Precious
"Aku hamil."
Sahabat, sekaligus butler paling setia yang sudah mendampingiku sejak kanak-kanak—mereka menatapku datar seolah-olah yang baru kukatakan adalah lelucon untuk 1 April. Dulu aku pernah menggoda mereka dengan mengatakan kalau kucingku hamil karena perbuatanku—dan mereka tak menganggap candaanku lucu sejak saat itu.
"Kau serius?" Kai menyadari raut wajahku yang tak terlihat akan tertawa setelah bicara. "Sehun, dia serius!" Pekik Kai sambil menyikut perut Sehun. Butler tampanku yang selalu berwajah dingin itu menatapku dengan sorot sendu.
Aku menyakiti Sehun.
"Sudah berapa bulan, Baek?" Ujar Sehun pelan.
"Se-sejak aku diperkosa. Kata dokter sudah empat minggu."
Suasana hening untuk beberapa saat. Aku sudah bersama mereka bertahun-tahun jadi aku tahu betul bagaimana suasana hati mereka saat ini. Ayahku selalu menganggap keistimewaanku ini sebagai musibah—karena itulah mereka menjagaku agar hal seperti ini tidak terjadi. Katanya kehamilanku hanya akan menorehkan malu di wajah keluarga Byun yang terhormat.
"Dan, mungkin sejak saat ini kalian bukan butlerku lagi. Ayah mengusirku dan—aku juga sudah bukan Tuan Muda Byun kesayangan kalian lagi."
"Ya ampun, Baekhyunku..." Kai beringsut untuk memelukku tapi lengan panjang Sehun mencapai tubuhku lebih dulu. Dia menenggelamkanku di pelukannya yang selalu hangat dan aku menangis lama sekali setelahnya.
Di depan orang lain mungkin aku adalah berandalan tak punya hati, tapi di depan mereka, aku membuang topeng itu dan membiarkan sisi lemah diriku mengambil alih. Baekhyun yang cengeng dan bisa menangis seperti anak kecil saat perasaannya sedang sedih.
"Beritahu siapa orangnya, Baekhyun. Aku tahu kalau kau hanya menyembunyikannya dari kami." Kata Sehun penuh geraman. Aku mengerti, dia yang paling terluka.
"Benar, Baek. Katakan dan kami akan menghancurkannya sampai habis." Kai melingkarkan tangannya di perutku dan menyandarkan wajahnya di pundak belakangku. Mereka ini, bagaimana mengatakannya ya—sepertinya mereka terkena Young Master Complex sejak dulu. Terutama Sehun.
Aku menggeleng pelan. "Aku-aku tidak kenal orangnya."
Aku bohong. Orangnya adalah si Park sialan yang jadi suamiku dua bulan kemudian.
"A-aku tak punya apapun saat ini. Kalian bebas sekarang, kalian tak harus melayaniku lagi." Kedua butlerku terdiam dan berkutat dengan pikirannya masing-masing. "Dan seharusnya aku tak datang kemari—ayah akan menghukum kalian kalau tahu. Mulai sekarang, jangan beri aku bantuan apapun. Ayah pasti sudah menyebarkan mata-mata untuk mengawasi kita."
Terdengar geraman tidak rela dari kedua sahabatku.
"Aku akan terus berada di sisimu, Tuan Muda. Aku sudah mengabdikan diriku untuk melayanimu."
"Benar, kami sudah disumpah dan sumpah itu akan terus berlaku sampai kapanpun."
Mereka ini benar-benar.
Aku melepaskan tubuh dari kungkungan mereka dan bergantian memandangi wajah khawatir yang terlihat jelas itu. "Aku akan baik-baik saja. Kita masih akan tetap jadi sahabat, hanya saja, untuk sementara waktu, kita perlu menjaga jarak. Kalian tentu paham yang ayah maksud dengan hukuman."
"Jadi dimana kau akan tinggal?" Tanya Kai sambil meremas tanganku.
"Entahlah, mungkin akan tinggal di jalanan atau yang lebih parah lagi, di bangku taman. Hahaha." Aku tertawa tapi tak satupun dari mereka yang menganggap itu lucu.
"Kau masih punya simpanan, Baekhyun—rumah, tanah, saham, emas dan sedikit tabungan. Kau bisa menggunakannya dan..."
"Tak apa, Kai. Aku hanya tak ingin ayah tahu tentang itu—apalagi Yoona dan Soojung. Mereka bisa merebutnya dariku seperti yang mereka lakukan pada warisanku."
"Apa yang bisa kami lakukan untukmu, Baek?"
Aku menggenggam tangan Sehun dan menatap wajah yang paling sedih kalau aku sedang sedih itu. "Jaga Anna untukku."
Sehun mendesah berat. "Aku mau tentu saja. Tapi..."
Aku tersenyum saat mengingat Luhan, butler Anna yang mengejar-ngejar Sehun setengah mati. Hubungan mereka sangat buruk bila dibandingkan dengan ratusan butler yang melayani keluarga Byun.
"Kau bisa Se—hueeeeek..."
Aku muntah di baju Sehun.
"Oh gosh—aku...aku minta maaf Sehuna..." Aku menutupi mulutku yang akan memuntahkan isi perutku lagi. Sebenarnya perutku sudah terasa tidak enak sejak di rumah ayah tadi. Rasanya mual dan kepalaku pusing.
"Baek? Kau baik-baik saja?" Sehun menepuk-nepuk pipiku dan mengabaikan fakta bahwa bajunya baru saja dihujani cairan berlendir menjijikkan yang berasal dari perutku.
"Kai! Cepat pergi ke apotik dan belikan apa saja yang bisa meredakan mual pada orang hamil." Perintah Sehun dan Kai langsung berlari keluar setelah meraih jaketnya. Anak itu, apakah dia bahkan punya uang di dalam dompetnya?
"Ck—Sehun, tak perlu seperti ini. Kau tahu, semua orang hamil pasti mengalaminya. Aku hanya—hueeeekkk..."
Sehun membopongku ke kamar mandi sebelum aku muntah untuk yang ketiga kalinya. Butler merangkap sahabat yang sudah kumiliki sejak usia 3 tahun itu mengurut tengkukku dengan lembut dan menunggui aku yang sedang memuntahkan seluruh isi perutku di toilet bowl.
"Baekhyun, aku tahu ini terdengar tidak sopan tapi..."
Aku membilas mulutku di wastafel dan melirik wajahnya yang terpantul di cermin. "...aku bisa bertanggung-jawab atas bayimu."
Sehun bergerak semakin dekat dan berdiri tepat di belakang tubuhku, sedikit menempel. "Aku mau jadi ayahnya. Kau tahu, aku mencintaimu sejak dulu, Baek. Kejadian ini membuatku terluka, kupikir kau tahu pasti itu."
Aku bergidik saat merasakan tubuh depannya tepat menempel di tubuh belakangku. Sehun—young master complex-nya semakin parah ternyata.
"Se-Sehuna, kau...terlalu dekat..." Tengkukku merinding saat Sehun mulai melingkarkan tangannya di perutku dan memandangi pantulan wajah kami berdua di cermin. "Sehun! Kau bisa mengotori bajuku!" Dan sebenarnya itu adalah muntahanku sendiri.
"Sehuna—kau..."
"Aku sadar siapa diriku, Baek. Aku hanya pelayan dan kau adalah Tuanku. Tapi aku tak bisa menahan perasaan ini lebih lama lagi. Menikahlah denganku, Baek—aku akan melayanimu dengan baik. Aku akan menjaga kalian berdua dan..."
Diantara semua hal di dunia ini, mata terluka Sehun adalah hal yang paling tidak bisa kutolak.
