Ch4

SNATCHER LOVE STORY

By : Han Kang Woo

Cast : Xi Luhan, Oh Sehun, Exo Member, BTS Member, etc

Main Cast : HunHan

Genre : Romance, Friendship

Warning : BL (Boys Love)
Banyak Typo, FF ini hanya pinjam nama saja

Rated : M dan T (?)

DLDR

= Happy Reading =

O…O…O…O…O…O…O…O…O

Author note :

Maaf untuk chapter 3 lalu, chap itu bukannya pendek, tapi terpotong. Banyak review yang masuk dan mengatakan pendek, lalu aku coba cek di hp teman (soalnya di hp ku nggak bisa buka ffn alias baca cerita yang terpublish), aku hanya bisa publish saja tanpa tahu tampilannya bagaimana. Kalau bukan review kalian, aku nggak bakal tahu kalau ff ku terpotong. Aku sudah coba publish ulang, tapi hasilnya sama saja (mungkin pengaruh file ekstensi txt, karena biasanya aku publish dengan ekstensi doc.) efek dari laptop rusak mungkin yaa. Aku akan menampilkan lagi bagian yang kepotong itu, Semoga chapter 4 ini bisa terbaca sempurna.

O...O...O...O...O...O...O

"Buka semua pakaianmu... Sekarang..." seru Sehun, disertai dengan senyuman khas andalannya.

"Bu.. Buka pakaian?" mata Luhan membulat lagi, entah untuk kesekian kalinya. Jantungnya berdetak dengan cepat.

"Ya, buka baju dan celanamu. Atau kau mau aku yang menanggalkan pakaian lusuhmu itu... Hah..." senyuman mesum Sehun semakin menjadi.

"Ta... Tapi... Untuk apa? Aku hanya menemanimu. Aku berdiri disini dan kau mandi." ucap Luhan, hampir saja menambahkan kata 'mandi sambil berenang di bak mandi'.

"Tugasmu tidak sesederhana itu. Aku tidak mungkin memberikan tugas pertama yang mudah untukmu."

"Setelah aku menanggalkan pakaianku. Apa yang aku harus lakukan selanjutnya?" Luhan bertanya gugup.

"Pertanyaan yang bagus..." Sehun mendekati Luhan, menyempitkan jarak antara mereka. Tidak lupa dia memegang 'jendolan'nya sendiri dengan gerakan slow motion yang lebay dan seksi.

Glek, lagi lagi Luhan menelan ludahnya tanpa sadar, dia tentunya terganggu dengan aksi pemanasan awal Sehun itu. Tepatnya merinding. Merinding disko.

Sehun mendekatkan wajahnya ke Luhan, sesaat Luhan meresa ingin dicium, tapi ternyata tidak, Sehun malah mengarahkan bibir merahnya ke telinga Luhan, sembari menggumamkan beberapa kata.

"Aku ingin melakukan seks denganmu." bisik Sehun.

Deg.

Bibir Luhan langsung bergetar hebat, wajahnya juga memerah, mengalahkan merahnya lipstik istri muda Sooman.

Luhan tidak bisa berkata dan menimpali. Lidahnya kelu, suaranya tercekat ditenggorokan.

"Dan kau harus mau. Karena kau adalah pembantuku. Pembantu harus menuruti semua kemauan majikannya. Semuanya..." Sehun meniup singkat telinga Luhan, lalu menjauhkan wajahnya dari sana.

Luhan kegelian, tanpa sadar menggetarkan tubuhnya.

"Oh... Bahasa tubuhmu sudah mengiyakan." Sehun tertawa, menertawai gaya Luhan yang 'salting'.

"Ka... Kau jangan seenaknya." Luhan akhirnya mendapatkan suaranya. Dia berusaha menatap wajah Sehun. Sempat tersirat niat untuk menendang selangkangan namja itu, kemudian kabur. Tapi entah kenapa dia sulit melakukannya. Dirinya seakan 'dipaku' untuk tetap tinggal disana.

