Title : King's husband part 4
Cast : Park Chanyeol , Byun Baekhyun , Oh Sehun , Do Kyungsoo , Xi Luhan , Kim Jongin
PERHATIAN!
Ff ini mengandung unsur dewasa berbau seks, hubungan sesama jenis yang menyebabkan beberapa orang mungkin mual, Bahasa yang berantakan, dan typo yang walau sudah berusaha dihilangkan tapi tetap muncul. Tidak untuk area bermain anak-anak, anak polos, antigay/ homophobic, AntiChanbaek dan segala yang tidak ada sangkut pautnya dengan dunia yaoi.
NO CO-PAST
NO-REPOST
NO-PLAGIAT
Okay?
There always be a place for the good person. So, don't steal people's effort , be honest dear..
Mulailah dengan sebuah kata, susunlah menjadi kalimat dan kembangkan dalam sebuah paragraph.
Cerita yang hebat bukan tentang siapa, tapi tentang apa dan bagaimana.
...
..
.
Park Shita
Present
…
..
.
King's Little Husband
Part 4
( Warning : Mature, Yaoi, M-preg )
…
..
.
"Aku tidak mau!" bentak Baekhyun ketika Tuan Lee dan beberapa pelayan memintanya untuk kembali belajar.
"Tapi ini perintah dari Paduka Raja, Tuan Muda!"
"Aku tahu penasehat Lee, tapi kemarin Hyena, ah! Maksudku Guru Kim itu menghukumku sangat berat hingga saat ini kakiku terasa putus. Aku bahkan tidak bisa berjalan, akh! Lihat!" ucap Baekhyun mendramatisir ketika menginjakan kakinya ke lantai. Tuan Lee menghela nafas pelan lalu melirik para pengawalnya dan memberikan isyarat untuk menggendong Baekhyun.
"Apa-apaan ini? Lepaskan! Lepaskan!" bentak Baekhyun sambil meronta.
"Maafkan aku Tuan Muda, tapi aku tidak bisa membantah ucapan Paduka, ini perintah langsung. Pengawal bawa Tuan Muda!" ucap Tuan Lee sambil berjalan mendahului dikuti oleh empat orang pengawal yang membawa Baekhyun diatas pundak mereka.
"Turunkan aku! Ini membuatku mual! Turunkan! Turunkan! Hmmptt…hmmpptt.." Baekhyun menutup mulunya dan dimata Tuan Lee itu hanya sebuah kepura-puraan agar bisa meloloskan diri.
Sejak kepergian Chanyeol sepuluh hari yang lalu-lebih dari batas yang ia janjikan-, Tuan Lee merasa frustasi untuk mengurusi kenakalan Byun Baekhyun. Bahkan dalam sepuluh hari bocah itu telah membolos dengan melarikan diri dari setiap kelas yang harus ia hadiri, terutama kelas tata krama.
Tuan Lee sendiri tidak tahu apa yang harus ia lakukan nanti untuk membuat Baekhyun menghadiri kelasnya ketika Chanyeol berkata bahwa ia berencana memberikan kelas merajut dan melukis untuk Baekhyun.
"Aku mau muntah! Berhenti hmppptt.… membuat tubuhku melompat-lompat..hmmpptt… seperti.. ueeeekk.." Tuan Lee menoleh terkejut dan beberapa pengawal mengernyit jijik ketika pundak mereka berisi muntahan Baekhyun.
"Ueeekk.. ueeekkk.." Baekhyun kembali memuntahkan isi perutnya bahkan setelah dirinya diturunkan yang mana membuat Tuan Lee panik.
"Panggilkan pelayan untuk membersihkan ini dan juga mengganti pakaian Tuan Muda!" teriak Tuan Lee cemas.
Baekhyun menatap Tuan Lee kesal ketika dirinya kembali dihadapkan dengan tabib berbibir pedas yang ia ketahui bernama Tabib Shin. Sementara Tuan Lee hanya berpura-pura tidak melihat tatapan kekesalan Baekhyun yang duduk bersandar pada ranjangnya.
"Ini minumlah!" Baekhyun menatap cairan menjijikan diatas mangkuk dengan kernyitan entah mengapa ia merasa mual lagi.
"Aku tidak_" Baekhyun menghentikan ucapannya ketika melihat tatapan tabib Shin kearahnya tanpa diketahui oleh Tuan Lee. Dengan berat hati ia menerimanya, ia nyaris muntah namun terpaksa menutup mata dan menahan nafas lalu meneguk minuman itu.
Baru satu tegukan melewati tenggorakannya Baekhyun telah memuntahkan minuman itu beserta isi perutnya kearah tabib Shin membuat Tuan Lee membulatkan matanya karena bagaimana pun tabib Shin adalah tabib terpandang istana.
"Panggilkan pelayan cepat!" teriak Tuan Lee frustasi.
"Aku tidak mau…hiks.. aku tidak bisa..hiks.. maafkan aku… huweee… aku ingin Paduka,, dimana Paduka? Ini sudah sepuluh hari tapi Paduka tidak kembali….hiks.. aku ingin Paduka. Tuan Lee.. bawa Paduka kembali…hiks..." tangisan Baekhyun pecah seiring dengan para pelayan yang membersihkan kekacauan diatas ranjangnya dan mengantarkan tabib Shin kembali keruangannya.
Sudah dua belas hari namun ketiga orang penting itu tak juga kembali dan Tuan Lee sudah merasa amat sangat frustasi atas sifat cengeng Baekhyun yang entah mengapa semakin hari semakin menjadi-jadi.
Ia menjadi sangat sensitif dan akan menangis bila keinginannya tidak dikabulkan.
"Aku ingin mencari Paduka."
"Tidak bisa Tuan Muda! Paduka sedang dalam tugasnya, tidak seorangpun bisa menganggunya."
"Tapi aku ingin Paduka..hiks..hiks.. aku merindukan Paduka..hiks.."
"Aku akan meminta orang untuk mencaritahu keberadaan Paduka, tapi sekarang Tuan Muda sarapan dulu mengerti?"
"Janji?" Baekhyun menunjukan jari kelingkingnya dan Tuan Lee mengaitkanya pasrah.
"Janji."
…
..
.
"Tundukan kepalamu ketika bertemu dengan orang-orang yang memiliki status sosial yang lebih tinggi darimu, jangan sekali-kali menatap mata mereka secara langsung!" ucap Kibum tegas.
"Tidak Peduli ia menteri atau seorang Raja, jika posisinya lebih tinggi darimu maka tundukan kepalamu saat berbicara dengannya."
"Paduka Raja~" rengek Baekhyun sambil menatap lurus ke depan membuat Kibum menutup matanya kesal, ini sudah kesekian kalinya Baekhyun menggumamkan kata itu tiap kali Kibum menyebut kata Raja atau Paduka.
…
..
.
"Buat satu kalimat dan ucapkan itu secara keras dan lantang!" Baekhyun meraih pensilnya dan mulai menulis. Ia sudah cukup ahli kini, menurut Lee Jinki, Baekhyun cukup pandai meskipun terkadang menyebalkan namun menurutnya Baekhyun cepat belajar.
"Bacakan!" ucap Lee Jinki.
"Aku merindukan Paduka." Ucap Baekhyun lantang lalu matanya berkaca-kaca membuat Jinki menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya mengingat sudah dua hari ini lelaki dihadapannya melakukan hal yang sama.
…
..
.
Ketika malam tiba Baekhyun hanya meringkuk diatas ranjangnya dengan sebuah kesedihan besar. Ia tidak pernah merasa sehancur ini ketika merindukan seseorang, bahkan tidak dengan kakak-kakaknya yang telah menikah, ataupun merindukan ibunya ketika pergi mengunjungi neneknya yang sakit berminggu-minggu, tapi kini rasa rindunya pada Sang Raja membuat Baekhyun seperti tercekik.
Ia merasa lelah, tapi tidak bisa tertidur bahkan ketika ayam jantan berkokok dan fajar mulai menyingsing.
"Paduka, aku merindukanmu." Gumam Baekhyun pelan.
…
..
.
Ketika ia terbangun oleh aroma masakan yang membuat sesuatu di dalam perutnya bergejolak hari telah menunjukan siang.
Ia terbangun dan berlari kecil kearah kamar mandi untuk memuntahkan isi perutnya yang bahkan tidak banyak, karena ia kehilangan nafsu makannya selama beberapa hari.
Ketika ia kembali ke dalam kamarnya, matanya membulat melihat sosok pria berjubah hitam berdiri di depan ranjangnya, membelakanginya.
"Paduka!" Baekhyun berlari dan sosok itu menoleh dengan sebuah senyuman kecil diwajah letihnya.
"Aku merindukan Paduka, sangat merindukan Paduka." Ucap Baekhyun ketika berada dalam pelukan Chanyeol, bahkan ia tidak menyadari jika dirinya sedikit melompat hingga kedua kakinya melilit di sekitar pinggang yang lebih tua.
"Maafkan aku Baekhyun, aku sudah berusaha kembali seperti waktu yang aku katakan, namun sesuatu terjadi, aku..hmmpptt.." Baekhyun tidak memberikan kesempatan Chanyeol untuk bicara karena ia telah menekan kedua pipi Chanyeol dan mengecup bibir itu cepat bahkan membawa keduanya dalam sebuah ciuman.
Ketika ciuman mereka terlepas Baekhyun mengecap bibirnya sambil sedikit berpikir.
"Rasanya seperti umbi yang dibakar." Ucap Baekhyun dan Chanyeol melakukan hal yang sama.
"Rasanya seperti_" belum selesai Chanyeol mengutarakan pendapatnya bibirnya telah dibungkam oleh kedua tangan Baekhyun dengan wajah yang lebih mungil merunduk dan pipi yang merona menahan malu.
"Jangan katakan Paduka! Dan maafkan aku! Aku terlalu senang hingga aku lupa bahwa aku baru saja selesai muntah."
"Muntah?" Baekhyun menunduk semakin dalam takut jika Chanyeol akan merasa jijik padanya.
"Maafkan aku Paduka, aku lupa_"
"Apa kau baik-baik saja? Apa yang sakit?" tanya Chanyeol sambil menggetarkan tubuh yang lebih mungil dan mencoba mencari kontak mata.
Baekhyun mengangguk ketika mata mereka bertemu lalu memeluk Chanyeol lagi.
"Aku merindukan Paduka dan karena setiap hari memikirkan Paduka, aku tidak makan dengan baik karena itu kemungkinan daya tahan tubuhku menurun sehingga aku mudah pusing dan merasa mual." Ucap Baekhyun lagi. Chanyeol mengelus pipinya lalu menoleh kearah meja makan .
"Ayo kita sarapan! Aku sangat lapar." Ucap Chanyeol sambil membawa Baekhyun kemeja makan. Ketika semakin dekat Baekhyun mengernyitkan hidungnya dan ketika duduk didepan meja ia menutup mulutnya.
"Ada apa?"
"Aku tidak suka aromanya, ini membuatku ingin..hmmpptt.. aku permisi Paduka, maafkan aku!" ucap Baekhyun sambil berlari kearah kamar mandi. Chanyeol mengernyit lalu menatap hidangan makanan di hadapannya, semua adalah olahan daging kesukaan Baekhyun.
…
...
.
Hal itu tidak terjadi sekali atau dua kali, tapi tiap kali mereka makan bersama, membuat Baekhyun selalu menolak makanannya dan Chanyeol mencemaskan keadaan Baekhyun, namun ia selalu menolak ketika Chanyeol meminta tabib Shin untuk memeriksanya.
Untuk itu Chanyeol menghapus menu daging dari daftar makan mereka dan memilih ikan serta sayuran sebagai penggantinya.
Namun keanehan tersebut tidak berhenti hanya sebatas makanan, ketika Tuan Lee mengatakan bahwa Baekhyun sedikit aneh ketika ia baru saja sampai di istana setelah tugas panjangnya, Chanyeol yang awalnya tak percaya namun sekarang ia sangat mempercayai ucapan Tuan Lee.
Chanyeol tidak mengerti mengapa Baekhyun sangat suka menempel padanya, bahkan sudah lima hari berturut-turut Baekhyun merengek ingin tidur bersama Chanyeol namun tidak melakukan hal lain melebihi berpelukan sampai tertidur.
Tidak hanya itu, Baekhyun menjadi mudah menangis saat Chanyeol tidak mengabulkan permintaan anehnya seperti menunggang kuda bersama dalam satu kuda yang sama mengelilingi istana. Chanyeol memang selalu mengabulkan permintaan Baekhyun, namun untuk yang satu itu ia merasa canggung jika dilihat oleh seluruh penghuni istana dan bagaimana posisi Baekhyun yang berhadapan dengannya sambil mengoceh sepanjang perjalanan.
Tak berhenti disitu saking tidak ingin jauh-jauh dari Chanyeol , Baekhyun selalu menemani Chanyeol diruang kerjanya hingga Chanyeol merasa perihatin melihat Baekhyun tertidur diatas meja ketika menunggunya.
Dan kesabaran Chanyeol habis pada suatu malam sepulangnya dari menghadiri sebuah pesta perayaan di Kerajaan tetangga.
Chanyeol mendapati para pelayan berdiri di depan kamar Baekhyun dengan wajah tertunduk dan penampilan berantakan, lalu Tuan Lee yang menunduk dalam ketika Chanyeol menghampirinya.
Chanyeol masuk dan mendapati kamar itu dalam keadaan sangat berantakan , barang-barang berserakan dan pecahan kaca bertebaran lalu ia mendapati sosok Baekhyun sedang mengemasi barang-barangnya.
"Baekhyun apa yang terjadi?"
"Aku membenci Paduka!" ucap Baekhyun tanpa melihat Chanyeol dan tetap mengemasi barangnya membuat Chanyeol terkejut bukan main.
"Apa yang salah Baekhyun?"
"Paduka jahat! Paduka pasti senang bukan bisa melihat putri-putri cantik di pesta itu bahkan penari hiks.. penari perut yang menjadi penghibur disana." Chanyeol membulatkan matanya lalu berjalan kearah Baekhyun dan mencengkram lengan yang lebih mungil untuk membuat mata mereka bertemu dan ia melihat mata basah Baekhyun.
"Apa yang kau bicarakan?" tanya Chanyeol.
"Paduka…hiks.. Paduka pasti melupakanku ketika melihat wanita-wanita cantik itu kan?" Chanyeol menghela nafas lalu mencengkram lengan Baekhyun erat.
"Kau tidak pantas bicara seperti itu padaku, ketika kau sama sekali tak tahu_"
"Hiks… bahkan Paduka marah .." Baekhyun menangis lebih kencang lalu melepaskan cengkraman Chanyeol dan kembali mengemas pakaiannya sambil terisak.
"Aku mau pulang!"
"Kau tidak akan kemana-mana."
"KENAPA?"
"BYUN BAEKHYUN!" Chanyeol berteriak kencang dan Baekhyun mengerutkan keningnya , menatap tidak suka kearah Chanyeol sebelum akhirnya ia merasa dadanya sesak dan ia terhuyung kebelakang karena semua seolah berputar, di detik berikutnya semuanya menjadi gelap dalam pandangannya.
"BAEKHYUN! PELAYAN! TUAN LEE!" teriak Chanyeol sambil menahan tubuh Baekhyun yang tidak sadarkan diri.
…
..
.
Chanyeol menatap tiga orang tabib yang sedang memeriksakan keadaan Baekhyun. Tabib Shin adalah yang pertama bangkit dan mengambil sebuah buku dari tasnya, ia membukanya perlahan dan kemudian melakukan sesuatu sesuai yang tertulis disana.
Setelahnya ketiga tabib itu saling melirik satu sama lain dengan kening mengernyit.
"Apa yang terjadi?" tanya Tuan Lee sambil menghampiri tiga tabib itu. Tabib Shin bangkit lalu berbisik kearah Tuan Lee membuat kedua mata Tuan Lee membulat sempurna. Chanyeol mengernyit penasaran di tempatnya lalu kemudian menghadap Tuan Lee yang bergetar.
"Pa..Paduka.."
"Ada apa Tuan Lee?"
"Ada sesuatu di dalam tubuh Tuan Muda, sesuatu yang hidup dan berkembang."
"Apa itu berbahaya?" tanya Chanyeol cemas.
"Penyakit macam apa yang bersarang ditubuhnya?" lanjut Chanyeol dengan tubuh menegang, Tuan Lee menggeleng lalu ia mengusap air matanya yang terjatuh.
"Itu bukan penyakit, tapi janin. Selamat Paduka, Tuan Muda tengah mengandung anak Paduka." Chanyeol terhuyung kebelakang, kakinya mendadak lemas tapi ia beruntung karena ada sebuah pegangan kursi yang menjadi sanggahannya.
"Be..benarkah? Apa kalian yakin?" tanya Chanyeol sambil menatap tiga tabib istana. Ketiganya mengangguk lalu tabib Shin melangkah maju.
"Tapi usianya masih sangat muda dan juga lemah."
"Lakukan apapun untuk mempertahankan janinnya, apapun! Aku akan membayar semahal apapun obat yang bisa membuat janinnya tetap bertahan disana." Ucap Chanyeol dengan mata berkaca-kaca.
"Tentu kami akan melakukan apapun untuk keselamatan janin itu, tapi yang paling penting adalah jangan membuat Tuan Muda stres dan memikirkan hal yang berat, serta menjauhi kegiatan-kegiatan berat, terlebih jangan biarkan dirinya terbawa emosi." Chanyeol mengangguk dengan sebuah senyuman lalu menatap sosok Baekhyun yang terbaring diatas ranjangnya.
…
..
.
Ketika Baekhyun membuka mata ia mendapati beberapa orang mengelilinginya , ada tabib Shin namun tidak memperlihatkan wajah menakutkannya, dua pria lain yang Baekhyun yakini tabib juga, Tuan Lee, Jongin , Sehun dan juga Chanyeol.
Ketika melihat Chanyeol duduk disampingnya, Baekhyun membuang wajahnya kesal membuat yang lain membulatkan matanya tidak percaya, melihat bagaimana seorang anak kecil memperlakukan Raja mereka namun mereka mencoba maklum.
"Baekhyun?"
"Aku masih kesal dengan Paduka, meski aku tidak tahu apa yang telah terjadi padaku hingga kalian mengelilingku seperti seorang pencuri yang baru saja tertangkap tapi aku masih mengingat bagaimana Paduka berteriak padaku." Ucap Baekhyun membuat Chanyeol tersenyum dan yang lainnya mengerutkan kening.
