"Ne, aku tak apa Baekhyun-ah! ah, aku mendapat waktu seminggu untuk beristirahat... Yak! Jangan merasa bersalah seperti itu, sekarang Daehyun tidak akan menganggumu lagi, ... oeh, jangan merindukanku, selama aku tak ada ne,... arraseo! Ah, baiklah.. selamat malam... bye...!"

Pip!

Kyungsoo mematikan sambungan telponnya dengan Baekhyun. Selesai makan malam tadi ia langsung menuju kamarnya guna menghindari pertanyaan dari appa dan eomma mengenani wajah lebamnya ini. Juntuk sekarang mereka percaya jika wajah Kyungsoo terlempar bola basket saat jam olaraga. Kyungsoo sedikit tenang kali ini.

Kyungsoo melirik ponselnya lagi, "tidak ada balasan dari Jongin" lirihnya lalu merebahkan dirinya di ranjang. "Kenapa dia belum pulang? Dia masih marah? Kenapa pesanku tidak di balasnya sih?" Kyungsoo berguling-guling dikasur sambil mengomel karena saat pulang sekolah tadi Jongin hanya mampir ke rumah berganti pakaian lalu pergi lagi dengan motor sportnya. Bahkan Jongin melewatkan jam makan malam bersama keluarganya.

Kyungsoo membuka aplikasi line nya lalu mencari id line milik adiknya.

"Jongin-ah! Kau pergi kemana?"

"Jongin-ah! kau masih marah?"

"Mianhae..."

"Jongin-ah, sebentar lagi waktunya makan malam, pulanglah!"

"Jonginnie..."

"Jongin... jangan lupa makan"

"YAK! Kenapa hanya di read, balas pesanku!"

"Jonginnie..."

"Jongin, jangan pulang malam-malam! Aku menunggumu"

"Aku mengkhawatirkanmu..."

Kyungsoo mendengus kesal saat membaca pesannya yang tidak satupun dibalas oleh Jongin.

"Ah, mungkin dia sudah pulang? Sebaiknya aku mengecek ke kamarnya..." Kyungsoo beranjak dari tidurnya dan langsung menuju ke kamar Jongin yang letaknya bersebelahan dengan kamarnya.

Gelap.

Klik!

Kyungsoo menyalakan skalar listrik yang berada di dekat pintu kamar Jongin. Kosong. Tidak ada tanda-tanda kehadiran seorang Jongin di kamarnya. Kamarnya masih seperti semula saat Jongin pergi keluar. Tas sekolah dan seragamnya berserakan di lantai. Kyungsoo yang merasa risih langsung membenarkan posisi barang-barang Jongin, tidak lupa ia merapikan sprei dan bed cover yang senada milik Jongin.

"Sudah jam sebelas malam, tapi dia belum pulang..." lirih Kyungsoo lagi sambil memandang jam dinding bergambar bendera Inggris yang terletak di atas ranjang Jongin.

Tanpa Kyungsoo sadari sosok Jongin sudah berdiri dibelakangnya sambil memegang gagang pintu kamarnya.

"Ah..kkamjakkiyah!" Kyungsoo memekik saat membalikkan badanya mendapati Jongin yang tengah menatapnya sendu. "Aisssh! Kau mengejutkanku, Jongin-ah!" lanjutnya sambil mengelus dadanya.

"Kenapa kau disini?" tanyanya datar dan masih menyamankan posisinya bersandar di pintu.

"Aku tadi mengecekmu, kupikir kau sudah pulang... kenapa kau tidak membalas pesanku?"

"Aku sibuk!" Jawabnya, Jongin mendekati Kyungsoo.

"Kau balapan liar lagi? Ehm..." Kyungsoo menutup hidungnya "Kau minum-minuman lagi?" integorasinya.

Jongin melewati Kyungsoo lalu mendudukkan dirinya diranjang, ia melepas kaos kaki hitam yang di pakainya "Sedikit, hanya ikut merayakan kemenangan balapan ku kali ini" jawabnya cuek.

Kyungsoo kembali membalikkan badannya dan menghampiri Jongin "Tapi kan kau sudah berjanji untuk tidak minum dan ikut balapan liar lagi?"

Jongin mendongkak dan menatap Kyungsoo "Kau juga sudah berjanji tidak berkelahi lagi dan tidak menyebabkan luka dibadanmu?" balasnya.

Kyungsoo diam, ia lebih memilih memalingkan wajahnya dan tidak mau menatap Jongin. Jongin masih marah.

