24 Desember, 12 tahun lalu
Tangan mungil itu semakin mempererat pegangannya. Meremas kuat jemari seorang wanita paruh baya yang ada di sampingnya. Di hadapannya kini telah berdiri seorang pria muda dengan pakaian berjasnya. Terlihat meyakinkan tapi juga mencurigakan disaat bersamaan karena bocah berusia lima tahun itu masih merekam dengan baik apa yang telah diucapkan oleh wanita di sampingnya —tidak boleh berurusan dengan orang asing. Dan pria muda di hadapannya ini adalah orang asing —itu yang menjadi catatan pentingnya.
Bocah mungil yang mempunyai tinggi tidak sampai batas paha kedua orang dewasa disekelilingnya itu menatap pria muda di hadapannya dengan sorot bingung dan takut. Dalam seketika pandangannya beralih pada wanita di sampingnya saat sang pria dewasa itu tersenyum ke arahnya. Menyadari tatapan sang bocah —yang tanpa disadarinya menjadi topik utama dalam perbincangan kedua orang dewasa disekitarnya—, wanita paruh baya itu berjongkok. Menyamakan tingginya dengan tinggi sang bocah dan tersenyum manis padanya.
"Ayo Kibum, perkenalkan dirimu pada Appa." Ucap sang wanita pada bocah yang bernama Kibum tersebut.
Mata polos itu mengerjap sesaat lalu kembali memandang pria muda yang dipanggil Appa tadi oleh 'umma'nya —sang wanita paruh baya yang berada di sampingnya. Sementara itu, sang pria muda yang ada di hadapan Kibum tampak ikut berjongkok dan tersenyum pada Kibum.
"Appa?" Kini mata Kibum kembali beralih pada sang 'umma'—penuh dengan sorot tanya.
"Ne, Appa." Ucap sang 'umma' dengan senyum hangat yang selalu terlukis dari wajahnya.
Kelereng mata Kibum kembali menatap pria muda dihadapannya dengan bingung.
"Anyeong, Kibumie... mulai sekarang kau bisa memanggilku Appa." Pria muda tersebut mengelus pelan rambut hitam Kibum.
"Anyeong...—" Kibum tampak ragu untuk berucap. Namun akhirnya lidah itu bergerak meski dengan agak sedikit bergetar. "—A...ppa."
.
.
.
"Terimakasih sudah menjaga Kibum selama ini, Haneul-ssi." Pria muda itu membungkuk hormat.
Wanita itu hanya membalasnya dengan senyuman. Pandangannya kini beralih pada Kibum yang sedari tadi senantiasa digenggam oleh jemari pria muda dihadapannya. Ia kembali berjongkok dan tersenyum pada Kibum. Mengangkat dagu bocah yang sedari tadi tertunduk lesu tersebut. Mencium kedua pipi chubby-nya dengan penuh rasa tidak rela.
"Ingat Bumie, sekarang namamu menjadi Choi Kibum. Kau harus jadi anak baik di sana. Jangan nakal, ne?" Air mata Haneul akhirnya menetes ketika mengatakan hal tersebut. Dengan seketika tubuh mungil dihadapannya langsung menubruk tubuh Haneul —memeluknya dengan erat. Isakan mulai terdengar dari keduanya —baik itu dari Kibum maupun dari Haneul.
"Bummie gak mau pergi. Bummie mau sama Haneul Umma di sini, juga semua teman-teman di panti." Kibum semakin mengeratkan pelukannya pada tubuh Haneul.
Perlahan Haneul melepas pelukannya. "Ssst... sudah jangan menangis." Tangan Haneul bergerak menghapus air mata Kibum. Kembali memberikan senyum terbaiknya meski air mata itu masih mengalir dengan deras. "Keluarga Bummie sudah menjemput Bummie untuk pulang. Sekarang Bummie punya keluarga baru..."
"Aniya! Bummie di sini saja..." kerasnya dan air mata yang terus membanjiri pipinya.
"Dengarkan umma sayang..." Haneul menangkup kedua pipi Kibum dengan lembut, mengarahkan mata Kibum agar lurus menatapnya. "Bummie masih bisa ke sini jika Bummie mau, Bummie juga bisa main di sini. Kita masih keluarga sayang. Tapi Bummie juga harus ingat, Bummie punya keluarga Bummie sendiri. Jadi Bummie harus pulang dan tinggal dengan keluarga bummie, oke?"
Kibum terdiam lalu mengangguk sekilas, meski terlihat gurat keterpaksaannya dengan jelas. Sementara Haneul segera berdiri. Menyeka air matanya sebentar lalu kembali memasang senyum pada pria dihadapannya.
