(4) Kutukan Tanpa Nama
*
Setelah semalam ia mengerjakan ujian OWL di kantor Kepala Sekolah hingga pukul dua pagi, Dumbledore akhirnya meletakkannya di tahun ketujuh (padahal sebelumnya ia telah mengatakan bahwa ia adalah tahun ketujuh tapi si tua itu tak percaya) dengan pelajaran NEWTs yang ia ambil sesuai dengan pekerjaan yang ia inginkan. Pada akhirnya ia memilih menjadi Auror daripada penyembuh. Lagipula juga, ia di jaman ini hanya akan sementara. Ia tak akan lama-lama berada di sini, dan ia akan pulang sesegera mungkin setelah Dumbledore memperbaiki Time Turner bodohnya.
Jadi, pagi ini, saat ia memaksakan dirinya menatap bayangannya di cermin, ia bergidik. Biasanya ia akan melihat jubah merah indah, tapi sekarang ia justru melihat jubah biru menenangkan. Dulu, saat tahun pertama, Topi Seleksi juga sempat memikirkan untuk memasukkannya di Ravenclaw tapi kemudian entah kerasukan apa, si topi akhirnya meletakkannya di Gryffindor, membuatnya bertemu dengan Ron dan Harry yang akhirnya menjadi sahabatnya dan Ron menjadi pacarnya. Jika diingat-ingat, mereka menjadi sahabat semenjak mereka menolongnya dari Troll Gunung yang bodoh yang telah dilepaskan oleh profesor gagap abdi Voldemort yang kacau. Itu benar-benar kenangan yang menyebalkan karena ia harus berterima kasih pada mereka dengan cara berbohong pada para profesor. Padahal ia sama sekali tak pernah mengeluarkan Troll. Ia bahkan tak begitu tertarik dengan Troll. Jadi, untuk apa dia mencari Troll dan mengeluarkannya hanya untuk membunuhnya?
Hermione telah melakukan berbagai cara untuk merapikan rambut semaknya, tapi itu tak berhasil, jadi ia membiarkannya saja mengembang. Toh di jaman ini ia tidak ingin menebar kecantikannya pada setiap orang yang sangat jelas lebih tua darinya.
Jadi, saat Dumbledore memanggilnya dan mengajaknya turun bersama menuju Aula Besar, ia benar-benar gugup. Ia tidak tahu kenapa ia harus begitu gugup, tapi mungkin ia gugup karena ia akan diperkenalkan dengan orang yang seharusnya di jamannya telah meninggal namun di sini mereka masih muda dan sehat. Bahkan ia berani jamin, jika Harry nanti mendengar cerita perjalanan waktunya, ia akan menanyakan kepadanya mengenai sikap ayah dan ibunya serta teman-teman mereka atau bagaimana hubungan mereka. Hermione mendesah, sayang sekali ia bukan Gryffindor. Jika ia berada di asrama itu, mungkin ia bisa berteman dengan Lily dan bisa mengetahui bagaimana sifatnya atau tingkah lakunya dan mengamati Marauders diam-diam. Tapi ini... dia akan masuk asrama Ravenclaw yang adalah asrama bagi para siswa pintar. Bukannya dia tidak pintar, hanya saja dia belum pernah bermimpi memasuki asrama seperti itu. Kembali di jamannya, sebagian besar murid dari asrama Ravenclaw sangat berada di bawah jika dibandingkan dirinya. Itu terbukti dari seberapa sering dia menjawab pertanyaan Profesor dan seberapa sering ia mendapatkan O dalam setiap tugas dan ujian.
"Aku telah mengirimkan rantai itu ke para Goblin, dan meminta bantuan mereka untuk membantuku mencari pasir pembalik waktu," kata Dumbledore saat mereka tengah menuruni Tangga Bergerak.
Hermione bergumam lirih sebagai tanggapan dan ia tak terlalu peduli mengenai Dumbledore mendengar gumamannya atau tidak. Ia masih marah mengenai dirinya yang ditempatkan di asrama Ravenclaw. Menjadi murid baru. Diperkenalkan di depan seluruh siswa. Dan akan menjadi orang asing di sekolah yang pernah ia anggap sebagai rumahnya.
...
"Kau pasti bercanda," James Potter tertawa nyaring saat mendengarkan dongeng pagi hari dari sahabatnya. "Jelas-jelas lencana Lily ada di kamarku semalam dan tidak meng—"
"Di kamarmu?!" Sirius Black memekik keras, ia syok, terlalu syok. "Kau melakukannya, Prongs? Oh Merlin, kau semalam benar-benar melakukannya setelah satu minggu kalian berpacaran?"
Dia menceritakannya. Tentu saja, kejadian semalam saat ia bertemu gadis tanpa nama pencuri lencana Lily kepada ketiga sahabatnya. Tentu saja mereka tak ada yang percaya. Siapa yang akan mencuri lencana ketua murid? Tentunya itu pasti adalah gadis idiot pembuat onar.