Sehun tertawa lagi,

"Kau harus menurutiku. Kau tidak punya pilihan namja China."

"Kau hanya tinggal memilih, dipenjara atau melakukan seks denganku."

Luhan mengusap dahinya yang berkeringat. Sudah bisa menduga dari awal bahwa namja putih dihadapannya ini akan meminta 'itu' padanya. Terlihat dari kemesuman yang sejak tadi ditampilkan oleh si namja.

Luhan berpikir keras, andaikan saja dia dijadikan budak atau dibunuh oleh Sehun, dia tidak peduli. Orang tuanya sudah tiada. Tidak akan ada yang mencari dan menangisinya. Tapi, Luhan mempunyai tanggungjawab terhadap satu sosok, yaitu Jungkook. Namja muda itulah salah satu alasannya masih bertahan hingga sekarang. Namja yang menjadi tanggungannya. Membalas kebaikan mendiang ibu Jungkook yang sudah membesarkannya.

"Kau terlalu lama berpikir." Sehun menggoyangkan telapak tangannya didepan wajah Luhan. sejak tadi memperhatikan Luhan intens.

"Apa susahnya berhubungan seks denganku. Kau seharusnya bangga. Kaulah orang pertama yang akan merasakan kejantanan..."

"Cukup... Diam..." Luhan memotong kalimat Sehun, sekaligus membentak namja tampan itu.

Sehun kaget, tidak menduga akan dibentak seperti itu. Dia menyipitkan matanya, kembali dengan ekspresi datar biasa.

"Kau..."

"Ini masalah harga diri... Boleh saja banyak yeoja diluar sana yang dengan senang hati mengangkat paha, melebarkannya dihadapanmu, untuk dimasuki olehmu. Tapi kau jangan samakan semua orang. Aku beda..." tukas Luhan, dadanya naik turun dengan cepat.

Sehun tidak merubah ekspresinya. Dia dengan seksama mendengarkan penuturan Luhan.

"Tapi bahasa tubuh dan tingkahmu berkata lain. Kau seakan meng-iyakan semuanya." kata Sehun.

"Apa maksudmu?"

"Kau pasti mengerti. Kau bisa saja menusuk leherku dengan pisau lipatmu kemarin. setelah itu kabur dan lompat dari jendela. Tapi kau tidak melakukannya. Itu kuanggap sebagai sinyal bahwa kau ingin berlama lama dirumahku." terang Sehun,

Luhan mencoba mencerna kata kata Sehun, apa benar dirinya tidak ingin pulang? Dengan kata lain, apa benar dia sudah terpesona dengan Sehun? Dia punya banyak kesempatan untuk kabur, beberapa jam yang lalu dia sendian di kamar Sehun. masalah di laporkan ke polisi itu urusan belakangan.

Luhan menarik nafas dalam dan menghembuskannya cepat.

"Kita harus membuat kesepakatan baru." kata Luhan, setelah berpikir sejenak.

"Kesepakatan apa?" tanya Sehun.

"Kau harus membiarkanku pulang setelah kita melakukan itu... Bagaimana..." Luhan memberikan penawaran versinya sendiri. Sosok adiknya, Jungkook, baru saja terlintas dipikirannya.

"Pulang? Tapi kau belum 5 hari sebagai pembantuku..." protes Sehun,

"Ini kesepakatan baru. Ya atau tidak..."

Hening.

Sehun nampak berpikir, menimbang nimbang.

"Kau tidak pantas memberikan penawaran baru. Posisimu dibawahku. Tapi setelah kupikir dengan matang, aku... Aku setuju. Setelah berhubungan seks, kau bisa pulang." Sehun setuju dengan sangat mudah, hanya dalam beberapa detik saja.