"Tolong jaga Kibum dengan baik, Choi Kiho-ssi. Saya percayakan Kibum pada anda." Haneul membungkuk sekilas yang dibalas senyuman dari pemuda bernama Kiho tersebut.
"Saya akan menjaganya dengan sepenuh hati." Ucap pria muda itu mantap.
Dan dengan mata dan ingatan kecilnya, Kibum berusaha merekam tempat ia tumbuh selama ini. Sebuah panti yang selalu memberinya kehangatan bahkan semenjak ia mulai bisa mengingat di dunia ini. Helaan nafas keluar dari hidung mancungnya. Ia akan sangat merindukan panti asuhan ini, terutama Park Haneul —ummanya selama di panti dan juga kawan-kawannya di panti. Kim—ah tidak bukan kim lagi tapi Choi Kibum akan merindukan tempat ini. Sangat merindukannya.
.
.
.
Yang pertama Kibum lihat ketika ia sampai di kediaman keluarga Choi —kediaman pria muda yang membawanya adalah tatapan sinis nyonya muda di sana —Choi Hana dan tatapan tidak suka dari putra sulungnya —Choi Siwon. Hampir saja Kibum menangis ketika pikiran polosnya membayangkan akan seperti apa hidupnya jika dikelilingi dengan orang-orang seperti mereka. Dan hampir saja air mata itu mengalir ketika seorang bocah tiba-tiba berlari ke arahnya. Menubruknya dan membuat tubuhnya terjungkal kebelakang. Alhasil, kini tubuh kecilnya terbaring di lantai dengan tubuh bocah yang lebih kecil darinya berada di atasnya. Kibum menatap bocah itu bingung sedangkan sang bocah juga hanya bisa menatap Kibum dengan mata yang mengerjap-ngerjap lucu.
Sebuah tangan yang diyakini sebagai tangan milik Choi Kiho —sang kepala keluarga di sana— mengelus rambut ikal kecoklatan milik bocah yang menindih Kibum. Memberikan senyum hangatnya.
"Beri salam pada Hyungmu, Kyu." Ucapnya yang langsung membuat cengiran lebar terpahat manis di wajah imut bocah yang menindih Kibum.
"Aku pulang, Kibum Hyung." Ucap bocah itu riang lalu kembali menubrukkan tubuhnya ke tubuh Kibum —memeluknya dengan erat.
"Bukan aku pulang, Kyu. Tapi selamat datang." Ucap Kiho dengan sabar.
Bocah yang dipanggil Kyu tersebut mengangkat kepalanya. Menatap sang ayah dengan bibir yang mengerucut. "Appa sok tahu." Selorohnya lalu kembali menatap Kibum yang masih setia terbaring dibawahnya dengan sorot bingung. Senyum itu kembali mengembang. "Selamat datang!" Serunya yang pada akhirnya mengikuti ucapan sang Appa.
Kibum ikut tersenyum melihat anak kecil tersebut menyambutnya dengan kesan tak terduga. Setidaknya, mungkin tidak akan seburuk dengan apa yang dipikirkannya.
8 April, tahun lalu
Cahaya matahari mulai menembus kaca jendela yang masih setia tertutup oleh tirai berwarna hijau muda itu —senada dengan warna cat di ruang tersebut. Mengusik Kibum yang tengah berpetualang di mimpinya. Matanya mengerjap beberapa kali —menyesuaikan cahaya yang mulai mengisi kamar gelapnya. Mengumpulkan seluruh ruh yang berjalan-jalan di alam mimpi di malam panjangnya.
Yang pertama Kibum rasakan adalah sesuatu yang lumayan berat menimpa pinggangnya. Dengan terpaksa mata itu akhirnya terbuka sepenuhya. Dan baru Kibum sadari, sesuatu yang berat itu berasal dari adik dan kakaknya —Kyuhyun dan Siwon. Senyum manis tersungging di bibir merah Kibum. Ingatannya secara otomatis me-reka ulang kejadian kemarin malam, di mana Kyuhyun dan Siwon memaksa untuk tidur bersamanya. Padahal pesta Siwon saat itu belum usai, dan sang peran utama dalam pesta itu malah menghabiskan ulang tahunnya di kamar Kibum. Senyum Kibum semakin merekah kala ia yakin dengan pasti apa yang melandasi ulah kakak beradik itu. Karena mereka adalah saudara.
Saudara.