"Tidak, Sehuna. Ayah bisa membunuhmu kalau kau melakukannya. Aku baik-baik saja, sungguh. Biarkan aku yang menyelesaikan ini sendiri."
Sehun meremas pinggangku dan membalik tubuhku dengan sedikit kasar. "Tapi aku mencintaimu, Baekhyun. Kapan kau bisa melihatku sedikit saja?"
Aku tahu. Tapi aku memilih untuk mengabaikannya.
"Sehuna..." Aku memeluknya dengan erat, ewhh—bajuku ikut terkena muntahan jadinya. "Aku juga mencintaimu, sebagai sahabat, saudara—tidak, lebih dari itu malah. Aku mencintaimu lebih dari apapun. Hanya saja, aku tidak bisa."
Sehun balas memeluk dan mengusap rambutku. "Kau akan menemukan seseorang yang lebih baik dariku, janji." Ujarku sambil mempererat pelukanku.
Semoga saja.
Kuberitahu kalian satu rahasia, sebenarnya aku juga punya perasaan pada Sehun. Mustahil rasanya belasan tahun dia berada di dekatku tapi aku tak merasakan sesuatu. Dia tampan, baik, dan selalu melindungiku dari apapun. Kai memang memiliki young master complex terhadapku, tapi anak itu tak mencintaiku seperti halnya Sehun. Kai itu hanya ingin selalu berada di dekatku, tak lebih.
Aku juga menyukai Sehun, tapi sudah ada seseorang yang mencuri hatiku—tidak, mencuri keperjakaanku lebih dulu dari Sehun.
"Kau selalu saja menolakku, Baek." Nada sedih dari perkataan Sehun barusan menghujam jantungku tanpa ampun. Aku diam saja.
Aku juga diam saat bibirnya mulai mengecupi leherku. Aku juga diam saja saat kecupan itu berubah jadi jilatan lembut. "Aku mencintaimu, Baekhyun." Bisiknya di sela ciumannya di leherku.
"Aku tahu."
Sehun memegangi kedua bahuku dan merundukkan kepalanya. Saat bibirnya hendak menyentuh bibirku, aku langsung menahannya dengan tangan.
"Sehuna—kau tahu, aku belum melepas ciuman pertamaku."
Dia mengerang lemah. "Tapi si bajingan itu sudah menyentuhmu. Bukankah itu artinya kau sudah kehilangan ciumanmu?"
"Belum."
Sehun mendesah berat kemudian menjauhkan tubuhnya dariku. "Baiklah, maaf—kupikir aku sudah melewati batas kali ini. Aku selalu bilang kau itu berharga untukku, tapi aku selalu saja berusaha menidurimu.,"
Aku mengelus pipinya lalu tersenyum, "Kau menahannya dengan baik, Sehuna. Selama ini kupikir keperjakaanku akan hilang di tanganmu."
Yah, kalian tidak tahu saja butlerku yang satu ini bagaimana.
"Argh—kau membuatku makin mencintaimu, Baekhyun. Aku benci status tuan dan pelayan sialan ini."
"Aku juga benci, haha. Sudahlah, lepaskan pakaianmu dan ayo mandi bersama. Kita berdua bau muntahan soalnya."
Hey, jangan salah paham. Kami bertiga sudah terbiasa mandi bersama sejak kecil.
Oh Sehun
Apa Chanyeol sudah bilang pada kalian kalau aku sempat menghilang dua minggu setelah menciumnya tiba-tiba di gang sepi yang gelap? Oh, dia benar. Aku memang menghilang karena—malu. Selain itu, aku juga harus pintar-pintar bersembunyi dari ayahku yang gila.
Aku berpindah-pindah tempat selama dua minggu itu, kadang di apartemen Sehun, Kai atau menyewa hostel kecil di pinggir kota kalau bodyguard ayahku menangkap basah kami sedang bersama. Selama itu juga, mereka berdualah yang membiayaiku—makan, minum, ditambah lagi beli apa saja yang tiba-tiba menggugah seleraku. Mereka bilang aku mengidam dan bagusnya, mereka selalu menuruti apa saja yang kuinginkan.
Seperti halnya saat aku mengidam es krim rasa jagung. Atau permen kapas berwarna biru dan berbentuk Doraemon. Dan ada satu lagi yang menurutku aneh—tapi kata Kai itu karena aku memang mesum—aku menyuruh mereka men-download banyak sekali anime hentai ber-genre Yaoi dan kalau bisa yang uncensored. Aku akan menontonnya seharian sambil memakan banyak sekali snack.
Apa? Kalian ingin aku membahas tentang Chanyeol? Sayangnya tidak—aku masih tersinggung atas semua perbuatannya. Kuberitahu kalian, aku memang tulus ingin membantu melunasi hutang keluarga Park. Dan tentang Rolex itu, Choi Siwon yang memberikannya untukku sebagai hadiah pertunangan kami. Tampaknya Park marah dan salah paham atas sikapku—dia bahkan tidak percaya kalau aku betulan hamil.
Aku ingat, hari itu tepat dua minggu setelah aku mencium Chanyeol.
Bodyguard ayahku terus membuntuti kami dan itu membuat Sehun kesal. Dia bahkan sempat menghajar salah satu dari mereka dan mengancam akan membunuh—dia hanya takut terjadi apa-apa dengan bayiku kalau kami harus pergi dari satu tempat ke tempat lain untuk bersembunyi. Sehun itu sangat perhatian asal kalian tahu saja.
Ck—andai saja dulu Chanyeol memiliki 1% dari sikap perhatian Sehun itu.
Dan akhirnya Sehun membawaku ke studio pinjaman milik temannya. Kai tidak ikut karena dia bilang harus pergi untuk mengurus sesuatu. Awalnya biasa saja—aku menonton anime Yaoi sambil memakan snack dan Sehun hanya duduk di sebelahku menatap layar dengan wajah datar.
Tapi hari itu berbeda. Tiba-tiba saja Sehun memelukku dan kami saling bertindihan di sofa. Aku malu mengakuinya karena sebenarnya berbanding terbalik dengan sifatku yang terkadang berandalan—tapi Sehun memang sering mencoba meniduriku. Hanya mencoba, karena dia tidak pernah benar-benar melakukannya. Dia hanya berani mencumbu leherku dan mengelus tubuhku dari luar—lalu menangis menyesal setelahnya.
"Baekhyun, aku sudah tidak tahan..." Aku merinding hebat saat mendengar bisikan beratnya di telingaku sedangkan tangannya sudah bermain di pucuk dadaku. Jantungku langsung berdegup kencang tapi tak berusaha menepis sentuhannya.
Katakan saja saat itu aku gila. Mungkin Kai benar, aku memang mesum dari awal. Atau bisa jadi karena pengaruh anime yang kutonton, suasananya jadi semakin sensual. "Baek, kau indah sekali..." Geramnya saat menelusupkan tangan di punggungku.
Sehun adalah pelayan terbaikku dan dia berhak mendapat hadiahnya. "Cium aku, Sehuna. Bajingan itu sudah mendapatkan ciuman pertamaku." Balasku sambil berbisik di dekat bibirnya. Itu membuat Sehun semakin terbakar.
Dan setelahnya kami saling pagut. Ciuman pertamaku memang milik Chanyeol, tapi Sehun adalah orang yang pertama memainkan lidahnya di rongga mulutku. Rasanya memabukkan. Ugh, aku tak ingin menceritakan lebih detailnya pada kalian. Yang jelas, aku hanya bisa mendesah keras-keras setiap Sehun menyentuh permukaan kulitku yang sensitif.
