dengam surai hitamnya yang kontras sekali dengan kulit putih pucatnya. Sosok itu sukses membuat namja dengan julukan rusa membelalakan mata.

"Sehunn ?!"

Bukan, bukan Chanyeol yang menyebut nama Sehun. Tetapi Luhan, yang menatap bocah itu sontak bangkit dari duduknya, dengan pandangan tak percaya. Kenapa anak itu ada disini ?

"Hai, Luhan hyung." Sapa Sehun, dengan cengiran polosnya lambaian tangannya.

"Kalian saling kenal ?" Kini Chanyeol lah yang bersuara.

"Hai Chanyeol hyung." Sapa Sehun, tapi datar.

"Chanyeol, kau kenal bocah ini ?" Tanya Luhan, tentu dengan nada kaget. Ia tak tahu kalau Chanyeol itu sepupunya Sehun.

"Tentu saja, dia sepupuku." Jawab Chanyeol. "Kau sendiri ?"

"Dia.. dia anak tetangga sebelahku."

"Ooh,,begitu." Chanyeol beralih menatap Sehun." Sehun-ah, sedang apa kau disini ?"

"Menunggu." Jawab Sehun singkat nan datar.

"Aigoo, tumben sekali kau mau menungguku, Sehunna~" ujar Chanyeol terharu. Jarang sekali anak itu menaruh perhatian pada orang lain. Kecuali kedua orang tuanya.

"Bukan, bukan kau, Chanyeol hyung."

"Haa ?"

Sehun mulai melangkah, memasuki area hamparan rumput hijau, dimana para member beristirahat tadi. Ia berjalan mendekati salah satu member yang menatapnya waspada. Sehun berjalan menghampiri Luhan.

"Aku.." setealah dekat dengan Luhan, ia lalu menarik tangan Luhan. Mengenggam tangannya, menautkan jari jemari mereka.

"Aku menunggu Luhan hyung."

"M-mwo ?"

Chanyeol tak kalah kagetnya. Pasalnya, selama ia kenal Sehun, sepupunya satu itu jarang memberikan senyuman dan menyentuh bahkan menggandeng tangan orang lain. Kalau iya, itupun jika diperintah Eommanya.

Dan kini ia melihat dengam mata kepalanya sendiri. Melihatnya langsung bagaimana Sehun memanggil, menyentuh bahkan menatap Luhan dengan, err, pandangan yang sulit diartikan. Tapi, kenapa ?

"Oh, aku tidak tau kau begitu dekat dengan sepupuku, Luhan."

"Apa ? Hei, aku tidak dekat dengannya." Elak Luhan." Yaak, lepaskan tanganku, bocah."

"Sehun, bisa kau ceritakan bagaimana bisa kau se'akrab' ini dangan Luhan ?" Tanya Chanyeol. Sehun mengangguk polos.

"Tentu, itu karena malam seminggu yang lalu aku dan Luhan hyung sud-HMMPPH.."

"Jangam bicara macam-macam, Se~hun~." Ancam Luhan yang telah membekap mulut Sehun agar tidak berbicara lebih dari itu.

Baru saja Chanyeol ingin bertanya lebih lanjut, tapi harus ia tahan saat sang kapten sudah mulai bersuara.

"Baiklah, semuanya. Hari sudah mulai gelap. Sebaiknya kita segera membersihkan diri dan segera pulang. Jaa." Ucap Kris a.k.a Wu Yifan, selaku kapten sepak bola.

"Ah, akhirnyaa.."

"Duh, badanku lengket semua.."

"Yeey, mari kita mandi dan pulang~"

Seruan dari para member yang bangkit dan berjalan menuju sebuah gedung olahraga yang digunakan untuk latihan indoor jika cuaca sedang hujan, berdampingan dengan lapangan sekolah mereka. Di dalam gedung itu juga terdapat ruang shower, dimana para siswa bisa mandi guna membersihkan badan dari keringat dan menyegarkan diri.

"Dan kau, Xi Luhan. Karena 'kenalan'mu ada disini, sebaiknya kau mandi paling terakhir saja." Ujar Kris.

"M-mwo ? Tapi aku-.."

"Oh ya, manajer kita, Kyungsoo, sudah pergi karena urusan mendadak. Jadi, tolong kau bereskan bola-bola itu." Ujar Kris lagi.