Sudah jadi hal mutlak bahwa mereka adalah saudara. Itulah yang dikatakan oleh sang magnae mereka meski awalnya sang sulung tidak begitu terima. Tapi lambat-laun mereka memang jadi saudara. Tak penting asal-muasal Kibum, yang pasti mereka tetap menjadi saudara. Hal yang paling Kibum syukuri sampai saat ini, meski kini keadaan keluarga Choi tak seperti pertama kali Kibum berada di sana.
Alis Kibum mengernyit —hampir beradu ketika ia mengingat mimpi yang menghiasi tidurnya tadi malam. Mimpi mengenai asal mula ia bertemu dengan keluarga Choi ini dan bisa berada diantara mereka sampai sekarang. Entah kebahagiaan atau kesedihan yang ia dapatkan. Perasaannya begitu absurd dalam mengungkapkannya. Sudah benarkah keputusannya saat itu untuk meninggalkan panti? Mengikuti orang yang menjemputnya saat itu —yang secara langsung mengakuinya sebagai anaknya?
"Kau sudah bangun?" Siwon mengerjapkan matanya beberapa kali. Meregangkan ototnya yang serasa kaku lalu menguap sebentar.
Kibum terkesiap kaget dan segera melihat kearah kirinya. Di sana terlihat Siwon yang tengah menguap sambil bergerak-gerak aneh—yang ia sebut sebagai peregangan otot. Kibum yang melihat itu akhrinya hanya bisa tersenyum.
"Kenapa?" Tanya Siwon ketika melihat senyum aneh yang terukir dari bibir adiknya itu.
"Aku hanya berpikir bagaimana kalau para penggemarmu itu melihat Hyung dalam keadaan seperti ini?"
"Mereka akan tetap mengagumiku."
"Percaya diri sekali. Bagaimana kalau tidak?" Cibir Kibum.
"Anni. Aku yakin mereka akan tetap mengagumiku."
Kibum hanya bisa mendecih mendengar itu.
"Kau tidak percaya padaku?"
Kibum menggeleng.
"Kau harus percaya padaku!"
Kibum membuang mukanya tak peduli.
"Ya, Choi Kibum!" Akhirnya teriakan kesal keluar dari mulut Siwon yang sama sekali tak dapat balasan dari Kibum.
"Hyung! Berisik!" Rupanya malah sang magnae mereka yang merasa terganggu dengan ulah sang sulung. Alhasil, sebuah guling yang awalnya berada di belakangnya kini beralih menimpa tubuh kedua Hyung-nya. Mendarat cukup keras di dua kepala yang masih setia berada di bantal itu. Menimbulkan suara aduhan kecil. Sementara dirinya masih dengan santai berbalik dan kembali tidur.
"Ya, Kyu!"
.
.
.
Matahari sudah beranjak ke pertengahan bumi di sudut kota Seoul. Menambah kesan panas di musim semi yang sebentar lagi akan berakhir. Riuh perbincangan memenuhi tempat yang beberapa saat lalu penuh dengan khidmat —sunyi dan senyap penuh kekhusyuan. Pelataran gereja itu kini ramai dengan beberapa orang yang saling bertukar informasi, mengobrol dan bahkan berdiskusi masalah bisnis. Kyuhyun memutar bola matanya mengingat kata terakhir. Sekarang keluarganya menjadi salah satu orang yang berada di sana. Sudah menjadi kegiatan rutin keluarganya untuk datang setiap minggu ke gereja. Sesibuk apapun kedua orang tua Kyuhyun, mereka akan tetap menyempatkan diri untuk mengajak anak-anak mereka pergi beribadat. Ya, setidaknya ada hal yang benar-benar disyukuri oleh Kyuhyun dalam keluarganya yaitu ketaatan mereka dalam beragama perlu di acungi jempol —meski entah termasuk dirinya atau tidak. Namun tentunya hal ini juga ternyata tak lepas dari bisnis mereka, karena setelah peribadatan selesai, maka kedua orang tua mereka menjadi salah satu kelompok orang yang akan berdiam di lingkungan gereja untuk membicarakan bisnis dengan relasi mereka.
Membosankan.
"Kyuhyun, kan?" Tiba-tiba seseorang berada di hadapan Kyuhyun, membuat tubuh bocah itu terlonjak sejenak. "Ah, mian." Lanjut orang yang bertanya tersebut menyadari keterkejutan dari Kyuhyun.
Kyuhyun hanya mengangguk sekilas.
"Ah, tidak ku sangka, ternyata kau juga sering ke gereja ya?" Tanya orang tersebut antusias.
Kyuhyun menggaruk tengkuknya yang tidak terasa gatal. Nyatanya itu hanya pengalih rasa bingungnya. "Mm.. ya." Senyum Kyuhyun tersungging sekilas sebagai penutup jawabannya.
