I Need Your Help!

A Naruto Fanfiction

Naruto © Masashi Kishimoto

Genre : Romance, Drama

Rate : T

Warning : AU, Typo(s), OOC (Saya usahakan agar bisa IC)

.

.

.

.

.

.

Chapter 4

.

.

.

.

.

.

Sakura menghela nafas berat. Ditatapnya dompet coklatnya yang kini hanya berisi dua lembar uang kertas dengan nominal kecil. Akhir bulan yang miris. Seharusnya pemuda itu membayarnya bukan? Tapi kenapa justru dirinya yang membayarkan pemuda itu?!

Ekhem, begini ceritanya..

.

.

Flashback

.

.

Sakura beserta Sasuke yang diboncengnya telah sampai di tempat tujuan mereka, rumah makan. Memang tidak seperti restauran mewah yang biasa dikunjungi Sasuke bersama rekan-rekan artisnya. Tapi, selama itu bisa mengenyangkan perutnya, apa salahnya? Lagipula, di seberang jalan ada supermarket. Sakura jadi tidak perlu pergi terlalu jauh lagi.

"Sasuke-kun, kau makan saja dulu disini. Aku akan ke supermarket di sana. Setelah berbelanja aku akan datang ke tempatmu," ujar Sakura sembari menunjuk supermarket di seberang jalan tersebut.

"Hn. Tunggu sebentar Sakura," cegat Sasuke ketika Sakura hendak menyeberang jalan.

"Ada apa lagi?" Sakura berbalik.

"Maaf merepotkanmu lagi, tapi bisakah kau menemaniku memesan makanan? Kau tahu bukan jika di rumah makan ini kita harus membayar tepat saat mendapat makanannya?"

"Ha? Memangnya kau ada masalah dengan itu sampai ingin ditemani olehku? Kau bisa sendiri bukan? Cukup berikan uang kepada kasir lalu dia akan memberi makanannya. Itu saja kau tidak bisa? Ah, atau jangan-jangan kau tidak berani?" Sakura tersenyum mengejek.

"Bukan itu maksudku."

"Lalu maksudmu apa? Cepat katakan. Hah, belanja ke supermarket saja harus serepot ini," Sakura membalikkan badannya kembali menghadap ke jalan raya. Menghadap ke kanan dan kekiri, menunggu jalan mulai sepi kendaraan sehingga bisa menyeberang sekaligus mendengar perkataan Sasuke.

"Ekhem, maukah kau meminjamkamku uang? Sedikit saja! Aku berjanji akan membeli makanan yang murah. Jika ada kembaliannya aku akan mengembalikannya padamu!"

Sakura tercengang kembali. Matanya terbelalak─ah bukan, matanya melotot. Tubuhnya lantas kembali berbalik menghadap pemuda Uchiha itu.

"SASUKE-KUN!"

.

.

End of Flashback

.

.

Sakura menghela nafas lagi. Merasa seakan inilah cobaan hidup terberat yang pernah dialaminya. Sakura pernah menjadi korban pem-bully-an ketika SMP, tapi rasanya itu jauh lebih baik daripada cobaan yang menimpanya kini.

Ia menatap tajam seorang pemuda yang tengah mengalihkan pandangannya, berpura-pura tidak menyadari bahwa dirinya mendapat tatapan tajam dari harimau berambut merah jambu. Ya, pemuda itu lah biang kerok dari segala cobaan yang dialami Sakura hari ini.

"Sasuke."

"…"

Tidak ada jawaban. Padahal Sakura yakin suaranya cukup keras untuk di dengar Sasuke. Lagipula, malam ini jalan raya lumayan sepi.

"Sasuke!" Sakura kembali memanggil nama Sasuke dengan sedikit nada yang berubah.

"Kau melupakan sufiks 'kun'-nya, Sakura."

Sasuke semakin tidak mau menoleh, malah dia ingin segera kabur dari sini karena tampaknya ia telah berhasil membuat gadis di depannya ini semakin marah. Sakura bahkan tidak membentaknya. Bukankah akan lebih menyeramkan jika seseorang tengah marah namun dia tidak membentakmu? Tatapannya luar biasa tajam!

"Seharusnya dulu aku mengikuti perintah Ibu untuk membuat rekening saja," rutuk Sakura pada dirinya.