"Aku minta maaf." ucap Chanyeol sangat lembut dan mengelus pipi putih Baekhyun. Baekhyun menoleh lalu menatap Chanyeol.
"Berjanji tidak akan tertarik pada para penari perut itu dan juga pada putri-putri cantik berpakaian seksi itu?" tanya Baekhyun sambil menunjukan jari kelingkingnya membuat Chanyeol mengernyit .
"Siapa yang berkata di pesta itu ada penari perut? Dan putri-putri berpakaian seksi? Tidak ada putri berpenampilan seksi Baekhyun! Siapa yang mengatakan omong kosong itu?" Baekhyun tidak menjawab namun matanya jatuh pada Jongin yang membuat sosok itu tersenyum kikuk sambil menggaruk belakang kepalanya ketika Chanyeol mendelik kearahnya.
"A-aku hanya bercanda Paduka." Ucapnya pelan dan Chanyeol mendengus sedikit kesal lalu kembali menatap Baekhyun.
"Jadi tidak ada yang seperti itu?"
"Tidak! Ini pesta antara petinggi Kerajaan, yang datang hanya Para Raja dan Ratu mereka serta hiburan kami hanya tarian tradisional." Baekhyun tersenyum lalu kembali mengacungkan jari kelingkingnya.
"Tapi berjanji tidak akan tertarik pada hal semacam itu?" Chanyeol tersenyun lalu mengaitkan jemarinya.
"Aku berjanji," ucap Chanyeol lalu membawa Baekhyun dalam sebuah pelukan.
"Euhm, Paduka, lalu apa yang mereka lakukan disini?" tanya Baekhyun.
"Mereka datang untuk menyambut." Ucap Chanyeol sambil tersenyum kearah Baekhyun.
"Menyambutku dari pingsan?" Chanyeol menggeleng lalu merendahkan tubuhnya dan meletakkan telinganya di perut Baekhyun membuat Baekhyun mengernyit bingung.
"Menyambut janin yang ada di dalam sini." Ucap Chanyeol membuat bola mata Baekhyun membulat.
"Apa?"
"Ya Baekhyun, kau hamil, kau sedang mengandung anakku, keturunanku, terima kasih sayang." Sekali lagi Baekhyun dibuat melayang oleh panggilan itu, dan dia bahkan masih membeku ditempatnya atas ucapan Chanyeol meskipun yang lebih tinggi tengah memberikan kecupan-kecupan ringan di wajahnya.
…
..
.
Kehamilan itu masih dirahasiakan, Chanyeol berencana setelah kandungan Baekhyun mencapai bulan ketiga ia akan merayakannya dengan sebuah pesta besar-besaran, tidak peduli ia akan menghabiskan uang yang banyak untuk itu.
Baekhyun sendiri merasa senang diawal ketika tahu dirinya mengandung namun lama kelamaan ia merasa risih ketika disetiap kegiatannya ia harus diikuti oleh empat pelayan dan dua penjaga.
Ia merasa kegiatanya terbatas dan ia tidak suka ketika ia dilarang untuk melakukan ini dan itu, namun yang paling membuatnya bahagia adalah bagaimana Chanyeol memperlakukannya dengan sangat hati-hati, Baekhyun merasa sangat berharga karena itu.
"Buka kakimu perlahan saja!" ucap Chanyeol ketika membantu Baekhyun membuka kedua kakinya untuk melakukan penetrasi. Meskipun usia kandungan Baekhyun baru memasuki satu setengah bulan, namun karena alasan kandungannya yang lemah Chanyeol selalu menolak untuk bercinta membuat Baekhyun frustasi karena hormone sialannya selalu meletup-letup setiap malam.
Untuk itu Baekhyun merengek ketika mereka berbaring diatas ranjang Chanyeol, membuat Raja itu tidak ingin menolak lagi ibu dari anaknya demi alasan psikis Baekhyun.
"Katakan bila ini menyakitkan! Kau bisa memukulku, kau bisa mencakarku, berteriak atau lakukan apapun_"
"Paduka~" rengek Baekhyun sambil menggoyangkan pantatnya naik turun untuk membuatnya bersentuhan dengan penis tegang Chanyeol yang sejak tadi tidak juga memasuki lubangnya.
"Paduka sudah mengatakan itu tiga kali." Ucap Baekhyun lagi. Chanyeol terkekeh pelan tidak menyadari kekonyolannya, ia hanya terlalu takut untuk menyentuh Baekhyun.
"Baiklah! Maafkan aku." Gumam Chanyeol pelan dan mulai mengarahkan penisnya kelubang senggama basah milik Baekhyun. Baekhyun menutup matanya merasakan gesekan di bibir lubangnya.
"Masukan!" gumam Baekhyun pelan. Chanyeol berkonsentrasi untuk memasukan ujung penisnya.
"Aaahh." Baekhyun mendesah ketika setengah milik Chanyeol telah masuk.
"Apa menyakitkan?"
"Paduka, Paduka tidak sedang meniduri seorang perawan, masukan dan gerakan, aku mohon!" pinta Baekhyun sambil menatap Chanyeol dengan wajah sayunya. Chanyeol menutup matanya dan mulai bergerak .
"Aaahh…aahhh…ahh.. Paduka, terus…terus." Rancau Baekhyun sambil meremas erat sprei disampingnya . Gerakan Chanyeol memang terbilang pelan, namun tusukan –tusukannya yang dalam membuat Baekhyun kehilangan kesadarannya, semuanya terlalu nikmat. Ia menyukai bagaimana lubangnya dipenuhi oleh penis panjang dan besar milik Sang Raja.
Chanyeol sangat berhati-hati dalam setiap gerakan yang ia ambil, bahkan ketika memindahkan tangannya dari belakang kepala Baekhyun, ia menarik sebuah bantal agar kepala yang lebih kecil lebih nyaman.
Chanyeol tahu gerakan yang lambat membuat keduanya merasa sama-sama frustasi, namun Chanyeol tidak memiliki pilihan lain demi janin di dalam perut Baekhyun.
"Aaah,, Padukah disanaahh!"
"Ooh, Baekhyun! Jangan ikut bergerak!" ucap Chanyeol ketika Baekhyun mendorong pinggulnya berlawanan dengan arah dorongan Chanyeol mengejar kenikmatannya.
"Aaah..ahhh.. Padukaahh.. lebihhh dalam.." Baekhyun merengek ditengah desahannya merasa frustasi dengan gerakan lambat mereka.
Chanyeol mencoba menusuk lebih dalam sesuai dengan keinginan Baekhyun agar setidaknya kebutuhan yang lebih kecil terpenuhi.
"Aaaaahh.." Baekhyun mendesah ketika mencapai orgasmenya, ia tersenyum kearah Chanyeol yang kini berhenti bergerak.
"Paduka kenapa berhenti? Paduka bahkan belum sampai." Ucap Baekhyun. Chanyeol menggeleng lalu mengeluarkan penis tegangnya. Baekhyun mengernyit dan menahan penis itu dengan jemarinya membuat Chanyeol terkejut.
"Tidak, jangan dikeluarkan dulu sebelum Paduka sampai, ini pasti menyiksa Paduka." Ucap Baekhyun dengan wajah tidak terima. Chanyeol menggeleng pelan lalu mengecup pucuk kepala Baekhyun, dan merebahkan tubuhnya sambil menatap langit-langit.
"Ini bukan masalah besar Baekhyun, nanti itu akan tertidur_"
"Mana bisa begitu!" bentak Baekhyun lalu meraih penis Chanyeol dengan tubuh membungkuk lalu memasukannya ke dalam mulutnya.
"Baekhyun! Jangan!" cegah Chanyeol namun Baekhyun tidak memperdulikannya dan memompa penis itu cepat di dalam mulutnya membuat Chanyeol menggeram menahan kenikmatan.
Gerakan Baekhyun begitu cepat, hingga akhirnya tembakan sperma Chanyeol memenuhi bibirnya. Chanyeol meminta Baekhyun memuntahkannya tapi yang lebih kecil menelannya dengan wajah riang , bahkan membuat suara seperti usai menelan soda.
"Ini enak." Ucap Baekhyun memperlihatkan sisi anak-anaknya membuat Chanyeol panik. Chanyeol bangkit, mengambil jubahnya menyelimuti Baekhyun lalu menggendongnya untuk berjalan keluar ruangan.
"Paduka kita mau kemana?" tanya Baekhyun dalam pelukan Chanyeol ketika mereka berjalan dikoridor diikuti oleh dua orang pengawal yang sejak tadi berjaga .
Chanyeol tidak menjawab, ia hanya menampakan wajah cemasnya. Baekhyun menjilat bibirnya, membersihkan sisa-sisa sperma di sudut bibirnya.
"Paduka, kenapa rasanya enak?" Chanyeol melirik Baekhyun dan mengernyit , ia merasa semakin cemas lalu mempercepat langkahnya.
Mereka tiba di depan sebuah pintu, dan dua orang pengawal yang berjaga di depannya memberi hormat lalu memberitahu pada sang pemilik ruangan, tabib Shin.
"Ada apa Paduka? Mengapa berkunjung malam-malam begini?" tanya Tabib Shin panik melihat Chanyeol memasuki ruangannya dengan tergesa. Ketika pintu tertutup dan menyisakan mereka bertiga di dalam ruangan penuh ramuan itu, Chanyeol mendudukan Baekhyun diatas kursi yang tinggi lalu Chanyeol menatap Tuan Shin.
"Tabib Shin, Baekhyun baru saja menelan sesuatu, aku takut itu akan membahayakan janin di dalam perutnya." Tabib Shin membulatkan matanya, lalu melirik Baekhyun yang memasang wajah tidak bersalah. Dengan segera Tabib Shin menuju mejanya untuk mengambil beberapa ramuan penangkal racun.
"Memangnya apa yang Tuan Muda telan?" Chanyeol terdiam membuat Tabib Shin menoleh heran.
"Ka..kami baru sa-saja bercinta, Baek-Baekhyun me-menelan spermaku." Ucap Chanyeol gugup untuk pertama kalinya dalam hidupnya.
Tabib Shin terkejut dengan wajah tidak terdefinisikan, lalu setelahnya ia tersenyum kikuk.
"Ha…ha..ha.. itu bukan masalah Paduka. Sperma mengandung banyak sekali manfaat, setauku protein dan sisanya aku belum melakukan penelitian, tapi semakin bagus kualitas spermanya, maka semakin tinggi juga protein yang terkandung di dalamnya." Chanyeol melirik Baekhyun yang tersenyum sambil memperlihatkan deretan gigi putihnya.
"Karena itu aku bilang rasanya enak Paduka." Ucap Baekhyun membuat dua orang dewasa lainnya merasa canggung satu sama lain.
…
..
.
Setelah kejadian itu Baekhyun semakin menyukai meminum sperma usai mereka bercinta, membuat Chanyeol menjadi cemas jika nanti akan memberikan efek samping untuk kandungan Baekhyun.
Tapi yang lebih kecil memang keras kepala, ia akan merengek hingga ia mendapatkan apa yang ia mau. Bahkan seperti saat ini, Chanyeol sedang berada di ruang kerjanya ketika Baekhyun datang dengan wajah senangnya.
"Paduka?"
"Baekhyun, apa yang membawamu kemari?" tanya Chanyeol sambil menatap Baekhyun yang berjalan kearahnya.
"Aku hanya ingin mengunjungi Paduka." Ucapnya lalu duduk di kursi di depan Chanyeol. Chanyeol tersenyum, lalu menuangkan air putih ke cangkir kosong disampingnya.
"Minumlah! Apa yang seharian kau lakukan?" tanya Chanyeol. Baekhyun menelan minumannya, lalu meletakkan cangkirnya.
"Menghadiri kelas seperti keinginan Paduka." Chanyeol mengangguk senang.
"Kau merasa lelah?" tanya Chanyeol dan Baekhyun mengangguk dengan wajah imutnya membuat Chanyeol merasa begitu gemas.
"Aku…." Baekhyun bangkit lalu berjalan kearah Chanyeol dan duduk diatas pangkuan Sang Raja membuat Chanyeol terkejut.
"….sangat…sangat lelah." Ucap Baekhyun mengadu dengan suara letihnya dan kepalanya yang ia sandarkan di dada Chanyeol.
"Kau ingin sesuatu?"
"Apa boleh?" nada suara Baekhyun terdengar riang.
"Tentu, katakan apa yang kau inginkan!" tanya Chanyeol sambil menatap wajah cantik Baekhyun.
"Aku ingin meminum…." Baekhyun menjeda ucapannya.
"sperma Paduka."
"Apa? Tidak! Semalam kau sudah meminumnya, tidak lagi Baekhyun."
"Aku mohon~" rengek Baekhyun memasang wajah memelasnya, membuat Chanyeol menghela nafas pelan.
"Aku tidak tahu mengapa, tapi setelah meminumnya aku merasa tubuhku segar. Apa Paduka tidak kasihan pada anak kita?" ucapnya dengan wajah bersedih 'pura-pura' bersedih.
"Baiklah, tapi_"
"Yeeeii!"
Baekhyun turun dari atas pangkuan Chanyeol, lalu memasukan tubuhnya kebawah meja dan bersimpuh di depan kaki Sang Raja.
Ia mencakupkan kedua tangannya menanti Chanyeol membukakan celana untuk dirinya. Ketika ia melihat kejantanan Sang Raja yang masih tertidur, Baekhyun meraihnya dan memainkannya perlahan.
"Bangun! Bangun!" gumamnya pelan seperti anak kecil yang membangunkan peliharaannya.
Ketika gosokannya membuat penis Chanyeol menegak, ia segera memasukan benda itu ke dalam mulutnya secara perlahan.
"Hhmm.." Chanyeol menahan geramannya. Baekhyun tersenyum senang, lalu memompa penis Chanyeol di dalam mulut dengan bantuan tangannya.
Seumur hidupnya selain dengan Baekhyun, Chanyeol tidak pernah membiarkan orang lain mengoral penisnya, baginya itu bukan sesuatu yang harus dilakukan ketika ia melakukan ritual penyatuan tubuh, namun kini ia membiarkan bocah laki-laki yang sedang mengandung anaknya untuk memanjakan penis tertidurnya.
Chanyeol bersandar pada kursinya dengan kepala menengadah kelangit-langit ruangan namun matanya setia terpejam. Baekhyun menyukai apa yang ia lakukan, ia tidak tahu mengapa namun ia selalu menginginkan melakukan hal tersebut tiap kali hormonnya meletup-letup.
"Aahhh.." Chanyeol mengeluarkan desahan kelegaannya, ketika spermanya menembak dengan keras. Baekhyun menelannya dengan diiringi suara 'aah' keras seperti sedang meminum alkohol.
Chanyeol membuka matanya dan meminta yang lebih muda untuk segera bangkit, mencemaskan keadaan janin di dalam perut Baekhyun, jika lelaki cantik itu berada dalam posisi bersimpuh terlalu lama, setelahnya ia memasukan miliknya ke dalam celananya.
Baekhyun berdiri sambil menatap Chanyeol dengan wajah berbinar dan lidah yang menjilat-jilat sekitar bibirnya. Chanyeol terdiam, menatap wajah menggemaskan Baekhyun dengan sedikit rona merah di pipinya.
"Terima kasih Paduka. Ini jauh lebih enak daripada ramuan yang tabib Shin berikan." Ucap Baekhyun sambil mengusap bibirnya dengan punggung tangan.
"Meskipun tabib Shin berkata bahwa sperma mengandung protein tinggi, tapi aku tidak akan membiarkanmu terlalu sering menelannya, Baekhyun_"
"Paduka!" Baekhyun menutup bibir Chanyeol dengan kedua tangannya, membuat Chanyeol membulatkan matanya. Baekhyun menatap Chanyeol dalam lalu menghela nafas.
"Aku tidak suka ketika Paduka melarangku melakukan banyak hal, aku menyukainya dan jangan menasehatiku terlalu banyak. Bukannya aku tidak mau mendengar, tapi aku merasa seolah aku adalah anak Paduka, aku_" Baekhyun merendahkan arah pandangnya dengan jeda panjang pada ucapannya.
"Baekhyun?" panggil Chanyeol lembut setelah menyingkirkan tangan Baekhyun dari mulutnya.
"Aku tidak menganggapmu sebagai anakku, kau tahu aku begitu mencemaskan kandunganmu. Dia satu-satunya harapan Kerajaan ini Baekhyun." Ucap Chanyeol sambil mengelus perut datar Baekhyun.
"Kau mengerti?" Baekhyun mengangguk, memanjat paha Chanyeol sebelum yang lebih dewasa sempat menolaknya , lalu ia kembali menyandarkan kepalanya di leher Chanyeol. Mereka terdiam beberapa detik, hingga Baekhyun mengingat sesuatu lalu mendongak dan menatap Chanyeol.
"Paduka? Apa Paduka sibuk?" tanya Baekhyun dengan wajah riang, berbanding terbalik dengan raut wajah sedihnya beberapa detik lalu.
"Keberatan jika mendengar puisi yang aku buat?" tanya Baekhyun. Chanyeol menggeleng pelan dengan sebuah senyuman kecil. Baekhyun mengeluarkan sebuah kertas dari dalam saku pakaiannya, lalu sebelum Chanyeol sempat memperbaiki posisi kursinya, yang lebih kecil telah mengubah posisi duduknya diatas pangkuan Chanyeol dengan menghadap meja.
Chanyeol menatap bagian belakang kepala Baekhyun yang sedang memunggunginya, sementara yang lebih kecil meletakan kedua tangannya diatas meja sambil membuka lembaran kertas yang sedikit kusut.
"Siap?" tanya Baekhyun sambil menoleh kebelakang dan mata mereka bertemu, membuat Chanyeol tersentak karena dirinya ketahuan sedang memandangi Baekhyun secara diam-diam. Baekhyun tersenyum, lalu mengecup bibir Chanyeol.
" Bagai gersang yang tersiram, bagai beku yang menghangat, bagai bara yang padam, kau selalu membuat duniaku berselimut kasih sayang." Baekhyun memulai puisinya.
"Meski ibarat langit dan bumi, tapi terkadang aku merasa kita tercipta sebagai kesatuan. " Chanyeol menatap Baekhyun dalam, perlahan tangannya bergerak untuk mengelus perut datar Baekhyun, membuat yang lebih muda menoleh sejenak dan tersenyum.
"Laraku berubah jadi kebahagiaan, cintamu membuatku terbang ke angkasa. Kasihmu membuatku berharga."
