Disclaimer : Masashi Kishimoto
*Apa Arti Diriku Bagimu?*
Chapter sebelumnya...
Akhirnya Sakura tersadar, tanpa babibu lagi Sakura segera berlari dengan meninggalkan jejak air mata. Ia tidak ingin melihatnya. Sakura berlari sekuat yang ia mampu, Sakura sudah tidak perduli jika nantinya ia terjatuh di tangga, tidak perduli dengan kotak bentonya yang tertinggal.. Yang dia pikirkan hanya pergi dari tempat laknat itu. Hingga akhirnya Sakura keluar dari gedung sekolah itu, tapi-
BRUUK
Sakura terjatuh, ia menabrak seseorang. Tapi ia tidak perduli, tanpa meminta maaf Sakura berdiri lalu kembali berlari. Tapi tiba-tiba saja orang yang ditabrak Sakura tadi menarik tangan Sakura lalu membawa Sakura kedalam dekapannya.
"Menangislah kalau kau ingin menangis,"
Apakah ini sebuah kebohongan? aku mohon jangan bercanda… karna hatiku sudah lelah.. Chapter 4
Kuharap kau akan menyesali semuanya, semua yang kau lakukan padaku
Tidak taukah bahwa itu menyakitiku? Kau menyakitiku..
Ataukah memang kau sengaja melakukan itu?
Sakura POV
Aku sudah tidak tahan lagi rasanya aku ingin berlari sejauh mungkin meninggalkan tempat terkutuk itu. Kenapa? Kenapa harus aku yang mengalami ini semua? Aku sudah lelah Kami-sa-
BRUUk
Ittai... aku menabrak orang, ntah kenapa aku malas meminta maaf. Aku tahu aku yang salah, tapi dengan kondisi seperti ini lebih baik tidak menunjukkan wajah ku yang hampir menangis ini. Tanpa minta maaf aku berjalan melewati orang yang ku tabrak tadi, tapi tiba-tiba saja tanganku ditarik dan-
GREB
-dia memelukku.
"Menangislah kalau kau ingin menangis,"
Mataku terbelalak, mendengarnya berkata seperti itu membuat mataku semakin memanas. Argh jangan jangan berkata seperti itu jangan buat aku terlihat seperti orang bodoh di depan orang yang aku tak tau siapa dia
"Tak apa hanya kita berdua disini jadi, jangan menahannya",
TES..
Mendengarnya nada bicaranya yang begitu khawatir dan lembut tanpa kusadari air mataku mengalir tanpa bisa dihentikan, tidak perduli siapa dia yang penting aku ingin mengeluarkan seluruh isi hatiku padanya, mengeluarkannya di dada bidang milik 'nya'.
End Sakura POV
"Kenapa?! Kenapa harus aku yang mengalami ini? Aku sudah lelah hiks, kenapa dia tak memikirkan perasaanku sedikit saja" jerit Sakura sambil menangis didada laki-laki yang ditabraknya tadi. Sakura menangis dan terus memukul-mukul kecil dada bidang milik lelaki itu. Walaupun begitu, sosok itu tetap mengusap kepala Sakura sambil berkata "Iya… aku mengerti… menangislah,"
Kata-kata dan usapan dikepalanya membuat Sakura merasa nyaman. Berangsur-angsur ia sudah mulai tenang, tapi masih ada suara sesenggukan kecil keluar dari mulutnya.
"Apa sudah lebih tenang?" ucap sosok itu kepada Sakura, Sakura hanya mengangguk.
"Apa kau bisa berjalan?" tanyanya lagi, Sakura kembali mengangguk.
"Apa kau bisa pulang sendiri? Soalnya pelatih basket sudah menungguku." Sosok itu bertanya lagi sambil berdiri memegang pundak Sakura.
Sakura mengangguk lagi lalu mendongakkan kepalanya melihat siapa penolongnya- atau melihat orang yang ditabraknya, mata sembabnya menyipit melihat sosok itu, "K-Kau bukannya- ah maaf telah menabrakmu, dan juga maaf menyita waktu mu.." Sakura membungkuk minta maaf kepadanya lalu berlari. Lelaki itu hanya tersenyum dan berlalu pergi.
"Aaaaa aku maluuu, kenapa aku bisa menangis didepan dia? Oh kami-sama ..."jerit sakura dalam hati. Sakura mengambil tasnya yang terjatuh tadi dan berjalan pulang sambil merutuki diri sendiri.