"Kecilkan suaramu, Pads," James mendesis padanya. "Dan aku tidak melakukannya! Setidaknya, belum."
Setidaknya, Aula Besar pagi itu cukup ramai oleh ocehan dari siswa lainnya. Jadi pekikan Sirius tak terlalu terdengar oleh sekitarnya sehingga James tidak perlu menutupi wajahnya yang memerah karena malu.
Sirius menggeleng tak percaya. "Aku tak percaya padamu. Sekarang, kenapa lencana Lily ada di kamarmu kalau bukan gadis itu melepas bajunya di kamarmu? Tidak mungkin, kan, dia menyuruhmu untuk menyimpankannya untuknya padahal jelas-jelas kau agak ceroboh?" Matanya lalu beralih ke sosok yang duduk di samping James, dan seringainya melebar. "Tinggal kau, Moony, bahkan Pete sudah melakukannya dan kau belum," ejeknya.
"Aku tidak... TIDAK melakukan apapun dengan Lily! Merlin, harus berapa kali aku mengatakannya?" James mengerang frustasi karena nama baiknya bisa rusak karena sahabat idiotnya itu.
Sirius mengabaikannya dan hanya memberinya seringai kemenangan. Ia tahu, ia sangat tahu James tidak akan melakukannya dengan Lily dengan cepat. Karena ia tahu bagaimana temperamen gadis berambut merah itu dan bagaimana pendirian gadis itu. Setelah semua, James tidak akan berani berbuat macam-macam pada Lily karena berisiko untuk membuatnya menjadi tua tanpa istri seumur hidupnya.
Remus Lupin mengangkat kedua tangannya di udara sambil mendesah kalah, "Aku tidak seperti kalian yang dengan mudah mendapatkan gadis, oke?"
"Tapi kau lebih tampan dariku," kata Peter Pettigrew yang duduk di samping Sirius dan tengah memakan sarapannya.
Sirius mendesah berlebihan, dia mencondongkan kepalanya ke depan saat dia berbisik serius, "Kau harus mencobanya dengan gadis tanpa nama. Kau tampan, Moony, kau hanya kurang... bersosialisasi dengan gadis?"
"Dan seperti apa gadis tanpa nama itu?" Remus bertanya ingin tahu sambil mengayunkan sendoknya di udara.
Sirius langsung menegakkan tubuhnya, kepalanya berpaling dan berputar-putar di sekitar meja Gryffindor untuk mencari gadis berambut semak, bermata cokelat, dan pencuri lencana. Tapi gadis itu tidak ada di mana pun. Dari urutan tahun pertama hingga ketujuh, tak ada ciri-cirinya yang seperti ada diingatannya.
"Apa kau yakin dia Gryffindor? Mungkin saja kau salah melihat jubahnya karena kau terlalu fokus pada lencananya," Peter berkata simpatik.
"Tidak, tidak. Mataku belum rabun dan aku tidak buta warna seperti James," serunya, bersikap seolah ia sakit hati.
"Atau mungkin kau terlalu fokus pada dadanya?" James tertawa cekikikan.
"Jujur saja, dadanya bahkan tak ada," jawabnya asal sambil menggigit paha ayam panggang yang baunya telah meningkatkan hasrat di perutnya.
Saat itulah pintu Aula Besar terbuka. Tanpa Sirius lihat pun, dan walaupun ia membelakangi jalan yang menuju meja para guru, ia sudah tahu siapa yang masuk. Itu Dumbledore. Hanya kepala sekolah tua yang mungkin akan ikut sarapan bersama serta mengumumkan beberapa pengumuman penting. Jadi, ia tak terlalu memperhatikan dan sibuk menggigit paha ayam bakar yang dipegangnya begitu saja tanpa sendok maupun garpu.
Sirius mengaduh dan melemparkan paha ayamnya ke piringnya saat kakinya diinjak oleh James dan dia memelototinya. Tapi sebelum ia bisa memekik untuk menyuarakan kesakitannya, James sudah lebih dulu bergumam rendah dengan wajah yang penuh kekaguman akan sesuatu,
"Ada siswa baru."
Hanya kata itu. Tapi itu berhasil membuat Sirius mengernyit dan melupakan paha ayam bakarnya serta baunya yang nikmat. Ia menoleh dan menatap profesor tua berjanggut keperakan serta jubah biru langit yang mencolok dengan beberapa gambar burung camar di bagian bawah jubahnya. Ternyata memang benar, profesor itu tidak berjalan sendiri. Di belakangnya ada seorang gadis mengenakan jubah berwarna biru. Tapi itu bukan inti dari semuanya. Intinya adalah, gadis itu memiliki rambut semak persis seperti yang diingatnya semalam. Tapi bukankah dia seharusnya mengenakan jubah merah?
Sirius kembali menatap teman-temannya dengan serius saat ia berkata tercekat, "Dia... itu gadis tanpa nama!"
...
