Chapter 4 : Yukimura and Oichi
Oke, karena ada yang request mereka berdua, termasuk teman di RL. Saya jabanin deh X3
.
.
.
SMA BASARA
Cuaca pagi yang cukup mendung menghiasi pada tanggal 14 Maret.
Seperti yang diketahui, tanggal 14 Maret adalah diperingati sebagai 'White Day' di Jepang. Tanggal ini dirayakan di mana jika seorang pria mendapat coklat dari sang wanita pada 'Hari Valentine' pada tanggal 14 Februari, maka si pria itu harus membalas kembali perasaan gadis itu jika si pria mempunyai perasaan yang sama dengan sang wanita. Tidak harus memberi coklat kembali. Si pria juga bisa memberi hadiah lainnya seperti jam, kalung, gelang, cincin atau hadiah 'balasan' lainnya.
"Sasuke, itu hadiah untuk siapa?" terdengar suara serak dari pemuda berwajah imut, Sanada Yukimura.
"Ah...maksud danna kado ini?" tanya Sasuke menunjuk kado merah berpita kuning itu, "Ini untuk Kasuga-chan yang telah menyatakan perasaanku waktu sebulan yang lalu~" jawab Sasuke dengan wajah yang sumringah. Pemuda yang mempunyai loreng di wajahnya itu sangat senang karena gadis yang disukainya akhirnya mempunyai rasa yang sama padanya.
"A-aaa..." sedangkan Yukimura hanya menggaruk pipi kanannya yang sebenarnya tidak gatal itu.
"Danna sendiri bagaimana? Tidak merayakan White Day?" Sasuke pun bertanya balik kepada pemuda berambut panjang itu.
"..." Yukimura hanya terdiam, "Entahlah..." gumamnya.
Alis pemuda berambut oranye itu menaik, "Eh? Apa danna tidak mendapat coklat?" tanyanya dengan sedikit mengejek. Kemudian, secara mendadak Sasuke mendapatkan jitakan dari si merah itu.
"WADAOW!" Sasuke pun meringis kesakitan, "Sakit, danna!" ujar Sasuke mengelus-elus kepalanya itu.
"Aku dapat sebuah coklat, Sasuke." ujar Yukimura tersenyum lembut.
"Lantas apa lagi? Kalau suka langsung saja balas perasaan cewek itu." saran Sasuke memasang wajah playboy-nya.
"Ng..." Yukimura hanya terdiam seraya memikirkan sesuatu, "Masalahnya, di coklat itu tidak ada nama pemberinya." jawab Yukimura menaikkan kedua bahunya.
"Oi Sanada, Saru!" terdengar suara berat dari arah mereka berdua.
"Masamune-donno." balas Yukimura memasang wajah cengo.
"Kalian berdua kenapa berisik sekali?" tanya Masamune memangkukan kedua tangannya.
"Begini, Masamune. Danna mendapat coklat, tetapi tidak tahu dapat dari siapa." jawab Sasuke apa adanya.
"Huh?" Masamune mengerutkan dahinya, "Kasihan, banget. Sudah, ya. Aku mau memberi hadiah untuk Megohime dulu, jaa." mendengar jawaban itu, pemuda berambut seleher itu langsung pergi meninggalkan kedua sahabat itu.
Yukimura dan Sasuke pun hanya bisa sweatdrop.
"Jadi...dia datang hanya untuk menanyakan itu?" tanya Yukimura sweatdrop lagi.
"Haha...sepertinya benar, danna." jawab Sasuke membenarkan pertanyaan Yukimura.
:chacha:
.
.
.
Sedangkan di kantin, terdapat pembicaraan perempuan oleh lima orang gadis, yaitu Oichi, Kasuga, Magoichi, Matsu, dan Megohime.
"Eh, minna. Valentine kemarin, kalian memberikan coklat kepada siapa?" tanya Kasuga kepo dengan rahasia keempat temannya itu.
"Aku sih sama Masamune-san..." jawab Megohime blushing gak jelas.
"Keiji-" jawab Magoichi yang mendapatkan pelototan tak percaya dari teman-temannya.
"APA!? KEIJI?" tanya empat gadis itu tidak percaya.
"Iya, benar. Aku suka sama Keiji." jawab gadis berperawakan bule itu dengan enteng.
"Padahal kalian sering berantem, tetapi aku nggak percaya ternyata Magoichi yang jatuh cinta duluan." gumam Kasuga memangut-mangut.
