Title: Letter
Genre: Romance. Humor(?).
Rate: T
Cast: TVXQ's member: Kim Jaejoong, Jung Yunho, Kim Junsu, Shim Changmin, Park Yoochun; Yamashita; and other.
Disclaimer: Saya cuma pinjam nama. Yunho milik Jaejoong dan Jaejoong milik Yunho. Plot is mine.
Pairing: Of course Yunjae.
School life romance.
Warning: AU. OOC. GS for uke. Typo. Italic and underlined for flashback.
.
[Letter]
.
[Previous chap]
"Aku tau orangnya. Tadi aku melihat wajahnya. Yoochun. Park Yoochun kan orang yang kau temui tadi?" sahut Changmin tiba-tiba.
Jaejoong kembali menatap Yunho, menunggu konfirmasi dari namja itu.
Setelah menatap satu per satu Jaejoong, Junsu, dan juga Changmin, Yunho menghela napas sebelum akhirnya berujar "Ya, benar. Yoochun."
.
Yunho segera menarik lengan namja tiang itu ke taman belakang sekolah, meninggalkan Jaejoong dan Junsu dengan keterkejutan mereka.
"Ouch, nii-chan.. tanganku sakit." Keluh Changmin sedikit (sangat) lebay.
"Berisik. Kau.. benar-benar ya!"
"Apa?!"
"Aish.."
Yunho menghempaskan lengan Changmin kasar.
"Kau.. kenapa malah menambah kebohonganku, hah?"
"Aku hanya membantumu, nii-chan.." jawab Changmin dengan mata berkedip sok polos.
"Membantu apa? Dan.. apa maksudmu memasang tampang menjijikkan begitu? Benar-benar.. kau justru membuat semuanya berbelit-belit, tau. Huh.."
Yunho memijit-mijit pelipisnya karena tiba-tiba pusing menyerang.
"Ketika pertama kali kau memutuskan untuk memberikan perhatian kepada Jaejoong dalam bentuk surat dan merahasiakan identitasmu, seharusnya kau tau kejadian seperti ini akan menjadi resikonya."
"Tapi seandainya kau tak ikut campur, masalahnya tak akan serumit ini."
"Tentu saja aku harus ikut campur. Jaejoong itu teman yang sudah kuanggap seperti kakak sendiri. Berurusan dengannya, sama saja dengan berurusan denganku."
"Ow.. manis sekali kata-katamu. Kalau begitu kenapa kau tega membohongi orang yang kau anggap seperti kakakmu sendiri, huh?"
Satu alis Changmin terangkat. Pandangannya berubah sinis. Dengan angkuh ia lipat kedua tangannya di depan dada kemudian menipiskan jarak antara dirinya dengan Yunho.
"Sepertinya pertanyaan itu lebih cocok ditujukan padamu, senpai. Kau.. kenapa tega sekali membohongi orang yang kau sukai, hmm?" tanyanya sarkastik.
Kata-kata Changmin membuat Yunho diam. Anak itu benar. Ia sudah membohongi Jaejoong, orang yang disukai- ani, dicintainya. Tapi.. memang itulah yang harus dilakukannya. Ia tidak mungkin membuka identitasnya.
Namja bermata musang itu tertunduk lesu, "Mungkin ini terdengar seperti sebuah pembelaan. Tapi.. aku benar-benar tak bisa mengatakannya. Aku takut dia membenciku kalau tau akulah yang selalu mengirimkan surat padanya."
"Membencimu? Tidak mungkin. Jaejoong menyukaimu juga."
"Menyukaiku? Justru itu yang tidak mungkin. Kau tak ingat? Ketika semua teman sekelasku tau tentang aku yang menggendongnya, dia terlihat tidak suka sampai menutupi kepalanya dengan jaketnya."
"Bodoh. Itu karena dia malu dan tak ingin wajahnya yang merah terlihat."
"Kau yang bodoh. Jelas-jelas wajahnya terlihat kesal."