"Aku baru saja pindah ke daerah di sekitar sini." Ujar orang tersebut dengan senyum melebar. "Tidak ku sangka bertemu denganmu, terlebih di depan gereja seperti ini. Ngomong-ngomong kenapa kau tidak ikut paduan suara gereja?"
"Ne?"
"Aku baru bergabung kemarin dan langsung diterima masuk. Memang kau tidak lihat tadi aku ada di depan?"
Kyuhyun menggeleng dengan bingung. Bukan bingung dengan pertanyaan orang tersebut tapi lebih kepada bingung siapa sebenarnya orang dihadapannya ini? Ia merasa tidak pernah mengenal orang dengan proposi tubuh kelewat tinggi sepertinya. Dan dengan tiba-tiba ia berbicara panjang lebar seolah mengenalnya.
"Aish, kau ini! Kenapa tidak perhatian sekali dengan temanmu sendiri sih?!"
"Teman?"
"Ne?"
"Apa kita pernah bertemu sebelumnya?"
"..."
"..."
"..."
Hening. Kyuhyun terdiam dan orang itu ikut terdiam. Celotehan itu kini terhenti diganti dengan tatapan tak percaya.
"Ja-jadi kau tak mengenalku?" Tanyanya sambil menunjuk dirinya sendiri dengan jari telunjuknya —seperti orang linglung dan Kyuhyun hanya menjawabnya dengan sebuah gelengan. Jawaban dari Kyuhyun tersebut ternyata cukup memberikan efek dramatis pada orang tersebut. Ia langsung mematung dengan tatapan yang tambah tak percaya. Rasanya seperti ingin mengubur dirinya sendiri di dalam tanah sekarang juga.
"Ya, Choi Kyuhyun! Bagaimana bisa kau tidak mengenalku?! Padahal kemarin kita baru saja bertemu!" Serunya terlihat frustasi.
Menyadari hal tersebut, yang bisa dilakukan Kyuhyun sekarang hanyalah membungkuk sekilas, "Mianhe."
"Aish, sudahlah..." Orang yang menurut Kyuhyun aneh itu langsung mengulurkan tangannya.
"Shim Changmin."
Tangan Kyuhyun terulur menyambut tangan orang yang mengaku bernama Shim Changmin itu. "Choi Kyuhyun."
"Baiklah Choi Kyuhyun, mulai sekarang kau juga ikut bergabung dengan paduan suara gereja."
"Eh?"
Dan tanpa disadari oleh Kyuhyun, Tn. Choi memperhatikan perbincangannya dengan orang yang bernama Changmin itu secara seksama.
.
.
.
Pandangan mata Tn. Choi terus menatap Kyuhyun yang duduk di depannya dengan tajam —penuh dengan tekanan. Kyuhyun yang menyadarinya hanya mampu terdiam. Ia tidak cukup gila untuk mengeluarkan suara sekarang. Ia tahu, ayahnya sedang dalam amarah yang memuncak.
"Jadi benar apa yang dikatakan oleh putra Tuan Shim itu, Kyu?" Dingin dan datar. Tak ada ekspresi ketika Tn. Choi bertanya hal tersebut tapi itu justru membuat Kyuhyun gemetar di kursi panasnya.
Suasana ruang keluarga yang sepi semakin sepi. Membuat jantung Kyuhyun semakin berembuk dan bepacu dengan cepat. Tak ada kedua Hyung-nya di sini —mereka telah dipaksa untuk masuk kamar oleh Tn. Choi sesampainya keluarga Choi di kediaman mereka sepulang dari gereja. Dan tak ada ummanya di sana —yang Kyuhyun tahu, meskipun ia ada tak akan membantunya. Tapi sungguh, itu lebih baik daripada berhadap-hadapan dengan ayahnya hanya berdua, di tempat yang seluas ini —di ruang keluarga mereka.
"Apa kau tak punya mulut untuk menjawab Kyu?" Pandangan Tn. Choi semakin mengintimidasi Kyuhyun yang sedari tadi terdiam.
Apakah ini ketidak beruntungannya sebagai anak termuda di keluarga Choi? Kenapa ia merasa kalau dirinya sering sekali berhadapan dengan ayahnya di meja panas seperti ini.
"Choi Kyuhyun?!" Suara Tn. Choi meninggi ketika tak mendapati respon dari Kyuhyun. Sementara Kyuhyun hanya bisa menelan ludahnya, gugup dan takut.
"Mi-mianhe Appa..." Lirihnya begitu pelan bahkan teramat pelan yang—
BRAK!
—langsung dibalas dengan gebrakan meja dari Tn. Choi.