"Kayak kamu sama 'monyet' itu nggak aja." Magoichi pun membalas perkataan Kasuga yang sukses membuat Kasuga menjadi salah tingkah.
"A-ahahahah..." Kasuga pun tertawa paksa, "Kalau lainnya?"
"Aku memberi coklat kepada Toshiie-senpai." jawab Matsu senyum-senyum gaje.
Sedangkan gadis cantik bersurai hitam keunguan itu hanya berdiam diri mendengar jawaban empat temannya itu.
"Ichi?" panggil Magoichi membuyarkan lamunan gadis pendiam itu.
"Ah? Ada apa?" tanya gadis beriris hitam itu bertanya dengan wajah cengo.
"Ichi memberikan coklat kepada siapa?" tanya Kasuga tersenyum lembut.
"A-ano..." Oichi pun membuang mukanya karena malu dan gugup, "I-itu rahasia..." jawabnya.
"Ah, Ichi curang! Kami kan udah kasih tahu akan siapa cowok yang kami suka. Masa Ichi nggak mau kasih tahu sih?" tanya Megohime agak kesal.
"Ah, gomen..." ujar Oichi tersenyum lembut, "Aku malu mau ngasih tahu."
"Palingan Oichi memberikan coklat kepada Nagamasa-san, kan?" tebak Matsu menatap wajah gadis berponi belah tengah itu.
"U-huh? Nagamasa-san?" tanya Oichi agak bingung.
"Iya. Anak kelas sebelah yang waktu itu nembak kamu pada festival natal tahun lalu. Masa kamu udah lupa?" tanya Matsu.
"Ichi tidak memberikan coklat kepada Nagamasa-san."
"Lalu siapa?" tanya empat gadis itu semakin tidak mengerti.
"Nanti kalian juga tahu..." jawab Oichi tersenyum manis.
.
.
.
SKIP TIME
Pukul 01.30 pm...
ZZRRASSHH!
Cuaca hari ini tambah lama tambah tidak mendukung. Tadinya mendung malah menjadi hujan deras. Sedangkan Yukimura hanya memangkukan wajahnya di meja kelasnya. Tampaknya, pemuda Sanada itu masih penasaran akan siapa orang yang telah mengirimkan coklat padanya.
Oichi pun lewat di hadapan Yukimura, dan pemuda itu memanggilnya, "Oichi-san?"
Oichi pun menoleh karena merasa dipanggil, "Ada apa Sanada-san?"
Yukimura pun memangut-mangut dan membuka pembicaraan, "Apa kau tahu, adakah cewek di kelas ini yang suka padaku?" tanyanya dengan PD namun tepat sekali menyerang jantung gadis cantik itu.
Oichi pun bergidik, "E-etto...aku tidak tahu, Sanada-san." jawabnya. Bisa dilihat, bahwa semburat tipis sudah menghiasi di kedua pipi putih gadis itu.
"Ah, maaf ya kalau mengganggu..." ujar Yukimura melambaikan tangan dengan pelan sambil tersenyum kikuk.
"Iie, daijoubu. Aku permisi." kemudian gadis bersurai sepunggung itu meninggalkan Yukimura yang masih tampak kebingungan.
.
.
.
Sekarang jam terakhir, pelajaran musik yang diajarkan oleh Maria-sensei. Pelajaran itu pun berlangsung selama satu jam lima belas menit. Semua murid pun tampak fokus dengan apa yang diajar oleh guru cantik itu.
Hingga pelajaran pun berakhir. Oichi dan Kasuga ditugaskan untuk menyapu dan membersihkan kembali ruang musik yang sudah dipakai karena minggu ini adalah giliran mereka berdua. Sedangkan Yukimura dan Motonari ditugaskan mengangkat bangku untuk diletakkan kembali ke sudut ruangan.
Tugas angkat bangku pun selesai. Kedua pemuda itu pun keluar karena tugas mereka sudah dilaksanakan. Sedangkan Oichi dan Kasuga masih melakukan kegiatan bersih-bersih tersebut.
"Ng, Oichi?" tanya Kasuga memanggil gadis pendiam itu.
"Ya, Kasuga-chan?" gadis Oda pun memiringkan kepalanya.
"Sebenarnya aku masih penasaran dengan pembicaraan kita di kantin tadi..." ujar Kasuga memberi kode agar Oichi langsung menjawab.
"Soal apa?" tanya Oichi pura-pura tidak mengerti.
