Haruno Is A Girl?

Naruto Masashi Kishimoto

Haruno Is A Girl? Shinju Yoichi

Warning

Mengandung bahasa campur aduk, cerita ini hanya karangan belaka. Kesamaan apapun adalah ketidaksengajaan.

Karena saya bukan orang kedokteran, jadi ini cuma seadanya aja. Harap dimaklumi. Kadang kusendiri bingung maksudnya apa.

Chapter 4

Berkat saran Kyuubi, Sakura memakai wig hitam ketika bekerja. Saat melewati kaca menggunakan wig itu Sakura mengingat perkataan Kyuubi.

"Jidat lu yang lebar itu malah makin keliatan kalo ditata pake gaya penggila jahsin itu. Mending pake wig aja, gue ada nih."

"Sialan, gue jadi kesel. Kagak usah bilang jidat gue lebar juga kali." Gumamnya. Ini hari pertama bekerja, Sakura mempersiapkan diri pergi ke kantor. Kemeja biru muda, jas biru tua, dan celana hitam. Sakura tidak punya dan tidak bisa memakai dasi, jadi dia berpikir sebaiknya tidak usah pakai. Tak lupa juga ia memakai sepatu milik Kyuubi yang sudah ia semir sampai mengkilat. Ia kembali merapikan letak wig nya agar tidak mudah lepas.

"Gue emang keren." Katanya sambil berkaca dan berpose ala model majalah.

Sakura duduk di meja kerjanya yang ada di ruangan sebelah kantor Sasuke. Baru saja ia duduk, Sasuke berdiri di depan mejanya.

"Ada yang bisa dibantu...ngg...Direktur?" Sakura belum menentukan panggilan untuk atasannya itu.

"Siapa kamu?" Katanya. Sakura kaget.

"Lah? Baru juga ketemu kemaren."

"Saya Sekretaris anda yang baru. Haruno Saku—Haruno Saku." Hampir saja Sakura menyebutkan nama aslinya. Sasuke memasang wajah curiga, hanya sesaat. Kemudian dia membuka suara.

"Rambutmu, kemarin kan warna pink." Sakura mengedipkan matanya beberapa kali. "Astaga, emang gue cuma bisa dikenali lewat warna rambut?"

"Saya pikir rambut saya kemarin kurang cocok untuk bekerja."

"Baguslah kalau sadar." Kata Sasuke. Sakura menunjukkan perempatan siku-siku di dahinya. Tiba tiba Sasuke menyodorkan kertas kecil ke arahnya "Tulis."

Sakura pun melihat kertasnya. "Kosong" Batinnya Ia pun mengambil pulpen dan bersiap menulis. "Apa yang harus saya tulis?"

"Nomor." Sasuke menjawab dengan irit.

"Nomor apa bego! Kalo ngomong yang jelas, kaga pake pulsa juga! Nomor rumah? Hp? Pakaian? Bh? Eh... kayaknya yang terakhir gak mungkin sih."

Sakura hanya diam melihat Sasuke.

"Hp." jawabnya lagi.

"Ah." Sakura pun menuliskan nomornya dan menyerahkannya ke Sasuke. "Untuk apa?" Sasuke tidak menjawab dan berlalu ke ruangannya.

"Lah, kampret nih orang." Gerutu Sakura.

Sakura menyesal menulis nomornya untuk Sasuke. Di hari pertama bekerja, ia terus di suruh melakukan ini itu. Dari yang penting, gak penting, sampe gak jelas buat apa dikerjain. Sasuke terus meneror nya dengan telpon dan sms.

"Cek lagi dokumen yang ada di mejamu."

"Buatkan kopi."

"Lihat ada berapa dokumen di mejamu."

"Carikan bunga untuk ruanganku."

"Hitung mobil di parkiran perusahaan."

Sakura dengan sangat sabar melakukan yang disuruh atasannya itu. Kecuali untuk menghitung mobil di parkiran. Sakura asal menjawab dengan yakin. Tapi Sasuke bertanya ke satpam yang menjaga pintu masuk parkiran dan bertanya jumlah mobil yang ada. Jadilah Sakura menghitung sendiri mobil yang ada, belum lagi saat ada yang keluar masuk. Saat melapor Sasuke hanya menjawab "Oh." Saja. Itu membuat Sakura membanting pintu ruangan Sasuke.

