Chapter 3

Sungmin mengambil telepon. Ia menyipitkan matanya melirik jam dimeja samping ranjang. Pukul lima dua puluh tiga. Subuh. Siapa orang yang meneleponnya malam-dinihari ini.

"yeoboseo?"

"choi sungmin?"

"ne, ini aku."

"kemana kau pergi setelah mengacaukan hidupku?"

Sungmin terkejut, Ia membutuhkan waktu sejenak setelah mendengar perkataan yang kasar itu "mian, nuguseyo?"

sungmin duduk dan menyalakan lampu, ia mengulurkan tangannya ingin membangunkan siwon. namun ketika menyadari jika suaminya itu tidak ada sama sekali diranjangnya. Ia hanya bisa speechless melihat tempat kosong itu.

"aku tak suka kau menelpon polisi." Ujar si penelpon sengit.

Dimana siwon? "mianhe.. saya… anda membangunkan saya dari tidur… anda mengatakan polisi?"ujar sungmin yang masih belum sadar.

"polisi, polisi. Ingat sesuatu?"

Sungmin menarik napasnya. "C. K. H.?"

"seorang polisi datang kerumahku, memata-matiku. Demi-"

"aku-"

"-tuhan, kau pikir kau siapa?"

"aku-"

"mencampuri hidup-"

"kau-"

"-orang lain, trims karena sudah merepotkanku nona."

"bisakah kau beri aku kesempatan untuk bicara, please?"

Sungmin pun akhirnya berteriak frustasi membuat namja diseberang terdiam seketika, tapi sungmin dapat merasakan gelombang kebencian yang dikirim namja itu berdenyut melintasi kabel telepon. "aku sudah membaca prologmu dan menyukainya. Aku ingin berbicara denganmu, tapi aku tidak tahu bagaimana caranya menghubungimu. Kau tidak memberiku cara untuk menghubungimu. Jadi aku menelpon-"

"kembalikan naskah itu."

"ne?"

"prolog itu. kirimkan kembali."

"wae?"

"itu sampah."

"sama sekali tidak, tuan-"

"seharusnya aku tidak mengirimkannya."

"aku senang kau melakukannya. Prolog itu membuatku tertarik. Prolog itu mengesankan dan ditulis dengan baik. Jika sisa cerita kau sebaik prolognya, aku akan mempertimbangkan membelinya untuk diterbitkan."

"tidak untuk dijual."

"mwo? Apa maksudmu?" dengan sabar sungmin kembali mencoba membujuk penulis –sialan itu "jika kau tidak ingin bukumu diterbitkan. Mengapa kau mengirim prolog itu pada penerbit?"

"karena aku menderita ketidaksadaran mental."jawab namja itu asal. "setelah itu aku berubah pikiran."

Sungmin mengubah taktiknya "apa anda punya wakil?"

"wakil?"

"agen."

"aku bukan anggota boyband."

"apa kau pernah mengirim naskah sebelumnya?"

"kirim saja kembali apa susahnya?"

"apa kau mengirimnya dalam jumlah yang banyak?"

"maksudmu pada perusahaan penerbitan lain? Ani."

"kenapa kau kirim padaku?"

"kau tahu? Lupakan omonganku tentang mengirimkannya kembali. Lempar saja ke tong sampah dan bakar dengam api atau melapisi sarang burungmu. Aku tak peduli."

Merasa jika pembicaraannya akan berakhir, sungmin gegas berkata, "tunggu sebentar, jebal~"

"aku yang membayar telepon ini."

"sebelum kau memutuskan tidak menjualnya, keputusan yang aku pikir akan kau sesali, dengan senang hati aku akan memberikan pendapat yang professional dan jujur. Biarkan aku memutuskan cerita itu bagus atau tidak. Tolong kirim seluruh naskah itu padaku."

"ada padamu."

"ada padaku?"ulang sungmin.

"apa ucapanku sulit dimengerti?"

"maksudmu, kau hanya menulis prolognya saja?"

"ani, hanya prolog itu saja yang kumiliki. Sisa ceritanya ada dikepalaku."

"oh." Itu sangat mengecewakan bagi sungmin. "saya mendesakmu merampungkannya. Setelah itu-"

"sementara itu, kau berutang tagihan sambungan telepon jarak jauh padaku. Jika kau tidak menghabiskan uang untuk mengembalikan naskah itu, robek saja benda sialan itu. selamat tinggal."

Sungmin memegang gagang telepon selama beberapa detik dan merenung. Percakapan itu hampir tidak nyata untuknya. Ia bahkan berpikir bahwa dia masih bermimpi. Namun bagaimanapun kasusnya, malamnya sudah berakhir dan dia tidak bisa tidur lagi. Sungmin menyibak selimutnya dan turun dari ranjang menuju pintu kamarnya ketika siwon melenggang masuk kekamar, dengan sopan menutupi mulutnya yang menguap lebar. Ia masih mengenakan celana panjang dan kemeja. Meskipun kemejanya menggantung keluar. Jasnya disampirkan dibahu. Ia menjijing sepatunya.

"apa aku mendengar telepon bordering?"Tanya siwon dengan polosnya.

"ne."

"apa itu appa? Kuharap tidak ada masalah,"

Sungmin luar biasa lega melihat suaminya, namun tercengang oleh ketidakpeduliannya. "siwonie, demi tuhan, kau kemana saja semalaman?"

