Ehem…
Pertama indi mau bilang gomen.
Indi bener-bener minta maaf karena lama update. Dan terima kasih untuk semua reviewer dan readers yang sudah berkenan membaca fict ini.
O'ya indi ucapin duluan aja..
Selamat Tahun Baru 2011 \(^o^)/
Tapi, sedih juga. coz nggak sempet update pas ultah Hinata TT_TT.
Sorry telat, Selamat Ultah yaw..
.
Langsung aja deh.
….
Eits, indi ingetin dulu:
Don't like? Don't read.
OOOOO
Disclaimer: Naruto milik Masashi Kishimoto-sensei. Spy Organization of Konoha milik indi.
Warning: AU, sedikit OOC maybe, alur agak cepat, romance yang agak kurang(indi terlalu kehanyut sama tulisannya, jadi lupa banyakin romance. Gomen), dll*author males nulis, hehehe-plak-*.
Selamat membaca...
OOOOO
Spy Organization of Konoha
Chapter 4
Summary:
Hinata POV
Kubiarkan kelopak mataku membuka perlahan, membiarkan lavenderku melihat kembali. Yang pertama kulihat hanyalah sebuah dasi... Dasi!... kuangkat kepalaku dan kuperhatikan lagi... kulihat leher seseorang, warna kulit tan itu... pipi yang bergaris... A-ah Na-Naruto-kun...
End Hinata's POV
OoOoO
Normal POV
"Na-Naruto?" Ucap Hinata cukup keras, kaget dengan apa yang baru saja terlihat dan terjadi. Ditambah dengan pipinya yang mulai memerah. Memang posisinya yang 'menimpa' Naruto itu membuatnya berada amat sangat dekat dengannya. Udah bisa ditebak 'kan gimana perasaan Hinata? Ya, bener... MALU.
Tapi belum sempat Naruto bersiap ataupun membalas perkataan Hinata, musuh yang hendak dihindarinya itu ternyata menyadari suara Hinata. Terbukti karena pintu yang memisahkan mereka mulai terbuka. Naruto tanpa basa-basi secara reflek langsung berdiri dengan memeluk Hinata, agar wanita yang menimpanya itu tak terjatuh. Dengan segera ia menarik tubuh Hinata ke balik patung-patung pajangan baju di sudut ruangan samping pintu.
Tentu saja dengan kondisi tempat yang sempit begitu mereka harus saling berdekatan. Dan itu berarti Naruto yang lebih tinggi dan besar memonopoli tempat. Apalagi karena terlalu terburu-buru, Hinata jadi menubruk Naruto. Tepat setelah Naruto bersandar pada dinding, Jadi... Hinata jatuh di dada bidang Naruto, dan tentu lelaki itu secara tak sengaja memeluk Hinata agar keseimbangan gadis itu kembali.
Jarak mereka yang memang sangat tipis, membuat Hinata dapat merasakan hembusan napas Naruto pada rambutnya. Hati Hinata sudah DAG DIG DUG DUAR.
"Kami-sama... Kumohon... Jangan sampai aku pingsan kali ini.." batin Hinata dalam hati.
Naruto, memang merasakan hal yang sama juga, entah kenapa. Tapi ia mencoba mengalihkan fokusnya untuk melihat keluar melalui sela-sela patung, serta menajamkan pendengarannya. Berusaha mengetahui siapa musuh yang baru saja memasuki tempat itu.
"... Kabuto, kau sudah sering kuberitahu 'kan. Jangan menyuruh pelayan memasuki kamarku! Lihat sekarang! Lantai kamar dan ruang pakaianku jadi kotor dengan jejak kaki ini!" Bentak seorang lelaki pada bawahannya itu. Otomatis gerakan orang yang membuka pintu itu terhenti. Dengan tangan yang masih tetap memegang gagang pintu, ia menoleh pada atasannya.
"Maaf tuan Orochimaru, tapi setahu saya... tadi saya menyuruh seorang pelayan wanita kemari" Ucap Kabuto ingin membela diri.
'O-Orochimaru!' Naruto membatin, kaget dengan ucapan Kabuto. Sedangkan Hinata juga terkejut mendengarnya. Walau masih malu ia tetap ingat dengan misinya, tubuhnya mulai menajuh dari Naruto dan kemudian berbalik. Lalu ikut mengintip melalui celah patung, berharap akan segera melihat secara langsung musuhnya itu. Mempersiapkan diri untuk kemungkinan terburuk.
"Lantas, apa hubungannya dengan ini?" Tanya lelaki yang kita ketahui sebagai Orochimaru, jengkel.