Hermione merasakan wajahnya memanas seolah matahari tengah berada di puncak kepalanya. Itu benar-benar panas bahkan di dalam Aula yang sebenarnya cukup dingin. Ia sangat menyadari beberapa pasang mata yang mengarah ke arahnya, yang terus menatap prosesnya berjalan hingga ia sampai di meja para guru dan ia sangat ingin mengutuk mereka dengan tongkatnya. Tapi sayang sekali, ia tidak bisa mengutuk mereka dengan terang-terangan di hadapan para profesor.
Dia masih menundukkan kepalanya bahkan saat Dumbledore tengah mengumumkan kepindahannya dengan sampul bahwa ia pindahan dari Beauxbatons dan ia pindah karena Prancis diserang oleh Kau-Tahu-Siapa dan dia sebatang kara karena orang tua Muggle-nya terbunuh. Cerita sampul yang benar-benar menyedihkan dan ia membenci itu.
"—Topi Seleksi telah menempatkannya di asrama Ravenclaw untuk tahun ketujuhnya dan ia akan mulai ikut pelajaran pada hari yang cerah ini, anak-anak. Kuharap kalian bisa berteman baik dengannya dan menunjukkan beberapa tempat indah di Hogwarts tercinta kita ini."
Dan Hermione dipersilakan untuk berjalan menuju meja asrama barunya. Asramanya yang di atasnya terdapat bendera berwarna biru dengan lambang elang. Dia baru memperhatikan bendera itu setelah sekian lama mendekam di kastil yang ia anggap sebagai rumahnya. Itu mungkin karena dia terlalu sering bersama buku atau memecahkan masalah bersama Harry dan Ron atau mungkin juga karena ia memang kurang memperhatikan hal kecil di sekitarnya.
Saat ia melangkah ke meja itu pun banyak dari anak Ravenclaw bersorak untuk menyambutnya dengan riang dan beberapa menepuk bahunya dengan ringan seolah mengatakan selamat datang kepadanya. Ia hanya memberi senyum simpul yang sebisa mungkin ia buat sopan dan bukannya enggan walaupun ia benar-benar enggan dengan sorakan seperti itu. Karena ini bukan tahun pertamanya yang penuh keajaiban dan kekaguman. Ini adalah tahun ketujuhnya yang sangat menyebalkan. Terdampar. Sendirian. Merlin, kapan dia bisa pulang? Pasti orangtuanya saat ini cemas. Harry dan Ron pasti juga telah mencaritahu, bukan? Meminjam Time Turner lain dari Kementrian untuk menjemputnya. Ia berharap begitu.
Hermione duduk di paling ujung meja, agak jauh dari kerumunan yang sekarang mulai fokus pada sarapan mereka. Bahkan ia saja tidak nafsu untuk melirik makanan meskipun harumnya sampai membuat perutnya berbunyi. Ia memandang berkeliling di sekitar aula dan ia menetapkan matanya di meja yang penuh warna merah dan emas dengan pandangan merindukan. Lalu dia mendesah, benar-benar menyebalkan. Ia terjebak bersama para Ravenclaw pintar dan ia tahu ia juga pintar, tapi ini masih terasa aneh.
Dan matanya menangkap mata hitam yang juga sedang menatap ke arahnya. Mata yang familiar itu... dan dia mendengus sambil agak mencibir padanya. Tapi seharusnya ia beruntung, bukan, tidak harus satu asrama dengan Sirius mesum muda. Lalu mata cokelatnya berjalan ke pemuda berkacamata dan berambut berantakan. Hermione menghirup napas tajam. Merlin, dia benar-benar mirip Harry! James Potter benar-benar duplikatnya Harry! Dan sekarang dia benar-benar ingin ke sana dan memeluknya mengatakan kalau ia merindukannya karena dia mirip Harry. Lalu kemudian dia akan dipukul oleh Lily. Hermione menggeleng dengan pikirannya. Ia juga melihat Remus Lupin muda yang tampan dan memiliki beberapa luka dibagian wajahnya. Well, itu efek karena dia bertransformasi menjadi serigala. Dan mata cokelat serigalanya itu juga tengah memperhatikannya seolah sedang menilai sesuatu. Lalu ia juga melihat Peter Pettigrew yang agak gemuk dan sibuk dengan makanannya, bahkan sepertinya ia tidak tahu kalau ada siswa baru yang baru saja dikenalkan. Matanya berjalan lagi dan berhenti di gadis berambut merah. Seolah gadis itu merasakan tatapannya, gadis itu mendongak dari bukunya dan mata hijau berkelebat masuk ke pandangannya. Lily Evans. Mata hijau cemerlang milik Harry yang juga milik gadis berambut merah pintar yang menghuni asrama Gryffindor. Dan Lily tersenyum padanya, senyumnya benar-benar lembut dan bersahabat membuatnya juga memberikan senyum terbaiknya kepadanya.
"Hey, kau yang semalam mencuri lencana Lily, kan?"
