Saya mau mengucapkan banyak terimakasih kepada senpai-senpai yang mau dan bersedia merpiew...
Disclimair
Naruto : Masashi Kishimoto
Friendship and Love : Belongs to me
Chapter 4
Friendship and Love
Seseorang menegur Hinata dari belakang
"Hmm ? Hinata mana yang lainnya ?" Tanya Naruto kebingungan sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Hinata pun terkejut. Mata lavendernya mendapat siluet seseorang yang baginnya lebih cerah dan lebih hangat dari pada api unggun.
".a Naruto-kun. Entahlah ak-u ju-ga tidak ta-u, mu-ngkin se-dang menik-mati ma-alam sam-bil ber-isti-rahat" Kata Hinata dengan tergagap karena berbicara dengan Naruto.
"oh..." Naruto terdiam, lidahnya kelu sekarang, apa yang akan di bicarakan ? entahlah, Naruto merutuki teman temannya yang jauh dari pusat api unggun dan mendapatkan Kiba dan Lee yang sedang tertidur pulas. Ia gugup entah harus memulai pembicaraan apakah tidak, , Naruto sendiri heran dengan dirinnya yang sekarang, berada di dekat Hinata membuat dirinnya seakan habis kata kata. Apakah karena ia tak punya bahan perbincangan atau sangat gugup, tetapi yang ia tahu adalah keringat dingin sudah menetes di dahinnya. Sesekali Naruto membuka mulut dan menghela nafas untuk memulai pembicaraan tetapi ia mengurungkan iatnya lagi untuk memulai pembicaraan.
"K-au da-ri mana Naruto-kun?" Tanya Hinata pada Naruto, dan memulai pembicaraan.
"oh.. aku baru saja buang air kecil, dari tadi kau sendirian?"
"tidak. Ada Lee dan Kiba kok" Kata Hinata dengan tersenyum sambil memandangi api unggun yang sedari tadi menjadi saksi bisu antara keduan insan manusia ini.
Melihat senyuman Hinata dengan cahaya remang api unggun membuat Naruto terbelalak kaget, ia melototkan matanya seprti tidak percaya 'ahh cantiknnya' gumam Naruto dalam hati
"Kau ke-na-pa Naru-to-kun?" Tanya Hinata menoleh pada Naruto . Wajah Hinata berubah merah padam percayalah, dia sekarang ingin rasanya bergabung dengan Lee dan Kiba yang terlelap dengan tampang tak berdosa mereka. Memandan wajah Naruto sangat dekat dengan ekspersi terkejut membuat wajah Naruto berubah menjadi serius dan membuat wajah Naruto ysng tampan semakin bertambah tampan dengan wajah seriusnnya. Naruto sedari tadi memang berada di dekat Naruto hanya ketika ada yang membuka suara mereka menoleh pada lawan bicara mereka dan kembali menatap api unggun. Tapi kini berbeda, mereka seakan tertahan oleh magnet lekuk wajah masing masing, saling memuji ketampanan dan kecantikan. Saling memuji ciptaan Tuhan. Mereka menatap satu sama lain, Naruto dengan wajah serius nan tampannya dan Hinata dengan wajah merah padam nan cantiknnya. Sadar dengan posisi masin-masing Hinata cepat menoleh lagi pada api unggun. Naruto pun mengikutinnya, juga memandang api unggun untuk penghangat itu.
"M... Hinata sebenarnya aku inhgin menanyakan satuhal pada mu. Bolehkah?" Tanya Naruto dengan wajah seris dan tetap memandang kobaran api yang berada di depannya.
"Tentu saja Naruto-kun" jawab Hinata pasti. Dan tanpa sedikit pun menoleh pada Naruto, ia takut kejadian tadi akan terulang.
"Apakah waktu it.."
"Hinata, Naruto ? apa yang kalian lakukan berdua di sini ?" Tnya Neji yang tiba-tiba muncul di hadapan mereka dan didampingi oleh Ten-Ten di seberang api unggun.
"huft.. baru saja aku mau mengatakannya " Gumam Naruto GJ.
