previously

"Berhubung kau suruh aku to the point, well, langsung saja, apa kau tertarik mengajari adik kelas?"

"Hah? Untuk apa?"

"Kau kan murid kebanggaanku yang paling pintar." Pujinya. "Mau, ya? Adik kelas yang harus kau ajari itu cantik kok."

Jean menggeram. Teriakannya kembali keluar.

"Aku tidak mau! Suruh saja orang lain!"

Ah, Jean. Kau baru saja melewati satu kesempatan besar.

.

.

Di ruang kelas 11-C Sina Maria High School, Christa sedang berbincang-bincang dengan Ymir di bangku mereka yang berdekatan. "Ok! Aku sudah membulatkan tekad! Pokoknya mulai sekarang, pas pulang aku akan belajar di perpustakaan!" Itulah kalimat motivasi yang Christa ucapkan ke dirinya sendiri sambil melemparkan tinju ke udara. Ymir di sebelahnya hanya tertawa. Dia kan sudah tau tentang ancaman Sir Berthold ke Christa; kalau nilai Matematikanya nanti di bawah 80, maka kakaknya akan dipanggil ke sekolah dan dia akan diikutkan ke bimbel sekolah. Masalah besar, kan?

"Tapi aku tidak percaya loh, Christ. Meski mukamu kayak orang pintar, kamu kan paling malas yang namanya belajar..." Ymir memandang remeh si kecil. "Apa perlu aku ikut ke perpustakaan?"

"Boleh tuh." Christa cemberut sedih. Dia kan kebalikan dari sahabatnya yang satu itu—kalau Ymir, dia urakan tapi pintar. "Eh, tapi tidak jadi. Kalau ada kamu, adanya kita malah ngobrol. Dan juga aku lebih bisa kalau belajar sendiri..."

"Ya sudah, kalau begitu good luck, ya?"

Christa menghela nafas.

"Iya, terima kasih..."

.

.

.

CHRISTA'S—PROBLEMS

Shingekyo by Isayama Hajime

AU—Alternate Universe

Pieree Present...

(Jean Kirstein—Christa Renz)

.

.

four of ...

-perpustakaan-

.

.

Sesudah bel pulang berbunyi, sesuai apa yang dikatakan oleh Christa kepada Ymir, gadis SMA yang bersurai pirang sedada itu berjalan dengan gontai ke lantai empat, di mana perpustakaan terletak. Sambil berjalan Christa menggigit jari, ia memikirkan hal buruk apa yang akan terjadi apabila nilai Matematikanya di minggu depan buruk. Sir Berthold akan menelefon kakakknya, Reiner Renz. Lantas pas pulang Christa yakin Reiner akan memarahinya habis-habisan, dan bukan hanya itu, uang jajannya pun pasti dipangkas 25%. Benar-benar mengerikan.

Nyaris frustasi sendiri oleh pikirannya, Christa berlari ke perpustakaan. Di sana Christa langsung berjalan ke arah rak komik, dan ada komik baru yang belum ia baca—eh. Gadis mungil itu mengerjap beberapa kali. Dia kan harus belajar. Ia gelengkan kepala dan berjalan dengan agak terpaksa ke deretan rak yang menyimpan buku ilmu pengetahuan.

Mengingat saran yang diberikan Ymir padanya, Christa mengambil beberapa buku rangkuman kecil. Biologi, Fisika, Matematika dan lain-lain ia tumpukan ke tangannya satu-satu. Christa pun duduk di meja perpustakaan dengan segala buku itu, lalu membuka buku matematika. Dia mencoba belajar dan berpikir. Memahami satu per satu rumus. Tapi ketika sudah sampai menit ke sepuluh ia belajar, Christa menjerit.

"Aku tidak mengerti sama sekali walaupun sudah dibaca berulang-ulaaaaang!"

"Sstt!"

Ada yang desisan yang menyuruhnya diam. Christa langsung menutup bibir dan menunduk. Bersamaan dengan itu iris sapphire-nya berkeliling, ingin tau siapa yang tadi mengeluarkan suara. Tapi ketika Christa mengadah dan melihat siapa yang duduk di depanku, di detik itu si kecil kembali terbelalak lebar.

Itu Jean Kirstein—lagi-lagi dia!

Bedanya, saat ini ia masih fokus membaca buku ilmu pengetahuan dengan wajah datar. Christa terperangah. Untuk apa dia ada di sini?—batinnya, takut. Dan hebatnya, karena kelamaan memperhatikan pria bersurai cokelat terang itu, Jean berdecak pelan dan kemudian mengangkat wajah. Ia memandangi Christa dengan tatapan sebal, dan kemudian kembali fokus ke bukunya sendiri. Tapi tampaknya karena ia sudah mengenal wajah memelas Christa, jadilah ia menatapnya lagi, kali ini cepat, dan tak lupa dengan kernyitan di kening.