Sakura melihat jam di hp nya. Sebentar lagi waktunya pulang dan dia belum mengerjakan pekerjaan apapun.

BWAHAHAHAHA

Mahasiswa Abadi

Sakura membuka sms dari Kyuubi.

'Enak jadi pekerja kantoran?'

'Enak pala lo! Gue mau gila kerja disini!' Balas Sakura

Tiba-tiba hp nya bergetar. Ada panggilan masuk dari Sasuke.

Uchiha cebol is calling..

Jangan salah paham. Dia menamai itu bukan karena Sasuke pendek. Karena kontak Itachi di hp nya Kakak Uchiha dia berpikir memberi nama Sasuke Adek Uchiha tapi karena ia kesal dengan Sasuke jadi diganti Uchiha cebol. Tapi memang tingginya tidak jauh beda dengan Sakura.

KLIK

"..." Sakura hanya diam. Di hari pertama bekerja, Sakura sudah capek dengan Sasuke. Ia tidak bisa membayangkan kalau datang sebagai psikiater pribadinya.

"Datang ke ruanganku." Setelah itu Sasuke memutus panggilan.

Hanya seperti itu. Menelpon, memberi perintah, membuat kesal, dan menelpon lagi.

Sakura pun masuk ke dalam ruangan Sasuke, bahkan tanpa mengetuk sama sekali. Tapi sepertinya Sasuke tidak keberatan setelah melihat wajah jengkel Sakura.

"..." Lagi-lagi Sakura hanya diam. Kalau Sasuke irit bicara, Sakura juga bisa.

Sasuke menunjuk tumpukan dokumen yang berantakan di meja tamunya. "Klasifikasikan semua itu."

Sakura melotot "Anjir, banyakan dokumen itu daripada tenaga gue." Baru saja mau protes, Sasuke melanjutkan perkataannya.

"Tidak boleh pulang sebelum selesai." Dan Sasuke pun mengambil tasnya lalu keluar ruangan. Mata Sakura mengikuti Sasuke.

"Lah dia nya pulang? Kamfret bener..." Sakura kembali menatap tumpukan dokumen itu. Ia sempat berpikir untuk protes ke Itachi. Tapi ini bagian dari pekerjaannya, jadi dia harus melakukannya.

Dan begitulah, Haruno Sakura melewati malam menginap di kantor Sasuke bersama dokumennya.

"Aku pulang." Kata Sasuke sambil melepas sepatunya.

"Welcome home!" Teriakan seseorang dari dalam rumah mengejutkannya.

'Gue kan tinggal sendiri, kenapa ada yang jawab?' Batinnya. Dan pemandangan selanjutnya membuat Sasuke ingin menendang orang yang masuk ke rumahnya itu.

"Apa-apaan kamu, Aniki." Sasuke menautkan alisnya. Itachi memakai celemek, berdiri di dekat meja yang penuh makanan sambil membawa spatula.

"Menyambut adikku tersayang." Kata Itachi sambil tersenyum. "Menjijikkan" Sasuke langsung melangkah pergi ke arah kamarnya.

"Setidaknya makan dulu!" Sasuke mengabaikannya dengan menutup pintu kamar.

"Apa sensei baik-baik saja dengan orang yang bertingkah laku begitu ya..."

Di kamar Sasuke mandi dan mengganti bajunya menjadi baju rumahan. Dia menatap hp nya yang tergeletak di kasur.

"Hmph... paling juga dia kabur. Malah bagus, jadi ada alasan buat mecat dia." Sasuke yakin Sakura tidak mengerjakan tugas yang dia suruh. Dokumen itu memang banyak, dan Sasuke sendiri tidak yakin bisa mengklasifikasikannya. Sebenarnya juga tidak penting dokumen itu dikelompokkan atau tidak. Tapi kalau memang bisa itu akan membantu.

Sasuke kaget.

Dia tidak tahu apa yang harus dilakukan.

Saat membuka pintu ruangannya, dia disambut dengan sekretarisnya—sekarang dia mengakuinya—tertidur di sofa dengan jas tergeletak di sandaran sofa. Sasuke berjalan ke arahnya, memperhatikan makhluk yang tertidur itu. Masih memakai kemeja kemarin sekretarisnya itu tertidur dengan posisi telentang, matanya berkantung, dan tidak bergerak sedikitpun.