Luhan tersenyum mendengar jawaban Sehun. Dia sama sekali tidak menginginkan kekerasan untuk bisa meninggalkan rumah mewah Sehun. Lagi pula melakukan seks dengan namja tampan, bukanlah kegiatan yang buruk, malah kalau dipikir lagi, dia bisa merasakan untuk pertama kalinya bagaimana melakukan hubungan intim. Pikiran dangkal yang tidak patut dicontoh untuk anak dibawah umur tentunya (?)

"Kita sudah terlalu lama membincangkan hal tidak penting. Sekarang saatnya ke intinya. Buka pakaianmu Luhan dan kita akan melakukan seks... Dikamar mandi ini." Sehun berkata cepat, tidak ingin berlama lama lagi.

"Sopan sedikit, kau seharusnya memanggilku hyung atau gege. Aku lebih tua darimu." kata Luhan, berusaha menyembunyikan reaksi panas dingin tubuhnya. Efek kegiatan seks perdana yang sebentar lagi akan dilakoninya bersama namja asing.

"Sory. Aku lebih suka memanggil dengan nama." timpal Sehun. Bersmirik seksi.

Luhan memang lebih tua 3 tahun dari Sehun. Tapi karena awal pertemuan mereka yang tidak mengenakkan, jadi tidak ada panggilan shi, hyung, gege atau sejenisnya. Dan intinya, Sehun lah yang berkuasa.

"Tanggalkan semuanya... Sekarang..."

Luhan mendesah halus. Dia mulai menggerakkan tangannya dan membuka baju serta celananya satu persatu, secara berurutan. Dengan gerakan lambat dan kaku, selama ini dia tidak pernah sekalipun bertelanjang didepan orang lain.

"Kenapa memandangiku?" tanya Luhan, dengan wajah kembali memerah hebat.

"Bodimu bagus juga." jawab Sehun, sekilas terlihat namja itu seperti menjilat bibir.

Beberapa menit kemudian, Luhan sudah hampir bugil didepan Sehun. Dia hanya menggunakan celana dalam saja, sama seperti Sehun.

Sehun tersenyum, lalu tanpa aba aba dan komando, namja tampan itu menyerang Luhan, dia menyandarkan Luhan didinding kamar mandi, lalu melancarkan serangan. Dia mencium leher Luhan, dengan sesekali mengisapnya.

"Ahhh... Ashh..." Luhan mendesah, menggelinjang. Merasakan sensasi yang selama ini belum pernah dirasakannya.

"Ohh... Ahh..."

Luhan mencoba pasrah dengan serangan dari negara api. Tanpa sadar, tangannya bergerak dan malah mencaplok kejantanan Sehun yang masih tertutup celana dalam.

"Yeahh... Ashh..." giliran Sehun yang mendesah, dia tersenyum dalam hati, sudah menduga jika Luhan hanya 'malu malu rusa'.

Sehun mencoba meraih shower dan memutarnya, hingga air hangat mengguyur tubuh telanjang mereka berdua. Dia masih sibuk melayangkan ciuman maut di leher Luhan.

"Ohhh..."

"Ahhh.."

Setelah basah, Luhan malah semakin menjadi jadi. Dia dengan cepat memasukkan tangannya dan merogoh kejantanan alias penis Sehun yang menganggur belum terpakai.

Kejantanan Sehun sudah tergenggam indah ditangan kecil Luhan.

"Keluarkan dan kocoklah..." bisik Sehun, menyuruh Luhan bertindak lebih. dia menghentikan ciumannya.

Luhan mengangguk otomatis, namja itu mengeluarkan kejantanan Sehun yang sudah ereksi, hingga terlepas dari celana dalam.

Jrengg... Rudal Sehun terpampang nyata sekarang.

Luhan perlahan berjongkok. Dia menggenggam penis Sehun dengan tangan sedikit bergetar. Pengalaman pertamanya memegang kejantanan orang lain. Sama seperti saat pertama kalinya dia memegang pisau lipat dan ditodongkan ke leher korban pertamanya, itulah yang dirasakannya sekarang.