"Kau tahu? Uangku untuk bulan ini sangat sedikit! Aku bahkan tidak jadi membeli bahan makanan untuk minggu ini hanya karenamu! Tidakkah kau merasakan sedikit saja penderitaanku? Ah, maaf, aku baru ingat jika kau ini adalah orang kaya. Mana pernah kau merasakan krisis uang. Disaat tidak memiliki uang kau bahkan berani meminjam uang dan menumpang tempat tinggal pada seorang gadis yang tidak kau kenal. Kau tidak punya harga diri, hah?" Bentak Sakura pada Sasuke. Emosinya sudah meledak.

Namun tak berselang lama, Sakura lantas tersentak, menyadari perkataannya tadi agak kurang ajar. Ia melirik ke arah Sasuke, menyadari perubahan raut wajah pada pemuda itu.

Menghela nafas lebih panjang, Sakura meredakan emosinya. Dia harus tenang. Saat ini dia tengah menghadapi orang kaya yang 'miskin sementara'. Tentunya, dia selaku orang biasa yang 'tampak kaya' harus memberi bantuan dengan─sedikit─ikhlas, meskipun harus mengorbankan sisa uang di masa kritisnya. Apalagi kata-katanya yang tadi sangatlah kurang ajar.

"Maaf, Sasuke-kun. Kau tidak perlu memikirkan perkataanku yang barusan."

"Untuk apa minta maaf?"

"Karena kau membentakku tadi? Bukankah kau melakukan hal yang benar? Yang salah disini adalah aku, jadi kau tidak perlu minta maaf," sambung Sasuke sembari mengeratkan jaketnya, bermaksud menghangatkan tubuhnya dari udara malam yang dingin. Sempat dirinya berpikir untuk meminta pelukan pada Sakura, tentunya dengan maksud bercanda. Tapi setelah ia merasa kondisinya saat ini tidak memungkinkan karena suasana yang canggung, ia tidak jadi melakukannya.

"Ayo cepat kembali ke apartemenmu. Disini dingin," ucap Sasuke lagi kedinginan.

Sakura mengangguk tanpa mengeluarkan suara lantas menyalakan motornya.

.

.

.

"Besok siang aku akan segera pergi dari sini, kau tenang saja," ujar Sasuke sesampainya mereka di depan pintu apartemen Sakura.

Tidak ada respon dari Sakura, Sasuke menganggap bahwa itu artinya 'iya'.

"Aku pinjam balkonmu. Jangan perdulikan aku, kau tidur saja di kamarmu."

Tanpa melepaskan jaketnya, Sasuke langsung berjalan ke arah balkon lalu menutup pintunya yang terbuat dari kaca tembus pandang itu.

Sakura masih terdiam. Tidak mengucapkan sepatah kata pun untuk Sasuke. Dia lantas pergi ke kamarnya, hendak mengganti pakaian lalu tidur.

Dihempaskannya tubuhnya di kasur empuknya. Ia menatap langit-langit kamar. Kembali terbayang kata-katanya pada Sasuke tadi. Saat itu ia benar-benar kesal. Bagaimana tidak? Kau lupa berbelanja karena seseorang meminta tumpangan secara paksa padamu lalu ketika kau ingat akan rencana belanjamu, uangmu justru digunakan oleh seseorang tersebut untuk membeli makanan.

"Seharusnya aku tidak mengatakan itu!" Batin Sakura menyesal.

Lelah, itu lah yang dirasakan Sakura. Saat ini, ia hanya ingin meluapkan semua hal yang membuat batinnya terbebani hari ini dengan tidur.

Sakura menggulingkan badannya ke samping. Memeluk bantal gulingnya lalu mulai memejamkan matanya secara perlahan ketika rasa kantuk itu mulai menyerang.

Namun, sepertinya kegiatan tidurnya ia batalkan, karena ia melihat setumpuk kertas di atas mejanya sebelum matanya terlelap.

Ia tersentak. Ia lupa dengan pekerjaannya yang belum ia revisi! Segera saja, ia terbangun dari tempat tidurnya, menyambar semua berkas-berkas itu lalu membawanya ke meja makan. Tak lupa, sebuah laptop juga turut dibawanya ke meja makan.