"Yeah.. aku yang bodoh, terlalu lama bicara dengan orang bodoh sepertimu. Sudah ah, aku mau masuk kelas. Bye."
"Eits.." Yunho menarik bahu Changmin yang sudah melewatinya, "Mau kabur, eoh? Enak saja! Ikut aku dan jelaskan pada Jaejoong bahwa park culun itu hanya kebohongan yang kau buat."
"Hush hush.." Changmin menyingkirkan tangan Yunho dari bahunya seperti mengusir sesuatu yang menjijikkan, membuat Yunho memutar bola matanya malas.
"Jangan seenaknya mengganti nama orang. Namanya Park Yoochun, bukan park culun. Lagipula, aku tak ingin lagi berurusan dengan surat-surat itu. Kau kan yang minta padaku untuk tidak ikut campur?"
"Ta—"
"Wah.. wah.. ada ribut-ribut apa di sini? Changminnie, kenapa tak masuk kelas? Bel masuk sudah berbunyi lho. Jangan bilang kau mau membolos seperti yang biasa kau lakukan saat di Korea."
Changmin menoleh, kemudian segera berlari menuju asal suara, dengan mendramatisir cara berlarinya hingga terlihat seperti adegan di film India, kemudian memeluk pemilik suara itu, "Jidat nii-chan~~ kau datang di saat yang tepat."
Dengan cepat Yoochun melepas pelukan maut Changmin, "Hei, tak bisakah kau memanggilku dengan sebutan lain? Setidaknya untuk di sini. 'Jidat' benar-benar tidak keren."
"Tapi itu panggilan sayangku padamu, nii-chan."
"Huh? Mana ada panggilan sayang berbentuk hinaan begitu?"
"Tapi ka—"
"Ekhem!"
Yunho berdehem keras. Membuat dua orang yang sempat sibuk dengan dunia mereka sendiri segera mengalihkan perhatian padanya.
"Oh. Gomen ne, senpai. Aku melupakanmu. Kenalkan, ini Park Yoochun."
"Hmm, jadi ini orangnya." Yunho melirik Yoochun seraya menaikkan satu alisnya, kemudian memasang pose sedang menganalisa layaknya seorang detektif, "Selain namamu asing di telingaku, wajahmu juga. Kau siswa sini? Tapi kenapa aku tak pernah melihatmu ya? Ah, jangan-jangan kau anak bandel yang sering bolos sekolah ya, karena itu aku tak pernah melihatmu?"
"Wah.. wah.. kata-katamu terbilang kurang sopan pada orang yang baru kau temui ini. Wajar kalau kau tak kenal aku, aku siswa baru di sini."
"Baru saja pindah hari ini.." sahut Changmin menambahkan.
"Nani?! Siswa baru?" Yunho segera menatap Changmin horror, "La.. lalu, ke.. kenapa kau memakai namanya untuk kebohonganmu itu? Tidak mungkin kan Yoochun yang baru saja pindah kesini memberikan Jaejoong surat selama lebih dari setahun ini?"
"Memang tidak mungkin."
"Lalu kenapa?"
"Aku sengaja. Bagaimana? Ini menarik kan? Aku penasaran apa yang akan terjadi nanti." Ujar Changmin diakhiri tawa evil.
.
~yunjae~
.
Jaejoong tak memperhatikan Onizuka sensei yang sedang menerangkan pelajaran di depan kelas, matanya fokus pada jam di dinding kelas yang ia rasa jarumnya bergerak sangat lambat.
'Ayolah. Kenapa bel pulang lama sekali?'
Ia kemudian melirik Yunho yang terlihat serius memperhatikan Onizuka sensei. Orang itu masih berhutang penjelasan padanya perihal Yoochun.. surat-surat itu.. semuanya.
'Hhh.. padahal akan sangat menyenangkan kalau Yunho yang mengirim surat itu... Aah, kau terlalu berkhayal, Kim Jaejoong.'