Hermione menoleh ke asal suara dengan cepat—terlalu cepat—membuat kepalanya agak pusing. Ia memang belum memperhatikan terlalu banyak dari meja Ravenclaw, jadi ia tidak tahu siapa yang ada di depannya atau di samping kanan dan kirinya. Jadi, saat ia mendapati mata cokelat yang hampir sama dengan miliknya dan rambut hitam halus yang familiar, ia mendadak syok. Oh, jadi pacar Sirius mesum ada di Ravenclaw juga? Betapa menyenangkannya.
Hermione memberikan senyum simpul pada gadis yang tidak ia ketahui namanya dan menjawab sesopan mungkin, "Sebenarnya aku tidak mencuri lencana apapun dari Lily. Aku bahkan murid baru dan lencana itu dari asal sekolahku dulu."
"Jadi Beauxbatons juga ada sistem Ketua Murid?" pekik gadis lain yang duduk di samping pacar mesum dengan takjub.
Mana kutahu, memangnya aku terlihat pernah bersekolah di sana? Pikirnya masam.
Tapi ia justru menjawab sopan, "Tentu saja, tapi kami tidak memiliki asrama yang dibagi menjadi empat bagian seperti ini."
"Kalau kau menjadi Ketua Murid di sana, pasti kau pintar," kata pacar mesum dengan senyum miring yang aneh.
Bagaimana bisa Sirius berpacaran dengan gadis seperti itu? Memang sih dia cantik, pintar, dan cantik dan seksi dan berdada besar. Tapi, gadis itu benar-benar tidak bisa dimasukkan ke kategori siswa Ravenclaw asli melihat wajahnya yang selalu menampilkan senyum mengejek, dia lebih cocok di Slytherin.
"Aku tidak akan masuk Ravenclaw kalau aku tidak pintar, bukan?" Hermione tersenyum padanya dengan ramah yang dipaksakan.
Gadis berambut cokelat gelap yang memiliki aksen abu-abu di beberapa bagian di ujung rambut serta memiliki tongkat sihir yang terselip di belakang telinganya (dan itu aneh) dan duduk di samping pacar mesum memukul bahunya dan menggurui, "Maya, kau harus bersikap sopan dengan siswa baru dari Beauxbatons ini. Dia masih perlu beradaptasi dan hilangkan senyumanmu yang seperti itu!"
Jadi, namanya Maya? Hermione menaikkan alisnya, tidak menghapus senyumnya sama sekali, bahkan yang ada semakin lebar.
"Oh, maafkan aku," desahnya sambil menatapnya seolah ia benar-benar menyesal. "Jadi, Hermione—"
Hermione memutar matanya. Sok akrab sekali dia menggunakan nama depannya secara langsung?
"—di tahun ketujuh ini, pelajaran apa yang kau ambil?"
"Aku akan menjadi penyembuh, jadi aku mengambil Ramuan dan mantra... err—Maya, pelajaran apalagi sih yang kuambil?" tanya gadis berambut cokelat gelap abu-abu itu dengan polos.
"Aku Auror, jadi kalian tentu tahu aku mengambil pelajaran apa saja," jawab Hermione tenang sambil mengambil beberapa sendok nasi merah dan meletakkannya di atas piringnya.
"Jarang sekali, lho, ada gadis yang ingin menjadi Auror," kata gadis berambut cokelat gelap abu-abu dengan polos.
Dia mengingatkannya pada Luna, pikir Hermione sambil melirik gadis itu.
"Dora, aku juga Auror, ingat?" Maya berkata angkuh.
"Oh maafkan aku," gadis yang bernama Dora itu menatapnya menyesal, "kau belum tahu namaku, aku Pandora Smith."
Pandora Smith mengulurkan tangannya padanya dengan ramah dan Hermione menjabatnya dengan senyum yang kali ini tulus tanpa paksaan.
"Dan di sana," Dora menunjuk seorang pemuda berambut pirang agak kotor yang sedang berbicara dengan teman-temannya dan tampak agak aneh juga, "itu pacarku, Xenophilius Lovegood."
Hermione tersedak. Dia batuk. Maya memberikan piala berisi susu kepadanya dan menyuruhnya untuk meminumnya. Dia meminumnya hingga habis dan cepat-cepat mengendalikan dirinya yang sangat terkejut.
Baik, jadi dia adalah ibunya Luna yang suatu saat nanti akan meninggal karena kecelakaan mantra yang dibuatnya? Bagus Hermione, kau akan menjadi temannya mulai sekarang dan saat kau kembali, kau bisa menceritakan pada Luna bagaimana ibunya saat sekolah dulu.
"Kau tak apa?" tanya Maya cemas.
Hermione menggeleng sambil memukul dadanya. "Aku hanya salah memasukkan makanan ke dalam tenggorokanku," jawabnya asal.