Sasuke yang mendengar suara gaduh karena tapakan kaki seseorang yang berlari menengok ke arah belakang. Dilihatnya Sakura kini tengah memilah beberapa dokumen. Setelahnya, ia melirik ke arah jam dinding.

"Sudah jam setengah sepuluh?"

Sasuke membuka pintu balkon lalu sedikit menengokkan kepalanya pada pintu itu. "Hei, kau tidak tidur?"

"Nanti. Setelah semua ini beres," jawab Sakura dengan mata yang terfokus pada layar laptop dan tangan yang memegang selembar kertas.

"Kenapa tidak kau kerjakan sejak tadi saja?"

"Kalau begitu kenapa kau tadi tidak mencari makanan sendiri saja, atau mencari tumpangan yang lain saja? Dengan begitu aku bisa─"

Sakura tidak melanjutkan perkataannya lagi. Tak disangkanya, ia kembali terbawa emosi. Padahal tadi ia merasa dirinya sudah cukup bisa mengendalikan amarahnya.

"Kau bisa apa?" Tanya Sasuke, ia kembali membalikkan badannya menghadap ke luar.

"Tidak, bukan apa-apa."

Tidak ada jawaban dari Sasuke, melainkan terdengar suara pintu balkon yang dibuka. Sakura sedikit melirik, rupanya Sasuke sudah masuk ke dalam ruangan.

"Ah, mungkin dia mau tidur," batin Sakura.

Namun, ia heran. Kenapa Sasuke berjalan ke arahnya?

"Oh, pasti ke dapur," batinnya lagi ketika ia ingat bahwa letak dapurnya ada di belakangnya. Adalah hal yang wajar bukan jika sebelum tidur kau meminum segelas air mineral?

Sakura lantas kembali berfokus pada pekerjaannya. Tidak memperdulikan lagi apa yang akan dilakukan oleh Sasuke di rumahnya. Tentunya jika hal itu tidak merugikannya.

Bukannya ke dapur, Sasuke malah berdiri di belakangnya. Merasa heran, Sakura menoleh.

"Apa yang kau lakukan disini?"

"Tidak ada."

Irit kata, seperti biasa.

Sakura masih mengabaikan Sasuke dan sibuk berkutat pada pekerjaannya. Sasuke merasa jengah melihat semua kertas itu.

"Sepertinya kau tergila-gila dengan pekerjaanmu."

"Kau benar. Jika tidak, aku tidak akan dapat uang, dengan begitu aku tidak bisa hidup."

"Kau bisa meminta uang pada orang tuamu bukan?" ujar Sasuke lalu mengambil salah satu kertas lalu membaca isinya. Namun, Sakura merebut kembali kertas yang dipegang Sasuke.

"Hei!" Protes Sasuke.

"Apa? Kau tidak suka jika aku mengambil kertas penting ini dari tanganmu untuk pekerjaanku?"

"Hn."

"Apa kau tidak bisa mengeluarkan kata-kata yang lebih banyak dari itu?"

"Hn."

Sakura berdecak. Tidak bisakah ia menghilangkan kebiasaan menjawab pertanyaan orang dengan bergumam yang bahkan artinya tidak jelas seperti itu?

"Asal kau tahu, sejak awal aku yang memutuskan untuk tinggal sendiri. Aku harus bertanggung jawab dengan keputusanku itu. Kau kira aku bisa seenaknya? Meminta hidup mandiri tapi masih bergantung pada mereka? Kalau begitu percuma saja tinggal terpisah," jawab Sakura dengan lantang menanggapi pertanyaan Sasuke sebelumnya.

Sasuke terdiam mendengar penuturan Sakura. Ia memutuskan untuk pergi mencari udara lagi dan tidak mengganggu Sakura lagi. Tapi suara Sakura mencegatnya.

"Mau kemana kau?"

Sasuke berhenti lalu menoleh sembari berujar, "Ke balkon, aku mau cari udara segar lagi. Kenapa? Bukankah kau ingin aku pergi agar tidak mengganggu pekerjaanmu?"

"Aku tidak mengatakan bahwa aku memintamu untuk pergi."

Sasuke tersenyum kecil mendengar itu. "Hm, berarti kau ingin aku menemanimu begadang semalaman?" Godanya.

