Hope you like this fiction :)


Butuh lebih dari seminggu sampai Sehun benar-benar mau keluar dari villa dan menikmati udara segar di luar ruangan. Jongin baru memperbolehkan Sehun berkeliling di sekitar villa saja.

Saat itu Baekhyun sudah mengirimkan tiga pelayan ke villanya. Begitu Jongin protes, Baekhyun bilang kalau Chanyeol memberikan satu pelayan untuk Sehun, bukan Jongin. Jongin bisa apa kan? Karena ternyata pelayan-pelayan yang dikirim Baekhyun sangat membantu. Jongin lupa kapan terakhir kali dia tidak perlu melakukan apa pun lagi selain makan dan tidur. Kalau dia sendiri akan menjadi lebih mudah untuk pergi ke desa dan membeli beberapa bahan makanan, tapi sekarang ada Sehun. Jongin tidak bisa meninggalkan Sehun hanya untuk membeli makanan. Walaupun Baekhyun membawakan banyak kebutuhan mereka seperti roti, susu, sayuran dan buah-buahan, Jongin tidak mau lagi bergantung pada Baekhyun lebih dari yang sudah dia lakukan. Baekhyun sudah membelikannya banyak instrument untuk memeriksa Sehun dan juga tiga orang pelayan yang membantunya. Jongin tidak mau menerima lebih banyak atau berharap Baekhyun memberikannya lebih banyak lagi.

Tiga orang pelayan yang dibawa Baekhyun, satu laki-laki dan dua perempuan berada di umur yang tidak terlalu muda tapi juga tidak terlalu tua. Yang laki-laki bernama Arta, terlihat lebih tenang dari yang lainnya. Sedangkan yang perempuan merupakan perempuan kembar bernama Ayami dan Ayomi. Keduanya termasuk orang yang sangat ceria, Sehun kadang suka berjengit karena mereka berbicara dengan nada yang tinggi. Chanyeol dan Bekhyun sengaja mengambil orang Jepang untuk menghindari sesuatu yang buruk kalau ada yang tidak menyukai Jongin. Awalnya Jongin khawatir mereka akan kesulitan berkomunikasi, untungnya pelatihan yang diberikan pada mereka termasuk pelatihan bahasa.

Dengan lebih banyak orang di sekitarnya, Sehun jadi mempunyai keinginan lebih untuk keluar kamar. Baekhyun bilang mereka juga di latih beladiri, jadi Jongin tidak perlu khawatir kalau ada sesuatu yang tidak diinginkan terjadi. Terutama Arta, dia sudah memperbaiki hampir sekeliling villa agar tidak ada yang bisa masuk kecuali lewat gerbang depan.


Jongin sedang di perpusatakaan neneknya saat Sehun berkeliling mencarinya, karena ternyata Baekhyun pulang lebih cepat hari ini. Baekhyun akan tinggal selama dua minggu di Jepang untuk menutupi jejak mereka, kalau keadaan terlihat aman barulah dia kembali mengunjungi Sehun dan Jongin.

Jongin bukan tipe orang yang bisa belajar dengan rapih. Di mejanya saat ini terdapat beberapa buku yang terbuka juga lembaran-lembaran kertas yang digunakannya untuk mencatat. Karena bukunya sudah cukup tua, Jongin harus menggunakan sarung tangan untuk membacanya. Jongin tidak ingin merusak buku-buku tersebut.

Saking tuanya buku-buku tersebut, banyak sekali penyakit-penyakit aneh beserta efeknya yang tertulis di buku-buku itu. Membacanya kadang memebuat Jongin mual. Tapi dia tetap membacanya dan memastikan untuk tak melewatkan apa pun.

Saat ini Jongin sedang membaca buku mengenai penyakit seperti kanker, dan penyakit lainnya yang belum banyak didapatkan obat penyembuhnya. Terlalu serius membaca membuatnya lupa waktu. Sampai Sehun mengetuk pintu perpustakaan dan memasukkan sedikit kepalanya.