Sasuke menatap meja di dekat sofa. Dokumen-dokumen tertata rapi sesuai kelompoknya disana. Sasuke berdecak kagum—yang sangat jarang—setelah mengeceknya, hanya semalam sekretarisnya bisa menyelesaikan ini. Sebenarnya yang membuatnya benar-benar kagum adalah sekretarisnya itu tidak kabur bahkan setelah semua tugas yang Sasuke berikan. Sasuke kembali menatap sekretarisnya, kemudian berjalan mendekatinya dan berjongkok di dekat Sakura. Wajah mereka berdekatan.

Sasuke mengakui wajah Sakura cukup cantik. 'Dia ini laki-laki atau perempuan?' Sasuke menatap ke dada Sakura 'Wajahnya seperti perempuan, tapi badannya...' Sasuke kemudian menyadari kalau Sakura masih tidak bergerak.

"Apa dia mati?" Gumam Sasuke.

"Sayangnya saya masih hidup." Sakura menjawab dengan mata tertutup. Sasuke tidak menyangka Sakura tidak tidur.

"Kamu mengerjakan ini sendiri?" Tanya Sasuke. "Kenapa suaranya dekat sekali?" Batin Sakura.

"Apa kelihatannya ada seseorang yang bisa melakukan ini selain saya?" Jawab Sakura masih dengan mata tertutup. Sasuke hanya diam, membuat Sakura perlahan-lahan membuka matanya. Hal pertama yang dia lihat adalah wajah Sasuke yang sangat dekat.

Di dalam drama, biasanya si cowok tersenyum saat si cewek membuka mata. Lalu si cewek akan berteriak, atau memerah, atau panik. Tapi disini, Sasuke tidak tersenyum, dan Sakura tidak berteriak, memerah, maupun panik. Malah dia menatap langsung mata Sasuke.

Bahkan saat Sakura membuka mata, Sasuke tidak beranjak dari tempatnya.

"Sebaiknya kamu cuci muka dan perbaiki penampilanmu." Kata Sasuke tetap dengan wajah datarnya. Sakura pun bangun dari posisi tidurnya, bersamaan dengan Sasuke yang berdiri. Sakura duduk dengan penampilan berantakan. Wig hitamnya mencuat kesana sini, bajunya kusut, dan wajah khas bangun tidur. Sasuke mengacak rambut hitam Sakura sambil mengatakan "Kerja bagus."

Sakura yang masih setengah tidur hanya merespon "Hm.." saja.

Sakura berjalan keluar ruangan Sasuke. Sasuke merasa sedikit khawatir karena Sakura berjalan seperti zombie. Dia pun mengikuti Sakura dari belakang. Sakura berjalan menuju kamar mandi untuk cuci muka, karena mengantuk dia masuk ke dalam toilet laki-laki.

"Hoo... ternyata memang laki-laki." Kata Sasuke dari jauh. Sasuke pun kembali ke ruangannya.

Sementara Sakura, setelah mencuci muka dia menatap ke sekitarnya. Ada seorang laki-laki yang masuk.

"Napa disini ada cowok?" Arwahnya belum kembali sepenuhnya, Sakura hanya diam menatap laki-laki di toilet itu. Saat laki-laki itu hendak menurunkan celananya Sakura langsung melesat keluar dari sana.

'Wanjir, hampir aja gue kehilangan kesucian mata gue.'

Sekembalinya Sakura ke meja kerjanya, dia masih merasa mengantuk. Melirik jam yang masih menunjukkan pukul 06.30 pagi. Ia pun menelungkupkan kepalanya ke meja dan tidur kembali.

Di dalam kantor, Sasuke mengerjakan dokumen-dokumennya lebih cepat dari biasanya berkat Sakura. Jam 9.30 dia sudah selesai, biasanya butuh waktu sampai jam makan siang. Tiba-tiba Sasuke ingat harus mencari model perusahaan. Sebelumnya dia sudah membuat janji dengan sebuah agensi bernama SASA. Sasuke ingin mencari model dengan matanya sendiri. Sasuke pun beranjak dari kursinya. Saat melewati sofa, dia melihat jas Sakura masih tergeletak disana.

"Kurasa dia kubawa saja." Sasuke mengambil jas itu dan pergi ke ruangan Sakura.

Saat sampai, Sasuke melihat Sakura tertidur di mejanya. Dia ragu membangunkan Sakura atau tidak. Tapi akhirnya dia melempar jas ke Sakura. Otomatis Sakura langsung terbangun.