TEEET
Bel pulang sekolah yang Jaejoong tunggu-tunggu akhirnya berbunyi. Segera ia menghampiri tempat duduk Yunho setelah melihat Onizuka sensei keluar dari kelas.
"Yunho.."
"Huwaaa." Terkejut, Yunho menjatuhkan tempat pensil yang hendak dimasukkannya ke dalam tas jatuh hingga isinya berhamburan, "Kau mengagetkanku, tau."
"Ma.. maaf.. maaf." Jaejoong membantu Yunho membereskan alat tulis yang berantakan.
"Ada apa?"
"Aku ingin kau menjelaskan tentang Yoochun." Jaejoong mengutarakan niatnya seraya menyerahkan alat-alat tulis Yunho yang baru saja ia bereskan.
DEG
Yunho membeku. Sedari tadi ia memikirkan soal ini tapi belum mendapat jawabannya. Haruskah kebohongan lagi yang ia katakan? Bergantian ia menatap Jaejoong yang masih memandanginya penuh harap, Junsu, kemudian Changmin yang entah sejak kapan berada di sana.
"Wah.. gawat. Aku harus segera pulang, ada urusan mendadak." Ujarnya seraya mengambil alat tulisnya dari tangan Jaejoong dengan cepat, "Lain kali akan kujelaskan. Gomen, ne. Daaah.."
Yunho pun meninggalkan Jaejoong, Junsu, dan Changmin secepat angin.
.
~yunjae~
.
Sudah masuk bulan Desember. Berhati-hatilah pada cuaca dingin ^^
Usai membacanya, Jaejoong mengambil pensil kemudian menuliskan sesuatu di halaman balik kertas surat tersebut. Setelah selesai, ia menghampiri Yunho yang terlihat serius membaca buku dengan headset menyumbat kedua lubang telinganya.
"Nih.."
Yunho mendongak menatap Jaejoong yang menyerahkan selembar kertas yang dilipat padanya.
"Apa?"
"Berikan ini pada Yoochun.."
Jaejoong menarik tangan Yunho, meletakkan surat itu di atas telapak tangan besar itu, kemudian segera berlalu menuju tempat duduknya karena baru saja ia mendengar bel masuk berbunyi.
Selama dua hari ini Yunho terkesan menghindarinya. Dan Jaejoong tau, itu pasti karena Yunho tak mau menceritakan perihal Yoochun dan surat-surat itu. Jadi mungkin membalas surat itulah hal terbaik yang bisa dilakukannya.
.
~yunjae~
.
"Nih.."
Changmin membaca tulisan pada kertas yang baru saja diberikan oleh Yunho.
"Sudah masuk bulan Desember. Berhati-hatilah pada cuaca dingin"
"Hei! Bukan yang itu, tapi di halaman baliknya."
"Hihi.." Changmin tertawa mengejek, "Hai. Hai.. Yoochun... aku ingin bertemu denganmu. Hmm... jadi bagaimana? Kau mau menemuinya?"
"Heh? Maksudmu apa? Jelas-jelas dia ingin bertemu dengan Yoochun kan?"
"Tapi itu karena kau bilang Yoochun lah yang mengirim surat ini."
"Aku belum punya keberanian untuk itu. Jadi tolong pinjamkan Yoochun untukku."
"Meminjamku untuk apa?" tanya sebuah suara yang baru saja bergabung diantara Yunho dan Changmin.
"Oh.. Yoochun. Kau datang di saat yang tepat." Yunho merampas(?) kertas surat yang masih dipegang oleh Changmin dan diserahkan pada Yoochun, "Ini.." ujarnya mengisyaratkan Yoochun untuk membaca surat tersebut.
"Aku—"
Yunho hendak menceritakan soal keterlibatan Yoochun dalam surat-surat yang dikirim oleh Yunho, namun urung karena namja cassanova itu menahannya.
"Changmin sudah menjelaskan semuanya padaku."