"Hai Sehun. Dimana Baekhyun?" Terlihat Sehun sedikit tidak nyaman berdiri di depan pintu.

"Dia sudah pulang." Sehun menggigit bibirnya ragu. "Maaf jika menganggu." Katanya pelan. "Karena Baekhyun sudah pulang aku pikir.. apa.. mungkin aku bisa menemuimu." Terdengar sedikit harapan di suaranya yang membuat Jongin merasakan jantungnya berdetak lebih cepat.

"Tentu kau tidak mengangguku Sehun." Jongin menepuk kursi kosong disebelahnya untuk Sehun, "Kau boleh bergabung denganku kapan pun kau mau." Jongin berusaha setenang mungkin. Pikirannya terus berkata, Sehun disini. Memberanikan dirinya keluar kamar untuk menemuiku.

Sehun perlahan masuk dan mengedarkan pandangannya pada meja yang dipenuhi buku-buku tua Jongin. "Kau yakin? Kau terlihat sibuk." Sehun kembali menggigiti bibirnya.

"Sehun, selama kau disini, villa ini juga menjadi rumahmu. Kau boleh kemanapun kapanpun sesukamu," Jongin memberikan senyumnya dan sekali lagi menepuk kursi di sebelahnya, "dan aku tidak terlalu sibuk." Jongin meyakinkan.

Sehun mendekat dan duduk ragu-ragu disamping Jongin. Sehun diam-diam memperhatikan buku yang sedang dibaca Jongin saat dia datang. Terlihat seperti ada perdebatan dalam pikirannya, "Jangan khawatir. Ini bukan untuk membunuh seseorang." Jongin berkata ringan. Sehun mengangguk dan mendekatkan dirinya untuk membaca buku itu lebih jelas. "Ini semacam risetku. Aku berniat membuat obat untuk penyakit-penyakit seperti kanker atau diabetes. Mereka penyakit yang hampir tidak mungkin disembuhkan, setidaknya sampai sekarang." Katanya pelan, kata per kata.

"Kau menemukan obatnya?" Sehun bertanya lembut, jelas sekali Sehun terkesan. Membuat pipi Jongin memanas, karena tujuan Jongin menceritakan pada Sehun bukan untuk membuatnya terkesan.

"Well, aku lebih seperti bertaruh disini. Aku mempelajari banyak dasar mengenai ilmu kesehatan, ramuan, obat dan lain-lain. Aku ingin membuat ramuan yang lebih spesifik untuk satu orang dibandingkan obat umum seperti yang dijual di toko-toko. Kadang ada orang yang tidak membutuhkan senyawa a karena dia hanya butuh senyawa b untuk sembuh. Yang lain butuh senyawa a, b, dan sedikit senyawa c untuk sembuh. Dari situ aku berpikir kalau kita bisa fokus ke kebutuhan orang tersebut juga senyawa apa yang dibutuhkannya, mereka harusnya bisa lebih cepat sembuh." Sehun tersenyum mendengar Jongin yang berbicara dengan semangat, "Tentu saja ini baru teori. Aku kan tidak boleh mempratikannya."

"Jadi apa saja yang kau butuhkan untuk membuat ramuannya?" Sehun bertanya, terdengar tertarik.

Jongin menarik kursinya mendekat dan mengambil kertas catatannya. "Setiap penyakit ada tingkatan dan penyebabnya masing-masing, mental maupun fisikal. Dari situ ada beberapa faktor lagi yang harus ku dapatkan informasinya untuk mengetahui persisnya jumlah ramuan yang dibutuhkan pasien. Sayangnya riset yang kulakukan ini membutuhkan lebih banyak tenaga dan sumber daya lainnya untuk dilakukan, jadi aku belum berani untuk menerapkannya pada pasien sungguhan." Jongin kembali memperhatikan ekspresi Sehun.

