Markas Pusat The Soul Family, Osaka, pukul 9 pagi

Grimmjow membuka paksa pintu markas The Soul Family dengan bantuan cairan yang diberikan Szayel. Hisagi—yang kebetulan sedang berjaga—terkejut dengan kedatangan "tamu istimewa". Refleks, Hisagi menembakkan pistolnya ke arah Grimmjow. Pelurunya meleset, dan pistolnya telah kehabisan peluru.

"Sampaikan salamku pada Kurosaki-sama-mu," kata Grimmjow sambil melemparkan sebotol cairan berwarna ungu muda ke arah Hisagi. Hisagi tidak berhasil dari cairan tersebut—yang menyebar di lantai ruang masuk markas.

Tiba-tiba saja, Hisagi merasakan sakit yang luar biasa di perutnya. Ramuan itu telah memulai pekerjaannya. Isi perut Hisagi diuraikan oleh cairan itu hingga menjadi zat-zat tak terlihat. Hisagi pun lemas dan terjatuh ke lantai.

Grimmjow—ditemani Szayel—memasuki ruangan-rungan lain, mencari anggota mafia yang paling dibencinya. "Lihat balas dendamku, The Soul Family!"


Lust and Alcohol [Chapter 4: Battlefield pt. 1]

Disclaimer: Bleach © Tite Kubo

Warning: AU, OOC, typo(s), violence, harsh words, slight GrimmHitsu, M/M, DLDR


Ichigo dan Toushirou terdiam di dalam sedan hitam yang dikendarai Ichigo. Mereka terlihat santai, tapi jika dilihat baik-baik, sebenarnya mereka tegang. Bagaimana tidak, markas pusat family mereka diserang oleh kartel yang merupakan musuh mereka. Seluruh anggota The Soultidak ada yang dapat dihubungi.

Ichigo mempercepat laju sedannya, menyalip seluruh mobil yang menghalanginya. Toushirou menggertakkan giginya, khawatir mereka celaka.

"I-Ichigo, ja-jangan menyetir terlalu cepat! Nanti kita celaka, bakka!" Toushirou berteriak kesal. Ichigo tetap cuek, lalu kembali menyetir dengan kecepatan yang dapat membuat penderita serangan jantung meninggal dunia. Toushirou pun naik darah dan kembali berteriak.

"KAU MAU KITA CELAKA? DASAR BAKKA!"

"Kau ingin anak buahku celaka, Toushirou?" tanya Ichigo setengah berteriak.

"Kau mau kita mati lalu tidak dapat menolong anak buahmu?" balas Toushirou. Ichigo kembali terdiam. Kesunyian kembali menyelimuti mereka.


Mereka telah sampai di markas The Soul. Ichigo menggesekkan kartu pengenalnya, yang membuat seluruh sensor pengaman markas menghilang sehingga aman untuk dimasuki. Toushirou ikut masuk dengan takut-takut. Pasalnya, beberapa anggota The Soul pernah melihatnya sebagai adik dari Grimmjow. Ichigo memasuki ruang depan dari markas.

"Bagaimana mungkin Grimmjow bisa menerobos pengaman di sini?" gumam Ichigo.

"Ku—Kurosaki-sama!" Hisagi—yang terbaring lemah di lantai—menyebut nama Ichigo sambil berusaha meraih kaki Ichigo. Ichigo menoleh.

"Hi-Hisagi? Bagaimana Grimmjow bisa menerobos keamanan di sini?" tanya Ichigo.

"Sa-saya juga…" omongan Hisagi terputus oleh tembakan yang diarahkan ke kepalanya.

"HISAGI!" Ichigo dan Toushirou berteriak bersamaan. Mereka baru saja melangkah ke arah Hisagi ketika dua pisau menyentuh leher mereka.

"Ikut aku kalau kau tak ingin kucabik tenggorokanmu," bisik sosok stoic yang berada di belakang mereka.

"Ka-kau…" kata Toushirou. Dia merasa pernah melihat lelaki beriris hijau itu.