Saat Sehun sudah akan memasukkan miliknya, tiba-tiba aku teringat wajah Chanyeol. Kenangan tentang betapa sakit persetubuhan paksa yang ia lakukan padaku hari itu menyeruak ke permukaan dan yang kuingat, aku mendorong Sehun dan berusaha memakai pakaianku kembali. Nafsu sudah membutakan mata anak itu, dia kembali menarikku dan—yah, aku hampir diperkosa untuk yang kedua kalinya.
Aku bersyukur karena Kai datang tepat waktu. Dia marah dan memukul Sehun—aku mengambil kesempatan itu untuk memakai kembali pakaianku yang berceceran. Kedua sahabatku itu biasanya sangat akur dan ini pertama kalinya aku melihat mereka berkelahi. Aku berteriak melerai keduanya tapi tak satupun dari mereka mengindahkanku. Dan puncaknya saat aku menarik-narik tangan Sehun yang terkepal hampir meninju wajah Kai. Sehun mendorongku kuat sekali dan aku terjatuh di dekat meja kaca tempat aku meletakkan laptop Kai yang masih menyala.
Pinggiran meja itu menggores tanganku.
Luka berdarah di kulitku ataupun nyeri di pinggulku tidak lebih sakit ketimbang menyaksikan dua sahabatku berkelahi gara-gara aku sendiri. Sehun panik dan terus saja minta maaf—sedangkan Kai dengan cepat merobek kemejanya dan membalut lukaku dengan cepat.
"Teruslah berkelahi dan aku tak akan pernah mau bertemu kalian lagi!"
Aku buru-buru pergi sambil membanting pintu. Betapa terkejutnya aku saat tersadar, ternyata aku sudah tiba di depan warung jajanan milik keluarga Park. Entah apa yang membawa kakiku melangkah sampai ke sana.
Dan kalian tahu, tadinya aku senang bisa bertemu Chanyeol lagi. Rasanya seperti ada kelegaan luar biasa saat dia tiba-tiba saja duduk di kursi di depanku dan bertanya tanganku kenapa. Kupikir sifat perhatian Sehun sudah menular padanya. Tapi ternyata aku harus menelan kekecewaan saat dia masih bicara dengan nada ketus dan bahkan mengusirku agar cepat-cepat pergi. Malam itu aku kembali tidur di bangku taman berselimutkan koran bekas.
Bad Days
Kupikir dengan melepaskan status sebagai putra Byun, aku akan mendapat kebebasan —ternyata tidak. Byun Tua itu benar-benar serius saat bilang akan mempercepat pernikahanku dengan Choi. Dia membuangku, tapi kemudian mencariku kemana-mana karena keluarga Choi juga ingin pernikahan itu dipercepat.
Besoknya hariku benar-benar buruk.
Byun Tua, Kyungsoo, Yoona, Soojung, Choi-mereka membuat semuanya semakin keruh. Aku melihat beberapa bodyguard di dekat taman tempatku tidur tadi malam dan saat itu juga aku langsung berlari kabur. Aku letih dan perutku sedikit tidak baik—dan akhirnya aku berhenti di sebuah minimarket.
Kedua sahabatku tak beda jauh, mereka juga dikejar oleh orang kiriman ayahku yang gila itu. Akhirnya aku menyuruh mereka agar datang dan keduanya marah saat melihat kebiasaan minum dan merokokku kambuh lagi. Apalagi aku sedang dalam keadaan hamil. Sehun langsung memelukku dan melupakan fakta bahwa tadi malam dia nyaris berakhir memperkosaku.
Sudahlah, yang jelas hariku benar-benar buruk.
Aku sempat terkejut saat Park tiba-tiba muncul dan memberiku tisu serta minuman. Tapi lebih terkejut lagi saat melihat ketiga kakakku datang menyusul—Yoona dan Soojung benar-benar mengancamku dengan menggunakan Anna. Kalian tahu, mereka membawaku paksa dari sana untuk menghadiri pernikahanku sendiri. Keluarga Choi sudah mengetahui kehamilanku dan mereka bersikeras dia harus digugurkan setelah pernikahan kami berlangsung.
Ya, seharusnya hari itu aku menikah dengan Choi.
Segala sesuatunya sudah dipersiapkan. Aula megah dengan hiasan mewah, para undangan yang merupakan orang-orang kuat di Korea, dan pengantin pria yang terlihat tampan dengan jas putih. Mereka menyeretku ke altar dalam keadaan kacau. Tubuhku dipegangi di kedua sisi dan aku meronta-ronta di sepanjang red carpet menuju tempat kami seharusnya mengucap janji.
Seharusnya.
Bayi kesayanganku tampaknya tidak suka ibunya menikah dengan pria selain si membosankan Park Chanyeol. Perutku terserang mual hebat dan seketika muntahanku mengotori jas mahal si Choi, menodai jubah Pastor dan aku pingsan.
Empat hari.
Mereka menyekapku di kamar selama empat hari dan rasanya sungguh menyiksa. Aku tidak tahu kenapa, tapi aku benar-benar merindukan si Park sialan. Padahal aku tidak seharusnya merindukan dia, hubungan kami tidak sebaik itu, kau tahu. Aku berhasil kabur dengan bantuan dua sahabatku. Tentu kalian tahu kemana aku pergi selanjutnya—tempat kerja si Park.
Aku mencoba memberikan penawaran, tapi dia menolakku mentah-mentah.
Mungkin karena aku terlalu sedih dan lelah, aku pingsan lagi malam itu. Bukannya aku tidak mensyukuri bayi kesayanganku ini, hanya saja, mengandung membuatku bertambah lemah. Aku terbangun di ranjang rumah sakit dan mereka memaksaku untuk membayar biaya administrasi.
Aku tak berharap si Park itu akan datang, tapi dia ternyata benar-benar muncul malam itu.
First Laugh
Aku tak pernah salah memperkirakan bagaimana cara bermain ayahku. Dia menyebar orang-orangnya untuk membawaku kembali pulang, menikahkanku dengan si Choi dan ujung-ujungnya pasti tentang harta. Pria tua itu—dia sendiri yang bilang aku ini sudah dibuang, tapi tetap saja dia memaksaku untuk pulang.
Seluruh pakaianku basah dan kotor, aku hanya memakai seragam pasien berwarna putih hijau saat mengendap keluar. Tepat ketika aku berbelok di ujung koridor, tiga orang berjas hitam terlihat keluar dari lift dan berlari menuju kamarku tadi. Aku cepat-cepat kabur, menundukkan wajahku sambil berjalan dan berusaha keras menghindari siapa saja yang berseragam hitam.
Mereka berjumlah banyak sekali, mungkin ada puluhan—semuanya bertubuh tinggi dan besar-besar.
Aku menyelinap di balik gerombolan suster yang sedang lewat, pura-pura berbicara dengan sekumpulan pasien lanjut usia, bersembunyi di dekat pilar—sampai saat tiga orang bodyguard melihat keberadaanku. Dengan langkah terhuyung, aku berusaha keras memperlebar jarak dengan para pengejarku yang hanya terpaut beberapa meter.
Menghindar dari serangan dan berkelahi adalah keahlianku sebelum hamil. Bisa saja aku melawan mereka seperti yang biasa kulakukan, tapi ada bayi kecil rapuh yang sedang berkembang di dalam tubuhku. Beberapa hari ini bayiku terancam karena aku yang kurang bisa menjaganya, tak akan kubiarkan apapun mengambilnya dariku.
Karena itulah aku memilih untuk menyerah.
Mereka sudah berhasil menangkapku dan memanggil bodyguard lainnya melalui earpiece yang tersemat di telinga, tapi seseorang tiba-tiba saja datang dengan sok pahlawannya dari arah belakang. Dia memukuli tiga bodyguard yang memegangiku, mematahkan hidung salah satu di antaranya dan menarikku agar bersembunyi di balik pot bunga besar yang ada di sisi timur rumah sakit.