"Walau begitu," Sehun memulai, "aku pikir ini ide yang sangat baik, lagi pula kau sudah mendapatkan sangat banyak referensi dan teori hanya dari buku-buku ini. Aku yakin kalau kau mendapatkan sumber informasi yang lain kau bisa menyelesaikan risetmu. Kenapa kau tidak mencoba daftar ke perguruan tinggi? Penemuanmu ini bisa menyelamatkan banyak nyawa." Mata cokelat itu menatap Jongin dan memberikan efek langsung ke jantungnya.

Jongin mengalihkan pandangannya kembali ke catatannya. Dia tahu jawabannya akan lebih menyakitkan ketika diucapkan, "Dunia ini bukan.. tempat untuk anak koruptor Sehun. Kau juga tahu, mereka tidak akan membiarkanku berkuliah, apalagi bekerja, tidak peduli kalau bukan aku yang korupsi." Itulah alasan kenapa dia menjalani 6 tahun hidupnya sendirian. Keluarganya memilih jalan yang salah dan dia menerima hukumannya. Sehun tercekat mendengar alasannya. Tapi Jongin tidak peduli, dia tidak mau membahasnya lagi, "Apa kau mau aku menjelaskan lebih banyak lagi?" Jongin dapat melihat ekspresi lega Sehun ketika menjawab iya dengan suara pelan.

Mereka mendiskusikan banyak hal sampai Sehun benar-benar mengantuk. "Terima kasih sudah mau berbicara denganku seperti berbicara dengan orang yang mengerti dunia pengobatan juga." Sehun berbicara saat Jongin memberinya obat tidur. "Padahal kau tahu aku bodoh masalah pelajaran."

"Aku tidak pernah menganggapmu bodoh Sehun." Sehun tersenyum saat mendengar jawaban Jongin.


Baekhyun baru datang dua minggu setelahnya, dia datang lebih siang dari biasanya, dengan banyak sekali paper bag yang tercetak berbagai merk.

"Habis merampok Baek?" Jongin tidak tergerak sama sekali untuk membantu Baekhyun.

"Hai juga Jongin." Baekhyun tersenyum malas sambil menyimpan semua paper bag yang dibawanya.

"Hai Baek. Jadi kau habis merampok?" Jongin kembali meneruskan membaca bukunya. Sementara Sehun tertawa pelan disebelah Jongin.

Saat ini Sehun sedang membaca novel fiksi yang dipinjamkan Jongin sedangkan Jongin sedang membaca salah satu buku ramuannya. Saat seperti ini mengingatkan Jongin saat masa sekolah dulu. Jongin dan Baekhyun akan berdebat mengenai hal tidak penting dan Jongdae akan tertawa melihat mereka.

"Aku habis belanja Jong. Terima kasih sudah berbaik hati menanyakan sesuatu yang sudah jelas."

"Belanja untuk seluruh desa?" Jongin mengalihkan perhatiannya. "Ini banyak sekali." Tawa Sehun semakin kencang, kalau mereka berdua menyadari mereka sama sekali tidak menunjukkannya.

Baekhyun mendengus, "Tidak seperti seseorang disini," Baekhyun melirik Jongin, "aku peduli pada temanku." Kali ini melirik Sehun. "Aku tidak akan membiarkan temanku memakai baju bekas." Pecah sudah tawa Sehun.

"Oi Baek!" Jongin kesal, "Yang kau bilang baju bekas itu bajuku yang belum pernah ku pakai."

"Apa bedanya?" Baekhyun menjawab sengit.

Jongin mendengus, malas membalas Baekhyun dia pun kembali membaca bukunya.

"Sehun." Baekhyun menyerahkan satu kantung pada Sehun.

"Baek, kau tidak perlu membelikanku sebanyak ini." Sehun berusaha menolak.

"Tenang saja Sehun." Bakehyun duduk di sebelah Sehun, aku menyimpan semua bukti pembayarannya, jadi kau bisa mengambil yang kau suka dan aku akan mengembalikan yang tidak kau sukai." Perkataan Baekhyun ini menarik perhatian Jongin.

