Disclaimer : God only knows
Rate : K+
Genre : Fluff
Luhan x Readers fanfiction
Luhan profile's
Occupation : Highschooler
Type : Deredere
Readers Occupation : Highschooler
.
Special request from Cherria - i pick this one 'cause IT'S CUTE I WANT TO WRITE IT [Btw, it's okay. I'm more into anime/manga than K-pop too ;)]
.
Insert Your Name on The Space [...]
.
.
Readers POV
"Umma, aku berangkat!" seruku sambil berlari keluar pagar.
"Hati-hati! Jangan lupa jaga Luhan-ah!" sahut Umma membalas berteriak dari dalam rumah.
"Siap, Umma!" sahutku lagi tertawa kecil.
"Aku bisa jaga diri sendiri, kok!" protes sebuah suara di depanku.
Di hadapanku berdiri teman masa kecilku, Luhan. Wajahnya menunjukkan ketidakpersetujuan atas percakapanku dengan Umma. Namun... rambut yang sewarna hazelnut tersisir rapi itu. Mata yang terlihat sedikit mengantuk dan pipinya yang sedikit tembam itu...
"Aduhhh! Makin hari makin manis aja, sih?" godaku mencubit pipinya.
"Sa-sakit..!" erangnya berusaha melepaskan cubitanku di pipinya.
"Lama-lama aku bisa minder karena kau lebih manis dariku, Luhan!" ujarku pura-pura cemberut.
"A-apa itu! Aku tidak manis! Aku tampan!" protesnya dengan nada yang makin tinggi.
Aku seketika tertawa, "Tampan? Hahahaha... aduh, pagi-pagi sudah melucu begitu,"
"Uhh... jangan mengejekku!" protesnya lagi.
Aku berusaha menahan tawaku dan mengangguk.
"Kau masih tertawa," ujarnya memandangku curiga.
"Apa salahku? Leluconmu lucu sekali sih," sahutku cuek dan mulai berjalan menuju sekolah.
"Kenapa sih kau selalu menyebutku manis atau cantik. Aku 'kan laki-laki," ujarnya sambil mengekor di belakangku.
Aku terdiam dan berpikir. Kalau ditanya kenapa... ya tentu saja karena itu memang kenyataannya. Luhan, meski tinggi tubuhnya tidak bisa dikatakan pendek wajahnya mengkhianati tinggi tubuhnya itu. Wajahnya berwarna putih susu dan terlihat lembut. Aku tidak tahu itu memang asli atau perawatan, yang jelas wajahnya seperti wajah anak perempuan. Kelebihannya lagi, wajahnya tidak berminyak seperti kebanyakan anak perempuan di sekolah. Tentu saja itu membuat wajahnya sempurna sepanjang hari. Selain itu, matanya terlihat sejuk dan lembut, seperti mata seorang ibu. Bibirnya melengkung lucu seperti kucing. Ah, pokoknya wajah idaman para anak perempuan, deh!
"Karena itu kenyataannya, Luhan. Wajahmu itu seperti anak perempuan. Ah, tidak. Lebih manis dari anak perempuan bahkan," sahuku mengangkat bahu.
"Aku tidak seperti anak perempuan!" bantahnya merengut.
"Ukh! Moe beam! Critical hit!" candaku bersandirawa memegang dadaku seolah aku baru saja tertembak.
"Jangan bercanda begitu!" sungutnya.
"Ahahaha, maaf. Tapi, memangnya kau lupa surat cinta yang kau terima tiap hari? Dari para –pfft! Sunbae laki-laki, hahahaha!" tawaku meledak.
"...aku tidak mengerti kenapa aku jadi temanmu, [...]-ya,"
"Awww, you love me and you know it~" godaku menyikut pinggangnya.
Wajahnya tiba-tiba memerah dan ia mengalihkan pandangannya. Segera aku mengambil ponselku dan memotret wajahnya yang memerah. Snap!
"A-apa yang kau foto barusan?!" paniknya.
"Hm? Wajahmu," sahutku santai.
"Untuk apa?!" tuntutnya masih panik.
"Untuk dijual ke sunbae penggemarmu. Hehe, lumayan lho!" ucapku sambil menunjukkan hasil potretan ku.