Sakura tersentak, menyadari perkataannya yang terkesan ambigu itu. Semburat merah tampak samar di wajahnya─malu.

"Kau terlalu banyak bicara. Ternyata lebih baik kau tetap diam atau bergumam aneh seperti sebelumnya saja," ujarnya lantas beranjak dari kursinya menuju dapur─hendak mengambil segelas air─sekaligus berniat menyembunyikan wajahnya dari Sasuke yang tengah menatapnya.

Sasuke mengendikkan bahunya lalu kembali ke balkon untuk mencari udara─katanya.

Menghela nafas, Sakura berujar,"Bisa-bisanya orang sepertinya muncul dihadapanku," lalu kembali mengalihkan perhatiannya pada tumpukan kertas putih di hadapannya.

Lagi, ia menghela nafas sembari memegang dahinya.

"Kenapa banyak sekali?"

.

.

.

.

Suara dari aduan sendok dan mangkuk memanglah berisik. Saking berisiknya, hal ini membuat Sasuke jengkel. Mungkin, jika ini adalah komik, empat sudut siku-siku berwarna merah akan muncul di atas kepalanya.

"Kau itu perempuan, tahu? Kau seharusnya makan lebih lembut, lebih pelan, dan tanpa suara," kritik Sasuke sambil menyeruput kopinya.

Merasa harga dirinya sebagai perempuan dilecehkan, Sakura membalas, "Apa masalahmu? Terserah padaku seperti apa aku makan. Haruskah aku bersikap sok feminim? Euh, aku tidak mau!"

Ia lantas kembali memakan buburnya hingga habis. Selepas meminum air, ia kembali berujar, "Kau harus berterima kasih padaku. Aku sedang buru-buru, tahu? Aku bisa terlambat pergi ke kantor."

Ia menyendok bubur itu lagi. Makan, lalu telan.

"Tidak mungkin aku membiarkanmu sendiri disini bersama barang-barang berhargaku sementara aku pergi bekerja. Jika aku menyuruhmu pergi, aku yakin kau pasti akan membuntutiku karena, yah, kau tidak punya uang saat ini."

Masih menyeruput kopinya, Sasuke diam menyimak.

"Aku akan membuntutinya? Percaya diri sekali," batin Sasuke.

"Jadi, aku memutuskan untuk membawamu ke rumahku sebelum aku ke kantor. Karena itulah aku buru-buru seperti ini."

"…"

"…"

"…"

"Bagaimana?"

"Tidak masalah."

"Kau yakin tidak apa-apa di rumahku?"

"Seharusnya aku yang bertanya begitu, tidak apa-apa jika kau tiba-tiba membawa pemuda asing ke rumahmu?"

Mendengar pertanyaan yang terlontar dari mulut Sasuke, Sakura tersenyum.

"Tentu, ini keputusanku sendiri jadi tidak apa-apa."

Mengernyitkan alisnya, Sasuke heran. Ada apa dengan gadis merah jambu ini?

"Baiklah jika itu maumu."

"Bagus. Kalau begitu ambil semua barang bawaanmu. Kita berangkat sekarang."

.

.

.

.

To Be Continue

.

.

Halo! Ketemu lagi sama kyu xD

Udah lebih dari setengah tahun engga update /plok xD

Maaf banget buat kalian yang pengen update kilat, malah jadi molor banget updatenya. Trus juga buat yang sebelumnya bilang minta dipanjangin lagi, maaf anda belum beruntung. Silakan coba lagi/? xD

Beribu maaf buat kalian semua, untuk segala kesalahan kyu atau mungkin kyu yang terkesan php atas update dan lain-lain. Sebenarnya chapter ini udah update beberapa hari yang lalu di wattpad. Rencananya, kyu mau langsung update disini habis update di wattpad. Tapi apa daya, laptop kyu kalau buka browser pasti super lambat :"^ Jadinya baru bisa update hari ini di ffn. Maaf sekali lagi :"^