"Kemarilah..." Jongin menarik tangan Kyungsoo hingga membuat tubuhnya terbanting diranjang adiknya. Jongin merebahkan dirinya disamping Kyungsoo lalu memeluk pinggang ramping Kyungsoo dengan posesif "Biarkan seperti ini dan jangan mengomel, aku lelah!"

Kyungsoo mengangguk dalam pelukan Jongin. Ia menekuk kedua tangannya di depan dadanya agar payudaranya tidak bersentuhan dengan dada Jongin. Kepalanya ia tenggelamkan pada dada Jongin. Pelukan Jongin yang terbaik, yang bisa membuat Kyungsoo merasa nyaman dan tenang.

"Aku tidak ingin kau berkelahi lagi, Soo!" lirih Jongin

Kyungsoo mengangguk lagi "Mian, aku tidak akan berkelahi lagi dan tidak akan memukul lawanku terlebih dahulu" jawabnya. "Jadi bisakah kau berhenti bermain balapan-balapan itu dan juga berhenti minum? Jika eomma tahu, ia akan sangat marah!"

"Arra!" jawabnya. "Tidurlah!" pintanya. Tidur dalam pelukan Jongin.

"Kau bau dan belum mandi, bersihkan dulu tubuhmu!" elak Kyungsoo dengan sedikit merontah pada Jongin.

Jongin tersenyum "Akan aku lakukan jika kau ikut membantuku membersihkan tubuhku!" godanya.

Kyungsoo memekul pelan lengan Jongin. "Ish! Kau ini, sudah remaja juga, masih saja manja pada nunna!"

"Heiyy! Nunna? Yeodongsaeng, yeodongsaeng!" oloknya.

"Jika kau mengolokku, aku akan tidur dikamarku sendiri, lepaskan!"

"Kau tidak bisa keluar, pintu sudah ku kunci..."

Kyungsoo membalikkan badannya ke arah pintu, masih dalam pelukan Jongin. Mata Kyungsoo terbelalak saat tidak menemukan kunci yang menggantung "Yak! Kau kemanakan kunci kamarmu, aku mau ke kamarku!" omel Kyungsoo yang kembali menghadap Jongin.

Jongin tersenyum, ia senang sekali menggoda Kyungsoo "Lihatlah, ke atas lemariku! Tuh!" tunjukknya.

Kyungsoo mengikuti arah telunjuk Jongin yang menuju ke arah lemari putih dan kunci kamar Jongin tergantung dibagian ujung atas lemari itu.

"Ambillah!"

Kyungsoo mendengus. Bagaimana mengambilnya? Karena postur tubuh Kyungsoo, ia tidak bisa mengambil kunci itu sendiri. Kursi? Ah, sial! Dikamar Jongin tidak ada kursi. Ada juga single sofa yang sedikit berat jika di geser.

"Ambil kuncinya jika kau mau keluar dari kamarku"

"Bagaimana aku mengambilnya, bodoh! Itu terlalu tinggi!"

Jongin terkikik.

"Kau sengaja yah? Mengunci pintu agar aku tidur dikamarmu,?"

Jongin mengeratkan pelukannya "Kau selalu meminta tidur dengan Jongdae hyung! Sekarang tidurlah denganku!"

"Ish! Kau ini kekanakan sekali, selalu cemburu pada Jongdae oppa!" omelnya.

Jongin tak membalas, ia lebih memilih tersenyum dan memejamkan matanya "jalja"

"Jaljayo, Jongin-ah!" balas Kyungsoo lalu ikut memejamkan matanya dan menenggelamkan kepalanya dipelukan Jongin.

Jika kalian menyangka Jongin tidur, itu salah. Beberapa menit kemudian Jongin membuka matanya saat ia merasakan helaan nafas Kyungsoo yang teratur menandakan Kyungsoo sudah terlelap. Jongin melepas pelukannya lalu menjajarkan tubuhnya agar bisa sejajar dengan wajah Kyungsoo. Jongin tersenyum saat melihat wajah imut Kyungsoo yang terlihat sangat polos saat tidur. Tangan Jongin beralih ke tangan Kyungsoo, ia menggenggam erat tangan Kyungsoo.

"Kim Kyungsoo! Kyungsoo nunna! Kau milikku! Aku mencintaimu!" bisiknya yang tidak didengar oleh Kyungsoo.

Chup!

Jongin menempelkan bibirnya ke bibir Kyungsoo setelah membisikkan kalimatnya. Matanya terpejam, namun bibirnya masih menyentuh bibir kakak perempuanya dan ia menggenggam erat tangan Kyungsoo.


"Kau milikku! Aku mencintaimu!"

