*I Hope it's Gonna Better*
Disclaimer : Naruto milik Masashi Kishimoto
I Hope it's Gonna Better milik Mayu Tachibana
Rated : T
Pairing : NaruHina
Genre : Fantasy & Romance
Warning : OOC,AU,missed typo(s),alur cepat,Vampfic
Summary : Naruto, cowok yatim piatu yang tinggal di Konohagakure dan ditinggal ibunya karena suatu alasan bertemu dengan Hinata seorang Vampir yang nantinya akan menjadi seorang pemimpin bangsanya. Naruto pada akhirnya mengetahui siapa dia sebenarnya dan menyebabkan hubungannya yang terjalin dengan Hinata mengalami gangguan.
.
.
.
Chapter 4 : Bertemu
Gelap, gelap sekali. Dimana aku? batin seorang gadis bersurai indigo panjang menatap kegelapan pekat yang mengelilinginya.
Dia melangkahkan kakinya dengan ragu kedepan dan meraba sekelilingnya untuk mencari sesuatu sebagai tempat berpegangan. Dia terus meraba dan berkali-kali mendapat udara kosong yang hanya dapat diraihnya. Gadis tersebut terus melakukan kegiatan itu selama beberapa saat hingga akhirnya dia mendapat kesimpulan bahwa memang tidak ada apapun yang berada didepannya kecuali udara.
"H-h-halo? apa ada o-orang disini?" tanya gadis itu gemetar, dia sangat takut akan kegelapan yang mengelilinginya, begitu pekat tanpa cahaya sedikitpun.
Gadis tersebut berhenti melangkah dan melingkarkan lengannya sendiri kebahunya dengan erat untuk mengurangi gemetarannya. Dia sangat ketakutan, gigilan-gigilan kecil segera menyebar keseluruh tubuhnya dan tersebar dengan sempurna menjadi gemetaran hebat.
"K-kumohon, s-siapapun tolong jawab a-aku!" serunya kembali.
Tidak ada tanggapan apapun.
Gadis itu akhirnya mengeratkan pelukannya kembali sambil berulangkali menarik-mengeluarkan napas,dia harus tenang dan tidak boleh panik untuk menghadapi situasi ini. Dalam beberapa saat gadis itu mulai merileks dan gemetarannya berubah menjadi gigilan-gigilan kecil saja.
"Halo? a-apa ada orang disini?" tanyanya sambil menatap berkeliling.
Tidak ada tanggapan.
"Halo?"
Hyuuga... ucap seseorang tiba-tiba.
Gadis itu mengerjap kaget mendengar nama keluarganya disebut,dia berbalik dengan cepat dan membuka mulutnya. "Siapa disana?" tanyanya.
Hyuuga... ucap suara itu lagi.
"Siapa kau?" tanyanya lagi.
Kemarilah, Hyuuga... suara itu kembali berucap.
"Dimana kau?" tanya gadis itu sambil menatap berkeliling mencari asal suara misterius tersebut.
Tiba-tiba sebuah cahaya redup muncul menerangi jalan dua meter jauhnya. Ikutilah cahaya dan kau akan menemukanku, Hyuuga, ucap suara itu kembali. Gadis Hyuuga itu menurut dan segera mengikuti cahaya redup berwarna semerah darah yang sekarang sedang bergerak dan melayang pelan diatasnya.
Gadis itu begitu berkonsentrasi mengikuti cahaya redup itu sehingga tidak menyadari bahwa dia sudah tiba disebuah ruangan dengan berbagai pasangan yang sedang berdansa disebuah ruangan yang megah dan diiringi alunan suara instrumen musik yang begitu indah hingga menguarkan aura magis.
Cahaya redup itupun akhirnya lenyap dan membuat gadis Hyuuga itu sadar dimana dirinya berada. Dia menatap berkeliling dengan penuh kekaguman keruangan tersebut yang didekorasi dengan anggun dan menawan. Dia menatap kebawah dan melihat dirinya tiba-tiba saja terbalut gaun chiffon lembut berwarna putih yang menonjolkan rambut indigonya yang tergerai bebas dipunggungnya.
Hyuuga... suara itu kembali terdengar ditelinga gadis itu. Kemarilah, temui aku.
"Dimana kau?" tanyanya.
Berjalanlah lurus melewati pasangan-pasangan didepanmu dan kau akan menemukan aku, ucap suara itu.
Gadis tersebut kembali menuruti ucapan suara itu dan menyelinap secara perlahan melewati pasangan-pasangan hingga sampai disebuah singgasana dimana seorang pria berambut hitam panjang yang diikat longgar dengan wajah tirus dan mata seperti ular duduk diatasnya.