"Ikut aku, atau kucabik tenggorokanmu," ulang lelaki itu. Ichigo berusaha melawan dengan menendang lutut lelaki itu, namun lelaki itu lebih kuat darinya. Toushirou berusaha membantunya. Ia mencoba untuk memelintir tangan lelaki itu, namun pisau yang dipegang lelaki itu menggores lengannya.

Toushirou meringis. "I-i-ittai!" rintihnya sambil memegangi lengannya. Ichigo yang melihatnya segera menembak lengan lelaki itu, lalu menggendong Toushirou.

"Toushirou, kau…kau kenal lelaki itu?" tanya Ichigo. Toushirou mengangguk, lalu menjawab, "dia Ulquiorra Schiffer, tangan kanan onii."

'Bakka! Sebenarnya kau ini membenci kakakmu atau masih menyayanginya?' batin Ichigo.

Ichigo dan Toushirou segera mengikuti Ulquiorra—yang berjalan memasuki ruangan terdekat. Ichigo yang penasaran dimana anak buahnya bertanya, "dimana anak buahku?" pada Ulquiorra. Ulquiorra hanya diam, berpura-pura tidak mendengarkan Ichigo.

"Dimana anak buahku?" tanya Ichigo dengan penekanan di setiap kata. Ulquiorra hanya diam dan tenang.

"Grimmjow-sama yang akan menentukan nasib anak buahmu, Kurosaki Ichigo," kata Ulquiorra dengan wajah datar. Ichigo dan Toushirou menjadi geram dengan jawaban yang diberikan Ulquiorra. Ichigo mengambil pisaunya, bersiap menodongkannya pada Ulquiorra.

"Jawab pertanyaanku dengan benar, bakka!" bentak Ichigo sambil mendekatkan pisaunya ke leher Ulquiorra.

"Sudah kubilang, Grimmjow-sama yang menentukan nasib mereka," kata-kata Ulquiorra tidak berhasil membuat Ichigo puas. Ichigo kembali mendekatkan pisaunya hingga jarak antara leher Ulquiorra dan pisau Ichigo hanya beberapa millimeter.

Tiba-tiba, sebuah tangan menghentikan kegiatan Ichigo. Ichigo berusaha melihat siapa yang menahan tangannya. Didongakkannya kepalanya, dan terlihatlah seseorang berambut biru yang tidak asing baginya.

"K-kau…" kata Ichigo.

Sosok itu tertawa pelan. "Halo Ichigo. Lama tak jumpa!" katanya sambil menjambak rambut Ichigo hingga kepalanya makin mendongak menatap iris biru sosok itu.

"G-Grimmjow, l-lama tak jumpa," balas Ichigo sambil meninju bagian itunya Grimmjow dengan tangan kirinya. Grimmjow langsung merintih. Bagaimana tidak sakit, tangan kiri Ichigo—yang dipenuhi oleh cincin—meninju itunya dengan sangat keras. Grimmjow segera membalasnya dengan membanting Ichigo ke lantai.

"Onii! Jangan kau apa-apakan Ichigo!" kata Toushirou penuh kebencian.

Grimmjow menoleh. "Oh, halo, Shiro-chan. Merindukan onii tersayangmu?" katanya sambil mengusap rambut putih Toushirou. Toushirou menepisnya dengan kesal, lalu berkata, "you bet!"

"Kau yakin, Shiro-chan manis~?" tanya Grimmjow. Diturunkannya tangannya ke arah leher Toushirou. Dicekiknya leher Toushirou. Toushirou mulai kehabisan napas. Ia meronta-ronta, berusaha melepaskan diri dari Grimmjow.

"Kau memang benar-benar brengsek, Grimmjow," kata Ichigo sambil menusuk kaki Grimmjow dengan pisau yang dia sembunyikan di balik tubuhnya. "Jangan cuma berani dengan anak yang lebih lemah darimu!"