Langkah-langkah kaki mendekat secara bersamaan dan mereka menggeram marah karena kehilangan jejakku. Beberapa di antaranya bahkan mengumpat dan menyumpahiku—tentu saja, gagal menangkapku akan berdampak buruk bagi pekerjaan mereka.
"Tenanglah, kau aman sekarang."
Aku terlalu panik untuk menyadari kalau Chanyeol sedang memelukku saat itu. Tubuhnya hangat dan lengannya melingkupiku dengan sempurna. Nafasnya memburu dan jantungnya berpacu cepat saat mengawasi keadaan sekitar. Awalnya nyaman, tapi aku merasakan getaran yang aneh saat menyadari pipiku menempel di dadanya.
"Kau baik-baik saja? Kau bisa berjalan?" Aku melepaskan diri dari dekapannya dan berdiri dengan cepat. Gerombolan bodyguard itu sudah pergi naik tujuh mobil hitam yang terparkir di depan sana dan aku harus segera pergi sebelum mereka kembali lagi.
"Aku baik. Terimakasih sudah menolongku." Chanyeol menarik tanganku dan membuatku berbalik menghadapnya. "Maaf—kupikir kau berbohong soal 'mereka'."
"Dan kupikir kau sudah pergi sejak setengah jam lalu."
Dia menggaruk rambut keritingnya yang terlihat lucu. "Yah, aku tadinya mau pergi—tapi pria berpakaian hitam itu menyebut-nyebut namamu di meja resepsionis. Jadi kupikir..."
"Hm, aku mengerti. Terima kasih, aku harus segera pergi."
"Baekhyun..."
Aku urung melangkah karena si Park itu menyebut namaku. "...udaranya dingin. Mungkin agak bau karena aku habis berlarian, tapi mudah-mudahan bisa membuatmu tetap hangat." Dia melepas jaket hitamnya dan memasangkan benda itu di tubuhku. Aroma tubuhnya menerpa hidungku dan aku menyukainya. Memang bukan aroma yang berasal dari parfum mahal atau apa—hanya bau alami tubuhnya dan itu membuatku merasa rileks seketika.
Dia mengancingkan risletingnya dan menepuk debu yang menempel di bagian bahu. "Jaketnya kebesaran. Haha. Kau ini ternyata kecil sekali."
Dan aku terpesona melihat kekehannya. Itu pertama kalinya Chanyeol tertawa dengan tulus untukku dan aku hampir saja menangis, serius. Seluruh ekspresi benci dan sinis yang ia tunjukkan untukku hilang, berubah menjadi raut ramah dan bersahabat. Duniaku seperti terhenti waktu itu. Suara tawanya terdengar bagai bel terindah yang mengisi ruang kosong di otakku dengan cepat.
"A-aku harus pergi, Park..." Aku cepat-cepat menguasai keadaan dan melangkah pergi meninggalkannya—sedikit terhuyung karena badanku masih lemas. Dia meneriaki namaku dan aku pura-pura menulikan telinga. Tak ada gunanya berharap lebih karena dia tak akan menerimaku sampai kapanpun, terutama bayi kesayanganku yang malang dan lemah ini.
"Yaak! Kalau aku ingin ikut ke rumahku, arahnya bukan ke sana!"
Langkahku melambat dan akhirnya berhenti. Chanyeol berlari kecil menyusul dan dengan cepat sudah ada di sampingku. "Aku bilang arahnya bukan ke sana—tapi ke sana." Dia menunjuk arah di belakang kami.
Aku masih diam dan menatap wajahnya yang sialnya terlihat tampan, siapa tahu dia sedang mempermainkanku atau apa. "Sudah jam 3 lewat lima menit—bus terakhir sudah lewat berjam-jam lalu dan aku tak punya sisa uang sepeserpun." Ujarnya sambil mengeluarkan isi sakunya yang kosong melompong.
"Apa kau punya uang? Ah—benar, tadi saja kau mau meminjam uang dariku." Dia tertawa bodoh hingga seluruh susunan gigi rapi dan putihnya terlihat.
Aku tetap diam karena untuk sesaat lamanya, si Park itu terlihat konyol di mataku. "Sudahlah—rumahku jaraknya sejam jalan kaki dari sini. Kau mau ikut aku jalan kaki atau..."
Mulut dan hatiku tak bisa berkompromi. Hatiku ingin aku pergi tapi mulutku bilang, "Aku mau."
"Baiklah. Ayo ikut aku."
Dan kami berputar haluan, jalan kaki di pagi buta yang dingin dengan suasana yang benar-benar canggung. Dia berusaha menemukan bahan pembicaraan tapi aku sedang tidak mood untuk mengobrol. Perutku sedikit kram, tubuhku masih lemas dan mataku rasanya berat sekali.
Chanyeol dengan sigap menangkap tubuhku yang terhuyung karena tersandung batu, untung saja tidak sempat jatuh. "Heish, apa susahnya sih tinggal bilang kalau kau ini capek dan mengantuk?"
Dia memperbaiki letak jaketku dan memasangkan topinya. "Naiklah, biar kugendong." Chanyeol berlutut dan mengarahkan punggungnya padaku. Permukaan lebar itu terlihat nyaman untuk dijadikan tempat bersandar dan tahu-tahu aku sudah berada di punggungnya, terayun-ayun mengikuti gerakannya saat melangkah.
"Tidurlah, rumahku masih setengah jam lagi dari sini."
Aku benar-benar lelah saat itu. Kedua tanganku melingkar erat di lehernya dan kepalaku bersandar di pundaknya. Dia berhenti sesekali untuk membenarkan posisiku kemudian lanjut berjalan. Posisi yang seperti itu membuat hidungku menempel langsung dengan kulit pundaknya—si Park itu punya aroma yang benar-benar memabukkan. Mungkin karena tubuhku yang semakin berat atau karena dia memang ingin saja—si Park itu melangkah lambat-lambat dan terkesan santai.
Yang jadi pertanyaannya, kenapa kami tidak naik taksi saja dan ongkosnya biar Mama Park yang bayar di rumah? Atau si Park itu bisa menggadaikan ponselku untuk membayar taksi atau apalah.
Dan pertanyaan itu akhirnya terjawab beberapa bulan kemudian setelah kami menikah.
"Aku hanya ingin mendekatkan diri denganmu."—itulah jawaban Chanyeol saat kutanya. Cih, hanya ingin mendekatkan diri katanya? Jelas-jelas aku butuh berminggu-minggu yang penuh penyiksaan hanya untuk membuat dia mencintaiku. Oh, mungkin dia lupa apa yang terjadi keesokan harinya di kediaman keluarga Park.
Roller Coaster
Tadinya kupikir si Park itu akan tetap baik padaku, dia kan sudah menolongku di rumah sakit dan juga menggendongku sampai ke rumahnya. Kupikir juga hubungan kami akan semakin mudah—eung, aku tidak tahu sebenarnya apa yang kuharapkan. Sedikit perhatian mungkin?
Tapi ternyata tidak.
Keesokan harinya, aku terbangun di kamar berukuran kecil milik si Park dengan kepala yang sakit luar biasa. Aku tahu itu kamarnya dari tempelan poster grup band luar negeri dan sebuah gitar yang bersandar di dekat meja belajar. Tapi sebenarnya bukan itu yang jadi masalahnya—teriakan Papa Park dan tangisan Mama Park dari ruang depanlah yang membuatku diserang rasa takut tiba-tiba.
"Kau menghamilinya? KAU MENGHAMILI PUTRA TUAN BYUN?"
Praaaang.
