Judul : 7 Again
Summary : Sasuke menjerit saat melihat bayangan tubuhnya di cermin. Tubuhnya mengecil... SasuSaku, AU. Terinspirasi dari Mentantei Conan
Warnings : OOC
Disclaimer : Masashi Kishimoto
Maaf! Gomenasai! Hapunten! Nuwun Panganpunten! Sorry! Mianhamnida!
Karena kecerobohan Ji—sumpah Ji lupa, bener-bener khilaf—Ji ga nulis balesan review 7 Again chaper 2— terutama yang gak login—
Karena itu di chapter ini Ji juga mau bales review chapter 2.
—Chap 2—
Beby-chan : coba kalo ga ada handuk*mesum* tampah mujur lagi tuh!
Makasi yak reviewnya.
Sasusaku_forever : ..ok. arigatou ne reviewnya!
Hanyang miaw : Guk guk guk (artinya: makasi2, saia kan jadi malu*blushing*) GUK! (maksud: SIAP!)
Hello~ : Kya~aku suka reviewmu~ apalagi puji2 gitu *bllushing* (Hello~: ji ga kreati bgd si, kata2nya ngikutin gw aja!) makasi yap reviewnya.
Nakamura Kumiko: Aku juga suka adegan iu. Bikin idung saya basah juga. Bukan karena mimisan, Cuma ingusan (Naka-chan—eh, manggilnya pa?-: Yaiiiikkkkzzz.. JI JOROK!) makasi reviewnya.
L : Siyap! Makasi ya L... chu!
Ao : He'e kasian. Oh iu? Seperti kata Sasu "keajaiban genetika". Karakter laen? Hmmm... tunggu aja yap! Sankyu reviewnya!
Furu-pyon : Woke!!! *Jempol ala babenya Guy*
—Chap 3—
Hehe : hehe sama hehe..... sama ga si? *garuk2* i like your review *jempol ala Guy*. Saia lanjutkan dah kalo begitu. Thanks 4 u'r review.
Ao : (Gaara: aku kenapa yak?*innocent*) Un. (ketularan deidara.). Makasi yap repiunya!
Nakamura Kumiko : Woke!!*jempol ala Rock Lee* sankyu ne reviewnya.
Sakura Haruno 1995 : Maunya si Saku sama yang laen biar Sasu sama Ji*digebukin masal ma readers* (Sasu: ga sudi gw ama lo, Ji!). Sasu—bwt Haruno 1995—: woke!!*jempol ala engkong Guy* (Guy+Lee: ntu gaya kite!!)arigatou juga buat reviewnya!
Hello! : Gimana kalo SasuJi aja? (Sasu: ga usa mimpi de lo!). makasi yak reviewnya!
KoNan : Siyap! *hormat ala milier* makasi reviewnya!
Chapter 4
Sakura pulang diantar oleh Gaara. Sebenarnya Sakura tidak mau, toh rumahnya juga tidak begitu jauh dari sekolah. Tapi karena Gaara memaksa, Sakura jadi tidak enak.
Sakura turun dari mobil Gaara sambil meneteng dua bingkisan dari Temari.
"Terima kasih, Gaara!" ucap Sakura.
"Cuma mengantar saja bukan masalah besar kan?"
"Karena itu juga." Sakura menunjuk kepala Gaara yang terluka.
"Ini sih bukan apa-apa."
"Tapi..."
"Sudahlah. Kau masuk saja sana!" Sakura mengangguk dan membalik badan. "Sakura!" belum sempat Sakura melangkah, Gaara sudah memanggilnya.
"Ya?"
"Minggu ini kakakku berulang tahun. Kau mau membantuku mencari kado untuknya?"
"Temari-san?" tanya Sakura. Gaara mengangguk. "Baiklah." Sakura menyanggupi.
"Kalau begitu besok aku akan menjemputmu." Sakura menganguk.
* * *
Sakura berjalan bersama Sasuke. Tangan kirinya membawa bingkisan dari Gaara—lebih tepatnya Temari— sedang tangan kanannya mengandeng tangan kecil Sasuke.
"Itu apa?" Sasuke yang baru menyadari bingkisan itu bertanya pada Sakura.
"Oh ini?" Sakura mengangkat sedikit tangan kirinya sehingga bingkisan itu terlihat jelas oleh Sasuke. "Ini bingkisan dari Temari-san."
"Temari?"