Kyungsoo tercekat saat mendengar bisikan pernyataan kepemilikkannya dimimpinya. Mimpi buruk. Kyungsoo membuka matanya dengan nafasnya yang tidak beraturan.

"Mimpi buruk?" cicit Jongin yang tengah berdiri di depan cermin sambil memasangkan dasi seragamnya. Ia sedikit tersentak saat Kyungsoo tiba-tiba terbangun dengan nafas tak beraturan.

Kyungsoo mengusap wajahnya, ia duduk di ranjang adiknya. Ah, semalam Kyungsoo tidur bersama Jongin. Kyungsoo mengangguk.

"Itu bukan mimpi buruk! Memang sudah waktunya kau bangun. Kau tidak ke sekolah?" tanyanya.

Kyungsoo menyibakkan selimutnya. "Kau tahu aku diskors,? Bagaimana mungkin aku akan ke sekolah?"

"Lalu kau akan diam dirumah seminggu dan membuat appa dan eomma curiga karena kau tidak ke sekolah? Ish! Mereka pasti bangga memiliki anak berprestasi sepertimu!"

Kyungsoo terdiam, "Ah, kau benar juga! Aku akan siap-siap! Hari ini kesekolah naik motormu saja yah?"

Jongin mengernyitkan keningnya "Wae? Kau sudah bosan hidup? Kau bilang masih sayang nyawamu jika aku mengajakmu naik motor"

"Kau pikir kita harus diantar Wang ahjussi ke sekolah? Lalu aku harus pura-pura ke sekolah, begitu?"

"Ah, benar juga! Baiklah hari ini kita naik motor. Dan kau jangan mencubit pinggangku saat ku bonceng"

Kyungsoo menggidikkan pundaknya "Asal kau masih dalam kecepatan normal mengendari motormu!" katanya sambil berjalan ke arah pintu.

"Baiklah akan ku usahakan!" balasnya yang masih fokus dengan dasinya "Ish! Ada apa dengan dasi ini, kenapa susah sekali?" keluhnya karena dari tadi gagal memilin dasi seragam sekolahnya.

Kyungsoo yang mendengar rutukan Jongin membalikkan badanya dan menatap Jongin yang terlihat frustasi karena dasinya. "Biar ku bantu.." kata Kyungsoo yang kini sudah berdiri tepat di depan Jongin.

Jongin menghadap Kyungsoo.

"Bungkukkan badanmu, aku tidak mau menjijit!" titah Kyungsoo.

Jongin tersenyum lalu menuruti perintah Kyungsoo.

Kyungsoo membenarkan kerah baju Jongin lalu memulai kegiatannya memakaikan dasi Jongin.

Jongin tersenyum memandangi wajah Kyungsoo yang masih bermuka bantal, rambut acak-cakan khas orang bangun tidur. Namun, disitulah poin utamanya. Kyungsoo terlihat makin manis cantik dan imut dengan keadaannya yang sekarang. Jongin masih tersenyum memandangi wajah manis Kyungsoo dari jarak dekat.

Kyungsoo tersenyum simpul saat ia menyelesaikan tugasnya memakaikan dasi Jongin. Ia menepuk-nepuk pundak Jongin sebagai sentuhan terakhir dari pekerjaannya "Ini mudah sekali, tapi kau malah tidak bisa memakainya, dasar manja!" olok Kyungsoo sambil menatap Jongin yang masih tersenyum ke arahnya. "Jongin-ah!" cicit Kyungsoo membuat Jongin tersentak lalu mengerjapkan matanya berkali-kali. "Kenapa malah memandangku seperti itu?"

Jongin tersenyum, "Entahlah, kau terlihat cantik pagi ini!" godanya sambil mendekatkan wajahnya ke arah wajah Kyungsoo.

Chup!

Jongin mengecup bibir Kyungsoo "Morning kiss! Terimakasih sudah membantu , Kyungsoo-nunna!" kata Jongin sambil berlari meninggalkan Kyungsoo yang sudah siap meledak.

"Yak!" teriak Kyungsoo namun sayang Jongin sudah meninggalkannya sendiri "Ish! Anak itu kenapa senang sekali menciumku sih!" omelnya lalu kembali berjalan menuju kamarnya.


"Kau yakin akan disini?" Jongin mematikan mesin motornya.

Kyungsoo melepas helmnya "Iyah, untuk sementara aku bersembunyi di tempat Huang ahjumma!"