Aku beringsut turun dari ranjang dan berjalan gontai menuju pintu. Kamar Park berhadapan langsung dengan ruang depan sehingga aku bisa mendengar dengan jelas semua yang mereka katakan. Pintunya kubuka sedikit dan aku melihat Chanyeol berlutut di bawah kaki ayahnya. Ada pecahan vas bunga berserakan di dekat mereka.
"Ya Tuhan, Chanyeol..." Mama Park menangis sambil menutupi mulut. Wajah keriput Papa Park tampak memerah dan matanya mendelik menatap putranya itu. Aku tidak bisa melihat seperti apa ekspresi si Park karena posisinya yang berlutut membelakangiku.
"Kau sadar apa yang telah kau lakukan? Tuan Byun bisa membunuh kita semua karena kau sudah merusak masa depan putranya!"
Lututku gemetaran dan aku memegang pinggiran pintu agar tidak jatuh.
"Aku membesarkanmu supaya jadi anak baik-baik tapi kau malah tega berbuat seperti itu. Kita ini miskin, kau seharusnya sadar siapa dirimu sebenarnya! Ayo kita temui Tuan Byun dan bawa pulang Baekhyun—kita harus memohon maaf karena su—"
"Aku tidak mau, ini bukan salahku sepenuhnya. Dan appa juga tidak harus minta maaf pada Tuan Byun."
Si Park mendongak dan bisa kulihat raut Papa Park semakin kelam saja. "Apa? Bukan salahmu? BUKAN SALAHMU? Chanyeol, kau—"
"Aku melakukan itu karena marah, appa—Baekhyun sudah memperkosa dan membunuh temanku. Aku hanya balas dendam padanya. Dia menyuap pihak kepolisian agar terbebas dari hukuman dan..."
"Baek-Tuan Muda Baekhyun..." Mama Park tanpa sengaja mendapatiku di mengintip melalui celah pintu dan seketika wajahnya memucat. Perhatian ketiganya teralih padaku dan si Park langsung berdiri dari posisi berlututnya. Wajah bersahabat yang ia tunjukkan tadi malam berubah menjadi wajah penuh kebencian, seperti biasa.
"...dia hanya menjebakku, appa."
Hatiku luar biasa sakit.
Salahkah kalau aku mengharapkan dia bersikap baik sedikit saja padaku?
"Aku memang melecehkannya, tapi aku sangat yakin kalau yang ada di kandungannya itu bukan anakku! Appa, eomma—percayalah padaku sekali ini saja, Baekhyun hanya menjadikanku kambing hitam atas kejadian ini."
Aku tak berkata apapun, hanya memandangi wajah si Park yang terlihat menyeramkan dengan mata memerah dan tatapan sinis itu. Seketika aku langsung mengutuki hatiku yang lemah karena mudah sekali terpesona dengan tawanya tadi malam.
"Anak itu, dia adalah milik Oh Sehun—sahabat sekaligus pelayannya sendiri."
Rasanya seperti dihantam batu berbobot jutaan ton.
"Aku punya bukti..."
Si Park berjalan menghampiriku, membuka pintu kamarnya semakin lebar dan melemparkan ponselku tepat di dada. Aku menangkap benda itu sebelum jatuh meski tanganku gemetaran.
"Mau mengelak lagi, Byun? Kali ini kau mau bilang apa lagi, hah?" Ujarnya dengan sinis. Aku mengalihkan pandangan pada layar ponselku. Pesan dari Sehun, sepertinya dikirim tadi malam.
Baekhyuna, apa bayi kesayanganku baik-baik saja?
Baek, aku mengkhawatirkanmu. Kenapa kau tak mengangkat panggilanku? Aku rindu.
Baekhyunku, jaga selalu kesehatanmu dimanapun kau berada. Kita pasti bisa bersatu lagi setelah suasananya mendingin. Aku dan Kai baik-baik saja kok.
Baek, apa kau masih marah karena aku menyentuhmu waktu itu? Tolong maafkan aku.
Pembelaan macam apa lagi yang bisa kulakukan? Semuanya terlihat sempurna.
"Lihat? Dia bahkan tak bisa mengatakan apapun lagi, eomma. Dia ini memang pembohong besar! Hey—aku curiga, jangan-jangan kau mengancam Kyungsoo agar tidak menceritakan apa yang sebenarnya terjadi malam itu. Iya kan?"
Waktu itu, aku hanya diam saja.
"Sudah kuduga, ini semua hanya permainanmu, Byun Baekhyun. Kau sungguh picik—dasar iblis."
"Chanyeol! Perhatikan ucapanmu!" Papa Park berteriak dari tempatnya dan melirikku dengan takut. Pasangan tua itu tampak mengkerut ketakutan, dan aku tahu pasti itu karena mereka terintimidasi setelah mengetahui statusku sebenarnya. Aku tidak tahu sebanyak apa yang sudah Park ceritakan.
"Kau benar, Park. SEMUA yang kau katakan itu BENAR." Aku tersenyum sinis dan berjalan melewatinya.
"Bibi, Paman—maaf. A-aku harus pergi sekarang juga dan...terima kasih karena sudah membiarkanku tidur di sini tadi malam." Aku membungkuk hormat dan memberikan senyum terbaikku meski hatiku luar biasa perih.
"Tu-tuan Muda..." Mama Park berlutut di hadapanku tapi aku langsung menahannya. "Jangan panggil aku tuan muda, Bibi. Chanyeol benar, aku memang sedang menjebaknya—aku minta maaf atas itu." Aku melirik Chanyeol dan mati-matian menahan agar tidak menangis di depan mereka.
"Tu-Tuan Muda...maafkan putra kami..." Kali ini Papa Park yang membungkuk dalam-dalam dan tiba-tiba saja Chanyeol membentak ayahnya sendiri.
"Appa! Berhenti merendahkan dirimu sendiri di hadapan iblis sepertinya! Dan kau Byun Baekhyun—cepat pergi sebelum aku menyeretmu keluar!"
Dan aku benar-benar pergi saat itu. Meninggalkan kediaman keluarga Park tanpa setetes airmatapun yang jatuh. Kupikir aku akan menangis setelah mendengar semua kecaman Chanyeol untukku, ternyata tidak.
Aku mencoba tegar demi bayi kecil malangku di dalam sana yang harus mendengar ucapan kasar ayahnya untukku. Kalau diingat-ingat lagi, aku jadi ingin menjambak si Park itu sampai dia botak. Dulu itu dia selalu saja membuat perasaanku naik-turun tak karuan.
Getting Worse
Aku tahu dari Luhan, butler Anna, Sehun dan Kai dihukum oleh ayahku dan mulai beberapa saat lalu mereka resmi menjadi pelayan kedua kakak iblisku. Sehun menjadi butler Yoona dan Kai menjadi milik Soojung. Kalian tahu itu artinya apa? Aku kehilangan dua orang terdekatku sekaligus. Kedua kakakku bisa saja memerintahkan mereka untuk berbalik memusuhi dan mencelakakanku—bisa saja, karena kedua kakakku itu benar-benar ratunya setan.
Dan hari-hariku semakin memburuk saja.
"Baekkie? Apa kabar? Aku merindukanmu, haha."
Entah darimana Kyungsoo tahu tentang tempat persembunyianku, tapi aku menemukan dia berdiri di depan pintu studio milik teman Sehun tiga hari setelahnya. Wajah lelaki itu tampak menyebalkan seperti biasa, tapi aku sedang tidak mood untuk melawannya jadi kubiarkan saja dia masuk.
"Berhenti basa-basi dan katakan tujuanmu yang sebenarnya." Kataku datar. Kyungsoo mengerucutkan bibir sambil memperhatikan seisi studio, melangkah lambat-lambat untuk menyentuh meja kaca dan menyenggol vas bunga dengan sengaja.
