DISCLAIMER: Gakuen Alice punya Higuchi-sensei. Aku hanya memakai karakter-karakternya saja.
My Lady
Written by Luna Margaretha
Chapter Three: The Call
Pagi hari telah tiba, saatnya untuk bangun dan menjalani rutinitas seperti biasanya. Di kamar inilah Natsume bangun dari tidurnya, menguap dan merentangkan tangannya ke atas maupun samping. Perlahan-lahan melihat sosok di sampingnya sedang tertidur lelap tanpa ada seorangpun bisa mengganggunya.
"Cantik," gumam Natsume menyingkirkan helaian rambut Mikan yang menutupi wajahnya yang imut juga polos.
Gadis itu menggeliat karena sentuhan dari pria di sampingnya. Lekas Natsume menarik tangannya, segera mungkin turun dari tempat tidur yang ditidurinya tadi. Sesaat kemudian masih menatap wajah manis itu seakan-akan mau memilikinya sendiri. Natsume jadi mengutuk dirinya karena Mikan belum jadi istrinya yang sah.
"Apa-apaan kau, Natsume!" gerutu pria bermata merah menyala kepada dirinya sendiri.
Dia pun beranjak pergi dari sana sekalian menyiapkan sarapan pagi untuk Mikan, majikan manisnya itu sebagian diralatkan karena ada banyaknya kepolosan bukan mainnya bikin sakit kepala.
Natsume baru saja mencapai ruang dapur, tiba-tiba ada terdengar getaran di saku celananya. Cepat-cepat Natsume mengeluarkannya dari sana, mengangkatnya sambil berdehem terlebih dahulu.
"Ada apa, Tonouchi?" Tanpa mengetahui dari layar kaca, Natsume bisa mengetahui kalau itu adalah pelayan pribadinya paling setia sampai sekarang. "Ada apa meneleponku pagi-pagi begini?" tanyanya, heran.
"Saya mau mengatakan soal keluarga Nona Mikan Sakura. Mereka berniat bertemu dengan Anda sekarang juga," jawab Tonouchi di seberang sana, sangat gelisah. "Mereka ingin sekali bertemu Anda dan keluarga."
"Sial! Apa kau nggak bisa mencegahnya?!" teriak Natsume setengah menggeram, mengacak-acak rambutnya berwarna hitam berantakan. "Kau harus tahu, mereka pasti menyadari kalau aku ini adalah pelayan pribadi calon tunanganku. Mereka bisa marah besar padaku apalagi orangtuaku!"
"Tapi, ini mendadak sekali, Tuan. Nggak bisa diganggu gugat lagi. Anda harus pulang sekarang juga," pinta Tonouchi berharap Tuannya mau mendengarkan sarannya meski itu bikin Natsume sangat marah pada pelayan kepercayaannya.
"Kau itu benar-benar—"
Sebelum Natsume marah, seorang gadis datang di arah belakang membuat pria 19 tahun membalikkan tubuhnya karena terkejut. Wajah kantuk Mikan masih terasa di ekspresinya yang sayu, berusaha semaksimal mungkin untuk bisa bertahan mengatasi kantuknya yang begitu berat.
"Kenapa kau marah-marah, Natsume?" tanya Mikan khawatir sambil mengucek-ucek matanya yang berwarna cokelat.
"A-Anda sudah bangun?" tanya Natsume, gagap. Bertanya balik.
"Saat kau bangun, aku juga bangun. Aku bisa merasakan sentuhan dari jari-jarimu di wajahku," jawab Mikan polos sekali. Memiringkan kepalanya melihat handphone di tangan Natsume, menggenggamnya erat-erat. "Kau lagi menelepon?"
Sesegera mungkin Natsume memutuskan sambungan, berwajah santai seperti biasa dan tak terpengaruh pada apa yang terjadi saat Mikan mendengarnya lagi marah-marah tanpa sebab. "Bukan apa-apa. Ah, apa Anda ingin sarapan? Aku bisa membuatkan Anda makanan paling enak jika Anda mau," kata Natsume membalikkan pertanyaan.
Mikan tersenyum lebar, mengangguk cepat. "Tentu saja aku mau! Masakan dibuat Natsume memang paling enak sedunia!"
Mendesah napas panjang, Natsume mengajak Mikan ke dapur, lalu memasukkan handphone ke dalam saku celananya. Diiringi gadis itu ke dapur walau rasa kantuk masih tersimpan di dalam matanya membuat dirinya harus tertidur, membenamkan wajahnya di meja dapur.
Pria berambut hitam berantakan menatap sekilas Mikan yang tertidur, menghembuskan napas begitu panjang. "Sial! Lagi-lagi aku harus menyembunyikan ini hanya karena aku mencari tahu. Dan sialnya lagi, orangtua gadis ini benar-benar bikin aku marah. Apa mereka nggak bisa menunggu sementara waktu?" geramnya dalam hati.
Aroma masakan mulai tercium di penciuman Mikan, secepat kilat terjaga dan mengeluarkan air liur segar yang turun dari bibirnya yang tipis. "Masakannya sudah jadi?"
"Sudah. Kita makan di meja makan, ya Nona," ajak Natsume langsung ditepis oleh Mikan.
"Di sini saja. Di sini lebih baik daripada di meja makan utama. Di sini 'kan ada Natsume," seru Mikan langsung saja mengambil piring berisi makanan lezat di tangan pria yang berperan jadi pelayan pribadinya.