"Sudah berapa kali Appa bilang, jangan berurusan dengan musik lagi! Apa kau tidak mengerti?!" Teriak Tn. Choi pada akhirnya. Mengekpresikan kekesalannya. Membuat Kyuhyun semakin mengerut di tempat duduknya. Tapi ia masih bisa bernafas lega, setidaknya sang ayah tidak sampai berdiri dan meneriakinya. Jika sudah sampai taraf itu, berarti kemarahan ayahnya memang sudah berada dipuncaknya.
"Tapi Kyu suka..."
"Suka?!" Tn. Choi memotong pembelaan dari Kyuhyun. Membuang nafasnya sejenak. "Suka saja tidak akan membuatmu sukses! Apa yang akan kau dapatkan dari musik? Dari bernyanyi? Apa kau ingin jadi artis?!" Suara Tn. Choi yang menggelegar diakhiri dengan keheningan yang memikat. Tak ada yang berbicara lagi setelah itu hingga beberapa detik kemudian sorot mata Tn. Choi melembut. "Keluar dari klub musik." Keputusan final keluar dari mulutnya yang di balas gelengan kepala dari Kyuhyun.
"Aku tidak mau Appa." Kepala Kyuhyun masih tertunduk takut tapi hatinya sudah bertekad. Setidaknya ia tidak ingin mimpi dan hobinya pun bergantung pada aturan ayahnya. Sudah cukup kehidupan dan waktunya yang diatur sedemikian rupa hingga sempurna di mata ayahnya. Tapi tidak untuk hal ini. Ia ingin membebaskan mimpinya. Membanggakan ayahnya dengan apa yang ia sukai dan minati.
"Choi Kyuhyun..."
"Appa membiarkan Siwon Hyung dan Kibum Hyung memilih sesuai dengan apa yang mereka minati, tapi kenapa Kyu tidak?" Mata coklat itu akhirnya mencoba berani untuk menatap mata sang ayah yang menatapnya dengan geram. "Ku mohon Appa, biarkan Kyu mencoba..." Lirihnya dan kembali tertunduk. Matanya telah dengan nyata kalah dari peperangan yang sedari tadi digencarkan oleh Tn. Choi.
"Mencoba apa? Kau pikir apa yang bisa kau dapatkan dari musik itu? Kau ingin membandingkannya dengan kedua Hyungmu?" Cibir Tn. Choi. "Lihat kedua Hyungmu, mereka memiliki kejuaraan nasional di bidang yang mereka minati. Menjadi yang pertama di tingkat nasional. Sementara apa yang kau dapat dari musik?" Hening sesaat.
"Tak ada." Tn. Choi beranjak dari duduknya. Ia menatap Kyuhyun sekilas dengan sinis. "Keluar dari klub musik."
"Aniya Appa."
Bertepatan dengan penolakan Kyuhyun, sebuah tamparan melayang ke arah wajahnya.
"Keluar dan itu final."
Kyuhyun tertunduk semakin dalam —merasakan panas yang kini menjalar di pipi kirinya, tempat dimana tamparan itu bersarang. Sementara Tn. Choi melangkah pergi meninggalkannya yang terpuruk. Kyuhyun tak pernah tahu apa yang salah padanya. Kenapa semuanya serasa tak pernah cukup bagi ayahnya. Kenapa semua yang Kyuhyun lakukan selalu salah dimata ayahnya. Kyuhyun tak pernah tahu alasannya. Apa yang salah padanya?
Kaki itu terangkat menapaki sofa tempat duduknya. Menarik lututnya hingga menghimpit dadanya. Melingkari lututnya dengan kedua tangannya dan dengan itu kepala Kyuhyun jatuh ke atasnya. Menelungkup dalam diam dan keputusasaan. Sepertinya ia akan menghabiskan malam ini dengan meringkuk di atas sofa ruang keluarga rumahnya.
.
.
.
Different
.
.
.
==by Terunobozu==
.
.
.
All Cast is God's, Their self, and Their Parents
.
.
.
05 Februari, 10.00
Keadaan hening menjadi lagu utama yang melatar belakangi koridor rumah sakit tersebut. Beberapa orang mulai sibuk dengan aktivitasnya, termasuk para suster dan dokter yang sesekali hilir mudik untuk mengerjakan tugas mereka. Jika ini bukan koridor untuk ruang ICU mungkin keadaannya tidak akan sesepi ini. Sepi yang begitu dekat dengan jeritan kesakitan. Sepi yang penuh dengan pengharapan kehidupan —atau mungkin sebaliknya?
