Aku menatap pemuda yang duduk dengan dua kaki terangkat ke atas meja di ruang tamuku. Badannya tertutup pakaian khas Anbu. Rambutnya merah menyala, agak mirip denganku.
"Kau Kyuubi," kataku. Menolak untuk percaya, meski matanya benar-benar mirip rubah berekor sembilan itu. Dia adalah karakter ketiga yang curhat padaku.
"Kurama." Matanya menyipit tak suka. "Aku tahu ini tak masuk akal untukmu. Tapi di fanfiksi si ayam sableng, aku punya wujud manusia."
Aku mengangguk. Tidak seperti fanfiksi yang membuat bijuu itu menjadi anakku dan Minato—creepy, fakta kalau bijuu itu punya wujud manusia bisa lebih mudah kuterima.
"Jadi, kau mau curhat soal apa?"
Mimik wajahnya berubah. Aku bergidik sendiri melihat 'senyum' yang ia pasang.
"Tiga belas tahun aku tersegel di dalam Naruto. Tujuh tahun pertama hanya bisa diam mengumpat. Maksudku, seberapa buruk pun perlakuan warga, bagaimana mungkin bocah sialan itu tidak memendam benci sedikit pun? Aku kehabisan akal. Kubuat keberadaanku anak itu ketahui. Eh, bukannya dapat memprovokasi secuil kebencian, aku malah jadi sumber kebahagiaannya." Manusia jelmaan bijuu itu mendengus. "Anakmu aneh."
Ingin rasanya ku-smackdown sosok di hadapanku.
"Dia terlalu menyilaukan. Lama-lama aku jadi luluh juga. Walau, tetap saja, perdebatan batin tak berguna setiap dia mempertanyakan jenis kelaminnya membuatku kesal. Dia kan sudah cukup lama jadi wanita? Dia juga menikmatinya! Siapapun bisa melihat! Kenapa dia tetap keras kepala ingin kembali jadi laki-laki? Benar dikabulkan pula oleh si author sinting! Padahal aku ngebet dia jadian dengan si ayam jika sudah dewasa nanti. Mereka itu OTP."
Aku... tidak tahu harus berkomentar apa.
"Sumpah, mengurus si gaki maniak ramen itu benar-benar menguras jiwa dan raga. Saat dia berencana pergi berkelana mencari enam bijuu dan markas Akatsuki, tanggung jawabnya sebagai Ketua Anbu ia serahkan begitu saja padaku. Aku ini Kyuubi no Yokou, bijuu terkuat yang pernah nyaris menghancurkan Konoha! Dia dengan entengnya menunjukku jadi pengganti? Pake bilang ini adalah salah satu caranya untuk mengimbas kebencian yang ada di dalam diriku maupun yang tertuju padaku di Konoha ini. Rasa takut mereka padaku bisa hilang saat Si Mayat Hidup Sai mempermalukanku di depan umum. Mereka menganggapku seperti manusia biasa sekarang ini." Kurama mendengus. "Saat aku semakin 'manusiawi' dia malah terjerat dan berniat menjauh! Aku kesal padanya. Terkadang dia ini hipokrit sekali! Dia nyaris membuatku jantungan saat ia dibawa pulang kakak-beradik Uchiha sialan dalam keadaan koma. Oh, ayolah! Aku lelah dikatai IRT idaman setiap bapak dan anakoleh Isobu. Masa sih, aku harus mengabaikan rasa khawatirku? Mengabaikan keadaan Naruto? Kalau dia mati, bagaimana? Aku mungkin benci manusia yang menghuni dunia, tapi bukan berarti aku rela dunia berakhir! Aku masih mau hidup dan menikmati apel lezat di seluruh dunia!"
Bibirnya terus nyerocos, kutanggapi sesekali dengan anggukan kepala.
Aku terpana. Melihat Kyuubi mode ibu-ibu rempong itu sesuatu sekali.
Apa jangan-jangan Kyuubi ini betina?