Nada suara sungmin menghentikan langkah siwon.. ia menatap istrinya bingung. "dibawah, diruang kerja."

"wae?"

"kau sudah tertidur saat aku masuk. Aku tidak mau menganggumu."

"jam berapa kau pulang?"

Siwon mengangkat sebelah alisnya pertanda tak senang dengan nada tinggi istrinya itu. "kira-kira pukul satu."

Sikap siwon yang tenang itu membuat sungmin meradang, "kau-bilang-kau-berjanji-hanya-setengah jam-dan pulang."

"kami minum dua putaran, bukannya satu. Kenapa dibesar-besarkan sih?"

Dan pertanyaan-lebih tepatnya pernyataan itu berhasil membuat sungmin diam. Walau ada sedikit rasa yang aneh dihatinya. Entah kenapa dia merasakan sangat asing dengan sosok didepannya ini? Siapa dia? Kenapa dia bersikap seperti itu? apa dia benar-benar siwon? Suamiku? Suamiku yang kunikahi selama dua tahun ini?

.

.

.

.

Lee hankyung membaca sekali lagi prolog yang dibawa sungmin berulang-ulang. Sangat terlihat keantusiasannya dalam manic matanya yang telah berumur itu.

"bagaimana menurutmu, appa?" Tanya sungmin. "apakah hanya khayalanku belaka atau prolog itu bagus?"

"cerita ini bagus."jawab hankyung singkat.

"aku senang appa berpikir begitu."

"penulis baru?"

"tidak tahu."

Hankyung terkejut. "tidak tahu?"

"ini sama sekali bukan kiriman biasa."sungmin kembali menceritakan dari awal sampai mendapat 'telepon mesra' semalam diceritakannya semua membuat hankyung mengernyitkan dahinya melihat sungmin yang begitu antusias.

"siapa sih yang ingin dikenal dengan inisialnya? Itu kekanakan dan aneh. Dia benar-benar kekanakan."

Hankyung terkekeh melihat raut wajah anaknya yang menggemaskan itu. "kurasa itu menambahkan kesan misteri dan… roman."

Sungmin menyela, "tapi dia sangat menyebalkan appa~"

"sudah pasti. Sifat yang bertentangan menggambarkan kepribadian penulis yang baik atau sebaliknya yang buruk." Hankyung menghisap cerutunya dengan kuat dan menghembuskannya, "bukankah dengan itu semua menceritakan bahwa dia ingin dicari dan ditemukan?"pancing hankyung membuat sungmin merenung.

"tapi dia tidak perlu menelpon."bela sungmin pada dirinya sendiri. "jika dia tidak ingin dicari, dia bisa saja membuang nomor teleponku. Sebaliknya, dia menelponku di jam yang tidak terduga sama sekali olehku."

"dan terlalu banyak memprotes dan terlalu mencolok."

Sungmin menghela napasnya putus asa, "mollayo. Sepertinya dia benar-benar marah."

"mungkin begitu, dan aku tidak bisa menyalahkannya. Tapi dia tidak bisa menolah godaan untuk menghubungimu dan mendengar apa pendapatmu mengenai karyanya."

"dan kupikir tulisannya memang mengesankan. Prolog itu membuatku bertanya-tanya mengenai si pemuda di kapal itu. siapa dia? Apa kisahnya? Apa yang membuatnya berkelahi dengan temannya?"

"iri hati." Jawab hankyung.

"itu provoaktif, tidakkah kau berpikir begitu, appa? Iri akan apa? Siapa yang iri pada siapa?"

"prolog itu berhasil menuaikan tujuannya. Sipenulis membuatmu merenungkannya dan mengajukan pertanyaan"

"ne, benar. Sialan."

"jadi, apa yang akan kau lakukan?"

"mencoba yang professional. Jika itu memang dilakukan dengan orang sebrengsek dia. Aku tidak membodohi diriku sendiri jika bekerja dengan orang ini mudah."

"kau tahu nomor teleponnya?"

"sekarang tahu. Syukurlah ada pendeteksi telepon. Aku memeriksa alat itu tadi pagi dan mengenali kode area yang kuhubungi kemarin."

"ah, keajaiban teknologi. Pada zamanku-"

"zamanmu appa?" ulang sungmin tertawa. "sekarangpun masih zamanmu appa."

Sungmin menepuk-nepuk tangan ayahnya sayang. Dia tidak tahu harus berbuat apa jika pemilik tangan ini tiada. Dia amat sangat menyayanginya mengingat sosok inilah yang merawatnya dari bayi hingga sekarang. Seorang diri. Tanpa pendamping. Itulah mengapa sosok ini begitu ia kagumi.

"jadi kaupikir sebaiknya aku memburu envy, appa?"Tanya sungmin pada ayahnya sekarang.

"jelas, sipenulis sedang menantangmu, min. meskipun mungkin dia tidak sengaja dan bahkan tidak sadar melakukannya. Kamu, lee sungmin ah, choi sungmin anak lee hankyung tidak akan menolak tantangan bukan?"

"karena itulah mengapa sekarang aku begitu bergairah, appa."tutur sungmin, bertambah serius. "kurasa aku harus pergi kesana."

.

.

.

.

to be continued