"Dan sekalian memperdalam ilmu wushu mu? Ish! Kau ini kenapa begitu tertarik dengan dunia persilatanan sih? Memangnya belum cukup menguasai karate, hapkido, dan taekwondo?" tanya Jongin dengan nada malasnya. Bukannya tidak mendukung, tapi ia takut Kyungsoo terluka lagi. Kyungsoo pernah pata tulang saat ia mengikuti kejuaraan karate tingkat nasional saat mereka masih junior high school.

Kyungsoo mencibir "Aku melakukan hal bermanfaat bukan shopping gila-gilaan seperti wanita-wanita kencanmu! Sudah sana berangkat, kau akan telat jika mengomel padaku! Dan jangan lupa jemput aku nanti"

Jongin mengangguk "Baiklah... salam untuk Huang ahjumma" Jongin kembali menyalakan motor sportnya. Lalu meninggalkan Kyungsoo di depan gedung tempat ia les wushu tersebut.


Huang ahjumma menggeleng-ngelengkan kepalanya setelah mendengar cerita Kyungsoo.

"Jadi aku tidak bersalahkan ahjumma? Dia yang mencari gara-gara, dan aku sudah jengah mendengar rengekkannya" Kyungsoo mengakhiri ceritanya.

Wanita yang diperkiraan seusia dengan Yixing itu tersenyum "Tentu saja kau yang salah, kau yang memukul dia terlebih dahulu!" komentarnya.

Kyungsoo meletakkan cangkirnya "Dia membuatku kesal!"

"Jadi kau dihukum dengan di skors satu minggu?"

Kyungsoo mengangguk "Jadi selama itu aku akan bersembunyi disini"

"Tapi kau membohongi orang tuamu"

"Tidak, aku akan jujur, nanti setelah aku lulus sekolah.. hehe"

"Dasar, kau ini! Benar-benar anak nakal" guru wushu Kyungsoo hanya menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah Kyungsoo.


Suasana makan malam dirumah keluarga Kim berlangsung khidmat seperti biasa. Oh yah, makan malam bersama itu sudah menjadi tradisi yang tidak boleh dilewatkan di keluarga Kim. Karena dimeja makan itu, mereka berkumpul dan bertemu. Kesibukan Joonmyeon yang sedikit menyita waktu untuk sekedar quality time bersama anak-anak dan keluarganya. Maka sejak muda dulu Yixing sudah menyiasati agar makan malam mereka lewati bersama. Kecuali jika Joonmyeon tengah melakuka perjalanan bisnis ke luar kota.

"Eomma, apa haelmonie akan lama di Jepang?" tanya Kyungsoo tiba-tiba. Sudah tiga hari halmonie ke Jepang, mengunjungi anak tertuanya yang memegang perusahaan mesin di Jepang.

"Mungkin sekitar dua minggu, halmonie sekalian check up kesehatan disana" jawab Yixing "Kenapa? Kau sudah merindukannya?" tanyanya mengingat Ryeowook sangat memanjakan Kyungsoo.

"Em.. sedikit! Aku merindukan omelannya, hehehe.."

"Kau ini ada-ada saja!"

"Oh yah, bagaimana dengan sekolah kalian? Kalian sudah memikirkan akan masuk ke perguruan tinggi mana? Kalian sudah mengkonsultasikan dengan guru BK, Jongin, Kyungsoo?" tanya appa sambil memandang bergantian ke arah Jongin dan Kyungsoo. sekedar informasi, Kyungsoo dan Jongin meski usia mereka beda satu tahun. Tapi mereka berada ditingkat sama, hal itu dikarenakan saat Kyungsoo masuk sekolah Jongin memaksa Joonmyeon dan Yixing agar ia bisa masuk sekolah bersama Kyungsoo. Untung saja Jongin memiliki otak yang cerdas seperti Joonmyeon jadi ia tidak kesulitan untuk masuk sekolah lebih cepat dari usianya.

"Aku belum pernah bertemu guru BK appa, lagi pula aku belum memikirkan akan melanjutkan ke universitas mana dan mengambil jurusan apa" jawab Jongin.

"Dan kau Kyungsoo?" tanya appa.

Kyungsoo menela ludahnya "Em.. aku sudah bicara dengan guru BK beberapa minggu lalu, saat itu aku berminat melanjutkan ke akademik polisi, aku ingin menjadi polwan, tapi..."

Uhuk-uhuk...