"Sebenarnya, coklat Valentine itu kamu berikan kepada siapa? Kan rugi kalau perasaanmu nggak terbalaskan." tanya Kasuga seraya memancing Oichi agar mau menjawab pertanyaannya.
Sedangkan yang ditanya hanya menunduk dan terus memegang gagang sapu itu dengan erat, "Ihm, ini rahasia ya Kasuga-chan. Janji?" ujarnya.
"Janji." Kasuga pun tersenyum manis.
"Sebenarnya, coklat Valentine itu aku berikan kepada..." jawabnya dengan agak ragu.
"Huh?" Kasuga pun semakin penasaran, "Siapa?"
"S-Sanada-san." lanjutnya.
Mata kuning Kasuga pun terbelalak. Antara percaya dan tidak percaya dengan apa yang gadis itu dengar barusan, "Hah? Kau serius, Ichi?" tanya Kasuga sekali lagi. Pertanyaan itu dijawab oleh dua kali anggukan.
"Terus dia tahu?" tanya Kasuga lagi.
"Belum. Soalnya, aku terlalu malu untuk menulis namaku di coklat itu." jawab Oichi dengan pandangan sendu.
Kasuga pun sweatdrop, "Ya sudahlah...mau bagaimana lagi? Pantasan 'si bodoh' itu keheranan bertanya pada semua cewek di kelas kita akan siapa yang memberikan coklat padanya. Tidak ada yang tahu. Dan ternyata itu kamu." ujar si pirang itu.
Sedangkan Oichi hanya bertambah blushing akan pengakuannya itu, "Iya..."
Percakapan kedua gadis itu ternyata dikuping oleh si objek pembicaraan mereka itu sendiri. Yukimura tahu semua pembicaraan yang tak sengaja ia dengar, "Jadi...coklat yang kuterima waktu itu dari Oichi-san?"
:chacha:
.
.
.
Sekarang pukul 03.00 pm. Adalah waktu pulang sekolah di SMA BASARA. Hari pun masih hujan, sedangkan Oichi masih menunggu bus yang akan menuju ke arah rumahnya. Seraya menunggu bus, gadis berponi belah tengah itu berteduh di halte agar tidak kehujanan.
"Kenapa bus-nya lama sekali?" gumam Oichi yang tengah memakai jaket namun masih merasa kedinginan, "Kalau begini, aku nanti bisa pulang kesorean dan akan dimarahi oleh nii-sama."
Selang beberapa menit, kemudian datanglah pemuda yang menggunakan ikat kepala berwarna merah itu. Kedatangannya membuat Oichi menjadi sedikit salah tingkah.
"Sanada-san?" panggil gadis cantik itu dengan heran.
"Hai, Oichi-san. Kamu menunggu bus juga, ya?" tanyanya. Pertanyaan yang nggak penting.
"Iya." jawab Oichi tersenyum lembut.
"..." setelah dialog tadi, tak ada satu pun yang membuka suara kembali. Selama sepuluh menit mereka saling sediaman begitu, kemudian pemuda berambut coklat itu membuka topik pembicaraan, "Oichi-san. Ada yang ingin aku bicarakan."
"Hah?" Oichi pun menaikkan alisnya, "Bicara apa?"
Yukimura pun mendekatkan jaraknya kepada gadis itu dan menyamakan tingginya. Kemudian, pemuda yang tubuhnya terbilang kurus itu pun menempelkan dahinya ke dahi gadis cantik itu.
"-!?" Alhasil, wajah Oichi semakin bertambah panas padahal cuacanya sangat dingin akan diguyur hujan.
"Terima kasih coklatnya..." ujar Yukimura masih dalam posisi menempelkan dahinya itu. Pandangan mata kedua insan itu saling bertemu satu sama lain.
"Sanada-san tahu dari mana?" tanya Oichi keheranan.
"Ah, maaf aku tadi menguping pembicaraanmu dengan Kasuga-san." jawabnya dengan senyum yang mengembang. Dan kemudian pemuda itu menegapkan kepalanya kembali.
Mata hitam Oichi menjadi berbinar. Ia tak menyangka bahwa Yukimura ternyata mengetahui akan perasaannya, "Sama-sama, Sanada-san."
"Bisa tolong pejamkan matamu sebentar?" pinta Yukimura tiba-tiba kepada gadis cantik itu.
"A-apa?" Oichi terkejut. Gadis itu belum siap jikalau pemuda di hadapannya ini tiba-tiba mau menciumnya. Oh, membayangkan hal itu saja membuat Oichi menjadi deg-degan sendiri, "Baiklah..."