"Kaukah suara itu?" tanyanya.
Pria itu tersenyum samar dan bangkit dari singgasananya sehingga sekarang dia berhadapan dengan gadis Hyuuga tersebut. "Senang bertemu dengan anda, nona Hyuuga," ujar pria itu meraih tangan gadis Hyuuga dan mengecupnya pelan.
Gadis itu merona menerima perlakuan pria itu lalu menarik tangannya kembali kesisinya. Pria bermata ular itu tersenyum tipis lalu mengulurkan tangannya pada gadis Hyuuga. "Maukah anda berdansa bersamaku?"
Gadis itu membungkuk hormat dan menerima uluran tangan pria itu, "Dengan senang hati, Tuan."
Mereka berjalan kelantai dansa lalu saling membungkuk hormat dan mulai berdansa mengikuti pasangan-pasangan dansa yang lain. Mereka saling tersenyum sama lain sambil mengikuti ritme dansa yang sudah berbeda dari sebelumnya.
Gadis Hyuuga itu begitu menikmati dansanya sehingga tidak merasakan takdir besar yang akan segera menghadangnya. Dia terus berdansa dan berdansa hingga tiba-tiba pria itu membawa gadis itu keluar lantai dansa dan bertanya padanya dengan raut wajah serius.
"Apakah kau mau memimpin bangsa ini menggantikanku, nona Hyuuga?" tanyanya.
Gadis Hyuuga itu mengerutkan keningnya tanda tidak mengerti, "Apa maksudmu?"
"Aku ingin kau menggantikan posisiku untuk memimpin para pasangan ini, nona Hyuuga," jelas pria itu. "Bisakah anda melakukannya untuk saya?"
Dia berpikir selama beberapa saat, lalu mengangguk. "Aku akan melakukannya." Toh ini hanya mimpi, batin gadis itu.
Pria bermata ular itu tersenyum lalu menunduk kearah gadis itu sehingga gadis itu bisa merasakan napas pria ular itu menggelitik lehernya, dingin.
"Terima kasih nona Hyuuga, dengan ini aku bisa beristirahat sekarang," ujar pria itu.
"AAAKKKHHHH!" jerit gadis Hyuuga itu tiba-tiba.
Dia merasakan sesuatu yang tajam tiba-tiba menggores lehernya dan menancap disana, rasanya begitu menyakitkan. Rasa panas dan dingin menyatu dari tempat benda tajam itu dan mengaliri seluruh nadinya, mengalirkan rasa panas dan dingin itu menyebar keseluruh tubuhnya yang sekarang mati rasa.
Dia terhuyung jatuh dari pria bermata ular itu dan memegang lehernya yang terasa lembab karena darah, matanya berkunang-kunang sehingga apa yang ditatapnya terlihat kabur. Rasanya begitu menyakitkan.
"Hormat bagi yang mulia Ratu!" seru seseorang tiba-tiba.
Gadis Hyuuga itu melihat para pasangan itu berlutut padanya secera serentak hingga pandangan matanya tiba-tiba menggelap dan dia kehilangan kesadaran.
Hinata terbangun dari tidurnya dengan napas terengah-engah. Awal yang sama, tempat yang sama dan akhir yang sama pula.
Mimpi itu lagi... batinnya muram.
Secara refleks dia menyentuh lehernya untuk mencari bekas gigitan pria itu. Tetapi seperti yang sebelumnya pernah terjadi dia tidak dapat menemukan bekas apapun disana kecuali kulit mulusnya yang terasa lembab akibat keringat.
Hinata menghela napas lagi lalu bangkit dari tempat tidurnya, dia memperhatikan jam digitalnya yang terletak disamping tempat tidurnya. Pukul 07.00 tepat. Sudah waktunya dia untuk bersiap ke sekolah jika tidak mau terlambat untuk hari pertama disekolahnya alih-alih memikirkan mimpi itu hingga dia menjadi pusing sendiri.
Dia melangkahkan kakinya kelemari lalu meraih seragam dan pakaiannya dari sana kemudian meraih handuk dan masuk kedalam kamar mandinya. Dia mandi secepat dan sebersih mungkin kemudian keluar dan mengganti piyamanya dengan seragam.
Hinata meraih tasnya yang terletak dimeja belajarnya lalu menuruni tangga menuju ruang makan. Saat menuruni tangga dia dapat melihat Hanabi dan kakak sepupunya -Neji Hyuuga- sudah berada dimeja makan dan sedang menyantap sarapan dengan tenang.
"Ohayou, nee-chan," sapa Hanabi ketika melihat kakaknya berjalan kearahnya.