Dua jam telah dilalui dalam diam, namun nampaknya tidak cukup lama untuk dapat menghentikan beribu pikiran dalam kepala Tn. Choi dan Kibum. Mereka masih setia duduk di kursi tunggu khusus penjenguk di depan ruang Kyuhyun, tentunya ruangan sebelum ia dipindahkan ke ruang operasi. Ny. Choi dan Siwon sendiri sudah pergi ke ruang operasi. Menunggu dan memantau keadaan Kyuhyun di sana. Meninggalkan Tn. Choi dan Kibum yang kini terjebak dalam diam.
Tangan Tn. Choi yang sedari tadi menggenggam tangan Kibum semakin mempererat pegangannya. Memaksa Kibum yang tengah menatap lantai dengan kosong beralih menatapnya. Posisi Tn. Choi masih sama, memandang lantai dengan sorot kosong. Terlihat tak terganggu dengan Kibum yang menatapnya dengan tanya.
Kibum kembali menatap lantai ketika Tn. Choi sama sekali tidak memberikan respon pada Kibum. Ia memulai kembali berkelana pada pikirannya. Yang membuatnya tanpa sadar merasa begitu lelah.
"Kau percaya pada Appa, kan?" Tn. Choi semakin kuat menggenggam tangan Kibum.
"Appa..." Lirih Kibum. Ditatapnya Tn. Choi yang kini terlihat begitu kacau. Keangkuhan dan rasa percaya dirinya seolah menguap dan terbawa angin. Tergantikan oleh sosok rapuh dan lemah.
"Semuanya akan baik-baik saja, percayalah pada Appa." Tn. Choi mengangkat kepalanya dan melihat ke arah Kibum. "Kau anak Appa, Kibum. Kau harus percaya pada Appa sampai akhir. Kau harus percaya... semuanya akan baik-baik saja." Air mata Tn. Choi perlahan mengalir dari kelopak matanya.
Kibum terkesiap ketika melihat orang yang begitu ia hormati menitikan air matanya. Apakah ayahnya benar-benar sedang berada dalam titik terlemahnya?
"Appa..."
"Semuanya akan baik-baik saja. Ya, semuanya akan baik-baik saja. Semuanya akan baik-baik saja, kan Bummie?" Sebuah pernyataan itu berubah menjadi pertanyaan. Apakah Tn. Choi benar-benar sudah kehilangan kepercayaannya?
Dengan sigap Kibum langsung memeluk Tn. Choi. Menyalurkan rasa hangat dan kekuatan sejauh yang ia bisa. "Semuanya akan baik-baik saja, Appa. Aku percaya padamu, Appa." Tangan Kibum terus mengelus punggung Tn. Choi yang bergetar. Beliau sedang menangis sekarang. Sesuatu yang menyadarkan Kibum bahwa orang dewasa dihadapannya ini selalu berusaha memberikan yang terbaik pada anaknya. Meski terkadang tak tersalurkan dengan baik padanya dan juga kedua saudaranya.
"Apa Tuhan sedang menghukum Appa? Kenapa semua ini terasa begitu berat, Bummie..." Air mata Tn. Choi semakin deras mengalir. "Kenapa harus Kyuhyun? Kenapa harus Kyuhyun? Kenapa harus Kyunnie kecil kita..."
"Ssst... semuanya akan baik-baik saja Appa." Kibum masih mencoba menenangkan Appanya yang kini semakin terisak. Mencoba menguatkan sang Appa yang kini terlihat begitu lemah, padahal ia sendiri tahu, ia belum cukup kuat bahkan untuk menguatkan dirinya sendiri.
.
.
.
Lampu merah di pintu ruang operasi itu masih belum padam, menandakan tim medis yang berada di dalam sana masih berjuang dengan keras untuk mempertahan sebongkah nyawa. Kecemasan tergambar jelas dari gurat lelah Ny. Choi dan Siwon. Tak ada dari mereka yang bisa tenang sedari tadi. Meski itu tak nampak dari fisik mereka yang malah lebih banyak diam, namun itu berbeda dari debaran jantung mereka yang sedari tadi terus memompa secara abnormal. Hanya lantunan do'a yang bisa mereka lakukan, tak lebih.
"Apa ini semua salah Eomma?" Tiba-tiba Ny. Choi bergumam entah pada siapa, membuat Siwon menatap sang ibu dengan sorot bingung.
"Eomma bukan ibu yang baik buat kalian, kan?" Ny. Choi melihat ke arah anaknya dengan wajah yang penuh bekas air mata. "Apa Eomma adalah ibu yang jahat?"
"Eomma..."