"Kau!?"

Jean menyeru keras. Sekarang giliran siswa-siswi lain yang menoleh pada mereka berdua. Christa tersentak dan berdiri kagok dan membawa buku. Dengan tangan gemetaran ia segera melemparkan buku-bukunya begitu saja ke meja penjaga perpustakaan. "A-Aku pinjam semuanya! Cepat!"

"Wah, wah, kayak lagi dikejar setan saja nih..." Kata pengurusnya, tetap kalem sambil mencatat pinjaman Christa.

"Memang!" Christa semakin panik. Lalu setelah semuanya beres dan Christa akan berlari keluar, dirinya sudah dibuat kaget oleh sosok Jean yang melipat kedua tangannya di dada. Rautnya kesal.

"Oh, jadi aku setan, katamu?"

Ludah jadi terasa seperti batu saat Christa menelannya. Ia langsung menunduk dan bergegas ke arah pintu, tapi Jean menahan kerah kemejanya. "Siapa namamu?"

"Ch-Christa..." Cicitnya.

"Kelas?"

"11-C..."

"Kau anak yang mengisi kamar nomor 5 di kosan, kan?"

"I-Iya."

Jean mengernyit sebal. Kenapa saat mengobrol dengannya Christa malah memunggunginya, dan yang lebih parah, ia memandang lantai seperti ini sih? Maka dari itu segeralah ia putar tubuh Christa dan mengangkat dagunya. "Kalau bicara sama orang, lihat mata orangnya!"

Sadar tak sadar Jean menasihati Christa dengan bentakan. Christa jadi ketakutan setengah mati. Dengan kedua mata berkaca-kaca segeralah ia dorong Jean dan kabur dari daerah perpustakaan. Jean ingin menahan tangannya tapi tak kena. "Hei!"

"Sstt..."

Ada murid di perpustakaan yang berdesis. Bukannya maklum atau nurut, Jean malah memberikan orang itu death glare ganas. "Iya, aku tau!"

.

.

chris-ta—s—pro-blems—pi-e-ree

.

.

Jam enam sore menjelang, Christa yang sudah pulang dengan was-was memasuki rumah kos. Ia jalan berjingkat ke kamar, tak ingin menimbulkan suara, lalu menutup pintu dan menguncinya dua kali. Ia hela dulu nafas lega dan kemudian menaruh buku-buku pinjamannya ke meja belajar.

"Oke, skip dulu waktu mandi. Hari ini harus belajar Matematika untuk Senin depan!" Christa bermonolog dengan wajah serius. Tapi tiba-tiba saja ia teringat akan perkenalan pertamanya dengan Jean Kirstein. Gadis itu menelan ludah kemudian segera memegang ponselnya. Tapi pertama-tama, ia harus menceritakan kejadian itu ke Ymir. Dan jadilah malam itu ia habiskan waktu untuk berbincang-bincang dengan sahabatnya yang tomboy. Awalnya cuma membicarakan Jean, menampik godaan yang Ymir berikan padanya, lalu obrolan pun merembet ke hal-hal lain.

Hingga Sabtu menjelang, Christa membuka mata saat jam sudah menunjukkan pukul 09.00 siang. Christa memandang sesal buku-buku yang belum ia sentuh di meja. Ia berniat belajar di detik itu juga, namun terhalang karena perutnya yang bunyi.

"Ah, makan dulu saja deh."

Selalu saja ada alasan untuk menunda belajar. Mandi dulu lah, minum dulu lah, lagi tidak konsen lah—begitu terus. Sampai-sampai ketika Senin menjelang, Ymir menyapa Christa saat mereka berpapasan di depan gerbang sekolah.

"Hei, Christ. Bagaimana belajarnya?"

Pertanyaan Ymir membuat Christa menelan ludah. Ia tertawa maksa dan menjawab pelan. "Ba-Baik kok..."

"Baguslah. Pelajaran pertama kita Matematika loh. Ujian, lagi. Aku belum belajar nih."

"Hah!?" Christa menganga.

.

.

chris-ta—s—pro-blems—pi-e-ree

.

.

Seminggu berselang hasil ujian Matematika dibagikan. Christa memandang nanar kertas ulangannya yang tertera nilai '15' di pojok kanan atas. Duh, kalau Sir Berthold tau ini, habis sudah dirinya. Christa mengaduh pelan. Masih dengan kertas hina itu di genggaman tangannya, gadis berusia tujuh belas tahun itu menghela nafas dan menaruh keningnya ke meja belajar.

.

.

see you

.

.

my note

Maaf update-annya mulai melama, wkwk. Ngga ada yang nungguin juga, kan? ;D

.

.

warm regards,

Pieree...