"Terima kasih Baek." Sehun berkata sambil mengeluarkan sweater berwarna hijau tua dari dalam paper bag yang diberikan Baekhyun tadi, "Ini bagus sekali."

"Akan lebih bagus kalau kau padukan dengan jeans yang kusimpan disana." Baekhyun menunjuk paper bag lainnya yang tadi disimpan Baekhyun di pojok ruangan, "Bagaimana kalau kau lihat dulu sekarang, biar bisa ku kembalikan kalau kau tidak suka." Sehun mengangguk dan melihat-lihat apa yang dibawakan Baekhyun.

Mata Jongin seperti sensor otomatis yang mengikuti arah pergerakan Sehun. Dia melihat Sehun membuka paper bag berisi jeans, memastikan nomornya sesuai lalu melipatnya lagi. Paper bag kedua berisi sepatu, Jongin selalu lemah kalau melihat sepatu. Enam tahun ini dia berusaha keras bertahan dengan sepatu terakhir yang dibelinya.

Tanpa mengalihkan perhatiannya, Jongin berkata. "Good job Baek."

"I can't thank you enough Jong, he's getting better." Baekhyun berbisik. "Kalau bukan karena usahamu, aku yakin dia masih bersembunyi, tidak tidur, tidak makan." Jongin berbalik dan menggenggam tangan Baekhyun, mengusapnya pelan, "Aku pikir dia tidak akan bisa sembuh." Baekhyun menelan tangisannya. "Terima kasih Jong. Terima kasih banyak."

"Kau yang paling tahu kenapa aku melakukan ini."

Baekhyun mengangguk, melepaskan tangannya dari Jongin, dia berdiri dan mengusap pipi Jongin, "Aku tahu. Itu lah kenapa usahamu berhasil." Baekhyun tersenyum, "Hadiahmu sudah ku simpan di kamarmu." Kata Baekhyun lalu menjauh dari Jongin dan membantu Sehun yang kesusahan menyesuaikan pakaiannya.

Hari itu Jongin memutuskan bahwa dia kembali mempercayai Baekhyun.


Mereka sedang di dapur saat ini.

Jongin, walupun bersyukur atas bantuan para pelayan, tapi dia merindukan memasak. Dia merindukan rasa menyenangkan saat masakannya jadi atau saat mencari tambahan apa yang cocok dengan masakan utamanya. Jadi malam ini, Jongin menawarkan Sehun untuk membuatkannya makan malam. Awalnya para pelayan tidak mau membiarkan Jongin memasak sendiri, tapi mereka lebih tahu untuk tidak menolak permintaan Jongin.

Ayami dan Ayomi berdiri tidak jauh dari tempat Jongin memasak jadi mereka bisa bertindak cepat jika dibutuhkan. "Kami ingin melihat kemampuan Tuan Jongin memasak." Ayami berkata, jelas sekali nada mengejek disana. Sedangkan Sehun hanya duduk di kursi yang sudah di ambilkan Arta untuknya. Sehun tidak terlalu suka bercanda, karena dia takut kelewatan dan Jongin akan marah padanya.

Saat itu Jongin melakukan sesuatu yang bodoh.

Hari itu sebenarnya bukan hari terbaik Jongin. Jongin biasanya bisa menghilangkan bayangan kedua orang tuanya jika muncul agar Sehun tidak melihat kelemahannya. Tapi hari itu ayahnya sudah muncul bahkan sejak Jongin bangun tidur. Kadang ayahnya akan berbicara padanya walaupun lebih sering diam. Tapi keberadan ayahnya sudah cukup untuk membuat Jongin tidak nyaman. Baekhyun bahkan tidak datang sama sekali hari ini. Baekhyun memang sebelumnya pernah bilang agar Sehun tidak terlalu bergantung pada keberadaannya. Jongin bersyukur Baekhyun tidak datang, karena Jongin yakin Baekhyun pasti akan langsung menyadari ada yang salah dengannya.