" Namun ketika rembulan datang, kekalutan menyerang. Menghancurkan setiap asa yang aku bangun perlahan. " Nada suara Baekhyun terdengar lirih dan Chanyeol mencoba menerka apa yang sedang dipikirkan si mungil, namun ia tidaklah orang yang bodoh untuk tak menyadari bahwa Baekhyun sedang memikirkan tentang diri mereka.
"Seekor burung tak selamanya berada diangkasa. Ketika mentari datang, ia akan kembali terbangun di dalam sarang, dimana ia berasal."
Chanyeol terdiam, menantikan kelanjutan ucapan Baekhyun, namun ia tidak merasakan bahwa yang lebih muda akan melanjutkan ucapannya, yang ia lihat hanya kepala tertunduknya dengan jemari meremas kertasnya.
"Apa itu sudah selesai?" tanya Chanyeol. Baekhyun mengangkat kepalanya, mengangguk pelan tanpa melihat kearah Chanyeol. Suasana mendadak berubah menjadi suram, Chanyeol mampu merasakan kesedihan yang tiba-tiba menyerang Baekhyun.
"A-apa itu bagus?" tanya Baekhyun mencoba mencairkan suasana. Chanyeol berdeham sebagai jawaban dan Baekhyun mencoba turun dari atas pangkuan Chanyeol membuat yang lebih tua merasakan sebuah kehampaan.
"Paduka, aku harus menghadiri kelas merajutku." Ucap Baekhyun dengan wajah menunduk setelah memberi hormat. Chanyeol yang melihat itu menahan tangan Baekhyun.
"Ada yang mengganjal di dalam benakmu?" tanya Chanyeol. Baekhyun melirik Chanyeol sejenak lalu kembali tertunduk dan menghela nafas.
"Apa puisi itu isi hatimu?" tanya Chanyeol lagi meskipun dia sudah tahu jawabannya. Baekhyun menatap Chanyeol sejenak, lalu dengan ragu mengangguk.
"Mau mendengar milikku?" Baekhyun membulatkan matanya, namun sebelum ia menjawab Chanyeol telah bangkit , mengangkat tubuh ringan Baekhyun dan menggendongnya seperti bayi koala.
Baekhyun mengernyit namun tidak melawan, ia menyandarkan pipi kanannya di dada Sang Raja. Langkah pertama diambil Chanyeol sambil berjalan menuju pintu keluar membuat Baekhyun membulatkan matanya.
Rajanya tidak pernah mau dengan sukarela untuk memperlihatkan kemesraan mereka di depan para anggota istana, namun kini langkah Sang Raja yang ia yakini akan berjalan keluar ruangan membuat sebuah senyuman terukir di bibir yang lebih muda, perasaan hangat melingkupi hatinya dan sebuah harapan baru kembali ia bangun di dalam angannya.
"Langit terinjak, bumi tergenggam." Chanyeol memulai puisinya, berjalan keluar ruangan membuat pengawal yang berjaga di depan sempat terkejut.
"Dunia bersorak, menipu kehampaan." Mereka telah melangkah di koridor istana, membuat beberapa pelayan yang berada disana menundukan kepala mereka dalam, melihat Sang Raja menggendong seorang bocah laki-laki dalam posisi yang intim.
"Peti terkunci, menyisakan belati." Baekhyun mengernyit tidak mengerti dengan makna di balik ucapan Chanyeol, namun ia memutuskan untuk mendengarkannya.
"Dewa murka, membuang petaka." Baekhyun dapat merasakan pelukan Chanyeol semakin erat selama perjalanan mereka.
"Siang malam bagai hembusan, berganti hari tanpa tujuan." Kaki panjang itu terus melangkah melewati beberapa pelayan yang berlalu lalang dan segera memberi hormat ketika melihat Raja mereka lewat.
"Kejenuhan memusnahkan harapan, mengubur asa , membangun keraguan." Suara Chanyeol begitu lembut dan membius, membuat Baekhyun nyaris tertidur didalam pelukan Sang Raja, hingga ia tidak menyadari langkah mereka telah sampai pada kamar pribadi milik Chanyeol.
"Titik cahaya melebur kegelapan, menyiram air diatas gersang."
" Malaikat kecil penuh keindahan, mengepak sayap memberi kehidupan." Ketika ucapan itu berakhir, tubuh Baekhyun telah di baringkan diatas ranjang, membuat yang lebih kecil tersentak sesaat. Mata keduanya saling menatap, lalu Chanyeol tersenyum membuat Baekhyun ikut tersenyum.
"Itu adalah perasaanku." Gumam Chanyeol. Baekhyun mengernyit, ia sama sekali tidak mengerti dengan makna di balik puisi Chanyeol, bahasa yang digunakan membuat anak kecil sepertinya tidak mudah memahaminya.
"Kau mau dengar akhirnya?" Baekhyun mengangguk cepat.
"Jatuh ke dalam dosa, berlumurkan cahaya. Si kaku berkepala batu, jatuh kedalam pesonanya."
"Tapi Paduka aku tidak mengerti." Ucap Baekhyun membuat Chanyeol terkekeh. Chanyeol memberikan kecupan di kening yang lebih kecil lalu mengelus suarai hitam itu perlahan.
"Kau tidak perlu mengerti, kau hanya cukup tahu bahwa kau adalah malaikat kecil yang Tuhan kirimkan untukku." Pipi Baekhyun bersemu dan memanas, ia mengalihkan pandangannya , tapi sebuah ciuman lembut dibibirnya membuat ia tersadar.
"Baekhyun, jangan ada keraguan lagi, aku sudah cukup meragu untuk waktu yang sangat lama." Ucap Chanyeol sambil menurunkan ciumannya pada perut datar Baekhyun.
"Demi anak kita." Baekhyun bersumpah jika pipinya sekarang sudah semerah tomat yang dipetik ayahnya ketika musim panen tiba. Anak kita! Kata yang sederhana namun mampu membuat dunia Baekhyun terasa terjungkir balik.
Siang itu mereka habiskan dengan berbaring diatas ranjang sambil mendengar semua ocehan dan impian masa depan Baekhyun tentang 'anak mereka' kelak.
…
..
.
Sejak kehamilannya, makanan Baekhyun sangat dijaga. Chanyeol bahkan meminta para pelayan untuk memberikan Baekhyun makanan-makanan yang sehat, dan mencari buah-buahan dengan kualitas terbaik meskipun mengharuskan mereka mencarinya hingga ke Negeri seberang.
Nafsu makan Baekhyun semakin hari semakin bertambah, bahkan ia bisa menghabiskan sekeranjang kecil buah apel dalam satu kali waktu makan. Baekhyun sangat menyukai buah-buahan membuat Chanyeol bersyukur karena setidaknya Baekhyun tidak menginginkan sesuatu yang tidak sehat untuk makannya.
Setiap harinya Baekhyun diberikan susu kualitas terbaik dari peternak di Negerinya demi membuat kandungan Baekhyun semakin bertambah kuat. Baekhyun menyukainya, menyukai bagaimana ia diperhatikan, namun satu hal yang membuatnya tidak senang selama masa kehamilan, ia tidak dibiarkan bebas melakukan apapun yang ia inginkan.
Bahkan kini meski ia sudah bercinta dengan Chanyeol, Chanyeol tetap tidak mengabulkan keinginannya untuk menunggang kuda ataupun menonton para prajurit berlatih secara dekat, membuat Baekhyun selalu merengek pada Sang Raja.
Chanyeol tahu bahwa kelemahannya adalah rengekan manja dari Baekhyun, namun kali ini ia harus bertindak sedikit tegas sebagaimana ia biasanya terhadap para bawahannya, demi janin di dalam perut Baekhyun.
Meski baru akan memasuki usia enam minggu dan perut Baekhyun masih cukup datar, Chanyeol tetap mencemaskan keadaan keduanya. Ia tidak pernah membiarkan Baekhyun pergi seorang diri karena ia sangat mengenal bagaimana kenakalan Baekhyun yang akan membahayakan kandungannya.
Tapi Chanyeol seharusnya juga tahu jika seorang Byun Baekhyun selalu menemukan cara untuk mendapatkan apa yang ia inginkan, seperti saat ini ketika Jongin datang dan melapor padanya jika Baekhyun melarikan diri, membuat Chanyeol mencoba menahan emosinya pada pengawal yang tidak bisa menjaga Baekhyun dengan baik dan meminta pengawal yang lain untuk mencari lelaki itu sampai ketemu.
"Paduka? Bocah_ ah !Tuan muda berada di danau, ia sedang berenang seorang diri." Bola mata Chanyeol membulat ketika Jongin datang kembali padanya setelah pencarian beberapa jam lamanya.
"Jongin, bawa aku kesana!" ucap Chanyeol sambil bangkit.
Ketika tiba disana bersama beberapa pengawalnya dan juga Jongin. Chanyeol mendengar suara seruan senang dari Baekhyun yang melompat dari atas dermaga, sebelum akhirnya berenang ke pinggir dan kembali melakukan hal yang sama berulang-ulang.
"YUHUU!"
BYUR!
Wajah Chanyeol berubah dingin, lalu ia berjalan menuju dermaga dan meminta pengawalnya serta Jongin untuk tetap tinggal.
Kaki jenjang Chanyeol membawanya berdiri diujung kayu tersebut sambil memperhatikan tubuh Baekhyun yang terlihat dari atas permukaan.
Ketika sebuah kepala menyembul sambil menyemprotkan air dari mulutnya seperti semprotan ikan paus, Chanyeol menatapnya tanpa ekspresi membuat sosok kecil itu terkejut bukan main.
"Pa-Paduka?" tanya Baekhyun terkejut, Chanyeol mengulurkan tangannya dengan wajah dingin.
"Naiklah!" ucap Chanyeol. Baekhyun dengan takut meraih tangan Chanyeol, lalu dalam tarikan kuat ia menarik tubuh yang lebih besar kebawah, hingga menimbulkan deburan air yang cukup keras.
Para pengawal berlari mendekat bersama Jongin yang memimpin. Sementara di dalam air, Baekhyun tersenyum sambil menangkup pipi Chanyeol yang masih berusaha menyeimbangkan tubuhnya.
Baekhyun membuka kancing jubah kebesaran seorang Raja yang dipakai Chanyeol, lalu melepaskannya dari tubuh yang lebih tinggi hingga hanya menyisakan sebuah kemeja putih dan celana kain hitamnya.
"Paduka?" panggil Jongin diatas permukaan dengan wajah cemas. Baekhyun membawa tubuh Chanyeol naik kepermukaan dan melempar jubah kebesaran milik Chanyeol tepat mengenai Jongin yang menahan kesal.
"Pergilah! Kami tidak butuh dikawal." Ucap Baekhyun . Jongin menggeram kesal sambil menyingkirkan jubah Chanyeol dari wajahnya dan menatap Baekhyun tajam, namun Chanyeol mengangguk memberi isyarat agar mereka menuruti keinginan Baekhyun.
Jongin mengerutkan keningnya tidak percaya, namun setelahnya ia memilih bangkit sambil membawa para pengawal kembali . Baekhyun memutar tubuhnya menghadap Chanyeol yang tanpa ekspresi, lalu tersenyum.
"Aku sangat suka berada di dalam air." Ucap Baekhyun sambil menarik tangan Chanyeol. Chanyeol tak menjawab, ia sesungguhnya merasa kesal dengan sikap Baekhyun yang sangat tidak berhati-hati pada kandungannya, tapi ia membiarkan ketika dirinya dibawa kesisi danau. Senyum Baekhyun yang hilang kembali muncul ketika mereka saling berhadapan.
Tubuh Chanyeol bersandar pada tiang dermaga, dan Baekhyun mengapitnya dari depan, lalu mengaitkan kakinya pada pinggang Chanyeol. Tubuh bawah mereka terendam dalam air, namun dada hingga kepala mereka menyembul diatas permukaan.
"Baekhyun?" tanya Chanyeol.
"Dan aku akan membuat Paduka menyukai berada di dalam air juga." Ucap Baekhyun sambil menangkup pipi Chanyeol dan membawa mereka dalam sebuah ciuman.
Selain rengekan, kelemahan Chanyeol yang lain adalah ciuman tiba-tiba dan agresif dari Baekhyun, itu membuatnya sedikit tertantang untuk melakukan lebih pada yang lebih kecil.
Kaki Baekhyun semakin rapat, menggesek kedua alat kelamin mereka dengan sedikit kekuatan hingga yang lebih kecil merasakan sebuah kehidupan dibawah sana.
Bibir keduanya masih saling mengait, sementara tangan Chanyeol berada dipantat Baekhyun untuk menyokong tubuh yang lebih muda. Kemeja basah Baekhyun melorot, hingga memperlihatkan pundak putihnya membuat Chanyeol semakin terangsang.
Baekhyun melepaskan ciuman mereka, lalu menurunkan tubuhnya ke dalam air. Ia menurunkan celana Chanyeol hingga membuat kejantanan Sang Raja mengacung tegak.
Chanyeol menarik tubuh Baekhyun keatas ketika yang lebih kecil menyembulkan kepalanya sambil tersenyum.
"Tidak, kita tidak akan melakukan hal yang aneh-aneh disini, sekarang ayo keluar dan_" ucapan Chanyeol terpotong ketika Baekhyun mengecup bibirnya lama, lalu meraih pundak Chanyeol dan melilitkan kembali kakinya.
Dari sisi danau, bias matahari diatas air membuat kilauannya menjadi indah, riak air begitu tenang, namun tidak ada yang tahu aktifitas lain di bawah kayu tua tersebut.
"Aaahh…" Baekhyun menyembunyikan kepalanya di ceruk leher Chanyeol, ketika merasakan penis Chanyeol yang mulai menerobos lubangnya. Karena mereka melakukannya di dalam air, sehingga rasa sakitnya tidak terlalu terasa.
Chanyeol mencoba mencari lubang Baekhyun dengan menggunakan kepala penisnya sebagai penunjuk jalan, dan ketika kepalanya sudah masuk maka ia mendorongnya cukup kuat hingga seluruh batangnya tertanam sempurna.
"Bergeraklah Paduka!" ucap Baekhyun sambil mencengkram pundak Chanyeol, merasakan sebuah kenikmatan. Selama ini mereka tidak pernah bercinta selain diatas ranjang, dan posisi saat ini membuat keduanya merasakan sebuah sensasi kenikmatan yang baru.
"Ooooohhh… Padukaahh..hhmpptt.." Baekhyun menggigit pelan pundak Chanyeol ketika Sang Raja bergerak cukup keras.
Chanyeol tidak tahu kenapa ia malah menuruti keinginan bocah laki-laki di dalam pelukannya kini, kenapa logika dan amarahnya menguap begitu saja hanya karena desahan-desahan yang lebih muda.
Chanyeol memegang pinggang Baekhyun dengan hati-hati, tidak membiarkan yang lebih muda itu menaik-turunkan tubuhnya karena ia mencemaskan kandungan Baekhyun, sebagai gantinya ia yang bergerak menyodok dari arah bawah.
Baekhyun memekik, mendongakkan kepalanya keatas ketika dirinya akan mencapai puncak. Tubuh rampingnya terkulai lemas kebelakang, hingga ia menjatuhkannya diatas air, berbaring seolah ia sedang tidur diatas kasur dengan hanya bertopang pada kekuatan kakinya dan juga pegangan Chanyeol di pinggangnya.
Baekhyun menutup matanya dan menerima setiap tusukan Chanyeol dengan wajah penuh nafsunya, membuatnya terlihat seperti seorang penari penghibur diatas meja para petinggi menjajakan tubuh mereka. Tidak peduli jika posisi terlentangnya sekarang membuat air-air itu masuk ke dalam telinganya, sesekali ia akan menaikkan dagunya untuk mencegah air itu juga masuk ke dalam hidungnya.
Chanyeol menatap wajah penuh hasrat Baekhyun dan libidonya semakin meningkat, membuatnya mencengkram lebih pinggang Baekhyun lalu menggerakan tubuh bagian bawahnya lebih cepat dan dalam.
Ini gila, Chanyeol tahu yang mereka lakukan sekarang adalah perbuatan yang sangat tidak bisa diterima oleh akal sehat. Bagaimana bisa, dirinya yang seorang pemimpin negara melakukan perbuatan tidak senonoh di tempat terbuka. Tapi seluruh pemikiran itu kembali lenyap ketika penisnya dicengkram erat oleh lubang Baekhyun.
"Aaahh.." Chanyeol mendesah dan Baekhyun membuka matanya, ia tersenyum lalu menarik dirinya mendekat kearah Chanyeol. Memeluk kepala Chanyeol, hingga bibir sang Raja menyentuh dadanya yang timbul dibalik kemeja basahnya.
Chanyeol membuka mulutnya dan menggerakan lidahnya untuk menggoda puting menegang Baekhyun, membuat Baekhyun makin gila sementara tubuhnya terdorong naik turun.
DUK
"Aaaww" Baekhyun memegang kepalanya yang terpentuk bagian bawah dermaga membuat Chanyeol sempat terkejut namun keduanya tertawa.
"Kau baik-baik saja?" tanya Chanyeol menghentikan gerakan tubuhnya, Baekhyun memasang wajah pura-pura kesakitan dan menggosok kepalanya.
"Ini sakit, tapi bukan masalah besar." Ucap Baekhyun sambil melingkarkan tangannya di leher Chanyeol.
"Lain kali jangan memilih tempat_"
"Paduka, bergerak…lagi~" rengeknya sambil menggerakan tubuhnya naik turun, Chanyeol tersenyum lalu kembali bergerak, tidak mempermasalahkan ucapannya lagi-lagi dipotong oleh yang lebih kecil.
"Baekhyun…aaahh"
"AAAAHH.." Baekhyun mendongak lagi ketika sodokan terakhir Chanyeol menyemburkan sperma yang cukup kuat dan banyak membuat air danau disekitar mereka menjadi keruh.
Mungkin ini adalah suatu keberuntungan bagi para ikan-ikan di danau yang dapat menikmati bagaimana rasa inti sari Sang Raja, sekaligus menjadi saksi dari sepasang lelaki yang kini sedang mengatur nafas mereka.
Baekhyun terkulai lemas di dada Chanyeol, sementara Chanyeol memperbaiki posisi celananya dan membawa tubuh keduanya keluar dari tempat persembunyian mereka.
"Paduka!" Mata Chanyeol membulat ketika melihat Jongin dan para pengawal keluar dari balik semak-semak dan berlari kearahnya dengan wajah cemas.
"Paduka, kami sengaja menunggu di balik semak-semak, kami khawatir jika_" ucapan Jongin terpotong ketika melihat keadaan Baekhyun yang terkulai lemas di pelukan Chanyeol, dengan kepala bersandar nyaman pada pundak yang lebih tua.