"Harusnya Eomma, bukan Kyuhyun..." Racau Ny. Choi dengan air mata yang kembali ngalir. "Ini semua salah Eomma... salah Eomma..." Kedua telapak tangan Ny. Choi menyentuh permukaan wajahnya. Menutupinya lalu meraung dengan keras. Bergumam kata-kata yang tak begitu jelas terdengar yang diselingi dengan isakan.
Siwon terdiam melihat ibunya seperti itu. Terakhir kali ia melihat keadaan kacau Ny. Choi yang persis seperti ini adalah ketika Tn. Choi membawa Kibum ke rumah mereka. Bergabung bersama keluarga kecil mereka yang harmonis —dulu. Karena sekarang ia sendiri tidak tahu bagaimana menggambarkan tentang keluarganya. Perhatian itu masih ada, kedua orang tuanya selalu pulang kerumah, sarapan dan makan malam bersama, juga menghabiskan akhir pekan dan liburan bersama. Tapi kata harmonis itu seolah menghilang entah kemana. Ada yang kurang dari keluarganya. Siwon hanya merasa keluarganya berubah menjadi kaku, hambar dan datar. Anni, bukan keluarganya, tapi kedua orang tuanya tepatnya. Karena harmonis masih berlaku dalam kamus persaudaraannya dengan kedua dongsaengnya.
Siwon beranjak dari tempatnya terdiam dan menghampiri ibunya. Merengkuh tubuh yang bergetar itu kedalam dekapannya. Memeluknya dengan erat, memberi ketenangan dan kekuatan secara bersamaan. "Sudahlah Eomma, Kyuhyun pasti baik-baik saja." Ditepuknya pelan punggung sang Ibu, mencoba terus menguatkannya meski kini iapun ikut terisak.
Lampu merah di pintu ruang operasi padam, menandakan operasi telah selesai. Tidak ada yang menyadari hal itu hingga akhirnya Dokter Tan keluar ruangan dengan wajah lega.
Siwon dan Ny. Choi terperanjat ketika mendengar suara pintu yang terbuka. Sontak mereka melepaskan pelukan mereka dan beranjak menghampiri Dokter Tan.
"Bagaimana Dokter?" Bibir Ny. Choi masih bergetar ketika menanyakan hal itu. Suaranya terdengar begitu parau. Sementara Siwon menatap Dokter di hadapannya dengan penuh harap.
Senyum mengembang dari Dokter Tan, dan itu cukup untuk membuat hati Ny. Choi dan Siwon yang semula terasa sesak berubah lega seketika. "Operasinya berhasil dan kami akan memindahkannya ke ruangan semula." Ujar Dokter Tan yang dibalas raut bahagia oleh Ny. Choi dan Siwon.
"Terima kasih, Dokter." Ucap Siwon dengan senyum bahagianya.
Dokter Tan mengangguk sekilas. "Keadaan Kyuhyun-ssi juga sudah mulai stabil dan ia sudah bisa di jenguk di ruangannya nanti." Ucap Dokter Tan yang berhasil membuat senyum itu semakin mengembang dari Ny. Choi dan Siwon. Air mata bahagia juga tak luput keluar dari kedua mata mereka.
"Terimakasih Tuhan..." Gumam Siwon penuh syukur.
.
.
.
==Chapter 3 End==
.
.
.
"Hyung, bisa kah aku seperti burung yang terbang bebas menggapai awan di langit? Aku lelah terkurung dalam sangkar."
cloudyeye : amin ^^ ini udah lanjut... ^^
Topaz4869 : iya tidak apa-apa. Tapi selanjutnya review ne? Hehehe... masalah terbesar saya adalah dalam update-an. Maaf, mungkin tidak akan bisa update asap ^^a. Selamat hari raya idul fitri juga, mohon maaf lahir dan batin ya... ^^
MissBabyKyu : Annyeong ^^/ Yippie, ini update-annya! Apakah cukup menghilangkan rasa bingungnya? Hehe, kalau belum berarti belum saatnya bingung chingu selesai. #eh ^^v
Runashine88 : Sip! *tos bareng* iya, kapan ya Kyupil bangun? *jadi ikutan manggil Kyupil* tunggu tanggal mainnya ja #apadeh u,u
Raihan : o.o OMO! Jangan mutilasi nyonya Choi. Melindunginya di balik tubuh siwon. Bahaya kalau Ny. Choi dimutilasi, kita akan kekurangan pemain. Keke.. ini udah dilanjut ^^
MilMilk203407 : kenapa? Ini udah update ^^
Meyminimin : *Ngasih tissue* gak tau nih selingkuh sama siapa hehe
Kyu. Kwang : terimakasih ^^ ini udah lanjut... |^^|
Shofiy Nurlatief : kelemahan saya, menulis alur tidak teratur. Hehe tolong dimaklumi. Btw Kibum? Kalau sekarang sedih karena siapa nya?