"Ikut aku." Kata Sasuke. Sakura menatap Sasuke.

Sasuke menghela nafas. Dia menarik Sakura agar berdiri. Sakura yang masih agak linglung akhirnya berdiri. Sasuke membantu Sakura memakai jas nya. Kemudian menepuk punggung Sakura.

"Ke mobil." Sakura pun mengikuti Sasuke berjalan ke arah mobilnya.

Di mobil, Sakura baru sadar sepenuhnya.

'Dasar setan. Udah nyuruh gue kerja semaleman, tetep aja disuruh kerja. Sekarang gue malah diseret-seret.' Batin Sakura.

"Kita mau kemana?" Tanya Sakura.

"Mencari model perusahaan." Jawab Sasuke.

'Terus ngapain gue ikut?!' Seolah membaca pikiran Sakura, Sasuke menjawab.

"Karena kamu sekretarisku." Sakura menatap Sasuke aneh. Kemudian memalingkan wajahnya ke luar jendela.

Mereka sampai di agensi yang dituju. Sasuke memakirkan mobilnya dan keluar dari mobil. Sakura juga ikut keluar dari mobil. Saat di pintu masuk, Sakura sempat terdiam.

"Kayaknya gue kenal nih tempat."

"Kenapa?" Tanya Sasuke melihat Sakura terdiam.

"Tidak, hanya merasa sesuatu." Mereka pun berjalan masuk. Sasuke yang sudah pernah bertemu direktur agensi itu melihat sang direktur, Sasuke menghampirinya.

"Haruno-san!" Sakura menoleh, sang direktur juga menoleh. Tapi mata Sasuke tidak menuju ke arahnya.

"Haruno?" Batin Sakura bingung. Begitu mengikuti arah pandang Sasuke, Sakura langsung panas dingin.

"ANJIR, INI KAN AGENSI BAPAK GUE. PANTESAN KAYAK TAHU." Sang direktur yang bernama Haruno Kizashi itu pun berjalan ke arah Sasuke "Hoo... Uchiha-san! Anda datang rupanya." Kemudian direktur itu melihat Sakura. "Lah..."

Untungnya Sakura berjalan belakang Sasuke. Ia pun memberi kode ke ayahnya. Sakura melotot sambil menempelkan telunjuk nya ke mulut. Sasuke kebingungan dengan ekspresi pimpinan agensi itu. "Ada masalah, Haruno-san?"

"Hah? Ohh...Nggh... Gak ada apa-apa kok... hahaha" Kata Kizashi dengan canggung. Sasuke hanya menaikkan alisnya, dia menoleh ke arah Sakura yang langsung berpura-pura sedang sibuk melihat-lihat.

"Ah iya, anda bisa ke ruangan saya duluan. Sebentar lagi saya akan menyusul. Maaf, Uchiha-san." Kata Kizashi sambil menatap Sakura.

"Oh, tidak apa. Dimana ruangannya?" Jawab Sasuke tenang. Kizashi memanggil seorang laki-laki "Tolong tunjukan ruanganku padanya" laki-laki itu sedikit membungkuk "Baik, Direktur. Lewat sini."

Sakura berbisik ke Sasuke."Direktur, saya mau ke kamar kecil sebentar." Sasuke menjawab dengan anggukan. Setelah sasuke tidak terlihat, Kizashi menyeret Sakura ke tempat sepi. Dia menatap Sakura dari atas sampai bawah.

"Ngapain kamu? Cosplay? Uda gak laku jadi dokter?" Tanyanya sambil menahan senyum. Sakura pun menceritakan secara singkat.

"Astaga. Sejak kapan dokter harus segitunya buat ngobatin pasien?"

"Karena aku dokter luar biasa!" Kata Sakura sombong.

"Halah, luar biasa apanya. Paling juga gara-gara kamu dibayar banyak." Sakura diam. "Bwahahaha! Bener kan? Bagus deh kalo gitu, banyak-banyakin aja kerjaan kayak gini biar cepet kaya!" Kata Kizashi sambil tertawa. Sakura melotot ke ayahnya.

"Ehem, yaudah. Sana kamu balik duluan." Sakura pun pergi.

"Oh iya, Sasori tau gak ya? Biar aja lah..." Kizashi pun berjalan santai ke ruangannya sambil bersiul.