Belum selesai Kyungsoo melanjutkan bicaranya, Jongin terbatuk saat hendak meneguk air minumnya "Mwo? Polwan? Yak! Aku yakin pasti guru BK menertawakanmu, karena... kau lihat saja bentuk tubuhmu yang pendek itu,tidak mendukung cita-citamu..."olok Jongin yang dihadiahi tatapan kesal Kyungsoo

"Hahahahha..." kini Jongdae terrtawa terbahak "Kau benar Jongin-ah! ah, aku tidak tahu kenapa kau selalu benar jika bicara... Kyungsoo, sayang! Raihlah cita-citamu yang sesuai dengan keadaan fisikmu!" cibir Jongdae yang langsung diberi tepuk tangan oleh Jongin. Jojong couple itu terbahak menertawakan Kyungsoo dan membuat Kyungsoo cemberut.

"Eommma..." adu Kyungsoo yang duduk disamping eommanya, dan melirik eomma nya yang menahan tawa. "Kalian menertawakanku...?" Kyungsoo makin cemberut saat melihat Minnie dan Joomyeon juga menahan tawanya.

"Ah, maafkan eomma sayang..."

"Kyungsoo-yah! Kau kan tahu syarat utama polwan itu tinggi minimalnya 155 cm sedangkan tinggi tubuhnya hanya 150 cm... jelas kau tak akan lulus diseleksi pertama..." timpal appa.

Kyungsoo mempoutkan bibirnya dan itu membuat Jongdae yang duduk didepannya gemas. "Yak! Jangan mempouty bibirmu, kau terlihat imut dan aku ingin menciummu!" ancamnya.

"Ish! Kenapa oppa dan Jongin suka sekali menciumku? Aku ini sudah remaja tahu... dan kalian tidak bertanya kenapa aku ingin menjadi polwan?"

Minnie memfokuskan dirinya pada Kyungsoo "Memangnya kenapa, Soo?"

Kyungsoo melirik Jongin yang duduk disampingnya dan terlihat tengah menunggu jawaban Kyungsoo "Karena aku ingin menertibkan Jongin yang suka ngebut-ngebut dijalan..."

"Yak! Pantas saja kau ini pendek, rencanamu busuk sekali! Aku bersyukur pada Tuhan yang memberimu kaki pendek!" balas Jongin.

Kyungsoo mendelik.

"Sudah-sudah ... jangan diteruskan lagi ributnya... ah, untuk Kyungsoo appa dukung keinginanmu dan cita-citamu! Lakukanlah demi kebaikan semua orang, jangan pernah terpaksa dengan pekerjaan yang akan kita geluti nantinya" Joonmyeon menengahi.

Jongin dan Kyungsoo mengangguk, dan kembali memfokuskan acara makannya.


Sudah tiga hari sejak berlakunya hukum skors bagi Kyungsoo, sejak tiga hari itu juga Kyungsoo bersembunyi di tempat les wushunya. Ia akan mengabiskan waktunya untuk berlatih atau sekedar mberbincang dengan Huang ahjumma hingga Jongin datang menjemputnya dan pulang ke rumah. Wanita bermata sedikit gelap seperti panda itu sangat baik pada Kyungsoo. Bahkan Kyungsoo termasuk dalam murid kesayangan Huang ahjumma, padahal Kyungsoo belum genap 6 bulan menjadi murid di les wushu tersebut. Bagi Huang ahjumma, Kyungsoo memiliki potensi dalam bela diri, ia dengan muda menyerap ilmu dan taktik-taktik dasar wushu.

"Loh, kau tidak menunggu adikmu dulu?" tanya Huang ahjumma yang melihat Kyungsoo mengenakan tas gendongnya.

"Ah, aku ingin ke Myeondong ahjumma, sebentar lagi eomma ulang tahun dan aku ingin membelikan sesuatu, hehehe..." jawab Kyungsoo.

Huang ahjumma tersenyum "Kau benar-benar anak yang baik, mereka sudah membesarkan mu dengan baik, Kyungsoo-yah!"

"Appa dan eomma memang luar biasa!" puji Kyungsoo sambil memberikan thumb ke arah Huang ahjumma.

Huang ahjumma tersenyum lagi "Hati-hatilah..."

Kyungsoo mengangguk "Aku pergi dulu, ne... ahjumma, terima kasih sudah mau menampungku..."

"Kau ini bicara seperti apa saja... pergilah! Sebelum turun hujan"

"Arraseo-yo! Bye ahjumma..." Kyungsoo membungkuk dan berjalan ke luar dari ruang yang biasa gunakan untuk berlatihnya.

Huang ahjumma memandang sendu ke arah Kyungsoo. Matanya tak lepas menatap ke arah gadis mungil yang berjalan lincah itu. Senyumnya menyungging manis disudut bibirnya.