Maya dan Dora tampak saling pandang sejenak dengan bingung seolah dalam tatapan itu mereka saling menanyakan apakah yang dikatakannya benar atau salah. Tentu saja salah, dia terkejut karena kembali bertemu ayah Luna yang hampir menyerahkannya, Harry, dan Ron ke Pelahap Maut. Tapi sayang sekali dia meninggal tertimpa reruntuhan rumahnya sendiri karena tanduk yang dianggap hewan fantastis temuannya.
"Jika kau mengambil Auror, itu artinya pelajaran hari ini adalah kelas gabungan Ravenclaw dan Gryffindor. Aku akan mengenalkanmu dengan pacarku," kata Maya, kali ini benar-benar ramah.
"Pacarmu?" tanyanya nyaring setelah ia menenggak minumannya dari piala.
Maya mengangguk antusias. "Kami baru berpacaran dua hari—"
Betapa indahnya, cibir Hermione dalam hati.
"—dan aku benar-benar mengaguminya. Tahu, kan, Sirius Black? Dia benar-benar tampan."
Mata cokelat Maya menatap dengan pandangan memuja ke arah meja Gryffindor. Hermione yang penasaran juga mengikuti arah pandangannya dan dia hampir ingin muntah saat melihat Sirius menatap mata pacarnya dan mengiriminya ciuman jarak jauh. Merlin, jika Harry tahu, dia pasti akan mengomentari perilaku ayah baptisnya itu.
*
Semuanya berjalan lancar.
Bahkan lebih lancar dari hari pertamanya di tahun ketujuh yang seharusnya. Sekarang Hermione menyadari bahwa, meskipun sudah terlalu terlambat untuk menyadarinya dan tidak melihat ke belakang terlebih dahulu, ia menyesal mengambil banyak pelajaran di tahun terakhirnya. Ia tidak tahu apa yang ia pikirkan saat Mcgonagall bertanya padanya mengenai pekerjaan apa yang ia inginkan. Dalam pikirannya ia memikirkan ingin bekerja di Kementrian, tapi hatinya ingin menjadi penyembuh, lalu sisi yang lain ingin menjadi Auror seperti kedua sahabatnya, lalu yang paling kecil di antara yang lainnya ia hanya ingin bekerja di kantor Muggle. Dan itulah sebabnya ia memilih banyak pelajaran karena ingin mengetahui di mana ia akan merasa cocok untuk bekerja nanti. Dan ia merutuki dirinya sekarang karena kebodohannya itu, seharusnya sejak awal di tahunnya ia memilih menjadi Auror agar ia tidak terdampar di tahun ini.
Tahun yang penuh kesendirian.
Tanpa Harry.
Ron.
Kekasihnya.
Orangtuanya.
Merlin, Hermione benar-benar merindukan mereka.
Sekarang adalah Pertahanan Terhadap Ilmu Hitam dan Hermione, dalam sekali seumur hidupnya, merasa bosan di kelas yang penuh mantra. Di tahun yang menyebalkan ini, kelas tersebut juga memiliki kelas duel dan setiap setelah mempelajari mantra baru, Profesor yang tidak dikenal Hermione itu akan meminta relawan untuk berduel di atas podium.
Dan sekarang, Hermione telah berdiri di atas podium tersebut, menatap lawannya yang telah menariknya dengan kesal. Dia benar-benar tidak tahu apa maksud Sirius mengajukan diri dan menariknya bersamanya untuk berduel dengannya, bukankah mereka tidak saling kenal? Well, kecuali dengan perannya semalam yang menurut pemuda itu ia adalah pencuri lencana.
"Sebagai murid baru, jika kau tidak bisa, tak apa. Kau boleh menyerah," Profesor Palmer yang berdiri di tengah-tengah antara dia dan Sirius menyarankan dengan nada angkuhnya.
Hermione tidak menyukai profesor itu. Dia tua, beruban, memiliki jenggot tipis dan mata hitamnya yang berkilat selalu berhasil mengintimidasi setiap murid yang memandangnya. Dia juga selalu menampilkan ekspresi sombong dan angkuh seolah dirinya adalah profesor yang paling hebat dibanding yang lainnya. Jika Hermione disuruh membandingkan, mungkin Palmer dan Snape tidak berbeda jauh sifatnya.
"Tidak, Profesor," jawabnya ketat, menyunggingkan sedikit senyum mengejek yang ia tujukan pada Sirius.
Pemuda itu tampak kaget, tapi ia kemudian mengangkat bahunya dan menjatuhkan sikapnya ke dalam sikap duel. Hermione juga mengikutinya dan menunjukkan tongkatnya ke arahnya.
"Perlu diketahui, Miss Granger, aku tidak menyukai siswa yang membacakan mantra. Setiap duelku selalu menggunakan non-verbal," Palmer memberitahu dengan tegas sambil memandangnya seolah menunggu penolakan.
Tapi Hermione mengangguk menyetujui membuat profesor tersebut agak tidak suka dan menyingkir dari menghalangi mereka, mempersilakan untuk memulai duel.
"Halo, pencuri lencana," Sirius menyeringai, "nah, akhirnya aku berhadapan denganmu juga. Ternyata kau Ravenclaw, eh?"