Natsume terdiam sambil melihat gadis itu melahap makanan begitu rakusnya. "Mirip sekali dengan babi," dengusnya terkekeh geli.
"Ayow, makan Natsuwme!" seru Mikan sambil menguyah makanan. Natsume terkekeh geli, mengulurkan tangannya untuk membersihkan noda makanan di dekat bibirnya. Mikan jadi memerah saking terpesonanya pada perlakuan Natsume.
"Jangan terlalu makan banyak, Nona. Bisa-bisa tersedak nantinya," saran Natsume membuat Mikan mengangguk cepat.
Bergetarnya handphone di saku celananya benar-benar menyulut kemarahannya semakin dalam. Tak seharusnya Tonouchi meneleponnya di saat dia lagi bersama Mikan. Tak seharusnya Tonouchi melapor soal beginian padanya, padahal dirinya masih beberapa minggu di sini sebagai pelayan pribadi Mikan.
Tidak melihat apa yang terjadi pada Natsume, Mikan masih menguyah makanan itu sampai-sampai Mikan tersedak. Mau tak mau, Natsume mengambilkannya segelas air putih, dan memberikannya pada Mikan. Getarnya handphone di saku celananya berwarna hitam membuat dia jadi menggeram. Mikan mengetahui perubahan Natsume yang mendadak aneh.
"Kau nggak apa-apa, Natsume? Kau terlihat pucat."
"Aku baik-baik saja, Nona."
Mikan mengangguk mengerti. Beberapa menit kemudian, setelah menyelesaikan makanan di atas meja dapur, Mikan kembali ke kamarnya untuk mandi dan berpakaian baju baru. Natsume lega tak bersisa, sesegera mungkin mengangkat telepon mendadak itu.
"Nggak bisakah kau jangan sekali-sekali meneleponku, Tonouchi!" geram Natsume semakin marah pada laki-laki di jalur lain.
"Maafkan saya, Tuan. Ini sangat mendadak sekali. Tuan Besar dan Nyonya Besar meminta saya untuk menyampaikan ini pada Anda soalnya mereka tak bisa menghubungi Anda sama sekali." Permohonan maaf dilakukan Tonouchi membuat Natsume beranggapan, apa sebaiknya dia mengatakan sebenarnya pada Mikan kalau dirinya adalah calon tunangannya. "Anda harus kembali pulang. Hanya sementara saja, Tuan."
"Aku nggak mungkin meninggalkan Mikan seorang diri di sini," batinnya dalam hati mengacak-acak rambutnya, frustasi. Menghela napas panjang, Natsume melanjutkan. "Baiklah. Aku secepat mungkin akan pulang. Bilang pada Ayah dan Ibuku, aku baik-baik saja. Aku pulang siang ini juga."
"Baik, Tuan Muda."
Jalur penghubung di handphone terputus sesaat Natsume memutuskannya. Saat ini dia begitu frustasi antara ingin pergi dan tak mau pergi. Meninggalkan Mikan sendiri di sini benar-benar membuatnya tak mau berlama-lama pergi mengunjungi orangtua Mikan dan keluarganya. Seolah-olah Mikan telah masuk ke bagian hidupnya.
"Aku harus bagaimana?" batinnya mempertanyakan dirinya bagaimana selanjutnya.
"Natsume?"
Natsume terlonjak kaget karena Mikan tiba-tiba muncul di hadapannya tanpa mengucapkan kata-kata. Mikan baru sehabis mandi, itu bisa tercium aroma khas bau jeruk di tubuhnya yang mungil. Pria 19 tahun merapikan pakaiannya yang berantakan, kemejanya dilepas dua kancing di bagian dada.
"Ya, Nona."
"Hmm… sebenarnya aku mau pergi sebentar siang ini. Apa kau baik-baik saja di rumah?" tanya Mikan berharap Natsume baik-baik saja selama dirinya meninggalkannya di rumah.
Terkejut begitu senangnya karena tak menyangka majikannya akan pergi. Ini berarti sebuah kesempatan besar bagi dirinya untuk menemui keluarga Mikan siang nanti.
"Tentu saja aku baik-baik saja, Nona," sahut Natsume tersenyum kecil. "Aku bisa menjaga diriku sendiri."
Mikan bertepuk tangan, bernapas lega. "Syukurlah. Kukira kau akan ngamuk apabila aku pergi. Kurasa kau akan baik-baik saja di sini."
"Anda mau ke mana, sebenarnya?" tanya Natsume.
"Aku mau ke tempat temanku. Mungkin sore atau malam, aku baru pulang. Tenang saja, aku diantar sama supir. Soalnya aku juga mau bertemu kakakku," Mikan mengacungkan dua jari bertanda peace. Natsume tersenyum lega mendengarnya.
"Mungkin aku bisa menjemput Anda jika aku sebisa mungkin pulang secepatnya," kata Natsume takut terjadi sesuatu pada Mikan.
"Aku pasti akan menunggumu, Natsume!" seru Mikan tertawa riang.
Mereka begitu manis jika dilihat dari dekat, tersenyum senang meski di wajah Mikan ada sebening cahaya warna merah di pipinya. Akankah Mikan mulai menyadari perasaannya begitu polos terhadap Natsume? Jika iya, mungkin bisa ditunggu lain kali. Karena cerita ini masih belum mencapai klimaksnya.
-TBC-