Jongin meneliti penampilan dua orang dihadapannya dengan kening berkerut, hingga dehaman Chanyeol membuatnya tersadar dan segera menundukan wajahnya.
"Ayo..ekhem..kembali!" ucap Chanyeol sambil menahan rasa malu yang menghinggapinya, memikirkan banyak hal tentang apakah para bawahannya melihat apa yang sedang ia dan Baekhyun lakukan di dalam air tadi.
Setelah kejadian itu Chanyeol selalu merasa malu tiap kali melihat Jongin apalagi ketika dirinya sedang bersama Baekhyun, keduanya akan terjebak dalam situasi yang terbilang sangat canggung, dan Sehun tidak bodoh untuk menyadari itu.
…
..
.
Chanyeol terbiasa untuk menangani masalah segenting apapun, ia selalu bertindak sigap, penuh pertimbangan namun tidak pernah mengulur-ngulur waktu. Sejak kecil hingga sekarang ia terbiasa untuk menempatkan dirinya dalam masalah kecil maupun besar, gawat maupun mendesak, ia tidak pernah ragu, takut atau gugup.
Tapi berbeda dengan saat ini, ketika dirinya dan Baekhyun tidur di dalam kamarnya lagi, terlelap nyeyak setelah permainan panas mereka tiba-tiba ia mendengar seseorang menangis kesakitan, ketika ia tertarik dari mimpinya ia sadar itu adalah suara Baekhyun.
Tubuh yang lebih kecil berkeringat, matanya terpejam sambil memegang perutnya dan meringis kesakitan.
"Baekhyun! Baekhyun!"
"Sakiittt… Sakiittt…Paduka.. sakiitt.." teriak Baekhyun tanpa membuka matanya. Chanyeol panik, ia tidak tahu harus melakukan apa, yang ada dipikirannya sekarang menyelimuti tubuh telanjang Baekhyun, mengangkatnya perlahan dan membawanya berlari ke ruangan Tabib Shin dan berharap jika Tabib istana tersebut belum tertidur.
Pintu terbuka dan Tabib Shin memberi hormat dengan wajah setengah mengantuknya lalu mempersilahkan Sang Raja yang cemas untuk masuk.
"Tuan Muda?" panggil Tabib Shin namun Baekhyun masih setia terpejam dengan raut mengernyit menahan sakit.
"Apa yang terjadi?"
"Aku tidak tahu, tiba-tiba dia terbangun dalam keadaan seperti ini." Ucap Chanyeol panik. Tabib Shin memeriksa keadaan Baekhyun dengan serius, lalu menurunkan selimut yang menutupi tubuh kecil itu. Meski ia cukup terkejut melihat banyak sekali tanda keunguan dan kemerahan disekujur tubuh itu -membuat Chanyeol membuang wajahnya menahan rasa-malu, tapi Tabib Shin tidak bertanya lebih lanjut melainkan segera menuju perut Baekhyun.
Ia mengelusnya pelan dan keningnya mengernyit membuat Chanyeol semakin cemas. Ia hanya takut jika janin di dalam perut Baekhyun dalam bahaya.
"Paduka kapan terakhir kali Tuan Muda buang air besar?" tanya Tabib Shin, Chanyeol mengernyit mencoba berpikir namun ia hanya menggeleng sebagai jawaban.
"Apa Paduka tahu satu hari ini Tuan Muda sudah buang angin atau belum?" Chanyeol mengernyit mendengar pertanyaan konyol itu membuat ia hanya bisa menggeleng lagi.
Tabib Shin menghela nafas, lalu kembali teringat sesuatu.
"Apa ketika kalian bercinta, Tuan Muda sempat buang angin?" Chanyeol terdiam, mereka bercinta sejak pagi dan baru selesai malam setelahnya dan selama itu ia tidak mendengar Baekhyun membuang angin.
"Tidak, dia tidak ada melakukannya." Ucap Chanyeol yakin. Tabib Shin mengangguk, lalu mengoleskan minyak atsiri pada perut Baekhyun mengelusnya pelan dan menekan sebuah bagian yang tidak mengenai kandungannya.
BRUUUUUTTT
Chanyeol membulatkan matanya sementara Tabib Shin menutup mata dan mengernyitkan hidungnya.
Aroma busuk mulai tercium dan Chanyeol mencoba mengabaikannya. Ketika suara angin dahsyat itu tak terdengar lagi, mata Baekhyun terbuka pelan.
"Paduka?" tanya Baekhyun pelan Chanyeol mendekat sambil memegang tangan Baekhyun.
"Apa yang terjadi padaku?" tanyanya pelan. Chanyeol memasang wajah kikuk, namun ia tidak ingin mempermalukan Baekhyun. Chanyeol menggeleng lalu mengangkat tubuh Baekhyun dalam gendongannya , mengucapkan terima kasih pada Tabib Shin dan segera kembali ke dalam kamarnya.
Selama perjalanan Chanyeol selalu menahan senyumnya dalam setiap langkah yang ia ambil membuat Baekhyun yang berada dalam rengkuhannya menatapnya dengan kening berkerut.
"Paduka, apa yang terjadi? Kenapa wajah Paduka terlihat aneh?" Chanyeol melirik Baekhyun lalu kembali menggeleng. Baekhyun menaikkan satu alisnya merasa aneh dengan wajah tersenyum Chanyeol.
"Baekhyun, apa kau masih malu padaku?" tanya Chanyeol ketika mereka memasuki kamar. Baekhyun berpikir sebentar lalu menggeleng.
"Tidak. Kenapa harus malu?"
"Benarkah?"
"Hm. Aku tidak malu sama sekali." Ucap Baekhyun yakin. Chanyeol mengangguk pelan sambil berjalan kearah ranjangnya.
"Jika disela-sela kegiatan bercinta kita kau ingin buang angin, buanglah! Jangan menahannya!" seketika wajah Baekhyun memerah, ia melempar pandangannya lalu menurunkan tubuhnya paksa dari pelukan Chanyeol.
"Hei! Hei!" panggil Chanyeol dan Baekhyun memilih berbaring memunggungi Chanyeol sambil menutup tubuhnya hingga kebagian wajah dengan selimut.
"Baekhyun! Jangan tidur miring!" ucap Chanyeol dan si mungil membalik tubuhnya menghadap langit-langit dengan wajah tertutup selimut. Chanyeol tersenyum melihat tingkah menggemaskan Baekhyun dan memutuskan untuk bergabung sambil memeluk tubuh menegang itu.
Kejadian lain yang membuat Chanyeol gugup adalah ketika dipagi hari ia membuka mata, ia tidak melihat sosok Baekhyun disampingnya melainkan mendengar suara orang muntah di dalam kamar mandi.
Ia bangkit dan berjalan cepat menuju kamar mandinya untuk mendapati Baekhyun memuntahkan isi perutnya di atas lantai dan tubuh lemas yang bersandar di salah satu tiang penyangga.
"Baekhyun!" Chanyeol mendekat dan mengangkat tubuh lemas itu untuk membaringkannya di atas ranjang.
"Ini hal yang wajar Paduka selama masa kehamilan." Ucap Tabib Shin sesaat setelah usai memeriksa keadaan Baekhyun.
"Lakukan apapun untuknya, ia terlihat sangat tersiksa."
"Aku akan membuatkan ramuan untuk mengurangi rasa mualnya, sisanya beliau hanya perlu beristirahat." Chanyeol mengangguk dan membiarkan Tabib Shin meminjam mejanya untuk mulai meracik obat dari tumbuhan yang ia dapatkan dari seorang pelayan.
Chanyeol duduk disamping Baekhyun mengelus surai hitam itu perlahan, menatap wajah kelelahan Baekhyun yang membuat hatinya merasa ikut sakit.
"Bertahanlah!" bisik Chanyeol pelan.
…
..
.
Chanyeol mempercayai ucapan Tabib Shin mengenai hal-hal wajar yang terjadi selama kehamilan dan memintanya untuk tidak terlalu cemas. Karena setelah dua hari istirahat Baekhyun kembali sehat.
Ia sudah bisa ikut menonton para prajurit berlatih dan tersenyum senang melihat kemajuan mereka. Tidak hanya itu nafsu makan Baekhyun bertambah berkali-kali lipat lebih banyak hingga Chanyeol merasa pipi lelaki itu lebih gembul dan entah sadar atau tidak perut Baekhyun mulai terlihat menonjol.
"Paduka." Panggil Jongin ketika memasuki ruangan Chanyeol. Chanyeol mendongak dan tersenyum menerima kedatangan sahabat kecil sekaligus kaki tangan kepercayaannya.
"Sebentar lagi saatnya untuk melakukan survei ke pusat kota." Chanyeol membulatkan matanya cukup terkejut, biasanya ia tidak pernah lupa dan tidak pernah merasa seberat saat ini untuk melaksanakan tugas yang telah ia rencakan dulu.
"Kapan itu Jendral Kim?" tanya Chanyeol.
"Besok malam Paduka." Bola mata Chanyeol semakin membulat namun ia memilih mengangguk pelan.
"Baiklah, terima kasih Jongin." Ucap Chanyeol dan membiarkan Jendralnya pergi setelah memberi hormat.
Entah mengapa Chanyeol merasa tanggung jawab itu mulai menganggunya, bukan karena ia tidak mau menjalankan hal yang telah ia janjikan pada dirinya sendiri, namun ia merasa berat untuk melepas sosok mungil yang setiap malam terlelap dalam dekapannya.
"Paduka.." suara riang itu membuat Chanyeol tersadar. Ia menoleh untuk mendapati Baekhyun disana sambil melangkah dengan sedikit melompat-lompat senang.
"Lihat! Apa yang aku buat!" ucap Baekhyun sambil menunjukan sebuah layang-layang berbentuk seperti burung berwarna putih dan kuning.
"Apa itu?" tanya Chanyeol karena jujur ia tidak pernah tahu jenis-jenis permainan yang biasa dimainkan oleh para rakyat biasa.
"Layang-layang." Ucap Baekhyun sambil menunjukannya pada Chanyeol.
"Aku membuatnya saat merasa bosan tadi di dalam kamar." Ucap Baekhyun.
"Itu sangat bagus."
"Benarkah? Kalau begitu ayo mainkan ini!" Ucap Baekhyun riang. Chanyeol terdiam sambil melirik kertas-kertas diatas mejanya.
"Tapi…aku…" Baekhyun menatap kertas Chanyeol kecewa lalu mengangguk paham.
"Aku mengerti, Paduka pasti sibuk. Aku tidak seharusnya menganggu Paduka."
"Maafkan aku." Sesal Chanyeol. Ia benar-benar tidak bisa untuk meninggalkan pekerjaannya kali ini karena besok malam ia harus pergi ke pusat kota selama beberapa hari.
"Tidak masalah. Kalau begitu aku akan bermain dulu, sampai jumpa Paduka." Ucap Baekhyun kembali riang dan berlari menuju pintu.
"Baekhyun!" panggil Chanyeol. Baekhyun menoleh dengan wajah kebingungan.
"Jangan berlari! Itu bisa membahayakan anak kita." Seketika raut wajah Baekhyun berubah, pipinya terasa panas hingga menimbulkan warna merah .
"Ba-Baiklah Paduka, aku mengerti." Ucap Baekhyun sambil segera meninggalkan ruangan setelah memberi hormat cepat.
Selama perjalanan menuju taman belakang istana, ia mengelus perutnya pelan sambil membayangkan wajah Chanyeol ketika mengucapkan kata 'anak kita' tadi.
"Kau dengar? Paduka memanggilmu 'anak kita' tadi." Gumamnya dengan penuh kesenangan.
Ketika tiba di taman Baekhyun memulai permainannya. Dengan sedikit kesusahan menarik tali yang terhubung dengan layangannya lalu mencoba menerbangkannya, ketika itu berhasil dia memekik senang.
Biasanya ada Kyungsoo yang akan memegang layangan dan ia yang menariknya sehingga pekerjaan mereka menjadi lebih mudah, namun kini meskipun sendiri bukan berarti ia tidak punya cara untuk membuat layangannya tetap terbang.
Ketika ia berlari dan teringat akan ucapan Chanyeol, ia akan memelankan langkahnya dan memilih menarik-narik tali itu dan mengulurnya hingga layangannya semakin tinggi.
Jongin dan Sehun yang baru saja selesai melatih para prajuritnya menghentikan langkah mereka ketika melihat sosok yang sangat mereka kenal. Jongin orang pertama yang menginterupsi percakapan mereka menarik tangan Sehun mendekat untuk melihat lebih jelas.
"Lihat yang bocah itu lakukan! Ck! Sungguh kekanakan!" ucap Jongin, Sehun beralih menatap Jongin dengan satu alis terangkat.
"Bukankah dia memang anak-anak."
"Ya, aku tahu tapi sebentar lagi dia akan menjadi seorang ibu. Aku tidak membayangkan bagaimana ia bertingkah nanti, terutama mengurus anaknya."
"Paduka tidak akan membiarkan dirinya mengurus bayinya seorang diri, pastilah para dayang akan diutus untuk melakukannya." Jongin berdecak lalu ia tersenyum setelahnya.
"Tunggu disini! Aku ingin menunjukan sesuatu." Sehun melirik Jongin yang telah lari menjauh, lalu matanya beralih pada sosok yang kini memekik senang sambil menatap langit.
"Aku berharap kau tidak akan pernah mendapatkan orang yang kau sukai! Kau menyebalkan!"
Ucapan Baekhyun beberapa waktu lalu masih membekas di benak Sehun, hingga langkah kaki Jongin membuatnya mengalihkan pandangannya pada sahabat kecilnya yang berdiri sedikit terengah dengan sebuah busur dan anak panah yang sangat kecil.
"Apa?" tanya Jongin ketika melihat Sehun menatapnya dalam diam.
"Tidak." Sehun menggeleng lalu melirik benda di tangan Jongin.
"Lihat!" ucap Jongin mulai memposisikan anak panah di bawah dagunya. Jongin adalah pemanah yang sangat handal, tidak ada yang perlu meragukan kehebatannya. Dan ketika anak panahnya melesat, ia bersorak senang.
Sehun mengikuti arah anak panah itu melesat dan mendapati seruan kecewa dari Baekhyun karena layanganya terputus.
"Tidak! Tidak!" ucap Baekhyun sambil mengejar pelan layangannya dan tersangkut di sebuah pohon tak jauh dari tempatnya bermain. Jongin menyeringai membuat Sehun menggeleng pelan melihat tingkah sahabatnya itu.
"Rasakan!" ucap Jongin.
"Sudahlah! Ayo kembali!" ucap Sehun sambil menarik tangan Jongin. Keduanya berbalik dengan Jongin yang merasa sangat gembira telah mengerjai sosok bocah menyebalkan –baginya- itu.
BRUUUK
Keduanya menoleh dan mendapati Baekhyun terduduk di atas tanah. Keduanya memperhatikan bagaimana Baekhyun menepuk kedua tangannya dan meringis.
Baekhyun dalam posisi terduduknya meringis merasakan perih pada tangannya dan juga sakit pada pantatnya. Ia hendak memanjat keatas pohon dimana layangannya tersangkut namun belum sempat menggapai layangannya ia sudah terpeleset dan terjatuh.
"Aaahh, pantatku." Gumam Baekhyun sambil menepuk pantatnya, ketika ia membuka kakinya ia dikejutkan dengan cairan merah diatas tanah. Matanya membulat lalu meraba dengan gugup kain celananya dan ia terisak.
"Hiks..Hiks.. hiks.. darah… darah… hiks.. " Isakan itu membuat Jongin dan Sehun segera berlari mendekat.
…
..
.
Chanyeol sedang mengistirahatkan punggungnya ketika seorang pengawal berlari ke dalam ruanganya dan terlihat sangat ketakutan.
"Pa..Paduka.. Tuan Muda terjatuh dari atas pohon dan mengalami pendarahan." Sontak bola mata Chanyeol membulat sempurna dan ia segera bangkit, mengabaikan rasa lelahnya untuk segera mengikuti pengawal tersebut kearah kamar Baekhyun.
Ketika ia tiba di depan pintu dengan nafas terengah-engah ia disambut oleh Tabib Shin, Jongin dan Sehun serta Baekhyun yang bersandar diatas ranjangnya dengan wajah pucat.
"Paduka." Gumam Baekhyun pelan.
"Tabib Shin? Bagaimana keadaan janinnya?" tanya Chanyeol. Baekhyun tersentak entah mengapa ada perasaan kecewa menyelimuti dirinya. Yang menjadi prioritas sang Raja adalah janin di dalam tubuhnya bukan dirinya dan itu sedikit tidaknya membuat hatinya terasa sakit.
"Kita beruntung, denyut jantung janin di dalamnya masih terasa." Chanyeol menghela nafas lega lalu segera beralih menatap Baekhyun.
"Baekhyun?" tanya Chanyeol dengan wajah cemas bercampur lelahnya.
"Bagaimana bisa kau terjatuh dari atas pohon?" tanya Chanyeol sedikit membentak, tidak ada yang bisa menyalahkan karena Sang Raja dalam keadaan panik sekarang. Baekhyun menundukan kepalanya.
"A..Aku i..ingin me..mengambil layanganku yang…yang tersangkut." Gumam Baekhyun pelan.
"Bagaimana bisa kau memilih memanjat pohon ketimbang memikirkan tentang janin di dalam perutmu?" Nada Chanyeol masih tetap tinggi. Seluruh mata menatap terkejut kearah Sang Raja yang mereka ketahui selama ini tidak pernah membentak Baekhyun.
"A…aku…" Bibir Baekhyun kelu, kepalanya semakin jatuh tertunduk. Jongin yang melihat itu merasa sedikit tidak enak bagaimana pun ia yang berusaha mengerjai Baekhyun, meskipun dirinya tidak bermaksud untuk membuat janin di dalam perut Baekhyun dalam keadaan bahaya.
"Paduka, biarkan Tuan Muda beristirahat. Jangan seperti ini, keadaan_"
"Tidak." Chanyeol memotong ucapan Jongin.
"Dia tidak bisa mengabaikan keselamatan bayi di dalam perutnya, kalian… pergilah!" ucap Chanyeol dan seketika mereka yang tidak diharapkan berada di dalam ruangan segera memberi hormat dan berjalan keluar.
Ruangan sangat sunyi, hanya terdengar isakan mereda Baekhyun dan nafas berat Chanyeol.
"Ma..Maafkan aku Paduka.." gumam Baekhyun.