"Kau kenal Temari-san, Shota?" Sakura kaget saat mendengar nada bicara Sasuke—alias Shota—yang seakan kenal Temari.
"Tidak." Sasuke berkelit. "Kak Sasuke pernah bercerita," tambahnya.
"Begitu?" Sakura mengangguk. "Kalau aku?"
"Hn?" Sasuke menatap wajah Sakura bingung.
"Apa Sasuke juga pernah bercerita tentang aku?" Sakura blushing.
"Tidak." Sasuke membuang muka, menyembunyiksn rona merah di pipinya. 'Sakura kenapa sih bertanya seperti itu? Membuatku malu saja,' batin Sasuke.
"Begiu ya Shota?"
"Hn."
* * *
Jiraiya, Tsunade, Sakura, dan Sasuke duduk di ruang keluarga. Jiraiya duduk di sofa panjang bersama Tsunade yang memegang remote TV. Sakura duduk di karpet bersama Sasuke. Sakura memeluk boneka ayam kesayangannya. Di sebelahnya tergeletak tempat tissue dan handphonenya. Sasuke asyik bermain robot-robotan, tepat di sebelah handphone itu tergeletak.
Di meja di belakang Sasuke dan Sakura—di depan Tsunade dan Jiraiya—ada dua gelas susu coklat, satu cangkir kopi hangat, satu cangkir teh hijau, cemilan dan beberapa potong brownish. Yap, brownish dari Temari.
Keluarga kecil itu—tidak termasuk Sasuke—menikmati sinetron favorit mereka Pure's Love Season Idul Adha.
"Mi, apa aku harus mengorbankan anakku?" Pure—tokoh utama sinetron Pure's Love Season Idul Adha—menangis.
"Sakura..." Jiraiya terisak. "Ayah minta tissuenya donk... Hiks..." tangan Jiraiya terulur ke arah Sakura. Sakura menyambar tempat tissue di sebelahnya dan menyerahkannya pada Jiraiya.
Belum sempat Jiraiya mengambil sehelai tissue pun dari tempat tissue iru, Tsunade sudah merebutnya. "Hiks..." rupanya Tsunade juga terisak.
Sasuke yang mendengar isakan aneh Tsunade menoleh. 'Bisa juga wanita galak ini menangis?' batin Sasuke heran.
Belum juga Sasuke kembali ke posisinya—main robot-robotan—Sasuke kembali dikagetkan dengan suara kokokan ayam. Sasuke menoleh ke arah sumber suara itu berasal. Handphone Sakura. Sasuke sempat melihat nama Gaara tertera di layar handphone sebelum Sakura mengambilnya.
"Hallo," Sakura menyapa. "Ada apa, Gaara?"
'Gaara?' pikir Sasuke. 'Kenapa tiba-tiba Gaara menelepon Sakura? Tumben...'
"Iya. Kuenya enak. Tolong sampaikan ucapan terima kasihku pada Temari-san ya!"
'Oh, masalah bingkisan itu ya?' Sasuke yang kelihatannya bermain robot-robotan itu mendengarkan Sakura dengan seksama.
"Bingkisan untuk Sasuke aku berikan pada kakaknya, kok."
'Untukku juga? Kakakku? Itachi maksudnya? Kapan Sakura memberikan bingkisan itu? Apa saat aku tidur?'
"Sakura... ssssttttt..." Jiraiya meletakan jari telunjuknya di hidung.
"Maaf , Ayah!" Sakura berajanjak dari tempatnya dan menjauh dari Jiraiya dan Tsunade yang menonton TV juga Sasuke yang memperhatikannya.
Sasuke masih memperhatikan Sakura. Begitu juga saat Sakura tersenyum, tertawa dan wajahnya memerah.
* * *
Sejak bangun tadi sampai sekarang dalam perjalanan ke rumahnya, Sasuke merasa ada yang bergemuruh di hatinya. Sasuke tidak tahu apa yang sedang dirasakannya. Yang dia tahu, yang dia rasakan... emmm... entahlah. Dia merasa hanya ingin menjauh dari Sakura. Dia merasa marah pada Sakura. Dan amarah itu semakin menjadi saat ingat pipi Sakura yang merona kemarin.
Gara-gara amarah itu pula, Sasuke tidak mau digandeng Sakura. Bahkan dia berjalan di depan Sakura. mendahuluinya dan bahkan tak sudi menengok ke belakang.