Jongdae duduk dissalah satu sudut kafe milik Minnie. Sudah beberapa hari ia mengambil alih kepemilikan kafe yang juga merangkap menjadi kedai kofe tersebut dikarenakan kesibukan Minnie yang ikut mengolah perusahaan bersama Joonmyeon. Jongdae memainkan ponselnya. Ia membuka aplikasi line nya dan mencari id line seseorang lalu mengetikkan beberapa kalimat sebelum akhirnya ia menekan tombol send.

"How's your day?" kalimat itu ia kirimkan kepada wanita pujaannya. Minnie.

"Aku sibuk!" Jongdae tersenyum saat membaca balasan dari Minnie.

"Kau membalasnya terlalu cepat! Jika kau sibuk harusnya kau tidak membalas pesanku"

Lama, hampir sepuluh menit ponselnya tidak lagi mendapat notice balasan dari Minnie.

"Lanjutkan pekerjaanmu! Jam segini biasanya kafe ramai pengunjung!" beberapa menit kemudian setelah menunggu akhirnya pesan masuk.

Jongdae tersenyum, ia menatap keadaan kafenya. Ramai memang. Namun Jongdae dapat bersantai karena ia memperkejakan beberapa temannya sebagai pekerja paruh waktu dikafenya. Padahal saat Minnie yang memimpin kafe itu, hanya ada 4 karyawan dan itu termasuk satu dari mereka juga pekerja paruh waktu. Kim Jongdae memang bukan tipe pekerja keras seperti Joonmyeon dan Minnie, ia lebih memilih duduk dan menikmati.

"Tak masalah, aku tidak sibuk kok!" Jongdae kembali fokus pada ponselnya. Ia merindukan nunnanya.

Tak ada balasan.

"Apa dia memang benar-benar sibuk?" gumamnya.

"Minnie nunna! Sore nanti aku ingin bermain basket! Aku menunggumu disungai Han!"

"Jangan menungguku! Aku tidak akan datang!"

"Aku akan menunggu sampai kau datang!"

Jongdae mengusap layar kunci pada ponselnya, lalu memasukkannya ke dalam kantongnya. Ia yakin Minnie akan datang, ia tahu jika gadis itu tidak menyukai seseorang yang menunggunya.


Setelah pensiun dari kelompok teather nya dan menikah dengan Joonmyeon, Yixing memutuskan untuk menjadi ibu rumah tangga mengurus rumah dan anak-anaknya. Terlebih dia tidak memiliki background lulusan universitas besar dibidang akademis. Ia hanya pernah bersekolah di sekolah Seni saat remaja dulu dan memutuskan untuk menjadi aktris musikal bersama mendiang orang tua Minnie. Posisinya sebagai lead dancer, ia juga memiliki beberapa penghargaan atas kemampuan menarinya. Namun setelah ia menikah dengan Joonmyeon, ia memilih untuk ikut pindah dan menjadi warga negara Korea. Pernikahan mereka memang karena perjodohan, namun percayalah cinta keduanya mengalir dengan indahnya seiring dengan berjalannya waktu. Joonmyeon sangat mencintai Yixing yang menurutnya benar-benar wanita hebat yang menerima keadaanya. Begitu pula sebaliknya, Yixing mencintai Joonmyeon karena kepeduliannya dan perhatiannya yang berlebih kepadanya. Kehidupan cinta mereka semakin sempurna dengan hadirnya dua pasang Kim dalam rumah tangga yang mewarnai hari-hari mereka. Dua pasang Kim juga hidup penuh cinta dan kasih hingga mereka tumbuh dengan memiliki perasaan saling peduli dengan sesama.

Keseharian Yixing, ia habiskan untuk melakukan bakti sosial di panti Jompo dan kadang sesekali berkumpul dengan ibu-ibu sosiolita –sekedar menghormati suami yang memiliki rekan bisnis dimana-mana-, kadang pula berkumpul dengan ibu-ibu yang memiliki anak dan bersekolah dengan Jongin dan Kyungsoo –sekedar membahas perkembangan anak dan pendidikannya. Dan hari ini, adalah jadwalnya berkumpul dengan kaum sosialita yang membahas skandal artis, liburan luar negri dan juga memamerkan kekayaan para suami mereka. Yixing malas bergabung sebenarnya, namun ia harus menghormati Joonmyeon sebagai suaminya yang memiliki rekan bisnis dimana-mana itu. Setelah dua jam ia ikut terjebak dengan obrolan tidak penting dari wanita seusianya itu, akhirnya Yixing bisa bernafas lega dari ocehan-ocehan para ibu bergaya kelas atas itu. Disinilah Yixing, di sebuah restaurant siap saji di kawasan Myeondong. Ia duduk di dekat jendela sambil menikmati minuman hangat yang ia pesannya untuk mengahangatkan tubuhnya dari musim dingin itu. Sendiri. Ia lebih senang sndiri, tidak terlalu menikmati kehidupan yang ramai kecuali kebersamaannya bersama anak-anak dan juga Joonmyeon.