Setelah sedikit berbincang, Sasuke dan Sakura pun berkeliling agensi ditemani Kizashi untuk memilih model perusahaan. Sakura sedikit tegang, dia menundukkan kepalanya. Takut ada yang mengenalinya. Teringat perbincangan mereka tadi sudah membuat Sakura keringat dingin.

"Omong-omong, Haruno-san. Apa anda punya hubungan dengan sekretaris saya? Nama belakang kalian sama." Tanya Sasuke

Kizashi tersenyum lebar "Kurasa tidak. Aku punya seorang anak perempuan yang merepotkan. Tapi aku tidak punya anak laki-laki yang manis sepertinya." Sakura tidak tahu ingin menyumpal mulut atau menginjak kaki ayahnya. Akhirnya Sakura hanya tersenyum saja. Dia tidak tahu harus berterima kasih atau tidak saat seorang laki-laki dibilang manis.

Mereka pun berjalan melewati beberapa model. Semua model wanita menatap Sasuke dengan terpana, tapi dia hanya berlalu dan mengabaikan mereka semua.

'Katanya phobia cewek? Kok biasa aja? Mungkin sebenarnya dia cuma gak suka cewek? Berarti maho dong?' Batin Sakura menganalisis.

Mereka berjalan santai, sampai mata Sakura menatap rambut merah di ujung sana.

"Mati gue. Napa itu orang ada disini. Kenapa harus sekarang?!" Ekspresi Sakura langsung berubah horor. Kizashi yang melihat itu mengikuti pandangan Sakura, dia melihat Sasori dan menyerigai.

"Sasori! Kesini!" Panggil Kizashi. Sasuke menoleh ke arah Sasori.

"Bangsat, malah dipanggil" Sakura panik melihat Sasori mendekat. Ia hendak kabur, tapi terlambat. Sasori sudah sampai di depan mereka.

"Ada apa?" Tanya Sasori. Kizashi memegang bahu Sasori dan menghadap Sasuke. "Kenalkan, ini anakku Sasori. Sasori ini Uchiha Sasuke dan sekretarisnya."

"Halo" Kata Sasori sambil menjabat tangan Sasuke, yang dibalas anggukannya. Saat mau menjabat tangan Sakura dia memiringkan kepalanya.

"Sa—" Sakura cepat-cepat menjabat tangan Sasori dengan erat. "SALAM KENAL JUGA!" Sasori hampir merintih kesakitan. Dia menoleh ke ayahnya, mendapati ayahnya tersenyum jahil, Sasori ikut tersenyum.

"Salam kenal juga." Walaupun tidak mengerti situasi, Sasori paham kalau adiknya dalam posisi lucu. Sakura pun melepaskan tangannya. Sasori pun bergabung dengan mereka dalam tour mencari model.

Tanpa sadar Sasuke berjalan di depan sambil melihat-lihat. Sementara tiga orang di belakangnya sibuk bisik-bisik, saling menginjak kaki, memaki, dan cekikikan. Sasori terus menggoda tampilan Sakura, didukung dengan ayahnya. Saat mereka sibuk, seorang model wanita mendekati Sasuke.

"Hai, Ganteng." Sapanya. Sasuke mengabaikannya dengan berjalan lebih cepat. Meninggalkan tiga orang dibelakangnya. Model itu tidak menyerah, ia mengikuti Sasuke.

"Namaku Karin. Kamu?" Sasuke tetap diam. Merasa diabaikan, model itu menarik lengan Sasuke "Hei!" panggilnya. Sasuke merasa mulutnya mulai kering. Sakura yang melihat kejadian itu, langsung menyuruh dua orang lainnya diam.

Mendadak Sasuke merasa nafasnya semakin berat. "Lepas." Katanya.

"Beritahu dulu namamu~"

Sasuke mulai gemetar, jantungnya berdetak cepat. Lututnya terasa lemas, sampai dia jatuh berlutut ke lantai sambil menutup mulutnya karena mual. Karin yang kaget melihat hal itu malah semakin menyentuh Sasuke, yang membuat Sasuke semakin panik.

"Hei, Kamu baik-baik saja?" Sakura yang tadi tertinggal langsung berlari ke arah Sasuke.

"Minggir!" Sakura langsung mendorong Karin pergi. Ia berjongkok di depan Sasuke.