Sasuke langsung memencet bel rumahnya berkali-kali begitu sampai di depan rumah. "Lama." Sasuke semakin sebal.
"Hn?" Itachi membukakan pintu. Satu matanya masih tertutup, mata yang lain terbuka setengah. Tangan kanannya memegang kenop pintu sementara tangan kirinya memeluk bantal pink dengan gambar wajahnya¹.
"Kak Itachi?" Sakura yang baru sampai langsung menyapa Itachi.
"Sakura-chan?!" kedua mata Itachi langsung terbuka lebar.
Sasuke yang masih marah pada Sakura segera masuk ke rumah, melewati Itachi yang 'melek Sakura'.
"Kak, dari tadi Shota aneh," Sakura mencemaskan Sasuke.
"Dia kan memang begitu, Sakura-chan."
"Tapi..."
"Sudahlah. Kau berangkat saja dulu. Biar aku yang mengurus Sas... eh, Shota!"
"Kalau begitu aku berangkat, Kak!" Sakura membalikan badannya.
"Hati-hati Sakura-chan!" Itachi melambai-lambaikan tangannya.
"Oh iya Kak!" baru selangkah kaki Sakura melangkah, Sakura kembali membalikan badannya. Kali ini menghadap Itachi. "Hari ini aku akan telat pulang. Aku mau mengantar temanku membeli kado."
"Bersama Ino-chan ya?" Sakura menggeleng. "Tenten-chaan?" Lagi-lagi Sakura menggeleng. "Hn?"
"Dengan Gaara."
"Oh, yang memberi bingkisan kemarin?" Sakura mengangguk. "Adik iparku memang baik hati..." Itachi mengacak-acak rambut Sakura.
"Ah... Kak Itachi ini. Rambutku kan jadi berantakan." Sakura merapikan rambutnya. "Ya sudah, aku berangkat dulu ya, Kak!"
* * *
Sasuke merebahkan badan di tempat tidurnya. Rasanya sudah lama sekali dia tidak berada di kamarnya yang penuh warna biru tua ini. Sasuke sedikit merasa rileks setelah memasuki kamarnya. Ralat. Mungkin bukan merasa sedikit rileks, tapi sempat merasa sedikit rileks. Ya, baru sebentar Sasuke berada di kamarnya Sasuke bisa melihat wajah manis Sakura di atas mejanya. Hn. Fotonya bersama Sakura sebelum dia mengecil. Sebelum hari-harinya sebagai Sasuke lenyap. Sebelum dia berganti identitas sebagai Shota. Sebelum Sakura dan Gaara...
"Masa bodoh!" Sasuke menutup wajahnya dengan bantal.
"Sasuke!" belum sempat Sasuke memejamkan mata, suara Itachi yang sok imut sudah mengusiknya.
"Apa?!" teriak Sasuke galak tanpa membuka penutup wajahnya—bantal.
Itachi masuk ke kamar adiknya itu. "Kau marahan dengan Sakura-chan?"
"Bukan urusanmu!"
"Jelas urusanku. Kau kan adikku. Sakura-chan adik iparku. Jadi jelas itu urusanku kan?"
"Masa bodoh!"
"Gawat. Ngambek beneran," gumam Itachi. Diam-diam Itachi mengambil handphone di kantngnya dan mengirim pesan pendek pada teman-temannya. 'Emergency!'
Sasuke mengambil bantal dari wajahnya dan menyadari Itachi nasih di kamarnya. "Kenapa masih di sini?"
"Tentu saja menemanimu, adikku sayaaaang..." Itachi mencubit kedua pipi Sasuke.
"Sakit!" Sasuke berusaha melepaskan kedua tangan kakaknya dari pipinya.
"Kenapa sih? aku kan gemas..." Itachi melepas kedua tangannya.
"Pergi sana!" Sasuke mendorong Itachi keluar kamarnya dan mengunci pintunya rapat-rapat.
* * *
Teman-teman sekelas Sakura berhamburan keluar dari kelasnya. Pelajaran baru saja berakhir. Sakura, Ino, Tenten dan Hinata yang keluar kelas terakhir berjalan bersama-sama.
"Ah... hari ini kita bisa santai. Kakashi-sensei tidak memberi kita pe-er!" Ino merenggangkan badannya.
"Tumben ya?" Tenten menanggapi.