"Kenapa malah jejak sepatu boots yang terlihat... Dan bukan jejak terputus sepatu ber-hak yang dipakai para pelayan.." Kabuto bicara pelan, terlihat ragu..
Namun sedetik kemudian ia langsung berkata lagi. "Jangan-jangan... ADA PENYUSUP" kali ini suaranya lebih keras, atau lebih tepatnya berteriak. Orochimaru yang juga menyadari hal itu dengan cepat bersiaga. Memperhatikan sekeliling.
Sementara Kabuto meminta ijin, lalu segera keluar untuk memberi tahu semua pekerja rumah itu bahwa ada penyusup yang berhasil masuk. Supaya semuanya memperketat penjagaan.
Orochimaru sekarang tinggal sendiri di sana. Ia kemudian langsung melangkahkan kakinya mengikuti jejak kaki tadi, yang berakhir pada ruang pakaian atau bisa dikatakan lemari besarnya itu. Saat memasukinya ia tak melihat lagi jejak yang jelas, akibat banyaknya kaus kaki yang tergeletak di lantai. Terkutuklah dirinya, akibat sering memebeli kaus kaki. Hingga akhirnya tak ada tempat lagi untuk menaruh kaus kaki beraneka bentuk tersebut.
Agak gelisah dirinya, tapi tetap tak melonggarkan kesiagaannya. Memeriksa tempat itu lebih jelas untuk mengetahui adanya penyusup di dalam. Naruto dan Hinata sudah bersiap, akan keluar saat Orochimaru mendekati tempat persembunyian mereka. Bermaksud untuk menerjang tubuh Orochimaru dan mengikatnya.
Tapi mereka mengurungkan niat itu. Karena Orochimaru masih berkutat di dekat tumpukan perhiasannya. Ia memindahkan satu persatu hingga bagian lantai yang awalnya tertutupi terlihat. Memang agak kotor tapi ternyata terdapat sebuah tombol kecil. Yang ditekannya kemudian.
CKLEK
Terdengar bunyi aneh tepat pada bagian dinding yang menghadap pintu. Tentunya bukan wilayah persembunyian agen mata-mata kita. Orochimaru mempercepat jalannya meninggalkan tempatnya berdiri tadi. Didorongnya bagian dinding dekat sudut.
Voila, terlihat ruang rahasia di sana. Beberapa langkah serta dorongan lagi dan Orochimaru menghilang tertutupi dinding yang kembali pada posisinya.
Naruto dan Hinata seperti yang bisa diduga merasa kaget dengan apa yang mereka lihat. Tapi dengan segera kembali pada kesadaran awal dan mengikuti 'kegiatan' Orochimaru tadi. Mereka tak berniat cepat-cepat menyusul Orochimaru. Takut dengan jebakan yang kapan saja bisa muncul. Beberapa menit pun mereka habiskan dengan mendiskusikan siasat.
Melakukan penyamaran lagi atau menyerang secara langsung. Naruto memilih menyerang, sebaliknya penyamaran dipilih Hinata. Meskipun begitu, akhirnya tetap saja mereka harus menyerang langsung. Kekalahan Orochimaru sangat diperlukan agar mereka bisa leluasa memeriksa tempat itu.
"Baiklah Hinata, kita akan mendorong dinding ini segera. Lalu melakukan serangan kejutan di awal–" Naruto kembali mengingatkan rencana mereka.
"Kemudian bersembunyi dan menyerangnya secara diam-diam" potong Hinata.
"Tepat... Kalau begitu langsung saja" Ucap Naruto sembari menaruh kedua tangannya pada dinding. Bersiap untuk mendorong. Hinata pun mengambil posisi di sebelahnya, mengikuti prilaku lelaki itu. Naruto memutar kepalanya ke samping, melihat Hinata sekaligus menanyakan kesiapannya. Hinata hanya membalas dengan anggukan. Dan itu sudah cukup bagi Naruto untuk berujar lagi.
"Dorong!"
Mereka pun mendorongnya bersamaan. Perlahan keadaan di hadapan mereka berubah. Dari yang awalnya hanya dinding, berubah menjadi celah ruangan dan akhirnya keseluruhan ruangan terlihat jelas.
Di sana terdapat rak-rak besi yang berjejer di tengah ruangan, bagian lebar rak-rak itu menghadap mereka. Sedang di bagian tengah ruangan terisi sebuah rak kaca tersendiri yang berbentuk persegi. Dan di dalamnya terdapat benda yang sejak tadi mereka cari. Yap, 'barang-barang' Sasuke.