Ah iya, ini ada balasan review chapter kemarin xD

Bang Kise Ganteng : Ini udah dilanjut, Bang/? xD Hmm, kalau dibilang tomboy, benernya ngga tomboy sih xD Cuma aja pas scene pakaian Sakura itu, kan mereka cuma mau pergi makan, yang makan juga cuma Sasuke, Sakura ke supermarket (rencana awalnya). Yaudah, jadinya Sakura mikir, "Buat apa dandan berlebihan? Toh cuma nganter Sasuke makan." Yah kurang lebih gitulah xD Kyu juga biasanya kalau keluar rumah cuma buat les atau ke supermarket pakai baju biasa aja xD kecuali kalau emang mau jalan-jalan xD

donat bunder : waduh xD pennamenya enak sekali xD Segokil itu kah? Kyu malah ngerasa fic ini garing, tapi baguslah kalau udah bikin mba/mas donat seneng bacanya xD Kalau untuk pihak ketiga, hmm gimana yaa xD Kalau untuk ortu Sakura yang dateng ke apartemennya udah pasti engga karena udah ketahuan di chapter ini xD Tapi untuk pihak ketiga dalam hubungannya SasuSaku belum bisa kyu kasi tau xD nanti malah spoiler xD

Jamurlumutan462 : haloo xD bagus deh kalau fic ini bisa menghibur mba/mas jamur xD maaf ya jamurnya jadi lumutan gara-gara nunggu ff ini update :"^ maaf juga kyu ga bisa update sesuai yang mba/mas jamur pengen :"^ tapi ini udah di update kok, semoga menghibur :D

Kiki Kim : Hi jugaa xD makasih udah mau baca fic amburegul ini xD wkwk, makasih ya xD justru kyu masih ngerasa fic ini masih banyak kurangnya :'^ ini udah dilanjut, makasih y XD

Dolphin : Gapapa baper xD sesekali lah buat Sasuke ngenes xD ini udah dilanjut xD

aitara fuyuharu1 : ehehe xD hm, engga tomboy sih Sakuranya, cuman dia kan cuma mau keluar makan, malem-malem pula, jadi buat apa dandan terlalu warbyasah/? yaudadeh simple aja xD trus kalau dipikir masalah motornya, motornya juga motor biasa kok xD bukan motor gede, jadinya dia bukan tomboy yaa xD makasih atas supportnya xD

Kristya771 : ini udah dilanjut yaa xD maaf terlalu lama :"^ makasih banyaak xD

Go : ini udah dilanjuuuuuut xD

ice : bagus deh kalau mba/mas ice suka baca fic ini xD wkwkwkwk, jangan baca di depan keluarga ya xD nanti malah kayak kyu sempet dikira udah rada nganu gara-gara baca fic humor di depan kelaurga xD ini udah dilanjut yaa, makasih atas supportnya xD

Kucing genduttidur : maaf ya, updatenya engga sesuai keinginan mba/mas kucing :'^ maaf juga kyu engga pinter bikin fic yang panjang :'^ jujur aja, kadang kyu ga sreg bikin ff yang satu chapternya panjang banget, kyu ngerasa ceritanya jadi kurang nendang/? tapi bakal kyu usahain deh bikin yang agak panjang tapi yang ceritanya lebih nendang/? xD makasih udah mau baca ff kyu ini walau banyak kekurangan dan makasih atas supportnya xD

Maaf kalau ada kesalahan penulisan penname, kyu juga manusia xD kalau bukan manusia, kayaknya ga bisa nulis ff deh xD

Terima kasih atas semua reviewnya! Tanpa kalian, kyu ga bakal semangat buat lanjutin ff ini ketika dilanda wb :'^ Untuk chapter depan, kyu ga bisa janjiin kapan akan update, tapi akan kyu usahain sesegera mungkin :'^

Oiya, kyu ada pertanyaan buat readers. Kalau misalkan kyu mau buat perusak hubungan SasuSaku (mungkin engga cuma satu), menurut kalian, siapa yang cocok?

Mohon dijawab yaa xD Tapi untuk dipakai atau engganya belum pasti loh ya xD ini cuma buat jaga-jaga kalau misalkan kyu mau buat hubungan SasuSaku lebih greget xD

Sekali lagi, maaf dan terima kasih untuk semuanya! Terutama yang udah bersedia nunggu ff ini walau lumutan xD Trus juga yang udah bersedia ngetik beberapa kata di kolom review. Ngga lupa juga buat yang udah ngefavorit dan follow fic ini dan akun kyu xD

Sampai jumpa di chapter 5! xD