"Maaf karena telah membuat anak Paduka dalam keadaan bahaya." Ucapan Baekhyun membuat Chanyeol terkesiap, dan ia mulai mengingat apa yang telah ia ucapkan pada Baekhyun barusan.
"Maaf…hiks.. Maaf karena tidak menjaga anak Paduka. Seharusnya aku tahu, sebagai tempat di mana janin ini berkembang, aku tidak boleh membuat keselamatannya terancam, aku telah lalai, aku pantas menerima_" ucapan Baekhyun terpotong ketika Chanyeol meraih dagunya, membuat mata mereka bertemu.
"Bagaimana bisa kau berkata ini hanya anakku? Kau tidak ingat dia dibuat oleh cinta diantara kita? Dia anak kita Baekhyun." Suara Chanyeol begitu lembut membuat air mata Baekhyun lolos. Chanyeol menghapusnya perlahan.
"Maaf karena membentakmu tadi, aku hanya khawatir. Kau tahu kan betapa aku sangat mengharapkan kelahiran anak kita dalam keadan selamat?" Hati Baekhyun terasa menghangat.
"A..anak kita?" ucapnya. Chanyeol mengangguk, menghapus kembali air mata Baekhyun lalu mengecup bibirnya.
"Ya, anak kita. Anakmu dan anakku." Gumam Chanyeol. Baekhyun memeluk Chanyeol sangat erat, dan Chanyeol membiarkan lelaki mungil itu menyembunyikan kepalanya di dalam dadanya.
"Baekhyun ada yang ingin aku katakan!" ucap Chanyeol. Baekhyun menarik dirinya lalu menatap kearah mata Chanyeol. Bergerak bergantian antara bola mata yang satu dengan yang lainnya, Chanyeol melakukan hal yang sama, lalu ia menggeleng.
"Besok_" ia menjeda ucapannya. Namun seketika perasaan tidak enak kembali menyelimutinya saat melihat raut kebingungan Baekhyun dengan mata basahnya.
"Besok dan malam ini aku akan menemanimu disini." Ucap Chanyeol. Baekhyun tersenyum lalu mengangguk. Perlahan ia meraih tangan Chanyeol, meletakkan tangan besar itu diatas perutnya.
"Paduka, mulai sekarang ayo jaga dia bersama-sama." Ucap Baekhyun dan Chanyeol mengangguk setuju lalu memberikan sebuah kecupan pada perut Baekhyun membuat yang lebih kecil tersenyum senang.
Dan Chanyeol mengingatkan dirinya untuk memberitahu Jongin bahwa ia tidak akan pergi untuk melakukan survei besok malam.
…
..
.
"Paduka!" Jongin mendekat ketika Chanyeol mempersilahkannya untuk masuk. Chanyeol tersenyum sambil menghentikan kegiatan membacanya.
"Ada apa Jongin?" tanya Chanyeol.
"I..ini.. Ini tentang Byun Baekhyun." Ucap Jongin sedikit gugup.
"Ya, ada apa dengannya? Bukankah dia sedang beristirahat sekarang? Dia_"
"Aku minta maaf Paduka, kejadian kemarin, aku dan Sehun ada disana." Chanyeol terdiam menantikan ucapan Jongin.
"Aku berencana untuk memberinya pelajaran agar ia tidak bersikap kekanak-kanakan. Tapi, aku melakukan kesalahan, hal itu malah membawa petaka pada dirinya. Aku minta maaf Paduka, aku pantas mendapat hukuman. Aku_"
"Jongin. Kau, aku dan Sehun tumbuh besar bersama. Meski usia kita terpaut beberapa tahun, namun kita sangat akrab sejak kecil , bukan begitu?" Jongin mengangguk.
"Kau tahu benar mengenai apa yang aku suka dan apa yang tidak aku suka, begitu pula denganku. Jadi bisa aku bertanya dimana letak hal yang salah pada diri Baekhyun sehingga kalian berdua tidak menyukainya?" Jongin tercekat, ia menatap Chanyeol dengan wajah tegang sementara Chanyeol hanya terkekeh pelan.
"Aku sudah tahu bahwa kau dan Sehun tidak menyukainya, kalian tidak bisa membohongiku. Aku juga tahu bahwa apapun yang dialami Baekhyun tidak jauh dari campur tangan kalian, tapi kali ini berikan aku alasannya!"
"Paduka adalah seorang Raja, Raja kami." Mulai Jongin sambil menatap Chanyeol.
"Apapun yang berhubungan dengan Paduka haruslah sesuatu yang memang benar-benar layak untuk disuguhkan pada seorang Raja. Sementara dia, dia hanya lelaki desa yang tidak tahu tata krama, aku hanya takut sifatnya akan membuat Paduka malu , apalagi cepat atau lambat pesta penyambutan bayi Paduka akan dilaksanakan dalam sebuah pesta besar. Aku tidak ingin Paduka malu karenanya." Chanyeol tersenyum sambil mengangguk paham.
"Aku tahu kalian sangat menyayangiku."
"Lebih dari itu Paduka, kami sangat menghormati Paduka dan apapun yang berhubungan dengan Paduka menjadi prioritas kami, bahkan kami telah disumpah sebelumnya." Chanyeol kembali tertawa dan mengangguk-anggukan kepalanya.
"Ya, tentu aku tahu Jongin. Kenapa kau menjadi sangat serius seperti ini? Kemana Kim Jongin yang memiliki selera humor tinggi?"
"Paduka…" Jongin menatap Chanyeol yang sedang tertawa dengan bingung.
"Jongin, dengarkan aku! Dia hanya anak kecil, dia tidak tahu apa yang dia lakukan itu salah atau tidak. Selama dia merasa itu menyenangkan dia akan melakukannya, bukankah kita pernah muda dulu? Jadi kenapa kau tidak memakluminya? Dan.." wajah Chanyeol sedikit serius diakhir katanya.
"…dan juga dia sangat berjasa untuk Kerajaan ini. Aku tahu kau masih mengingat kejadian silam tentang Ratuku yang berkhianat, tapi kau tidak bisa membandingkan Baekhyun dengannya, mereka jauh berbeda. Baekhyun itu lugu dan polos dia tidak memiliki ambisi apapun terhadap kekayaan dan tahta. Jadi aku harap kau bisa menerimanya, aku tidak meminta kalian berhenti menjahilinya karena aku tahu secara tidak langsung itu menjadi hiburan kalian kan?" Jongin masih terdiam menatap Chanyeol yang nampak tenang.
"Tapi semua ada batasanya Jongin. Aku hanya ingin kau tahu bahwa kau dan Sehun selamanya akan menjadi sahabatku, sementara posisi lainnya cepat atau lambat akan diisi oleh orang lain." Jongin membulatkan matanya.
"Apa.. apa itu berarti Paduka jatuh cinta pada bocah.. ah! Pada Byun Baekhyun?" Chanyeol terdiam lalu tersenyum kearah Jongin.
"Ini sudah larut, beristirahatlah Jongin. Dan minta Sehun untuk berhenti berlatih juga!" Jongin terdiam lalu tersenyum kecil, sejak dulu memang tidak ada yang berubah dari persahabatan mereka bahkan Chanyeol masih ingat kebiasaan Sehun yang suka berlatih dimalam hari bahkan ketika ia sudah menjadi seorang Raja seperti sekarang.
"Baik Paduka, sebaiknya Paduka juga!"
"Ya, setelah ini aku akan tidur. Aku rasa Baekhyun telah memanggil-manggilku dalam tidurnya." Chanyeol terkekeh dan Jongin hanya tersenyum canggung.
…
..
.
Beberapa hari setelahnya ketika kesehatan Baekhyun sudah pulih total, Chanyeol mulai memikirkan perkataan Jongin dan Sehun mengenai janjinya sejak dulu untuk mengabdikan dirinya pada rakyat. Dan hal itu membawa Chanyeol pada keputusan bahwa dirinya akan melakukan survei ke pusat kota secepatnya.
Dan hari itu adalah besok pagi. Untuk itu siang harinya usai makan siang, ia meminta waktu untuk bicara dengan si mungil .
"Baekhyun, kau tahu kan bagaimana seorang Raja bekerja untuk rakyatnya?" Baekhyun mengangguk sambil berlatih melukis di dalam kamarnya.
"Tentu."
"Dan kau tahu kan ada banyak jenis hal yang harus seorang Raja lakukan termasuk melihat secara langsung keadaan rakyatnya."
"Tentu, lalu apa yang coba Paduka katakan? Aku tidak mengerti." tanya Baekhyun sambil menghentikan kuasnya dan menoleh kearah yang lebih tua.
"Aku harus melakukan itu sekarang."
"Apa?" tanyanya sambil kembali melukis diatas kanvas.
"Pergi kepusat kota untuk beberapa hari." seketika tubuh Baekhyun menengang, gerakannya terhenti lalu menoleh pelan kearah Chanyeol.
"Berapa lama?" tanya Baekhyun.
"Mungkin 3 hari." Baekhyun memasang wajah cemberut, ia tidak tahu mengapa namun semenjak kepergian Chanyeol dulu membuat Baekhyun tidak ingin dijauhkan dari Sang Raja, itu mengapa Chanyeol selalu membatalkan setiap rencanya pergi ke desa-desa dibawah kekuasaannya, namun kali ini pergi ke pusat kota bukan hal yang bisa ia hindari lagi.
"Paduka~" Baekhyun bangkit sambil merengek. Meraih tangan Chanyeol lalu menggoyang-goyangkannya.
"Paduka tahu sendiri bahwa anak kita ( mengarahkan tangan Chanyeol keperutnya) tidak ingin jauh-jauh dari Paduka. Jangankan tiga hari, semenit saja bisa membunuhku." Gumam Baekhyun. Chanyeol menatap Baekhyun dengan pemikiran rumitnya.
"Tapi Baekhyun, kali ini aku harus pergi." Ucap Chanyeol. Baekhyun menggeleng pelan. Menaiki kakinya dan duduk diatas pangkuan Sang Raja.
"Paduka , aku tidak mau ditinggal disini sendirian." Ucap Baekhyun manja.
"Kau tidak akan sendirian, akan banyak pelayan yang menemanimu ditambah Tuan Lee." Baekhyun menggeleng cepat, mengaitkan tangannya keleher Chanyeol.
"Tidak, aku tidak mau para pelayan atau Tuan Lee. Aku mau Paduka." Ucap Baekhyun lagi. Chanyeol menghela nafas.
"Aku punya ide." Ucap Baekhyun lalu berbisik ditelinga Chanyeol membuat bola mata yang lebih tua membesar.
"Tidak." Serunya. Baekhyun tersenyum jahil lalu mengecup-ngecup bibir Chanyeol dengan nakal.
"Ya,Ya,ya? Aku mohon~"
"Tidak! kau tidak bisa ikut, itu membahayakan, Baekhyun."
…
..
.
Jongin dan Sehun saling lirik lalu mengarahkan arah pandangnya pada sosok yang kini menaiki kuda di depan mereka-Sang Raja- dan menatap sebuah kaki kecil yang bergerak-gerak diatas kuda yang sama dengan milik Raja mereka.
Baekhyun tersenyum senang terduduk diatas kuda yang sama dengan Chanyeol dengan posisi menyamping. Keempatnya melakukan penyamaran seperti biasa, namun Chanyeol dan Baekhyun terlihat seperti pasangan baru menikah yang melakukan perjalanan jauh.
Apalagi jubah coklat kebesaran itu membuat tubuh Baekhyun tenggelam dan tudung jubahnya yang menutupi kepala membuat ia terlihat seperti anak perempuan.
"Paduka , aku lelah." Ucap Baekhyun. Kuda terhenti membuat Jongin dan Sehun memutar bola mata mereka. Mereka berjalan belum sampai setengahnya dan mereka telah berhenti tiga kali hanya karena bocah menyebalkan yang sialnya sedang mengandung anak Raja mereka mengeluh lelah.
Chanyeol melompat turun dan setelahnya membantu Baekhyun untuk turun lalu bersitirahat dibawah sebuah pohon rindang.
Baekhyun melepas tudung jubahnya membuat ia nampak menggemaskan dengan bibir mengunyah apel yang Chanyeol berikan. Tidak hanya apel, Chanyeol membawa banyak sekali persediaan makanan untuk si mungil.
"Paduka jika seperti ini terus, kita tidak akan sampai." Ucap Jongin protes. Chanyeol melemparkan apel kearahnya dan ditangkap cepat oleh Jongin.
"Makanlah! Kita butuh beristirahat." Ucap Chanyeol.
"Ini apel ketiga hari ini." Gumam Jongin yang hanya diberi kekehan kecil oleh Sehun yang mengunyah apelnya.
"Paduka~" Baekhyun bangkit sambil memakan apelnya lalu berpindah duduk diatas pangkuan Chanyeol membuat ketiga pria disana saling menatap canggung, terutama Chanyeol. Mereka memang biasa bermesraan bila sedang berdua, namun tidak ketika berada di depan bawahannya apalagi itu adalah teman semasa kecilnya.
"Baekhyun?"
"Pantatku sakit." Ucap Baekhyun tak acuh sambil memakan apelnya dan melihat pemandangan sekitar.
"Menggelikan." Gumam Sehun sambil menggeleng pelan, Baekhyun yang mendengarnya menghentikan acara menguyahnya lalu beralih menatap Sehun tajam.
"Jendral Oh?" panggil Baekhyun dan Sehun menoleh.
"Berhenti bicara terlalu tajam, nanti tidak ada yang menyukaimu." Ucap Baekhyun membuat Jongin terbahak. Sehun terdiam lalu matanya beralih menatap Chanyeol, dan keduanya diselimuti perasaan canggung.
"Hahahaha… Kau benar." Ucap Jongin sambil menepuk-nepuk pundak Sehun membuat yang lebih muda risih dan menepisnya pelan.
"Hentikan Jongin!" ucap Chanyeol membuat Jongin mengangguk sambil menahan tawanya.
"Paduka~ apa Jendral Oh memiliki orang yang ia sukai?" tanya Baekhyun. Chanyeol menatap Baekhyun bingung lalu melirik Sehun yang juga menatap kearahnya. Chanyeol menggeleng.
"Mungkin ada tapi aku tidak tahu." Ucap Chanyeol. Sehun berdecak lalu bangkit dan berjalan kearah kudanya.
"Eeeii! Dia selalu seperti itu tiap aku menyinggung orang yang ia sukai." Ucap Baekhyun sambil menggeleng. Chanyeol tersenyum dan mengelus rambut hitam Baekhyun sambil beralih menatap sosok Sehun yang memberikan sisa apelnya pada kuda kesayangannya.
…
..
.
Mereka sampai dipusat kota ketika hari mulai petang, membuat mereka dengan terpaksa harus mencari penginapan dan esok paginya baru menjalankan kegiatan mereka.
Biasanya mereka akan tiba siang hari dan langsung melakukan tugas mereka selama beberapa hari ke depan, namun berkat kehadiran yang tidak diharapkan oleh kedua Jendral itu membuat rencana mereka sedikit berubah.
Setelah Jongin mendapatkan sebuah kamar kecil di dalam penginapan sederhana akhirnya tiga orang yang sejak tadi duduk diatas kudanya segera turun dan mengikuti Jongin.
Sehun mendorong pintu kayu itu dan sebuah kamar sederhana terlihat. Hanya ada sebuah ranjang di tengah ruangan, sebuah meja kayu bulat dan dua buah kursi disisinya, lalu sebuah kursi panjang dari rotan.
"Ah , kasur!" ucap Baekhyun sambil merebahkan tubuhnya diatas ranjang dalam posisi tengkurap membuat Chanyeol membulatkan matanya.
"Baekhyun! Awas perutmu!" Baekhyun menolehkan kepalanya malas dan segera mengubah posisinya menjadi terlentang.
"Aku baik-baik saja Paduka!" ucap Baekhyun sambil mengangkat tangannya menunjukan ibu jarinya.
"Ayo kita mencari tempat makan!" ucap Chanyeol setelah meletakkan barang-barangnya. Jongin dan Sehun bangkit dari posisi duduk mereka lalu berjalan mengikuti Chanyeol, hingga langkah mereka terhenti karena Chanyeol yang tiba-tiba berhenti dan menoleh kearah sosok mungil yang berbaring dengan kedua tangan dan kaki yang terbuka.
"Baekhyun, ayo makan!"
"Aku tidak lapar! Kalian pergi saja!" ucap Baekhyun. Chanyeol tidak membiarkan hal itu terjadi,jadi ia meminta Jongin dan Sehun untuk menunggu diluar sementara ia mendekati Baekhyun yang nampak hendak tertidur.
"Baek, kau belum makan apapun selain buah sejak tadi. Sekarang ayo makan! Demi anak kita." Mata Baekhyun otomatis terbuka. Ia menatap Chanyeol lalu mengangguk lugu.
"Gendong~" Baekhyun merentangkan kedua tangannya dan Chanyeol menarik kedua tangan itu lembut.
"Hei! Jangan seperti ini bila kita di depan orang banyak! Bagaimana pun aku seorang Raja, kau mengerti?" Baekhyun memajukan bibirnya membuat Chanyeol merasa gemas.
"Baiklah!" Ucap Baekhyun lalu melompat dari atas kasur membuat Chanyeol terkejut, ia menarik tangan Baekhyun cepat membawanya dalam pelukannya.
"Baek, bisakah kau tidak melakukan hal yang membahayakan janinmu? Ingat kau membawa jiwa lain dalam tubuhmu." Baekhyun terdiam, lalu mengangguk.
"Maafkan aku Paduka." Ucap Baekhyun pelan membuat Chanyeol merasa menyesal. Perlahan ia menarik dagu Baekhyun, lalu mencium bibir cemberut itu dan memberikan sedikit lumatan.
"Paduka, bisakah kita tidak makan dan bercinta saja?" Chanyeol menatap Baekhyun lalu tersenyum.
"Kau sedang ingin?" Baekhyun mengangguk membuat Chanyeol tersenyum semakin lebar , lalu mengusak rambut Baekhyun pelan.
"Kau harus menahannya! Setelah sampai di Kerajaan kita akan melakukannya." Baekhyun mengangguk pelan dan Chanyeol membawa tubuh itu keluar. Jongin dan Sehun bangkit dari posisi bersandar mereka dan menatap Baekhyun malas.
"Kita akan makan apa Padu_"
"Kau lupa dengan apa yang kuminta?" ucap Chanyeol sambil menutup bibir Baekhyun dengan telapak tangannya, Baekhyun mengangguk pelan.
"Kita akan makan apa Paman?" Baekhyun mengucapkannya dengan berbisik membuat Chanyeol terkekeh pelan.