"O-ohayou, Hanabi-chan," sapa Hinata menatap adiknya sambil tersenyum lembut lalu beralih menatap kakak sepupunya dengan pandangan gugup. "O-ohayou, Neji nii-san."
Neji mengangguk. "Ohayou," balasnya singkat tanpa memandang wajah Hinata.
Hinata segera mendudukkan dirinya disamping Hanabi dan mulai menyantap sarapannya. Mereka makan dengan tenang, tidak terdengar suara apapun disana kecuali dentingan sendok-garpu yang beradu dengan piring. Sesekali mereka berhenti untuk minum dan kemudian melanjutkan makan kembali.
Beberapa menit kemudian mereka berjalan memasuki mobil dengan Neji dibalik kemudi dan Hanabi berada dikursi sebelahnya, Hinata duduk dibelakang seperti biasanya dengan buku yang terbuka dipangkuannya untuk dibaca.
.
Disekolah
Saat ini Hinata dan Neji dengan sabar sedang menunggu giliran mereka untuk melihat daftar kelas mereka. Hanabi yang masih menginjak kelas 6 SD berpisah dari kedua kakanya dan berjalan masuk sendirian menuju gedung sekolahnya yang terletak tidak jauh dari sekolah tempat Neji dan Hinata bersekolah.
Kumpulan anak-anak didepan mereka kelihatan sibuk mencari nama mereka masing-masing dan beberapa dari mereka kemudian bersorak girang ketika mengetahui bahwa mereka sekelas dengan teman baik masing-masing.
Setelah menunggu cukup lama akhirnya giliran mereka tiba. Hinata segera mencari namanya dari sekumpulan nama-nama anak lain yang tertera disalah satu kertas lalu berpindah untuk mengulangi kegiatan tersebut. Neji yang berbeda satu tahun dari Hinata segera berpisah dari samping sepupunya itu dan beralih ke lembaran-lembaran daftar kelas 8, ikut mencari namanya bersama anak-anak lain.
Setelah beberapa lama mencari namanya,Hinata akhirnya menemukannya. Dia berada dikelas VII B dengan Guru Kurenai Yuuhi sebagai wali kelasnya.
"Bagaimana?" tanya seseorang.
Hinata menoleh dan melihat kakak sepupunya sudah berdiri dihadapannya. "N-neji nii-san," gumam Hinata sedikit terkejut melihat kakak sepupunya. "A-a-aku di kelas VII B."
"Hn, ayo kuantar."
Neji segera meraih pergelangan tangan Hinata dan kemudian membawanya menuju kelantai dua gedung sekolah tersebut. Setibanya disana mereka segera disuguhi pemandangan lorong kelas tujuh yang sangat ramai dengan obrolan-obrolan ria dari anak-anak seumuran Hinata. Tanpa mempedulikan itu semua Neji menerobos anak-anak tersebut lalu tiba didepan ruang kelas Hinata.
"Nah, sudah sampai," ujar Neji membuat Hinata mendongakkan kepalanya yang sedari tadi tertunduk.
"Aa..." gumam Hinata lalu segera mengulas senyum gugup kearah kakak sepupunya, "A-arigatou, nii-san."
Neji mengangguk singkat, "Aku tinggal ya."
"Iya, nii-san."
Neji segera berbalik menuju tangga untuk naik menuju kelasnya, meninggalkan Hinata yang sedang memasang raut wajah gugup yang menyelimuti. Hinata sangat khawatir akan kemungkinan-kemungkinan buruk yang akan dialaminya dikelas pertamanya disekolah umum yang jelas sangat berbeda dengan home schooling yang sebelumnya dia jalani.
Hinata menggelengkan kepalanya berulangkali dan menepuk kedua pipinya pelan. Dia sudah memutuskan untuk bersekolah disini dan dia sekarang. Mau-tidak mau, harus menjalaninya dengan sebaik mungkin.
Hinata menghela napas sekali lagi untuk memantapkan dirinya kemudian berbalik memasuki kelasnya sambil menundukkan kepalanya sepanjang jalan. Dia segera menghempaskan dirinya disalah satu bangku yang terletak didekat jendela,baris kedua dari depan lalu membuka tas selempangnya untuk meraih salah satu buku pelajarannya dan mulai membaca guna menunggu bel berdering.
Hinata sangat serius menekuni bukunya hingga tidak sadar sebuah bola sedang melayang kearahnya dengan kecepatan penuh.
"AWAS!" seru seorang anak laki-laki memperingati Hinata.
Terlambat. Bola itu sudah dengan pasti akan mengenai Hinata yang sekarang sudah terbelalak menatap bola itu. Hinata kemudian menutup matanya karena tidak sanggup bergerak dan bersiap menerima rasa sakitnya. Tapi tidak terasa sakit sama sekali.