"Jahat! Apa-apaan itu!" serunya panik berusaha merebut ponselku.
Aku segera memasukkan ponselku ke kantung jaketku, "Jangan pasang wajah begitu. Curang tahu! Aku rasanya seperti laki-laki yang sedang mem-bully seorang gadis,"
Mendengar ucapanku Luhan segera menghentikan tindakannya.
"Eh? Sudah menyerah?" tanyaku bingung.
"Kenapa... [...]-ya selalu berkata seperti itu?" lirihnya.
"Berkata bagaimana maksudmu?" tanyaku balik.
"...[...]-ya bodoh! Aku tidak mau tahu lagi!" serunya tiba-tiba dan segera berlari memasuki gedung sekolah meninggalkanku.
"A-apa sih?"
.
.
Bel istirahat berbunyi dan untuk kesekian kalinya aku menghela napas. Aku melirik ke arah pintu kelas. Tidak ada Luhan. Biasanya dia sudah menungguku seperti anak anjing, mengajakku untuk makan bekal bersama. Apa dia masih marah karena kejadian tadi pagi? Tapi memangnya aku salah apa?
"Hahhh..."
"Kau menghela napas seperti seseorang yang baru kena PHK dan tidak tahu bagaimana menyampaikannya pada istri dan keluarganya, tahu!" ujar sahabatku Yeon Ran-ah.
Aku mengabaikannya dan meletakkan kepalaku di atas meja.
"Habis bertengkar dengan pacarmu?" tanyanya.
"Pacar?" tanyaku balik tidak megerti.
"Luhan dari kelas B. Kalian 'kan selalu bersama. Gosipnya kalian pacaran," jelasnya.
"Hahahaha! Mana mungkin aku kencan dengan Luhan!" ujarku menepuk bahunya.
"Kenapa tidak mungkin? Luhan tampan dan baik hati. Kalian juga selalu bersama sejak kecil, pasti cocok," sahutnya menolak jawabanku.
"Yeonnie, dengar ya. Pertama, Luhan itu cantik. CAN -TIK. bukan tampan. Lalu, kenapa kami tidak pacaran... ya, mana mungkin aku mengencani laki-laki yang justru lebih 'perempuan' dibandingkan aku sendiri? Tengsin, tahu!" ujarku berusaha menjelaskan alasanku pada Yeon Ran.
Brak!
Bunyi benda jatuh membuatku dan Yeon Ran segera menoleh. Namun, di sana tidak ada siapapun. Aneh.
"Yang barusan itu Luhan," ujar Yeon Ran tiba-tiba.
"Huh?"
"Itu, kamus milikmu yang dipinjam Luhan kemarin, 'kan?" tunjuk Yeon Ran pada benda di lantai.
"Ah! Benar itu kamusku! Aduh, Luhan! Ngambek sih ngambek tapi kamus orang lain jangan main lempar begitu, dong!" keluhku sambil memungut kamusku.
Yeon Ran memandangku dengan mata yang disipitkan tidak senang.
"Apa sih? Pandanganmu tidak enak, tahu," ujarku menyadarinya.
"Kau itu... bodoh atau tidak peka, sih? Atau kau itu cuma sadis dari sananya?" tanyanya.
"Huh? Nggak ngerti, "
"Bodoh,"
.
.
Bel berbunyi dan kelas pun dibubarkan. Sekitarku pun segera ramai. Ada yang mengajak temannya pergi ke arcade, ada yang mengajak karaoke, ada yang mengajak untuk segera ke ruang klub, dan aku hanya berdiri sendirian. Biasanya Luhan segera menghampiriku. Tapi, berhubung dia sedang menjalankan aksi protes padaku... jadilah aku sendirian.
"Pulang sendirian nggak asyik," keluhku.
Aku berjalan menuju rumah. Sesekali menendang kerikil kecil di depanku. Langit mulai oranye dan terlihat indah. Namun, aku sedang tidak bisa menikmati pemandangan indah ini sama sekali. Aku berjalan sambil menunduk, aku sudah hapal di luar kepala arah ke rumahku jadi aku tidak begitu memperhatikan jalan di depanku. Saat aku baru berbelok, tiba-tiba sebuah tangan mendorongku ke arah dinding pagar. Tubuh seseorang menahan tubuku agar tidak bisa bergerak dan melarikan diri. Aku tersentak dan segera mendongak, berusaha mencari tahu siapa yang telah berani-
"Lu...han?"