Sebenarnya ini juga alasan utama dia ingin memasak. Dia butuh pelepasan untuk stressnya. Tapi sekarang setiap dia melihat ke arah manapun, Jongin dapat melihat bayangan putih ayahnya yang berdiri disebelahnya. Ingin rasanya Jongin berteriak, memecahkan sesuatu sampai dia melihat Sehun, duduk di kursinya sambil membaca buku, jadilah Jongin menggigit bagian dalam bibirnya untuk bertahan. Sesekali bayangan ayahnya akan membisikan sesuatu, sesuatu yang pernah dibicarakan ayahnya pada Jongin dulu lalu dia hanya akan berdiri di sebelah Jongin.

Saat sarapan tadi pagi di kamar Sehun, ayahnya membisikkan sesuatu tentang rencananya menghancurkan para pengkhianat yang membuat Jongin hampir saja tersedak tehnya. Siangnya saat mereka sedang di perpustakaan, Ayahnya terus saja membisikan sesuatu padanya sampai Jongin merasa sangat tidak nyaman, "Aku sedikit pusing dan kurang bisa berkonsentrasi, boleh tolong ulangi?" Jongin meminta Sehun mengulangi novel yang sedang dibacanya.

"Kau yakin?" Sehun memandangnya khawatir.

"Iya." Aku ingin mendengarmu berbicara. Sehun meneruskan bacaannya. Dengan begini suara bisikkan ayahnya sedikit tersamar dengan suara Sehun.

"Jadi apa yang kau inginkan untuk makan malam?" Jongin bertanya.

Sehun terlihat berpikir, "Bolehkah aku meminta sesuatu yang dari telur?"

"Aku akan membuatkanmu cloud eggs bagaimana? Walaupun biasanya dimakan saat sarapan, kalau dimakan dengan mashed potato akan terasa seperti makan malam." Jongin menjawab.

"Kau yakin bisa membuatnya sendiri?" Sehun bertanya pelan sedangkan Jongin tertawa untuk menutupi suara ayahnya, kau mengecewakanku Jongin, berteman dengan pengkhianat.

"Aku bisa." Sehun mendekat pada Jongin. Jongin kau tahu keluarganya sudah mengkhianati kita.

"Jadi kau pernah membuat ini sebelumnya?" Sehun bertanya saat Jongin menyiapkan telur dan kentangnya lalu menyalakan ovennya.

Jongin berbalik untuk menjawab pertanyaan Sehun ketika dia melihat bayangan ayahnya terlihat seperti akan mencekik Sehun, "Menjauh darinya!" Jongin mendesis tajam, membuat Sehun yang tadinya sedang memperhatikan bahan yang di persiapkan Jongin menengok.

"Apa?" Sehun terlihat bingung, "Menjauh dari siapa?" Terlihat muka Sehun memucat, "Kau yakin baik-baik saja Jongin? Kau terlihat pucat."

Jongin menjilat bibirnya yang tiba-tiba kering, "Ya, aku minta maaf. Aku pasti lebih lelah daripada yang ku kira." Jongin memijat pelan dahinya.

Sehun lebih mendekat pada Jongin, "Kau tidak perlu memasak malam ini." Sehun berkata pelan, walaupun tidak bisa menyembunyikan nada khawatir di dalamnya.

Jongin tidak suka saat Sehun mengkhawatirkannya, dia tidak suka terlihat lemah di depan Sehun. Jongin mengatur nafasnya agar lebih tenang, walaupun sebenarnya dia takut. Bayang orang tuanya tidak pernah seperti ini. Mereka ingin Jongin bergabung dengan mereka, tapi tidak pernah melukai Jongin. Tapi bayangan itu bukanlah kedua orang tuanya, "Aku suka memasak." Jongin akhirnya berkata, "Dapat membantuku saat sedang stress atau untuk saat ini lelah." Sehun memperhatikan Jongin dengan sangat serius untuk melihat apa yang Jongin katakan benar. Pandangan ini selalu membuat Jongin lemah, jadi dia memilih diam daripada membocorkan rahasianya. Setelah dirasa yakin, Sehun pun kembali duduk di kursinya dan membaca kembali bukunya.