Dia memutar matanya jengkel dan mengirim kutukan pembeku tubuh padanya, dengan mudah dia menangkis dan masih menyeringai padanya. Dia mengirim kutukan lain lagi dan dia menangkisnya dengan cepat.
"Kau Ravenclaw, seharusnya kau tahu lebih banyak mantra, bukan?" tanyanya dengan nada mengejek.
Hermione melotot padanya. Dia tidak boleh bicara dengan orang yang berbeda waktu dengannya, jadi dia hanya diam dan tidak menjawab apa-apa. Dia tidak ingin menyalahi garis waktu. Jadi, dia mengangkat tongkat sihirnya lagi menurunkannya dengan tajam menunjuk ke arah dada pemuda itu dan mencengkramnya dengan kedua tangannya. Otomatis, anak panah muncul dan terbang menuju Sirius, matanya sedikit melebar dan dia berlari mengelilingi podium diikuti oleh anak panahnya. Tiba-tiba dia berhenti dan memasang perisai membuat anak panahnya berhenti di udara karena terhalang oleh perisai kebiruan, dan sekali lagi hentakan dari tongkatnya, anak panahnya berbalik menyerangnya. Dia melihat Sirius mengembangkan seringainya, dan Hermione dengan mudahnya memusnahkan anak panah yang disihirnya sendiri.
"Pencuri lencana, apa kau bisu?" Sirius mengejek sambil memutar tongkatnya dan mengirim kutukan merah—itu ia yakini adalah Stupefy—saat kutukan itu tertangkis ia mengirim kutukan lain yang sama. "Apa kau hanya akan menjawab dengan mengirim kutukan?"
Hermione memutar matanya, sekali lagi menangkis kutukan, dia mengirim kutukan lain, kali ini berbeda dan Hermione tidak mengenal cahaya putih kebiruan yang berderak itu, jadi dia hanya mengangkat perisai penahan yang sederhana tanpa mengetahui apa yang akan terjadi. Saat kutukan menabrak perisai, kutukan itu dengan mudahnya menembus dan mengenai bahu kirinya membuatnya melolong kesakitan. Ia merasa tulangnya seperti dipatahkan menjadi dua karena dia mendengar bunyi patahan di bahunya dan ia yakin bahunya berdarah karena ia merasakan aliran hangat menuruni sepanjang lengannya. Hermione meraih bahunya yang kesakitan dan menggertakkan giginya menahan sakit. Kutukan apa itu? Kenapa dia belum pernah melihat atau mendengarnya sebelumnya? Dan lagi, bukan hanya bahunya saja yang terasa sakit, tapi seluruh lengan kirinya rasanya semua tulang di sana patah.
"Nah, itu baru duel," senyum Sirius mengembang, tapi senyumnya segera lenyap saat ia melihat darah yang menetes ke lantai podium dan matanya melebar panik. "Oh tidak, tidak, aku belum pernah menggunakan kutukan itu!"
Dia meraih rambut panjangnya dan mengacaknya frustasi, lalu ia melangkah menuju Hermione terburu-buru karena panik. Saat ia mencapai tepat di depannya, dia segera meraih lengannya sambil menggigit bibirnya keras saat melihat darah semakin banyak.
"Maafkan aku, maafkan aku," desahnya ketakutan. Lalu dia berbalik menghadap profesor yang tengah mengamati mereka tertarik dan dia berkata tegas, "Profesor, saya akan membawanya ke Hospital Wing."
Sebelum Palmer sempat menjawab, Sirius sudah menariknya, menuruni podium, melewati kerumunan siswa yang menatap mereka tertarik dan melewati Maya yang menonton mereka dengan sebal. Mereka keluar dari ruang kelas dan menyusuri koridor dengan tergesa-gesa. Sesekali Hermione merengek kesakitan saat ia merasa tulang di lengan kirinya kembali patah dan Sirius meliriknya khawatir.
"Aku benar-benar minta maaf, pencuri lencana," katanya tanpa menghilangkan nada mengejeknya, "itu kutukan yang baru kami buat, itu... belum pernah ku—kami gunakan sebenarnya."
Mata Hermione melebar dan dia berhenti membuat Sirius juga berhenti dan menatapnya bingung bercampur cemas. Hermione mencoba menarik lengannya darinya, tapi yang ada justru desisan kesakitan yang keluar dan ia bersumpah tulangnya patah lagi. Mengabaikan rasa sakit itu, ia memelototi Gryffindor di hadapannya saat memekik galak,
"Jadi kau pikir aku ini bahan percobaan? Menggunakan kutukan ilegal seperti itu, kau bisa-bisa masuk ke Azkaban karena berusaha mencelakai sesama siswa dan apa kau tidak memikirkan hal itu sebelumnya?!"
"Kupikir kau tidak punya suara," Sirius melongo takjub.