Luhan hanya terdiam. Wajahnya terlihat serius, namun tetap terlihat manis. Dahinya berkerut dan matanya menajam.
"Apa sih, bikin kaget saja. Minggir, Luhan," ujarku mendorong kecil tubuhnya namun ia tidak berkutik sama sekali. Tubuhnya kaku seperti tembok.
"Aduh, minggir Luhan. Aku mau pulang," ujarku lagi berusaha mendorong tubuhnya lebih keras. Lagi-lagi, tubuhnya tidak bergerak sama sekali. Justru tangannya bergerak dan menahan kedua tanganku diatas kepalaku sendiri dengan satu tangan. Diperlakukan seperti itu, aku pun mulai panik.
"Nggak lucu, Luhan! Lepas!" ujarnya memberontak. Namun, Luhan tidak nampak kesulitan sama sekali melawan rontaanku.
"Kenapa? Aku 'kan setara dengan anak perempuan. Masa' kau tidak bisa menang tenaga dariku?" ujarnya akhirnya bcicara.
"Kau bicara apa, sih? Lepas! Tanganku mulai kesemutan, tahu!" pekikku kesal.
"Kau yang bilang sendiri, [...]-ya. Aku ini seperti anak perempuan, tidak pantas untukmu," ujarnya lagi.
Aku tidak menjawab kali ini dan hanya menatapnya bingung.
"Ayo, lawan aku. Aku 'kan Cuma anak perempuan lemah dan manis seperti yang kau katakan. Kenapa kau tidak bisa melawanku. Apa karena aku ini anak perempuan di matamu?" tanyanya padaku.
"Luhan 'kan memang seperti anak perempuan. Kenapa harus-"
"Kalau begitu! Aku akan buktikan bahwa aku tidak seperti yang kau lihat," potongnya.
"Luhan, apa yang- kyah!" aku memekik saat tiba-tiba Luhan mengecup leherku. Wajahku seketika memerah.
"Luhan, hentikan! Lepas! Apa-apaan ini!" seruku memberontak keras.
Luhan mengabaikan ucapan dan gerakanku. Ia terus mengecupi leherku dan mulai menggigit kecil. Tubuhku mulai bergetar dan mataku terasa basah. Aku menggigit bibir bawahku keras. Aku menolak untuk terisak. Luhan dengan satu tangannya yang bebas mulai melonggarkan dasi yang kupakai.
"Hiks," isakku tidak tertahan.
Luhan segera menghentikan tindakannya dan menatapku.
"Aku... hiks, tidak mau kalau begini," isakku.
Luhan langsung menjadi panik dan melepaskanku. Tubuhku yang gemetaran langsung terasa lemas dan aku pun jatuh terduduk. Aku segera menghapus kasar air mataku.
Luhan segera berlutut di hadapanku, "[...]-ya... ma-maaf aku... aku Cuma..."
"Cuma ingin jadi brengsek?" tanyaku sinis.
"Bukan! Aku Cuma ingin membuktkan kalau aku... aku juga laki-laki," ujarnya lirih.
"Dengan jadi brengsek?" sinisku menatapnya tajam.
"Maaf... tapi, aku sudah tidak tahu lagi harus bagaimana lagi untuk membuktikan padamu kalau aku ini laki-laki," ujarnya berusaha menjelaskan.
"Kau sudah gila ya? Berusaha membuktikan kalau kau laki-laki dengan berusaha menjamahku paksa?!" ujarku dengan gigi bergemeletuk marah.
"Sudah kubilang aku tidak tahu harus bagaimana lagi! Kau selalu mengatakan aku manis lah! Cantik lah! Seperti perempuan lah! Aku tidak tahan lagi! Aku ingin dipandang sebagai laki-laki! Terutama... terutama olehmu..." ujarnya makin pelan.
"Terutama olehku? Kenapa?"
Luhan mengangguk, "Karena... aku... suka padamu,"
"E-ehh?"