Luhan terdiam sesaat, dengan matanya tertuju pada tongkat emas Sehun.

"Kenapa? Ada yang salah dengan punyaku?" tanya Sehun, dengan posisi berdiri. Ini adalah pengalaman pertamanya juga.

Luhan tidak menjawab pertanyaan Sehun. Dia tanpa disuruh langsung memasukkan penis Sehun kedalam mulutnya, menjilat dan mengisapnya.

Slrup.

"Ahh.. Oh.. Yeaah..." Sehun mendesah, tidak menyangka Luhan akan memberikan pemanasan awal dengan melakukan oral.

Luhan mengisap penis Sehun dengan ritme cepat, entah dia kerasukan hantu apa. Namja itu melakukannya seperti profesional.

"Ah... Percepat... Luhan ah..."

Mendengar desahan Sehun yang menjadi jadi, Luhan semakin mempercepat kecokannya. Cepat dan semakin cepat. Guyuran shower semakin menambah sensasi seksi dan erotis.

"Ouch... Ahhh..."

Kocokan itu semakin cepat. Fast... Fast... Luhan mengocok sambil menjilat. Kocok jilat... Kocok jilat...

Dan

Tidak lama..

Crooot... Croott... Croot...

Sperma milik Sehun tumpah ruah, sangat banyak. Air yang bisa menghasilkan anak itu tertumpah sebagian di dalam mulut Luhan, sebagian lagi ditangannya, dan selebihnya berceceran di lantai kamar mandi.

"Ahh..." nafas Sehun tersengal sengal. Kejantanannya baru saja dimanjakan.

Luhan tanpa sadar menelan sperma Sehun yang ada didalam mulutnya, setelah itu mendongak dan menatap wajah Sehun.

"Bisa aku pulang sekarang?" Luhan bertanya, dengan ekspresi memelas.

"Tapi kita belum melakukan seks..." timpal Sehun, mencoba menormalkan deru nafasnya, yang terdengar seksi.

"Tapi... Tapi aku rasa kau sudah puas. Spermamu sudah keluar... Jadi..."

"Tidak. Aku belum puas. Tadi itu hanya pemanasan. Aku ingin kita berdua saling menempelkan tubuh..." potong Sehun cepat, adegan intinya belum dilakukan.

"Tapi... Penismu sudah lemas... Dan..."

"Tidak, penisku akan tegak kembali..." Sehun kembali memotong ucapan Luhan.

Dan benar saja, kejantanan milik Sehun kembali ereksi dengan sangat cepat, walau baru saja menumpahkan cairan cinta.

"O" hanya itu yang keluar dari bibir mungil Luhan, dia menjadi saksi mengacungnya penis Sehun tersebut. Karena penis itu tepat didepan wajahnya.

Sehun tidak ingin menunggu lama lagi, takut Luhan kembali berubah pikiran dan berontak. Jelas saja karena dia tidak ingin seperti namja pemerkosa. Dia menginginkan Luhan melakukannya dengan suka rela. Sehun menindih Luhan.

Posisi mereka berdua dilantai kamar mandi. Dengan Luhan dibawah dan Sehun diatas.

"Apa aku bisa memasukkannya sekarang?" tanya Sehun,

Luhan tidak menjawab dengan kata kata, namun dengan anggukan pelan. Entah mengapa dia seperti yeoja desa yang akan dijamah oleh pangeran kota impian.

Wajah Luhan seketika memerah, posisi Sehun sangat intens dengannya. Dia bisa merasakan wangi tubuh Sehun, merasakan lengan kokoh namja itu, merasakan dada bidangnya. Semua rasa yang sulit dijabarkan dengan kata kata.

Sehun sudah mendapatkan lampu hijau, namja tersebut dengan perlahan membuka kedua paha Luhan, dengan terlebih dahulu menanggalkan celana dalam Luhan.

