WARNING!
BOYXBOY (if U don't like, better you don't read my own story)
Cerita alay/lenjeh/alur pasaran/bahasa masih acak-acakan.
Typos tak bisa dihindari.
Note: disini umur Luhan dan Sehun dibalik, Sehun menjadi yang lebih tua sedangkan Luhan sebaliknya. Keep on my rules, if U don't like, just don't read.
Cuap-Cuap Author: lagi-lagi saya update molor. Mianhae, kayaknya gak perlu dijelaskan alasan kenapa updatenya slow banget, pasti kalian bakal pasang muka datar denger alasannya /ditabok/. So, sekali lagi saya minta maaf atas keterlambatan update, and last but not least, enjoy the story...
.
.
.
.
"Ugh!" Luhan tiba-tiba terbangun dari tidurnya dengan kepala berdenyut. Ia mencengkram kepalanya dengan kuat, rasanya seperti di pukul dengan benda keras, begitu sakit dan ngilu. Jam dinding rumah sakit masih menunjukkan pukul 02.02 a.m KST, suasana remang-remang dan kesunyian menemani Luhan dalam diam. Mata cantiknya berkaca-kaca, seluruh persendiannya terasa lemas, kepalanya pusing, dan tenggorokannya terasa sangat kering.
"Sakit, hiks.."
Dengan tangan bergetar Luhan mengerakkan tangannya untuk memencet tombol merah yang terletak di atas headboard ranjangnya, tombol itu berfungsi sebagai alarm untuk memberitahukan kalau pasien sedang dalam keadaan genting saat tidak ada dokter atau suster yang mengawasi.
Luhan dapat mendengar teriakan seseorang memangil namanya dengan panik, dibalik pandangannya yang mulai mengabur, ia dapat menangkap siluet seorang dokter dengan beberapa suster berlari menuju ke arahnya. Setelah itu semuanya menjadi gelap.
...
Luhan membuka matanya secara perlahan, melihat ke sekelilingnya, lalu pandangannya terarah keluar jendela. Dan asumsinya benar kalau sekarang sudah benar-benar pagi, bahkan sudah hampir menjelang siang, jam dinding rumah sakit saja sudah menunjukkan pukul 10.52 a.m. ia mendudukkan dirinya, entah kenapa tenggorokannya begitu kering, ia butuh segelas air sekarang juga.
"Pagi Luhan, bagaimana keadaanmu, apakah sudah lebih baik?" seorang suster dengan name tag "Jessica Jung" tampak tersenyum ke arah Luhan sambil menyodorkan segelas air putih, dan tentu saja di terima dengan senang hati oleh Luhan.
Setelah menghabiskan airnya, Luhan menyerahkan gelas kosong itu kepada suster tersebut, "Sudah lebih baik. Terimakasih."
"Baguslah, nanti aku akan memanggil dokter Oh untuk memeriksa keadaanmu." Ucap perawat itu kemudian keluar dari ruangan tersebut setelah mencatat beberapa hal penting tentang perkembangan kesehatan Luhan di selembar kertas.
Dari awal Sehun masuk ke ruangannya sampai Sehun memeriksa keadaanya, Luhan hanya diam bahkan tidak menoleh ke arah Sehun sama sekali, wajahnya hanya menatap bonekanya, seolah boneka tersebut adalah hal yang paling menarik saat ini. Sehun menghembuskan nafasnya, "Kau marah padaku?" tanyanya setelah selesai memeriksa Luhan
"Ani." Luhan berucap setengah berbisik.
"Tapi kenapa kau mendiamkanku? Apa aku punya salah padamu?"
'Tentu saja' batin Luhan dalam hati, tapi ia tak berani berbicara seperti itu.
"Katakan aku salah apa kepadamu sampai-sampai kau bersikap seperti ini?"
"Aniya hyung, kau tidak punya salah." jawab Luhan masih tidak mau mengaku. Tanpa alasan yang jelas matanya menjadi berkaca-kaca, Luhan menunduk menyembunyikan wajahnya semakin dalam.