"Ah, baguslah.. Jadi ini akan cepat. Mau membantuku?"
"Tentu."
Mata Yunho berbinar, "Terima kasih. Kau baik sekali.. terima kasih banyak." Kemudian ia menjabat tangan Yoochun dan mengayunkannya.
Mendapat tatapan aneh dari Yoochun dan Changmin membuatnya tersadar. Kenapa juga ia jadi seperti namja tiang listrik itu? Lebay dan mendramatisir suasana. Ah, memang. Untuk orang yang dicintai, terkadang seseorang harus rela menurunkan puluhan digit IQ-nya hingga mendekati bodoh.. atau idiot? Entahlah.. yang pasti, satu masalah terselesaikan, meski ia tau akan ada lebih banyak masalah lagi yang muncul.
"Jadi kapan aku bisa menemuinya?"
"Nanti saat jam makan siang saja, jidat nii-chan.."
Yoochun menatap Yunho meminta persetujuannya, dan anggukan kepala didapat.
"Tapi kuingatkan satu hal padamu. Jangan rebut Jaejoong dariku."
"Tenang saja. Aku sudah punya seseorang yang kuincar."
.
~yunjae~
.
Yunho, Changmin, dan Yoochun duduk dengan rapi berhadapan dengan Jaejoong dan Junsu. Keadaan sangat tegang.. boong deng, keadaan biasa saja. Yoochun memancarkan senyum cassanova-nya, aura playboy-nya keluar.
"Ini yang namanya Yoochun? Jidatnya lebar ya? Mengingatkanku pada lapangan sekolah kita yang luas. Hihi.."
"Hush.." Jaejoong menepuk paha Junsu pelan mengingatkan yeoja imut itu akan ucapannya barusan, dan Junsu menghentikan tawanya.
"Halo. Namaku Park Yoochun."
"Kau stalker ya?" tanya Jaejoong polos dan to the point.
Changmin, Yunho, dan Junsu merasa ingin terjun dari atap sekarang juga. Sebenarnya kalau boleh ikutan, Yoochun juga ingin, tapi ia tetap dengan pose 'sok' cool-nya dan senyum cassanova yang masih terpatri di bibirnya.
"Kau to the point sekali ya. Aku suka.. tapi, sebelum aku menjawab pertanyaan itu, sepertinya lebih baik kita saling memperkenalkan diri dulu."
"Maaf.. aku tidak suka basa-basi. Katakan sekarang apa alasanmu mengirimi surat kepadaku!"
"Baiklah. Baiklah. Tapi ini akan sedikit panjang. Dengarkan ya."
Yoochun menghela napas cukup panjang, bersiap memulai ceritanya; yang dipastikan akan penuh dengan kebohongan.
"Aku adalah teman baik Yunho. Sebelum bersekolah di sini, aku sempat tinggal di Amerika—"
"Dia baru pindah ke sini 3 hari lalu, nee-chan. Ingat kan kelas 2B yang saat itu heboh? Itu karena dia, seorang murid pindahan dari Amerika. Iya kan, Yunho senpai?"
Changmin melirik Yunho. Yunho mengangguk saja.
"Yeah.. ketika aku di Amerika, Yunho selalu menceritakan tentang sekolahnya padaku. Ia bercerita bahwa ada seorang perempuan di kelasnya yang jelek, pendek, bodoh, ceroboh, pokoknya semuanya jelek deh. Tidak mungkin aku percaya begitu saja kan? Mana mungkin ada orang dengan banyak nilai minus seperti itu. Karena itu aku minta buktinya dan dia menunjukkan foto-fotomu yang menggambarkan itu semua..."
Mata Jaejoong membulat. Ia kemudian menatap Yunho penuh amarah. Kalau digambarkan dalam komik, sudah ada kobaran api menggelegar yang mengelilinginya. Sedang Yunho yang sudah sesak napas mendengar penjelasan Yoochun barusan, semakin ingin mati melihat tatapan murka dari Jaejoong.