"Ups—maaf, aku sengaja." Dia terkekeh saat benda itu pecah berkeping-keping di lantai. Lelaki menyebalkan itu kemudian duduk di sofa sambil menaikkan kaki di atas meja.
"Baekkie~ terimakasih karena sudah angkat kaki dari rumah ayah—aku jadi bisa menempati kamarmu. Kau tahu, aku fans berat kamarmu sejak dulu."
Kupikir kalian sudah bisa mengerti apa hubunganku dengan lelaki ini.
"Kalau kau ingin tahu kabar Anna—dia baik. Tapi kalau aku tidak salah ingat, kemarin levernya bermasalah lagi dan—yah, begitulah." Kyungsoo berkata dengan nada santai sambil mengedikkan bahu sok prihatin.
"Dan kabar gembiranya, ayah sedang mempertimbangkan posisiku di perusahaan. Sama halnya dengan kepemilikan warisanmu. Yoona dan Soojung itu memang menyebalkan sekali, ya? Tapi tak apa, asal tujuanku tercapai, aku mau-mau saja berbagi warisanmu dengan mereka."
Aku marah, tapi sebisa mungkin mempertahankan raut datar di wajahku. Kyungsoo akan sangat senang kalau aku sampai terpancing oleh ucapannya. Itulah yang ia inginkan.
"Oh, benarkah? Baguslah—kuharap tujuanmu tercapai segera. Tak kusangka akan secepat ini—kau hebat, Kyungie."
Kyungsoo tersenyum manis sok dibuat-buat.
"Kau juga hebat, Baekkie. Kau berhasil menghancurkan hidup Park Chanyeol—selamat. Ayahnya masuk rumah sakit karena serangan jantung dan mereka tak punya uang untuk biaya perobatannya. Mungkin mereka akan membiarkannya mati terlantar seperti pasien miskin lain atau...entahlah."
Kali ini, aku tak berhasil mempetahankan wajah datarku. Ucapan Kyungsoo barusan menggoyahkan semuanya dan tiba-tiba saja lututku lemas.
"A-apa katamu? Ayah Chanyeol? Sejak kapan?"
Dia tesenyum miring, "Tiga hari lalu. Kenapa? Kau khawatir? Sudah kuduga—kau memiliki perasaan khusus pada anak miskin itu."
Tiga hari lalu. Aku langsung bisa menduga kalau itu ada hubungannya tentang berita kehamilanku yang membuat keluarga Park terkejut. Bukan sindiran Kyungsoo tentang 'perasaan khusus' yang membuatku panik, tapi keadaan ayah Chanyeol-lah yang membuatku khawatir. Bagaimana kalau mereka benar-benar tak bisa membayar biaya perobatan dan pihak rumah sakit akan menelantarkannya?
Tapi kenapa aku bahkan khawatir?
"Hey—kenapa wajahmu serius sekali seperti itu? Sudahlah, dia itu sudah tua—sudah pantas untuk mati."
"Jaga mulutmu, Kyungsoo! Pergi dari sini dan jangan ganggu hidupku lagi! Aku tidak peduli dengan harta warisan yang kau incar atau apapun tujuanmu selanjutnya—aku sudah bukan bagian dari Byun. Aku sudah hancur dan kuharap kau puas. Tinggalkan aku, kumohon."
Kyungsoo terbahak lalu bangkit dari sofa. "Belum berakhir, Baekkie. Kuharap kau akan lebih hancur dari ini. Bagaimana kalau kuhancurkan sekalian bayi yang kau kandung?"
Aku menahan tanganku agar tetap terkepal di samping paha.
"Haha, aku hanya bercanda. Baiklah, aku pergi dulu. Sampai jumpa."
Dan keesokan harinya malah lebih buruk. Aku tidak tahu kenapa hal-hal buruk terus menghampiriku belakangan ini. Mungkin ini karma atas tingkah berandalanku sewaktu masih sekolah. Entahlah.
Seseorang mengetuk pintu dengan kasarnya, nyaris mendobrak—dan tebak apa, Park Chanyeol langsung melayangkan pukulan di wajahku saat aku membukakan pintu. Tidak hanya di wajah, dia juga memukul hidungku sampai mimisan kemudian mendorongku sampai jatuh terduduk di sofa.
"Sudah berulang kali kukatakan padamu, sialan, aku tak butuh uangmu dan berhenti ikut campur atas masalah keluargaku!"
Dia berteriak marah sambil mencampakkan kertas-kertas kecil berisi kwitansi pembayaran. Aku mengambilnya dan terkejut begitu melihat namaku tertera jelas di sana—aku melunasi biaya rumah sakit Papa Park yang berjumlah satu juta won lebih sedikit.
Kerjaan Kyungsoo, aku sangat yakin itu.
"Siapa yang menyuruhmu melakukan itu? Memangnya aku ada memintamu? JAWAAABB!" Dia meraih bagian depan kaosku dan akan memukulku sekali lagi—kali ini aku berhasil menangkap kepalan tangannya yang hampir mengenai wajahku.
Chanyeol mengendurkan cengkeramannya di kaosku lalu memundurkan tubuh tiga langkah. "Kau selalu saja mengandalkan uangmu dalam segala hal. Apa yang bisa kau lakukan tanpa hartamu itu, hah?"
Aku diam saja sambil menyeka hidungku yang berdarah. Syukurlah aku jatuh di sofa, bukannya di lantai—bisa-bisa bayi kecil malangku benar-benar hancur di dalam sana karena ulah ayahnya sendiri.
"Aku sangat sadar kalau keluargaku tidak mampu—tapi bukan berarti kami harus bergantung pada uangmu. Kau paham, tidak?" Suara Chanyeol sedikit bergetar dan kedua matanya memerah. Sedikit banyaknya aku mengerti apa yang ia rasakan.
"Iya, maaf. Aku paham." Jawabku pelan. Kepalaku terasa bagai berputar saat aku mencoba berdiri, tapi tetap kupaksakan.
"Aku paham, Park Chanyeol. Aku minta maaf—atas semuanya. Maaf karena sudah melakukan kejahatan itu terhadap temanmu, maaf karena sudah merusak hidupmu, maaf karena sudah menjebakmu, maaf karena sudah membuat ayahmu sakit. Semua ini memang salahku, Park."
Si Park itu tak berkata apapun. Mata tajamnya menatapku seolah ingin mencabik setiap sel di tubuhku tanpa sisa.
"Itu kan yang ingin kau dengar dariku?" Aku tersenyum sinis. "Sayangnya hanya dalam mimpimu, Park. Bukan aku yang seharusnya minta maaf, tapi kau!"
Chanyeol sudah hampir melayangkan tangannya tapi langsung kusanggah dengan kalimat yang tak kalah tajam dengan tatapan matanya. "Kau mau memukulku lagi? Silahkan—sepertinya kau memang hanya bisa menyelesaikan masalah dengan cara kekerasan."
"Kau! Kau benar-benar manusia iblis, Byun Baekhyun!"
"Memang. Baru tahu? Kau membenci manusia iblis sepertiku, kan?" Aku mengangkat daguku tinggi-tinggi. "Kenapa tidak kau bunuh saja aku sekalian? Kau tahu, aku juga sudah lelah dengan semua ini, Park. Terutama kau—aku lelah buang-buang waktu menjelaskan semuanya. Kau dan kepala batumu itu hanya percaya pada apa yang orang lain katakan. Teruslah seperti itu, biar kau puas."
Aku melirik tinju Chanyeol yang sudah terkepal di kedua sisi tubuhnya. Rahang lelaki itu mengeras dan dengusan nafasnya terdengar memburu. Dia pasti sangat marah sekarang.