Sehun bernar-benar tidak paham dengan pasiennya yang satu ini, semenjak kejadian saat dia mengajak Luhan bertemu Yeri, entah kenapa Luhan malah bersikap mendiamkannya. Sehun sungguh tidak suka dengan suasana ini, ditambah penyakit Luhan yang tiba-tiba kambuh, Sehun berasumsi kalau pikiran Luhan sedang tertekan. Kris pernah memberitahukannya dan dia akan selalu mengingat hal itu. Perlahan Sehun beerjalan ke arah Luhan, mengangkat dagu sang pemuda mungil, membuat mata rusa Luhan bertemu dengan mata elang milik Sehun. Mereka bertatapan cukup lama, entah apa yang ada dalam pikiran mereka masing-masing.
"Tertekan."
"?" Luhan menatap heran ke arah Sehun, ia benar-benar tidak mengetahui maksud dari ucapan orang yang kini tengah bertatapan dengannya itu.
"Aku tahu kau tertekan, penyakitmu kambuh dengan tiba-tiba. Katakan padaku apa penyebabnya?"
"Hyung-..."
"Aku tidak ingin mendengar kata "hyung", aku hanya ingin mengetahui apa yang kau pikirkan sampai-sampai penyakitmu kambuh?"
"A-aku.." Luhan tergagap, sungguh, ia tidak tau harus berkata apa. Di satu sisi ia ingin mengungkapkan perasaannya pada Sehun (Sebenarnya Luhan tidak yakin apakah dia menyukai Sehun atau tidak), tapi di sisi lain ia takut, sangat takut. Luhan tidak ingin memikirkan kemungkinan terburuk yang akan terjadi kalau ia nekat mengungkapkan perasaan yang akhir-akhir ini mengusik pikirannya.
Sehun menghela nafas, lalu membawa Luhan ke dalam pelukannya "Maaf kalau aku terkesan memaksamu, aku hanya khawatir dengan kondisi kesehatanmu. Kau sudah ku anggap sebagai adikku sendiri Luhan." Sehun mengusap pundak Luhan dengan lembut, membiarkan kepala Luhan tenggelam dalam dada bidang miliknya.
Luhan tertohok mendengar ucapan pria yang kini tengah memeluknya, jadi selama ini Sehun hanya menganggapnya sebagai seorang adik? Saat ini Sehun benar-benar tak menyadari kalau Luhan tengah menangis tanpa suara dalam pelukannya.
Sepasang mata menatap nyalang dengan aura kebencian menguar di sekelilingnya, tanpa Sehun dan Luhan sadari sosok itu telah berdiri sedari tadi melihat semua kejadian dalam ruangan tersebut. Ia membalikkan tubuhnya, tanpa di sadari siapapun ia tersenyum, ah! bukan tersenyum, ia menyeringai.
.
.
.
[Di sebuah ruang rias]
"Hallo, kau bisa membantuku kan seperti biasa kan?" tampak seseorang wanita dengan lipstik berwarna merah pekat tengah berbicara dengan seseorang melalui sambungan telfonnya.
"Tentu, berani berapa?"
"Untuk itu kau tidak usah khawatir, aku akan membayar berapapun yang kau minta setelah kau berhasil melaksanakan semua tugas yang ku berikan, deal?"
"Deal.."
"Bagus, itu baru temanku, Daehyun-ah." wanita itu mengakhiri sambungan telfonnya. Ia tersenyum, dan beberapa detik setelahnya ia tertawa seperti orang gila. Tidak memperdulikan tatapan aneh dari beberapa asisten yang tengah merias wajahnya.
.
.
.
Jam yang melingkar di pergelangan tangannya sudah menunjukkan pukul 10 malam waktu setempat. Kris memutuskan mengakhiri pekerjaannya. Ia mengambil jasnya yang tergantung manis di sofa merah marun yang terletak di dekat meja kerja miliknya. Ia mengambil smartphone berwarna putih yang tergeletak manis di meja, menekan speed dial di layar tersebut.