"Jung Yunho!" amarah Jaejoong sudah di ubun-ubun, kentara sekali dari panggilannya yang menggelegar pada objek kemarahannya, "Berani menghinaku di belakang heh?!"
"Kenapa? Tak suka?" Yunho memberanikan diri membalas ucapan Jaejoong.
"Tentu saja. Kau tak sadar apa? Kau kan.."
"Apa?"
"Kau..."
"Apa? Aku kenapa?"
'Kau tampan.. tinggi.. pintar.. aah, kenapa justru pujian yang terpikirkan?' katanya membatin. Mendadak wajah putih bak porselen itu menampakkan rona merahnya.
"Ehem.."
Jaejoong mengangkat kepalanya yang sempat ia tundukkan tadi menghadap Yoochun yang baru saja berdehem.
"Bisa aku lanjutkan ceritaku?"
"Ya.. silakan, tuan Park." Junsu menyahut.
"Terima kasih, manis. Oke, kita kembali ke topik. Setelah melihat foto-fotomu, aku justru tertarik dan ingin mengenal dirimu lebih jauh lagi. Karena itu aku senang sekali ketika akan pindah sekolah kesini. Sayang kita tidak sekelas ya, Jaejoongie.."
"Hmm.." Jaejoong mengangguk paham, "Jadi kau bukan stalker?" tetap, pertanyaan itu terlontar dari cherry lips-nya.
"Tentu saja bukan. Naah, karena aku orang baru di sini, aku ingin sekali mengenal kota ini lebih banyak. Bagaimana kalau akhir pekan ini kita pergi ke festival?"
"Kita? Berdua?" Jaejoong menunjuk dirinya dan Yoochun, dan anggukan didapat sebagai jawabannya.
"Kenapa tidak bersamaku saja? Aku kan teman baikmu, Park Yoochun." Ujar Yunho agak sinis.
"Tapi aku ingin pergi bersama Jaejoong.."
"Kenapa kita tak pergi bersama saja? Junsu, Changmin, kalian mau ikut kan?" Jaejoong mencoba memberi saran.
"Roger." Seru Junsu dan Changmin bersamaan.
.
~yunjae~
.
Festival anime yang lumayan terkenal di Tokyo itu sudah ramai oleh pengunjung meski hari masih siang.
"Ramai sekali. Apalagi nanti malam ya?" ujar Junsu. Ia dan keempat orang lainnya baru saja sampai di sebuah lapangan luas yang menjadi tempat diadakannya festival ini. Mereka berlima berangkat bersama dari rumah Jaejoong.
"Booth mana yang harus kita kunjungi pertama kali?" tanya Yoochun.
"Tentu saja makanaaaan.."
"Hei, tiang. Kau kan baru saja makan di rumahku."
"Tapi aku lapar, nee-chan."
"Baiklah. Lagipula, memang sudah waktunya makan siang.."
Semua menyetujui permintaan Changmin.
Usai menikmati menu makan siang –jangan lupakan Jaejoong, Junsu, Yunho, dan Yoochun yang begidik memandangi Changmin dengan puluhan makanan yang dihabiskannya secara cepat– , mereka berlima melanjutkan berkeliling festival; tetap dengan Changmin yang menggenggam satu cup es krim di tangannya.
Mereka asyik berkeliling. Meski kadang –bahkan sering– Yunho, Yoochun, dan Changmin kesal menunggu Jaejoong dan Junsu yang terlalu lama berhenti pada suatu booth hanya untuk melihat-lihat dan memilih pernak-pernik lucu, meski akhirnya tak jadi membeli dengan alasan 'Mungkin di tempat lain ada yang lebih lucu dan lebih murah.'
Namun terkadang juga Jaejoong dan Junsu kesal pada Yunho, Yoochun, dan Changmin yang berhenti cukup lama hanya untuk melihat gambar berbau 'dewasa'dengan tatapan lapar, hingga duoKim harus menyeret namja-namja yadong itu dengan Junsu menjewer telinga Yoochun dan Changmin; dan Jaejoong menarik kerah belakang kemeja yang dikenakan Yunho.