'Mengerikan sekali, sampai-sampai pakaian Sasuke ditempatkan di rak. Seperti permata berharga saja...' batin Naruto dalam hati.
Mereka mulai memeriksa tempat itu, sampai-sampai memperhatikan hal-hal terkecil sekalipun. Hingga akhirnya tak terasa beberapa menit telah mereka habiskan.
Tapi aneh... Kenapa orang yang mereka incar, alias Orochimaru tak terlihat ya?
Hening sejenak, tak ada yang berbicara karena masing-masing masih sibuk dengan pikiran mereka. Mengira-ngira keberadaan Orochimaru.
Dan... Kembali lagi terlintas kejadian tadi di benak mereka, ketika Naruto sempat bersembunyi di 'atas'. Kalau memang Naruto sempat melakukan hal ini… Pasti mantan mata-mata seperti dia juga bisa. Reflek mereka berdua saling menatap, bertukar pandang untuk memastikan dugaan itu. Lalu memutuskan untuk memusatkan mata pada bagian 'atas', atau tepatnya langit-langit ruangan tersebut.
Yang memang benar terdapat keberadaan Orochimaru di sana. Baju yang dia kenakan terlihat 'luarbiasa heboh', lengkap dengan pedang yang tergantung di ikatan pinggangnya. Kulit putihnya tampak lebih putih diterpa sinar lampu yang menggantung di dekatnya. Rambut panjang mengerikannya tergerai, menjuntai ke bawah, menambah kesan menakutkan. Ia menyeringai, memperlihatkan giginya yang putih cemerlang. Seperti piring putih mengkilap yang terlihat saat iklan S**light. 'Bersih bersinar, S**light –ting'. Serasa melihat iklan walau memang versinya beda, pikir Naruto dalam hati.
Lain Naruto, lain juga Hinata. Gadis itu malah memikirkan kejadian 'Jirobou', sesaat khawatir jika benar kalau dia 'kelainan'. Ini 'kan pertama kalinya ia bertemu langsung dengan Orochimaru. Tentu perlu baginya untuk waspada dengan kemungkinan terburuk.
Seperti, diculiknya Naruto. Itu 'kan mungkin saja, Orochimaru–seperti yang sudah diketahui–lebih tertarik pada lelaki dibanding perempuan, bisa saja Naruto yang memang berpenampilan lumayan disukai oleh Orochimaru 'kan? Yah, itu memang susah untuk terbantahkan, bahkan Naruto sudah merasa seperti itu sejak chapter sebelumnya. Tetapi tentu, ia tak mau menunjukkan kekhawatirannya.
Keheninganpun menjadi latar atas semua pemikiran-pemikiran mereka. Karena memang tak ada suara ataupun tanggapan yang keluar. Orochimaru jadi jengkel. Jengkel karena ternyata musuhnya tak mempedulikan dirinya dan malah melihatnya dengan tatapan kosong layaknya zombie.
Kesal rasanya, Orochimaru sudah mempersiapkan penampilan bertarungnya sejak tadi dan sekarang mereka hanya diam? Apa kata dunia. Seorang Orochimaru hanya dianggap angin. 'Oh, tidak!' raung Orochimaru dalam hati.
Tak ada lagi emosi yang bisa ia tahan, tak peduli sekalipun Naruto tampan atau apapun. Ia hanya ingin memberi pelajaran pada mereka karena sudah datang dan menyusup ke kediaman miliknya tanpa ijin. Khususnya karena tak peduli dengan keberadaannya. Ia sangat membenci hal itu.
Lalu, dengan ekspresi serta perasaan yang tak terlukiskan ia 'turun'. Atau lebih tepatnya terjun ke bawah. Jatuh berlutut menghadap mereka tepat di atas rak kaca tempat barang Sasuke tersimpan.
Dengan cepat menekan tombol tersembunyi dan rak-rak itu masuk ke bawah lantai dan menghilang. Membuat Naruto dan Hinata kembali dari alam pikiran mereka, tersadar berkat Orochimaru yang mengeluarkan hawa membunuh. Ia juga mengambil pedang yang tersampir di pinggangnya.
Mereka bersiap, Hinata mengeluarkan jurus rahasianya –Byakugan–, sedangkan Naruto langsung membuat kagebunshinnya untuk memerangkap Orochimaru. Orochimaru dengan cepat melukai kagebunshin-kagebunshin itu, membuat mereka hilang dengan pukulan dan tebasan pedang beracun yang baru ia keluarkan. Meninggalkan kabut kecil di setiap sentuhan tajamnya, ataupun pukulannya.