"Hallo.."
"Ah, hyung, tumben menelfonku?" orang yang tengah Kris telfon kini tampak sedikit terkejut, terlihat dari nada bicaranya yang terdengar begitu ekspresif.
"Biasa saja Sehun-ah, aku menelfon karena ingin mengetahui keadaan Luhan. Bagaimana perkembangan anak itu?"
"Mian hyung, kemarin kondisinya sempat down, ku rasa dia tertekan karena sesuatu. Tapi untunglah paginya dia sudah baikan. Dan sekarang dia sudah bisa melangkah walaupun masih harus menggunakan alat bantu."
"Mwo? Dia sempat down? Ya Tuhan, aku sungguh menyesal telah meninggalkannya terlalu lama. Aku ingin melihatnya, tapi aku begitu sibuk di sini. Mungkin sekitar 3 minggu lagi baru aku punya waktu untuk mengunjungi Luhan" Kris tampak menunjukkan raut muram.
"Ne hyung, kurasa dia butuh kau di sampingnya. Tapi tenang saja, selama hyung belum bisa mengunjungi Luhan, aku yang akan menjaganya."
"Gomawo Sehun-ah, aku berhutang banyak padamu."
"Hahaha, it's okay hyung. Tidak usah berlebihan begitu."
"Ne baiklah, kalau begitu aku akhiri sambungan telfonnya, jaga adikku baik-baik!"
"Ne hyung, percayakan saja padaku." sambungan telfon pun berakhir, menyisakan kesunyian di dalam ruangan kerja milik pemuda bernama lengkap Xi Yi Fan itu.
Akhirnya Kris memutuskan meninggalkan ruang kerjanya, yang ada di pikirannya saat ini adalah pulang ke apartemennya dengan cepat, tidur, lalu bangun esok paginya dan seterusnya seperti itu. Ia ingin cepat-cepat menyelesaikan pekerjaannya agar ia bisa bertemu dengan adik tersanyangnya. Ia sudah sangat rindu dengan senyuman dan tingkah konyol Luhan.
.
.
.
Sehun kini tengah menyuapi Luhan seporsi sarapan tteoppokki. Pagi tadi entah kenapa Luhan tiba-tiba minta di belikan salah satu makanan khas negeri ginseng tersebut. Sebenarnya Sehun sudah melarang, tapi apa mau di kata, watak Luhan benar-benar keras seperti batu. Dan alhasil Sehun harus rela keluar membeli tteopokki yang jauh dari rumah sakit. Ia harus rela menahan malu melihat tatapan orang-orang yang bertanya kenapa ada seseorang dengan setelan jas dokter membeli tteoppokki di pinggir jalan. Di tambah lagi hari masih sangat pagi saat itu.
"Lu, kau masih marah padaku?" Sehun membuka suara, mencoba memecah keheningan yang sedari tadi tercipta di antara mereka.
Luhan menggeleng singkat, kemudian mengambil air putih yang ada di nakas. Ia meneguk air minum tersebut dengan rakus seolah ia tak minum selama bertahun-tahun. Tentu saja Sehun heran dengan sikap Luhan, bukannya menjawab pertanyaan darinya, bocah itu malah melupakannya dan lebih memilih air putih.
"Lu, aku bertanya padamu." Sehun tak menyerah, ia mencoba kembali bertanya pada Luhan.
"Cukup hyung! Sudah ku katakan aku tidak marah padamu! Kenapa kau bertanya tentang hal itu berulang kali?!" Sedetik kemudian Luhan terhenyak, seakan tersadar kalau ia baru saja membentak orang yang ada di hadapannya.
"Lu.." Sehun menggumam singkat
"Mi-mian, ak..aku tidak bermaksud." dengan memaksakan diri Luhan mencoba turun dari ranjangnya. Sekuat tenaga ia mencoba turun dan melangkah, namun percuma, ujung yang Luhan dapat adalah ia jatuh terjerembab ke lantai.