"Hei!" Karin yang tidak terima baru saja akan mendekati Sakura, namun ditahan oleh Sasori dan diseret pergi. Sasuke masih berlutut di lantai.

"Dia baik-baik saja? Kenapa tiba-tiba begini?" Tanya Kizashi Khawatir. Sakura memang cerita kalau Sasuke adalah pasiennya. Tapi dia tidak bilang apa-apa tentang penyakit Sasuke. Itu sebuah privasi.

Untungnya lorong sedang sepi, jadi tidak ada yang melihat keadaan Sasuke yang seperti ini. Sakura memberi ayahnya isyarat untuk pergi. Kizashipun mengangguk dan pergi.

"Direktur! Anda bisa dengar saya?!" Sasuke tidak menjawab. Nafasnya masih tersenggal-senggal, juga masih menutup mulutnya.

Sakura memegang kedua bahu Sasuke "Tenang... Tarik nafas...Tidak apa-apa...Semua baik-baik saja..." Kata Sakura menenangkan Sasuke. Sakura juga mengelus-ngelus tengkuk Sasuke.

Sasuke mulai tenang. Dia sudah tidak gemetar maupun mual. Tapi nafasnya masih terdengar berat, dan dia masih berlutut. Setelah beberapa menit, Sasuke berdiri dibantu Sakura. Mereka menuju ke mobil.

Sakura merebut kunci mobil dari saku Sasuke. Sakura juga melonggarkan dasi Sasuke dan menyuruhnya melepas jasnya, kemudian membantu Sasuke berbaring di kursi belakang. Sasuke hanya menurut saja. Dia menutup wajahnya dengan jas sambil berbaring, masih ada sisa-sisa kepanikan di wajahnya. Sakura masuk ke kursi supir dan menyalakan mesin mobil. Baru kemudian Sakura bertanya.

"Anda mau kemana?" Tanya Sakura.

"Kembali ke kantor." Jawab Sasuke dari balik jas. Sakura pun mengarahkan mobilnya ke kantor.

'Sekarang gue tahu kalo si cebol ini bereaksi waktu disentuh cewek, malah dia bereaksi walaupun yang disentuh bajunya. Tapi dia gak ada masalah waktu ngeliat cewek.' Batin Sakura.

Saat lampu merah, Sakura melihat Sasuke yang berbaring lewat spion.

"Tapi sebenernya dia tuh gay apa enggak ya?" Gumam Sakura tanpa didengar Sasuke.

Bersambung

A/N : Yeyy! Uda panjang kan? Lumayanlah. Banyak yang mau Author curhatin, tapi mendadak lupa :v Buat yang mau ngebayangin Kyuubi manusia, Author juga gak tau gimana. Yang jelas dia manis, tsundere, ganteng, dan berambut merah ke-oren2 an :v sisanya bayangin sendiri. Disini juga Author pake bahasa sak karepku jadi... gitu deh. Susah kali mikirin sasusaku momentnya, cause Author gak pernah ngerasain :v Tapi entah kenapa, waktu nulis ikut nge-feel sendiri. And Author bukan spesialis humor. Kadang baca fic sendiri aja gak ketawa... jadi kalo humornya tidak sesuai selera kalian yah...gitulah. Silahkan merepiuw \(-.-)/ omong-omong, fic lagi sepi yah?

Makasih buat yang uda ngerepiuw... khusus edisi panjang, Author lagi pengen balesin satu-satu.

Laifa : Makasih loh :3 padahal itu adegan lewat aja.

DaunIlalangKuning : Thank you :v love you too.

JennebiJane : Bacanya dieja satu-satu? :v Kasian... Kupersembahkan untukmu agar tak usah baca pelan-pelan lagi.

dewisetyawati411 : Astaga... Sungguh me-ngakak kan sekali review mu, Nak.

Jeyhwasukasasu23 : Waktu bikin sasusaku moment itu gimana gitu...Dan soal ringtone, ya ampun mendadak Author malu sendiri.

Asiyahfirdausi : Makasih cah :3

risnusaki : Iya beb :v sudah kupanjangkan.

hanazono yuri : hmm... Gimana ya... Anggap aja itu my style lah...

Kenma Plisetsky : Yah, temen Author juga ngekritik rambut Sakura. Author baru inget kalo jidat si Sakura lebar, wkwkwk...

fujiwaraa : Entah kenapa itu yang terlintas di otak...