Kini Luhan sudah bugil total. Sehun juga bugil, tapi celana dalamnya masih tersangkut di betisnya. penisnya sudah ereksi sempurna, siap tusuk.

"Baiklah, aku akan memasukkanya... Kau harus tahan..." gumam Sehun, sebentar lagi akan merasakan bagaimana rasanya membenamkan kejantanan ditubuh Luhan.

Luhan mengangguk lagi, sembari memejamkan matanya. Tubuhnya bergetar hebat. Dia sudah jatuh dalam pelukan seorang Oh Sehun. Pertemuan mereka baru sehari, dan adegan Seks dilakukan dihari kedua. Betul betul sesuatu yang tidak pernah terbayangkan akan terjadi.

Sedetik... Dua detik... Tiga detik...

"Argh... Ahhh..."

.

.

O...O...O...O

Jam pulang sudah berbunyi di sekolah swasta dan mahal, Geongnam High School. Jungkook yang merupakan siswa tingkat pertama disana, keluar dari kelasnya. Namja imut itu langsung menuju ke kelas senior yang berjarak cukup jauh dari kelasnya.

Beberapa saat kemudian, Jungkook sudah sampai disana. Dia berdiri manis disamping pintu. Sembari memegang perutnya yang sejak pagi belum terisi makanan.

Mata Jungkook terus tertuju kedalam ruangan, mencari sosok yang ingin dilihatnya. Suasana didalam kelas itu sudah riuh, siswa disana sudah siap untuk keluar.

Jungkook masih setia, namun dikejutkan oleh kedatangan namja lain yang akhir akhir ini sering mendekatinya dan muncul tiba tiba.

"Hoi... Kau sedang apa..." itu adalah suara Taehyung.

Jungkook tidak menjawab, dia mengusap dadanya pelan.

"Kau pasti sedang menunggui Sehun senior? Betulkan..." kata Taehyung, bernada datar yang jelas.

"Bukan urusan hyung..." timpal Jungkook, tidak memandang Taehyung. Tangannya masih memegang perutnya yang lapar.

"Kau belum pernah sekalipun berbicara dengan Sehun senior. Dia bahkan tidak mengenalmu." lanjut Taehyung lagi, ketus.

"Berisik."

"Aku yakin kalau Sehun senior bolos sekolah. Dia tidak ada didalam kelasnya." Taehyung melongok kedalam kelas, dan tidak melihat sosok Sehun disana.

"Kau tidak sendirian. Ada 3 yeoja centil yang sepertinya menunggui Sehun senior." tukas Taehyung, sambil menunjuk dengan dagu ketiga yeoja yang bergerombol tidak jauh darinya.

"Diamlah." Jungkook menyuruh Taehyung berhenti mengoceh.

"Kau mempunyai banyak saingan. Kau harus ingat, kau itu namja, bukan yeoja. Menyerah saja..."

"Mereka yeoja dan kau namja, mereka membentuk trio yeoja dan kau hanya sendiri. Mereka bisa bekerja sama untuk mendapatkan Sehun senior, sedangkan kau... Hm... Entahlah..." Taehyung terus berkomentar, seperti komentator bola gadungan.

Jungkook mendelik kesal mendengar celotehan Taehyung.

"Kau hanya mempunyai satu kelebihan. Kau lebih imut jika dibandingkan dengan tiga yeoja itu. Keimutanmu mengalah..."

"Diam, berisik... Hyung cerewet seperti tante yang ditinggalkan suaminya..." bentak Jungkook, dia semakin kesal saja, selain perutnya yang lapar, sosok Sehun tidak tampak diantara gerombolan siswa tingkat tiga yang keluar kelas. Ditambah lagi dengan komentar tidak penting Taehyung.

"Kau seperti yeoja yang datang bulan." balas Taehyung, lalu tertawa pelan. Ingin merangkul Jungkook, tapi namja itu menjauh darinya.