Menjelang sore, mereka memasuki ruang theater untuk menonton beberapa film animasi pendek; tetap dengan ke-absurd -an mereka. Yoochun yang mencoba mencuri-curi kesempatan dalam gelapnya ruang theater dengan mencoba merangkul Jaejoong, namun tak pernah berhasil karena selalu bisa digagalkan oleh Yunho, hingga akhirnya namja bersuara husky tersebut merangkul Junsu dan Yunho merangkul Changmin(?).
Usai menonton film, mereka berlima keluar dengan tawa masih terukir. Perasaan senang senantiasa menyelimuti mereka, senang dengan alasan masing-masing tentunya.
"Wah, sudah gelap." Seru Junsu.
"Tentu saja, manis. Musim dingin membuat matahari terbenam lebih cepat." Kalian tentu tau siapa yang mengatakan ini.
"Yoochun, ikut aku.. Ada sesuatu yang ingin kukatakan padamu."
Yoochun belum merespon ucapan Yunho, namja bermata musang itu sudah menarik tangannya cepat.
"Ikuuuut.." seru Changmin meninggalkan duoKim.
Jaejoong menatap penuh tanya pada Junsu, namun hanya ditanggapi dengan endikan bahu oleh yeoja imut itu.
.
~yunjae~
.
"Jaejoong!"
Yunho menghentikan larinya. Napasnya masih sedikit memburu. Wajah piasnya menampakkan senyum kala sosok yang dicarinya sedari tadi tampak di hadapan sedang duduk sendiri.
"Yu.. yunho.."
"Kenapa menghilang begitu saja, hah?!"
"Kenapa marah-marah? Kalau tak suka, pulang saja. Tak usah mencariku!"
"Huh. Siapa juga yang mencarimu? Ayo pulang!"
"Tidak mau!"
"Kau keras kepala ya.." Yunho menarik lengan Jaejoong pelan, memintanya untuk berdiri.
"Aaw.."
"Eoh? Apa aku menarikmu terlalu keras?"
"Ti..tidak. Eum.." Jaejoong sedikit menyingkap roknya hingga lutut kanannya terlihat. Luka.
"Aissh.. sudah kubilang kan.. hati-hatilah kalau jalan." Yunho berbalik dan menghadapkan punggung kokohnya pada Jaejoong, "Naiklah.."
"Ma..maaf ya." Kali ini Jaejoong tak keras kepala dan menurut saja. Hari sudah sangat gelap dan dia harus pulang.
Yunho mulai berjalan dengan Jaejoong di punggungnya.
"Setelah kau mengajak Yoochun untuk bicara dan Changmin mengikuti kalian, Junsu pergi ke toilet." Jaejoong mulai bercerita, "Saat sendiri itulah, aku melihat orang berkostum hello kitty, lucu sekali, jadi aku mengikutinya."
"Lalu?"
"Aku mencoba kembali ke tempat sebelumnya tapi meski sudah berkali-kali, aku malah kembali ke tempat aku mengikuti hello kitty itu."
"Masing-masing area kan punya nama. Foodcourt, goodies, theater, dan lainnya. Masa kau tak bisa ingat tempat kita tadi dengan nama-nama itu?"
"Semua tempat terlihat sama..."
"Kau bodoh sih..."
"Ya, aku bodoh. Dan kau jenius. Puas kau?"
"Eits, begitu saja marah."
"Begitu saja? Kau menyebalkan tau. Tak bisakah sekali saja tak menghinaku?"
"Tak bisa.."
"Ish.. sebegitu tak sukanya kau padaku ya?"
"Hmm.." Yunho hanya bergumam, tak berniat menanggapi.
"Ngomong-ngomong, mana Changmin, Junsu, dan Yoochun?"