Gadis itu pun menurut dan memejamkan kedua matanya. Terasa bahwa kedua tangan pemuda itu tengah melingkar di lehernya. Hangat sekali.
"Sekarang kau boleh membuka matamu, Oichi-san." ujar Yukimura memperbolehkan gadis itu membuka matanya kembali. Dan gadis bermarga Oda itu terkejut, karena pemuda di hadapannya itu memberikan sebuah liontin berbandul hati yang cantik sekali.
Sebenarnya, Yukimura sudah lama membeli liontin itu untuk diberikan kepada Oichi. Hanya saja, dia belum menemukan waktu yang pas. Dan hari ini lah kesempatannya.
Yukimura pun juga tidak menyangka bahwa gadis itu juga menyukainya.
"Terima kasih, Sanada-san..." ujar Oichi tersenyum lembut, "Aku ingin bertanya, apakah Sanada-san menyukaiku atau hanya untuk berterima kasih?" tanyanya.
Yukimura pun menghela napasnya sejenak, "Aku menyukaimu, Oichi-san. Kalau tidak, kenapa aku harus membalas perasaanmu dan melakukan semua ini?" jawabnya seraya menatap mata hitam gadis yang di depannya itu.
"Yokatta...aku senang mendengarnya, Sanada-san." semburat merah pun kembali muncul di pipi Oichi.
SREK! Yukimura pun memayungi kepala mereka berdua dengan jaket kulit berwarna merah itu.
"-!" Oichi pun menjadi sedikit kaget.
"Aku juga senang mendengarnya, Oichi." balasnya. Gadis itu merasa sangat senang karena Yukimura tidak memanggilnya dengan suffix 'san' lagi.
"Seandainya aku tidak menguping tadi, mungkin hal ini selamanya tidak akan terjadi." sambungnya.
"Iya, Sanada-san." gadis itu tak tahu harus bilang apa lagi.
"Panggil aku Yukimura. Tidak perlu memanggil margaku lagi." kemudian Yukimura pun menempelkan dahinya lagi ke dahi gadis bersurai hitam keunguan itu dan kemudian mencium dahi gadis cantik itu.
"Iya, Yukimura-san." ujar Oichi dengan tersenyum sipu dan gugup, "Aku...sangat menyukaimu, Yukimura-san."
Yukimura dan Oichi saling menatap satu sama lain dan kemudian saling melemparkan senyum bahagia.
White Day, adalah hari yang menyenangkan bagi Yukimura dan Oichi di tahun ini...
FINN
A/N : Gila-gilaan karena frustasi akan UTS Filsafat Umum XD dan maaf kalau requestan-nya nggak sesuai harapan. Chapter ini Yukimura-nya OOC banget, apalagi Oichi? Tambah OOC /ditombak + dicekek darkhand/ karena di sini hujan deras, maka terpikirlah alur gini, ohoho /plak/. Padahal rencana sebelumnya mau bikin setting zaman Sengoku atau zaman Heian, tetapi nggak tau alurnya /plakplak/
Dan maaf banget kalau chapter ini nggak manis /lap ingus/ tapi aku harap semoga minna tetap suka dan nggak bosan dengan fic gaje ini, ya? X3
Review, kritik, dan saran, onegai? :D
See you,
Chacha Rokugatsu
Balasan Review
Neneng Masamune : Yukimura jadi gentle? Benarkah? Wkwkwkwk /plak/ Entah kesambet apa nih Yukimura pulang-pulang ngajak bikin adik /plaks (2)/. Ini udah lanjut. Makasih review-nyaaa XD jangan bosan ya baca fic ini.
KuroIChio : O-omo, Aku sendiri aja berfangirling-an baca ulang chapter 3 /dor/ Yuki dari chap awal sampai chap ini masih OOC /ditinju/. Makasih review-nyaaa :D
HosokawaHinaru : Chap 3 lebih fluff? Syukurlah /tebar confetti/. Demi poni runcing Mitsunari? Wkwkwk aku ngakak baca review-mu :D Entahlah Yukimura kesambet apa tiba-tiba bilang gitu, wkwkwk. Btw, makasih follow ama review-nyaaa :D
Gradien45Sankyuu : Oh... aku kira apa. Ternyata chap 1 Masamune-nya nggak bicara English sama sekali, hehehe /plak/ pantas scrolling-scrolling nggak nemu tuh Bahasa Inggris satu pun. Soal uke yang genbend...belum terencanakan, hihihi. Makasih review-nyaa :D