"Kita lihat nanti! Ada sesuatu yang kau inginkan?"
"Hm! babi panggang." Chanyeol mengangguk dan membawa tubuh Baekhyun untuk mengikutinya.
Keadaan pusat kota berbeda ketika malam hari, terlihat lebih sepi namun ramai di beberapa kedai makan. Chanyeol memasuki sebuah kedai makanan yang cukup ramai lalu memilih sebuah meja bulat dengan kursi rendah di sekelilingnya.
Sehun memesan makanan dan sedikit mendengus ketika menyampaikan pesanan Baekhyun namun si mungil hanya tak acuh sambil mengedikkan bahunya. Chanyeol melirik Sehun, ia tahu bahwa Jendralnya itu sedang dalam perasaan buruk, dan ketika mata mereka bertemu keduanya sempat terdiam hingga yang lebih muda melempar pandangannya.
Ketika makanan datang mereka semua mulai makan dalam diam, kecuali Baekhyun yang nampak sangat kepalaran membuat Chanyeol menggeleng.
"Kau suka?" tanya Chanyeol ketika Baekhyun memandang potongan babi panggang di piring Chanyeol sementara miliknya sudah kosong. Baekhyun mengangguk dan Chanyeol memindahkannya ke piring Baekhyun membuat bocah itu berseru senang lalu memakannya dengan lahap.
Jongin yang melihat itu mengambil potongan miliknya yang masih utuh dan memberikannya pada Chanyeol, Chanyeol tersenyum dan mengangguk namun Baekhyun kembali menoleh dengan bibir penuh mengunyah makanannya.
Chanyeol yang merasa gemas memberikan potongan itu pada Baekhyun dan ia lagi-lagi bersorak senang. Jongin menatap jijik kearah Baekhyun yang nampak rakus sementara Sehun hanya menatap dalam diam.
Ia mengambil potongan miliknya dan meletakkan dipiring Chanyeol. Chanyeol menoleh dan Sehun hanya melanjutkan makannya. Ketika Baekhyun kembali menoleh dan Chanyeol memberikan isyarat untuk mengambil miliknya, Baekhyun tersenyum dan hendak mengambilnya dengan sendok hingga sendok milik Sehun menahannya.
Kedua mata itu saling tatap sementara Chanyeol hanya mengernyit terkejut.
"Kau sudah cukup makan banyak, bahkan kau menghabiskannya semua sendiri kenapa masih rakus ingin memakan milik Pa_Tuan Park?" Baekhyun menatap tidak suka.
"Padu_Paman saja tidak protes, kenapa kau protes?" tanya Baekhyun tidak terima. Sehun menggeram kesal dan masih menahan sendok milik Baekhyun, hingga Chanyeol memilih menyendokkannya ke piring milik Baekhyun.
"Uweee.." Baekhyun menjulurkan lidahnya. Sehun mendengus lalu meletakkan sendoknya dan bangkit.
"Yak! Sehun!" panggil Jongin dan hendak bangkit namun Chanyeol menahannya.
"Biar aku!" ucap Chanyeol. Baekhyun menatap Chanyeol dengan wajah berharap agar Sang Raja tidak pergi, namun Chanyeol menarik belakang kepala Baekhyun dan mengecup pucuk kepalanya.
"Jaga dia Jongin!" ucap Chanyeol lalu bangkit.
Chanyeol berjalan keluar kedai dan menemukan Sehun berjalan menuju kebelakang kedai dengan langkah kesal. Dengan perlahan Chanyeol mengikutinya lalu membawa mereka pada sebuah tempat yang sepi.
"Sehun!" Sehun menoleh dan ia akui ia cukup terkejut melihat Chanyeol mengejarnya, tapi suasana hatinya sedang tidak baik.
"Apa yang Paduka lakukan disini?"
"Menurutmu?" Chanyeol mendekat sambil tersenyum teduh.
"Mencariku?"
"Tidak! Tepatnya mengikutimu."
Hening tidak ada yang bicara hingga akhirnya Chanyeol mendekat dan menepuk pundak Sehun.
"Suasana hatimu sedang buruk kan? Gara-gara Baekhyun? Aku minta maaf untuk itu!" ucap Chanyeol. Sehun membuang wajahnya, menatap tanah terasa jauh lebih baik.
"Kenapa harus Paduka yang minta maaf?"
"Karena dia tidak tahu apa kesalahannya, tidak akan pernah tahu." Ucap Chanyeol
Hening kembali menyerang.
"Sehun, boleh aku bertanya sesuatu?" Sehun menoleh dan mengangguk pelan.
"Kau masih sangat sensitif mengenai topik itu. Apa kau masih menyimpan perasaan itu? Apakah masa lalu diantara kita masih berbekas di benakmu?" Sehun tercekat, tenggorokannya terasa kering.
…
..
.
Sementara di dalam kedai, Jongin menatap Baekhyun yang masih makan dengan rakus.
"Hei! Hei! Pelan-pelan! Kau ini bar-bar sekali." Ucap Jongin, Baekhyun tersenyum lalu kembali melanjutkan acara makannya.
"Uhuk…uhuk.."
"Apa aku bilang!" Jongin memberikan air sambil memutar bola matanya dan Baekhyun menerimanya dengan cepat lalu meminumnya. Setelah dirinya merasa baik, ia melirik kebelakang dan tidak menemukan tanda-tanda bahwa dua orang itu akan kembali.
"Tuan Kim, apa kalian bertiga begitu dekat?" tanya Baekhyun. Jongin yang usai meminum airnya mengangguk.
"Kami seperti ditakdirkan sejak masih di dalam kandungan. Sejak masih balita kami sering bermain bersama. Raja terdahulu memiliki beberapa orang selir dan aku adalah anak dari selir utama, sementara Sehun adalah anak dari Jendral Oh, Jendral perang terdahulu. Raja terdahulu tidak membatasi pergaulan kami, sehingga kami dengan tahta yang berbeda dibiarkan bermain bersama Paduka." Ucap Jongin.
"Paduka empat tahun lebih tua dariku dan Sehun setahun lebih muda dibawahku. Tapi hal itu tidak membuat kami terbatas. Dulu kami tidak cukup canggung seperti sekarang, kami masih bermain dan bahkan tidur dalam satu ranjang yang sama. Namun setelah penobatan itu dan sumpah yang kami laksanakan, kami mencoba untuk bersikap lebih dewasa." Baekhyun mengangguk paham lalu kembali mendekatkan tubuhnya.
"Apa Jendral Oh itu memiliki orang yang ia suka? Kenapa ia berubah lebih dingin setelah aku menyumpahinya?" Jongin berdecak.
"Siapapun akan kesal dengan sumpahmu itu."
"Tapi kau tidak." Tunjuk Baekhyun dan Jongin terkekeh.
"Karena aku tidak percaya cinta dan semacamnya."
"Lalu bagaimana dengan Jendral Oh?" Jongin mengangguk pelan.
"Ya dia punya. Dan itu sedikit rumit." Ucap Jongin. Baekhyun mengernyit.
"Rumit? Seperti apa?" Jongin menatap Baekhyun sambil berpikir.
"Kau masih kecil kau tidak akan tahu bocah!"
"Hei!" Baekhyun memegang keningnya yang didorong oleh telunjuk Jongin.
"Ayo kita kembali!" ucap Chanyeol ketika tiba-tiba muncul. Jongin segera bangkit dan Baekhyun menatap dengan mata berkedip.
"Secepat itu?" tanya Baekhyun.
"Ya, kita harus segera beristirahat untuk besok." Baekhyun mengangguk lalu bangkit. Chanyeol membantunya dan menuntun tubuh mungil itu.
…
..
.
Ketika hari semakin larut dan keempat lelaki itu tertidur dalam satu ruangan dengan tempat yang berbeda-beda dimana Sehun dan Jongin diatas karpet di depan perapian, Chanyeol diatas sofa dan Baekhyun diatas ranjang kecil dengan sebuah selimut menutupi tubuhnya.
Ketika semua dalam keadaan terlelap, Baekhyun nampak gusar dalam tidurnya. Ia bergerak ke kiri dan ke kanan, lalu menendang selimutnya dan merengek kesal untuk kesekian kalinya. Ia bangkit dengan posisi duduk dan melirik semua orang yang nampak lelap.
Perlahan Baekhyun bangkit, lalu berjalan mengendap kearah Chanyeol. Ia duduk disisi kosong disamping tubuh Chanyeol lalu menatap wajah tertidur yang lebih tua.
Baekhyun memajukan bibirnya, lalu matanya berselancar di tubuh Chanyeol mulai dari wajah turun kebawah dan terhenti diselangkangan milik Sang Raja. Baekhyun sedang ingin meminum cairan milik Chanyeol, entah mengapa rasa ingin itu seolah membunuhnya.
"Paduka~" bisik Baekhyun sambil menyentuh lengan Chanyeol yang digunakan untuk menutup matanya membuat mata bulat itu terbuka dan menatap terkejut kearah Baekhyun yang nampak sedih.
"Ada apa Baekhyun, apa butuh sesuatu?" tanya Chanyeol. Baekhyun mengangguk dengan wajah menggemaskannya.
"Anak kita haus." Ucap Baekhyun membuat wajah Chanyeol mendadak memanas.
"Akan aku ambilkan minum_"
"Tidak, ia tidak ingin air. Tapi ingin sperma dari_hmppt." Chanyeol membekap mulut Baekhyun dengan telapak tangannya sambil melirik kearah Sehun dan Jongin yang masih terlelap.
"Apa harus sekarang?"
"Hm" Baekhyun mengangguk dengan gerakan kekanakan. Chanyeol bangkit dan menarik tubuh Baekhyun perlahan untuk menuju keluar dengan mengendap-endap. Chanyeol menaikkan tudung jubahnya sambil melihat sekitar dan ia melakukan hal yang sama pada Baekhyun yang berada dibelakangnya.
"Kita mau kemana Paduka?"
"Mencari tempat yang sepi. Kita tidak mungkin melakukannya di depan Jendral Kim dan Jendral Oh." Baekhyun mengangguk dan mengikuti kemana Chanyeol menarik tubuhnya. Hingga mereka berhenti dibagian belakang penginapan yang sangat sepi sama seperti jalanan kota yang juga nampak sepi.
Ada sebuah pohon besar beberapa meter dari pintu belakang penginapan dan Chanyeol menyembunyikan tubuh keduanya di balik pohon rindang itu.
"Lakukanlah!" ucap Chanyeol sambil berdiri bersandar pada pohon dan melihat sekitar. Baekhyun mengangguk dengan wajah senang lalu berjongkok di depan Chanyeol. Ia memasukkan kepalanya ke dalam jubah panjang Chanyeol hingga akhirnya tubuhnya pun ikut masuk ke dalam.
Chanyeol menutup matanya ketika merasakan tangan kecil Baekhyun menurunkan celananya dan menggenggam penisnya.
Seumur hidup Chanyeol tidak pernah melakukan hal seperti ini, bahkan ia tidak pernah memiliki fantasi untuk bercinta di tempat-tempat umum, namun kedatangan Baekhyun mengubah segalanya.
"Hmm.." Chanyeol menggeram dalam, berusaha menahan desahannya ketika Baekhyun telah memasukan benda itu ke dalam mulutnya, menghisapnya dengan sangat rakus.
"Baekhhh.." Hisapan itu semakin cepat, bahkan Chanyeol dapat merasakan bahwa penisnya telah menegak sempurna. Baekhyun masih bekerja dibawah sana memompa dan menjilati penis Chanyeol.
Untuk ukuran seorang Raja tindakan yang mereka lakukan adalah hal yang sangat terlarang, Chanyeol bahkan sempat berpikir bagaimana tanggapan ayah dan ibunya diakhirat sana. Tapi sekali lagi, Baekhyun bagaikan tombol otomatis untuknya, membuatnya tidak bisa menolak apalagi ketika bocah itu merengek untuk meminta apapun.
"Oohh.." Chanyeol merasakan penisnya mengembung dan siap menembak. Ia memejamkan matanya sambil mendongak , merapatkan jemari kakinya dan memegang kepala Baekhyun yang berada dibawahnya, hingga cairan itu menembak dengan keras dan sangat banyak.
Ketika seluruh cairannya telah diperas oleh tangan kecil Baekhyun, ia menarik tubuh itu keluar , mencemaskan kandungan Baekhyun jika ia terlalu lama menunduk.
Baekhyun keluar dari balik jubah Chanyeol dengan bibir belepotan dan pipi merona merah dan wajah senang tapi sedikit mengantuk. Sungguh menggemaskan ! Chanyeol terus berkata dalam hati.
"Terima kasih_" belum selesai Baekhyun mengucapkan rasa terima kasihnya Chanyeol telah menarik tubuh itu lalu mengubah posisi mereka hingga kini Baekhyun yang bersandar pada batang pohon.
Chanyeol melumat bibir itu segera, merasakan bagaimana rasa spermanya dan ia tidak tahu bagaimana bisa Baekhyun menyukai rasa aneh dari cairan miliknya. Ciuman Chanyeol semakin dalam dan Baekhyun menarik kepala Chanyeol agar berpindah untuk mencium lehernya dan Chanyeol tentu melakukannya dengan senang hati.
"Padukaa..aahhh.."
"Ssstt!"
"Pa-Paman… lagiihhh…" ucap Baekhyun sambil mencengkram rambut Chanyeol dan mendorongnya agar semakin kuat mencumbu lehernya. Baekhyun melepaskan tangannya dari rambut Chanyeol, lalu mengangkat jubahnya yang menjuntai menyentuh tanah keatas memperlihatkan paha telanjangnya.
"Baekhyun, dimana celanamu?" tanya Chanyeol. Baekhyun tersenyum lalu menoleh kebelakang.
"Tertinggal di kamar Paduka." Ucap Baekhyun polos. Chanyeol menelan ludahnya melihat kaki putih mulus itu juga sebuah celana dalam berwarna putih polos.
"Padu_Paman.. ayo kita lakukan sekarang! Aku tidak mau menunggu sampai pulang. Ya?Ya?Ya?" Chanyeol berpikir sebentar, memikirkan tentang resiko yang akan mereka dapatkan, namun nafsunya pun sudah diujung kepala.
Baekhyun berbalik, ia sedikit menungging masih sambil memegang jubahnya agar tidak menutupi tubuh bagian bawahnya, lalu menurunkan celana dalamnya membuat lubang berkedut miliknya terlihat.
Baekhyun tidak tahu jika hal polos yang ia lakukan malah membuatnya terlihat begitu seksi dan menggairahkan dimata yang lebih tua.
"Aku mohon Paduka." Rengek Baekhyun sambil menoleh melalui celah punggungnya kearah Chanyeol.
"Hanya sekali dan kita selesai." Ucap Baekhyun lagi. Chanyeol maju selangkah, ia menurunkan celananya membuat Baekhyun tersenyum puas lalu kembali menghadap ke batang pohon untuk berpegangan. Setelah celana Chanyeol menggantung di kakinya, ia mendekat dan mengarahkan penisnya menuju lubang Baekhyun.
Membasahi lubang itu dengan sisa sperma dan liur milik Baekhyun, lalu menekan miliknya perlahan.
"Aaaah…"
"Ssst! Pelan..kan Baek!" mata Chanyeol tertutup merasakan kenikmatan dari lubang ketat Baekhyun. Baekhyun menutup mulutnya dengan punggung tangannya dan membuka kakinya lebih lebar.
"Aaah…Eughh…Emmhh…Emmhh..Emmhh.." Baekhyun terus mendesah dengan mulut tertutup ketika tubuhnya bergerak maju mundur. Chanyeol menggeram dan menggerakan tubuhnya semakin cepat.
"oohh.. Eeemmhh.. Pa…Paman.. lagiihh.." ucap Baekhyun setengah berbisik. Chanyeol bergerak semakin cepat dan cepat, menubruk bagian terdalam Baekhyun membuat bocah kecil itu terdorong-dorong nyaris menabrak batang pohon di depannya.
Peluh mulai membasahi keduanya, tudung Chanyeol terjatuh hingga rambutnya tertiup angin malam, sementara Baekhyun semakin menunggingkan tubuhnya dan membiarkan lubangnya dilecehkan oleh Sang Raja.
"Oohh.. eemmhh.. eemmhh. Disanaahhh.." erang Baekhyun ketika Chanyeol menemukan titik kenikmatannya.
"Lebiih dalam."
"Oohh.." desahan Chanyeol lolos ketika penisnya dijepit semakin kencang oleh otot rektum Baekhyun yang berkontraksi.
"Aaaaahhh.." Baekhyun merasakan sperma Chanyeol mengisi lubangnya hingga tubuhnya sesekali tersentak ke depan akibat tembakan-tembakan itu.
"Iniihh..nikmat." ucap Baekhyun sambil menyandarkan wajahnya pada batang pohon. Chanyeol menarik nafas lalu menaikkan celananya dan menarik tubuh Baekhyun celana dalamnya dan merapikan jubah kebesaran si mungil.
"Ayo kembali!" ucap Chanyeol sambil menarik tubuh Baekhyun namun merasa tubuh Baekhyun cukup berat ketika ditarik membuat Chanyeol menoleh dan mendapati cara berjalan Baekhyun terlihat kesulitan.
Tanpa bicara Chanyeol mengangkat tubuh itu ke dalam gendonganya dan membawanya seperti pengatin yang sedang berbulan madu.
Mereka masuk ke kamar secara perlahan, dan ketika Chanyeol telah menidurkan Baekhyun diatas ranjangnya, yang lebih kecil menahan tangan Chanyeol.
"Apa?"
"Tidurlah disini bersamaku Paduka!" ucap Baekhyun dengan wajah memohon.
"Aku tidak suka tidur sendiri." Ucap Baekhyun. Chanyeol melirik ranjang kecil itu dan memikirkan apakah ranjang itu cukup untuk berdua namun sebelum ia selesai dengan pemikirannya, Baekhyun menarik tubuh Chanyeol dan membuatnya berbaring lalu ia menindih tubuh Chanyeol dan membaringkan kepalanya diatas dada Chanyeol.
"Nah begini lebih baik!" ucap Baekhyun.
"Baek, ingat perutmu!" ucap Chanyeol. Baekhyun sedikit menggeser tubuhnya, hingga kini ia memeluk tubuh Chanyeol dari samping sehingga diantara perutnya dan tubuh Chanyeol terdapat celah.
"Selamat malam Paduka, aku mencintaimu." Ucap Baekhyun sambil menguap. Chanyeol terdiam dan menatap langit-langit dengan satu tangan mengelus rambut Baekhyun.