Jongin baru menyelesaikan setengah masakannya saat bayangan ayahnya kembali lagi, memaksa Jongin untuk menembus bayangannya kali ini.

"Kau membutuhkan bantuan?" Sehun bertanya saat ayahnya membisikkan kata-katanya lagi.

"Kalau mau kau bisa mulai menata meja makan." Jongin berusaha keras menyelesaikan kalimatnya, saat ayahnya belum juga berhenti dan ada kentang yang harus ditumbuknya. Untungnya Ayami dengan sangat peka memberikan obat sakit kepala pada Jongin saat Sehun pergi ke ruang makan.

Kau tidak boleh berteman dengan anak pengkhianat Jongin. Ayahnya berbisik ketika Sehun bertanya tempat piringnya. Kenapa kau selalu mengecewakan Ayah Jong?

"Keramik China yang sangat indah Jongin." Sehun membawa dua piring besar di tangannya. Jongin hanya tersenyum menanggapinya.

Kenapa kau tidak bisa membanggakan ayah sekali saja Jongin? Kenapa kau harus mengecewakan ayah dan ibu Jongin? Jongin?

"Jongin.."

Jongin..

"Jongin.. sepertinya telurnya gosong-"

Jongin…

"DIAM!" Jongin menjatuhkan mangkuk yang dipegangnya, "DIAM! DIAM! DIAM!" Jongin melempar semua piring kecil yang ada di hadapannya. Kepalanya sangat sakit sampai dia yakin dia akan mati saat itu juga.

Perlahan saat teriakannya berhenti, oksigen kembali memasuki paru-parunya. Jongin mengerjapkan matanya, ayahnya sudah hilang. Dapur berantakan oleh pecahan piring yang langsung dibereskan saat ini oleh Ayami.

Jongin tercekat karena ditengah dapur, Sehun sedang berlutut, tangan menutupi wajahnya dan kaki yang berlipat. Membuat dirinya sekecil mungkin.

"Oh..fuck.." Jongin berbisik, Jongin langsung berlari menghampiri Sehun dan menjatuhkan dirinya di depan Sehun, tidak peduli kakinya yang sakit terkena pecahan kaca. "Sehun," Jongin memanggil Sehun sambil mengatur nafasnya, mengusap pipi Sehun dengan ibu jarinya, "Sehun, please look at me. Aku minta maaf, aku memang seharusnya.."

"Aku tidak boleh menatap Master. Tidak sampai aku dihukum. Tidak sampai aku mendapatkan pelajaranku." Suaranya terdengar seperti rekaman berulang-ulang.

Saat Sehun memanggilnya Master, Jongin yakin ini salah satu hasil perbuatan Yifan. Jongin menyingkirkan tangan yang menutupi wajah Sehun lalu mendekatkan wajah keduanya, Jongin menempelkan dahinya pada dahi Sehun, "Aku bukan Mastermu." Jongin berbisik, "Kau tidak melakukan kesalahan apa pun yang membuatmu harus dihukum Sehun. Aku yang seharusnya meminta maaf." Ibu jarinya masih mengusap pipi Sehun.

"Aku akan bersikap baik." Sehun berkata lagi, masih dengan tangisannya. "Tolong hukum aku Master. Aku akan memperbaiki kesalahanku." Matanya fokus pada lantai, tidak sedikitpun menatap Jongin.

"Sehun," Jongin berbisik, "Sehun, ini aku. Aku tidak akan menghukummu. Please. Look. At. Me." Jongin mencoba mengangkat sedikit kepala Sehun agar menatapnya. Tapi Sehun menghindari mata Jongin.

"Aku tidak setara denganmu, aku tidak boleh menatap matamu." Sehun berbisik sekarang. Tangannya gemetaran. Sehun mulai bergumam lagi seperti saat mereka di rumah Baekhyun.