"Akh!"
"Luhan! Astaga! Apa yang kau lakukan?!" Sehun terkaget, ia buru-buru mengangkat Luhan dan kembali mendudukkan tubuh Luhan ke ranjang rumah sakit.
"Hiks.." isakan halus meluncur dari bibir mungil Luhan. Sungguh, Sehun benar-benar tak tega melihat seseorang menangis.
"Uljima." entah sudah berapa kali Sehun memeluk Luhan, akhir-akhir ini Luhan jadi sering menangis dan Sehunlah yang selalu meminjamkan dadanya untuk tempat Luhan mencurahkan air matanya. Tapi Sehun tak perduli. Toh, tidak mungkin dia harus menghitung setiap pelukan yang ia berikan pada Luhan. Yang terpenting sekarang adalah bagaimana caranya membuat namja cantik di dalam pelukannya itu berhenti menangis.
"Wae hyung? hiks, wae? kenapa harus aku yang menderita? Mama dan Baba pergi meninggalkan aku sendiri, dan sekarang aku tidak bisa berjalan. Aku ingin mati saja, aku ingin bertemu Mama dan Baba. Hiks.." Luhan mencengkram jas dokter milik Sehun. Hatinya saat ini benar-benar terasa sakit, pelampiasan yang bisa ia lakukan saat ini hanyalah menangis.
"Apa yang kau bicarakan Lu, bagaimana kau bisa punya pendapat seperti itu tentang hidupmu?" Sehun memegang pundak Luhan dengan kuat, memaksa Luhan untuk menatap mata tajam milik Sehun. Namja manis itu sempat meringis pelan akibat perbuatan Sehun, namun pemuda bermarga Oh tersebut tidak memperdulikan ringisan Luhan.
"Hyung! Lepaskan!" tubuh Luhan memberontak, mencoba melepaskan cengkraman kuat Sehun. Namun apa daya, tenaga Luhan jauh di bawah Sehun.
"Tidak sebelum kau menarik kembali ucapanmu." tatapan tajam itu tepat menusuk ke mata Luhan, membuat nyali Luhan menjadi sedikit ciut.
Kembali liquid bening milik Luhan meluncur manis di pipinya "Wae? Percuma aku hidup, aku tidak berguna. Hiks.. aku, aku hanyalah parasit bagi Kris hyung, merepotkannya setiap hari hanya untuk mengurusi orang cacat sepertiku. Bahkan di umurnya yang sekarang, hiks.. ia belum sempat mencari pasangan sama sekali karena terlalu sibuk merawatku. Aku ingin mati saja agar Kris hyung tidak kerepotan lagi mengurusku, ak-.." ucapan Luhan terhenti secara spontan. Tentu saja, karena saat ini Sehun sedang menciumnya. Ia tidak salah kan?
Sehun menciumnya!
Di bibir? Ya, Luhan tidak salah, entah apa yang ada di pikiran seorang Oh Sehun saat ini hingga ia nekat mencium pasiennya sendiri. Apa ia lupa dengan pacarnya yang sedang sibuk bekerja saat ini?
Sehun mengakhiri ciumannya dengan memutuskan tautan bibir mereka berdua. "Jangan pernah ucapkan kata-kata itu lagi di hadapanku. Aku sangat tidak suka mendengar kau berbicara tentang segala hal yang menunjukkan seolah-olah hidupmu tidak berarti. Sadarlah Lu, kau masih beruntung bisa hidup di dunia ini. Ada ribuan bahkan jutaan orang mati yang ingin di hidupkan kembali di dunia ini agar mereka bisa berkumpul bersama orang terkasih mereka dan memperbaiki kesalahan mereka di masa lalu. Kau tahu, Kris hyung begitu menyayangimu, ia tidak mungkin merawatmu sampai sekarang dan mengabaikan mencari pasangan seperti pemuda lain pada umumnya. Itu cukup dijadikan penegasan. Dan kau harus ingat Luhan, masih banyak orang yang menyayangimu. Ada Kris hyung, aku, dan masih banyak lagi. Jadi ku mohon jangan pernah menyimpulkan kalau kau hanya parasit yang tidak berguna." Luhan tertegun mendengarkan ucapan Sehun. Belum habis keterkejutannya akibat Sehun yang baru saja menciumnya, kini malah kata-kata pemuda bermata tajam itu yang membuat pikiran Luhan kembali berkecamuk.