"Tadaima..." sakura masuk rumah dengan penampilan berantakan. Untung saja semua orang di rumah sedang pergi, kalau tidak pasti mereka bertanya yang macam-macam.
Sakura pun berjalan menaiki tangga menuju kamarnya. Setelah masuk ia segera meletak tas dan langsung memejamkan matanya. Tapi tiba-tiba muncul sesosok bayangan lelaki, bayangan itu adalah bayangan orang yang memeluknya tadi. Sakura segera membuka matanya dan menggelengkan kepalanya. "Tidak! Kenapa aku memikirkannya?" wajah Sakura memerah memikirkannya, "Lebih baik aku mandi saja"
Makan malam pun tiba, hanya Sakura yang belum datang ke meja makan, Sasori sudah berulang kali memanggil Sakura tapi tidak ada sahutan sama sekali. Karena cemas, Sasori pun pergi kekamar Sakura.
"Saku-chan… ayo turun, makan malam sudah siap!" Sasori berteriak didepan pintu kamar Sakura, tapi tak ada jawaban darinya. Karena pintu kamar sakura tidak terkunci, sasori masuk tanpa izin si empu-nya.
"Saku-chan?"
"…"
Sasori memanggil Sakura yang sedari tadi duduk diatas kasur tapi tak ada tanggapan darinya, akhirnya Sasori memasang tampang jahilnya, "DOOR!" Sakura terkejut dan sadar dari lamunannya.
"Apa sih Saso-niichan… Saku kaget tau!" Sakura memukul kecil pundak kakaknya.
"Hahaha gomen ne, soalnya kamu melamun sih, pasti mikirin yang aneh-aneh sampai-sampai muka mu jadi memerah seperti itu" Sasori tertawa sambil menunjuk-nunjuk wajah sakura yang memerah. Sakura menjadi salah tingkah dan menutup wajahnya sambil berteriak, "Sasori-niichaaan!"
"Sasori! Sakura! Kenapa rebut-ribut? Ayo cepat turun, nanti makanannya dingin!"
Mendengar suara sang ibu, kedua kakak beradik ini serempak berteriak "Iya kaa-chan!", sasori berdiri dan mengajak sang adik untuk turun. Mereka seperti pasangan yang sangat serasi, tapi sayangnya dalam fic ini mereka menjadi saudara hiks.. #Woii author gaje!
Keesokan paginya Sakura pergi sekolah dengan tampang lusuh, tadi malam ia tak bisa tidur karna laki-laki itu. "Hah aku mengantuk sekali, ini gara-gara orang itu, ugh kenapa aku masih memikirkannya?" ucap Sakura kesal sambil menendang-nendang kecil kerikil didepannya. "Pikirkan saja Sasuke, jangan pikirkan laki-laki lain." Rutuknya lagi, tapi tiba-tiba wajah Sakura bertambah murung, ia teringat kembali kejadian kemarin, itu membuat dadanya kembali sesak. Sakura menggelenggelengkan kepalanya, berusaha menghilangkan pikiran iitu dari kepalanya.
"Ohayou Sakura-chaan!" Teriakan Ino membuat sakura tersadar, ternyata ia sudah sampai didepan pintu kelas.
"Ohayou Ino-chan" balas Sakura.
Ino menghampiri Sakura, "Ne Sakura-chan kau tau? Kemarin aku dan sai-kun kencan di taman bermain, seru loh," Ino berkata dengan wajah gembira, tapi melihat Sakura yang tidak menanggapinya membuat wajah gembiranya pudar, "Ada apa Sakura-chan? Kenapa wajahmu murung lagi?"
"Eh? Tidak apa-apa kok" Jawab Sakura tersenyum.
"Kau ini, selalu begitu. Ya sudah, kalau sudah waktunya kau mau cerita panggil saja aku, oke?" ucap Ino lagi. Sakura tersenyum dan mengangguk "Uhm"
Mereka duduk ke bangku masing-masing. Seperti biasa, Sakura duduk lalu memandang keluar jendela, memasuki dunianya sendiri.
"Hei, jangan melamun, sensei sudah datang." Suara itu mengagetkan Sakura dari lamunannya.