Jongin menjauh sedikit sambil bernafas dalam, perlahan dia mengusap rambut Sehun yang berantakan, memikirkan apa yang harus dilakukan selanjutnya. Jongin sedih melihat mata cokelat Sehun terlihat kosong walaupun bibirnya terus bergumam kata-kata maaf berulang-ulang. "Ayomi." Panggil Jongin. Saat pelayan wanita itu menghampiri, Jongin berkata, "Bawakan aku obat penenang yang kusimpan di nakas sebelah tempat tidurku. Bentuknya ampul, ada instrument menyuntiknya juga disana juga obat penenang di kamar Sehun." Pelayan itu mengangguk dan meninggalkan dapur yang sedang dibersihkan Ayami.

Saat Ayomi kembali, Arta mengikuti dibelakangnya membantu membawakan segelas air. "Sehun," Bisik Jongin, "Ini akan sedikit sakit. Tahan ya."

Beberapa saat setelah Sehun berhenti menggumam, Jongin tahu obatnya sudah bekerja. Sehun tetap tidak menjauh dari Jongin, dia menyandarkan kepalanya di bahu Jongin. Sehun menggenggam bagian depan baju Jongin. Ragu Jongin memeluk Sehun dan mengusap pelan punggungnya.

"Kau bukan dia." Sehun berbisik, sangat lembut.

Kata-katanya membuat Jongin sakit, Jongin sadar kalau Sehun mencintai Yifan dan membiarkan Yifan melakukan semua ini padanya. Jongin mengeratkan pelukannya, meyakinkan Sehun kalau dia tidak akan merasakan sakit lagi. "Aku bukan dia." Akhirnya Jongin menjawab. Jongin mendorong Sehun sedikit agar dia bisa menatap mata cokelat itu lagi, "Aku bukan dia dan aku tidak akan pernah menjadi dia. Aku minta maaf sudah berteriak, aku tidak menunjukkan teriakan itu padamu." Jongin berkata pelan, "Maaf?" Jongin bernafas lega ketika Sehun menganggukan kepalanya.

Jongin membantu Sehun berdiri dan mendudukannya di ruang makan diikuti dengan pelayan yang masih memperhatikan mereka berdua. Kali ini Jongin meminta obat penenang Sehun yang dibawa Arta. "Aku hanya membutuhkanmu meminum setengah sendok saja, aku tahu kau tidak benar-benar membutuhkannya. Percayalah padaku, ini akan membantu. Setelah itu kita akan makan malam di kamarmu, karena makan disini jelas bukan ide yang baik." Sehun tersenyum mendengarnya.

Tangan Sehun masih gemetaran ketika menerima sendok berisi obat dari Jongin. "Kalau aku.. kalau aku membuatmu marah," Sehun menatap meja di depannya, bingung harus berkata apa.

"Tidak." Jongin berbisik, "Bukan kau. Aku.." Tapi Jongin tidak bisa menjelaskannya, dia merasa bodoh dan malu. Bagaimana dia bisa mengatakan pada pasiennya kalau dia juga membutuhkan pertolongan?

"Apa karena kau sudah terlalu lama sendiri disini?" Bisikan Sehun sangat pelan sampai Jongin kira itu suara dari bayangan yang lain.

"Kurang lebih begitu." Dia ingin memberi tahu Sehun. Dia berharap bisa membuka mulutnya dan memberikan Sehun penjelasan. Jongin menatap Sehun yang sekarang sudah menatapnya, "Aku tidak bisa.. belum bisa.."

Sehun pasti mendengar sedikit permohonan di suaranya jadi dia berkata, "Jadi kita makan masakan Ayami saja?" Sehun tersenyum. Banyak sekali kata yang tidak bisa diucapkan antar keduanya, masa lalu mereka, yang sebenarnya butuh mereka keluarkan untuk bisa melupakannya. Jongin berharap saat waktunya tiba, Sehun sudah kembali seperti dulu dan lebih siap mendengarkan Jongin. Untuk saat ini, memahami seperti ini saja sudah cukup.

"Kedengaran menyenangkan." Jongin menjawab dengan tawanya.


Is it to intense for you guys?