"Selamat malam Baekhyun, aku juga mencintaimu." Ucap Chanyeol lalu memejamkan matanya.
Di bawah sana, sepasang mata terbuka , ia mendengar semua percakapan mereka dan matanya menatap kearah langit malam berhias bintang melalui jendela, dan pikirannya berkelana pada percakapannya dengan Sang Raja tadi.
"Sehun, aku telah melupakan apa yang pernah terjadi diantara kita."
…
..
.
Ketika matahari bersinar hal pertama yang Baekhyun lihat adalah wajah dingin dari sosok Jendral Oh yang berdiri di depan ranjangnya. Menatapnya tanpa suara namun dengan tatapan yang tidak terdefinisikan.
"Kemana Paduka? Kemana Jendral Kim?" tanya Baekhyun ketika ia menyadari bahwa Chanyeol tidak ada disampingnya dan tidak ada suara Jongin disekitarnya. Sehun tidak menjawab, hanya mengelap pedangnya dengan sangat berhati-hati.
"Lalu apa yang kau lakukan disini?" tanya Baekhyun lagi.
"Kau pikir siapa yang membuatku terjebak disini bersama bocah sepertimu? Karena kau, aku tidak bisa pergi bersama mereka dan harus berada disini untuk menjaga bocah menyebalkan sepertimu yang tertidur dengan suara berisik dan bangun sangat siang." Baekhyun berdecih lalu membaringkan tubuhnya kesal. Sehun menoleh dan mendapati jubah Baekhyun sedikit tersingkap memperlihatkan sedikit paha putih itu, lalu matanya mengarah pada celana si bocah yang terkulai diatas lantai.
"Apa yang kau lakukan semalam dengan Paduka?" tanya Sehun, Baekhyun melirik sebentar lalu berdecih namun pipinya bersemu merah mengingat apa yang terjadi semalam.
"Apa urusanmu?"
"Ck! Aku tidak menyangka bocah sepertimu ternyata sangat mesum,kau memaksa Paduka untuk menuruti semua keinginanmu hanya karena kau bisa mengandung? Cih!" Baekhyun terduduk dan menatap Sehun tidak suka, terutama cara pria itu bicara.
"Aku hanya menjalankan kewajiban, apa yang salah dengan itu? Lagipula aku tidak pernah memaksa Paduka, aku hanya meminta dan beliau dengan senang hati mengabulkan. Dan kau! Berhenti bicara seperti itu padaku, kau tahu aku sedang mengandung dan aku mudah merasa tersinggung." Ucap Baekhyun dengan cepat.
"Jangan pikir karena kau hamil aku akan menganggapmu spesial, kau_"
"Pantas saja kau tidak memiliki kekasih, cara bicaramu sungguh menyakitkan. Siapapun dia, dia adalah orang yang paling tidak beruntung yang pernah kau sukai, dia_"
SEEEB!
Baekhyun membeku ditempat, baru saja sebuah pedang melayang disamping tubuhnya dan kini menancap di dinding kamar. Jika seinchi saja dia bergerak bisa dipastikan bahwa wajahnya pasti akan terluka.
Jantung Baekhyun berdegup dan matanya memanas, berkaca-kaca dan akhirnya air mata itu mengalir.
"Kau! Kau sungguh kejam." Baekhyun menangis dan ia mengusap air matanya cepat dengan punggung tanganya sambil menatap Sehun.
"Kau sangat kejam Jendral Oh, kau hampir membunuhku. Kau..hiks.. hiks.. kau melakukan itu pada seorang bocah , dan..hiks… orang yang sedang hamil." Baekhyun bangkit dan menghapus air matanya cepat lalu membanting pintu kamar.
Sehun diam di tempatnya sambil menatap pedang yang menancap di dinding karena ulahnya dengan wajah datar.
…
..
.
Baekhyun berlari keluar penginapan dan ia menghentikan langkahnya ketika melihat suasana kota yang sangat ramai. Dengan mata yang masih basah dan hidung memerah ia berjalan mengikuti orang-orang yang berlalu lalang.
Suasana di pusat kota di pagi hari terasa berbeda, benar-benar padat dan terlihat begitu sesak.
Seorang pedagang berteriak menjajakan dagangannya, lalu Baekhyun mengikuti arah suara itu. Matanya membulat dengan lidah yang menjilat-jilat bibir bawahnya melihat deretan kue yang aromanya sangat manis.
"Wah kau sangat manis nona. Ini ambilah!" Baekhyun membulatkan bibirnya lalu mengangguk dan mengucapkan terima kasih sambil menatap senang pada kue ditangannya. Ia memakannya sambil terus berjalan.
"Ayo Tuan! Ayo Nyonya! Aku akan membaca masa depan kalian!" Baekhyun menghentikan langkah dan kegiatannya yang sedang memakan kue. Lalu menoleh pada seorang nenek yang terduduk di atas karpet usang.
Baekhyun mendekat lalu berjongkok membuat nenek itu tersenyum lebar.
"Biar aku bacakan!" Ucap nenek itu sambil menarik tangan Baekhyun, Baekhyun sebenarnya hendak menolak tapi nenek itu sudah lebih dulu bertindak.
"Hmm…"
"Anak yang nakal, pembuat onar, periang, membawa kebahagiaan, dan…anak kedua belas dari dua belas bersaudara?" Baekhyun mengangguk senang ketika mata membulat nenek itu menatap kearahnya tidak percaya.
"Biar aku lihat lagi! Kau..kau sedang mengandung benar?" Baekhyun mengangguk dengan sebuah senyuman sumringah diwajahnya.
"Wah, selamat jika begitu." Baekhyun kembali tersenyum dan ketika ia ingin bangkit, tangannya ditahan.
"Aku melihat…" ucapan nenek itu terjeda lalu ia menatap kearah Baekhyun sekilas sebelum akhirnya kembali fokus pada telapak tangan Baekhyun.
"… kau harus bersabar, ada sebuah cobaan di depan mata."
"Apa itu nek?" tanya Baekhyun bingung. Nenek itu menggeleng pelan lalu tersenyum.
"Hanya percaya bahwa cinta membawa sebuah keajaiban." Baekhyun tersenyum sambil menggigit kuenya.
"Terima kasih Nek." Ucap Baekhyun sambil bangkit, namun ketika ia hendak memasukan tangannya ke dalam celananya yang berada di dalam jubahnya, ia baru menyadari jika ia belum menggunakan celananya. Ia tersenyum bodoh.
"Nek, aku tidak punya uang. Tapi, aaah! Ini untuk nenek, aku hanya baru menggigitnya sedikit, rasanya sangat enak nek, nenek pasti suka." Ucap Baekhyun sambil menarik telapak tangan si peramal dan meletakkan kue sisa gigitannya disana.
Baekhyun melambaikan tangan dan berlalu meninggalkan tempat itu sambil kembali mencari kesenangan.
Ia terus berjalan dengan wajah riang hingga matanya terpaku pada sosok yang ia kenal, yang sangat ia rindukan, sedang duduk bersandar pada dinding dibelakangnya dengan berbagai sayuran diatas meja kecil dihadapannya.
Sosok itu nampak kelelahan dan sesekali terbatuk.
"Ayah~" Mata Baekhyun berkaca-kaca melihat sosok ayahnya yang berusaha menjajakan dagangannya ketika beberapa pembeli lewat dan kembali bersandar dengan wajah letih ketika ia ditolak.
Baekhyun sedih, sedih karena ia tidak bisa membantu ayahnya yang terlihat sangat kelelahan dan ia marah , marah karena tidak melihat satupun saudarinya yang membantu ketika ayahnya dalam keadaan tidak sehat dan tetap berjualan. Ia tahu,pasti ayahnya mengalah karena tidak satupun dari saudarinya mau menjajakan sayur dipasar.
Rasanya Baekhyun ingin menghampiri sang ayah dan memeluknya lalu berkata bahwa ia sangat merindukan sosok yang selalu memanjakannya itu. Baekhyun menghapus air matanya yang terjatuh dengan cepat dan menundukan wajah bersedihnya.
"Jadilah anak yang berguna Baek, banggakan kami!"
Ucapan Sang Ayah membuat Baekhyun teringat dengan semua hal yang telah ia lalui, dan ia berharap bahwa bayi di dalam perutnya segera lahir sehingga ayah dan keluarganya mendapatkan kehidupan yang lebih baik.
Tanpa Baekhyun sadari langkahnya berjalan mendekati sosok sang ayah dengan wajah yang ia sembunyikan di balik tudung kebesarannya.
"Ada yang ingin anda beli?" tanya ayahnya ketika Baekhyun berdiri di depan dagangannya. Baekhyun tidak menjawab, bahunya bergetar ketika ia menahan tangisan.
"Hei anak muda? Ada yang ingin anda beli?" tanya ayahnya lagi dan Baekhyun terisak semakin dalam.
"Hei, kau baik-baik saja?" Baekhyun menggeleng pelan membuat Sang Ayah tersentak, tangannya terjulur hendak melepas tudung jubah Baekhyun sebelum akhirnya sebuah sosok tinggi datang , berdiri disamping Baekhyun dengan nafas terengah dan memegang pundaknya.
"Maaf, dia hilang tadi." Ucap Chanyeol dengan wajah yang masih ia coba sembunyikan.
"Ini, terima kasih karena telah menjaga keponakanku." Ucap Chanyeol sambil meletakkan tiga koin emas diatas dagangan Kyuhyun membuat pria itu terkejut.
"Ah tidak Tuan! Tidak! Aku tidak melakukan apapun, aku_"
"Tidak apa-apa, anggap itu sebagi rejekimu. Ayo!" ucap Chanyeol sambil menggenggam tangan Baekhyun dan menariknya. Ketika langkah mereka menjauh, Baekhyun menoleh kebelakang dan melihat ayahnya masih menatap kearahnya dengan wajah bingung.
"Kau tahu? Ketika aku memintamu untuk tinggal, itu artinya kau harus tinggal." Ucap Chanyeol ketika mereka tiba di tempat sepi. Baekhyun masih menundukan wajahnya.
"Dan bagaimana bisa kau hampir membongkar penyamaran kita? Sejak awal aku sudah tahu bahwa aku memang tidak bisa mempercayaimu." Ucap Chanyeol lagi.
"Aku meminta Sehun untuk menjagamu, tapi kau malah melarikan diri? Bagaimana jika kau hilang? Bagaimana bila terjadi sesuatu pada janin di dalam perutmu? Apa kau memikirkan resikonya? " ucap Chanyeol lagi menumpahkan segala kepanikannya.
Ia merasa begitu panik ketika memasuki kamar dan tidak menemukan Baekhyun maupun Sehun. Dan harus berlari dengan terburu untuk mencari sosok mungil Baekhyun ditengah padatnya pasar kota tanpa harus membuka penyamarannya.
"Baekhyun? Aku bicara padamu!"
"Maaf! Maafkan aku Paduka! Aku selalu membawa masalah untuk Paduka, aku selalu menciptakan keributan dan membuat Paduka cemas. Aku tidak bisa menjaga bayi ini dengan baik, aku minta maaf." Baekhyun menahan isakannya dengan wajah masih tertunduk.
"Baekhyun?" suara Chanyeol melembut.
"Aku selalu bersikap kekanak-kanakan, aku selalu memaksakan kehendakku pada Paduka, dan aku selalu merasa sombong karena aku bisa mengandung anak Paduka hiks . .. hiks" tangisannya lolos dan membuat Chanyeol tercekat.
Ia mengangkat dagu Baekhyun dan mata mereka bertemu, lalu Chanyeol meraup bibir itu dalam, membuat Baekhyun tersentak karena tindakan tiba-tiba itu. Tangisan Baekhyun pecah dan Chanyeol meraup bibirnya semakin dalam untuk meredamnya.
Untung suasana disekitar mereka sangat sepi, tidak ada siapapun yang berlalu lalang ataupun berada disana, kecuali dua sosok yang hanya terpaku melihat pemandangan di depan mereka.
"Aku rasa kita bisa mempercayai bocah itu, hanya dia satu-satunya yang bisa membuat Paduka secemas itu." Ucap Jongin sambil menepuk pundak Sehun yang berada di depannya. Sehun melirik sebentar lalu kembali menatap dua sosok yang sedang berciuman di depan mereka.
"Aku rasa Paduka jatuh cinta pada Baekhyun." Sehun menoleh dengan kening berkerut membuat Jongin terdiam.
"Sehun, kau masih belum bisa melupakan masa lalu diantara kalian? Ayolah itu sudah berlalu belasan tahun Sehun, demi Tuhan belasan tahun, dan aku yakin itu hanya kesalah pahaman."
"Salah paham? Kesalah pahaman yang membuatku tidak makan hampir tiga hari hanya karena Paduka dan… sudahlah, aku tidak ingin membahas ini." Ucap Sehun namun Jongin menahan tangannya, membuat sosok Sehun menoleh.
"Lupakan Sehun! Kalian telah memiliki takdir masing-masing!" Sehun menampik tangan Jongin.
"Tidak semudah itu Jongin, aku masih mencintainya." Ucap Sehun lalu pergi. Jongin menghela nafas dan kembali menatap dua sosok yang masih berciuman membuat Jongin membuka mulutnya tidak percaya. Berapa lama lagi? Bentaknya dalam hati.
…
..
.
Mereka kembali lebih cepat sehari dari waktu yang ditentukan dan itu lagi-lagi membuat Jongin dan Sehun menuduh Baekhyun adalah penghasut Sang Raja untuk kembali ke istana padahal itu adalah keputusan sepihak Chanyeol karena mencemaskan keadaan Baekhyun.
Mereka tiba di dalam istana ketika matahari mulai tenggelam , lebih lambat dari biasanya siapalagi kalau bukan karena Baekhyun yang ingin ini dan itu.
Ketika mereka tiba hal pertama yang Chanyeol lakukan adalah membawa Baekhyun ketabib Shin untuk memeriksakan keadaannya dan juga janin di dalam perutnya, setelah dinyatakan bahwa yang lebih muda baik-baik saja barulah Chanyeol merasa lega dan kembali ke dalam kamarnya, bersama Baekhyun tentunya.
Ketika Chanyeol usai membersihkan diri , ia mendapati Baekhyun berdiri di depan cermin dengan baju tidurnya yang ia singkap keatas memperlihatkan perutnya yang sedikit menonjol.
"Baekhyun?" Baekhyun menoleh dan tersenyum.
"Paduka,beberapa minggu lagi ia akan menginjak usia 3 bulan. Aku sangat tidak sabar, tapi kenapa perutku tidak terlihat terlalu besar?" tanya Baekhyun. Chanyeol mendekat lalu berdiri dibelakang Baekhyun dan memandang pantulan mereka dari cermin.
"Itu karena kau yang sangat kurus." Ucap Chanyeol, Baekhyun memajukan bibirnya tidak terima.
"Tidak aku merasa berat badanku naik karena nafsu makanku sangat banyak."
"Tapi kau sangat aktif seluruh makananmu telah diubah menjadi energi, untuk itu mulai sekarang jangan melakukan aktifitas yang melelahkan agar bayimu tumbuh besar." Baekhyun mengangguk pelan sambil mengelus perutnya.
"Paduka, jika aku menjadi babi nanti , Paduka tidak akan meninggalkanku kan? Dan lebih memilih menonton para penari perut itu?"tanya Baekhyun. Chanyeol menatap Baekhyun dari pantulan di cermin lalu memeluk tubuh Baekhyun dari belakang membuat Baekhyun bersemu merah.
"Aku tidak pernah tertarik dengan para penari perut, Baekhyun. Lagipula siapa yang akan menjadi babi?"
"Aku! Jika kehamilanku semakin besar aku akan dipanggil babi."
"Hei, siapa yang akan memanggilmu babi? Lagipula kenapa harus?"
"Dulu saat Sooyeon noona pulang dalam keadaan hamil, ia terlihat sangat gendut lalu semua orang memanggilnya babi. Dia sempat menangis, mengadu pada ibu jika selama kehamilan suaminya juga menjadi tidak terlalu sayang padanya dan terkadang melirik orang lain." Ucap Baekhyun lagi.
"Aku tidak akan melakukannya, lagipula aku memang menginginkan kehamilanmu. Bagaimana aku bisa memanggil ibu dari anakku babi? Aku tidak mau anakku menjadi babi sungguhan." Baekhyun tertawa lalu membalik tubuhnya.
"Paduka, terima kasih. Terima kasih karena selalu membuatku bahagia. Terima kasih karena mencintaiku." Ucap Baekhyun. Chanyeol mengangguk pelan dan Baekhyun mengalungkan tangannya di leher Chanyeol, hendak menciumnya tapi Chanyeol menahanya.
"Tidak, jangan terlalu intim. Aku tidak ingin membatalkan rapatku kali ini." Ucap Chanyeol lalu melepas pelukan Baekhyun dan mengecup pipi lelaki itu. Baekhyun cemberut menatap punggung Chanyeol yang berbalik, tapi senyumnya hilang ketika yang lebih tua kembali dan merengkuh pinggang Baekhyun lalu membawa mereka dalam sebuah ciuman.
…
..
.
Di pagi harinya , ketika mentari bersinar dengan cerah ketika seharusnya siapapun yang baru terbangun akan merasa senang dan segar , namun tidak bagi Chanyeol.
Ketika ia terbangun dan hendak memeluk tubuh yang beberapa bulan terakhir selalu menemani kesendiriannya, ia tidak mendapati sosok itu. Dan ketika mata Chanyeol terbuka hal yang ia dengar adalah suara seseorang terbatuk di dalam kamar mandi.
Chanyeol bangkit, mengenakan jubah tidurnya dan mendapati sosok mungil itu sedang berjongkok sambil memegang perutnya. Masa itu kembali lagi, masa dimana Baekhyun akan memuntahkan isi perutnya di pagi hari.
"Baekhyun?" panggil Chanyeol, namun Baekhyun segera bangkit setelah menyiram sisa muntahannya. Ia perlahan bangkit namun tubuhnya oleng, Chanyeol segera menggendong tubuh itu untuk dibawa keatas ranjang.
"Paduka, aku merasa kurang enak badan. Bolehkah hari ini aku tidak menghadiri kelas?" Chanyeol mengangguk sambil mengelus kening Baekhyun, menyingkirkan rambut hitamnya yang mulai memanjang.
"Akan aku panggilkan tabib Shin, kau tunggu sebentar!" Baekhyun mengangguk.