"Tapi Kris, ak-"

"Sekalian, hari ini piketmu kan ?" Potong Kris lagi. "Jadi bereskan saja, bersama anak itu. Pai pai, Lu."

Chuu~

"Yaakk! Galaaxy!"

Tapi teriakan Luhan hanyalah angin lalu bagi Kris. Tak sadarkah kau Kris, bahwa seseorang yang ada disamping Luhan sedang menatap tajam penuh dendam padamu ? Sepertinya nama 'Kris' akan menjadi nama pertama yang akan ia tulis di buku Death Note, ya itupun kalau ia punya.

"Ck, dasar naga. Ewh, kenapa dia malah menciumku, dasar." Gerutu Luhan sebal sambil menggosok kasar pipi kanannya, dimana bekas bibir Kris yang baru saja menempel. Sungguh, Kris kadang keterlaluan mengerjainya. Awas saja besok.

"Oi, lepaskan tanganku." Ucap Luhan, mencoba melepaskan tautan tangam mereka. Ia risih. Lagipula ia harus waspada. Sekarang merek hanya berdua saja di lapangan yang mulai menggelap. Tentu saja karena ini sudah mulai senja. Bagaimanapun ia harus waspada pada Sehun. Walau anak itu masih kecil, tapi tingkahnya kadang benar-benar tak terduga. Unpredictable.

"Sehun-ah, bisakah kau lepaskan tanganmu sebentar ? Aku harus membereskan ini." Pintanya. Ia pasrah dan mencoba memohon. Bagaimanapun ia ingin cepat mandi dan pulang. Ia lelah.

Dan akhirnya Sehun melepaskan genggaman tangannya pada Luhan. Luhan menghelan nafas lega. Syukurlah. Ia pun bergegas memasukkan bola-bola itu pada karung(?)nya. Setelahnya, karung itu ia bawa tarik menuju gedung olahraga. Dengam Sehun yang masih setia mengekorinya.

.

.

.

.

.

"Oh, hai Lu, Sehunna." Sapa Chanyeol yang selesai mandi dan kini sedang memakai kaosnya. Luhan hanya berjalan dengan membawa handuk memasukki salah satu bilik shower. Mengabaikan sapaan Chanyeol.

"Well, sepertinya dia lelah," Ujar Chanyeol mengendikkan bahu. "Kau akan pulang dengannya ?"

Sehun hanya mengangguk. Anak ini memang hemat bicara sepertinya, pikir Chanyeol.

Chanyeol mengendikkan bahu. Saat ia berniat untuk pergi, satu pertanyaan melintas di otakknya. Mengurungkan niatnya untuk segera menemui kekasihnya yang mungkin memunggu lama diparkiran. Mumpung Luhan sedang mandi.

"Eum, Sehun-ah." Yang dipanggil hanya bergumam 'hm'.

"Kau...dan Luhan.. emm, ada apa ?" Tanya Chanyeol, tidak jelas.

Yang ditanya hanya diam, mengangkat sebelah alisnya.

Mengerti arti tatapan Sehun, Chanyeol kembali menanyakannya, kali ini lebih jelas.

"Maksudku, kau dan Luhan ada hub-.."

"YODAA !"

'Gleekk'

"Jangan tanya macam-macam pada Sehun." Desis Luhan. "Aku dan Sehun hanya tetangga sebelah. Tidak lebih."

Luhan berjalan menuju salah satu loker miliknya. Mengambil baju gantinya. Setelah itu berbalik menatap Chanyeol tajam.

"Lebih baik kau segera pergi. Baekhyun sepertinya sudah lama menunggu."

"Astaga, Baekhyunkuu.. baiklah. Sampai jumpa, Sehunna, Luhan."

Chanyeol segera melesat pergi keluar gedung menuju tempat parkiran. Semoga Baekhyun tidak marah karna menunggunya lama. Kalau iya bisa-bisa tidak dapat 'jatah'. Oh tidak, jangan sampai.

Kini tinggal Luhan berdua dengan Sehun di ruang shower tersebut. Suasana canggung mulai terasa. Tapi mungkin hanya Luhan yang merasakannya, karena Luhan dapat merasakan tatapan intens dari arah kirinya, dimana Sehun berada. Perasaannya tidak enak.

"Eum, , Sehun, kau tunggu disini. Aku mau ganti baju." Kata Luhan cepat. Tidak ingin lama-lama berduaan dengan Sehun dalam kondisinya yang hanya mengenakan handuk yang melingkar indah di pinggan rampingnya.