"Sudah hyung. Aku pulang dulu..." ucap Jungkook, seraya berlalu. Dia kecewa karena tidak mendapati Sehun. Padahal rencananya dia ingin memperkenalkan diri dan berbicara dengan seniornya tersebut.

"Hei... Tunggu..."

Taehyung mengejar Jungkook.

Jungkook terus berjalan, dengan sesekali berlari.

"Tunggu, kau mau kemana?" tanya Taehyung, mencoba memegang tangan Jungkook, namun gagal.

"Pulang."

"Kau tidak berencana kerumah Sehun senior kan?"

"Tentu saja tidak. Aku tidak tahu rumahnya."

"Syukurlah." Taehyung mendesah lega.

Jungkook semakin mempercepat langkahnya. Dia akan berjalan kaki untuk pulang. Ini dampak dari tidak adanya Luhan. Biasanya Luhan yang memberikan uang jajan dan transportasi, yang selalu diletakkan disamping makanan sarapan paginya.

"Sebaiknya kau ikut denganku..." tawar Taehyung, matanya sesekali memandangi Jungkook yang memegang bagian perut.

"Tidak... Aku ingin pulang. Kakakku pasti sudah pulang dan menungguku dirumah." tolak Jungkook. Sosok Luhan kembali terlintas dipikirannya, menggantikan sosok Sehun.

"Sebentar saja, aku akan mengajakmu kesebuah pesta." kata Taehyung, seraya berusaha mensejajarkan posisinya disamping Jungkook.

"Tidak." Jungkook tetap menolak.

"Ayolah..."

"Kenapa hyung selalu menggangguku."

"Aku tidak mengganggumu. Hanya saja aku tahu kalau kau belum makan sejak pagi. Aku mencoba mentraktirmu, tapi kau menolak. Aku mengajakmu kerumahku, kau juga menolak. Sekarang aku mengajakmu ke pesta. Tolonglah... Jangan menolak lagi." Taehyung tetap berusaha mengajak Jungkook untuk bersamanya.

"Tapi..."

"Anggap saja aku adalah Sehun senior. Please, ikut bersamaku..." Taehyung memohon, dengan mengiba. Dia mengatupkan kedua telapak tangannya didepan Jungkook.

Jungkook tampak berpikir keras, antara ingin menerima dan menolak. Setelah berjibaku dengan pikirannya, dia akhirnya membuat keputusan.

"Tidak. Aku ingin pulang. Luhan hyung sudah menungguku dirumah. Bye hyung..." tutup Jungkook, memutuskan untuk menolak ajakan Taehyung.

Jungkook berlari dan meninggalkan Taehyung sendirian,

"Aish... Kau keras kepala Kookie ah..." rutuk Taehyung, kesal. Dia memegang pelipisnya. Beberapa siswa dan siswi melintas didepannya.

Lalu kemudian, Taehyung mendapatkan ide. Ide yang begitu saja muncul dibenaknya sekarang.

'Kalau begitu aku akan menculikmu...'

.

.

.

TBC

O...O...O...O...O...O...O

Aku kembali. Maaf sekali lagi untuk chapter 3 yang lalu, membuat pembaca semua tidak nyaman. Apa chapter ini masih terpotong? Mudah mudah tidak ya. Selama ini FF ku tidak pernah dibawah 1000 kata, selalu diatasnya.

Adegan iya iya HunHan akan dilanjutkan dichap depan, maaf kalau cerita FF ini jelek.

Terima kasih kepada pembaca yang sudah menyempatkan review. Kalau bukan review itu, aku tidak tahu kalau chap lalu tidak lengkap alias terpotong dibagian tengah. Sekali lagi terima kasih...

Review lagi ya, semoga bisa fast update. Maaf lahir batin juga untuk semuanya.

Salam kangen.

Han Kang Woo