"Kau bilang apa Naruto ?" Tanya Ten-Ten penasaran
"Tidak... Tidak apa apa kok. Lalu kalian dari mana saja eh ? jangan bnilang kalau kalian dari kencan jangan kencan di situasi seperti ini dong. Kalian ini " Tanya Naruto penuh selidik dan dengsan panyakit berisik yang kembali kumat. Mungkin karena kedatangan Neji dan Ten-Ten.
"SIAPA YANG KENCAN!" Teriak Ten-Ten yang membuat lee dan Kiba Menggeliat sesaat.
"Stt.. sudahlah Ten-Ten, percuma kau meladeninnya" Kata Neji dengan tampang datarnya.
"Hinata tidurlah dan jangan meladeni dia" Kata Neji sambil menunjuk ke arah Naruto.
"Aku?" Tanya Naruto "Enak saja!" Kata Naruto tidak terima.
"Baik" Hinata menuruti kata kakak sepupunya itu dan segera bergegas menuju ke arah Kiba karena parintah Shikamaru yang menyuruh mereka tidur di dekat tim masing masing agar suasan tidak canggung. Neji dan Ten-Ten pun mengikuti mereka menuju ke arah Lee yang sedang tertidur pulas karena kelelahan Naruto pun segara bankit dan mencari tempat untuk di gelarnya tempat tidur yang ia sering pakai untuk tidur di tengah hutan ketika sedan misi.
"Mana teman, setim ku ?" Naruto mencari mereka dengan celingukan "Ah... Sudahlah mereka pasti menyusul di dekat ku" Kata Naruto sanbil berbaring dean memejamkan matanya.
Sementara itu pada langit yang sama dan pada lokasi yang berbeda
"siapa di situ?" Tanya Sai dengan tampangnya yang masih telihat tenang. Rupanya dia tau bahwa seseorang itu tidaklah berbahaya.
"Ini aku Ino" Kata Ino lalu keluar dari balik pepohonan
"oh... kau.. ada apa ke mari?" Tnya Sai tanpa sediktpun menoleh pada Ino
"Tidak boleh ya?" Kata Ino dengan tampang kecewa
"Bukan begitu, hanya tidak terbiasa saja" Kata Sai cepat cepat meluruskan
"Aku hanya ingin menemanimu, aku tidak dapat menemukan yang lainnya, dan akupun belum ingin tidur"
"Hm.. bukankah kau yang tadi sangat kelelelahan?" Kali ini Sai memandang Ino
"Iya,, tapi aku hanya tidak bisa tidur saja aku memutuskan mencari Sakura, eh, aku malah menemukanmu. Tidak apa-apa kan kala aku duduk di sampinmu ?" Ino menunjuk sebelah Sai
"Tentu. Duduklah" Sai lalu menepuk ruangan kosong di sebelahnya
Ino lalu mendudukan dirinya uyang sedari tadi berdiri di dekat Sai dan menyandarkan dirinya ke pohon belakang persis apa yang di lakukan Sai. Ino pun memulai pembicaraan
"Apa yang kau lakukan sebenarnya?"
"Aku, hanya ingin memandan langit, bintang malam rupanya akan menjadi koleksi lukisan baruku" kata Sai sambil tersenyum pada Ino, tapi Ino tidak tau apakah ia tersenyum tulus apa tidak.
"Sejak kapan kau suka melukis Sai?"
"Aku juga tidak tahu" Kata Sai Inocent
"Lalu apa saja obyek yang telah kau lukis ?" Ino sudah seperti seorang wartawati. Tapi anehnya Sai sama sekali idak keberatan diu tanya oleh wanita cerewet sepert Ino.
"Entahlah, rasanya sudah banyak"
"Setelah bintang ini, kau berncana melukis obyek apa Sai?" Ino tersenyum pada Sai lalu kembali menoleh pada langit kelam berbintang.
Sai menoleh pada Ino untuk menatapnya "Sepertinya akan segera ku dapatkan" Kata Sai dengan senyum penuh arti.
...