Hinata berusaha menyerang ketika salah satu kagebunshin Naruto lenyap. Menampakkan sosok Orochimaru di hadapannya, yang tentu masih sibuk mengelak serangan kagebunshin lainnya. Dia mendekatkan jangkauan tangannya yang lurus ke depan, tepat di punggung Orochimaru.
Ia pikir Orochimaru terlalu sibuk hingga tak mengetahui keberadaan dirinya. Tapi perkiraannya salah, karena lelaki tersebut bisa merasakan cakra Hinata dan menghindar ke samping. Menangkap lengan Hinata dan mencengkramnya kuat menggunakan tangan kanannya yang bebas. Hinata mencoba menyerang kembali sekaligus melepaskan diri.
Berhasil.
Tapi konsekuensinya adalah Orochimaru membuatnya tak berdaya, ia melukai salah satu pergelangan tangan Hinata. Hanya menggores saja, tapi itu cukup untuk membuat racun menyebar dalam tubuhnya. Membuatnya lemas dan terjatuh seketika. Naruto tentu tak terima, dirinya mulai menyerang Orochimaru.
Menggunakan Rasengan, dan semua jurus yang ia miliki. Membuat Orochimaru terdesak. Lalu mencoba kabur keluar. Tapi sebelum itu terjadi, pintu ruangan telah ditutup oleh salah satu kagebunshin Naruto. Dan Naruto yang asli menggunakan Odama Rasengan sebagai penutup untuk mengalahkan Orochimaru. Setelahnya ia tak mempedulikan lagi Orochimaru yang sekarat. Naruto hanya ingin melihat Hinata.
Hinata saat itu menutup matanya. Pening, juga pusing mengakibatkan penglihatannya berkunang-kunang.
Naruto menghampiri dan mendekatinya, memegang lengan Hinata yang terluka, menatap tubuhnya yang bergetar, kulitnya pucat dan badannya mulai mendingin. Naruto memeluk tubuh Hinata, mencoba menghangatkannya. Biasanya akan terpampang rona merah di pipi Hinata, namun sekarang dirinya merasa mati rasa.
"Hi-Hinata, ka-kau tak a-apa?" tanya Naruto lirih dan gagap, hatinya tak tenang seolah takut kehilangan Hinata.
"Se-seperti yang ka-kau lihat Naruto. Keadaanku tak terla-lalu baik." jawab Hinata dengan suara bergetar pelan, tetap menutup mata, serta berusaha tersenyum
"Kalau begitu sekarang ayo kita pergi" Naruto berkata pahit tetapi lembut. Sedih, ketika melihat keadaan itu. Di saat seperti inipun Hinata masih sempat untuk tersenyum padanya.
"Ta-tapi, ba-bagaimana dengan mi-misi..."
"Tak apa, aku akan membuat kagebunshin yang akan bertugas membuka rak itu dan mengambil barang Sasuke."
"Ba-bagaimana de-dengan mi-misimu?"
"Tenanglah, ayahku pasti bisa menemukannya. Dia 'kan ayah yang hebat. Yang penting sekarang adalah kau Hinata."
"Na-Naruto…"
"Hinata, lebih baik sekarang kau tak usah bicara dulu. Atau kau mau kucium? Supaya diam." Naruto berkata cepat, entah ingin menggoda atau meringankan suasana. Tapi tepat saat itu suara bersin menimpali.
Hatchim!
"M-Maaf Naruto, a-aku tak mendengarmu.."
"A-ah t-tak apa." Jawab Naruto gugup, sekarang malah gilirannya yang malu. 'Rugi aku mengatakannya tadi' batinnya.
TBC
Mohon maaf bila masih ada kekurangan, karena indi nggak sempet ngedit. Coz lgi buru-buru.
O'ya, nie balesan ripiunya ;p :
Namikaze-Tania-chan: yaw, g pa2. Yah nie udah slese, dah kukurangin kta2 dlm kurungny kok. Wokeh. Makasie ya… ;p
Zephyr Amfoter: Hehehe, sorry ;D. nie dah tak panjangin, Cuma kayaknya romance kurang. Gomen, coz Indi nulisnya setengah ngantuk. Jadi g sadar. Ini dah update, makasie yaw
Hoshi Hyuuga: Yaw, nie dah update. Makasie :D
OOooOO
Thanks 4 read . .
Indi mohon saran dan kritik dari semua yaw . .
Review Please,.,