Di satu sisi Luhan membenarkan perkataan Sehun. Tapi ia masih bingung, ragu akan semuanya. Entah mengapa Luhan merasa semuanya terlalu rumit. Tidak bisakah ia hidup normal dan tenang seperti orang lain kebanyakan? Bercanda, tertawa, berkumpul bersama. Tidak sepertinya, hanya akan tersenyum jika ada orang yang di kenalnya saja. Selebihnya, akan di isi dengan melamun, menyesali masa lalunya, dan hal-hal tidak penting yang seharusnya tidak perlu Luhan pikirkan. Tapi itulah Xi Luhan, seorang namja dengan perasaan yang begitu rapuh.
Elusan tangan Sehun pada pipinya menyadarkan Luhan untuk kembali ke dunia nyata.
"Gwenchana?" Sehun kembali membuka suara
"Hyung, kenapa kau menciumku?" Luhan tak menjawab pertanyaan Sehun, ia malah balik bertanya kepada pemuda yang ada di hadapannya saat ini.
Sehun terdiam sebentar, seperti sedang memilah kata apa yang harus dia ucapkan pada pria manis di hadapannya saat ini, "Aku benar-benar tidak tahan saat mendengarkanmu berbicara tadi, dan cara satu-satunya yang terlintas di otakku hanya itu."
Oh, jadi Sehun menciumnya hanya untuk membuatnya berhenti bicara? Luhan tersenyum miris, hatinya kembali sakit saat mengetahui Sehun menciumnya bukan karena Sehun menyukainya, tapi hanya untuk menghentikan ucapannya. Lagipula, kenapa ia begitu berharap? Sehun kan sudah punya Yeri Nuna, jadi sangat mustahil kalau Sehun punya perasaan padanya, pada orang cacat dan bodoh sepertinya.
"Lihat saja kau Xi Luhan, kau akan merasakan akibatnya karena telah berani mendekati Sehunku" ucap seorang yeoja di balik pintu ruangan Luhan, Kemudian ia segera membalikkan tubuhnya dan melangkah pergi, membuat siluet yeoja tersebut hilang di balik lorong rumah sakit
.
.
.
.
Sosok berpakaian serba hitam itu melangkah dengan pelan di lorong rumah sakit yang terlihat lenggang. Sesekali ia menatap arloji yang tersemat manis di tangannya. 'Jam 00.42 a.m' pikirnya. Pria yang mengenakan hoodie hitam itu bersikap sewajarnya saat berpapasan dengan beberapa perawat rumah sakit yang kebetulan dapat shift malam dan menanyainya.
Bunyi 'Kreeek' pelan terdengar saat salah satu pintu kamar rumah sakit tersebut terbuka. Kamar tersebut gelap, tapi sosok itu tak memperdulikannya. Ia tetap melangkah dengan pelan menghampiri seorang pasien yang tengah tertidur lelap.
"Manis juga" ucapnya pelan diantara keheningan malam. "Tapi sayang dear, kau harus mati lebih cepat." lanjut pemuda itu.
Dengan perlahan ia menyingkap selimut yang menutupi tubuh sang pasien, menampilkan tubuh mungil yang tertidur tanpa mengetahui kalau sekarang ada bahaya yang mengancamnya.
"Owww, sayang sekali kalau bocah manis seperti ini harus mati tanpa di nikmati terlebih dahulu."