Sakura sudah kembali dari penjelajahan malanmnya, ia melihat semua sudah tertidur pulas. Semua. Minus Shikamaru. Ia pun lalu menidurkan diri di sebelah Naruto dan Sasuke, di sebelah Naruto sudah ada Sai yang juga tertidur pulas, Sakura merutuki siapa yang menaruh tempat tidurny di situ, bukannya ia tak mau tidur di apit oleh kedua pria tampan tersebut, hanya Sakura masih sangat canggung untuk tertidur di sebelah Sasuke. Sakura pun pasrah dengan keadaan, tidak mungkin ia membangunkan Naruto dan menyuruhnya bertukar posisi. Sakura lalu merebahkan dirinya di kasur tersebut, ia menarik selimut untuk menahan dingin yang akan menyerang tubuhnya. Saat Sakura ingin memejamkan matanya seseorang berbicara kepadanya
"Bagaiman Sakura ?" Ternyata itu adalah suara Shikamaru
"Bagaimana apa ?" Tanya Sakura dengan mata yang terpejam
"Jangan pura-pura bodoh. Kau tau apa maksudku"
"Sudahlah Shikamaru Dia tidak mungkin membunuhmu hanya karena memberitahunya sesuatu hal, lagi pula dia pasti bwerfikir bahwa nee-san nya akan membencinya jika dia macam macam padamu" Sakura mulai membuka Mata tanpa mencari sosok Shikamaru
"Aku masih saja ragu"
"Sudahlah lakukan saja yang menurutmu benar lagi pula kau itukan jenius kau pasti memikirkan beribu akal sekarang, dan lagi kenapa sih kau menanyakan hal ini padaku ?"
"Kau kan dekat dengannya "
"Tidak begitu juga kok,"
"Ck, kau pikir aku tidak tau?"
"Sudahlah kau tidur saja, lagi pula tidak sepantasnya kita membicarakan hal ini pada saat sekarang, mengingat apa yang akan terjadi ke depan. Ketua" Sskura menekankan kata yang terakhir untuk mrngingtkan pada misi yang akan di hadapi
"Ck, merepotkan sekali sih. Ya sudah kau juga. Tidurlah"
Shikamaru pun pergi. Sakura memandang bintang dengan seksama, merasa tidak nyaman dengan posisinya ia pun berbalik. Sakura mendapatkan wajah Naruto yang sedang tertidur pulas. Sakuraa tersenyum, ia memandan lekat- lekat sahabat yang sudah ia anggap sebagai saudara itu. Ia menyusuru setiap lekuk wajah Naruto dengan jari telunjuknya " Kau sudah dewasa Naruto, tida ku sangka kau akan menjadi setampan ini, andai saja waktu kan terulang aku pasti akan menyukaimu, mana mungkin aku menyiakan sosok yang sangat baik sperti mu" Seketika itu juga Sakura kembali mengenang masa lalunya, di mana ia mengingat ia sangat memuji Saksuke dan sangat kesal bisa satu tim dengan Naruto, tetapi sekarang kenyataanya adalah ia sangat senag dan bangga bisa satu tim denganya, ia selalu dilindungi olehnya. Tanpa sadar air mata Sakura menetes, ialalu menyekanya kembali. "Sudahlah aku tidak boleh cengeng seperti ini. Tak terasa waktu berlalu begitu cepat y Naruto ? Kau menemukan orang yang tepat". Saat itu pun Sakura menghentikan gumamannya. Ia pin memejamkan matanya kembali. Dan mulai tertidur pulas, tanpa di sadari sepasan mata onyx dari tadi terbuka dan mendengar semua percakapan Sakura termasuk dengan percakapannya dengan Shikamaru tadi.
TBC
Minnna-san...
Maaf yah kalau mengecewakan.
Saya harap di chap selanjutnya akan lebih baik lagi.
Dan untuk para senpai-senpai yang sudah merefiew saya ucapkan Arigatou Gozaimazu and buat para readers sekalian juga janhgan kapokn ya bacanyaa...
Akhir kata :
Repiew please...