"Fuh... nyaris saja terlambat," kata seseorang.
Kelas sangat hening saat ini sehingga Hinata memberanikan dirinya untuk melihat apa gerangan yang terjadi. Hinata perlahan membuka mata amethys-nya dan melihat sesosok anak laki-laki berambut pirang berantakan berdiri memunggunginya dan melihat bola yang sebelumnya akan menabraknya berada ditangan anak laki-laki tersebut.
Anak itu tiba-tiba menggerakkan tangannya dengan cepat untuk melempar bola tersebut kearah pemiliknya. "Tangkap bolanya, Kiba."
Seorang anak laki-laki berambut cokelat 'berdiri' menerima bola yang dilempar anak laki-laki pirang itu. "Thank's Naruto," kata anak itu lalu menatap Hinata dengan pandangan minta maaf. "Gomen ne, aku enggak sengaja."
Hinata mengangguk cepat mendengar pemintaan maaf anak itu. "T-tidak apa-apa, Kiba-san."
Kiba memasang wajah lega, "Baguslah," dia mengalihkan pandangannya dari Hinta kembali ke teman-temannya. "Ayo kita lanjut lagi."
Kelas segera menjadi ramai kembali karena masalah bola itu sudah selesai. Hinata menundukkan wajahnya yang memerah, merasa malu karena sempat menjadi pusat perhatian dikelas pertamanya.
"Halo," ucap seseorang.
Hinata mendongakkan kepalanya karena merasa dirinya dipanggil. Anak berambut pirang yang sebelumnya berdiri memunggunginya sekarang berdiri dihadapannya sehingga Hinata bisa melihat anak laki-laki itu dengan jelas, berkulit tan dengan 3 goresan kumis dimasing-masing belah pipinya, dua bola mata sewarna batu sapphire dan senyuman lebar yang terpasang diwajahnya ketika Hinata balas memandangnya.
Wajah Hinata yang sudah merah semakin memerah melihat senyuman itu lalu tiba-tiba kembali mendongak ketika teringat sesuatu yang penting yang belum diucapkannya pada anak laki-laki itu.
"A-arigatou, Naruto-san karena sudah menyelamatkanku," ucap Hinata dengan suara yang nyaris tidak terdengar.
Naruto menggarukkan kepalanya yang tidak terasa gatal lalu terkekeh pelan. "Aa... tidak masalah, aku kebetulan juga sedang berada disebelahmu kok."
"Eh?" tanya Hinata terkejut.
Naruto mengangkat alisnya, "Aku 'kan duduk disebelahmu, bukannya aku sudah meminta ijin darimu?"
Hinata masih menampakkan wajah terkejutnya lalu tiba-tiba teringat kalau ucapan Naruto memang benar. "Oh i-iya, gomen ne," ucapnya.
Hinata kembali melihat Naruto tersenyum. Tampan. Muka Hinata kembali memerah sehingga dia kembali menundukkan kepalanya untuk mencegah wajahnya tidak terlihat oleh anak laki-laki itu.
"Ah, kita belum berkenalan," tangan Naruto terulur kearahnya. "Aku Naruto Uzumaki, kau?"
Hinata menerima uluran tangan Naruto dan menggengamnya pelan, "A-aku Hinata Hyuuga, yoroshiku Uzumaki-san..."
"Ah, jangan panggil aku Uzumaki panggil saja Naruto."
"Eh?" tanya Hinata kembali dibuat terkejut oleh ucapan anak laki-laki itu.
Naruto kembali menggarukkan kepalanya yang tidak terasa gatal. "Tidak apa 'kan? sebagai gantinya aku akan memanggilmu Hinata."
Wajah Hinata kembali memerah karena ucapan Naruto. Bukannya kalau saling memanggil nama kecil masing-masing itu menunjukkan kalau mereka sudah akrab lebih daripada sekedar teman melainkan sahabat lama?
Naruto yang tidak menyadari perubahan wajah Hinata hanya tersenyum dan berkata, "Bagaimana?" pada Hinata.
Hinata akhirnya mengangguk samar sebagai jawaban dengan wajah yang masih memerah, "Baiklah, N-naruto-kun, yoroshiku."
"Salam kenal juga Hinata-chan."
Perlahan genggaman tangan mereka terlepas dan bel pelajaran pertama berdering keras, mengakibatkan anak-anak lain yang sedang asik bermain segera duduk ditempat masing-masing lalu segera menyiapkan buku mereka masing-masing.
.
.
.
.
.
TBC