"Eh gomen," ucap Sakura kepada teman sebangkunya, Sakura memperbaiki posisi duduknya menghadap ke depan. Tapi tiba-tiba saja dia membatu, 'sejak kapan aku punya teman sebangku?' ucapnya dalam hati.
Sakura memandang kesebelahnya, dia kembali terkejut, wajahnya tiba-tiba memerah. Orang itu adalah orang yang membuatnya tadi malam tidak bisa tidur, orang yang kemarin memeluknya. "Salam kenal, mulai sekarang aku akan menjadi teman sebangkumu, mohon bantuannya," ucapnya sambil tersenyum, membuat Sakura semakin salah tingkah.
"I-iya sama-sama." Jawab Sakura terbata.
Sakura segera mengalihkan wajahnya dan menghadap kedepan, wajahnya yang semula memerah menjadi pucat kembali. Mata emeraldnya menatap sayu dua orang yang berada tidak jauh darinya sedang duduk berdua. Sakura memejamkan mata dan menarik napas dalam, lalu tersenyum menganggap itu tidaklah nyata, 'Sepertinya aku memang harus bercerita kepada Ino'.
Laki-laki yang tadi sudah mengklaim dirinya sebagai teman sebangku Sakura melihat itu, ia melihat bagaimana wajah Sakura berubah sedih ketika melihat Sasuke sedang berbicara dengan Karin. Wajahnya mengeras, hampir saja ia berdiri dan berlari kearah Sasuke untuk meninjunya, tapi untung saja otaknya mengirim perintah untuk tidak melakukan itu.
Bel istirahat berbunyi, semua murid berbondong-bondong kekantin untuk mengisi perut mereka. Sakura berjalan kearah Ino yang sedang membereskan alat tulisnya, "Ino-chan, aku ingin cerita." Ucap Sakura tiba-tiba membuat Ino terkejut.
"Benarkah? Baiklah, tunggu sebentar, aku bereskan dulu alat tulisku." Ucap ino tergesa-gesa, dengan cepat ia memasukkan alat tulisnya ke dalam tas. Setelah selesai sakura pergi membawa Ino keatap untuk berbicara.
Setibanya diatap Sakura langsung menceritakan apa yang ia lihat kemarin kepada Ino, Sakura bercerita dengan wajah yang menahan tangis.
"Apa?! Sasuke berciuman dengan Karin?!" Ino langsung berteriak setelah mendengar cerita Sakura.
"Ssst pelankan suaramu, aku tidak mau orang tau aku berpacaran dengan Sasuke-kun, dia kan menyuruhku untuk merahasiakan kalau kami pacaran. Lagipula yang kemarin itu mungkin hanya khayalanku saja, tidak mungkinkan Sasuke-kun melakukan itu" Ucap Sakura.
"Setelah semua ini kau masih memikirkan itu? Astaga jidat, itu tidak penting! Dan lagi kau malah membelanya, sudah jelas kan kau melihatnya dengan mata kepala mu sendiri!"" ucap ino geram, ia geram dengan tingkah sahabatnya yang masih saja membela Sasuke.
Sakura hanya diam, ia tidak tahu harus bebuat apa.
"Ternyata Sasuke-kun berubah, aku masih tidak percaya dia membuatmu seperti ini. Tenang saja jidat, aku selalu berada disampingmu, awas saja si chicken-butt itu." Ino berkata sambil memukul-mukul pagar pembatas diatap itu.
"Pig, kumohon jangan kasih tau Naruto tentang ini, aku takut terjadi hal yang tidak-tidak, kau tau kan kalau naruto itu orang ke dua yang overprotective padaku setelah sasori-niichan," ucap Sakura.
"Ya," jawab Ino, 'tapi aku tidak janji' sambungnya dalam hati.
KRRRUUYYUK
Sakura dan Ino saling berpandangan, lalu tertawa. "Hahahah itu suara perutmu Pig?"
Ino menunduk malu, "Tadi pagi aku belum sarapan, dan sekarang aku tidak kekantin karena kau mengajak ku kesini," Ucap Ino dengan mengelus perutnya.
Sakura tersenyum lalu mengeluarkan kotak bekalnya, "Tada… aku membawa bento, ayo kita makan bersama."
"Yokatta… akhirnya kau sudah kembali ceria lagi Jidat. Kalau begitu ayo kita makan."
"arigatou Pig, aku sudah lega, ini berkat kau."
"Itulah gunanya teman, benarkan? Ayo cepat buka bento mu, aku sudah lapar sekali."