"Aku sudah bilang padamu dulu, aku bisa merepotkan kalau kau membiarkanku tetap hidup. Beginilah akibatnya, semua jadi semakin buruk." Aku menyenggol bahu Chanyeol dengan kuat lalu berjalan pelan ke arah dapur kecil di ruangan lain. Tak butuh dua menit, aku kembali ke ruang tamu tempat si Park masih berdiri dengan tubuh sedikit bergetar menahan amarah.
"Lagipula kau bukan satu-satunya orang yang ingin membunuhku. Kau tahu kakakku—mereka pernah mencoba menghabisiku dengan cara yang, ah, sudahlah. Aku malas membicarakan mereka. Ini, ambillah." Aku menyodorkan pisau berkilat yang kuambil dari konter dapur barusan. Karena Chanyeol hanya diam, aku meraih tangannya dan memaksa dia menggenggam benda itu.
"Jangan tusuk perutku—aku tidak mau bayiku kesakitan. Kau bisa menikamkannya tepat di jantung atau di leherku juga tak apa. Dan ingat, Park, kau harus membuang mayatku jauh-jauh kalau kau tak ingin terkena masalah di kemudian hari."
Mungkin aku sudah terlalu frustrasi sehingga semua kalimat itu keluar tanpa beban dari mulutku sendiri. Aku kelewat santai, seakan-akan mati bukanlah sesuatu yang perlu ditakutkan.
"Kau tahu, tadinya aku ingin berubah, Park. Aku mau jadi seseorang yang lebih baik lagi karena aku punya bayi untuk diperjuangkan. Aku berharap bisa mengurus bayiku sampai dia besar, jadi orangtua yang baik untuknya dan bisa menafkahi hidupku sendiri. Jadi seorang berandalan yang selalu diremehkan itu menyebalkan, kau tahu? Aku bahkan berpikir mau jadi guru saja di sekolah TK milik Anna, haha—sepertinya tak akan kesampaian."
Anna. Aku meneguk ludahku dengan susah payah saat wajah cantik kakak kesayanganku melintas.
"Park? Tunggu apa lagi?"
Tangan Chanyeol yang sedang memegang pisau itu tampak gemetaran. "Jangan bilang kalau kau takut membunuhku? Haha—tenang saja, Park. Aku tak akan menghantuimu kalau aku sudah mati nanti, jangan takut begitu."
Chanyeol masih tetap diam tapi matanya masih menatap mataku dalam-dalam. Aku menarik nafas panjang dan berusaha untuk mengumpulkan kata-kata yang tepat.
"Bukan hanya hidupmu yang hancur, aku juga. Kau mana mungkin tahu kalau aku sering bermimpi buruk karena ingat apa yang sudah kau lakukan padaku dulu. Hanya karena aku ini pria bukan berarti aku tidak bisa mengalami trauma. Memangnya kau tahu bagaimana rasanya diperkosa?"
Kali ini aku tak bisa menahan buliran panas yang menggenangi mataku. Biar saja dia menganggapku cengeng—aku memang cengeng kok.
"Kau juga mana mungkin mengerti bagaimana sakitnya perutmu ditumpangi manusia lain. Memangnya kau pernah terbangun dengan kepala pusing lalu muntah-muntah sepanjang hari? Apa kau bahkan tahu kalau aku harus berhati-hati karena hal sekecil apapun bisa membahayakan janinku? Ck—kau juga memukulku tadi. Kau pikir itu tidak sakit?"
Aku menyeka mataku dengan punggung tangan.
"Yang kau tahu hanyalah menyalahkanku. Terus saja lakukan itu, Park—kau akan menyesal suatu hari nanti."
Chanyeol menjatuhkan pisau itu dan mencengkeram daguku kuat sekali. Aku terpaksa mendongak dan menatap matanya menyimpan jutaan dendam untukku.
"Aku tak peduli. Itu menyakitkan untukmu atau tidak, bukan urusanku. Kau pantas mendapatkannya dan aku tak akan pernah menyesal sampai kapanpun. Peringatan terakhir, jangan pernah ikut campur dalam masalah keluargaku. Mengerti?"
"Kau kejam sekali, Park. Aku membencimu!"
"Kau lebih kejam dan aku lebih membencimu!"
Sudahlah, aku tak terlalu ingat bagaimana Chanyeol pergi dari studio hari itu. Yang jelas, dia tidak jadi membunuhku—bahkan dia menyempatkan diri menendang pisau berkilat itu sampai masuk ke dalam kolong lemari sebelum pergi. Kami berpisah dengan wajah yang menunjukkan kebencian untuk satu sama lain. Kupikir kami akan saling membenci selamanya. Ternyata tidak.
Weird Park
Kuberitahu kalian, masalahku itu dulunya berat sekali. Semua pihak menekanku dan aku tak punya siapapun yang bisa kujadikan sandaran. Anna, Luhan, Sehun dan Kai—mereka semua dibatasi pergerakannya oleh ayahku. Mereka ingin membantu tapi si Byun Senior itu mengancam akan memberikan hukuman yang berat.
Dia memang sudah tidak memaksaku pulang lagi, tapi dia benar-benar menjauhkanku dari Anna dan sahabat-sahabatku.
Belum lagi betapa marahnya keluarga Choi karena merasa dipermalukan oleh tingkahku di altar dulu. Oh, jangan lupakan Kyungsoo dengan ambisinya yang ingin menghancurkanku sampai ke akar-akarnya. Bisa dikatakaan, itulah saat-saat terberat dalam hidupku.
Tapi sebenarnya, masalah terbesarku adalah Park Chanyeol.
Aku ingat, waktu itu kandunganku memasuki usia 8 minggu. Teman Sehun si pemilik studio mengatakan kalau tempat itu akan disewakan pada orang lain—dia mengusirku dengan halus dan aku terpaksa pergi dari sana.
Kesempatan itu kupergunakan untuk menghilang sejenak dari orang-orang terdekatku, Anna dan kedua sahabatku yang lain. Ponselku sudah kujual dan aku tak punya pemasukan dari manapun. Aku putus asa waktu itu. Maksudku, kalau kalian jadi aku, bisakah kalian tidak putus asa?
Taehyung, salah seorang temanku saat SMA menawari untuk jadi joki balap liar dan aku menyanggupinya. Tapi hanya empat hari karena si Park sialan—yang entah bagaimana bisa ada di sana—menyeretku keluar dari mobil tepat setelah aku memenangkan balapannya. Kami kembali terlibat adu mulut dan dia menudingku berbohong soal kehamilanku.
Dia bilang tidak ada orang hamil yang dengan sukarela menantang maut dengan mengendarai mobil berkecepatan tinggi—kecuali kalau hamilnya bohongan.
Selanjutnya aku bekerja di sebuah klub atas rekomendasi Luhan secara diam-diam. Pemilik bar itu adalah Zhang Yixing, kenalannya yang sama-sama berasal dari China. Dan sialnya, Park Chanyeol juga bekerja di sana. Aku tidak tahu ada berapa puluh pekerjaan paruh waktu yang ia lakoni, aku selalu saja bertemu dengannya tanpa kuinginkan.
Awalnya aku bekerja sebagai waiter. Tapi Park Chanyeol membentakku di depan tamu-tamu lain di hari keduaku bekerja dan dia membuatku menangis waktu itu. Hanya karena melihat tangan nakal seorang tamu yang membelai bokongku dari luar, si Park itu memakiku dan kembali menuding kalau kehamilanku itu palsu.
Padahal waktu itu perutku sudah mulai menggembung meski tidak kentara.