Savory pancake : hehe, yang Hasu sama Run di pending dulu ya... rencananya mau namatin dulu yang ini ^^V
Rolly Polly Kyuke : ini udah dilanjut... tapi maaf mungkin untuk chap ini jadi gak bagus u,u saya sedang tidak dalam mood fiuh~
Shin min hyo : maaaf... saya gak bisa update asap hehe
Kyukyu712 : ye, Fighting! *lirik tanggal update* mianhe u,u
Lee Hee Yeon : terimakasih *nyusut air mata* maaf, gak bisa update cepet ^^
Guest (wks) : hehe... ibu mereka memang jahat, tapi ia tetaplah seorang ibu dan berada di posisi seorang ibu #ngomongapa . ini lanjutannya! ^^/
Someone : ini udah lanjut, makasih ya ^^
Fitri MY : terimakasih ^^. Maaf, sepertinya saya gak bisa kalau update cepet u,u Hasu dan Run bakal dilanjut kok, tapi mungkin nyelesain fic ini dulu hehe mianhe
Toolazytologin : Hehe... maaf gak bisa update cepet ^^
Ainizzamani : terimakasih chingu... ^^ ya, keluarga adalah harta yang paling berharga. Maaf ya gak bisa update cepet u,u
Shinhyun Cho : hehe... maaf gak bisa update cepet. Tapi syukur kalo suka sama ff abal ini ^^ chap ini masih sedih gak? *gak yakin*
Mitade13 : *Nyodorin kibum* Loe kenapa Bum? #plak
Ika. Zordick : thanks... btw mana yang sakit ka? Biar saya cariin obat sama kilua #eh
Reeiinii : butuh tissue gak? *nawarin tissue* hehe... maaf gak bisa update cepet ^^a
CreepyKYU : Salam kenal *meski udah kenalan di twitter* #plak. Syukur kalau suka... tapi gak percaya diri sama chap ini soalnya ngerjainnya lagi gak mood hehehe... semoga tetep suka ^^
Babykyupa : aduh jangan mewek dong *ngasih tissue* saya gak mau tanggung jawab #buruburulari
Loveiskyu : *narik Kibum* Bum, loe anak haram? #eh
Sasuke. Gmpaselleh : syukur ketemu ^^ *ikut seneng*. Pasti dilanjut kok chingu ^^
Gyurievil : Benarkah? Tapi sekarang udah baik-baik ajakan? Kita lihat ada apa dengan Tn. Choi? *berasa lagu* Oke, Thos bareng Gyurievil XD
Yolyol : masil lanjut kok hehehe *nyengir gaje*
Guest (hankyuni) : u,u mianhe update nya lama...
Blackyuline : serius? Hehe... chap ini masih nangis kah? *gak yakin*
Ilia funtimes : terimakasih. Gak berasa sinetron kah karena kebanyakan konflik?
Kyuelf15 : Nyantai rin... yang ini masih kurang panjang kah? Sebenarnya kadar kepanjangan tergantung dari kebutuhan perchapter hehe... #alibi eh, rin mau jadi ibunya? Ny. Choi gitu? Jangan, ntar malah di sate sama reader lain hehe... nado saranghae *bighugtoo
Guest : benarkah? Hehe.. perlukah ganti genre jadi angst?
0704minnie : annyeong ^^/ terimaksih, kita tunggu apa yang terjadi ama siwon *evil smirk* ini next chapnya ^^
Jung Jisun : hehe... maaf karena gak bisa update kilat *ngilang dibalik harmonika Kyu*
Terimakasih untuk yang udah review dan maaf kalau ada yang salah dalam penulisan nama atau mungkin terlewat. Silahkan protes *bow*
Fiuh~ akhirnya chap ini selesai... *penuh dengan perjuangan keras* menulis dalam keadaan tidak mood ternyata susah, maaf kalau hasilnya tidak memuaskan. Adakah yang menunggu fanfic ini? ^^a
Oh ya, jika ada yang mau neror saya [?] ayo berteman di twitter Tumturu *nama apaan ini* hehe...
Anw, selamat hari raya Idul Fitri 1433 H bagi yang merayakannya. Mohon maaf lahir dan batin ya! Dan bagi yang mudik, hati-hati diperjalanan. Titip salam buat keluarga di rumah ya... ^^/
The last, sampai jumpa di chapter selanjutnya ^^/
==terunobozu==