Secepatnya Luhan berbalik menuju bilik Shower, namun gerakannya ditahan oleh seseorang.

BRUUKK..

"Ugh.." punggungnya terasa sakit akibat dorongan dari seseorang yang menindihanya di atas bangku panjang tanpa sandaran di dalam gedung itu.

"Se-Hmmpph."

Entah setan apa yang merasuki Sehun, hingga ia berbuat seperti ini. Salahkan saja Luhan hyung yang menggodanya dengan tubuh setengaj polos dengan butiran-butiran air yanh membasahi dari ujung rambut sampai ujung kakinya.

"Euunghh."

Luhan melenguh tatkala kulit mulusnya yang terekspose bebas disentuh Sehun dengan gerakan yang entah kenapa begitu sensual.

Masih dengan mulut yang membungkam bibir Luhan. Jari jemarinya berlarian kesana kesini. Meraba dan mengusap lembut permukaan lembut kulit Luhan yang seperti adik bayi, menurut Sehun. Sehun menggeram pelan. Bibir Luhan begitu manis.

Ciuman itu makin panas. Kekiri dan kekanan. Mencoba memperdalam ciuman tersebut. Makin lama Luhan makin terlena. Tanpa ba bi bu, Luhan yang sedari berontak akhirnya ikut berpartisipasi dalam pertautan antar bibir tersebut.

Kedua tangannya tanpa sadar telah melingkari leher Sehun. Meremas kuat rambut Sehun, menyalurkan perasaan tertahan akibat betapa hebatnya silat lidah mereka. Saling mendoring, membelit dan menghisap. Menghasilkan lenguhan nikmat dan saliva yang tercecer di dagu dan ujung bibir mereka. Entah milik siapa, mereka tak peduli.

Tangan Sehun yang nakal meraba kesana-kemari. Sampai pada akhirnya menemukan tonjolan bulat di dada Luhan. Ia jepit, pilin, dan tarik. Luhan makin melenguh tertahan didalam mulut Sehun.

Tak sabar, salah satu tangan Sehun berjalan pelan menuju arah bagian selatan Luhan. Mengelus gundukkan dibalik helaian handuk yang hampir lepas tersingkap. Menekan dan memijat pelan gundukkan itu.

"Euummhh.. eunghh..aah."

Tautan bibir mereka terlepas dengan benang saliva yang tipis menghubungkan bibir mereka. Yang akhirnya putus. Membuat desahan Luhan keluar dengan bebas di belahan bibirnya yang basah dan mengkilap. Desahannya terus bertambah, setelah sebuat gigitan, jilatan dan hisapan ia rasakan di permukaan leher jenjangnya.

Oh, ini gawat. Luhan makin terlena dengan sentuhan Sehun. Sentuhan bocah umur 11 tahun pada tubuhnya. Seorang bocah yang pernah mengagahinya seminggu yang lalu.

Bocah itu..

Akankah mereka melakukannya lagi untuk kedua kalinya ? Di sini ?

.

.

.

To be continued...

.

.

.

.

.

.

.

.

Halooo, Chingudeull~

Lin comebackk~ tehee~

Mianheyo, Lin kali ini sedikit ada, err, permasalahan dengan otak Lin. Entahlah. Abaikan /plakk/

Dan...akhirnya Lin bisa ngetik ni chap dlam waktu semalam. Yokatta.

Dan makasih pada kalian yang sudah mau , dan ff Lin yang abal-abalan ini. Huhu, sankyuu.

Oh, untuk teman Lin yang mau HunHan yg M-preg. Tunggu saja ne, di sekuelnya. Tentu setelah yang satu ini habis. So, ditunggu saja ne~

Dan yang minta tingginya Thehun bertambah, mianheyo, untuk di ff ini Luhan yang tinggi dulu, ne. Mungkin chap slanjutnya Lin bsa bkin Thehun tingginya bertambah. Tenang saja, tiap detik Thehun kan always bertambah. Dia kan hobi minum susu :D

Well, sekian dulu Lin's Chinchong kali ini. Mianhe klo ada salah kata a.k.a typo dan lain-lainnya. Ah, jangan lupa saran dan kritiknya ne~ tentu lewat REVIEW,ne ne~

Baiklah. Sekian...

Love yaa~

L7