"Iya kan? Aku juga kaget tadi Kakashi-sensei tidak memberi pe-er."
"He'eh." Tenten mengangguk. Hinata yang sedari tadi mendengarkan kedua temannya berbicara ikut mengangguk.
"Hei!" Ino tiba-tiba berhenti dan menatap ketiga temannya. "Mumpung lagi gak ada pe-er, gimana kalau kita karaokean saja?"
"Setuju!" Tenten mengangkat tangan.
"Hm." Hinata mengangguk.
"Sakura?" Ino yang melihat reaksi datar Sakura menatap Sakura, menanti jawaban Sakura. Tenten dan Hinata yang melihat Ino juga ikut-ikutan menatap Sakura.
"Nggg..." Sakura tersenyum. "Maaf ya teman-teman. Hari ini aku tidak bisa main dengan kalian. Aku sudah ada janji dengan seseorang."
"Yah, Sakura... kan jarang kita bisa main-main seperti ini..." Tenten membujuk Sakura.
"Iya sih. Tapi aku sudah terlanjur membuat janji dengan orang itu."
"Siapa sih?" tanya Ino. "Sasuke yang memonopolimu itu kan sekarang ada di London."
"Oh, Sasuke pulang ya?" tebak Tenten. Sakura menggeleng. "Trus siapa dong?"
"Gaara."
"GAARA??!!" teriak Ino dan Tenten bersamaan.
"Busyet dah. Sakura... hah... aku spechless..." ucap Tenten.
"Sasuke yang notabennya cowok paling cakep di Konoha High School pergi sebentar saja, sudah ada cowok paling cakep se-Suna yang mendekatimu Sakura..." kata Ino.
"Bukan seperti yang kalian pikirkan," Sakura membela diri. "Aku hanya menemaninya mencari kado untuk Temari-san."
"Sakura... itu... orang itu dari tadi memperhatikanmu..." Hinata yang sedari tadi diam saja menunjuk seorang laki-laki yang bersandar pada mobilnya dan tentu saja memperhatikan Sakura.
"Sana!" Ino dan Tenten mendorong tubuh Sakura. "Pangeranmu sudah datang."
"Kalian apa-apaan sih?" wajah Sakura memerah.
"Sudah sana..."
Sakura pun meninggalkan teman-temannya dan berjalan menghampiri Gaara.
"Kenapa sudah ada di sini?"
"Sudah jam pulang sekolah kan?"
"Baru lima menit lalu bel sekolah berbunyi. Dan jarak Konoha-Suna kan tidak dekat?"
"Tidak baik membuat seorang wanita menunggu kan?" Gaara tersenyum. "Sudahlah, ayo masuk!" Gaara membukakan pintu mobilnya.
"Kau ini..."
* * *
Akatsuki sudah berkumpul di ruang keluarga Sasuke. Mereka datang tidak untuk berpesta, karaoke, dangdutan atau mengejar-kejar kelinci. Kali ini mereka berkumpul membentuk lingkaran kecil dan berdiskusi.
"Baiklah." Itachi ambil suara. "Kita putuskan begitu saja."
"YOSH!!!" teriak yang lainnya.
* * *
Sakura dan Gaara berjalan bersamanya. Mereka memasuki sebuah toko pernak-penik. Banyak pernak-pernik lucu di toko itu.
"Sakura, bagaimana kalau yang ini?" Gaara mengambil boneka beruang warna putih dengan hati bertuliskan love di tangannya.
"Menurutku itu tidak cocok."
"Kalau ini?" Gaara menunjukan kalung dengan liontin berbentuk hati.
"Itu juga tidak pas."
"Hmmm.. kalau itu Sakura?" Gaara menunjuk cincin mungil dengan ukiran yang elegan.
"Dari tadi benda yang kau tunjuk itu lebih cocok diberikan untuk seorang pacar dari pada untuk seorang kakak."
"Itu... sebenarnya..."
"Sudahlah. Laki-laki memang tidak pandai memilih." Sakura kembali melihat-lihat. "Hey Gaara, bagaimana kalau yang itu?"
Mata Gaara tertuju pada sebuah benda besar warna kuning dan hijau. Boneka nanas. Wajah boneka itu wajah bosan. Tiba-tiba Gaara bergidik. "Yang itu Sakura?"
"Hm. Entah mengapa aku merasa boneka itu cocok sekali dengan Temari-san."