Yixing memandangi keindahan kawasan pusat perbelanjaan Seoul itu, ia ingat pertama kali Joonmyeon mengajaknya berkencan –setelah menikah- adalah mengunjungi restaurant Jepang yang terletak seberang jalan sana. Saat itu Joonmyeon selalu tertawa karena aksen bicara Yixing yang mencoba berbicara dengan aksen Seoul padahal ia orang China yang menurut Joonmyeon sangat lucu. Bahkan lawan bicara Yixing selalu salah mengartikan maksud pembiacaraan Yixing dan itu yang selalu membuat Joonmyeon tertawa dan senang menggoda istrinya. Joonmyeon dengan sabar mengajarkan Yixing bahasa Korea dengan baik dan benar. Alasannya, agar jika Yixing bepergian seorang diri dapat berkomunikasi dengan baik tanpa bantuannya dan juga seorang translator.

Yixing tersenyum saat mengingat moment tersebut. Ia benar-benar bahagia hidup bersama Joonmyeon. Pria sabar yang memiliki jiwa kepemimpinan sudah memberikan warna tersendiri dihidupnya.

Senyum Yixing memudar saat ia menangkap objek dengan kedua retinanya tengah berjalan dengan riangnya. Yixing tahu benar siapa orang ah gadis itu. Gadis berseragam sekolah Seirin High School itu adalah putri ketiganya, Kim Kyungsoo.

"Kyungsoo? apa yang dilakukan anakku di jam sekolah seperti ini? Apa dia membolos? Yah, Tuhan kenapa anakku berkeliaran tanpa Jongin?" Yixing bertanya pada diri sendiri. Ia masih memandangi Kyungsoo yang keluar masuk toko yang berada di seberang jalan itu. Yixing mengeluarkan ponselnya dan menghubungi wali kelas Kyungsoo.

"Ah, Annyeonghaseo, Hyun saem.. ah ne, saya Kim Yixing, ah bagaimana kabar anda..." Yixing memulai pembicaraannya smabil matanya tak lepas dari Kyungsoo. "Ah, syukurlah... ah, saya ingin menanyakan nilai-nilai Kyungsoo, apa baik-baik saja?... Oh, ah iyah terimakasih atas pujiannya, itu tidak terlepas dari para guru-guru Saerin... ah, ne.. eum.. sebenarnya saya ada pesan untuk Kyungsoo, tapi Jongin dan Kyungsoo sepertinya tidak membawa ponselnya... bisakah... eh, maksud anda? Oh, saya mengerti... maksudku... ah, baiklah.. terimakasih saem...ne.. selamat siang! Aku akan menghubunginya sebentar lagi..." Yixing memasukkan poselnya ke dalam handbag nya. Ia menahan amarah karena dibohongi oleh anak-anaknya.

"Kenapa mereka berbohong, Minnie-yah! Jongdae-yah! Jongin-ah! dan kau Kyungsoo... aku benar-benar akan membunuhmu!" Yixing menarik kasar tas berwarna abu-abunya lalu keluar dari restauran tersebut dan mengejar Kyungsoo- si anak nakal itu.

Yixing tak perlu menyebrang, karena saat ia keluar dari restauran ia melihat Kyungsoo berjalan ke arahnya meski tak menyadari keberadaannya. Kyungsoo berjalan ke arah selatan yang berlawanan dari Yixing berdiri. Yixing berjalan pelan mengikut Kyungsoo.

"Kim Kyungsoo!"

Gadis berseragam sekolah yang dipanggilnya itu langsung menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah sumber suara.

"Eom...eom..eomma...?"pekiknya tak percaya dengan mata bulatnya yang membesar saat ia menemukan wanita berlesung pipit itu berdiri di depannya sekarang.

"Apa gedung sekolah mu pindah ke kawasan sini?" tanyanya dengan nada sedikit menyindir.

Kyungsoo mendekati eommanya, ia ketahuan. Dan eommanya tidak bodoh, ia pasti sudah menghubungi pihak sekolah sebelum mendengar penjelasan versi Kyungsoo saat pertama kali melihatnya.

"Eomma... aku bisa menjelaskannya!" Kyungsoo memegang tangan Yixing.

"Kau memang harus menjelaskannya, nanti! Di hadapan Joonmyeon appa!" balasnya penuh penekanan.