Sosok itu melepas maskernya dan mulai naik ke ranjang rumah sakit. Bunyi derit ranjang yang di tidurinya membuat Luhan terusik, rasa tidak nyamannya bertambah saat merasakan benda kenyal di lehernya. Luhan membuka matanya, ia terkejut saat melihat orang asing dengan pakaian serba hitam tengah menindihnya. Dan yang paling parah, orang itu tengah menghisap lehernya! Dengan sekuat tenaga ia mendorong pundak orang itu. Sosok tersebut mengerang kesakitan saat dirinya terjatuh ke lantai rumah sakit.
"Shit!" umpatnya pelan merasakan ngilu yang mendera pantatnya. Ia bangkit dan kembali mendekati sosok Luhan yang tengah meringkuk ketakutan.
"Tenanglah manis, kau tidak akan aku sakiti. Aku hanya ingin menikmatimu sebentar."
"Ma-mau apa kau?" Luhan takut. Matanya terasa semakin memanas saat pria itu kembali berdiri dan menatapnya dengan tatapan tajam.
Tanpa Luhan sadari sosok itu bergerak dengan cepat ke arahnya, mengunci pergerakan Luhan dengan kedua tangan kokoh itu. Membuat luhan terperangkap di antara headboard ranjang dengan sosok hitam tersebut.
"Perkenalkan, namaku Daehyun." Sosok bernama Daehyun itu menyeringai semakin lebar saat Luhan semakin bergerak gelisah di bawahnya, seperti mangsa yang akan segera di terkam oleh sang predator.
"A-apa maumu?" Kembali mencba bertanya, Luhan mengumpulkan segenap keberaniannya agar suaranya tidak bergetar.
"Membunuhmu... mungkin?"
"Kenapa? aku salah apa padamu?!" Tuhan, Luhan benar-benar takut sekarang. Jantungnya saja sudah berdetak sangat cepat, sampai rasanya ingin meledak.
"Kau sudah mengganggu hubungan sahabatku manis, kau tahu kan, parasit harus di musnahkan. Tapi parasit manis sepertimu tidak baik di buang begitu saja, ada baiknya kalau aku menikmatimu dulu. Bagaimana heum?"
"Uh, tidak! Hiks, Sehun hyung!" Entah kenapa teriakannya terasa percuma, bahkan saat suaranya hampir habis karena meminta tolong sekalipun, Sehun tidak datang menolongnya. Semuanya tidak ada yang datang. Kemana semua orang?
"Agh!" Lenguhan kesakitan keluar dari bibir plum Luhan saat Daehyun menggigit lehernya dengan keras, meninggalkan tanda keunguan yang kontras dengan kulit putihnya. Tangan mungilnya mati-matian mendorong pundak kokoh Daehyun, namun perbandingan kekuatan antara Luhan dengan pria serba hitam itu benar-benar tidak seimbang. Mungkin sekarang Luhan hanya bisa pasrah. Sudah cacat, merepotkan, lalu sekarang apa? Ia akan kehilangan harga diri dan kemudian dibunuh?
Beralih kepada Daehyun yang tengah sibuk menjelajahi tubuh mungil Luhan, seringainya makin melebar kala mengetahui bocah dibawahnya tak lagi memberontak, yang ia tau sekarang bocah itu hanya terisak pelan sembari memejamkan mata. Tangan mungil Luhan bahkan tak lagi mendorong tubuh Daehyun, hanya tergolek diranjang, meremas erat selimut yang sudah acak-acakan sedari tadi.
Piyama rumah sakit berwarna soft pink itu bahkan telah terbuka sepenuhnya, Luhan benar-benar pasrah jikalau ia akan kehilangan harga dirinya secepat ini. Ditengah-tengah isakannya ia sungguh masih berharap jika ada orang yang akan menyelamatkannya. Sehun? Ia ingin Sehun! Daehyun telah melepas bajunya dan melemparnya ke sembarang arah, mengabaikan rencana awalnya untuk menghabisi Luhan. Mungkin bersenang-senang sedikit sebelum mengakhiri hidup bocah malang ini tak apa, pikir Daehyun.
'Sehun hyung, kumohon.. tolong aku...'