"hahaha baiklah Ino-pig."
"dasar forehead hahaha"
"Hm, syukurlah dia sudah tidak apa-apa," ucap seseorang dibalik pintu.
"Oii kenapa tarik-tarik baju sih, ada apa?"
"Diam dan ikuti saja aku,"
"Memangnya kita mau kemana?"
"Tempat sepi,"
"Eeh? K-kau mau apa?"
"Jangan berpikiran aneh baka,"
"Lalu mau apa?"
"…"
"Sebenarnya kita mau kemana sih? Dari tadi kau menarik bajuku tak jelas begini,"
"…"
"Hoii Ino, jawab pertanyaan ku!"
"Kau bisa tenang tidak sih Naruto-baka!"
Ino yang sedari tadi menarik lengan baju Naruto akhirnya melepaskannya, "aku ingin bilang sesuatu padamu," ucap ino serius.
Naruto yang sedang memperbaiki bajunya terkejut, "Eh? Kau mau bilang apa? Itu tidak boleh Ino, kita ini saudara sepupu!" ucap Naruto.
Muka Ino merah menahan marah, "Bukan itu baka," Ino berkata sambil menjitak kepala Naruto, Naruto yang menerima jitakan itu hanya meringis sambil mengusap kepalanya, "Lalu apa?"
"ini mengenai Sakura,"
"Sakura-chan?" kenapa dia?Apa dia sakit? Cepat katakan inoooo"
"ck bisakah kau dengarkan aku dulu baka!
"ahaha maaf habisnya kau kan tau aku menganggap sakura-chan itu seperti adikku sendiri"
"Yaya aku tau sikap overprotectivemu itu bahkan menyaingi sasori-nii, jadi sebaiknya kau diam dan dengarkan ceritaku. Begini kemarin sakura melihat sasuke berciuman dengan karin"
"Apa?! Dasar si teme brengsek, padahal dia sudah kuberi kepercayaan," ucap Naruto geram, "Baiklah nanti akan ku coba bicara dengan Sasuke." Lanjut Naruto.
"Baiklah, arigatou Naruto."
"Hm"
BUUK
"Dasar tidak tau diri kau teme! "
"Cih, kenapa kau tiba-tiba meninju ku?" Sasuke yang mendapat tinju dari Naruto meringis, ia tidak sempat menghindar karena Naruto meninjunya dengan tiba-tiba. Sasuke yang tadi hendak memasuki mobilnya mengurungkan niatnya dan kembali menutup pintu mobil itu keras.
Naruto masih mengepalkan tinjunya, "Tadi itu dari Sakura-chan yang telah kau buat menangis, dan ini dari ku-" Naruto kembali melayangkan tinjunya kearah Sasuke, tapi ditahan oleh Sasuke dengan mudahnya. Tentu saja Sasuke bisa menahannya dengan mudah karena dia adalah atlit Taekwondo terhebat di Konoha Gakuen.
"Itu bukan urusanmu baka." Ucap Sasuke sinis sambil membuang tangan Naruto.
"Cih, bukan urusanku? Sakura-chan itu sahabatku, aku sudah menganggap dia sebagai adikku, jadi urusannya juga urusanku." Jawab Naruto.
"Hn, apa kau masih menyukainya dobe? Kau itu sudah kalah dari ku, akulah yang mendapatkan Sakura jadi kau tidak berhak mencampuri urusan kami." Ucap Sasuke dengan nada sarkastik miliknya. Sasuke kembali membuka pintu mobilnya, tapi ditahan oleh Naruto.
BUUK
"Dasar kau brengsek, ya aku memang masih menyukai sakura-chan, tapi itu dulu. Jika kau benar-benar menyukai Sakura-chan kau tidak akan membuatnya menangis seperti itu. Apa kau tidak memahami perasaannya? Kau bermesraan dengan Karin didepannya, dan lagi kau mencium Karin tepat didepan matanya, apa kau sudah gila?! Lebih baik kau putus dengannya daripada kau mengkhianatinya di seperti itu!"
DEG
Sasuke hanya terpaku mendengar perkataan Naruto, ia tidak tahu kalau Sakura mengetahui itu. "Maafkan aku, aku tidak tahu kalau Sakura melihatnya," ucap Sasuke tertunduk.