"Ah, mereka..."
"Hei, Junsu. Mana Jaejoong?"
"Aku tak tau. Tadi aku ke toilet sebentar dan saat kembali, dia tak di sini."
"Heeh? Lalu sekarang kemana dia? Aisshh, kenapa kau meninggalkannya sih?"
"Aku hanya sebentar. Kenapa kau jadi marah padaku, Yunho?"
"Ya. Tak seharusnya kau marah padanya. Kau duluan kan yang meninggalkannya?" Yoochun memandang Yunho tak suka.
"Aku tadi melihatnya." Changmin menimpali, "Di area goodies, sedang duduk sendirian."
Seketika Yunho terpikir kejadian beberapa saat lalu.
"Biarkan saja mereka. Yang terpenting sekarang kau harus segera pulang dan obati lukamu." Yunho menghela napas sejenak, "Kau.. benar-benar tak bisa dibiarkan sendirian ya. Baru ditinggal sebentar saja sudah hilang. Jatuh pula. Luka akibat jatuh Senin lalu saja kuyakin belum benar-benar hilang bekasnya..."
"Ish.. cerewet sekali kau ini. Kalau tak suka, kenapa juga mau menggendongku untuk yang ketiga kalinya? Padahal kau bilang aku berat..."
"Sebenarnya sangat ringan.. kau kurus sekali. Hingga aku berpikir, apa kau tak pernah makan?"
"Tentu saja aku makan, bodooooh.."
Yunho mengernyitkan alis. Suara Jaejoong terdengar aneh. Namja tampan itu kemudian melirik ke belakang... dan pemandangan damai Jaejoong tampak. Yeoja itu tertidur.
"Lagi-lagi aku melihat wajah tidurmu.."
Yunho menepi ke sisi jalan, kemudian kembali melirik Jaejoong di punggungnya yang menumpukan dagunya pada bahu kekar itu dengan mata terpejam.
"Hei, Kim Jaejoong.. tadi kau bilang apa? Sebegitu tidak sukanya aku padamu?" Yunho mengulas senyum tampan(?)nya, "Bodoh. Justru aku sangat sangat menyukaimu."
Chu~
Lagi, Yunho mencuri ciuman dalam keterlelapan Jaejoong.
TBC
a/n: anneyoong... saya dateng bersama chapter 4 yang tak kalah gajenya. Udah lama, pendek lagi. Haha.. chap ini terinspirasi dari perayaan HelloFest yang baru saja diadakan tanggal 22 dan 23 November kemarin. Hari Sabtu saya datang ke sana looh (gak ada yang nanya). Readers adakah yang dateng ke sana?
Ah iya, buat yang Yunho merangkul Changmin itu.. asli saya gak maksud membelok ke HoMin couple. Saya masih cinta YunJae kok *angkat_kutang_Jaemma_dan_kolor_Yunppa
Oke deh, segitu aja cuap-cuapnya.
Balasan review:
littlecupcake noona: ho'oh.. kasian ya om jidat sama tante susu, wkwkwk.. gomawo ne reviewnya^^
birin. rin: kalo kesel, tonjok aja yunppa nya, hehe.. gomawo reviewnya^^
ruixi1: iya nih. Emang tuh dasar yunppa, tukang ngeles, wkwkwk.. gomawo ne reviewnya^^
azahra88: kalo langsung ngaku yaa tamatlah ff ini, hehe.. sip ini lanjut. Gomawo ne reviewnya^^
miu. sara: yunho pinter kook. Pan dia jadi siswa teladan di sini :3 Cuma otaknya agak geser aja, haha.. gomawo ne reviewnya^^
RaiAs: mikirnya yg iya-iya mulu nih.. rate nya T lho -_- gomawo reviewnya^^
Guest: makasih udah dibilang bagus dan makasih reviewnya^^
Lawliet Jung: iya, kasian om jidat, pengen eksis di ff ini juga XD gomawo ne reviewnya^^