Kyungsoo menunduk. Tamatlah riwayatnya!

"Masuk!" titah Yixing sambil memberikan isyarat matanya ke arah mobil silver yang terparkir diujung jalan. "Kau pulang bersama eomma..."

Kyungsoo mengangguk lalu melepaskan tangan eommanya "Eomma, lindungi Kyungsoo dari appa yah...?" pintanya dengan nada memelas.

"MASUK!" Kyungsoo menunduk lagi mendengar nada eommanya yang mulai meninggi. Ia yakin, eommanya akan mendiamkannya sampai ia disidang di depan appanya dan setelah itu eommanya akan ceramah panjang lebar. Kyungsoo harus siap diesekkusi malam ini.

Kyungsoo berjalan mendahului eommanya, berjalan menuju mobil eomma nya.

Yixing mendengus kesal, ia memang harus extra sabar menghadapi Kyungsoo yang terlahir lebih aktif dari Jongin dan Jongdae.

Yixing melangkahkan kakinya hendak menyusul Kyungsoo yang kini sudah berdiri di samping mobilnya, namun baru beberapa langkah, langkahnya harus berhenti ketika seseorang memanggilnya.

"Nona besar Kim Joonmyeon?" suara itu menyapa pendengarannya.

Yixing mengalihakan pandangannya ke arah pria yang berjalan dari restaurant tempat ia duduk tadi.

"Kau benar Zhang Yixing?"

Mata Yixing membulat mendapati pria bertubuh tinggi itu berdiri tak jauh darinya dan memasang senyum wibawanya untuk menyapa wanita yang telah lama tak ditemuinya.

Pria ini? Benarkah dia? Ah, kenapa? Kenapa dia disini? Tidak, kenapa dia hadir dalam kehidupan kami sekarang? Mungkinkah untuk mengambil semua kebahagian yang kumiliki sekarang? Mungkinkah dia dendam?

.

.

.

TeBeCe

.

.

.

:::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::

KyungIn : gak ada crackpair, *TebarBanerOTP

Kaisooexo : I LOVE YOU toooo... makasih sudah baca n sudah suka sama ff nya hehee, hukuman Kyung nya ditunggu chap depan yah..

Noname : Kaisoo emang selalu sweet momentnya hehehe,

Kadi : aku juga hausss kasih kasayang eh(?) kaiisssooo mkasudnya.. udah next yah..

Kyungsooism :makasih sudah baca dan mampir...

Kim Jong Soo 124 : emang yah si kkamjong main caplok-caplok aja hahah... Chenmin moment full chap depan yah... sudah fast update kan?

Kyung1225 : sudah kejawab yah di chap ini bagaimana perasaan Jongin ke Kyungsoo-nya hehe...

Jang Ha Na : jangan gila dong... rsj penuh (?) hehehe... sudah up yah chap 4 nya... iyah alurnya manis, sama kaya aeri.. hihihihi eh, Kaisoo deh yang manis...

HawaAF : ditunggu aja yah moment kaisooo nya... pasti banyak kok hehehe

Hnana : emang, crackpair bikin gegana (?) perjuangan yixingnya di chap berikutnya yah... masih panjang kok.. hehe masih banyak cerita manis yang tersimpan... semangat juga yah bacanya, thanks sudah mampir...

Kpopyehetina : iyah jongin udah makin berani ngemodus hahaha

Lovesoo :huuweeee aerii juga mauu digituin Jongin eh disembuhin lukanya maksudnya..hehehe

Gg0098: iyah kyungie lucu kaya aerii gitu hahaha *avaikan

Sekyungbin13 : udah dijelasin yah chap sebelumnya, chan Cuma mau dekat ma baekhyun lewat kyungsoo, jahat yah (?) hehehe

Kkoch11 : iyah Jongi mah suka gitu...

Kaisoonim : udah anjut yah...

Kimra14 : udah fast update yah.. hehehe

FarydahKAISOO8812 : udah update yah... clue nya cari di ceritanya aja yah hehehe... gak seru kalo tebak-tebakannya main hadiah hahaha... clue nya em.. Jongin pada Kyungsoo, Kyungsoo pada Jongin, dah ah gitu aja.. hehhe

naeNana : ayoo semangat cari rahasia kluarga Kim nya ? kandung atau bukan yah? Hehehe.. aerii kagak jahat kok, pasti mereka hidup tenang dan damai... udah update yah..

.

.

.

Nah loh, itu siapa yang ketemu sama Yixing?

.

ChenMin momentnya chap depan yah...

.

.

.

Banyak Review fast update... yaksuk!

.

XOXO

==aerii==