Naruto memegang bahu Sasuke, "Tidak apa, masih ada kesempatan. Minta maaflah paadanya, bukan padaku."
"Hn, arigatou dobe,"
"Ah jangan berterima kasih seperti itu, aku jadi malu," ucap Naruto menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal.
"Cih jangan pasang wajah seperti itu, kau membuat bulu kudukku berdiri. Baiklah kalau begitu, aku akan menemui Sakura." Ucap Sasuke memasuki mobilnya.
"Baiklah, jaa"
Sasuke menstarter mobilnya dam pergi keluar gerbang sekolah, Naruto tersenyum melihat kepergian Sasuke. "Mudah-mudahan tidak akan terjadi apa-apa lagi pada mereka berdua." Ucap Naruto berlalu pergi.
Sakura sedang berguling-guling diatas kasurnya, bingung harus melakukan apa. Seharian ini dia benar-benar lelah, entah kenapa sepertinya semua guru berkomplot untuk menyiksanya, lebih tepatnya menyuruh-nyuruh. Mulai dari Kurenai-sensei yang menyuruhnya mengangkat kardus yang –ntah apa isinya- hingga Tsunade-sensei yang menyuruhnya mencabut rumput sepulang sekolah.
"Hah, aku bosan." Ucap Sakura sambil memainkan HP nya. Tiba-tiba HP nya bergetar tanda ada email masuk. Dilihatnya pengirim email itu, ia terkejut karena yang pengirimnya Sasuke.
From: Sasuke-kun
Subject:
Sakura-chan, aku ingin bicara denganmu.
To: Sasuke-kun
Subject:
Bicara apa sasu?.
From: Sasuke-kun
Subject:
Keluarlah, aku sudah berada didepan rumahmu
Sakura kaget membacanya, dengan segera ia bangkit dari kasurnya dan menuju jendela. Ternyata benar Sasuke sudah berdiri didepan rumahnya sambil menggosok-gosok kedua telapak tangannya dingin. Melihat itu Sakura langsung memasang jaket dan syalnya lalu turun kebawah, tak mau membuat sasuke menunggu terlalu lama.
Sakura membuka pintu pagar rumahnya, "Ada apa Sa-"
"Maaf kan aku," Ucap Sasuke memotong perkataan Sakura.
Sakura yang mendengarnya terkejut, "M-minta maaf kenapa?" ujar Sakura menatap wajah Sasuke.
"Maaf karna aku tidak mengerti perasaanmu" ujar Sasuke sambil menunduk, ia merasa bersalah atas apa yang diperbuatnya.
Sakura yang melihat itu menjadi tidak tega pada sasuke, "Tidak apa-apa, aku tidak marah padamu." Ucapnya lembut.
"Tapi aku sudah membuatmu menangis, maafkan aku." Ucap sasuke lagi, sekarang ia memeluk Sakura. Sakura tersenyum, 'Akhirnya Saseke-kun sudah kembali lagi' ucapnya dalam hati.
Sasuke melepas pelukannya, "Besok adalah malam natal, bagaimana kalu kita merayakannya bersama? Kau tidak ada acarakan?"
"Uhm, baiklah Sasu-kun. Jemput aku jam 7 ya."
"Hn, kalau begitu masuklah nanti kau kedinginan, aku pulang dulu." Ucap Sasuke membuka pintu mobilnya.
"Hai' hai' "
"Ne Sakura-chan,"
"Nani?"
CUP
"Aku pulang dulu."
Sasuke masuk kedalam mobilnya dan langsung pergi meninggalkan Sakura yang masih mematung. Sakura shock, wajahnya memerah, dengan memegang pipinya ia berjalan memasuki rumah sambil bergumam 'Sasu-kun mencium pipiku'
Akhirnya "Dia" kembali kepadamu lagi ne saku...
Tapi apakah kau yakin dengan perasaannya padamu?
Karna didunia ini tidak ada yang abadi, sekalipun itu perasaan cinta..
untuk kesekian kalinya terimakasih sudah membaca fic ini, gomen kalau masih banyak kesalahan,
no flame please, saran sangat ditunggu
Mind to RnR?
Thanks buat yang udah reviews
ini udah diupdate, lama sekali yah baru updatenya gomeeeeen , . kyaknya chap selanjutnya jugak bakalan lama karna author lagi banyak tugas, udah kelas 3 ntar lagi mau UN T.T
Arigatou minna~