Grimmjow—dengan reflex—menjatuhkan Toushirou—yang telah pingsan—dari cekikannya dan berusaha melepaskan pisau itu dari kakinya, lalu melemparkannya ke arah Ichigo. "Terima kasih pisaunya, tapi itu tidak cukup kuat untuk membunuhku!"

"Jangan senang dulu, Grimmjow," kata Ichigo sambil tersenyum licik, lalu menambahkan, "kau tidak tahu apa maksudku menusukkan pisauku kepadamu."

Tiba-tiba Grimmjow merasa mual dan ingin memuntahkan isi perutnya. Kepalanya pusing. Pandangannya buram. BRUK! Grimmjow jatuh pingsan.

"Kau tidak ingat kalau pisauku mengandung racun yang akan menyebar melalui pembuluh darah?" kata Ichigo sambil sedikit menjambak rambut biru neon Grimmjow.

Toushirou terbangun dari pingsannya dan melihat apa yang terjadi pada Grimmjow dan Ichigo. "I-Ichigo, apakah kau benar-benar akan membunuh Onii?" Ichigo menoleh. Grimmjow tersenyum licik, lalu menembak paha Ichigo. Ichigo jatuh tersungkur di lantai.

"Aku tidak akan mati dengan hal bodoh seperti itu, bakka mikan!" kata Grimmjow. "Szayel! Bawa ramuannya!"

Sesosok bawahan Grimmjow berambut merah muda terang datang sambil membawa jarum suntik. "Kau akan mati sebentar lagi Ichigo~! Ada kata-kata terakhir?" kata Grimmjow.

"Nnggh! Aku tak akan membuang waktuku untuk hal yang tidak akan terjadi!" kata Ichigo.

"Kau yakin? Jangan mengatakan kata-kata yang terlalu kuat atau kau akan terlihat lemah," Grimmjow menahan Ichigo di dinding, "Szayel!"

"Hai', Grimmjow-sama!" kata Szayel, lalu menyuntikkan obat itu kepada Ichigo.

"Kau tahu siapa kelinci percobaan ramuan ini, Ichigo?" kata Grimmjow sambil membanting tubuh Ichigo.

"Aku tidak peduli!" bentak Ichigo. Toushirou merinding melihat apa yang terjadi. Tubuh Ichigo telah dipenuhi luka akibat perlakuan Grimmjow. Darah segar menetes dari tubuh Ichigo. Grimmjow tertawa puas melihat keadaan Ichigo yang sekarang.

"Hahaha! Kau tahu apa yang membunuh oyajii-mu?" tanya Grimmjow sambil menggoreskan pisaunya di dada Ichigo. "Cairan inilah yang membunuh ayahmu," tambah Grimmjow sambil menggoyangkan sebotol cairan berwarna terang.

"Lalu, aaargh, apa hubungannya denganku, bakka?" tanya Ichigo balik sambil menahan luka dari goresan pisau Grimmjow. Grimmjow tertawa pelan.

"Kufufu~ Kau tahu apa yang ada di dalam jarum suntik yang dipegang Szayel?" Grimmjow menambah goresan di dada Ichigo sambil memainkan rambut orange Ichigo. Toushirou tidak tahan melihat keadaan Ichigo.

"Soten ni zase!" Toushirou mengayunkan sebuah pisau—yang bisa dibilang tidak mungkin disimpan di balik bajunya. Pisau itu mengeluarkan serpihan-serpihan es kristal yang cukup tajam untuk membuat luka goresan di tubuh Grimmjow.

"Tch! Sudah kubilang jangan mainkan pisau terkutuk itu, brengsek!" Grimmjow kembali membanting Ichigo lalu mencekik Toushirou, kemudian berkata,"matilah kau karena telah melanggar perintah onii-mu!"

"I-Ich-Ichigo, to-tolong a—" pinta Toushirou. Grimmjow mengencangkan cekikannya.

"Harapanmu sia-sia, Toushirou! Ichigo akan mati, sebentar lagi," kata Grimmjow.