Selanjutnya, aku minta dipindahkan jadi tukang cuci piring saja. Dan tebak apa—si Chanyeol itu kembali mengacaukan semuanya. Dia menarik tanganku dengan kasar saat aku sedang mencuci piring jam 4 pagi lalu menyudutkanku di dekat toilet rusak. Piring yang kupegang jatuh dan pecah waktu itu, membuat telapak kakiku terluka sedikit. Chanyeol kembali membentakku dan menuduh kalau aku ini tidak benar-benar hamil. Dia bilang, tidak ada orang hamil yang mencuci piring seharian—kecuali kalau hamilnya bohongan.
Aku sungguh tidak tahu dia itu kenapa sebenarnya.
Yixing Ge yang baik hati itu tidak memecatku, malah dia menawari untuk pindah ke lantai dua klubnya saja—menjaga tempat bilyard. Dia bilang aku bisa dapat uang lebih banyak kalau mau diajak taruhan oleh pelanggan tempat itu, diluar uang tips dan gaji bulananku. Tentu saja aku mau.
Dan hari-hari penuh ketegangan urat kembali menghampiriku.
Saat itu kandunganku sudah menginjak minggu ke-10. Bekerja di tempat bilyard lantai 2 klub milik Yixing Ge tidak terlalu buruk—malah aku bisa membeli susu hamil yang pertama kalinya untuk diriku sendiri. Aku ini mahir bermain bilyard karena Kai dan Sehun sering mengajakku bermain dulu—jadinya aku sering memenangkan taruhan dengan para tamu. Tidak terlalu buruk memang, sampai ketika si Park kembali menghancurkan semuanya.
Ketika dia sedang mengantarkan pesanan minum di lantai dua, dia melihat seorang tamu berusaha menjamahku. Aku tidak apa-apa, sungguh. Tamu itu mabuk dan dia tidak benar-benar menyentuhku selain mendaratkan bibirnya di pipiku. Oke, tangannya juga sempat singgah di selangkanganku dan meremas tempat itu penuh nafsu. Tapi aku tidak apa-apa, serius.
Dan Chanyeol marah besar tanpa kuketahui alasannya.
Si sialan itu menarikku ke salah satu meja bilyard kosong di ruangan paling pinggir dan kembali memakiku dengan kata-kata kasar. Dia bilang aku ini terlalu murahan dan suka cari perhatian pada siapa saja. Dia juga bilang aku ini mirip jalang penggoda dan ujung-ujungnya, dia mendorongku sampai terbaring di meja bilyard berwarna hijau itu lalu menindihku dengan tubuh besarnya itu.
"Aku benar-benar membencimu, Byun Baekhyun!" Teriaknya keras sambil menciumi wajahku yang sedikit berkeringat. Aku menangis waktu itu. Rasanya benar-benar diperlakukan seperti seorang jalang. Dia meneriakkan kata-kata penuh makian tapi bibirnya menjelajah setiap inci kulit leherku dengan kasar. Oh, jangan lupakan bagaimana dia memelintir nippleku dari balik baju sedangkan lidahnya membelit lidahku dengan penuh amarah.
Aku tidak mengerti dia itu sebenarnya kenapa.
Saat tangan besar Chanyeol menyentuh bagian selangkanganku, aku berontak hebat dan berusaha mendorongnya. Lelaki itu kembali melumat mulutku sampai rasanya kedua bibirku membengkak. Aku meneriakinya dan dia balas meneriakiku dengan kalimat-kalimat kasar.
Tamparanku di pipinya akhirnya membuat dia sadar. Kami berdua tampak kacau waktu itu. Liur belepotan di sekitar mulutku sampai ke dagu dan beberapa kancing kemejaku terlepas. Aku menangis sejadi-jadinya karena aku benar-benar sedih, terluka dan terlecehkan waktu itu—dan Chanyeol juga ikut-ikutan menangis entah karena apa. Dia menarikku ke dalam pelukan tapi aku malah mendorongnya sampai dia terhuyung menabrak meja.
Aku menangis sambil memeluk lututku sendiri. Rasanya tidak adil sekali, kalian tahu?
Dia berlari pergi ke ruang loker dan kembali dengan sebuah jaket di tangannya. Lelaki sialan itu memakaikan benda itu di tubuhku lalu mengajakku pulang—ke rumahnya. Tapi aku menolak.
Memangnya aku mau diajak ke rumah orang yang sudah memperkosaku dan barusan hampir memperkosaku lagi? Tak peduli meski saat itu mata Chanyeol tampak memelas dan wajahnya dibanjiri airmata. Tak peduli meski dia berulang kali minta maaf dan bertanya apa aku baik-baik saja.
Seharusnya aku yang mempertanyakan kesehatan otaknya waktu itu.
Untungnya, Yixing Ge tiba-tiba datang dan membawaku pergi setelah memarahi Chanyeol habis-habisan. Aku tidur di kamar Yixing malam itu. Yixing bilang aku terlalu syok dan butuh istirahat. Mungkin karena itu jugalah perutku kembali kram dan agak sakit.
Ah, sudahlah. Moodku benar-benar buruk sekarang. Aku tidak sanggup menceritakannya lebih lanjut—mungkin lain kali saja.
Aku tidak menyangka kalau seminggu setelah kejadian itu, Chanyeol memaksaku membawanya ke rumah Byun Senior dan kami menikah keesokan harinya. Menikah tanpa dihadiri siapapun kecuali pastor Kim yang sudah tua itu. Tanpa jas mewah, tanpa musik-musikan indah. Dan tanpa ciuman seperti yang pasangan lain lakukan seusai mengucap janji.
Maaf atas ketidaknyamanannya.
Meski kata orang kritik bakal buat kita jadi lebih baik, but still, i dont like critics-aku lebih suka 'saran' daripada kritik yang tak memberikan solusi. Tapi makasih atas kritikannya, i really appreciate it. But dont forget to respect me too. Kalo ceritaku jelek dan membosankan, yah, mau gimana lagi? Kemampuan nulisku cuma sebatas ini dan aku sama sekali bukan orang sastra yang pandai merangkai kata. Kalo gak suka bacanya, ya udah, just leave me alone. Di ffn ini masih banyak great authors lain yang karyanya gak usah diragukan lagi. Ada yang baca FF sampahku aja aku udah seneng.
Tadinya mau bener2 dihapus, karna jujur, aku langsung kehilangan kepercayaan diri. Mau langsung di edit, cuma aku gatau bagian mana yg harus dihilangkan ato ditambahin. Aku ngerasa udah nulis ini sebaik mungkin, aku udah berusaha ngelakukan yang terbaik. Tapi kalo masih tidak memuaskan, yah-aku bisa apa?
Sebenarnya LifeMate ini fokusnya di flashback-diceritakan dari dua sudut pandang. Karena di PRESENT, ChanBaek udah bersatu. Jadi wajar dong yang di PRESENT alurnya rada cepet dan di Flashback alurnya santai. Dan itu bukan berarti gak stabil. Aduh susah aku jelasinnya. Mungkin dipengaruhi kebiasaanku nulis alur lambat kali ya?
Ya udahlah, aku gamau banyak bacot lagi. Maaf ya kalo karya abal2ku jelek, bikin sakit mata, membosankan, bertele2 dll.
Maaf juga sama semua readers yang udah susah payah nanyain kenapa di apus. Maaf karena udah ngecewain kalian. Bukan bermaksud gitu, sumpah.
#deepbow #deepsmooch
U should always keep this in mind, I'm not a professional writer. Tapi makasih atas kritiknya, I will write better in the future. Maaf kalo ada kata2 yang kasar.
진심으로 미안합니다. 미안해요. 미안해. 미안.
Sincerely Yours,
Nisa