Ketika tabib Shin datang, Baekhyun nampak pasrah dengan apapun yang akan tabib itu berikan kepadanya. Baekhyun tidak pernah merasa selemah ini, ia merasa tubuhnya sangat lemah dan frekuensi muntahnya menjadi sering.
Ia tidak tahu jika hamil sungguh menyiksa seperti sekarang, ia seperti kehilangan seluruh tenaganya.
"Keadaanmu kurang baik. Berhentilah beraktifitas yang berat, dan perbanyak istirahat!" Ucap tabib Shin. Baekhyun memajukan bibirnya dan menatap kecewa kearah selimutnya.
"Biar aku periksa keadaan janinmu, Tuan Muda." Baekhyun mengangguk dan membiarkan dirinya direbahkan diatas ranjang. Ia berharap Chanyeol ada disana, namun Sang Raja harus segera menuju ruangannya karena memiliki urusan penting dengan Tuan Lee.
"Dia masih berkembang, belum terbentuk sepenuhnya. Bulan ketiga adalah masa-masa emas, jangan sampai terjadi hal fatal pada kandunganmu, tuan." Baekhyun mengangguk lagi, ia terlalu lelah untuk menjawab.
"Sekarang…" Tabib Shin memanggil seorang pelayan yang membawa nampan berisi ramuan obat-obatan yang ia racik sendiri.
"..aku akan memberikanmu obat untuk mengurangi rasa mualmu, dan juga sebagai penambah energi. Rasanya agak pahit, jadi jangan menjadi lemah ataupun cengeng." Walau ucapan itu terdengar menakutkan tapi Baekhyun tidak pernah tersinggung lagi. Tuan Shin adalah seseorang yang memang bicara apa adanya, kejadian dimasa lalu bukanlah disengaja, dan kini Baekhyun tahu bahwa orang di depannya saat ini tidaklah semenakutkan yang ia pikirkan.
Baekhyun menutup hidungnya, dan segera menelan ramuan kental itu , ketika ia hendak memuntahkannya tabib Shin mendongakkan kepala Baekhyun hingga cairan itu tertelan .
Baekhyun mengecap lidahnya dan ia membulatkan matanya, rasanya tidak terlalu buruk, ada sedikit sensasi dingin dan pedas di lidahnya membuat dirinya tidak merasa terlalu mual.
"Aku mencoba mencari tumbuhan yang bisa mengurangi aroma dan rasa tidak sedap itu, aku tidak ingin mangkukku pecah lagi dan ramuanku terbuang sia-sia." Baekhyun tersenyum dan mengucap terima kasih dengan sangat pelan.
Untuk pertama kalinya tabib Shin tersenyum.
"Tuan muda. Janin di dalam kandunganmu adalah hal yang sangat penting, bagiku, bagi Paduka, bagi Kerajaan ini. Aku mohon jagalah dengan baik, aku tidak ingin sesuatu yang buruk menimpa satu-satunya harapan negeri ini."
"Aku akan berusaha tabib Shin." Ucap Baekhyun sambil tersenyum.
Setelah hari itu, Baekhyun selalu berada di atas ranjang. Beberapa pelayan akan berjaga dan menyerahkan sebuah wadah untuk Baekhyun muntah agar ia tidak perlu bolak-balik kamar mandi.
Para pelayan juga memberikan pijatan pada tubuh Baekhyun sebagaimana yang diperintahkan tabib Shin. Untuk makanan Baekhyun menjadi sangat pemilih, dan terkadang ia akan meminta sesuatu yang sangat aneh membuat para pelayan menjadi kalang kabut ketika Baekhyun mulai menangis karena keinginannya tidak terpenuhi.
Baekhyun sungguh merasa masa ini adalah masa yang paling buruk, tidak seperti saat sebelumnya diawal kehamilan dimana ia hanya menginginkan sesuatu terkadang dan merasa mual pun terkadang, namun sekarang semua bagaikan mimpi buruk.
Mimpi buruk terutama untuk Chanyeol yang harus selalu terjaga untuk memenuhi kebutuhan Baekhyun bahkan ketika di malam hari.
"Paduka!" Chanyeol membuka matanya yang lelah dan segera bangkit untuk melihat keadaan Baekhyun. Baekhyun merengek dan Chanyeol merasa jantungnya kembali berdetak kencang, ia selalu merasa gugup tiap kali Baekhyun menginginkan sesuatu di malam hari.
Malam sebelumnya Baekhyun ingin makan mangga terkecut di dunia mengharuskan Chanyeol memerintahkan seluruh pelayannya untuk pergi ke kota manapun untuk mendapatkan mangga terkejut yang ada.
Malam sebelumnya lagi Baekhyun merengek ingin buah tomat dari kebun ayahnya, membuat Chanyeol mau tidak mau harus mengutus seorang prajurit ke sana dan meminta sebuah tomat yang bahkan baru tumbuh karena saat itu tomat di kebun mereka belum berbuah.
Lalu di malam sebelumnya lagi , ia ingin mentega dari susu domba dengan jumlah yang sangat banyak membuat Chanyeol dengan terpaksa memohon agar Baekhyun berhenti makan, namun ia terhenti ketika dirinya nyaris muntah.
Tidak hanya itu di malam sebelumnya lagi Baekhyun ingin buah seagurt yang sangat langka yang terdapat dihutan diseberang danau dan buah itu tidak mudah untuk di dapatkan. Membuat Chanyeol harus membayar mahal pada siapapun yang bisa mendapatkan buah itu malam itu juga.
Dan kemarin malam adalah malam terburuk dimana Baekhyun ingin melihat Jendral Oh dan Jendral Kim menari dihadapannya. Itu bukan hal sulit, namun Chanyeol merasa tidak enak membuat dua sahabat kecilnya bertingkah konyol, apalagi mereka memiliki harga diri yang tinggi setahu Chanyeol.
Dengan sedikit perdebatan akhirnya mereka menurut dan menari di depan Baekhyun yang terkikik dan mengatai mereka bodoh, hingga membuat Sehun marah dan hendak melemparkan topi badutnya kepada Baekhyun yang segera menangis.
"Kemarin kau melempariku dengan pedang, sekarang kau melempariku dengan topi besar, besok apa? Kau akan melemparku? Aku benci kau Jendral Oh!"
Ucap Baekhyun kala itu sambil terisak membuat Chanyeol dan Sehun dalam keadaan canggung satu sama lain. Sehun, karena ia merasa bersalah telah melempari Baekhyun pedang dan Chanyeol merasa bersalah karena membuat Sehun hingga semarah itu. Beberapa hari dilalui dua orang itu dalam keterdiaman.
Dan sekarang jantung Chanyeol kembali berdetak. Ia takut dengan permintaan aneh Baekhyun dan dia mencoba waspada pada apapun yang keluar dari bibir lelaki itu.
"Kau..kau ingin apa?" tanya Chanyeol sedikit gugup.
"Panas~ kipasi aku!" ucap Baekhyun. Chanyeol menghela nafas dan hendak memanggil seorang pelayan namun Baekhyun menahannya.
"Kipasi aku! Paduka bukan orang lain!" tunjuknya dan Chanyeol mengangguk pasrah, ia mengambil sebuah benda pipih disampingnya dan mulai mengipasi Baekhyun. Chanyeol merasa cukup aneh karena ia tidak merasa kepanasan.
Tapi yang lebih aneh lagi, sosok yang berkata bahwa dirinya kepanasan malah mendekatkan dirinya dan membuat tubuh keduanya melekat. Baekhyun bahkan menyembunyikan wajahnya di dada Chanyeol seperti mencari kehangatan.
Chanyeol hanya tersenyum melihat tingkah manja Baekhyun yang terkadang membuatnya tersenyum sendiri, memikirkan tentang bagaimana bisa ia jatuh cinta pada sosok kekanakan seperti Byun Baekhyun.
"Kipasi lagi Paduka!"
Dan yang menjadi satu-satunya yang berani memerintahnya seperti seorang pelayan.
…
..
.
Ketika tabib Shin berkata masa sulit itu kemungkinan hanya berlangsung 7 sampai 10 hari, ia tidak bercanda. Karena dihari kedelapan Baekhyun sudah kembali sehat. Ia seperti orang yang tidak pernah sakit , bahkan semua lupa bahwa sosok itu pernah terbaring berhari-hari diatas ranjang.
Tabib Shin pernah bertemu dengan berbagai macam kehamilan, namun untuk Baekhyun sendiri adalah kehamilan terunik menurutnya. Ia tidak bisa memprediksi apa yang akan terjadi selanjutnya, karena tidak ada yang tahu itu bawaan bayi itu sendiri ataukah memang bawaan si bocah lelaki itu.
Seminggu lagi tepat perayaan tiga bulan kehamilan Baekhyun dan Chanyeol telah berjanji akan mengadakan pesta yang sangat besar dan membiarkan seluruh rakyatnya untuk masuk ke istana dan menikmati makanan yang ia suguhkan.
Persiapan telah dimulai dan Baekhyun merasa sangat senang. Para pelayan mulai sibuk, para pekerja dapur mulai memesan berbagai bahan makanan dari pelosok negeri, para pembuat baju mulai mengukur pakaian untuk Chanyeol dan Baekhyun kenakan, dan para petinggi yang lain mulai menyebarkan berita ke seluruh Kerajaan tetangga , agar datang ketika pesta berlangsung.
"Aku mau warna yang cerah." Ucap Baekhyun pada seorang pembuat baju. Wanita tua itu mengangguk dan mulai menunjukan sampel warna kain pada Baekhyun. Baekhyun menatap seluruh warna itu dan ia jatuh pada warna merah muda soft.
"Ini cantik. Dan padukan dengan warna ini." Ucap Baekhyun dan sosok itu mengangguk.
"Oh, Nyonya , lalu Paduka mengenakan warna apa?" tanya Baekhyun.
"Merah , emas dengan sentuhan hitam." Baekhyun mengernyit.
"Kenapa tidak serasi denganku?"
"Paduka memang menyukai tiga perpaduan warna itu sejak dulu, itu mengapa saya menyarankan warna tadi pada anda."
"Baiklah, aku akan meminta Paduka menggantinya." Wanita itu melototkan matanya tak percaya mendengar penuturan Baekhyun.
Baekhyun tersenyum senang ketika melewati koridor dan mendapati para pelayan sedang menghias dinding. Baekhyun merasa dirinya sungguh istimewa. Seumur hidup ia tidak pernah merayakan ulangtahunnya seperti Kyungsoo yang dipenuhi oleh pita berwarna-warni dan ledakan kembang api, 14 kali ia merayakan ulangtahun hanya ada sebuah lilin dan kue keras yang ibunya beli dipasar. Ia ingin sesuatu yang meriah namun Tuhan tidak pernah membiarkannya.
"Kau beruntung sekali , nak." Ucap Baekhyun sambil mengelus perutnya dengan bangga dan tetap berjalan.
"Ssst." Baekhyun memerintahkan sang penjaga yang berjaga di depan ruang kerja Chanyeol dan yang biasanya akan memberitahu Chanyeol jika ada yang datang.
"Warna biru bagus !" suara asing itu membuat Baekhyun menghentikan langkahnya yang hendak berjalan memasuki ruangan Chanyeol.
"Tidak, aku tidak suka dengan warna mencolok seperti itu."
"Oh sayang! Ayolah, warna biru tidak terlalu mencolok dan kau akan terlihat semakin tampan lalu membuatku semakin jatuh cinta lagi dan lagi padamu." Baekhyun menaikkan alisnya lalu membuka pintu, membuat dua sosok yang berada di dalam ruangan menoleh.
"Baekhyun?" Baekhyun tidak menjawab, ia menoleh pada sosok yang bersandar di meja Chanyeol dan memunggungi pintu masuk. Sosok pendek dengan kulit putih dan bulu mata lentiknya.
"Paduka? Siapa dia?" tanya Baekhyun dengan raut tidak suka. Sosok itu mengernyit dengan wajah ditekuk, lalu melipat kedua tangannya dan berjalan mendekati Baekhyun.
"Oh, inikah dia? Si lelaki istimewa?" Baekhyun menatap sosok itu tidak suka dan sosok itu membalasnya.
"Perkenalkan, dia Byun Baekhyun dan ini_"
"Tidak usah, aku tidak butuh dia tahu siapa aku. Aku mau kembali kekamar, aku lelah." Ucap sosok itu lalu dengan sengaja menabrak bahu Baekhyun ketika melewatinya. Baekhyun menggeram kesal.
"Oh , apa kamarku telah selesai disiapkan? Jika belum aku akan tidur dikamarmu, Pa-du-ka." Ucap sosok itu penuh penekanan di akhir. Baekhyun membalik tubuhnya dan memekik.
"Tidak, tidak bisa! Itu kamarku dan kamar Paduka, orang asing tidak diperkenankan tidur disana." Ucap Baekhyun sambil meletakkan kedua tangannya di depan dada dan memasang wajah angkuh.
"Aku? Orang asing?" tunjuk sosok itu pada dirinya sendiri.
"Hei dengar! Aku mengenal Paduka lebih lama daripada dirimu, aku ini cinta pertama Paduka!"
"Apa?" Baekhyun memekik
"Cukup!" ucap Chanyeol mencoba menengahi.
"Iya aku ini cinta pertama Paduka, memangnya kau si pembuat bayi!"
"Apa ? kau bilang aku apa? Pembuat bayi? Dasar perebut suami orang!"
"Apa? Suami? Hahaha.. lucu sekali! Kau mengakui Paduka Raja sebagai suami?"
"Ya , memangnya kenapa? aku mengandung anak Paduka, aku tidur setiap malam dengan Paduka, kami bercinta, kami berbagi kehangatan satu sama lain, kami_"
"Tapi kau bukan yang pertama."
"Apa?"
"CUKUP!" bentak Chanyeol membuat dua sosok itu terdiam.
"Kalian berdua hentikan!" ucapnya lagi dengan menahan kesal.
Sosok yang berada di depan pintu mendengus lalu berjalan keluar.
"Baekhyun?" Baekhyun berbalik dan matanya berkaca-kaca. Ia menatap Chanyeol dengan perasaan terluka.
"Baekhyun?" Chanyeol hendak mendekat tapi Baekhyun menjulurkan telapak tangannya.
"Tidak, aku tidak ingin mendengar apapun. Aku lelah. Si pembuat bayi ini, si lelaki yang bukan istri Paduka, si lelaki yang bukan yang pertama untuk Paduka mohon pamit." Ucap Baekhyun sambil memberi hormat, segera berbalik dan berlari meninggalkan ruangan Chanyeol.
…
..
.
Jongin sedang berjalan di koridor untuk menuju tempat prajurit berlatih. Lalu ia tersenyum jahil ketika melihat sosok mungil yang sedang berjalan di koridor, dengan pelan ia sedikit berlari menuju sosok itu lalu memukul kepalanya pelan.
"Yak! Beraninya kau_" Keduanya terdiam. Jongin membulatkan matanya melihat sosok yang sedang memegang kepalanya dengan wajah kesal.
"Kau!"
"Kau? Tidak…Ini buruk." Jongin berlari lalu segera pergi meninggalkan sosok pendek yang menggeram kesal.
"Issh! Bajingan itu! Beraninya dia."
Sehun sedang melatih para prajuritnya dengan wajah yang serius, memperhatikan satu persatu gerakan dari mereka dan akan meneriaki siapapun yang salah.
"Sehun!"
"Oh Sehun!"
Jongin memanggil berulang namun Sehun bergeming.
"Ish, Jendral Oh!"
"Ada apa?" tanya Sehun dingin sambil menatap kearah prajuritnya dengan kedua tangan di belakang tubuhnya.
"Hal buruk terjadi."
"Apa?"
"Dia kembali, dia kembali!"
"Siapa?"
"Sosok yang membuat hubunganmu dan Paduka sempat terombang-ambing." Tubuh Sehun menegang lalu ia menoleh kearah Jongin dan sosok itu mengangguk mantap seolah mengerti dengan pemikiran Sehun.
"Lu-Han!" Mata Sehun membulat dengan tubuh menengang.
…
..
.
TBC
…
..
.
( Selamet buat yang masih bahagia sama moment Chanbaek di live videonya mamih, meskipun cuma gitar dan akun doang yang nonggol tapi itu membuktikan kalau Chanbaek gak bisa jauh-jauh... tinggal tunggu ajah video lain mereka berdua yang menyusul wkwkwk )
.
Hufft! Akhirnya sampai di kata TBC wkwkw. Mungkin bagi kalian kata TBC itu amat sangat menganggu, tapi bagi kami ( authors ) kata TBC itu penyelamat dari ketegangan, kefrustasian, kelelahan dan kebuntuan wkwkwkwk..
Siapa yang minta Baekhyun cepet hamil? Nih udah hamil si mamih. Maaf kalo alurnya cepet, emang sengaja aku buat cepet kok hehehehe… maaf kalo rasanya aneh di kalian, hehehehe..
Buat yang ngomel-ngomel karena NC nya kurang hot dan cuma di ranjang doang ( aku mention orangnya : Kaman dan Alot ) , nih aku kasih udah di danau sama pohon. Yah semoga ajah suka, kalo masih bilang gak hot , mending bacanya sambil ngemil cabe atau disamping kompor wkwkwkw.. atau gak sini aku bakar biar hot wkwkkw *canda.
Mungkin beberapa dari kalian juga mikir "ih kak shita kok tumben NC nya gitu-gitu ajah." Itu bukan karena aku kehilangan feel dan kemesumanku wkwwkw, itu karena aku susah ajh bikin mereka naena di tempat umum sementara Chanyeol sendiri seorang Raja, wkwkw.. Tapi nanti aku usahin deh di chapter setelahnya yang antimanstream.
Sekali lagi makasi buat seluruh review yang masuk ya, entah itu pujian, masukan, kritikan, saran, dan curhatan ( garis bawahi kata akhir, karena ini biasanya paling banyak wkwkw, tapi gapapa aku gak keberatan kok malah seneng dengan curcol kalian wkwkwkw )
Tanpa kalian aku gak bakal sampe di tahap ini, tanpa Chanbaek aku gak mungkin bisa dapet inspirasi. Makasi Mamih-Papih, ditunggu undangan sama video nya ya wkwkkw..
Oh iya buat Chanhun? Hhm… no comment. Nanti kalian liat ajah di chapter setelahnya wkwkw.. akankah mereka punya masa lalu, akankah mereka pernah memiliki satu sama lain? Silahkan berimajinasi sendiri sementara wkwkwkw.
Oke, akhir kata seperti biasa jaga kesehatan kalian guys! Kesehatan itu mahal, sumpah deh ah! Wkwkw.. dan salam Chanbaek is real.
Bye-Bye…