"Apa kau pikir kutukan itu tidak berbahaya?" lanjutnya marah, "lihat lenganku, tulangnya patah dan terus patah dan ini sakit. Apa kau pernah memikirkannya saat mengeluarkan kutukan itu padaku?!"
Sirius masih melongo menatapnya.
"Kupikir kau hanya pembuat onar tapi ternyata kau juga adalah pembuat masalah dalam hidup orang dengan cara mencelakai mereka. Dengar, Sirius Black, aku tak peduli seberapa tampannya kau atau seberapa banyaknya penggemarmu, aku benar-benar memintamu untuk bertanggung jawab mengembalikan lenganku seperti semula dan aku benar-benar membencimu sekarang!"
Sirius melepaskan lengannya membuatnya kembali mendesis kesakitan. Kedua tangan Sirius terangkat di udara dan wajahnya benar-benar ketakutan dan panik serta cemas.
"Oke, baik, maksudku ya, aku akan bertanggung jawab atas rusaknya lenganmu itu dan sudah kubilang aku tidak tahu efek kutukannya karena aku hanya pernah mencobanya pada hewan, bukan manusia—"
Hermione melotot.
"Maksudku, pernah—belum—" Sirius mengerang, "maafkan aku, pencuri lencana, sungguh aku tidak bermaksud merusak lenganmu dan mematahkan tulangmu, membuatmu kehilangan banyak darah. Tapi sekarang kita haru ke Hospital Wing dan meminta Pomfy—maksudku Pomfrey menyembuhkan lenganmu."
Sirius mengulurkan tangannya lagi untuk meraih lengannya tapi ia buru-buru mundur dan mendesis, "Jangan sentuh aku!"
Sirius kembali mengangkat kedua tangannya di udara saat mendesah, "Oke, tapi aku akan mengutukmu ke sana karena aku tahu kau pasti tidak tahu jalannya karena kau murid—"
Hermione berjalan begitu saja, mengabaikannya. Ia mendengar langkah tergesa di belakangnya, dan ia masih mengabaikannya. Kata siapa dia tidak tahu jalan menuju Hospital Wing? Hermione menggeleng kesal.
*
Sirius mengikuti gadis berambut semak itu dan dia masih bertanya-tanya bagaimana bisa gadis itu tahu jalan menuju Hospital Wing tapi ia beralasan sendiri bahwa Minnie telah memberitahukan padanya jalan-jalan menuju tempat-tempat penting di kastil.
Dia masih merasa bersalah tentang kutukan yang dilayangkannya dan ia takut jika tulangnya tidak bisa kembali seperti semula. Seperti yang dikatakannya pada gadis itu, kutukan itu hanya pernah ia coba pada hewan, tapi hasilnya tidak seburuk dengan yang terjadi pada pencuri lencana. Merlin, bagaimana jika—seperti kata gadis itu—ia akan dijebloskan ke Azkaban karena penggunaan mantra ilegal?
Gadis berambut semak itu membuka pintu ganda dengan satu tangan dan buru-buru masuk ke dalam Hospital Wing. Sirius masih mengikuti dan dia melihat Pomfrey agak bingung saat melihat gadis itu. Jelas saja dia bingung, dia kan murid baru, Sirius mendengus.
"Mr Black, apa yang terjadi?" tanya Penyembuh itu saat ia akhirnya menyadari kehadirannya.
"Kutukan yang disengaja," sindir si pencuri lencana sambil menatapnya sinis.
"Kuharap kau tidak melakukan kesalahan lagi, Mr Black?" Pomfrey menatapnya curiga.
Sirius mendesah dan mendengus bersamaan. "Pomfy," rengeknya memohon belas kasihan, "itu hanya kutukan yang tidak disengaja, gadis itu terlalu melodramatis dalam menghadapi keadaannya."
Tapi percuma saja penjelasannya karena Pomfrey telah mengayunkan tongkatnya untuk memeriksa keadaan luka gadis itu dan melihat dari raut wajahnya, Sirius bergidik. Dia merasa ada banyak mata yang memandangnya, mengintimidasinya, dan menuduhnya macam-macam. Lalu dia melihat sekelilingnya berubah menjadi ruang persidangan dengan hakim di atas podium sambil memukulkan palunya ke meja dan Dumbledore yang menatapnya prihatin, lalu kedua orangtuanya yang tampak senang melihatnya diadili. Dan kemudian dia ditarik oleh dua Dementor yang mengawalnya, kedua tangannya diborgol dan dirantai. Merlin, ia tidak mau seperti itu! Dia sama sekali tidak mau!
"Mr Black!"
Sirius keluar dari bayangannya dan menatap Pomfrey dengan ngeri. Dilihat dari wajahnya, ia tahu bahwa hidupnya tak lama lagi akan berakhir. Semua bayangannya akan menjadi kenyataan. Lalu masa depannya... Merlin, masa depannya menjadi kacau.
"Apa yang kaulakukan kepada Miss Granger?"
"Apa?" Sirius melongo bodoh.