Sementara itu, Szayel mulai menyuntikan cairan pembunuh ke tubuh Ichigo. "Tenanglah, mikkan, kujamin ini tidak akan menyakitimu kok," kata Szayel pelan. "Karena kau lebih dulu mati daripada merasakan sakitnya."

Ichigo meraung dan memberontak, berusaha melepaskan jarum suntik itu. Szayel hanya tertawa kecil. "Terlambat! Sedikit cairan pun mampu meledakkan otakmu," katanya.

Pandangan Ichigo perlahan-lahan mulai gelap. Tubuhnya merasa lemah. Ichigo berusaha menggerakkan tangannya, namun tidak bisa—tubuhnya terlalu lemah untuk menggerakkan dirinya.


"ICHIGO!" teriak Toushirou. "Lepaskan aku, Grimmjow!" Toushirou berusaha menepis tangan Grimmjow, namun tidak bisa. Tubuhnya yang mungil tidak mampu melawan tubuh kekar Grimmjow.

"Tidak sopan memanggil kakakmu dengan nama kecilnya!" bentak Grimmjow. "Sebagai hukumannya…" Grimmjow menggigiti bibir bawah Toushirou hingga berdarah. Toushirou yang tidak mampu melawan membuka mulutnya, membiarkan lidah Grimmjow memasuki mulutnya dan menjelajahinya.

"Hhh, i-ittai, Grimm—" kata-kata Toushirou dihentikan oleh tamparan Grimmjow.

"Kau masih berani memanggil kakakmu dengan nama depan?" bentak Grimmjow lagi. Toushirou terlalu lemah untuk melepaskan dirinya dari Grimmjow. Matanya berair melihat jarum suntik yang dipegang oleh Szayel telah menyuntikkan seluruh cairan pembunuh itu ke dalam tubuh Ichigo.

"Sayonara, Kurosaki Ichigo," kata Grimmjow.

Toushirou semakin memberontak, namun Grimmjow telah melepaskan tubuh Toushirou. Toushirou segera berlari ke arah Ichigo.

"I-Ichigo," katanya pelan. "Ja-jangan pe-pergi."

Grimmjow tertawa bagaikan maniak. "Hahaha! Tidak akan ada keajaiban untuk menghidupkannya lagi! Dan sebentar lagi, The Soul family akan hancur! Rasakan itu!"

"Bangunlah Ichigo. Biarkan aku menjadi kekuatanmu."


T.B.C.


Reply Review~ (kufufu, kalian memang readers setia fict /coretabalcoret/ ini xD):

Zanpaku-nee: Itu…itu Rae ngetiknya pas lagi gila jadi Ichigo jadi uke-nya Hitsu. Kufufu~ #ditombak Lemonnya oke? XD ga nyangka ternyata mood lemon Rae nge-boost lagi xp Arigatou review-nya~ #bows

Juu'bantai Hitsugaya-han: Gapapa kok Juu'. Ayo kita bakar buku pelajaran! #bawa Ryuujin Jakka #ditonjok soutaichou Masukin uang atau masukkin apa hayo~ #perv mind #dor Penyakit gila Rae udah tingkat dewa + shinigami + iblis + #dibekep Sadar Juu! Sadar! #tampolin Ngomong yang bener Juu! #ditampol balik sama Juu Arigatou review-nya ya Juu~

#sigh Akhirnya update juga ni fict. Ga nyangka masih bisa update #dor Rae terlalu sibuk sama dunia nyata (dan untungnya berbuah hasil lah~) dan terlalu sibuk nonton anime. Rae udah kasih tau kan Rae terinspirasi sama anime apa bikin fict ini? Nah, Rae sekarang makin tergila-gila sama anime itu (Katekyo Hitman Reborn) u,u sampe ketawa aja ngikutin si Rokudo Mukuro #eh #abaikan

Oke, karena Rae lagi males ngetik A/N #plak Mind to RnR? Review anda penyambung kelanjutan fict ini #ngancem #plak u,u