"Aku juga merasa begitu." Gaara mengambil boneka nanas itu. 'Aku merasa boneka ini mirip dengan seseorang...' batin Gaara.
* * *
"Gawat! Gawat! Sasuke gawat!!!" Itachi mengedor-gedor kamar Sasuke.
"Kalau kau hanya kehabisan celana dalam, jangan harap aku akan meminjamimu lagi!" teriak Sasuke dari dalam kamar.
"Celana dalam? Hh... kan ukuranmu sekarang tidak muat kupakai," gumam Itachi.. "Ini tentang Sakura-chan, Sasuke!" Itachi mengedor-gedor pintu lagi. "Sakura-chan hilang!"
"Hah?" Sasuke beranjak dari tempat tidurnya. Dengan tergesa-gesa dia membuka pintu kamarnya. "Apa kau bilang?"
"Kau tidak sadar? Ini sudah jam tujuh, tapi Sakura-chan belum menjemputmu kan?" Sasuke mengangguk. "Tadi orang tuanya juga mencari-cari."
"Sakura..."
"Ini pasti karena kau ngambek tadi Sasuke!" Sasuke terdiam. "Aduh... bagaimana nasib adik iparku? Bagaimana kalau dia diculik? Bagaimana kalau dia ditangkap penjahat? Sasuke! Kalau ada apa-apa dengan Sakura-chan..."
"Diam kau, Itachi! Jangan membuat aku semakin pusing."
"Kalau begitu pikirkan sesuatu! Lagi pula kenapa kau bersikap begitu pada Sakura-chan?"
"Apa maksudmu?"
"Pasti karena memikirkan sikapmu, Sakura-chan jadi lemah dan tertangkap oleh penjahat-penjahat itu. Kenapa kau harus ngambek pada Sakura-chan sih?"
"Aku tidak ngembek. Aku hanya sebal saja. Aku sebal. Aku marah pada dia. Kenapa dia bisa bersikap begitu pada Gaara. Harusnya cuma aku yang boleh membuat dia tertawa seperti itu, tersenyum seperti itu, dan merona seperti itu." Sasuke ngos-ngosan setelah berteriak-teriak panajang lebar pada kakaknya.
"Oh... jadi cemburu toh ceritanya?" gumam Itachi enteng. "Prends, keluar. Rencana kita berhasil."
Akatsuki yang lain pun bermunculan. Ada yang muncul dari balik sofa, lemari, karpet, gorden, meja, ada juga yang bergelantungan di atap, atau yang masuk aquarium seperti Kisame.
"Kalian... kalian mengerjaiku ya?" Sasuke marah.
"Sabar, Sas! Sabar! Istigfar," Hidan mendekati Sasuke. "Kami ini cuma mau membantu. Kalau tidak begini, kami tidak tahu kalau kau cemburu."
"Aku tidak cemburu!"
"Itu namanya cemburu, bodoh!" Itachi mengacak-acak pantat ayam Sasuke.
"Kau sembunyikan di mana Sakura?" Sasuke yang tahu bahwa tadi hanya sandiwara kakaknya mengira bahwa ketidak-munculan Sakura hingga saat ini ada hubungannya dengan akal bulus kakaknya.
"Oh, Sakura-chan tadi bilang kalau dia akan pulang telat. Sepertinya pergi bersama temannya yang bernama... ng... siapa ya tadi? Gaara?"
"Gaara?!" Sasuke kaget. "Sampai jam segini?" Sasuke mulai panik.
"Siapa Gaara?" Akatsuki yang lain bertanya-tanya.
"Sepertinya saingan Sasuke," Hidan menyimpulkan.
"Sasuke, aku mendukungmu!" Konan memberi dukungan pada Sasuke.
"Aku juga!" seru yang lainnya.
"Sasuke, kalahkan Gaara! kau harus mendapatkan Sakura!" Hidan menyemangati.
"Eh? Gaara itu laki-laki ya?" Itachi bingung sendiri.
Tbc...
* * *
Maaf bagi yang sudah menunggu updatean 7 Again. Karena musim hujan telah tiba yang mengakibatkan cuaca yang sangat mendukung, saya jadi lebih sering melakukan hobi utama saya.. sekali lagi maaf!
¹Ada yang pernah nonton pelm Korea Jenny-Juno? Kalau ada pasti tahu bantal apa yang Ji maksud. ^o^v