"Nah, Miss Granger, kau minum Skele Gro ini dan penambah darah dan mungkin tulangmu akan segera membaik jika kutukan yang diluncurkan tidak terlalu parah dan, Mr Black," Pomfrey kembali menatapnya dengan tegas, "kuharap kau mengatakan pada Profesor Dumbledore kutukan apa yang kau gunakan pada gadis malang ini. Hampir semua tulangnya patah dan darahnya menyusut, bukan keluar dari tubuh, tapi menyusut."
Well, kutukan Marauders bagus juga, pikir Sirius angkuh tapi ia segera kembali ke kenyataan dan segera ketakutan menimpanya. Apa yang akan ia katakan pada Dumbledore? Pada teman-temannya? Merlin, kenapa ia bodoh sekali sih?
"Pomfy, tolong jangan katakan apapun pada Dumbledore atau Mcgonagall dan yang lainnya. Profesor Palmer tidak tahu tentang ini, ia hanya tahu kalau—"
"Nah, itu bagus untuk catatanku mengenai perilakumu yang buruk," Pomfrey melipat kedua lengannya di depan dada, lalu dia berbalik menghadap si Ravenclaw dan menyuruhnya, "Sekarang minum ramuan Tidur Tanpa Mimpi itu dan beristirahatlah, memperbaiki tulang itu sakit, Nak."
"Terima kasih, Madam Pomfrey," bisik gadis itu lembut sambil memegang botol ramuan.
Sirius mengernyit saat mengamati prosesnya meminum ramuan. Bibirnya yang kemerahan dan terbelah itu terbuka untuk meminum ujung botol, lalu kulit pucat wajahnya terlihat berkilau karena tertimpa cahaya matahari sore, rambutnya yang seperti semak mekar seperti surai singa dan berwarna cokelat. Dia sebenarnya begitu cantik kalau saja dia bukan pencuri lencana. Lagipula, bagaimana bisa dia berakhir di Ravenclaw padahal semalam dengan sangat jelas ia mengenakan jubah merah dari Gryffindor.
Saat si pencuri lencana itu telah tertidur, dia melihat Pomfrey melangkah menuju kantornya, dan kembali lagi dengan secarik perkamen yang membuat perasaannya melilit sesak. Dia menulis sesuatu di atas kertas menggunakan pena bulu sambil sesekali meliriknya jengkel dan si Ravenclaw prihatin. Saat ia sudah selesai, ia menggulung perkamen itu dan menyimpannya di saku jubah penyembuhnya.
"Jika kutukan yang kau berikan padanya terbukti membuat tulangnya patah permanen, aku akan memberikan perkamen tadi kepada Profesor Dumbledore."
"Pomfy, kumohon..." Sirius menampilkan wajah memelasnya, ia benar-benar berharap kali ini wajah tak bersalahnya mendukungnya agar bebas dari situasi menyesakkan.
"Dan sekarang kau boleh keluar dan membiarkan pasienku beristirahat. Gadis yang malang," Pomfrey meratap sambil memandang gadis singa itu. "Hari pertamanya sekolah tapi ia sudah mengalami kejadian buruk dari si pembuat onar."
Sirius mendengus, memangnya hanya dia yang pembuat onar? Lalu dia berjalan ke pintu dan keluar dari Hospital Wing. Betapa terkejutnya dia saat di luar ternyata pacarmya berada di sana, menunggunya, dengan tangan terlipat di dada, wajah cemberut gelap, dan matanya memerah seolah ia habis menangis. Sirius mendesah, berjalan ke arahnya, dan merangkulnya saat ia sudah berdiri di sampingnya.
"Kau menungguku?" tanyanya ramah.
"Ya, kenapa kau lama sekali?" Maya bertanya marah.
"Gadis itu terlalu melodramatis dalam menghadapi luka dalam duel tadi, sayang. Aku jadi harus berurusan dengan Pomfy dan menbujuknya agar tidak melaporkan kutukanku pada Dumby," jelas Sirius lelah dalam menghadapi si Ravenclaw yang lain ini.
"Tapi kau juga tidak harus mengantarkannya, kan? Jika kau tidak mengantarnya tadi, mungkin Pomfrey tidak akan tahu kalau itu adalah kau."
Sirius mengerang tertahan dan mengusap bahu pacarnya lembut. "Dia kan siswa baru, sweetheart, dia tidak tahu jalan ke Hospital Wing, oke?"
Maya berhenti berjalan, berbalik menghadapnya dan merajuk, "Kau bisa menyuruhku untuk mengantarnya!"
"Jangan berdebat, Maya. Kau tahu aku tidak suka berdebat," dia mendesis, matanya menyipit memandang gadis di depannya.
Sirius kembali merangkul gadisnya dan menariknya berjalan lagi bersamanya. Mereka berjalan dalam diam dan Sirius lebih menghargai keheningan daripada perdebatan tak berkesudahan dengan Maya. Dia benar-benar benci berdebat dengan gadis. ]