"Aku suka padamu. Sejak dulu, sejak kita kecil. Aku suka sekali padamu. Aku berusaha menjadi laki-laki yang pantas untukmu. Tapi... tapi... setiap hari kau selalu mengatakan aku manis dan seperti anak perempuan. Bagaimanapun... itu menghancurkan percaya diriku," jelasnya menyentuh kecil ujung jariku dengan jari-jarinya yang panjang.
Aku membalasnya dengan menggenggam tangannya, "Jadi karena itu kau terobsesi jadi tinggi dan ikut bela diri?"
Luhan mengangguk.
"Hahh... aku bodoh ya?"
Luhan menundukkan kepalanya dalam.
"Tidak perlu melakukan hal-hal seperti itu pun kau selalu kupandang sebagai laki-laki, tahu,"
Luhan segera mengangkat kepalanya kaget. Aku mengalihkan wajahku, tidak ingin ia melihat pipiku yang memerah.
"Ta-tapi, setiap hari kau selalu-"
"Aku berusaha menutupinya, ok?!"
"Menutupi?"
"Aku... aku selalu berpikir kau tampan. Aku juga berpikir bahwa kau ada laki-laki yang keren. Aku –aku menyukaimu. Tapi, aku tidak ingin perasaanku membuat hubungan kita jadi canggung. Karena itu aku berusaha menutupinya dengan... bertindak seperti itu. Kupikir... dengan berusaha mengganti pandanganku tentangmu menjadi 'manis' dan 'seperti anak perempuan', aku akan... bisa melupakan perasaanku padamu," ujarku menjelaskan.
"Jadi..."
"Iya, kita sama-sama bodoh," potongku.
Kami berpandangan dan tawa pun meledak diantara kami.
"Ahahaha, benar kita bodoh sekali," ujar Luhan menghentikan tawanya.
"Iya, benar,"
"Uhm, jadi... aku suka padamu dan... kau juga suka padaku. Uhm, apa itu artinya kita..." ujar Luhan perlahan.
"A-apa?"
"Uhh... sepasang kekasih?" tanyanya malu-malu.
Wajahku memerah dan terasa panas. Aku menghambur pada Luhan dan melingkarkan tanganku di sekitar bahunya.
"Ahh, kau memang sungguhan manis ya, Luhan," erangku.
"Eh? Ke-kenapa jadi begitu lagi?" protesnya.
"Tapi kau juga keren dan gagah dengan tubuh tinggi mu ini," ujarku lagi.
"Uh, thanks? Tapi, soal-"
"Iya, kita sepasang kekasih, Luhan. Duh, kau membuat seorang wanita malu karena harus mengatakan itu dengan mulut mereka," keluhku membenamkan wajahnya yang memerah di bahunya.
Meski tidak bisa melihat wajahnya, aku tahu wajahnya sedang cerah sekali sata ini. Sebuah tangan melingkar di sekitar pinggangku dan memelukku erat.
"Terima kasih," ucapnya berbisik di telingaku.
Aku hanya tersenyum dan mengeratkan pelukanku. Setidaknya kisah kami berakhir bahagia. Tapi, eits! Jangan salah. Tentu saja aku masih akan menggoda Luhan.
.
.
"Aduh, kekasihku manis sekali pagi ini. Awas, dilirik sunbae di klub karate,"
"Kenapa, [...]-ya cemburu kalau aku dilirik sunbae tampan?"
Oke, kau tidak manis lagi Luhan.
.
.
FIN
.
.
Makasih yang sudah baca dan mau review.
LOL ini udah berapa tahun saya anggurin ya fanfiksi nya? Maafkan saya, ya. Ah, ngga dimaafkan juga ngga apa-apa deh.
Saya ingin beralasan bahwa saya sibuk dan lain-lain. Tapi, saya seriously cuma writer block aja. Saya ngga bisa menulis, rasanya ada yang menahan saya. LOL. Apa mungkin karena saya kebanyakan menulis tulisan ilmiah makanya jadi sulit menulis fanfiksi? Masa sih? LOLOLOL
Yah, saya ngga akan banyak bacot. Yang mau request lagi monggo atuh, silahkan.
